romantis

Evelyn – Chapter 19 (Rasa bersalah)

Evelyn

 

“Cepat tanda tangani surat-surat itu atau aku akan meledakkan isi kepalamu.”

Suara itu terdengar begitu dingin. Sorot mata mamanya yang dulu tampak begitu menyayanginya, kini terlihat berbeda. Tak ada rasa sayang di sana. Semuanya kosong, dan kekosongan tersebut membuat Eva bergetar hebat. Apa mamanya tidak pernah menyayanginya? Apa sang mama tak pernah menginginkan kehadirannya? Jika memang begitu, apa gunanya lagi ia berada di dunia ini?

Eva hanya diam, ia memejamkan matanya seakan memberi ijin mamanya untuk meledakkan isi kepalanya. Ya, jika itu yang diinginkan sang mama, kenapa tidak langsung saja dilakukan?

***

 

Chapter 19

-Rasa bersalah-

 

“Maria! Apa yang kamu lakukan?” Mark berseru ketika melihat kejadian di hadapannya.

Astaga, ia tidak menyangka jika Maria akan melakukan hal segila itu. Menodong darah dagingnya sendiri dengan sebuah pistol. Dan dari manakah perempuan itu mendapatkan pistolnya?

“Bukan urusanmu, Mark. Aku tahu jika kepalanya sudah dicuci oleh Nick. Nick pasti sudah meracuni pikirannya dengan hal-hal yang buruk tentangku. Jadi tidak ada gunanya lagi aku mempertahankan dia.”

“Papa nggak pernah melakukan itu, Ma.”

“Maria! Dengar, jangan segila ini, oke? Kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi tidak dengan membunuh.”

Ya, Mark memang bukan orang yang suci, tapi demi Tuhan, ia tidak akan membunuh orang yang jelas-jelas tidak bersalah. Baginya, Maria sudah melangkah terlalu jauh.

Pada saat-saat menegangkan tersebut, pintu kamar terbuka dari luar, lalu tampaklah Fandy yang berdiri di sana dengan wajah babak belur dan penuh darah dari kepalanya, Fandy sedikit terpincang-pincang dengan Amora di sebelahnya. Dengan spontan Maria menodongkan senjatanya ke arah Fandy.

“Sialan! Apa yang kialian lakukan di sini?” tanya Maria yang sudah mulai panik.

“Lepaskan dia.” Fandy berkata dengan tenang tanpa takut sedikitpun.

Maria tersenyum melihat tekat Fandy yang tak tampak takut apapun. Dengan gerakan cepat, Maria mengarahkan senjatanya ke arah Fandy kemudian menarik pelatuknya begitu saja.

‘Doorrrr’ suara itu terdengar bersamaan dengan jatuhnya Fandy.

Eva dan Amora berteriak seketika, sedangkan Mark hanya mampu membulatkan matanya melihat kegilaan Maria.

“Sialan! Apa yang kamu lakukan?!” Mark berseru keras pada Maria.

Maria tertawa melihat kejadian tersebut. “Kamu pikir aku nggak berani melakukan itu? Dengar Mark, meski ibunya menitipkan dia padaku sebelum dia pergi, bukan berarti aku nggak berani menembaknya saat dia mengancam.”

Fandy membulatkan matanya seketika. Apa benar yang dikatakan perempuan itu tadi? Benarkah jika perempuan itu mengetahui semua tentangnya?

“Apa?” Mark pun tampak terkejut dengan apa yang dikatakan Maria.

“Ya Mark. Alana temanku, dia meninggal saat melahirkan Fandy, dan akulah yang memasukkannya ke dalam panti asuhan.”

“Cukup! Maria.” Mark mengepalkan kedua tangannya, ia tidak suka jika perempuan itu membongkar masa lalunya saat ini.

“Kenapa? Kamu takut aku mengatakan kenyataan di depan anak-anakmu? Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, Mark. Tapi kupikir, hatimu terlalu lembek. Kamu terlalu mencintai istrimu hingga aku yakin jika aku atau Alana tidak akan bisa menggantikannya. Jadi aku berpikir akan mengakhiri semuanya di sini setelah ini.”

Mark masih diam membatu, ia tak bisa menjawab apapun. Ia masih tidak menyangka jika perempuan yang ia kencani beberapa bulan terakhir ternyata perempuan gila dengan segudang rencananya.

“Sekarang, Eve. Lakukan tugasmu, tanda tangani semuanya dan mama akan pergi. Cepat!” serunya kembali menodong Eva dengan pistol yang berada dalam genggaman tangannya.

Eva menangis. Ia tidak menyangka jika ibunya akan segila itu. Tapi ia tetap menggelengkan kepalanya. Tidak, jika ia melakukan apa yang ibunya mau, maka ibunya akan pergi meninggalkannya begitu saja. Pergi untuk selama-lamanya. Dan Eva tidak ingin hal itu terjadi.

Maria menyunggingkan senyumannya. “Jadi mau bermain-main, sayang? Mama nggak segan-segan menembakmu kalau kamu nggak melakukan apa yang mama mau.”

“Bunuh saja aku, Ma. Lebih baik aku mati daripada aku kehilangan mama. Lebih baik aku mati dari pada mendapati kenyataan jika mama nggak pernah menginginnkan aku.”

“Oh ya? Tapi sayang sekali bukan seperti itu rencananya, Sayang. Kalau kamu mati, mama tidak mendapatkan apapun. Berbeda jika dia yang mati.” Maria segera menodongkan senjatanya ke arah Fandy yang masih tersungkur karena tembakan pertamanya.

“Ma!” Eva berteriak histeris. Ia tidak akan membiarkan mamanya menembak Fandy lagi.

“Maria! Jangan coba-coba.” Mark memperingatkan.

“Kenapa Mark? Takut kehilangan puteramu? Dan kamu, Sayang.” Maria menatap ke arah Eva. “Takut kehilangan kekasihmu?”

“Tolong, jangan lakukan ini, Ma. Kita bisa bicara baik-baik. Mama bisa memiliki semuanya asal mama kembali menjadi mamaku.”

“Sudah kubilang aku nggak berminat! Sekarang tanda tangani atau aku menembaknya.”

“Ma…” Eva masih memohon. Tapi secepat kilat Maria kembali menarik pelatuknya. Ya, ia memang tak pernah bermain-main dengan ucapannya.

‘Doorrr… dorr… dorrr…’

Suara tembakan tersebut menggema di udara. Tiga peluru meluncur dengan sempurna pada sasarannya. Amora berteriak histeris mendapati pemandangan di hadapannya. Eva hanya ternganga, tubuhnya bergetar hebat saat melihat kejadian tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Astaga, bagaimana mungkin mamanya berubah menjadi sekejam ini?

Mariapun tercengang dengan apa yang ia lakukan. Bukan Fandy yang terkena tembakan, melainkan Mark, yang dalam sekejap mata menghalangi Fandy dari tembakan dengan tubuhnya. Mark tergeletak penuh darah yang keluar dari dadanya. Tangan Maria bergetar, tapi ia tidak akan menyerah begitu saja.

Fandy membatu menatap bayangan di hadapannya. Sang Boss tergeletak karena menyelamatkan nyawanya. Kenapa? Apa karena memang ia adalah puteranya? Mata Fandy lalu menatap ke arah perempuan yang menembak Bossnya. Perempuan itu tampak ternganga dan sedikit lengah. Akhirnya dalam sekejap mata, Fandy menerjang Maria.

“MENUNDUK!” serunya keras pada Amora dan Eva.

Ia berharap jika Eva dan Amora menuruti apa maunya. Bagaimanapun juga, Maria masih membawa senjatanya, dan Fandy tidak ingin ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada Eva atau Amora.

Eva menunduk seketika setelah seruan keras Fandy. Dengan perasaan kalut ia melihat Fandy yang sudah bergulat dengan sang mama, lelaki itu mencoba merebut senjata yang digengam oleh mamanya. Lalu semuanya terjadi begitu cepat saat Eva mendengar suara tembakan berkali-kali. Ia hanya bisa memejamkan matanya sembari berteriak histeris.

Tidak! Ia tidak boleh kehilangan Fandy ataupun mamanya. Eva tidak ingin membuka mata dan mendapati kenyataan jika ia sudah kehilangan semuanya.

“Eve, Eva, Eva.” Tak berapa lama setelah ia mendengar bunyi tembakan beruntun tersebut dan ia memejamkan matanya, Eva mendengar seseorang tengah memanggil namanya.

“Eva, buka matamu.” Lagi-lagi ia mendengar panggilan tersebut. Dengan takut-takut Eva membuka matanya dan ia mendapati Fandy yang sudah menyeret tubuhnya ke arahnya.

“Fan.” Dengan spontan Eva memeluk tubuh Fandy. Eva menangis saat memeluk tubuh kekasihnya tersebut. Lalu matanya menatap jauh pada tubuh yang terbaring tak berdaya tepat di belakang Fandy. “Mama!” Eva berseru saat mendapati tubuh mamanya tergeletak tak berdaya dengan seseorang yang berdiri di atasnya sembari menodongkan pistol ke arah mamanya.

Eva menatap ke arah orang tersebut, rupanya itu Papanya, yang tampak bersiap menghabisi mamanya detik itu juga. Secepat kilat Eva meninggalkan Fandy dan menghentikan papanya melakukan hal tersebut.

“Tolong, Pa. jangan lakukan ini, Eva mohon.” Eva menghadang senjata sang papa, sedangkan sang papa masih menatap mamanya dengan tatapan penuh kebencian.

“Kamu beruntung, Maria. Jika tidak ada Evelyn, saya sudah membunuhmu detik ini juga.”

Maria yang sudah terkulai lemah karena tertembak oleh Nick di kedua lengannya ketika bergulat dengan Fandy, hanya bisa tersenyum mengejek. “Kenapa Nick? Jujur saja kalau kamu masih sangat mencintaiku hingga kamu tidak berani membunuhku.”

Nick mendengus saat mendengar pernyataan penuh percaya diri dari Maria. “Jangan menilai dirimu terlalu tinggi, Maria. Aku hanya memilih melihatmu membusuk di penjara ketimbang mengotori tanganku dengan darahmu.”

“Berengsek kamu Nick! Tembak aku, sialan! Ayo tembak!” Maria tampak sangat marah. Tapi Nick tidak menghiraukannya. Ia malah mengisyaratkan pada anak buahnya untuk segera menyingkir Maria dari sana.

“Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?” Nick bertanya dengan khawatir pada Eva.

Eva sendiri segera memeluk tubuh papanya. “Mama berubah, Pa, aku nggak kenal mama.”

“Sudahdah. Kamu masih punya papa. Kamu nggak apa-apa, kan?”

Eva menggelengkan kepalanya, kemudian ia baru teringat Fandy kembali. “Astaga, Fandy.” pekiknya sembari berlari ke arah Fandy.

Nick pun menghampiri Fandy yang tampak penuh dengan luka. Fandy terkena luka tembak di bagian kakinya dan juga perutnya. Tapi lelaki itu tampak tangguh karena masih menjaga kesadarannya hingga kini.

“Dia parah.” Nick berkomentar. “Panggil ambulance.” Ia menyuruh pengawalnya yang lain yang masih berada di sana.

“Boss.” lirih Fandy sambil menatap ke sisi lain, dimana ada Amora yang masih menagisi ayahnya.

Eva dan papanya membantu Fandy bangkit menuju ke arah Bossnya. Sang Boss rupanya masih menjaga kesadarannya, padahal darah sudah menggenang di sekitar tubuhnya.

“Papa, papa jangan tinggalin Amora. Papa.” Amora masih merengek, tangannya yang bergetar masih menekan luka di dada papanya.

“Boss.” panggil Fandy saat sudah berada di hadapannya. Entah apa yang dirasakan Fandy saat ini. Sang Boss meski bukan orang baik, tapi dia sudah seperti ayahnya sendiri. Apalagi mengingat kenyataan yang tadi siang diucapkan Amora, atau tadi yang di ucapkan mama Eva, jika kemungkinan besar, lelaki itu adalah ayah kandungnya.

Mark menatap sendu ke arah Fandy. Kemudian bibirnya terbuka mengucapkan kata “Maaf” pada Fandy.

Fandy menggelengkan kepalanya. Ia tahu jika apa yang dikatakan Amora tadi siang benar-benar kenyataan. Terlihat dengan jelas penyesalan di mata Bossnya. Oh, Fandy ingin bossnya selamat dan menceritakan semua tentang dirinya dan ibu kandungnya.

“Jaga adikmu baik-baik.” pesannya sebelum kehilangan kesadaran.

“Boss!”

“Papa!”

Fandy dan Amora berseru, memanggil-manggil Mark agar kembali sadar, namun nyatanya Mark sudah menutup matanya.

***

Fandy bangkit seketika saat kesadarannya mulai ia dapatkan. Kewaspadaannya meningkat seketika, lalu ia mengernyit saat mendapati dirinya berada di tempat asing.

“Fan.”

Panggilan lembut tersebut memaksa Fandy menolehkan kepalanya ke arah si pemilik suara. Lalu ia mendapati gadis yang begitu ia cintai. Gadis tersebut segera berlari ke arahnya lalu melemparkan diri dalam pelukannya.

“Demi tuhan aku takut saat kamu pingsan ketika di dalam ambulance, aku takut kamu pergi ninggalin aku. Aku takut kamu nggak bisa bertahan.” Eva menangis sesenggukan dalam pelukannya.

Fandy membalas pelukan Eva, lengannya terulur melingkari tubuh gadis yang tengah menempel di dadanya.

“Aku nggak mungkin ninggalin kamu.”

“Nggak mungkin? Kamu kehilangan banyak darah. Hampir saja kamu meninggal kalau tidak segera ditangani.

“Nyatanya aku masih hidup.” Fandy menjawab datar.

“Dasar! Jangan lakukan itu lagi. Jangan korbankan dirimu untuk menyelamatkanku.”

“Itu sudah menjadi tugasku, Eve.”

“Tapi kamu bukan lagi menjadi pengawalku. Kamu nggak seharusnya melakukan itu.”

“Aku pelindungmu, Eve. Aku pelindungmu karena aku mencintaimu, bukan karena statusku yang menjadi pengawalmu atau bukan.”

Oh, Eva tak mammenjawab lagi pernyataan Fandy. Dari ucapan lelaki itu, Eva dapat menyimpulkan jika Fandy mencintainya melebihi cinta pada nyawanya sendiri, dan Eva masih tak menyangka jika Fandy memperlakukannya dengan begitu istimewa seperti itu.

“Amora, bagaimana dengan Amora?” tanya Fandy yang segera melepaskan pelukannya pada Eva. Astaga, hampir saja ia lupa dengan gadis itu, gadis yang kini ia yakini sebagai adiknya sendiri.

“Amora…” Eva ragu untuk membahasnya. “Boss kamu meninggal saat di perjalanan ke rumah sakit, dia kehabisan banyak darah. Amora sementar di rumahku, dia tampak terguncang.”

Fandy menurunkan bahunya, memejamkan matanya dengan penuh penyesalan. Raut sedih tampak sekali di wajahnya hingga membuat mata Eva berkaca-kaca seketika.

“Aku, aku minta maaf.”

“Maaf? Maaf untuk apa?”

“Semuanya karena Mama, dan juga karena kekeras kepalaanku, andai saja saat itu aku segera menandatangani surat itu, mungkin mama nggak akan menembakkan pelurunya padamu.”

“Eva, semuanya sudah terjadi, aku nggak mau kamu menyesali dirimu sendiri. Mungkin sudah jalannya sperti ini.”

“Tapi aku selalu kepikiran, Fan. Apalagi kenyataan jika Boss kamu ternyata ayah kandung kamu. Aku, aku, takut kalau kamu membenciku.”

“Aku tidak mungkin membencimu.” ucapan Fandy yang telak itu membuat Eva menghela napas lega. Setidaknya, Fandy tidak membencinya, meski dalam hati Eva merasa amat sangat bersalah atas kepergian ayah Amora yang tak lain adalah ayah Fandy.

***

Satu minggu berlalu setelah kejadian ikan pada malam itu, Fandy akhirnya diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Eva yang selalu berada di rumah sakit menemani Fandy akhirnya berinisiatif mengajak Fandy pulang ke rumahnya. Dan Fandy tidak menolak, lagi pula, Amora berada di sana.

Keduanya saling berdiam diri ketika berada di dalam mobil. Fandy sebenarnya sedikit heran, entah perasaannya sendiri atau memang Eva yang sedikit menjaga jarak darinya. Ya, Fandy merasa jika Eva sedikit berbeda, gadis itu banyak diam, dan tampak selalu menampilkan wajah sendunya.

Dengan spontan, Fandy meraih jemari Eva kemudian mengecupnya lembut. Eva terkejut dengan apa yang dilakukan Fandy, padahal kini mereka tidak hanya berdua di dalam mobil tersebut karena ada juga pengawal baru Eva yang mengemudikan mobil yang mereka tumpangi.

“Kenapa?” tanya Eva sambil mentapa lembut ke arah Fandy.

“Aku kangen kamu.”

Eva tersenyum dengan jawaban Fandy.

“Apa yang terjadi? Kamu agak berbeda.”

“Nggak ada apa-apa.” Eva menjawab dengan tenang.

“Bagaimana keadaan Amora?”

Eva menghela napas panjang. “Dia hanya diam dan tidak mau keluar dari kamar, Amora tampak terpukul, dia tidak mau berbicara dengan siapapun.”

“Setelah ini, aku akan membawanya pulang.”

“Kamu, kamu nggak tinggal di rumahku dulu? Lihat, kamu bahkan masih susah berjalan.” Eva menatap kaki Fandy. Ya, kini Fandy memang masih menggunakan kruk ketika berjalan.

“Tapi kami tidak mungkin merepotlkan kamu sekeluarga terlalu lama.”

“Fan, bagaimanapun juga, semua ini karena Mama, jadi-”

“Eva.” Fandy memotong kalimat Eva. “Sudah berapa kali aku bilang, jangan lagi membahas hal itu.”

Eva menunduk dan menganggukkan kepalanya. Entah berapa kali Fandy berkata seperti itu, nyatanya rasa bersalah tak akan pernah menghilang dari benaknya. Apalagi ketika ia melihat bagaimana menyedihkannya Amora saat ini.

Tak lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah Eva. Eva membantu Fandy keluar dari dalam mobilnya, mereka ternyata sudah di sambut dengan hangat oleh Ayah dan juga Nenek Eva. Nenek Eva bahkan segera memeluk Fandy dan mengucapkan rasa terimakasihnya pada Fandy karena keberaniannya untuk menyelamatkan Eva.

“Bagaimana kabarmu?” Nick, ayah Eva bertanya dengan mimik seriusnya pada Fandy.

“Baik, Tuan. Tuan sendiri?” Fandy bertanya balik.

“Kamu bisa lihat sendiri.” Nick mengangkat bahunya. Fandy hanya tersenyum. Tentu saja Fandy dapat melihat dengan jelas jika lelaki paruh baya di hadapannya tampak sedang patah hati. Ya, apapun itu, Fandy dapat melihat dengan jelas jika ayah Eva memang benar-benar mencintai istrinya.

“Masuklah, Amora membutuhkanmu.” Fandy mengangguk lembut. Lalu ia segera masuk dengan Eva yang menuntunnya menuju ke kamar yang seminggu terakhir ditempati oleh Amora.

Ketika kamar tersebut dibuka, dalam sekejap mata Amora melemparkan diri dalam pelukan Fandy. Gadis itu memeluk Fandy erat-erat kemudian menangis di sana.

“Fan, papa meninggal, papa meninggal, Fan, papa meninggal.” Amora mengulangi kalimatnya berkali-kali sambil menangis. Yang bisa dilakukan Fandy hanya memeluk erat tubuh Amora, gadis yang kini ia yakini sebagai adiknya.

Sedangkan Eva sendiri yang masih berdiri tepat di sebelah Fandy hanya bisa menatap pemandangan tersebut dengan mata berkaca-kaca. Rasa bersalah kembali menyeruak di dadanya. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Apa Fandy dan Amora benar-benar sudah memaafkan keluarganya?

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “Evelyn – Chapter 19 (Rasa bersalah)

  1. Harusnya maria mati juga… Kok evelyn merasa bersalah padahal kn semuanya salahnya maria…moga aja evelyn gak ninggalin fandy karna merasa bersalah ma fandydan juga amora…makasih kak updatenya cepet:-D:-D:-Dmoga aja kelanjutannya gak lama updatenya…

    Like

  2. udah mo end yaa…..
    ternyta dugaan q bener , ql yng kena tembak itu mark dan bukan fandy ….
    kasian juga sii fandy blom biza manggil papa ma bos na , tapi bos na udah mati …
    Padhal sangat berharap maria mati , tapi author na pnya rencana na sendri buat d maria , semoga dia mmbusuk d penjara .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s