romantis

Evelyn – Chapter 18 (Gadis itu membutuhkannya)

Evelyn

 

Maria berjalan dengan santai pun dengan pengawal di belakangnya. Sesekali mereka berpapasan dengan tamu undangan. Tapi Maria maupun pengawal yang memanggul Eva tidak panik sedikitpun, mereka memasang wajah santai seperti tak terjadi apapun. Hingga kemudian tanpa di duga mereka berpapasan dengan seorang yang mereka kenal. Siapa lagi jika bukan Fandy.

Maria tahu jika lelaki itu Fandy karena Maria pernah mencari tahu tentang Fandy meski tak pernah menemuinya secara langsung. Pun dengan pengawalnya, mereka satu agensi, jadi pengawal tersebut juga tahu siapa lelaki yang sedang berpapasan dengannya.

Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa Fandy akan menghentikan mereka? Oh, jika hal itu terjadi, Maria tahu jika rencananya sudah gagal total. Tidak, apapun yang terjadi, Fandy tidak boleh menghentikannya.

***

Chapter 18

-Gadis itu membutuhkannya-

 

Fandy berjalan cepat masuk ke dalam rumah Eva. Rupanya acara sudah di mulai, tampak sekali jika rumah Eva yang super besar itu sudah penuh dengan banyaknya tamu undangan. Fandy akhirnya memilih memutar lewat jalan samping rumah karena ia sempat melihat jika pintu utama sudah penuh dengan teman-teman Eva.

Astaga, semoga saja ia belum melewatkan acara utama, dan yang terpenting, semoga saja Eva tidak marah atau merajuk terhadapnya. Entah apa yang ia lakukan jika gadis itu marah terhadapnya. Semua ini bukan sesuatu yang ia inginkan, dan tidak ia perhitungkan sebelumnya jika tiba-tiba sang boss ingin dirinya menemani Amora seharian ini.

Fandy mempercepat langkahnya, sesekali ia berpapasan dengan tamu undangan yang memang menikmati keindahan taman samping rumah Eva. Tapi kemudian matanya menangkap sesuatu yang menurutnya sedikit aneh. Fandy mengangkat sebelah alisnya saat mendapati seorang wanita paruh baya yang tampak cantik berjalan santai dengan seorang lelaki yang sedang memanggul seseorang. Fandy jelas mengenal siapa lelaki itu, itu adalah salah satu anak buah Bossnya yang mungkin saja sedang mengawal perempuan paruh baya itu.

Wanita paruh baya itu mengangguk lembut pada Fandy sembari menyunggingkan sedikit senyumannya, menunjukkan jika wanita tersebut memiliki kesopanan. Pun dengan Fandy yang juga menganggukkan kepalanya dengan hormat dan sedikit menarik ujung bibirnya.

Fandy tetap saja berjalan meski instingnya berkata jika ada sesuatu yang aneh yang mungkin terlewatkan olehnya. Tapi kemudian ia menepis semua itu. Kepalanya lalu menoleh ke belakang, lelaki dan wanita paruh baya itu tetap berjalan menjauh dengan santai tanpa tergesa-gesa sedikitpun. Tampak juga perempuan yang di panggul lelaki itu yang ternyata sedang tak sadarkan diri karena tak bergerak sedikitpun, hanya tampak rambut terurainya yang jatuh menutupi seluruh wajahnya.

Fandy menepis semua kecurigaannya. Hanya sedikit –sedikit saja ia mencurigai bahwa wanita yang di panggul itu adalah Eva. Tapi kemudian ia menepisnya, Eva tidak mungkin  diperlakukan seperti itu, seperti orang yang tengah diculik. Dan Eva tidak mungkin diculik di rumahnya sendiri yang di jaga ketat dengan banyak sekali pengawal-pengawal handal dan profesional.

Dengan langkah pasti, Fandy kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah Eva. Eva pasti sedang menunggunya di dalam, dan ia tidak ingin membut gadis itu menunggu terlalu lama.

***

Sampai di dalam mobil, Maria menghela napas lega. Rupanya anak buah Mark begitu patuh hingga mampu membuatnya lolos tanpa ada yang tahu jika ia tengah menculik aktor utama dalam pesta tersebut.

Maria tersenyum mengejek. Nick tetap saja menjadi orang yang bodoh! Memberikan puterinya untuk dikawal oleh orang yang jelas-jelas tidak ia kenal.

Sedangkan Fandy, rupanya anak itu tidak cukup mahir seperti yang di ceritakan oleh Mark. Meski tadi Maria sempat khawatir Fandy akan mencurigainya, nyatanya Fandy tampak tidak menghiraukan diri saat keluar dari rumah besar itu.

Kini, saatnya ia menjalankan aksinya. Membawa Eva ke rumah Mark. Bukan tanpa alasan, karena disana adalah satu-satunya tempat yang aman untuk menyembunyikan Eva. Maria juga tidak bodoh, ia sudah menyiapkan semuanya, ia akan meminta tanda tangan Eva untuk menyerahkan seluruh aset keluarga Mayers atas namanya, jika hal itu sudah ia lakukan, ia akan meninggalkan Eva begitu saja di dalam rumah Mark, dengan begitu, ketika polisi mulai mengetahui keberadaan Eva, Mark lah yang akan di tuntut untuk bertanggung jawab.

Benar-benar bodoh, kau Mark! gumam Maria dalam hati.

Mata Maria kemudian menatap ke arah Eva, lalu mengusap lembut rambut puterinya tersebut.

“Maafkan mama, mama harus merebut apa yang kamu miliki, karena dulu, kamu sudah merebut masa muda mama.”

Ya, tentu saja. Maria adalah tipe wanita yang tidak pernah ingin punya anak sebelumnya. Hamil dan memiliki anak akan merusak tubuhnya. Terikat dengan pria juga bukan tipe sepertinya, ia mau menikah dengan Nick hanya karena ingin hidupnya lebih baik karena ia tahu Nick adalah orang kaya raya, ia tidak ingin selalu menjadi pelacur seperti sebelumnya. Tapi nyatanya, ketika ia bersama dengan Nick, hidupnya hanya biasa-biasa saja. Nick malah keluar dan di coret dari ahli waris keluarganya. Maria tidak bisa menerima hal itu, ia tidak ingin hidup sederhana, apalagi terikat dengan pria dan memiliki anak.

Bertahun-tahun Maria bertahan, tapi tetap saja, kehidupan masa lalunya seakan menggodanya. Lalu suatu hari ia tak sengaja mendengar Nick berbicara di sebuah telepon tentang warisan keluarga Mayers yang ternyata diwariskan pada Eva. Sejak saat itu, Maria bisa bernapas lega, karena itu tandanya ia memiliki kesempatan sekali lagi untuk memiliki semuanya, dan mungkin bisa hidup bahagia bersama dengan Eva dan juga Nick. Tapi kemudian, suatu kejadian tak terduga merusak semuanya.

Nick mengetahui hubungan gelapnya bersama dengan lelaki asing yang tak lain adalah Mark. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya Nick saat itu. Maria sempat memohon ampun, tapi Nick tentu tidak memaafkan apa yang dilakukan Maria. Nick benar-benar mencintai Maria, dan seorang lelaki yang benar-benar mencintai perempuan tak akan membiarkan perempuannya menjalin kasih dengan pria lain.

Pertengkaran hebat diantara keduanya tak dapat terelakkan, akhirnya, dengan kejam Nick mengusir Maria dari rumah mereka, memutuskan hubungannya dengan Maria begitu saja. Maria tidak terima, tentu saja. Apalagi kenyataan jika Eva kini berada dalam genggaman tangan Nick, yang artinya, warisan dari keluarga Mayers kembali dalam cengkeraman tangan Nick. Itu tandanya ia tak akan memiliki kesempatan lagi untuk memiliki semuanya. Akhirnya disusunlah rencana ini, rencana menculik Eva dari Nick dan memaksa Eva menyerahkan semuanya pada dirinya dengan suka rela. Ya, Eva pasti mau melakukannya. Jika tidak, tak menutup kemungkinan jika ia akan melakukan hal yang nekat pada puterinya sendiri.

Maria menatap lembut pada Eva yang kini tergeletak dengan kepala di atas pangkuannya. Jemarinya mengusap lembut pipi Eva, kemudian ia berkata. “Maafkan mama, Sayang. Mama harap kamu mau bekerja sama dan tidak membantah.” bisiknya lembut.

Ia akan menerima semuanya, ia akan mendapatkan semua yang dia impikan sejak dulu. Tinggal selangkah lagi. Ya, selangkah lagi…

***

Pesta akhirnya dibubarkan karena sang pemilik pesta tidak di ketemukan dimanapun keberadaannya.

Nick, ayah Eva, tidak berhenti berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Sedangkan Elisabeth, nenek Eva, hanya duduk dengan raut khawatir dan juga mata berkaca-kacanya.

“Bagaimana mungkin ini terjadi, Nick? Apa tak ada yang menjaganya?” Elisabeth kembali menyuarakan isi hatinya. Oh, entah berapa banyak pengawal di rumahnya ini, tapi kenapa diantara mereka tak ada yang mengetahui keberadaan Eva?

“Ibu, kita masih memeriksa seluruh CCTV di rumah ini, percayalah, kita akan mendapatkannya.”

“Pak, permisi, kami mendapatkan sesuatu.” Seorang bawahannya berkata hingga membuat Nick segera menuju ke arah bawahannya tersebut.

“Dimana?”

“Control room.”

Tanpa banyak bicara Nick segera menuju ruang tersebut. Ruangan yang memang disediakan untuk mengontrol dan memantau semua CCTV di rumah ini.

Ternyata di sana sudah terdapat banyak orang. Nick sempat melihat sekilas ke arah Fandy, lelaki itu juga sudah berada di sana dengan wajah tegangnya, apa yang terjadi?

“Ada apa?” tanya Nick segera.

“Silahkan dilihat, Pak.” Seorang yang tengah duduk di depan banyak layar tersebut menjelaskan sambil mempersilahkan ayah Eva melihat apa yang ia lihat. “Nona Evelyn diculik. Dan itu melibatkan banyak orang termasuk beberapa pengawal di rumah ini.” jelasnya.

“Apa?” Nick benar-benar tidak menyangka jika ia akan mendapati kenyataan tersebut. Ia melihat potongan demi potongan video di hadapannya, kemudian ia berakhir menggeram kesal.

“Berengsek! Bagaimana bisa ini terjadi?”

“Ada beberapa pengawal yang menjaga bagian control room saat hal itu terjadi, beberapa diantaranya bertugas di bagian jalur keluar mereka, hingga tak ada seorang pun yang dapat mencurigai jika mereka sedang menculik Nona Evelyn.” Kembali orang tersebut menjelaskan sambil menunjuk bagian-bagian video detik-detik penculikan Eva. “Dan, mereka berasal dari agensi yang sama, saya pikir, ini sudah di rencanakan jauh-jauh hari.”

Nick mengepalkan kedua telapak tangannya. Apa lagi saat melihat dengan jelas siapa yang sedang menculik puterinya. Itu Maria, wanita yang kini bahkan masih berstatus sebagai istrinya. Kemudian mata Nick menuju ke arah Fandy, dan secepat kilat ia menerkam Fandy, mencengkeram kerah kemeja pria muda di hadapannya tersebut.

“Sialan! Katakan! Apa ini rencana dari Bossmu? Siapa bossmu sebenarnya?!”

Nick tentu tidak tahu jika boss Fandy adalah Mark, karena yang menyewa agensi tersebut adalah Elisabeth, ibunya. Kini, Nick bahkan berpikir jika pemilik agensi tersebut adalah Maria, karena dalam rekaman CCTV itu terlihat jelas jika semua pengawal dari agensi tersebut seakan menghormati Maria. Termasuk Fandy.

“Saya tidak mengerti, Pak.” Meski ditekan, Fandy masih bersikap tenang. Ia tak tampak tertekan atau takut sedikitpun.

“Katakan! Siapa bossmu? Apa perempuan jalang itu?”

“Bukan.” Fandy menjawab dengan pasti. Ia tahu pasti jika Bossnya bukan perempuan itu. Tapi ia juga tidak mengerti, kenapa teman-teman satu agensinya tunduk dan patuh pada perempuan itu? Apa Bossnya juga ikut campur dalam penculikan Eva? Tapi kenapa dirinya sampai tidak tahu?

“Lalu kenapa teman-temanmu patuh dengan perempuan jalang itu? Apa kamu tidak tahu siapa dia?”

“Saya tidak tahu, tapi saya mengenal semua teman-teman dalam agensi saya. Saya tahu jika mereka hanya menjalankan tugasnya.”

“Tugasnya? Tugas untuk menculik puteri saya?! Apa itu juga yang ditugaskan padamu?!” Nick berseru keras. Ia benar-benar tidak dapat menahan amarahnya.

“Saya tidak pernah mengetahui tentang penculikan ini, tapi saya pikir, Boss saya ikut handil didalamnya.”

Nick melepaskan cengkeramannya seketika, ia menendang kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia mengusap wajahnya frustasi.

“Sialan!” sesekali Nick mengumpat keras karena rasa kesal yang menyelimutinya.

“Saya akan mencari tahu tentang semua ini.”

Fandy akan meninggalkan ruangan tersebut, tapi kemudian tangan Nick menghadangnya.

“Katakan, ada di pihak manakah kamu sekarang?” tanya Nick dengan tajam.

“Pak, saya-”

“Katakan Fandy! Saya tidak akan membiarkan kamu keluar dari rumah saya sebelum kamu mengatakan berada dipihak manakah kamu sekarang.”

“Saya mencintai Nona Evelyn. Saya tidak akan menyakitinya.”

Meski tidak menjawab dengan jawaban pasti, tapi Nick segera menurunkan tangannya. Ia dapat melihat dengan jelas di mata Fandy, bahwa lelaki itu jujur dengan apa yang dia katyakan. Tak ada keraguan sedikitpun, tak ada kebohongan sedikitpun, Fandy benar-benar mencintai puteinya, dan Nick tahu, jika Fandy akan melindungi Eva segenap jiwa raganya.

“Kalau begitu, bawa dia kembali tanpa kekurangan sedikitpun”

Fandy mengangguk pasti. Lalu ia pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ya. Tentu saja ia akan menyelamatkan Eva apapun yang terjadi, bahkan jika ia harus berhadapan dengan bossnya sendiri, boss yang mungkin saja statusnya adalah ayah kandungnya sendiri.

Nick menatap dalam diam kepergian Fandy.

“Kalian juga harus bersiap-siap. Ikuti kemanapun dia pergi, dia tidak bisa menghadapi semuanya sendiri.” Perintah Nick dengan dingin pada beberapa anak buahnya.

Ya, ia percaya jika Fandy ada di pihaknya untuk menyelamatkan Eva. Tapi ia khawatir, jika Fandy tidak mampu menghadapi musuh-musuh mereka sendiri. Ia harus membantu Fandy.

****

Fandy mengepalkan kedua telapak tangannya ketika ia sampai di rumah Bossnya. Bukan tanpa alasan, karena nyatanya ia disambut dengan kurang ramah oleh teman-teman seagensinya.

Beberapa teman seagensinya berdiri kokoh seakan menghadangnya untuk masuk ke dalam rumah sang Boss, dan itu membuat Fandy semakin yakin jika  Bossnya memang ikut handil dalam penculikan Eva.

“Minggir.” Fandy memperingatkan teman-temannya. Tapi tentu saja teman-temannya tak menghiraukannya.

Dua orang temannya malah maju, bersiap membekuk Fandy, tapi dengan gerakan lincah, Fandy menghindar dan malah menendang salah seorang temannya tersebut kemudian membekuk yang satunya.

“Saya nggak mau melawan kalian, mending kalian minggir, sebelum saya bertindak nekat.” Fandy mengancam, tapi tentu saja teman-temannya tidak mengindahkan ancaman Fandy.

Dengan cepat, Fandy mendorong temannya yang ia bekuk hingga tersungkur. Kemudian satu persatu pengawal di rumah Bossnya datang melawannya. Fandy tak tinggal diam, sekarang yang terpenting adalah Eva, jadi ia akan melawan siapapun termasuk teman-temannya.

Fandy memukul, menendang, bahkan mematahkan tulang dari beberapa teman seprofesinya demi bisa masuk ke dalam rumah Bossnya. Ia tidak lelah, meski di keroyok dengan banyak sekali pria-pria tangguh yang di ciptakan sama persis seperti dirinya.

Fandy memukul lagi dan lagi, membanting lawan-lawannya tanpa kenal ampun, tapi kemudian sebuah pukulan keras dari belakang menghentikan aksinya. Membuat Fandy tersungkur seketika karena pukulan keras yang berasal dari benda tumpul tersebut.

Fandy meraba kepalanya terasa basah, rupanya darah segar sudah keluar dari sana. Fandy mengerjapkan matanya yang mulai berkunang-kunang. Tidak, ia tidak boleh menyerah, ia harus melawan mereka semua demi menyelamatkan Eva.

Fandy mencoba berdiri, ia kembali melawan, tapi secepat kilat seorang temannya kembali memukulnya dengan benda tumpul. Itu adalah pemukul baseball yang di pukulkan tepat di kaki Fandy, membuat Fandy kembali tersungkur. Tulang kakinya mungkin retak atau mungkin patah, tapi ia masih tak mau menyerah.

Eva membutuhkannya, Eva benar-benar membutuhkannya.

Ketika Fandy berusaha bangkit, dua orang temannya datang membekuk Fandy, lalu seorang lagi datang untuk memukuli Fandy. Fandy di hajar habis-habisan, tapi ia masih berusaha menjaga kesadarannya.

Eva masih membutuhkannya. Gadis itu membutuhkannya…

Hingga kemudian, sebuah teriakan keras dari dalam rumah menghentikan aksi brutal para pengawal rumah Mark.

“Hentikan! Hentikan sialan! Apa yang kalian lakukan pada kakakku?! Berengsek! Hentikan!” Itu Amora, yang datang sambil berteriak dan marah kepada semua yang ada di sana. Amora bahkan tak segan-segan memukuli pengawal-pengawal rumahnya dengan tangannya yang tampak mungil. Tentu saja para pengawal di rumah bossnya tak berani melawan Amora. Melawan Amora sama saja melawan Boss mereka.

Dalam kesakitannya, Fandy menyunggingkan sedikit senyumannya. Amora datang menyelamatkannya, dan apa yang tadi gadis itu bilang? Kakakku? Oh, terdengar sangat nyaman di telinganya.

“Fan, astaga, apa yang terjadi? Apa yang mereka lakukan padamu?” Amora bertanya dengan wajah khawatirnya.

Fandy malah tersenyum saat melihat Amora datang menyongsongnya.

“Fan, jangan senyum. Mukamu babak belur penuh darah. Bagaimana mungkin kamu bisa senyum kayak gini?”

“Aku senang kamu datang.” ucap Fandy dengan lembut.

“Apa yang terjadi? Kenapa kamu diperlakukan seperti ini?”

“Eva, Eva diculik. Dan aku yakin ini ada hubungannya dengan papa kamu.”

“Apa?”

Fandy mengangguk lemah. “Dan perempuan yang kamu ceritakan tadi siang. Kita harus menolongnya, Eva membutuhkan aku.” Amora hanya ternganga dengan apa yang ia dengarkan. Penculikan? Bagaimana mungkin ayahnya terlibat dalam hal seperti itu?

***

Eva membuka mata ketika sadar jika dirinya berada dalam sebuah kamar yang cukup asing baginya. Itu bukan kamarnya di rumah lamanya, bukan pula kamarnya di rumah yang beberapa bulan terakhir ia tempati, itu juga bukan kamar Fandy, tapi kenapa ia bisa berada dalam kamar ini?

“Akhirnya kamu sadar juga, Sayang.” Suara itu membuat Eva bangkit seketika, meski ia masih merasa sedikit pusing entah karena apa.

Eva menatap sosok perempuan yang sudah duduk di sebuah kursi tak jauh dari ranjang yang ia tiduri. Oh, itu sang mama, tapi dimanakah ini?

“Ma, aku kenapa? Ini dimana?” tanya Eva dengan polos.

Maria hanya tersenyum saat melihat kepolosan puterinya. “Kamu baik-baik saja, sayang, dan kamu sedang sama mama.”

“Tapi ini dimana, Ma? Dan pestanya?”

“Maaf, mama harus mengacaukan pesta kamu, tapi mama melakukan semua ini supaya semuanya berjalan dengan lancar dan sempurna.”

“Apanya yang lancar dan sempurna, Ma?” Eva benar-benar tampak bingung dengan apa yang diucapkan mamanya. Dan astaga, Eva mengabaikan penampilan mamanya yang tampak sangat berbeda.

Dulu, mamanya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang menghabiskan waktunya dirumah dan memasak masakan enak untuk Eva. Penampilannyapun tampak sederhana, sedangkan kini, mamanya seakan berubah seratus delapan puluh derajat. Mamanya tampak seksi dengan dres ketat selututnya, belum lagi make up yang dikenakan sang mama. Ahh, sebenarnya apa yang terjadi dengan mamanya?

“Biarkan dia bernapas dulu, Maria. Kupikir dia sedikit kebingungan.” Suara lain datang dari arah pintu masuk.

Eva membulatkan matanya seketika saat mendapati siapa yang datang. Oh, bukankah itu Boss Fandy? Kenapa lelaki itu di sini? Dengan mamanya?

“Anda? Apa yang anda lakukan disini?” Tanya Eva dengan berani. Ia masih tidak suka kearoganan yang ditampilkan boss Fandy pada Fandy saat itu, belum lagi peraturan konyol dalam agensinya yang membuat Fandy berhenti mengawalnya. Eva benar-benar tidak suka dengan boss Fandy.

“Sayang, dia Om Mark, kekasih mama.”

Eva membulatkan matanya seketika pada sang mama. Astaga, bagaimana mungkin mamanya dapat dengan mudah mengenalkan lelaki asing ini sebagai kekasihnya? Bagaimana dengan papanya?

“Ma, Mama ngomong apa sih? Terus papa gimana?”

“Mama kan sudah pisah sama papa kamu, sayang. Jadi bukan masalah kalau mama mengenalkan orang yang dekat dengan mama sama kamu.”

“Ma, papa bahkan setiap hari mikirin mama. Papa menghabiskan waktunya untuk kerja demi mama, tapi kenapa mama lakuin ini? Papa benar-benar mencintai Mama.”

“Evelyn! Kamu tahu apa tentang mama dan papa kamu? Kamu hanya hidup dalam dunia khayalan. Mama sama papa tidak saling mencintai. Camkan itu!”

Mata Eva berkaca-kaca seketika. “Nggak mungkin, mama dulu sering cerita kalau pernikahan kalian sangat indah. Bukan seperti ini.”

“Eve. Dunia yang kamu pijaki bukan dunia khayalan. Kamu harus mengerti itu.”

Eva tak dapat lagi membendung tangisnya. Astaga, bukan seperti ini yang ia bayangkan. Ini pasti hanya mimpi. Eva memilih jika mamanya pergi begitu saja tanpa kabar dari pada harus mendapati kenyataan jika sang mama kembali bersama dengan orang lain yang pastinya akan sangat melukai perasaan papanya dan juga dirinya sendiri.

“Dan Mama membawamu kemari bukan tanpa alasan. Mama hanya ingin kamu membayar apa yang selama ini sudah mama korbankan untuk kamu.”

“Apa?” Eva benar-benar tak mengerti.

“Seluruh waktu mama mengandung, melahirkan, dan juga membesarkan kamu. Kebebasan mama yang mama lepaskan demi terikat dengan papamu. Kamu harus mengembalikan semua itu pada Mama, Eve.”

Eva benar-benar ternganga saat mendengar pernyataan yang terdengar begitu kejam ditelinganya, seakan, semua yang dilakukan mamanya di masa lalu disesali oleh sang mama. Bagaimana mungkin perempuan ini mengucapkan semua itu padanya?

“Ma, aku nggak nyangka kalau mama ngomong kayak gitu.”

“Mama nggak butuh keterkejutan kamu, yang mama butuhin hanya tanda tangan kamu di surat-surat ini.”

Eva menatap surat-surat yang dilemparkan padanya. “Apa ini Ma?” Eva masih tidak mengerti apa yang dilakukan sang mama, dan surat apakah itu?

“Jangan bilang kalau kamu belum tahu, bahwa sekarang kamu adalah pewaris tunggal dari kekayaan keluarga Mayers.”

“Apa?”

Maria tertawa lebar.”Ya, sayang, kamu pemilik semuanya sejak hari ini. Dan mama hanya ingin kamu berbaik hati menyerahkan semua itu pada mama sebelum mama pergi dan nggak akan ganggu hidup kamu lagi.”

Oh Tuhan! Apa yang sudah di katakan mamanya? Sumpah demi apapun juga, Eva rela kehilangan semuanya asalkan sang mama kembali pada dirinya dan juga papanya seperti dulu. Bukan malah membiarkan mamanya pergi membawa semuanya.

Eva menggeleng cepat. “Enggak, Ma. Mama salah kalau mengira aku mau ngelakuin ini. Kalau mama ingin memiliki semua harta itu, maka kembalilah padaku, pada papa. Kita bisa hidup bersama dan mama bisa memiliki semuanya.”

Maria kembali tertawa lebar. “Kamu masih belum mengerti juga, Eve. Mama nggak ingin terikat, dan mama nggak pernah ingin terikat. Mama suka hidup bebas, tanpa kamu yang harus di urusin, atau  papa kamu mengikat mama dalam ikatan sialannya.”

Eva merasa hatinya seperti teriris-iris. Bagaimana mungkin seorang ibu dan juga seorang istri berucap seperti itu? Eva bahkan seakan tidak mengenal siapa mamanya saat ini. Beginikah sifat asli mamanya.

“Ayo cepat tanda tangan.” ujar sang mama lagi.

Eva berdiri seketika dan menggelengkan kepalanya. “Enggak, Ma, aku nggak mau. Kalau mama mau memiliki semuanya, mama bisa balik sama aku dan Papa.” ucapnya dengan tegas. Ya, bukannya Eva tidak mau melepsakan harta yang diwariskan padanya, tapi yang ia pentingkan hanya kebersaman bersama dengan kedua orang tuanya seperti dulu.

“Kamu benar-benar nggak tahu diri!” mamanya berseru keras, kemudian dalam sekejap mata, sang mama melakukan sesuatu yang benar-benar tidak pernah terpikirkan oleh Eva sebelumnya.

Sebuah pistol ditodongkan tepat ke arahnya, dan yang membuat Eva masih tak mempercayai hal tersebut ialah si penodong itu adalah ibu kandungnya sendiri.

“Cepat tanda tangani surat-surat itu atau aku akan meledakkan isi kepalamu.”

Suara itu terdengar begitu dingin. Sorot mata mamanya yang dulu tampak begitu menyayanginya, kini terlihat berbeda. Tak ada rasa sayang di sana. Semuanya kosong, dan kekosongan tersebut membuat Eva bergetar hebat. Apa mamanya tidak pernah menyayanginya? Apa sang mama tak pernah menginginkan kehadirannya? Jika memang begitu, apa gunanya lagi ia berada di dunia ini?

Eva hanya diam, ia memejamkan matanya seakan memberi ijin mamanya untuk meledakkan isi kepalanya. Ya, jika itu yang diinginkan sang mama, kenapa tidak langsung saja dilakukan?

-TBC-

Advertisements

4 thoughts on “Evelyn – Chapter 18 (Gadis itu membutuhkannya)

  1. Makasih kakak bru kemarin update pas tdi buka dah update lagi…tega banget mamahnya eva ngelakuin itu sama anak kandungnya sendiri…kok fandy gak curiga sama sekali sama maria dan pengawalnya…moga aja gak terjadi apa2 ma eva…

    Like

  2. Itu mama na sii eva udah kek monster az , ko ada yaa manusia sekejam itu bener” ga pnya prasaan , lempar k laut az biar d mkan hiu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s