romantis

Evelyn – Chapter 17 (Kenyataan)

Evelyn

 

Huaaa… demi apa aku minta maaf bgt ama kalian yaa dear, duhh akhir2 ini aku sibuk bgt sama penerbitan yang baru aku dirikan, hikks, tapi sebisa mungkin aku nggak akan menelantarkan cerita2 aku… terimakasih bgt buat yang sudah bersedia nunggu. muaaacchhhhh

 

“Aku nggak sekaya itu, Eve. Astaga.” Fandy masih saja tertawa sedangkan Eva kembali mengerucutkan bibirnya meski pipinya tidak berhenti merah padam karena malu. “Itu kunci apartemenku, saat kamu kangen sama aku, atau ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku, kamu bisa ke apartemenku tanpa menungguku di luar seperti tadi.”

“A-apa? Jadi? Aku bisa leluasa keluar masuk apartemenmu?”

Fandy tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Eva. “Tentu saja, kamu kan kekasihku.” Jawabnya dengan santai.

Dengan spontan Eva memeluk tubuh Fandy, ia senang, amat sangat senang. Dengan sikap kakunya, lelaki ini ternyata menunjukkan sikap perhatiannya pada Eva meski Eva sering salah paham dengan hal tersebut.

“Sering-seringlah datang ke apartemenku, aku suka saat mendapati wangimu tertinggal disana.” Bisik Fandy dengan suara serak. Meski itu adalah kalimat sederhana tanpa makna, tapi Eva berbunga-bunga mendengarnya. Oh, Eva masih tidak menyangka jika Fandy juga menginginkannya sebesar ia menginginkan lelaki tersebut.

***

 

Chapter 17

-kenyataan-

 

Hari ini akhirnya tiba juga, hari di mana Eva ulang tahun dan mengadakan pesta besar di rumahnya. Sebenarnya, sejak kemarin Fandy sudah menyiapkan diri, ia bahkan memberanikan diri meminta izin pada atasan barunya untuk cuti selama seharian ini untuk menghadiri acara Eva dan menghabiskan harinya bersama dengan Eva, tapi ketika ia mendapatkan cutinya, si Boss dengan begitu menjengkelkan menghubunginya, dan memintanya untuk menemani Amora seharian ini.

Amora sendiri tidak berubah, gadis itu masih bersikap ketus padanya, seakan gadis itu sedang marah terhadapnya. Tapi marah karena apa, Fandy sendiri tidak tahu.

“Amora, sebenarnya apa yang kamu cari? Kalau nggak ada, aku bisa ngantar kamu pulang sekarang juga.” ucap Fandy yang sudah mulai sedikit kesal.

Sejak siang tadi, Amora mengajaknya keliling di salah satu pusat perbelanjaan, kemudian mereka berakhir di sebuah restoran, tapi setelah memesan makanannya, Amora tak lantas memakannya. Gadis itu hanya memainkannya saja, seakan memang sengaja menahan Fandy untuk lebih lama berada di sana.

“Kenapa? Kamu ada acara? Kamu bisa ninggalin aku.”

“Tapi Boss menyuruhku untuk menemanimu sampai selesai.”

“Papa? Memangnya papa siapa kamu? Kenapa kamu begitu patuh dengannya seakan mengejar sesuatu darinya?”

Fandy mengerutkan keningnya. “Amora, aku nggak ngerti apa yang kamu katakan. Semua bawahan papa kamu pasti tunduk dengan perintahnya.”

“Oh, jadi hanya karena kamu bawahannya, bukan karena hal lainnya?”

“Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu? Kenapa kamu bersikap seperti ini padaku? Apa aku ada salah? Jika ada, maka aku minta maaf.”

“Tidak! Aku nggak akan pernah maafin kamu. Karena kamu, mamaku menanggung hukuman karena sikap bejat papaku!”

Fandy membulatkan matanya seketika. Kemudian ia melihat Amora berdiri, bersiap untuk meninggalkannya, tapi kemudian dengan cekatan Fandy meraih pergelangan tangan Amora.

“Apa yang kamu katakan? Aku sama sekali tidak mengerti.”

“Lepaskan! Lepaskan!”

“Aku nggak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu menjelaskan semuanya padaku.”

“Aku nggak mau bicara sama anak haram seperti kamu! Kamu merusak hidup keluargaku! Aku membencimu!”

Fandy melepaskan cekalan tanganya seketika saat mendengar ucapan kejam yang terlontar dari bibir Amora. Ia masih tidak mengerti apa yang dimaksud Amora, satu hal yang pasti, Amora pasti mengetahui sesuatu tentang dirinya atau asal usulnya yang hingga kini bahkan dirinya sendiri saja tidak tahu. Secepat kilat Fandy berdiri dan mengejar Amora, ia harus meminta penjelasan pada gadis itu, ia harus mencari tahu apa yang di maksud oleh gadis itu.

***

Fandy mendapati Amora yang sudah menangis di dalam mobilnya, gadis itu menenggelamkan wajahnya diantara kedua lengannya dengan sesekali sesenggukan. Apa yang terjadi sebenarnya dengan Amora?

“Hei, kamu ada apa? Kamu ada masalah? Kamu bisa bercerita padaku.”

Meski tadi Amora berkata keterlaluan padanya, nyatanya Fandy tidak bisa marah terhadap gadis tersebut. Amora sudah seperti adik kandungnya sendiri dan Fandy tidak akan bisa marah pada gadis itu.

“Aku jahat, seharusnya aku tidak mengatakan hal kejam itu padamu, aku jahat.”

“Amora.” Fandy mengangkat paksa wajah Amora, dan benar saja wajah Amora penuh dengan air mata, ada raut kesal, tapi yang begitu tampak adalah raut penyesalan. Amora menyesal sempat melontarkan kalimat hujatan seperti tadi padanya, dan melihat penyesalan itu saja membuat Fandy merasa cukup untuk memaafkan Amora.

“Apa yang terjadi? Aku tahu kamu nggak salah, kamu mengatakan seperti itu karena kamu mengetahui sesuatu, atau apa mungkin kamu sedang kesal dengan sesuatu?”

“Aku nggak tahu, aku benci papa, papa sudah menghianati mama. Dan aku benci kamu, karena kamu, kamu…”

“Apa?” tanya Fandy lagi.

Amora mengusap air matanya masih dengan sesekali terisak. “Aku nggak sengaja dengar, kalau ternyata, selama ini, kamu, kamu adalah anak dari simpanan papa. Aku benci dengan kenyataan itu!” Amora kembali menangis, sedangkan Fandy ternganga dengan penjelasana Amora.

“Amora, siapa yang bilang begitu?”

“Aku nggak sengaja dengan pembicaraan tante Maria dan papa.”

“Siapa tante Maria?”

“Teman dekat papa, kupikir, kupikir ini ada hubungannya dengan Evelyn. Tapi aku tidak tahu apa yang mereka maksud, yang kudengar jelas saat itu adalah bahwa kamu adalah anak papa.” Amora kembali menangis. Mengucapkan kenyataan itu benar-benar sangat berat untuk Amora. Ya, dia memang ingin dan senang sekali jika Fandy menjadi kakaknya, tapi bukan kakak tiri yang berasal dari simpanan ayahnya. Sungguh, Amora tidak ingin mengakui kenyataan itu.

Tiba-tiba Amora merasakan tubuhnya diraih oleh Fandy, dan tak lama, ia sudah berada dalam pelukan Fandy.

“Hal itu belum tentu benar, bisa jadi kamu salah dengar, aku akan bertanya pada Boss nanti. Tapi jika itu benar-benar kenyataan, tolong jangan benci aku, aku juga tidak ingin dilahirkan dengan situasi seperti itu. Meski kamu adik tiriku atau bukan, kamu sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Tolong, jangan bersikap seperti itu lagi padaku.”

Amora membalas pelukan Fandy seketika dengan pelukan eratnya. “Maaf, aku salah, aku hanya ingin marah, tapi tidak tahu dengan siapa. Aku sudah jahat karena menghujatmu seperti tadi.”

“Jangan minta maaf, kamu nggak salah.” Fandy mengusap lembut rambut Amora. Sungguh, ia sudah memaafkan Amora, ia tahu gadis itu hanya kesal. Tapi dipungkiri seperti apapun juga, pikiran Fandy tidak bisa jauh dari kenyataan yang diucapkan Amora, bahwa ia adalah anak dari simpanan sang Boss, benarkah?

Fandy melepaskan pelukannya seketika saat mengingat sesuatu. Astaga, ia harus segera ke pesta ulang tahun Eva, jika tidak, gadis itu mungkin akan merajuk lagi padanya.

“Amora, aku minta maaf sebelumnya, tapi, aku harus mengantarmu pulang, aku ada janji dengan Eva. Bisakah aku mengantarmu pulang sekarang?”

“Kamu, kamu benar-benar berkencan dengannya?” tanya Amora dengan wajah polosnya sembari mengusap airmata yang membasahi pipinya.

Fandy tersenyum sedikit. “Ya, kami berkencan, tapi kumohon padamu, jangan bilang sama Boss.”

“Baiklah, aku setuju kamu dengannya, sepertinya dia baik dan menyukaimu, meski aku sebal dengan sikapnya yang centil.”

“Kamu juga centil.”

“Aku nggak centil, aku cuma sedikit manja.” Amora meralat. Dan seperti itulah mereka ketika bersama. Fandy senang, setidaknya hubungan mereka kembali seperti dulu lagi. Amora tak lagi bersikap ketus dan menyebalkan padanya, itulah yang terpenting. Sisanya, tentang kebenaran yang diungkapkan Amora, ia akan cari tahu sendiri nanti.

***

Eva tidak berhenti menggerutu kesal karena hingga acara sudah berjalan dan hampir sampai pada puncak acara, Fandy belum juga datang menampilkan batang hidungnya. Oh, sebenarnya kemana dia? Apa Fandy memang berniat untuk tidak menghadiri pesta ulang tahunnya? Ataukah lelaki itu sedang lupa?  Tapi bagaimana bisa?

Eva masih menggerutu kesal sesekali kakinya melangkah menjauhi ramainya pesta yang ia selenggarakan di rumahnya. Ia ingin menjauh sebentar dan menghubungi Fandy. Mungkin lelaki itu memang lupa, dan tidak ada salahnya bukan jika ia mengingatkan Fandy?

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Eva bertanya setengah kesal pada seorang pengawal pengganti Fandy yang kini sedang mengikuti tepat di belakangnya.

“Saya harus menjaga Nona Evelyn.”

“Aku sedang ingin sendiri, pergilah.”

Belum juga Eva menutup mulutnya, tepat di belakang pengawalnya tersebut, datang seseorang yang sangat dia kenali.

“Mama.” pekik Eva. Ia tidak menyangka jika mamanya bisa datang ke rumah ini, dan dari mana mamanya tahu jika ia tinggal di rumah ini?

Meski diselimuti dengan berbagai macam pertanyaan, Eva tetap saja menghambur ke arah sang mama yang memang sudah sangat ia rindukan.

“Eve, astaga, akhirnya mama bisa ketemu sama kamu.”

“Aku kangen mama, apa yang terjadi, Ma? Kenapa mama pergi? Dan bagaimana bisa mama tahu aku tinggal di sini?” Eva lalu melirik ke arah lelaki tinggi besar yang berpenampilan layaknya pengawalnya yang kini berdiri tepat di balakang sang mama.

Eva melepaskan pelukannya seketika, entah kenapa pikirannya tidak enak. Sang mama seperti orang lain, bahkan dari pelukannya saja Eva dapat merasakannya.

“Ma, mama sama siapa?”

Sang Mama tersenyum kemudian berkata “Maafkan mama, Eve.”

Eva sempat mengerutkan keningnya karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan mamanya. Tapi kemudian, ia terkejut saat tiba-tiba dirinya di bungkam oleh sesuatu dari belakang. Eva melirik ke arah orang yang membungkamnya yang tak lain ternyata pengawalnya sendiri. Kenapa? Apa yang terjadi?

Lalu Eva tak dapat berpikir apa-apa lagi ketika hidungnya mengirup sesuatu yang membuat kepalanya pening hingga tak sadarkan diri.

“Bereskan semuanya, pastikan tak ada yang melihat.” perintah Maria pada pengawal Eva. Sedangkan pengawal Eva hanya bisa mengangguk patuh.

Eva lalu di panggul pengawal yang dibawa oleh Maria, kemudian mereka keluar melewati taman samping rumah. Semua akses terbuka untuk mereka, tentu saja, karena banyak dari pengawal yang di pekerjakan keluarga Eva adalah pengawal yang berasal dari agensi Mark, dan pengawal-pengawal tersebut memang sengaja disisipkan Mark ke rumah Eva untuk menjalankan rencana ini, kecuali Fandy tentunya.

Maria berjalan dengan santai pun dengan pengawal di belakangnya. Sesekali mereka berpapasan dengan tamu undangan. Tapi Maria maupun pengawal yang memanggul Eva tidak panik sedikitpun, mereka memasang wajah santai seperti tak terjadi apapun. Hingga kemudian tanpa di duga mereka berpapasan dengan seorang yang mereka kenal. Siapa lagi jika bukan Fandy.

Maria tahu jika lelaki itu Fandy karena Maria pernah mencari tahu tentang Fandy meski tak pernah menemuinya secara langsung. Pun dengan pengawalnya, mereka satu agensi, jadi pengawal tersebut juga tahu siapa lelaki yang sedang berpapasan dengannya.

Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa Fandy akan menghentikan mereka? Oh, jika hal itu terjadi, Maria tahu jika rencananya sudah gagal total. Tidak, apapun yang terjadi, Fandy tidak boleh menghentikannya.

-TBC-

 

Advertisements

3 thoughts on “Evelyn – Chapter 17 (Kenyataan)

  1. Makasih kak update nya cepet gimana reaksi fandy kalau tau mark adalah ayah kandungnya…eva dculik sama ibunya demi mendapatkn kekayaan ayahnya eva…kasian sama eva moga aja cepet update cerita selanjutnya soalnya penasaran ma kelanjutannya

    Like

  2. Waw deg”an ini bikin q jantungan , aduhhhh gmn ql sampe fandy ga sadar ql eva d culik ??
    amora bener” yaa marah na ga tanggung” sampe ngomong kek gitu ma fandy , untung fandy ga terpancing esmosi na ….

    lanjut buuu N tetap semngat yaa ..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s