romantis

Lovely Wife – Chapter 11 (Bibirmu itu menggodaku!)

Lovely Wife

 

Mengikat diri?

Sadarlah Nadine. Hanya kau yang terikat dalam pernikahan ini. Dia masih bebas, sebebas yang ia inginkan. Sedangkan dirimu? Lihatlah, kau begitu menyedihkan karena berharap jika pernikahanmu tampak begitu senpurna. Kau sudah membohongi dirimu sendiri Nadine!

Nadine berseru dalam hati, mencemooh dirinya sendiri. Kemudian kakinya tak kuasa untuk melanjutkaan langkahnya. Nadine memilih berbalik dan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Hatinya kembali tersakiti, perasaannya serasa diacak-acak. Tapi kenapa ia merasakan semua perasaan ini? Bukankah pernikahannya dengan Dirga tidak didasari oleh cinta? Lalu kenapa ia merasa tersakiti?

Satu hal yang pasti diyakini oleh Nadine saat ini, jika kini dirinya sudah enar-benar jatuh pada pesona Dirga Prasetya. Lelaki itu sudah menarik hatinya dan enggan mengembalikannya. Bagaimana mungkin ia jatuh tenggelam dalam permainan yang Dirga ciptakan?

Nadine menjauh dengan sesekali mengusap dadanya. Rasanya sesak, sesak dan sakit. Beginikah perasaan menyukai seseorang tanpa ada balasannya?

***

Chapter 11

-Bibirmu itu menggodaku-

 

Nadine kembali menaruh nampan di meja dapur hingga membuat mama Dirga mengernyit dan bertanya “Loh, kok dibawa balik?”

Nadine sempat bingung akan menjawab apa, tapi kemudian ia menjawab “Darren sudah pulang, Ma.”

“Oh ya? Cepat sekali?”

“Nadine permisi, Ma.”

“Loh mau kemana? Kamu belum makan.”

Nadine tersenyum sedikit. “Nanti saja, Ma.” Lalu tanpa banyak bicara Nadine kembali menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.

Rasa sesak benar-benar mengganggunya. Ia ingin menangis, tapi tidak tahu harus menangisi apa? Apa karena Dirga yang sudah begitu keterlaluan padanya? Astaga. Nadine mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ia berdiri dan mencari dimana tasnya. Ia akan pergi, setidaknya ia butuh seseorang untuk mendengarkan curahan hatinya.

Tepat ketika Nadine akan pergi dan membuka pintu kamarnya, pada saat itu berdirilah Dirga yang sudah berada tepat di balik pintu keluar. Nadine terkejut, pun dengan Dirga.

Dirga menatap Nadine dari ujung rambut hingga ujung kakinya, tampaknya Nadine akan bersiap-siap pergi. Kemana?

“Mau kemana?”

“Uum, aku mau pulang.”

“Pulang? Ini kan rumah kamu.”

“Uuum, maksudku ke rumah ibu.”

“Kenapa? Ada masalah di sana?”

Masalahnya itu kamu!!! Jerit Nadine dalam hati.

“Enggak, aku kangen saja.”

“Kangen? Baru kemarin kamu lihat mereka, masa sudah kangen?”

Nadine tidak bisa menjawab, astaga, kenapa sih Dirga jadi cerewet seperti ini? Nadine lalu mengangkat wajahnya dan sedikit mengerutkan kening saat mendapati ujung bibir Dirga kembali memerah seperti tadi malam. Itu pasti bekas pukulan yang dilayangkan ayah mertuanya tadi.

Dengan spontan Nadine mengulurkan jemarinya untuk menyentuh luka Dirga, tapi kemudian Dirga segera mencengkeram pergelangan tangannya.

“Jangan sentuh.” ucapnya.

“Ini, kenapa lagi?” Nadine bertaya, padahal ia tadi sempat melihat jika Dirga dipukul oleh ayahnya sendiri.

“Nggak apa-apa, cuma salah paham sedikit.”

“Mau kuobati?” tanyanya lagi.

Dirga tidak menjawab, dia hanya menatap Nadine lekat-lekat. Seakan mencari sesuatu pada mata Nadine. Keduanya saling pandang cukup lama tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lalu semua itu berakhir saat Nadine memilih segera mengakhirinya. Ia tidak ingin Dirga melihat apa yang terlihat dimatanya, ia tidak ingin Dirga mengetahui apa yang dirasakannya saat ini.

“Aku ngambil kotak obat dulu.” ucapnya sembari berjalan cepat meninggalkan Dirga.

Dirga hanya berdiri membatu di ambang pintu. Jantungnya berdegup tak menentu, tapi ia tidak tahu karena apa. Mata Nadine, seperti sedang bercerita, bercerita tentang suatu rasa yang membuat wanita itu seakan tersiksa. Apa itu yang dirasakan Nadine semalam? Setelah kelakuan bejat yang ia lakukan pada istrinya tersebut? Tapi kenapa Nadine seakan masih bersikap biasa-biasa saja?

Saat Dirga masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Nadine sudah kembali dengan membawa kotak obat.

“Kemarilah.” Ajaknya dengan suara lembut. Dirga hanya mampu terpaku menatap ke arah Nadine yang berjalan menuju ranjang mereka. Wanita itu tampak rapuh, tampak menyedihkan. Kenapa? Apa ia terlalu kejam dengan wanita tersebut?

“Kak? Ngapain masih di situ?” pertanyaan Nadine membuat Dirga kembali tersadar dari lamunannya. Dirga akhirnya memilih berjalan menuju ke arah Nadine, ia duduk tepat di sebelah Nadine lalu membiarkan Nadine mengobati lukanya.

“Kamu, nggak marah?” tanya Dirga secara tiba-tiba.

Nadine sempat menghentikan aksinya, tapi kemudian melanjutkan apa yang ia lakukan. “Marah? Marah kenapa?”

“Tadi malam, kupikir, aku sedikit keterlaluan.”

Nadine hanya mengulaskan sedikit senyumannya. “Uum, aku juga akan marah kalau ada orang yang mencintai suami adikku. Aku juga nggak mau ada orang yang terang-terangan menggoda suami adikku.”

Sungguh, Dirga merasa tersindir dengan hal tersebut. “Aku sangat menyayangi Karin. kuharap kamu mengerti hal itu.”

Nadine mengangguk patuh. “Aku mengerti, dulu, aku bahkan sempat iri sama Karin. Karin punya dua kakak yang sangat menyayanginya, sedangkan aku?”

“Kamu kan punya banyak pacar. Sedangkan Karin nggak pernah pacaran. Dia cuma suka sama si bangsat Darren.”

“Pacar nggak akan menyayangiku sampai mati, atau mengorbankan hidupnya untukku. Tapi Karin mendapatkan itu dari kak Dirga.”

“Aku bingung, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?”

Nadine menyelesaikan tugasnya membersihkan luka di wajah Dirga, lalu menutup kembali kotak obatnya. “Aku nggak ada maksud apapun.” ucapnya lirih.

“Baiklah, kalau ini tentang semalam, aku minta maaf, aku memang keterlaluan.”

Nadine tersenyum lembut pada Dirga. “Aku juga salah, aku minta maaf.” Lalu Nadine berdiri dan pergi mengembalikan kotak obatnya.

“Aku cuma nggak suka lihat kamu dekat-dekat sama Darren.” Ucap Dirga hingga membuat Nadine menghentikan langkahnya.

Ya, tidak suka karena Darren adalah suami Karina, bagaimana jika ia dekat dengan lelaki lain? Apa reaksinya akan sama? Nadine bertanya dalam hati.

“Aku nggak akan dekat-dekat lagi sama Darren, kak Dirga bisa pegang omonganku.” jawab Nadine sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan Dirga.

***

Nadine melepaskan sabuk pengamannya saat mobil Dirga berhenti di depan gerbang rumahnya. Rumah Nadine memang berada di dalam sebuah gang, tapi gang tersebut masih bisa di lewati oleh mobil.

“Jam lima kujemput.” Itu bukan pertanyaan, tapi terdengar seperti perintah yang mengharuskannya pulang jam lima sore nanti.

“Apa aku nggak boleh menginap?”

“Menginap? Kalau kamu menginap, aku juga akan ikut menginap.”

Nadine tidak dapat membalas perkataan Dirga. Ya, memang benar, jika dia menginap, Dirga juga harus ikut. Jika tidak, maka keluarganya akan berpikir jika mereka sedang dalam masalah. Dan Nadine tidak ingin keluarganya ataupun keluarga Dirga berpikir seperti itu.

“Kenapa? Kamu tampak sedang berusaha menghindariku.”

“Enggak, aku hanya kangen suasana rumah.”

“Kalau begitu malam ini kita menginap di sini.”

“Ehh, tapi Kak-”

“Sudah, cepat turun, nanti aku balik sebelum makan malam.”

Nadine sedikit tersenyum melihat tingkah Dirga. Ya, memang lelaki ini sangat kasar, begitu kejam, dan sangat tega saat ia mengetahui alasan lelaki ini menikahinya. Tapi entah kenapa, Nadine tak dapat memungkiri dirinya sendiri jika hatinya mulai tertarik dengan lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya tersebut. Dirga tampak keras, dan kasar dari luar, tapi Nadine seakan tahu, jika lelaki ini begitu lembut dan penyayang di dalamnya. Mampukah ia membuat lelaki ini menyayangi dirinya?

“Baiklah, aku keluar.”

Saat Nadine hampir membuka pintu mobil Dirga, secepat kilat Dirga meraih pergelangan tangan Nadine yang satunya hingga membuat Nadine kembali menatap ke arah Dirga.

“Tunggu.” ucapnya sebelu mendaratkan bibirnya pada bibir Nadine. Nadine sempat terkejut saat mendapat perlakuan mengejutkan seperti itu, tapi kemudian ia pasrah saat Dirga mulai melumat bibirnya dengan gerakan menggoda.

“Bibirmu itu menggodaku!” ucap Dirga setelah melepaskan tautan bibir mereka.

Pipi Nadine memanas, merona-rona hingga Nadine yakin jika kini wajahnya sudah merah seperti tomat. Yang bisa Nadine lakukan hanya menunduk dan menetralkan debaran jantungnya yang seakan menggila.

Astaga, bagaimana ini? Bagaimana jika dirinya jatuh semakin dalam pada pesona Dirga Prasetya? Sedangkan di sisi lain ia tahu jika suaminya ini hanya menganggapnya sebagai seorang tawanan saja. Bagaimana ia dapat mengakhiri semuanya?

***

Sore itu, Nadine sedang sibuk memasak di dapur dengan ibunya. Ia banyak diam, tidak seperti biasanya, mau bercerita pada ibunyapun, Nadine ragu. Ya, selama ini, ia memang tak memiliki rahasia apapun pada sang ibu, ibunya sudah seperti sahabat yang mengerti apa yang ia rasakan. Dan Nadine sangat nyaman dengan hal tersebut. Tapi mengingat hubungannya dengan Dirga saat ini, ia ragu, haruskah ia menceritakan kegalauan hatinya pada sang ibu?

“Nadine? Kamu mendengar ibu?” suara sang Ibu membuat Nadine berjingkat seketika hingga jemarinya yang saat itu sedang mengiris bawang tersayat  oleh pisau yang ia kenakan.

“Aahhh.” Nadine mengerang sembari melihat jemarinya yang berdarah.

“Kamu kenapa? Kamu lagi banyak pikiran? Kok ngelamun gitu.”

“Uum, enggak kok kok, Bu.” Nadine mengelak. Kemudian ia meraih kotak obat yang memang tak jauh dari meja dapur, membukanya, mencari plaster kemudian memasang di jarinya yang terluka.

“Kamu nggak bisa bohong, Sayang. Ibu kenal sama kamu. Ayo cerita, ada apa.”

Nadine hanya diam, ia benar-benar ragu mau menceritakan apa pada Ibunya.

“Nadine, sebenarnya, ayah sama ibu sempat terkejut saat tiba-tiba nak Dirga datang kesini bermaksud untuk menikahimu. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kalian benar-benar menjalin hubungan sebelumnya? Ibu pikir, kamu memiliki hubungan dengan Darren, bukan Dirga.”

“Aku juga bingung, Bu. Du aku menyukai Darren, tapi sekarang, kupikir semuanya sudah berbeda.”

“Kamu menyukai Dirga? Jika iya maka baguslah. Kalian suami istri, sudah sepatutnya saling mencintai.”

“Tapi kak Dirga tidak mencintaiku, Bu. Hubungan kami, pernikahan ini, kupikir hanya terpaksa ia lakukan.”

“Tapi kamu bisa mengajarinya untuk mencintaimu. Kamu memiliki banyak waktu untuk membuatnya mencintaimu, Sayang.”

Nadine lalu memeluk ibunya. “Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika aku sakit hati atas perlakuannya.”

Sang ibu mengusap lembut rambut Nadine. “Ibu sering mengalami hal seperti itu, tersakiti oleh orang yang ibu cintai. Tapi kehidupan memang seperti itu. Kita akan lebih sering tersakiti oleh orang yang kita cintai ketimbang orang yang kita benci. Dan hanya kesabaran yang dapat melawannya.”

Nadine mengangguk patuh pada ibunya.

“Dengar, perasaan ibu mengatakan jika Dirga bukan orang jahat, dia hanya tidak bisa mengekspresikan dirinya. Mungkin karena dia belum terbiasa hidup dengan kamu. Dia masih menyesuaikan diri, begitupun denganmu. Dan ibu tahu, kamu akan berhasil dengannya.”

“Jika Nadine gagal?”

“Rumah ini masih menjadi rumahmu, Sayang. Pintunya selalu terbuka untukmu.”

Nadine kembali mengangguk dan memeluk tubuh ibunya erat-erat. Oh, rasanya sangat lega saat setelah bercerita tentang kegundahan hatinya pada sang Ibu. Ya, dan benar apa yang dikatakan sang Ibu, bahwa ia harus lebih banyak bersabar saat menghadapi Dirga. Karena orang yang sabar, yang akan keluar menjadi pemenangnya.

***

Dirga menatap minuman yang sedang dalam genggaman tangannya. Meski pandangannya fokus pada minuman tersebut, nyatanya pikirannya tidak sedang ada di sana. Tentu saja saat ini yang sedang ada di dalam kepalanya hanya Nadine. Tatapan mata wanita itu, perkataan wanita itu, raut sendu dari wanita itu membuat Dirga tidak nyaman. Ada rasa bersalah, ada rasa yang menggelitik hatinya untuk mengorek semua yang di rasakan istrinya itu, mengingat betapa bejatnya kelakuan dirinya selama ini pada Nadine.

Kenapa Nadine masih bersikap baik-baik saja padanya? Sabar dan seakan tak ada apapun? Kenapa Nadine bersedia tersakiti olehnya?

Pikiran Dirga tersebut buyar setelah sebuah tepukan di pundaknya menyadarkan ia dari lamunannya.

Dirga menolehkan kepalanya ke belakang, dan mendapati lelaki tinggi tegap berdiri di belakangnya.

“Berengsek! Sejak kapan lo datang?” sapa Dirga pada lelaki tersebut.

Namanya Alden Revaldi, teman Dirga semasa SMA dulu. Hanya sekedar teman main, tapi dulu Dirga sempat naksir sama adik Alden yang bernama Angel, dan hanya sekedar suka-suka ala anak remaja.

Alden adalah teman Dirga yang cukup dekat di luar dari teman semasa kecilnya seperti Evan, Darren, dan Nadine. Kedekatan Dirga dan Alden bahkan membuat keduanya mendirikan usaha sampingan bersama. Meski jarang bertemu karena Alden melanjutkan sekolah dan bekerja di luar negeri, tapi keduanya tetap berhubungan dengan baik lewat telepon atau email.

“Kemarin. Dan gue langsung cari lo saat dengar kabar pernikahan kilat lo.”

“Sialan!” Dirga mengumpat lalu menyesap minuman dalam gelas yang sejak tadi ia genggam.

“Jadi, apa yang buat lo ada di sini? Lo kan pengantin baru?”

“Lo juga ngapain kemari? Lo kan baru pulang dari LN.”

Alden duduk di sebelah Dirga kemudian memesan minuman yang sama dengan Dirga. “Bosan di rumah, nggak ada yang di kerjain.”

“Gue juga sama.” jawab Dirga dengan cuek.

Alden meraih gelas berisi  minuman yang diberikan Bartender di hadapannya, menyesap minuman tersebut sedikit kemudian berkata. “Jadi, siapa perempuan bernasib sial yang lo nikahin?”

“Bangsat lo!” umpatan Dirga seketika membuat Alden terkekeh. “Gue lagi nggak mau bahas tentang dia.

“Lalu?”

“Gue mau seneng-seneng malam ini, kebetulan, gue sudah pesan cewek buat nemenin gue malam ini.”

“Bajingan lo! Ternyata lo masih sama bejatnya kayak dulu. Lo kan sudah ada istri di rumah, harusnya lo hilangin kebiasaan buruk lo yang suka jajan sembarangan.” Alden berkomentar.

“Nggak tau lah, gue malas aja lihat dia.”

“Kenapa? Nggak sesuai sama selera lo?”

“Al, gue berani bersumpah kalau dia perempuan sempurna yang pernah gue temuin, tapi gue selalu merasa bersalah aja kalau dekat-dekat dengannya.”

“Merasa bersalah kenapa? Lo bikin kesalahan sama dia?”

Dirga menegak minumannya hingga tandas, ia mengernyit ketika minuman tersebut terasa membakar tenggorokannya.

“Gue juga nggak tau, gue nikahin dia karena iseng-iseng aja sih. Gue mau jelasin sama lo, tapi situasinya rumit. Ini berhubungan dengan pernikahan adek gue dengan mantan pacarnya.”

“Jadi, lo nikahin mantan pacar suami adek lo? Kok bisa?”

“Awalnya ini tentang Karin, dia nikah dengan si bajingan sialan yang bernama Darren, Darren ini masih jadi kekasih Nadine, istri gue sekarang. Gue memang berniat nikahin Nadine supaya si bajingan Darren lupain Nadine dan berpaling pada Karin, adek gue.”

“Tapi sekarang lo terjebak dengan permainan lo sendiri?” Alden menebak.

“Bukan terjebak, tapi gue ngerasa kalau Nadine menikmati permainan gue, dan gue nggak suka.”

“Terus, apa yang lo mau? Lo pengen dia memberontak? Masih ngejar-ngejar suami adek lo, gitu?”

“Entahlah, gue juga nggak ngerti apa yang gue mau.”

Alden tertawa lebar. “Nikmatin saja, Ga. Siapa tahu Nadine bisa nyembuhin lo dari rasa penasaran lo terhadap istri abang lo, si Davit.”

“Bangsat lo! Bisa-bisanya lo bawa-bawa mereka dalam obrolan kita?” Dirga benar-benar kesal saat Alden membahas tentang Davit dan juga Sherly.

Bukannya takut, Alden malah tertawa lebar. Ya, Alden tentu tahu hubungan Dirga dan Sherly saat itu. Bahkan saat Sherly menikah dengan Davitpun, Dirga bercerita pada Alden. Alden jelas tahu jika Dirga masih memiliki rasa penasaran pada perempuan yang kini berstatuskan sebagai kakak iparnya tersebut, entah itu hanya penasaran atau rasa yang lainnya. Yang pasti, Alden tahu jika selama ini Dirga masih sering mengganggu kakak iparnya tersebut dengan cara-cara yang menurutnya sangat kekanakan.

“Hahaha, gue bener kan Ga? Lo seharusnya sudah berhenti mengganggu kakak ipar lo itu. Manfaatkan kehadiran istri lo buat lupain rasa penasaran nggak wajar yang lo rasain pada kakak ipar lo.”

Dirga hanya diam. Ucapan Alden memang benar adanya. Seharusnya ia bisa memanfaatkan keadaan, memanfaatkan kehadiran Nadine supaya bisa lepas dari rasa tak wajarnya pada Sherly, tapi apa ia bisa? Sekarang saja perasaannya sudah kacau balau saat melihat Nadine, bagaiaman dengan nanti?

“Entahlah, gue juga nggak tahu bagaimana baiknya nanti.”

“Nikmatin aja Ga, kalau lo bisa nikmatin semuanya, lo akan keluar sebagai pemenangnya.”

Well, Alden memang benar. Seharusnya, ia hanya perlu menikmati semuanya, bukan malah galau dengan perasaannya sendiri. Lagian, kalau tiba-tiba ia merasa galau dengan perasaanya, ia hanya perlu menghindar sebentar seperti saat ini, lalu kembali lagi seperti tak terjadi apapun. Alden benar, jika Nadine menikmati semua permainan yang ia cip, kenapa ia tidak?

***

Nadine memakan masakan di hadapannya dengan tidak berselera. Pikirannya sibuk memikirkan keberadaan Dirga. Suaminya itu tadi berpamitan pergi sebentar dan akan kembali sebelum tiba waktu makan malam, tapi hingga kini, Dirga belum juga kembali padahal jam makan malam akan segera selesai.

“Nadine, ada yang mengganggu pikiranmu?” sang ayah akhirnya bertanya saat Nadine hanya memainkan masakan di hadapannya.

“Uum, enggak, Yah.”

“Dirga nggak balik?” tanyanya lagi.

“Tadi bilang kalau dia akan kembali sebelum jam makan mal;am, tapi sampai sekarang belum juga pulang.”

“Jadi dari tadi kamu mikirin dia?” Ibunya menggoda.

“Ibu apaan sih.” Nadine memerah saat sang ibu dapat menebak dengan tepat apa yang ia rasakan saat ini.

Pada saat bersamaan, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Secepat kilat Nadine berdiri, berharap jika yang mengetuk pintu tersebut adalah Dirga.

“Bu, Yah, Nadine buka pintu dulu.”

Sang ibu hanya tersenyum sedangkan Nadine hanya bisa segera pergi meninggalkan ruang makan tersebut sebelum ibunya kembali menggoda dirinya.

Nadine menuju ke arah pintu depan rumahnya, membukanya, dan benar, setelah pintu dibuka, ia sudah mendapati Dirga berdiri di sana dengan beberapa bingkisan di tangannya.

“Kak, baru pulang?” sebenarnya Nadine tidak tahu harus bagaimana menyapa Dirga.

“Ya, tadi aku ada acara sebentar sama teman yang baru pulang dari LN.”

“Oh ya?” Nadine mengerukeningnya ketika mendapati Dirga yang beraroma minuman.

“Aku minum sedikit. Sebagai penghormatan.” akunya.

“Ohhh.” Nadine hanya mengangguk. Ia lalu membuka lebar-lebar pintu rumahnya, mempersilahkan Dirga masuk.

“Itu apa?” tanya Nadine penasaran dengan apa yang di bawah oleh Dirga.

“Baju ganti, sedikit cemilan buat ibu dan ayah. Mereka belum tidur, kan?”

“Mereka masih di ruang makan.”

“Wah kebetulan sekali, aku juga lapar, aku mau makan.”

Nadine tersenyum. “Kalau gitu, ayo kita makan malam bersama.” ucap Nadine sambil merebut bingkisan yang berada di kedua tangan Dirga kemudian melemparkan senyuman manis nan menggodanya pada Dirga sebelum ia berjalan lebih dulu memasuki ruang makan.

Degg…

Degg….

Deggg….

Dirga menghentikan langkahnya seketika. Jantungnya memompa lebih cepat dari pada sebelumnya saat melihat senyum manis Nadine. Bibirnya hanya ternganga, sedangkan jemarinya segera meraba dadanya yang seakan tak berhenti mengeluarkan irama yang begitu ia benci.

Sialan! Apa-apaan ini? Apa yang dia lakukan? Apa dia sedang menggodaku? Kuarang ajar! Aku tidak akan tergoda, Nadine! Aku yang menciptakan permainan ini, jadi akulah yang akan keluar sebagai pemenangnya.

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “Lovely Wife – Chapter 11 (Bibirmu itu menggodaku!)

  1. Hampir sebulan bolak balik ksni buat mlihat dirga apa udah d up ato belom , dan akhir na d up juga ….
    q kurang puas sumpah ini bner” mnggagu q , knp pendek bnget ayo lag bu d share lagi ..
    Dirga bener” iblis yng sangat mnggoda , gmn nadine ga cepet mlupankan daren , iblis na begitu mmpesona 🙂
    Padhal q sangat berharap ql dirga ga jajan d luar lagi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s