romantis

Evelyn – Chapter 16 (Aku tidak bisa berhenti)

Evelyn

 

“Halo.” Eva terdengar kesal, dan Fandy tahu jika terjadi sesuatu dengan gadis itu.

“Ada apa? Eve, aku sedang-”

“Aku nggak mau tahu! Pokoknya aku tunggu kamu di apartemenmu saat ini juga.”

“Eva, katakan apa yang terjadi? Kamu terdengar marah.”

“Ya, tentu saja aku marah. Siapa yang nggak marah kalau pacarnya nggak jujur.”

“Nggak jujur? Nggak jujur apa maksud kamu?”

“Tentang Sienna.” Setelah kalimat Eva, Fandy membatu seketika. “Kenapa? Kamu bingung mau jelasin apa?”

“Eva, aku-”

“Aku tunggu di apartemen kamu.” Setelah kalimat itu, telepon di tutup begitu saja. Meninggalkan Fandy yang masih ternganga dengan apa yang dikatakan Eva.

Oh, bagaimna bisa gadis itu tahu tentang Sienna? Apa yang harus ia katakan pada Eva tentang perasaannya dulu terhadap Sienna yang tak lain adalah sahabat Eva?

***

Cahpter 16

-Aku tidak bisa berhenti-

 

Fandy sampai di apartemennya sekitar satu jam setelah Eva meneleponnya. Bukan tanpa alasan, karena ia tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Ia harus menelepon seseorang untuk menggantikan pekerjaannya sementara, dan untungnya, salah seorang temannya bersedia melakukan hal tersebut.

Fandy segera naik ke lantai dimana apartemennya berada. Jantungnya berdegup tak menentu, ia takut, dan astaga, ia tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya.

Ia takut jika Eva berpikir terlalu jauh dan tidak ingin mendengarkan penjelasannya lagi. Ia takut jika Eva berada di apartemennya saat ini hanya untuk memutuskan hubungan mereka. Oh, Fandy benar-benar tidak menginginkan hal tersebut.

Fandy setengah berlari ketika keluar dari lift, kemudian ia mendapati Eva yang masih menunggunya tepat di depan pintu apartemennya. Sial! Harusnya ia memberikan Eva kunci Apartemennya kemarin, hingga ketika gadis itu ingin menemuinya, gadis itu tak perlu menunggunya di luar.

“Hei, maaf, aku telat. Tadi aku harus mencari pengganti untuk mengawal klienku.” Jelas Fandy. Tapi Eva seakan tidak mengindahkan penjelasan Fandy. Gadis itu masih berdiri dengan wajah cemberutnya.

Fandy membuka pintu apartemennya dan mengajak Eva masuk ke dalam. Ia sedikit mengernyit karena mendapati Eva hanya seorang diri.

“Mana pengawalmu? Kamu nggak seharusnya sendiri.”

“Bukan itu yang mau aku bahas sama kamu.”

“Eva, ini masalah serius. Kamu nggak tahu berapa banyak orang di luar sana yang ingin nyakitin kamu? Kamu nggak bisa pergi tanpa pengawalan.”

“Fan. Aku kesini untuk membahas tentang kamu dan Sienna, bukan tentang pengawal sialanku.”

Fandy menghela napas panjang. “Baiklah, duduklah, aku akan membuatkanmu minuman.”

“Aku nggak mau!” Eva menjawab cepat. “Sekarang jawab aku, apa Sienna orang yang kamu cintai?”

“Bukan.” Fandy menjawab cepat dan pasti. “Aku sudah bilang kalau aku cinta sama kamu.”

“Aku nggak tanya tentang saat ini, aku tanya perasaan kamu dulu.”

“Eva itu dulu, kita tidak perlu membahas masa lalu.”

“Jadi kamu benar-benar mencintai Sienna saat itu?” tanya Eva lagi.

Fandy mengangguk lemah. “Ya, aku menyukainya.”

“Kamu nggak bilang sama aku?”

“Kenapa aku harus bilang? Eve, aku hanya menyukai Sienna, sedangkan Sienna tidak punya perasaan lebih padaku. Dan itu dulu.”

“Tapi aku sudah tertarik padamu sejak saat itu!” seru Eva keras. Oh, sebenarnya ia tidak mengerti, kenapa ia marah dengan Fandy. Saat itu mereka belum ada hubungan apapun, jadi, jika Fandy menyukai gadis lain, itu sah-sah saja. Tapi kenapa ia merasa tidak rela.

“Baiklah, aku minta maaf, aku salah.” Mau tidak mau Fandy akhirnya mengalah. Ya, ia memang harus selalu mengalah jika menghadapi Eva.

“Aku merasa seperti orang bodoh karena menggoda orang yang jelas-jelas tidak menyukaiku.”

“Eva, itu dulu.”

“Dulu atau sekarang, bagiku sama saja.”

“Bagiku berbeda!” Fandy mulai kesal dengan kekeras kepalaan Eva. “Sebenarnya apa mau kamu? Kamu mau marah? Baiklah, marah saja sama aku? Kamu mau mukulin aku? Oke, kamu bisa lakukan apa yang kamu mau. Tapi tolong, bedakan jika itu dulu, bukan sekarang. Semuanya sudah berbeda. Aku hanya mencintaimu, bukan lagi Sienna.”

“Tapi aku tetap nggak suka kenyataan itu.”

Fandy mendekat, menangkup kedua pipi Eva kemudian mendongakkan wajah Eva ke arahnya. “Lalu bagaimana denganku? Apa kamu pikir aku suka kenyataan jika kamu dulu memiliki banyak kekasih? Aku juga tidak suka, Eve. Tapi aku mencoba melupakannya karena aku tidak bisa merubah masa lalu. Bagiku, yang terpenting saat ini kamu hanya milikku, bukan lagi milik mereka.”

Secepat kilat Eva memeluk tubuh Fandy. “Aku, aku hanya takut kehilangan kamu. Kamu selalu mencintai orang yang kamu kawal, aku takut setelah ini kamu mencintai klien barumu dan melupakanku.”

Fandy mendelik mendengar alasan Eva. “Apa? Itu konyol. Aku mengawal anak SD, Eve. Bagaimana mungkin aku menyukainya?”

Eva melepaskan pelukan Fandy seketika. “Benarkah?”

Fandy menghela napas panjang. “lain kali aku akan mengajakmu ke sekolahannya. Lagian aku hanya mengawalnya dari jauh, ayahnya tidak ingin pergaulan anak itu terganggu karena kehadiran pengawal.”

“Astaga, sekarang aku bisa bernapas lega.”

“Ya, seharusnya begitu. Eva, entah sudah berapa kali aku bilang kalau sekarang, hanya kamu yang ada di hatiku. Aku tidak mungkin mencampakan kamu, tidak setelah apa yang sudah kita lewati.”

Eva mengangguk lembut. Ia kembali memeluk erat tubuh Fandy. “Sejujurnya aku masih kesal sama kamu karena kamu memilih berhenti dari pekerjaan mengawalku.”

Fandy sedikit tersenyum. “Jika aku jujur, apa kamu janji nggak akan marah sama aku?”

“Jujur tentang apa?”

“Aku membayar seorang teman untuk selalu mengawasimu, jadi aku bisa-”

Eva melepaskan pelukannya seketika sebelum Fandy melanjutkan kalimatnya. “Kamu mata-matain aku? Itu nggak adil!”

“Bukan mata-matain kamu, aku hanya ingin kamu baik-baik saja meski aku nggak ada di samping kamu.”

“Fan, aku sudah merasa tercekik karena ada pengawal Nenek yang menguntit kemanapun aku pergi, dan kamu, tanpa persetujuan dariku membayar seseorang untuk mengawasiku. Kamu nggak ada kerjaan, atau kebanyakan uang, atau apa?” Eva marah, tentu saja. Jika yang mengawasinya atau yang mengawalnya adalah Fandy, ia tidak akan semarah ini, tapi nyatanya….

“Aku hanya ingin tahu semua tentangmu, dan aku ingin kamu selalu dalam jangkauanku.”

“Tapi bukan begitu caranya, Fan. Atau jangan-jangan kamu nggak percaya sama aku?”

Fandy hanya diam. Ya, tentu itu juga termasuk salah satu alasan kenapa ia memperkerjakan seseorang untuk mengawasi Eva. Karena ia takut, jika Eva tergoda dengan pria lain dan menjalin kasih dengan pria tersebut di belakangnya.

“Kenapa nggak jawab? Kamu beneran masih curiga sama aku?”

“Yang terpenting adalah, semakin banyak orang yang menjagamu, maka semakin baik untukmu.”

“Kamu tidak menjagaku, kamu hanya memata-mataiku.”

“Eva, bisakah kita menghentikan pertengkaran konyol ini?”

“Kamu yang mulai. Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus menghentikan aksimu untuk memata-mataiku.”

“Nggak bisa.”

Eva marah, sangat marah. “Oke.” Hanya itu yang dia ucapkan sebelum melangkah menjauhi Fandy menuju ke arah pintu keluar. Tapi secepat kilat Fandy meraih perut Eva, mengangkat tubuh Eva. Ia tidak mempedulikan Eva yang memekik dan berteriak minta di lepaskan, Fandy memanggul tubuh Eva memasuki kamarnya, dan mengunci diri mereka berdua di dalam kamar.

“Apa yang kamu lakukan?!” Seru Eva setengah marah.

Fandy mulai membuka setelan yang ia kenakan. “Jika seperti ini akan memperbaiki hubungan kita, maka aku akan melakukannya.”

“Melakukan apa?” Eva benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan Fandy. Tapi secepat kilat lelaki itu meraih tubuhnya hingga menempel sempurna pada lelaki tersebut. Kemudian tanpa permisi, Fandy menyambar bibir Eva, melumatnya tanpa ampun hingga yang bisa dilakukan Eva hanya membalasnya tanpa perlawanan sedikitpun.

***

Fandy masih melihat tubuh telanjang Eva yang meringkuk memunggunginya. Lengannya masih setia melingkari dengan erat perut Eva, takut jika Eva tiba-tiba saja pergi meninggalkannya. Fandy tidak ingin hal itu terjadi, dan astaga, baru kali ini ia memiliki rasa seposesif ini dengan seorang perempuan.

Fandy mememilih menenggelamkan wajahnya pada rambut Eva yang terurai dengan begitu indah, harum dan kembali membuat Fandy tergoda. Hidungnya bermain-main di sana sesekali menghirup aromanya, aroma yang sudah menyatu dengan tubuhnya.

“Maaf.” Tiba-tiba saja, Fandy inginn mengucapkan kata tersebut. Ya, tentu saja, ia harus meminta maaf pada Eva karena apa yang baru saja ia lakukan. Eva memang tidak menolaknya, tapi tetap saja, tidak seharusnya ia meniduri Eva lagi dan lagi apalagi ketika gadis itu marah terhadapnya.

“Kenapa kamu melakukan ini?”

“Aku hanya ingin kamu tahu, kalau aku hanya menginginkanmu, tidak lebih, dan bukan yang lain.”

“Apa dengan hal ini kamu bisa membuktikan padaku?” tanya Eva lagi.

“Eva, entah berapa kali aku berkata jika aku mencintaimu, tapi aku yakin jika kamu meragukanku. Tolong jangan seperti ini. Aku tidak mau kamu terus-terusan marah padaku hanya karena kesalah pahaman ini.”

“Aku nggak akan marah kalau kamu nggak berbuat terlalu jauh, Fan. Aku nggak akan selingkuh, tapi kamu tetap memata-mataiku.”

Fandy menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan memberhentikan orang suruhanku, dengan syarat, kamu tidak akan lari dari pengawalmu.”

Eva membalikkan diri hingga kini dirinya terbaring miring menghadap ke arah Fandy. “Kamu terlihat tidak nyaman saat aku berkeliaran sendiri, kenapa?”

“Kenapa? Kamu masih perlu bertanya kenapa? Karena aku mencintaimu, aku mengkhawatirkanmu, Eve, tidak cukupkah alasan itu untukmu?”

Eva tersenyum, ia mengulurkan jemarinya mengusap lembut pipi Fandy. “Aku tidak menyangka kalau kamu memiliki sisi yang begitu posesif.”

“Aku hanya melindungi apa yang kumiliki, meski kadang dia begitu keras kepala dan suka salah mengartikan apa yang ada dalam pikiranku.”

“Aku baik-baik saja, dan aku-”

Eva tidak dapat melanjutkan apa yang ia ucapkan ketika tiba-tiba bibir Fandy menyambar bibirnya. “Jangan membantah.”

Setelah kalimatnya tersebut, Fandy kembali menggulingkan tubuh Eva hingga kini berada di bawah tindihannya. Eva terkikik dengan gerakan Fandy, apa lagi kini bibir Fandy yang mulai menggoda lehernya hingga membuat Eva terkikik geli.

“Apa yang kamu lakukan? Hei…”

“Aku tidak bisa berhenti.” Suara serak Fandy membuat Eva membatu, menatap tepat pada mata Fandy, dan Eva mendapati jika lelaki di atasnya itu benar-benar jujur dengan apa yang dia katakan.

Eva mengalungkn lengannya pada leher Fandy, menarik wajah Fandy hingga hampir menempel pada wajahnya. “Maka jangan berhenti.” Eva berbisik dengn nada menggoda, sedangkan Fandy yang memang sudah tergoda, akhirnya tak dapat berbuat banyak selalin kembali menggapai bibir ranum Eva, melumatnya dengan lembut dan penuh gairah kemudian menyatukan diri dan mencari kenikmatan untuk diri mereka berdua.

***

Fandy menghentikan mobilnya saat sudah berada di halaman rumah Eva. Ia akhirnya mengantarkan Eva pulang setelah melakukan satu sesi tambahan bersama dengan Eva di atas ranjangnya tadi. Oh, semuanya terasa melegakan, Eva sudah tidak lagi marah dengannya, dan itu membuat Fandy lega melepaskan Eva malam ini.

“Uum, aku masuk dulu, papa pasti khawatir mencari keberadaanku.”

“Itu karena kamun nakal. Pengawalmu pasti kena tegur karena kamu melarikan diri, aku sudah menelepon papamu tadi.”

Eva mengerutkan keningnya. “Rupanya kamu dekat dengan papa.”

“Tentu saja, kamu pikir aku laki-laki yang suka mengajak kencan anak gadis orang secara diam-diam? Yang benar saja.”

Eva tersenyum mendengar jawaban Fandy. “Uum, akhir minggu nanti, kamun datang, kan?”

“Datang? Datang kemana?” Fandy berpura-pura bingung padahal ia tahu apa yang dimaksud Eva.

“Astaga, masa kamu lupa sih kalau aku ulang tahun dan ngadain pesta besar?” Eva memperlihatkan ekspresi kesal dan merajuknya.

Fandy mencubit gemas pipi Eva. “Aku suka saat melihatmu merajuk, terlihat seperti gadis polos, aku sangat menyukainya.” Kalimat tersebut membuat Eva merona-rona.

“Oh, jadi sekarang kamu pinter merayu juga?”

Fandy tertawa lebar dengan apa yang di katakan Eva. Benar-benar sangat lucu. “Kemarikan tanganmu.” Pinta Fandy.

“Nggak mau.”

“Mana. Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan datang ke pesta ulang tahun kamu nanti.”

Eva mendengus sebal, tapi ia tetap mengulurkan telapak tangannya pada Fandy. Fandy ternyata memberi Eva sesuatu dengan cara menggenggamkan jemari Eva. Setelah Fandy melepaskan tangannya, Eva membuka genggaman tangannya sendiri, ternyata itu sebuah kunci.

“A-apa ini? Kamu, nggak ngado aku rumah, kan?”

Fandy benar-benar tidak dapat menahan tawanya. Eva benar-benar lucu, lucu dengan caranya sendiri.

“Aku nggak sekaya itu, Eve. Astaga.” Fandy masih saja tertawa sedangkan Eva kembali mengerucutkan bibirnya meski pipinya tidak berhenti merah padam karena malu. “Itu kunci apartemenku, saat kamu kangen sama aku, atau ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku, kamu bisa ke apartemenku tanpa menungguku di luar seperti tadi.”

“A-apa? Jadi? Aku bisa leluasa keluar masuk apartemenmu?”

Fandy tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Eva. “Tentu saja, kamu kan kekasihku.” Jawabnya dengan santai.

Dengan spontan Eva memeluk tubuh Fandy, ia senang, amat sangat senang. Dengan sikap kakunya, lelaki ini ternyata menunjukkan sikap perhatiannya pada Eva meski Eva sering salah paham dengan hal tersebut.

“Sering-seringlah datang ke apartemenku, aku suka saat mendapati wangimu tertinggal disana.” Bisik Fandy dengan suara serak. Meski itu adalah kalimat sederhana tanpa makna, tapi Eva berbunga-bunga mendengarnya. Oh, Eva masih tidak menyangka jika Fandy juga menginginkannya sebesar ia menginginkan lelaki tersebut.

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “Evelyn – Chapter 16 (Aku tidak bisa berhenti)

  1. (“Tentu saja, kamu pikir aku laki-laki yang suka mengajak kencan anak gadis orang secara diam-diam? Yang benar saja.”)
    Suka bnget ma kata” fandy , bner” mnggambar kan type laki” sejati , pertahankan bang .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s