romantis

Lovely Wife – Chapter 10 (Sakit dan nikmat)

Lovely Wife

 

“Uum, aku-” Oh, entah kenapa ia benar-benar gugup, dan takut.

“Woow, bagus sekali. Bahkan di hari pernikahanmu sendiri, kamu secara terang-terangan menghampiri kekasihmu tanpa mempedulikan perasaan suamimu.”

“Kak, aku hanya-”

Dirga mengangkat sebelah tangannya sembari berkata “Cukup! Akan kita bahas nanti, di atas ranjang.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Dirga pergi, meninggalkan Nadine yang sudah gemetar karena perkataan lelaki tersebut.

Ia akan mendapat hukuman. Ia pasti mendapatkan hukuman itu lagi…

 

****

 

Chapter 10

-Sakit dan Nikmat-

 

Nadine menunggu di dalam kamar dengan gelisah. Baju pengantinnya sudah ia tanggalkan, dan hanya menyisakan dirinya yang sudah mengenakan piyama tidurnya saja. Kini, dirinya sedang duduk di pinggiran ranjang, menunggu kedatangan Dirga yang entah kenapa terasa begitu lama. Dirga sendiri kini mungkin masih berada di ruang kerja ayahnya, karena setelah kejadian tadi, Dirga segera diminta untuk keruang karja sang ayah.

Tadi, pesta pernikahan yang awalnya berjalan dengan lancar, ditutup dengan kejadian tak mengenakkan. Kejadian dimana sang mempelai pria malah adu hantam dengan saudaranya sendiri, siapa lagi jika bukan Darren, yang tak lain adalah suami Karina. Oh, Nadine bahkan tidak percaya jika hal itu terjadi. Meski kejadian itu di tempat yang cukup sepi, tapi tetap saja ada satu dua orang tamu yang melihatnya. Belum lagi tampang Dirga yang babak belur benar-benar tidak pantas di sebut sebagai pengantin saat itu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat keduanya baku hantam seperti itu? Apa itu karena dirinya?

Mengingat itu membuat Nadine kembali bergidik. Bagaimana jika Dirga melimpahkan semua kesalahan itu padanya? Melimpahkan semua amarah lelaki itu padanya? Astaga, apa yang harus ia lakukan?

Kabur? Yang benar saja. Jangan menjadi pengecut, Nadine! Nadine berseru dalam hati.

Ketika Nadine sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dengan begitu keras. Ya, bisa ditebak, siapa lagi yang datang jika bukan Dirga, suaminya. Nadine berdiri seketika menyambut kedatangan Dirga, meski ketika melihat btampang lelaki itu, ingin rasanya Nadine menjauh karena ekspresi keras yang ditampilkan Dirga.

“Kak.” Hanya itu yang bisa dikatakan Nadine, ia takut, tentu saja. Nyalinya menciut saat tiba-tiba ia melihat Dirga membuka tuxedo yang dikenakannya dengan begitu kasar, membantingnya dengan sesekali mengumpat.

Dirga sedang Murka, Nadine tahu itu.

“Bajingan si Darren!” Dirga mengumpat dengan kasar. Ia kesal, amat sangat kesal. Tadi, ia bermaksud memperingatkan Darren agar tidak menyakiti Karina, tapi dengan begitu kurang ajarnya, bocah tengik itu malah memukulnya, kemudian mereka baku hantam, hingga tak sengaja Dirga melayangkan pukulannya pada Karina, adiknya sendiri yang tengah memisah mereka. Kenapa harus Karina yang ia pukul?

Belum lagi tadi, ia harus menghapi kemurkaan ayah dan juga saudara kembarnya saat setelah pesta berakhir. Sialan! Ini semua karena Darren, dan juga Nadine tentunya. Bangsat!

“A –Apa yang terjadi?” Nadine mencoba memberanikan diri bertanya pada Dirga.

Dirga membalikkan tubhnya seketika menghadap ke arah Nadine. Tampang Dirga benar-benar tampak mengerikan, Nadine bahkan dengan spontan mundur satu langkah karena kengerian yang ia rasakan saat menatap ke arah Dirga.

“Apa yang terjadi? Kamu nggak lihat mukaku babak belur gini? Ini karena pacar berengsekmu itu! Dia bahkan membuatku memukul Karina.”

“Apa?” Nadine benar-benar tercengang dengan apa yang dikatakan Dirga. Memukul Karina? Kenapa?

Ya, Nadine memang tidak tahu apapun, tentang kejadian tadi, yang ia tahu hanya ketika Dirga sudah kembali bersama dengan Eva yang sama-sama babak belur. Sedangkan Karina dan Darren sudah tidak ada di tempat kejadian.

“Dan semua itu, awal mulanya adalah karena kamu.” Perkataan itu diucapkan dengan begitu dingin dan menusuk hingga membuat Nadine seakan menggigil. Dengan spontan ia kembali melangkah mundur menjauhi Dirga, tapi secepat kilat Dirga meraih pergelangan tangannya. “Nikmatilah hukumanmu.” Dan setelah pernyataannya yang penuh dengan ancaman tersebutr, Dirga lantas menarik tubuh Nadine hingga membentur tubuh tegapnya.

Nadine sempat meronta, tapi kemudian Dirga segera mencengkeram kedua pipinya dengan sebelah tangannya kemudian Dirga berkata dengan nada mengancam di sana.

“Buka bajumu.” Itu bukan seruan keras, tapi nadanya penuh dengan pelecehan, dan itu benar-benar membuat Nadine sakit hati. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, ia selalu dipuja, dicintai oleh kekasih-kekasihnya dulu, tapi kenapa dengan suaminya begini?

Mata Nadine berkaca-kaca seketika, ia tidak suka diperlakukan seperti ini apalagi di hari pernikahannya. Tapi jemari Nadine bergerak membuka kancing-kancing kemejanya sendiri, menuruti apa mau Dirga untuk segera melucuti pakaian yang ia kenakan.

Nadine berdiri polos hanya dengan pakaian dalamnya saja. Dirga melirik sekilas ke arah tubuhnya dengan lirikan yang penuh pelecehan, kemudian ia mendengus. “Bagus sekali, sekarang. Puaskan aku.”

Setelah kalimatnya tersebut, Dirga menyambar bibir Nadine, melumatnya dengan kasar, sedangkan tubuhnya sudah mendorong tubuh Nadine hingga punggung wanita itu membentur dinding dan terhimpit oleh tubuh Dirga.

Dirga melumat dengan panas dan menggoda, kasar dan menggairahkan. Perpaduan tersebut menyulut gairah Nadine seketika, meski begitu, perlakuan Dirga tidak mengurangi sakit di hatri Nadine.

Jemari Dirga turun, mendarat di leher jenjang Nadine, mencengkeram erat disana, hingga membuat Nadine kesulitan bernapas. Dirga seakan mampu dengan mudah meremukkan leher Nadine dengan cengkeraman tangannya, tapi ia menahan untuk tidak meremukkannya. Nadine masih sangat berharga untuknya, untuk memuaskannya.

Secepat kilat Dirga melepaskan pakaian yang masih tersisa di tubuh Nadine, membuat istrinya itu telanjang bulat tepat di hadapannya, sdagkan dirinya masih berpakaian lengkap. Dirga kembali menatap Nadine dengan mata merendahkan, entahlah, ia sangat marah pada Nadine, tapi apa yang membuatnya marah?

Dirga  menepis semua keraguannya, dengan cepat ia menurunkan celana yang ia kenakan, lalu tanpa banyak bicara lagi, ia mengangkat sebelah paha Nadine, kemudian menenggelamkan diri pada balutan lembut tubuh Nadine.

Sempat terdengar erangan panjang Dirga saat melakukan penyatuan dengan begitu erotis. Ia begitu menikmati penyatuan tersebut, kemudian matanya menatap lurus pada mata Nadine, tampak wanita itu juga menikmatinya, namun ada sirat sendu dalam kelopak matanya. Kenapa?

Secara implusif, Dirga membelai pipi Nadine dengan ibu jarinya, lembut, dan snagat berbeda dengan sikap kasar yang ia lakukan tadi.

“Jangan pernah membuatku marah.” Desis Dirga menahan erangannya. Ia sangat marah terhadap Nadine, tapi ia bingung, kenapa dirinya begitu marah?

Nadine menatap Dirga dengan matanya yang  masih berkaca-kaca. “Aku tidak pernah berniat membuatmu marah.”

“Tapi kamu membuatku marah malam ini.” Dirga kembali mendesis.

“Maka hukumlah aku semaumu.” Setelah kalimat lembutnya tersebut, Dirga kembali menyambar bibir Nadine, melumatnya dengan panas, lalu bergerak menghujam sesuka hatinya tanpa menghiraukan rasa sakit yang dirasakan oleh wanita dihadapannya.

Dirga mencumbu, menggoda, sesekali mengerang dengan napas yang mulai terputus-putus karena gairah. Pun dengan Nadine yang meski merasakan sakit pada perasaannya, namun tubuhnya tak menampik rasa nikmat yang diberikan oleh Dirga. Perpaduan rasa sakit dan nikmat melebur menjadi satu, membawa Nadine terbang membumbung tinggi kemudian jatuh terhempas di atas tanah. Hanya Dirga yang mampu membuatnya seperti ini. Hanya Dirga yang mampu membuatnya segila ini.

Oh, sebenarnya apa yang ia rasakan terhadap suaminya tersebut? Benarkah ini yang namanya cinta?

Tidak!

Nadine tak dapat berperang dengan batinnya sendiri saat ritme permainan Dirga semakin cepat. Menghentak semakin keras hingga membuat Nadine kembali melambung ke awan. Dirga membimbingnya pada puncak kenikmatan ketika lelaki itu sibuk mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri.

Nadine mengerang panjang, dan kemudian, tak lama Dirga menyusul erangannya. Keduanya terengah, terseret oleh pusaran gairah yang terasa begitu menyenangkan. Dirga bahkan tk berhenti mencumbu Nadine, menggigitnya dengan gigitan-gigitan lembut yang akan meninggalkan tanda jika Nadine adalah miliknya.

Ketika keduanya kembali tersadar dari orgasme pertama mereka, Dirga menarik diri lalu menatap ke arah Nadine yang tambak lunglai karena ulahnya.

“Kamu terlihat lelah.” Itu bukan pertanyaan. “Tapi maaf, kita belum selesai.”

Nadine mengernyit mendengar kalimat terakhir Dirga. Lalu ia melihat Dirga yang berjalan menjauhinya. Lelaki itu melepaskan kemeja yang sejak tadi masih di kenakannya saat melakukan seks dengannya. Dirga berjalan dengan tegap, menuju ke lemari pakaian mereka, lelaki itu membungkukkan tubuhnya, membuka laci paling bawah lemari tersebut dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

Sebuah dasi. Nadine tidak tahu apa yang akan dilakukan Dirga padanya dengan dasi tersebut. Dirga lalu berjalan menuju ke arahnya dengan tatapan mengintimidasi. Langkahnya pelan tapi pasti, mengancam, membuat Nadine menciut dengan tatapan dan juga aurah mengerikan yang ditampilkan Dirga padanya.

“Hukumanmu belum berakhir.”

“Aku…” Nadinen ludah dengan susah payah. “Aku mau kamu apain?” tanyanya dengan polos.

“Berikan kedua tanganmu padaku.” Perintah itu terdengar tak dapat dibantah. Dan Nadine menurutinya saja tanpa membantah sedikitpun.

Diulurkannya kedua tangannya di hadapan Dirga. Sedangkan Dirga segera menyambutnya, lalu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Dirga mulai mengikat kedua pergelangan tangan Nadine dengan dasinya.

“Aaahhh.” Nadine mengerang saat Dirga mengikatnya dengan begitu erat hingga terasa pedih karena kulit Nadine yang tampak lecet. Tapi Dirga tak menghentikan aksinya, ia hanya melirik sekilas ke arah Nadine lalu melanjutkan aksinya tanpa menghiraukan Nadine yang tampak kesakitan.

“Ikut aku.” Dirga menarik dasinya yang di ikatkan pada pergelangan tangan Nadine, lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi, meski sedikit bingung, Nadine tetap saja menurut apa mau suaminya tersebut.

Keduanya berjalan dengan tubuh yang masih telanjang dengan keringat sisa-sisa percintaan mereka tadi. Nadine sedikit malu, tapi apa yang membuatnya malu? Toh Dirga juga tidak tampak menikmati pemandangan dari tubuhnya. Lelaki itu hanya asik dengan kepuasannya sendiri, dan Nadine harus tahu diri, jika kini dirinya hanya sebagai alat pemuas lelaki tersebut.

Sampai di dalam kamar mandi, Dirga segera menarik Nadine untuk berdiri tepat dibawah pancuran. Dengan sesenaknya dia menarik sisa ikatan dasi yang berada di pergelangan tangan Nadine kemudian mengikatnya di tiang pancuran kamar mandinya. Tak lupa Dirga menyalakan pancuran tersebut hingga kini tubuh keduanya basah karena air yang mengalir deras dari pancuran.

Nadine berdiri dengan tangan terikat diatas, ia bernapas dengan sesekali tersendat-sendat karena derasnya air dari pancuran. Dirga melangkah mendekat, kembali mencengkeram rahang Nadine lalu mendongakkan ke arahnya.

“Katakan sekali lagi apa yang kamu katakan pada Darren tadi.”

Nadine mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang dikatakan Dirga.

“Katakan, Nadine.” Dirga menggeram setengah kesal.

“A –aku nggak ngerti.”

“Katakan kamu masih mencintainya.”

Mata Nadine membulat seketika. Ia tidak menyangka jika Dirga sempat mendengar apa yang ia katakan pada Darren tadi. Dan Nadine tidak bisa mengulanginya saat ini. Bukan karena ia takut dengan Dirga, tapi karena ia memang tak ingin mengatakannya. Perasaannya pada Darren kini terlihat abu-abu, ia bahkan tidak yakin jika masih mencintai lelaki itu. Ucapanya tadi mungkin hanya sebuah spontanitas agar Darren mengerti keadaan mereka.

Dan ketika kini Dirga menuntutnya untuk mengucapkannya kembali, Nadine tentu tidak akan mengucapkannya. Tapi, dalam hati Nadine tergeitik satu pertanyaan, kenapa Dirga membahas tentang ini? Apa Dirga tidak ingin melihat dirinya mencintai pria lain?

Oh sadarlah Nadine. Dirga hanya tidak ingin kamu masih mencintai suami adiknya.

Dengan tegas Nadine menggelengkan kepalanya.

“Apa kamu ingin aku menyadarkanmu bahwa Darren sudah menjadi milik Karina?”

Nadine tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Apa kamu juga ingin aku menyadarkanmu bahwa kamu sudah menjadi milikku?”  setelah kalimatnya tersebut, Dirga segera mengangkat sebelh kaki Nadine kemudian menenggelamkan diri sedalam-dalamnya pada pusat diri Nadine. Nadine mengerang karena penyatuan yang terjadi dengan begitu tiba-tiba.

“Sadarlah Nadine. Kamu hanya milikku, dan aku tidak ingin melihat milikku mencintai orang lain.” Setelah kalimatnya yang begitu posesif, Dirga kembali menyambar bibir Nadine, melumatnya dengan panas, sedangkan yang di bawah sana sudah bergerak menghujam, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri.

Jemari Dirga naik ke atas, memeriksa kembali ikatan tangan Nadine. Ia tidak ingin Nadine terlepas sebelum hukumannya selesai. Lalu jemarinya kembali turun, mencengkeram rahang Nadine, sedangkan bibirnya mencumbu dengan kasar. Menggigit dengan keras hingg sesekali Nadine mengeluarkan erangannya.

Oh, ini benar-benar seks, bukan percintaan yang lembut, yang biasanya mampu membuat Nadine terbang ke awan hingga ketika Nadine sadar, Nadine akan mengagumi sosok Dirga. Ini bukan hal yang seperti itu. Nadine memang masih dapat merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Dirga, tapi kenikmatan itu bercampur aduk menjadi satu dengan rasa sakit di hatinya. Sakit karena dilecehkan. Bagaimana bisa Dirga tega melakukan semua ini terhadapnya?

***

Esoknya, Nadine terbangun lebih siang dari sebelumnya. Saat ia bangun, ia sudah sendiri di atas rajangnya, tak ada Dirga di sana, mungkin lelaki itu sudah pergi entah kemana. Nadine bangkit, dan merasakan tubuhnya seakan remuk karena ulah Dirga semalaman.

Entah apa yang membuat lelaki itu begitu bergairah hingga menyentuhnya lagi dan lagi. Nadine bahkan bersyukur karena tadi malam ia tidak pingsan ketika Dirga seakan tidak ingin berhenti menyentuhnya.

Kaki Nadine berjalan tertatih, menuju ke arah kamar mandi. Tubuhnya masih polos, hanya berbalutkan selimut tebal mereka. Kemudian ia membukanya saat sudah sampai di dalam kamar mandi.

Nadine berdiri di depan sebuah cermin, dan menadapti tubuhnya yang penuh dengan bekas-bekas kemerahan bahkan beberapa ada yang sudah membiru. Dirga benar-benar kelewatan, lelaki itu meninggalkan banyak sekali jejak kemerahan pada tubuhnya, seakan ingin mengklaim jika dirinya hanya milik lelaki tersebut.

Kemudian mata Nadine mulai berkaca-kaca. Entahlah, terlepas dari ia senang karena Dirga masih bergairah untuknya, ia sedih karena lelaki itu memperlakukannya dengan begitu kasar. Padahal Nadine tidak tahu dimana letak kesalahannya. Apa karena ia masih mencintai Darren suami Karina? Jadi semua ini karena rasa sayang Dirga pada Karina?

Nadine memejamkan maa frustasi. Entahlah, ia merasa jika dirinya benar-benar menyedihkan. Andai saja kemarahan Dirga karena lelaki itu cemburu pada Darren, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini.

Oh Nadine, apa yang sudah kamu pikirkan? Dirga tidak mungkin seperti itu. Dirga tidak mungkin memiliki rasa cemburu berlebih seperti itu!

Mengenyahkan semua pikirannya, Nadine memilih kembali fokus ppada tubuhnya. Ia harus segera mandi, lalu turun dan menyapa mertuanya seperti tidak ada apapun yang terjadi antara ia dan Dirga tadi malam. Bagaimanapun juga, ini sudah menjadi masalah rumah tangganya bersama dengan Dirga, dan ia tidak ingin mengadu atau memberi tahu siapapun tentang sikap kasar yang dilakukan Dirga padanya.

***

Setelah mandi, Nadine segera turun ke dapur. Ia mendapati mama Dirga sedang membuat sesuatu di dapur. Nadine melirik ke arah jam di dinding, rupanya waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Astaga, ini adalah hari pertama ia bangun kesiangan seperti saat ini.

Dengan wajah memerah, Nadine melangkah mendekat ke arah mama Dirga.

“Siang, Ma.” Sapa Nadine dengan malu-malu.

“Siang sayang. Oh, kamu sudah bangun rupanya. Dirga bilang kamu nggak enak badan, kok sekarang sudah turun.”

Nadine sempat menghela napas lega karena ternyata Dirga sempat memberi alasan masuk akal untuk keluarganya.

“Cuma sedikit pegal, Ma.”

“Iya, mama ngerti. Berdiri seharian di depan tamu undangan dengan memakai baju berat seperti kamu kemarin benar-benar melelahkan. Duduk saja sana, kamu mau mama buati  makan siang?”

“Jangan, Ma. Nanti aku buat sendiri.” Jawab Nadine cepat. Ia tentu tidak ingin merepotkan mama Dirga, apalagi ketika dirinya baru bangun tidur seperti saat ini.

Nadine melirik pada apa yang di lakukan Mama Dirga, tampak wanita paruh baya itu sedang sibuk membuat minuman, sepertinya ada tamu.

“Rumahnya kok sudah sepi, Ma? Dan mama lagi buat apa? Ada tamu?”

“Davit, istri dan anak-anaknya sudah kembali ke bandung tadi pagi-pagi sekali. Ini mama lagi buat kopi untuk Darren, dia kesini.”

Darren kesini? Bagaimana keadaanya? Bagaimana keadaan Karina setelah dipukul Dirga tadi malam?

“Uuum, Ma. Apa boleh Nadine saja yang ngantar minumannya?”

“Oh, tentu sayang, mereka ada di ruang kerja Papa. Dirga juga ada di sana.”

Nadine mengangguk dan segera mengambil nampan berisi kopi dan juga biskuit yang disiapkan mama Dirga. Setidaknya, ia akan melihat keadaan Darren dan ia juga bisa memastikan keadaan Karina lewat Darren. Ya, bagaimanapun juga Nadine sangat perhatian pada keduanya, rasa sayangnya pada Karina tentu masih sebesar dulu, Karina adalah sahabatnya sejak kecil, meski wanita itu pernah menyakiti hatinya, tapi itu tak lantas membuat Nadine membenci Karina selamanya.

Nadine berjalan menuju ruang kerja ayah mertuanya, tanpa mengetuknya lebih dulu, Nadine membuka pintu ruang kerja tersebut. Tapi baru saja ia membukanya sedikit, tubuhnya menegang saat mendengar percakapan di dalam.

“Bahagia? Om tidak perlu bersandiwara, dia menikahi Nadine hanya untuk menjadikan Nadine sebagai tawanannya, sebagai jaminan supaya saya tidak menyakiti Karina, bukan begitu?”

“Benar begitu, Dirga?”

“Pa, Darren harus diberi pelajaran. Dia tidak akan berkutik kalau Nadine berada dalam genggaman tanganku, jadi aku berusaha menikahi Nadine supaya-” Dirga tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena sebuah pukulan dari ayahnya melayang begitu saja pada wajahnya.

Tapi Nadine tidak perlu mendengar lebih, ia sudah cukup mendengar semuanya. Jadi, semua ini hanya rencana Dirga untuk melindungi Karina dari Darren? Pantas saja saat itu Dirga berkata jika lelaki itu akan menghukumnya jika ia tanpa sengaja menyakiti Karina. Jadi semua ini, pernikahannya ini hanya untuk melindungi Karina? Kenapa Dirga tega melakukan hal itu? Kenapa Dirga bersedia mengikat diri hanya untuk kebahagiaan adiknya?

Mengikat diri?

Sadarlah Nadine. Hanya kau yang terikat dalam pernikahan ini. Dia masih bebas, sebebas yang ia inginkan. Sedangkan dirimu? Lihatlah, kau begitu menyedihkan karena berharap jika pernikahanmu tampak begitu senpurna. Kau sudah membohongi dirimu sendiri Nadine!

Nadine berseru dalam hati, mencemooh dirinya sendiri. Kemudian kakinya tak kuasa untuk melanjutkaan langkahnya. Nadine memilih berbalik dan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Hatinya kembali tersakiti, perasaannya serasa diacak-acak. Tapi kenapa ia merasakan semua perasaan ini? Bukankah pernikahannya dengan Dirga tidak didasari oleh cinta? Lalu kenapa ia merasa tersakiti?

Satu hal yang pasti diyakini oleh Nadine saat ini, jika kini dirinya sudah enar-benar jatuh pada pesona Dirga Prasetya. Lelaki itu sudah menarik hatinya dan enggan mengembalikannya. Bagaimana mungkin ia jatuh tenggelam dalam permainan yang Dirga ciptakan?

Nadine menjauh dengan sesekali mengusap dadanya. Rasanya sesak, sesak dan sakit. Beginikah perasaan menyukai seseorang tanpa ada balasannya?

-TBC-

Advertisements

3 thoughts on “Lovely Wife – Chapter 10 (Sakit dan nikmat)

  1. Prasaan q campur aduk , dirga u ko brengsek bnget yaa tapi q tetap suka , nadine yng sabar yaa dirga pasti akan insaf ko tenang az …..
    kbnyakan nnton flim erotis jdi na dirga ikut”an kek gitu , pke acara ngikat nadine sgala , nyesel baru tau rasa .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s