romantis

Lovely Wife – Chapter 7 (Pengantin Baru)

Lovely Wife

 

Nadine menggigit bibir bawahnya. Entah bagaimana caranya membuktikan pada Dirga kalau kini hubungannya dengan Darren memang sudah selesai kemarin. Perasaannya memang masih ada untuk Darren, tapi tak sebesar dulu. Nadine juga tidak lagi berharap untuk bisa bersatu kembali dengan Darren, sungguh, ia tak lagi mengharapkan hal itu, tapi bagaimana cara dirinya meyakinkan Dirga tentang hal itu?

“Kamu menerima laranganku?”

Nadine tidak menjawab, tapi dia mengangguk dengan patuh. Dirga tersenyum, dengan lembut ia mengusap pipi Nadine, jemarinya lalu mengusap bibir bawah Nadine yang tampak menggoda untuknya. Warnanya merah seperti ceri, padahal Dirga yakin jika Nadine tidak sedang mengenakan lipstik saat ini.

“Bibirmu benar-benar menggodaku.” ucapnya masih dengan mengusap lembut bibir Nadine, lalu sedikit demi sedikit Dirga mendekatkan wajahnya dan mulai menempelkan bibirnya pada bibir ranum milik istrinya tersebut. Dirga mulai mencumbunya dengan lembut, sedangkan jemarinya sudah merayap ke arah tengkuk Nadine, menahannya supaya wanita itu tidak melepaskan tautan bibir mereka berdua.

Dan yang bisa di lakukan Nadine saat ini hanya pasrah, membalas apa yang sudah di lakukan Dirga padanya, mencari kenikmatan yang sejak dua hari terakhir tidak di berikan Dirga padanya. Akahkah ia mendapatkannya? Apakah kali ini Dirga hanya sekedar melakukan seks? Atau kembali bercinta padanya seperti malam pengantinya saat itu?

***

Chapter 7

-Pengantin baru-

 

Suara lumatan menggema di ruangan mungil tersebut, Dirga begitu menikmati bibir Nadine yang ternyata juga menyambutnya, lidahnya ikut menari dengan Dirga hingga membuat Dirga seakan tak dapat menahan dirinya lagi.

Dirga menarik tubuh Nadine supaya wanita itu ikut kaik ke atas ranjang, ketika Nadine sudah berada di atas tubuhnya, dengan sigap Dirga membalik posisi mereka hingga Nadine berada di bawahnya. Suara berisik  dari ranjang Nadine sempat menghentikan cumbuan keduanya.

“Ranjangmu, tidak akan roboh saat kita bermain sebentar di sini, kan?”

Nadine tersenyum mendengar pertanyaan Dirga yang entah kenapa terdengar lucu di telinganya. Dia tidak menjawab tapi hanya menggelengkan kepalanya pelan. Oh, Dirga benar-benar sudah kembali menjadi lembut seperti saat itu, saat malam pengantin mereka.

“Baiklah.” Dirga kembali mencumbu bibir Nadine sedangkan sebelah tangannya sudah masuk ke dalam pakaian yang di kenakan Nadine. Mencari-cari apa yang sudah menjadi miliknya, sedangkan lidahnya tak berhenti menari dengan Nadine.

Ketika keduanya tengah asyik mencumbu mesra, suara ketukan pintu membuat Dirga menghentikan aksinya.

“Nadine, makan malam sudah siap, Nak.”

Nadine dan Dirga saling pandang, mereka berdua tidak menyangka jika Ibu Nadine akan mengetuk pintu dan mengajak makan malam bersama.

Sial! Dirga mengumpat dalam hati, lagi pula ini jam berapa? Kenapa sudah tiba waktunya makan malam?

“Uum, sebentar, Bu.”

“Ayah sudah menunggu.”

Oh, itu kode jika mereka di minta segera keluar. “Baik, Bu.” Lalu tak ada suara lagi. Mungkin Ibunya sudah meninggalkan kamarnya.

“Jadi, kita makan malam?” tanya Dirga dengan suara yang sudah sedikit tertahan.

“Um, ya, sepertinya begitu.”

“Aku bisa melakukannya kurang dari dua menit.” tawar Dirga.

Nadine tersenyum. “Kita harus keluar, sekarang.”

Dirga menghela napas panjang. Sial! Apa yang terjadi dengannya? Bahkan menahan diri untuk tidak menyentuh Nadine sebentar saja ia tak sanggup. Apa yang terjadi dengnnya?

Dirga bangkit seketika, “Oke, kita selesaikan makan malam secepatnya.”

Nadine sempat ternganga dengan apa yang di katakan Dirga. Jadi lelaki itu benar-benar ingin bercinta dengannya?

***

Dirga sama sekali tidak canggung, meski ini pertama kalinya ia makan bersama dengan keluarga Nadine yang kini sudah berstatus sebagai mertuanya. Ia makan dengan lahap tanpa sungkan sedikitpun, sedangkan kedua orang tua Nadine hanya sesekali menatapnya dengan tatapan aneh masing-masing.

“Nak Dirga mau tambah?” tawar ibu Nadine.

“Boleh, Bu. Ini enak.” Dirga menjawab sambil menyodorkan piringnya.

“Biar aku saja.” Nadine meraih piring Dirga dan menambah nasi untuk suaminya. “Kak Dirga suka makanan rumahan?”

Dirga mengangguk dengan pasti. “Mama selalu nyempetin masak buat aku, dan tiga hari ini, aku nggak makan masakan rumah sama sekali.”

“Wah, sayang sekali, padahal Nadine nggak bisa masak.” Ibu Nadine yang berkata.

Dirga menatap ke arah Nadine, wanita itu tidak membantah, hanya menunduk dan tersenyum malu, pipinya memerah, dan itu membuat jantung Dirga berdebar. Dirga menelan ludahnya dengan susah payah.

Apa yang terjadi denganmu, sialan! Umpatnya pada dirinya sendiri.

“Mama akan mengajarimu masak nanti.” Meski di ucapkan dengan nada sedatar mungkin, tapi itu mampu membuat Nadine mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Dirga. Lelaki itu juga sedang menatap ke arahnya dengan ekspresi yang sulit di artikan oleh Nadine.

Secepat kilat Nadine kembali menunduk, ia tidak suka dengan tatapan itu, tatapan yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang, membuat perutnya terasa melilit, serta membuat pipinya tak berhenti memanas. Oh, bagaimana mungkin Dirga dapat dengan mudah mempengaruhinya seperti itu?

***

Nadine masih terisak saat masuk ke dalam mobil yang menjemputnya, sedangkan Dirga tidak tahu harus berbuat apa di sebelahnya. Ia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Meski ia sering sekali menyakiti wanita, tapi Dirga sangat malas melihat wanita menangis di hadapannya.

Tadi, setelah makan malam, mereka berdua segera berpamitan pergi dari rumah Nadine. Nadine tak dapat menahan tangisnya saat sang ibu memeluk tubuhnya lalu mengucapkan nasihat-nasihat supaya menjadi istri yang baik kedepannya. Pun dengan ayahnya yang juga sempat memeluknya erat-erat. Ini pertama kalinya Nadine meninggalkan kedua orang tuanya, meski rumah Dirga masih satu kota, tapi tetap saja, rasanya sesak untuk Nadine.

“Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya.” ucapan Dirga yang tiba-tiba itu membuat Nadine mengangkat wajahnya menatap ke arah Dirga. “Aku paling muak melihat perempuan menangis.” Lanjutnya lagi.

“Maaf.” Hanya itu yang dapat di ucapkan Nadine

“Nggak perlu, aku hanya bingung bagaimana caranya menenangkan orang yang sedang menangis.”

“Aku, aku nggak pernah meninggalkan mereka sebelumnya, rasanya sangat aneh, dadaku sesak, air mataku jatuh dengan sendirinya.”

“Kamu bisa mengunjungi mereka semaumu, aku tidak melarang.”

Nadine lagi-lagi menatap ke arah Dirga. Lelaki itu masih menampakkan ekspresi datarnya, tapi entah kenapa perkataannya mampu menyentuh hati Nadine. “Terimakasih.” Akhirnya Nadine mengucapkan kata tersebut.

“Untuk apa?” Dirga bertanya sambil menatap bingung ke arah Nadine.

“Untuk semuanya.” Jawab Nadine dengan tersenyum lembut. Pipinya kembali memanas hingga membuat Nadine memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Oh, ia tidak boleh terus-terusan salah tingkah di hadapan Dirga. Tapi tiba-tiba Dirga meraih dagunya untuk menghadap ke arah lelaki tersebut dan tanpa aba-aba, Dirga mengecup singkat bibir Nadine.

“Sama-sama.” jawabnya singkat.

Jangan di tanya bagaimana wajah Nadine saat ini. Yang bisa di lakukan Nadine hanya kembali  memalingkan wajahnya ke arah lain, agar Dirga tidak melihat bagaimana merah padamnya wajahnya saat ini.

Sisa perjalanan menuju ke rumah Dirga berakhir dengan saling diam. Dirga tidak berbicara lagi karena sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Nadine sendiri memilih mengatur debaran jantungnya yang semakin menggila karena sikap yang di tunjukkan Dirga padanya.

***

Sampai di rumah Dirga, Nadine di sambut dengan antusias oleh Mama Dirga. Mertuanya itu bahkan sudah memasak banyak sekali makanan untuk Nadine, tapi sayang, Nadine memang sudah makan malam di rumahnya sendiri tadi bersama dengan Dirga dan kedua orang tuanya.

“Tidak apa-apa tante, nanti Nadine akan makan lagi masakan tante.” Nadine mencoba menenangkan mertuanya yang sudah menampilkan ekspresi kecewanya.

“Tante? Panggil Mama, Sayang.”

Nadine tersenyum lalu melirik sebentar ke arah Dirga. “Ya, Ma.”

“Baik Ma. Kami akan ke atas dulu.” Dirga sudah tampak tidak sabar untuk segera menuju ke kamarnya.

“Oh ya, kalian pasti ingin segera istirahat. Baiklah.” Tanpa di duga Mama Dirga tiba-tiba memeluk erat tubuh Nadine. “Mama seneng kamu menjadi menantu di rumah ini. Selamat datang.” Sambut Mama Dirga dengan ramah hingga membuat Nadine berkaca-kaca karena terharu. Ia memang baru meninggalkan keluarganya, tapi baru satu menit di sini, membuat Nadine merasa memiliki keluarga baru. Ia bahagia, tentu saja.

Setelah meninggalkan Mama Dirga di ruang tengah, Nadine mengikuti Dirga menaiki tangga. Sampai di lantai dua, mereka terus saja berjalan hingga menuju pintu paling ujung. Dirga berhenti di depan pintu tersebut, lalu membukanya.

“Ini kamarku, kamar kita.” Ucapnya penuh arti.

Nadine masuk dan ternganga mendapati isinya. Ruangan itu sangat luas. Amat sangat luas. Mungkin seluas seluruh isi rumah orang tuanya, dan yang membuat Nadine tak juga menutup bibirnya adalah isi dalam ruangan tersebut yang benar-benar berantakan.

Dirga ikut masuk lalu mengunci pintu kamarnya, dan tanpa di duga, ia memeluk tubuh Nadine dari belakang. “Selamat datang di kamar kita.”

Nadine merinding mendengar kalimat Dirga yang diucapkan tepat di tengkuk leher bagian belakangnya.

“Uum, sudah berapa hari kamar ini tidak di rapikan?”

“Dua minggu.” Dirga menjawab dengan pasti.

“Apa?”

Dirga tertawa lebar. Ia berjalan menuju ke arah ranjang, membuka pakaiannya sendiri kemudian membuangnya sembarangan lalu melemparkan tubuhnya di atas ranjang yang ekstra besar itu.

“Kamar ini sudah seperti rumah pribadiku sendiri. Jika Davit memilih membeli apartemen pribadi, maka aku memilih menyatukan beberapa ruangan di dalam rumah ini untuk menjadi apartemen pribadiku. Aku tidak ingin jauh dari orang tua.” Meski di ucapkan dengan penuh kearoganan, tapi Nadine menghangat mendengarnya. Dirga memang sayang dengan keluarganya.

Nadine berjalan menyusuri seluruh penjuru ruangan. Kamar Dirga memang sangat lengkap dan bisa di sebut sebagai rumah pribadi. Di sana terdapat bar mini dengan sebuah lemari yang penuh dengan anggur. Apa Dirga meminum semua itu? ada juga beberapa alat kebugaran yang berada di ujung ruangan. Sekarang Nadine tahu kenapa Dirga bisa memiliki bentuk tubuh ideal seperti yang kemarin ia lihat. Lalu ada satu set drumb dengan beberapa gitar, apa Dirga suka bermain musik? Dan terakhir, di ujung ruangan satunya terdapat sebuah lemari besar yang menyatu dengan dinding. Dalam lemari tersebut terdapat sebuah Tv besar dengan layar datarnya. Di depannya terdapat sebuah karpet  tebal dengan banyak sekali kepingan DVD serta majalah-majalah berserahkan di sana.

Nadine menghampirinya, berjongkok di sana dan mencoba merapikan kepingan DVD dan juga majalah-majalah tersebut, tapi saat melihat lebih dekat, ia berteriak.

“Astaga..”

Dirga terduduk seketika menatap ke arah Nadine. “Ada apa?” tanyanya sedikit khawatir.

“Kak Dirga ngapain nonton film kayak gini?”

Nadine benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin Dirga tanpa malu membiarkan koleksi DVD serta majalah dewasanya berserahkan seperti itu. Apa Karina melihat semua ini? Bagaimana reaksinya?

“Kamu berlebihan. Semua pria dewasa pasti memilikinya dan hobby nonton yang seperti itu.” Dirga menjawab dengan santai.

“Ya tapi nggak terang-terangan seperti ini juga. Kak Dirga nggak malu?”

Dirga tertawa lebar melihat reaksi Nadine. Ia lalu bangkit dan menuju ke arah Nadine, duduk berjongkok di hadapan wanita tersebut kemudian mengangkat dagu Nadine untuk menghadap ke arahnya.

“Kenapa juga aku harus malu? Ini kamarku, hanya aku yang tahu jika ada barang-barang seperti ini di kamarku. Jika kamu melihatnya, itu berarti aku membiarkanmu melihatnya, karena kamu milikku, istriku, jadi aku tidak perlu malu walau kamu juga melihat semua keburukanku.”

Oh, Nadine merasa jika kini dirinya meleleh seketika. bagaimana mungkin Dirga menunjukkan kepemilikannya dengan begitu tegas tanpa canggung sedikitpun?

“Ta, tapi..”

“Tapi apa? Ada waktunya nanti aku akan mengajakmu menonton film-film ini bersama.”

“Apa?” Nadine membulatkan matanya seketika.

“Kenapa?”

“Enggak, aku nggak mau.”

Dirga kembali tertawa. “Oh ya? Baiklah, kupikir kamu ingin menontonnya sekarang, aku akan memutarkannya untukmu.” Dirga berdiri dan menuju ke arah pemutar DVD miliknya. Memasukkan sebuah keping DVD panas ke dalamnya, kemudian memutarnya.

Nadine berdiri seketika, menjerit saat layar lebar di hadapannya mulai menampakkan gambarnya.

“Kak… Kak Dirga apaan sih??” Nadine mencoba merebut remote yang berada dalam genggaman tangan Dirga,  Dirga segera menjauhkannya dengan mengangkat tinggi-tinggi remote tersebut.

“Apaan apanya? Kita bisa nonton bareng.” Dirga menggoda.

“Aku nggak mau.” Nadine masih mencoba meraih remote tersebut tapi ia tidak cukup tinnggi untuk merebutnya. Akhirnya dengan cekatan, Dirga meraih tubuh Nadine dengan sebelah tangannya, menempelkan tubuh tersebut pada tubuhnya hingga membuat Nadine terpaku menatap ke arah Dirga.

Dirga juga menatap Nadine dengan tatapan intensnya, ia kemudian mengusap lembut  bibir Nadine, lalu menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya pada balutan lembut bibir Nadine. Oh, bibir yang benar-benar menggoda untuknya.

Nadine sendiri tidak menolak, ia juga menerima bahkan membalas cumbuan lembut dari Dirga. Lidahnya ikut menari dengan lidah suaminya, tubuhnya bereaksi sama dengan apa yang di inginkan Dirga hingga ia tak sadar jika kini jemari Dirga sudah mulai membuka kancing-kancing baju yang ia kenakan.

Nadine mendesah pelan saat tautan bibir mereka terputus, rupanya Dirga sibuk melucuti pakaiannya dengan sesekali menatap tubuhnya dengan tatapan nakalnya. Nadine membiarkan hal itu terjadi, toh, semuanya sudah menjadi milik Dirga, yang harus ia lakukan hanya membiasakan diri di tatap seperti itu oleh Dirga.

Ketika Dirga sudah selesai meloloskan pakaiannya hingga kini ia berdiridi hadapan lelaki itu tanpa sehelai benangpun, Dirga kembali menyambar bibirnya, jemari lelaki itu menggoda puncak payudaranya hingga membuat Nadine kewalahan dengan gairah yang di berikan oleh lelaki tersebut.

Jari-jari mungil Nadine mendarat pada tubuh lelaki yang sudah telanjang di hadapannya tersebut. Tubuh padatnya, otot kerasnya, membuat Nadine ingin segera di lingkupi oleh tubuh kekar di hadapannya tersebut.

Dirga mengerang di antara ciuman mereka. Jemari Nadine yang menyentuh dada bidangnya memberi efek luar biasa yang dapat meningkatkan gairahnya seketika. Sedangkan Nadine sendiri juga tak kuasa menahan erangannya saat jemari Dirga tak berhenti mengoda puncak payudaranya.

Suara berisik dari DVD yang masih terputar itupun menambah panas suasana di antara mereka. Sesekali Nadine melirik ke arah Tv di hadapan mereka. Penasaran? Tentu saja, ini adalah pertama kalinya ia melihat film vulgar tersebut, dan ia tidak menyangka jika dirinya melihat film tersebut sembari melakukan hubungan seintim ini dengan seorang lelaki.

Dirga meraih dagu Nadine, menghadapkan wajah wanita tersebut ke arahnya, lalu berkat serak di sana.

“Mau mencoba dengan gaya apa?”

Pipi Nadine memanas mendengar pertanyaan tersebut. Ia tidak menjawab karena rasa malu menyerbu begitu saja dalam pikirannya. Bagaimana mungkin Dirga bertanya tentang gaya yang akan mereka lakukan?

Dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Nadine, Dirga membawa tubuh wanita tersebut untuk terbaring di atas karpet tebal yang di pijaknya, ia juga mengikuti Nadine untuk terbaring di sana.

Nadine menatap Dirga yang mulai menindihnya. Lelaki itu tampak menyunggingkan senyuman miringnya, sedangkan yang bisa di lakukan Nadine hanya membalas senyuman tersebut dengan senyuman lembutnya.

“Kamu suka sekali dengan gaya seperti ini?” Dirga bertanya ketika ia akan menyatukan diri.

Nadine menggeleng pelan. “Aku tidak tahu apa yang ku suka dan apa yang tidak ku sukai jika itu tentang seks.”

“Seks? Kita bercinta.” Dirga mengeram pelan.

Nadine ingin meraih pipi Dirga dengan jemarinya, mengusap lembut pipi tersebut, tapi secepat kilat Dirga meraih pergelangan tangannya kemudian memenkan tangannya di sisi kepalanya.

“Kita, kita tidak saling mencintai, bagaimana mungkin ini di sebut dengan bercinta?”

“Jika kamu merasakan kenikmatan yang sama dengan yang kurasakan, maka sebut saja itu dengan bercinta, tapi jika tidak, sebut itu sebagai hukuman dariku.” Dirga mengatakan kalimat tersebut dengan mata menyala-nyala.

“Kak Dirga tidak menyesal setelah menghukumku?”

“Tidak.” Dirga menjawab dengan cepat dan pasti. “Karena kamu pantas untuk di hukum.”

“Tapi jika nanti Kak Dirga yang berbuat salah, apa aku boleh memberi hukuman?”

Dirga tertawa mengejek. “Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa memberiku hukuman kecuali orang tua atau saudara kandungku.”

“Apa, apa aku ada artinya di mata Kak Dirga?”

“Ya, untuk saat ini kamu sangat berarti.” Dirga menyatukan diri seketika hingga membuat Nadine mengeluarkan desahan panjangnya saat tubuh mereka sudah menyatu dengan begitu sempurna.

“Kamu sangat berarti karena kamu sudah seperti canduku.” Dirga bergerak menghujam lebih dalam lagi pada tubuh Nadine.

“Ha- hanya candu?” Nadine seakan tidak ingin mengakhiri percakapan mereka meski kini dirinya mulai di kuasai oleh gairah yang semakin meningkat.

“Ya, hanya itu.” jawaban Dirga membuat hati Nadine perih. Ia kini hanya di lihat sebagai cangkang yang mampu memuaskan lelaki di atasnya tersebut. Hanya itu, tidak lebih.

Mata Nadine memejam, seakan mencoba menahan butiran bening yang sudah hampir keluar dari pelupuk matanya. Ia ingin menangis, tapi untuk apa? Hatinya terasa perih, tapi kenapa? Satu-satunya hal yang menjadi alasannya karena ia ingin Dirga menganggapnya lebih.

Tapi kenapa?

“Buka matamu.” Itu perintah yang harus Nadine turuti, hingga Nadine akhirnya membuka mata karena perintah tersebut.

Bayangan Dirga tampak samar karena matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak suka Dirga memperlakukannya hanya sebagai tubuh yang dapat memuaskan lelaki itu. ia ingin lebih. Dirga menghentikan pergerakannya saat ia merasakan ada yang berbeda dengan Nadine.

“Kenapa menangis?” tanyanya dengan nada tajam. Oh, ia benar-benar muak melihat orang yang menangis di hadapannya.

“Aku nggak nangis.”

“Baguslah, kita bisa melanjutkan acara bersenang-senang kita.” Jawab Dirga sambil kembali menggerakkan tubuhnya tanpa menghiraukan Nadine yang tersakiti karena ucapannya.

Dirga bergerak lebih cepat, iramanya meningkat hingga membuat Nadine melupakan rasa sakit hatinya. Nadine ikut hanyut kembali dalam pusaran gairah yang di bangun oleh Dirga. Lelaki itu seakan menarik ulur perasaannya hingga membuat Nadine sadar, jika dirinya kini jatuh semakin jauh dalam pesona suaminya sendiri.

Oh, apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Bagaimana jika nanti lelaki ini mulai bosan terhadapnya?

“Ohhh, Sial! Kamu benar-benar nikmat.” Racauan Dirga mau tidak mau membuat Nadine tersenyum.

Nikmat? Sekarang. Bagaimana dengan nanti?

Nadine tak dapat melanjutkan pemikirannya saat tiba-tiba Dirga menarik dirinya lalu membalik tubuh Nadine hingga membelakanginya, Dirga kembali menyatukan diri sedangkan Nadine hanya memekik karena gerakan tiba-tiba tersebut.

“Oouuhh.” Nadine mengerang karena penyatuan kedua mereka. Dirga senang mendengar erangan Nadine.

Dirga kemudian membungkukkan tubuhnya lalu mengecupi area punggung Nadine, kecupan-kecuman lembut itu mempu membuatnya kembali merasakan sensasi aneh yang membuat gairahnya semakin membumbung tinggi. Hingga ketika Nadine berteriak menyebut namanya karena pelepasan, Dirga tak menahan diri lagi untuk bergerak lebih cepat dari sebelumnya, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri lalu berakhir dengan meneriakkan nama Nadine sekencang mungkin.

***

Setelah percintaan yang begitu panas, keduanya saling melingkupi tubuh telanjang masing-masing. Masih tergeletak lemah di atas karpet tebal di depan televisi yang bahkan masih menyala memutar film panas yang kembali menyulut sesuatu di dalam diri Dirga.

Dirga menegang kembali, tapi Nadine sudah menutup matanya karena terlalu lelah. Yang bisa Dirga lakukan hanya memeluk erat tubuh wanita di hadapannya tersebut.

Nadine Citra, hingga kini Dirga masih tidak menyangka jika dirinya sudah menikahi wanita ini. Oh, bukan hanya itu, Dirga bahkan tidak menyangka jika dirinya akan menikah. Selama ini ia tidak pernah memikirkan tentang pernikahan, yang ada dalam otaknya hanyalah bersenang-senang.

Pernikahan atau ikatan apapun pasti akan sangat menyulitkannya, membuatnya merasa di timpali oleh beban berat menjadi seorang suami atau bahkan seorang ayah.

Seorang ayah?

Oh, Dirga bahkan tidak pernah memikirkan akan memiliki seorang anak nantinya.

Tapi dengan Nadine, mau tak mau ia harus menjalani ikatan ini. Ikatan suci yang biasa di sebut dengan pernikahan. Kenapa? Karena tubuhnya?

Tentu saja, bodoh!

Tidak ada alasan lain untuk mempertahankan Nadine selain karena ia tertarik dengan tubuhnya, dan juga karena ia tidak ingin Nadine mengganggu hubungan Karina, adiknya dengan Darren.

Ya, itu adalah alasan utama ia menikahi Nadine, tapi bagaimana jika alasan itu nanti berubah? Oh, tidak mungkin! Dirga akan memagari dirinya dengan dinding setinggi mungkin hingga Nadine tak akan mampu untuk menggapainya.

Dan ketika saatnya nanti tiba, saat dimana Karina sudah benar-benar bahagia dengan Darren, saat dimana ia sudah mulai bosan dengan tubuh Nadine, ia akan melepaskan wanita ini dari cengkeramannya. Tapi, sebelum hal itu terjadi, ia akan memerankan perannya sebagai suami, menikmati permainan yang ia buat sebelum ia bosan dan mencari penggantinya.

Gerakan tubuh Nadine yang menggeliat dalam pelukannya benar-benar membuat Dirga frustasi. Ia mengerang pelan, menahan diri untuk tidak membangunkan Nadine, tapi gambar-gambar panas pada layar televisi di hadpannya memperburuk suasana. Membuat gairahnya menanjak seketika saat membayangkan jika yang berada di dalam gambar tersebut adalah ia dengan Nadine.

“Hei, bangun.” akhirnya Dirga tak sanggup menahan diri untuk tidak mengguncang tubuh Nadine, dan membangunkan wanita tersebut.

“Hemm.” Nadine membuka matanya sedikit demi sedikit. Ia lelah, tentu saja. Siang tadi ia baru pulang dari Bali, membereskan pakaiannya di rumahnya, lalu segera pindah ke rumah Dirga, dan sampai di rumah lelaki ini, ia di hajar lagi dengan kenikmatan yang di berikan oleh lelaki tersebut.

“Aku mau lagi.”

Nadine meleberkan matanya seketika saat mendengar pernyataan tersebut. oh, bagaimana mungkin Dirga memiliki gairah yang seakan tak pernah bisa di padamkan?

“A- aku capek.” Nadine mencoba menolak permintaan Dirga.

Dirga menghela napas panjang. “Baiklah, tapi kamu harus mandi sebelum tidur.” Saran Dirga.

Nadine berpikir sebentar. Ya, benar juga, ia tidak mungkin tidur dalam keadaan seperti ini, di atas karpet dengan tubuh lengketnya karena keringat. Akhirnya Nadine mencoba bangkit dan manuju ke arah kamar mandi, tapi ia sedikit bingung saat Dirga juga mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi.

“Kak Dirga mau mandi juga?”

“Ya, kita mandi bareng.”

“Apa?” Nadine sempat terkejut dengan apa yang di katakan Dirga. Bukan tanpa alasan, karena Nadine yakin, jika mereka berada dalam ruangan yang sama dengan sama-sama tanpa busana, pasti yang akan mereka lakukan bukan hanya mandi. Apalagi saat melirik ke arah bukti gairah Dirga yang sudah menegang. Oh, lelaki ini menginginkannya, Nadine yakin sekali akan hal itu.

“Ha- hanya mandi, kan?” tanya Nadine terpatah-patah, karena ia belum juga mengalihkan pandangnnya dari pusat gairah Dirga.

Dirga tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Nadine. “Sayangnya bukan hanya itu.” Secepat kilat Dirga menghimpit tubuh Nadine di antara dinding, lalu dia menyalakan air pancuran hingga membasahi tubuh mereka berdua.

Nadine sempat memekik terkejut saat tubuhnya di guyur secara tiba-tiba oleh air shower, di tambah lagi tiba-tiba bibir Dirga yang mulai menyerang bibirnya dengan cumbuan panasnya. Walau terkejut, tapi Nadine masih sanggup membalas cumbuan panas tersebut. gairahnya terbangun seketika, ia yang tadi menolak saat Dirga meminta haknya, kini malah memohon supaya Dirga segera mengambil haknya.

Akhirnya Dirga tak menunggu lama lagi, ia mengangkat sebelah kaki Nadine lalu menenggelamkan diri dalam balutan lembut dari tubuh istrinya tersebut.

“Ohhh…” Nadine mendesah panjang. Pun dengan Dirga yang seakan tak dapat jauh-jauh dari racauannya berupa umpatan-umpatan khas yang keluar begitu saja dari bibirnya secara spontan.

Dirga meraih kedua tangan Nadine, memenjarakan kedua tangan itu ke atas kepala, sedangkan yang di bawah sana tak berhenti bergerak menghujam, mencari kenikmatan untuk diri mereka berdua. Bibir Dirga mencumbu sepanjang rahang Nadine, turun ke leher Nadine, sedangkan kedua tangannya seakan tak ingin melepaskan kedua tangan Nadine yang ia penjarakan di atas kepala wanita tersebut.

Dirga menggeram dalam cumbuannya, ia merasakan Nadine semakin rapat membungkusnya saat wanita itu berada pada puncak kenikmatan, hingga membuat Dirga tak mampu menahan diri lagi untuk mencapai pelepasannya.

Keduanya terengah karena sensasi orgasme yang baru saja melanda. Dirga menunduk, menempelkan keningnya pada kening Nadine, kemudian mencumbu singkat bibir istrinya tersebut yang masih terbuka, terengah karena ulahnya.

“Kamu, luar biasa.” Bisiknya sebelum meraih sabun dan membaluri tubuh Nadine dan juga tubuhnya sendiri dengan busa sabun tersebut.

“Apa- apa setelah ini, lagi?” tanya Nadine dengan wajah polosnya.

Dirga menatap Nadine sebentar, lalu tertawa lebar. “Aku bukan maniak seks, aku akan memberimu waktu istirahat, tenang saja.”

Nadine sedikit tersenyum. Bukan maniak seks? Sejauh ini yang ia kenal dari Dirga hanya bahwa Dirga tidak bisa jauh-jauh dari seks, apa namanya jika bukan maniak seks?

“Aku hanya capek, ingin cepat tidur.”

“Oke, aku akan membirkanmu tidur nyenyak malam ini, tenang saja.” Mendengar itu, Nadine kembali tersenyum. Dan mereka kemudiaan melanjutkan mandi bersamanya tanpa saling memancing gairah satu dengan yang lainnya.

***

Nadine bangun kesiangan, dan itu karena Dirga yan tadi pagi sempat membangunkannya untuk melakukan satu sesi kilat sebelum mereka kembali tertidur pulas lagi. Oh, Nadine benar-benar tak mengerti, sebesar itukah gairah seorang Dirga pada dirinya?

Saat Nadine menanyakan hal tersebut pada Dirga, dengan santai Dirga menjawab jika mereka adalah pengantin baru, jadi sangat wajar jika mereka melakukan hal tersebut kapanpun dimanapun tempatnya.

Oh, jawaban apa itu?

Nadine menggelengkan kepalanya, tersenyum saat melihat Dirga yang masih tertidur pulas dengan wajah polosnya. Lelaki itu tampak seperti bocah kecil dengan tampang polosnya saat sedang tidur seperti saat ini, dan itu membuat jantung Nadine kembali memacu lebih cepat lagi dari sebelumnya.

Nadine akhirnya memutuskan untuk segera meninggalkan Dirga, jika tidak, ia tak akan bisa menahan jemarinya untuk mengusap lembut wajah suaminya tersebut.

Nadine berjalan menuju ke arah dapur, semoga saja ada yang bisa di lakukan di sana, ia tidak mungkin hanya duduk-duduk santai sambil menunggu Dirga bangun, membersihkan kamar Dirga yang berantakanpun tidak mungkin di lakukan saat ini, karena ia tidak mau membangunkan Dirga dan membuat lelaki itu ingin menyentuhnya lagi. Akhirnya Nadine memilih menuju ke arah dapur dan berdoa jika ada pekerjaan yang dapat ia kerjakan di sana.

Sampai di dapur, Nadine di sambut dengan hangat oleh mama Dirga, orang yang kini sudah menjadi ibu mertuanya. Dan ia sedikit terkejut saat mendapati lelaki yang memiliki wajah kembar identik dengan Dirga sedang duduk di salah satu kursi di meja makan.

“Siang, Nadine, masih ingat aku?” sapa lelaki itu dengan lembut,

Ah ya, tentu saja ia ingat. Itu adalah Davit, saudara kembar Dirga yang sudah menikah dan tinggal di Bandung dengan keluarga kecilnya. Sejak kapan Davit berada di sini?

“Siang, Kak.” Nadine menjawab sapaan Davit sambil mengangguk dan dengan sedikit canggung. Entahlah, saat menatap Davit, ia juga merasa jika dirinya sedang menatap Dirga.

“Sayang, kemarilah, ini Nadine, istrinya Dirga.” Davit memanggil seseorang, dan datanglah seorang wanita cantik yang sedang menggendong seorang balita.

Itu pasti istri Davit. Pikir Nadine. Wanita itu datang menghampiri Nadine, menatap diri Nadine dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum dan mengulurkan jemarinya.

“Sherly.” Ucap wanita tersebut dengan lembut.

Nadine menyambut uluran tangan tersebut. “Nadine.” Jawabnya dengan menyunggingkan senyuman lembutnya juga.

“Mereka akan tinggal di sini sampai acara resepsi kalian di laksanakan akhir minggu ini, Sayang, semoga kamu bisa berteman baik dengan kakak-kakak iparmu.” Ucap ibu Dirga pada Nadine. Nadine hanya tersenyum dan mengangguk lembut.

“Apa?! Kenapa lama sekali?!” seruan keras itu seketika membuat semua orang menatap ke arah sumber suara yang berada pada anak tangga paling atas. Ternyata itu Dirga, lelaki itu sudah berdiri di sana dengan ekspresi kesalnya. Kenapa?

-TBC-

Advertisements

3 thoughts on “Lovely Wife – Chapter 7 (Pengantin Baru)

  1. Dasar iblis mesum , ga punya prasaan , d tinggal nadine baru tau rasa 😂😂
    gila q ngebayangin kamar dirga udah kek d film” az , pasti sangat elit dan sangat berantakan ….
    tapi yng jadi pikiran q davit tau ga yaa , ql sherly mantan na dirga , yng kadang masih mmbuat jantung dirga dagdigdug …
    aaaahhhhhhh dirga bener” mmpesona 😍😍😍

    Like

  2. Kurang ajar bgt nih Dirga,, smg aja Dirga kena karmanya…
    Smga aja mantan2nya Nadine pd hadir,,tau rasa biar c Dirga itu trkena cemburu hehehehe
    sprtinya Dirga msih myimpan rasa pd Sherly… Oh tidak…..jgn smpe dehhhh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s