romantis

Evelyn – Chapter 11 (Pengunduran diri)

Evelyn

 

Chapter 11

-Pengunduran diri-

 

Fandy sampai menahan napas saat tubuhnya menyatu dengan sempurna pada tubuh Eva. Ia melepaskan pagutan bibirnya kemudian menatap Eva dengan penuh kasih. Oh, gadis di bawahnya itu tampak kesakitan dengan apa yang ia lakukan, apa ia teruskan saja? Atau berhenti di sini?

“Kamu kesakitan.” Itu bukan pertanyaan, tapi sebuah pernyataan.

“Kamu pikir apa? Kamu sudah merobekku!” Eva berseru dengan kesal tanpa sadar dengan apa yang baru saja ia katakan.

Fandy tersenyum. “Ini salah kamu karena kamu selalu menggodaku.”

“Apa?”

Lagi-lagi Fandy tersenyum melihat ekspresi Eva. “Aku tidak bisa berhenti, jika aku berhenti maka aku tidak bisa meredakan rasa sakitmu.”

“Kalau begitu lanjutkan! Jangan berhenti dan terlalu banyak omong.” Oh, entah dari mana Eva mendapatkan kekesalan itu. ia hanya merasa kesal saat Fandy tidak juga segera bergerak tapi malah menatapnya dengan atatapan-tatapan jahil yang membuat Eva terpengaruh seketika.

“Baiklah, aku akan bergerak sepelan mungkin.” Setelah kalimatnya tersebut, Fandy mulai bergerak dengan begitu pelan. Bibirnya kembali menggapai bibir Eva yang mulai terbuka karena mengeluarkan desahan-desahan yang terdengar begitu seksi di telinganya. Fandy juga menggapai jemari Eva, memenjarakan di atas kepala gadis tersebut tanpa menghentikan pergerakannya.

Eva sendiri kini sudah menikmati permainan yang di mainkan oleh Fandy. Rasa sakit yang tadi menderanya sudah tidak terasa lagi, di gantikan oleh rasa aneh yang telah menguasai dirinya. Pergerakan Fandy membuatnya mengeluarkan erangan secara spontan, tubuhnya bereaksi dengan sendirinya tanpa bisa di tahan olehnya. Eva mengikuti ritme permainan Fandy, bergerak mengoda dengan sesekali menggeliat di bawah Fandy.

“Gadis nakal!” seru Fandy tapi Eva tidak menanggapinya. Ia masih sibuk dengan kenikmatan yang di berikan lagi dan lagi oleh diri Fandy.

Akhirnya, Fandy mempercepat lajunya, menggiring Eva pada kenikmatan yang seakan tak bertepi, membawa dirinya sendiri jatuh pada jurang kenikmatan yang tiada tara. Hingga akhirnya, Fandy memilih mengakhiri kenikmatan tersebut sebelum dirinya jatuh semakin dalam dan tak ingin kembali lagi.

Napas Fandy terputus-putus, tersenggal-senggal karena kenikmatan yang baru saja menghantamnya. Pelepasan tadi benar-benar luar biasa hingga membuatnya seakan masih di pengaruhi oleh pusaran gairah.

“Kamu, kamu benar-benar luar biasa.” Fandy berkata dengan sedikit terpatah-patah.

Sedangkan Eva sendiri masih belum bisa menguasai dirinya sendiri. Tubuhnya lemas karena pergulatan panas dengan Fandy. Kepalanya berkunang-kunang karena hantaman badai gairah yang tadi baru saja menghantamnya. Seperti inikah rasanya bercinta?

Eva membuka matanya menatap ke arah Fandy dengan tatapan lembutnya. “Kita, kita bercinta?” tanyanya tak percaya.

Fandy tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Ya, kita bercinta.”

Tanpa di duga, Eva mengalungkan lengnnya pada leher Fandy, menarik wajah lelaki tersebut lalu mencumbu bibirnya.

“Aku, aku masih nggak percaya kalau kita baru saja bercinta.”

Fandy tertawa lebar dengan ucapan yang baru saja di ucapkan Eva. “Aku bisa melakukannya lagi sampai kamu percaya.”

Eva melepaskan rangkulannya seketika dari leher Fandy saat ia terkejut mendengar pernyataan lelaki tersebut. Tapi kemudian tawa Fandy membuat Eva sadar jika lelaki itu hanya bercanda padanya. Eva ikut tertawa, lalu kembali memeluk tubuh Fandy erat-erat. Seakan tak ingin lelaki itu meninggalkannya.

***

Paginya, Eva terbangun sendiri. Ia membuka mata seketika dan masih mendapati dirinya berada di dalam kamar Fandy. Astaga, ternyata semalam bukan hanya mimpi. Mereka benar-benar melakukannya, dan mengingat itu membuat pipi Eva kembali memanas.

Eva menatap ke arah tubuhnya sendiri, ternyata ia masih mengenakan kemeja Fandy yang ia kenakan semalam setelah mereka bercinta. Ia lalu segera bangkit, menuju ke arah kamar mandi Fandy, membersihkan diri lalu mencari keberadaan lelaki tersebut.

Eva keluar dari dalam kamar Fandy, hidungnya mencium aroma sedap yang berasal dari dapur. Ia tahu bahwa Fandy ada di sana. Kaki mungilnya segera melangkah menuju ke arah dapur, dan benar saja, Fandy benar-benar berada di sana, lelaki itu sedang sibuk membuat sesuatu. Dengan manja Eva memeluk perut Fandy dari belakang, membuat Fandy kaku seketika karena ulahnya.

“Sudah bangun?” suara itu terdengar canggung di telinga Eva.

Eva menempelkan wajahnya pada punggung Fandy, lalu menganggukkan kepalanya. “Kamu lagi ngapain?” tanyanya dengan manja.

Kini, Eva sudah tidak canggung lagi bermanja-manja dengan Fandy. Meski lelaki itu tidak pernah mengungkapkan isi hatinya, meski lelaki itu tak pernah mengungkapkan kata cinta untuknya, tapi Eva cukup tahu setelah apa yang sudah mereka lakukan tadi malam.

“Buatin kamu sarapan pagi.”

Eva melonggokan kepalanya menatap ke arah masalkan Fandy. “Tumben.” Komentarnya.

“Tumben?” Fandy berbalik bertanya.

Eva tidak menjawab pertanyaan tersebut. “Aku senang kamu bersikap hangat seperti ini padaku.” Gumam Eva yang kini sudah kembali menyandarkan wajahnya pada punggung lebar Fandy.

Fandy tersenyum mendengar komentar Eva. “Aku tidak mungkin kembali bersikap kaku dan datar-datar saja padamu setelah apa yang sudah kita lalui semalam.”

“Ah ya, semalam.” Eva melepaskan pelukannya lalu berdiri di sebelah Fandy. “Tentang semalam, aku menuntut pertanggung jawabanmu.”

Fandy mengangkat sebelah alisnya. “Pertanggung jawaban apa?” dia memasang wajah bingungnya. Padahal Fandy tahu betul apa yang di maksud Eva.

“Hei, kamu sudah membuatku tidak perawan lagi. Ingat itu.”

“Dan kamu juga sudah membuatku tidak perjaka lagi. Jadi kita impas.” Fandy menjawab dengan ekspresi yang di buatnya sedatar mungkin. Padahal dalam hati ia tertawa lebar menyaksikan Eva yang tampak menggemaskan karena godaannya.

“Fandyyyy…..” Eva merengek kesal.

Akhirnya Fandy tidak sanggup lagi menahan tawanya. Di usapnya lembut puncak kepala Eva. “Oke, aku mengerti. Apa yang kamu inginkan dariku?”

Eva menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan dari Fandy, menuntut lelaki itu supaya bersikap lebih manis lagi padanya itu tidakn mungkin. Fandy memang hanya bisa seperti itu, dan ia tidak ingin memaksakan atau mengubah Fandy seperti lelaki lain yang lebih manis padanya.

“Aku, aku hanya bingung dengan hubungan kita.”

“Bingung? Apa yang membuatmu bingung?”

“Uum, aku, aku nggak mau menganggap kamu hanya sebagai pengawal pribadiku saja.”

“Kalau begitu anggap saja aku sebagai pelindungmu.”

Eva mendengus sebal. “Sama saja tahu! Aku nggak mau, aku mau lebih.”

Fandy mendongakkan wajah Eva untuk menghadap ke arahnya. “Kalau begitu, kamu bisa menganggapku lebih, melebihi apa yang kamu inginkan.”

Eva tersenyum. “Benarkah? Uum, apa aku boleh menganggapmu sebagai kekasihku? Apa kita sudah jadian?” tanyanya antusias.

Fandy kembali memasang wajah datarnya. “Anggap saja begitu.”

“Fandy….” Eva kembali merengek. Dan Fandy tertawa lebar. Tawa yang benar-benar menyejukkan mata Eva.

“Oke, oke. Mulai sekarang kita jadian, puas?” Eva meloncat kegirangan. Secepat kilat ia mengalungkan lengannya pada leher Fandy, lalu mengecup lembut bibir lelaki tersebut.

“Bolehkah aku memanggilmu sayang?”

“Enggak.” Fandy menjawab cepat. Eva mengerutkan keningnya.

“Kenapa?”

“Aku nggak suka di panggil dengan panggilan menggelikan seperti itu. kamu benar-benar seperti anak alay, seperti yang di katakan Pak Aldo dulu.”

“Alay? Menggelikan? Hei, kita sudah jadi sepasang kekasih, jadi wajar aku manggil gitu.”

“Tapi aku nggak suka, itu terdengar menggelikan di telingaku.”

“Oke, kalau begitu, tapi kamu harus panggil aku Sayang.”

“Nggak.” Lagi-lagi Fandy menolak.

“Fandy, kamu-” kalimat Eva terputus dengan bunyi bell apartemen Fandy. “Ada tamu? Pagi-pagi seperti ini?”

“Mungkin orang jemput laundry.”

“Biar aku saja yang membukanya.” Eva berlari cepat ke arah pintu depan. Sedangkan Fandy hanya bisa menatapnya sambil menggelengkan kepalanya. Oh, ia merasa sebagai pengantin baru. Eva yang baru bangun tidur dan hanya mengenakan kemejanya, berjalan dengan kaki telanjangnya, sedangkan dirinya sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Lalu mereka bercanda bersama di dapur, benar-benar seperti pengantin baru.

Fandy mengenyahkan bayangan tersebut dari kepalanya. Pengantin baru? Yang benar saja. Ia bahkan tidak yakin dengan hubungannya bersama Eva. Bukan karena ia tidak ingin, tapi ia tahu persis bagaimana posisinya dengan Eva.

“Fan.” Lamunan Fandy buyar saat Eva kembali ke dapur. “Ada tamu.”

Fandy mengangkat sebelah alisnya. “Tamu?”

Eva mengangkat kedua bahunya. “Sepertinya atasan kamu.” Lalu Eva memilih duduk di atas kursi, sedangkan Fandy membersihkan pakaiannya dan segera menemui tamu tersebut.

“Tunggu di sini saja, oke.”

Eva mengangguk tapi ia menyempatkan diri mengecup pipi Fandy hingga membuat Fandy tersenyum dan menggelengkan kepalanya pada Eva.

“Gadis nakal.” Gumam Fandy sambil meninggalkan Eva.

Saat sampai di ruang tengah. Fandy terkejut mendapati Bossnya sudah berdiri di tenga-tengah ruang tamunya. Apa yang terjadi? kenapa Bossnya itu datang ke apartemennya? Adakah hal yang penting?

“Boss.” Sapa Fandy.

Lelaki yang di panggilnya Boss itu membalikkan tubuhnya menghadap Fandy seketika, dan Fandy tahu, saat lelaki paruh baya itu menampilkan ekspresinya, ia merasa jika Bossnya itu mengetahui sesuatu di antara dirinya dan juga Eva. Oh, apa yang akan ia lakukan selanjutnya?

***

Mark benar-benar terkejut saat seorang gadis muda membukakan pintu untuknya. Kenapa gadis itu ada di sini? Di apartemen puteranya pagi-pagi seperti ini? Dengan penampilan yang… yang…. Oh, jangan bilang jika hubungan mereka sudah sejauh itu.

“Anda siapa?” tanya gadis itu dengan polos.

“Fandy mana? Saya atasannya.” Ucapnya dengan dingin.

Gadis yang di yakini Mark sebagai Evelyn Mayers ini menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kakinya sebelum mempersilahkannya masuk.

“Silahkan masuk.”

Mark masuk ke dalam apartemen Fandy, sedangkan gadis itu sudah berlari masuk menuju ke arah dapur Fandy. Tak lama, Fandy datang menghampirinya.

“Boss.” Sapanya. Mark membalikkan tubuhnya, menunjukkan ekspresi kerasnya pada Fandy.

“Apa yang dia lakukan di sini?” Mark bertanya tanpa basa-basi lagi.

“Uum, dia Evelyn Mayers, gadis yang seharusnya saya-”

“Saya tahu siapa dia.” Mark memotong kalimat Fandy. “Yang saya tanya, kenapa dia berada di sini?”

Fandy hanya menundukkan kepalanya, ia tidak mampu menjawab apa yang di tanyakan padanya. Ia tahu pasti apa yang akan di lakukan Bossnya saat si boss tahu bagaimana hubungannya dengan Eva.

“Jawab saya!” kata itu di ucapkan dengan penuh penekanan. Tapi Fandy masih tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut, hingga kemudian Mark memilih melayangkan pukulannya pada wajah Fandy.

“Hei! Apa yang anda lakukan?!” Eva yang tak sengaja melihat kejadian tersebut akhirnya datang menghampiri Fandy dan Mark. “Anda siapa berani-beraninya pukul Fandy?”

“Eve.” Fandy mencoba menenangkan Eva.

“Saya tunggu di rumah, siang ini juga.” Ucap Mark penuh penekanan kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan Eva dan Fandy.

“Apa-apaan itu, dia siapa? Kenapa kamu diam saja?” tanya Eva yang saat ini masih emosi dengan lelaki paruh baya tadi.

“Dia atasanku.”

“Oh, kamu bisa keluar dari tempat kerjanya, kamu bisa kerja sama aku tanpa melalui dia.”

“Nggak semudah itu, Eve.” Fandy menghela napas panjan “Kita sarapan saja, lalu aku akan mengantarmu pulang, kemudian menemuinya.”

“Enggak.”

Fandy mengerutkan keningnya. “Maksud kamu?”

“Kamu langsung saja temui dia, aku nunggu kamu di sini, setelah itu kita pulang bareng ke rumahku.”

“Eva..”

“Pokoknya aku mau kayak gitu.” Lagi-lagi Fandy tersenyum dengan kekeras kepalaan Eva.

“Baiklah. Kita sarapan bareng dulu, oke.” Eva mengangguk dengan semangat. Akhirnya keduanya menuju ke meja makan, sarapan bersama meski sesekali mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

***

Eva masih bingung dengan apa yang terjadi pada Fandy. Sepulang dari rumah atasannya, Fandy hanya terdiam dengan ekspresi dinginnya. Eva tidak nyaman, tentu saja. Ia tahu pasti jika ada yang terjadi dengan Fandy dan lelaki itu mencoba menyembunyikan semuanya dari dirinya.

“Fan, apa yang terjadi?” mau tidak mau Eva menanyakan kalimat tersebut. Ia benar-benar tidak nyaman dengan sikap Fandy yang kembali menjadi orang yang dingin dan menyebalkan untuknya.

“Nggak apa-apa.”

“Nggak apa-apa bagaimana? Kamu hanya diam sejak pulang dari rumah Boss kamu. Aku tahu kalau terjadi sesuatu di sana.”

Fandy menatap ke arah Eva, lalu mengulurkan jemarinya untuk mengusap lembut pipi gadis tersebut.

“Semuanya baik-baik saja, aku hanya berkonsentrasi mengemudikan mobil ini.” Jawab Fandy sambil kembali menatap ke arah jalanan di hadapan mereka.

Ya, saat ini keduanya memang sudah berada di jalan untuk pulang ke rumah Eva. Eva sendiri sudah menghubungi papanya tadi, dan meminta sang papa tidak khawatir dengan keadaannya karena ia selalu bersama dengan Fandy yang menjaganya.

“Alasan. Aku tahu ada yang sembunyikan dariku. Ayolah.” Eva sedikit merengek.

“Oke, kita sudah sampai.” Fandy malah tidak menghiraukan rengekan Eva. Ia membelokkan mobilnya menuju ke sebuah gerbang tinggi dan besar, gerbang rumah Eva. Matanya lalu melirik ke arah Eva, gadis itu mengerucutkan bibirnya, tanda jika dia sedang merajuk pada Fandy, dan Fandy hanya bisa tersenyum melihatnya.

Fandy lalu melirik ke kaca spion di hadapannya, tampak sebuah mobil sedan hitam mengikuti tepat di belakangnya. Fandy tahu jika itu adalah teman-temannya yang membawa si bajingan Ramon kepada orang tua Eva. Ya, bagaimanapun juga, tentang Ramon, ia harus menyerahkan bajingan sialan itu pada ayah Eva.

“Sepertinya kita di ikuti.” Eva berkata ketus saat ia juga melihat sebuah mobil sedan yang sejak tadi mengikutinya.

Fandy tersenyum ke arah Eva. “Itu temanku kemarin, mereka sama Ramon.”

Mendengar nama Ramon, Evelyn membeku. Ia kembali teringat Ramon yang tampak mengerikan seperti kemarin. Oh, bagaimana mungkin ia sempat memiliki kekasih segila Ramon?

Fandy mengerutkan keningnya saat melihat perbedaan ekspresi yang di tampilkan Eva, gadis itu tampak takut, ekspresinya beku saat mendengar tentang Ramon. Fandy tentu tahu jika Eva mungkin saja masih terauma dan takut dengan lelaki bajingan itu.

Setelah memarkirkan mobil Eva di halaman rumah gadis tersebut, Fandy menatap dalam ke arah Eva, mengulurkan jemarinya untuk mengusap lembut pipi Eva, hal yang kini sangat ia gemari.

“Kenapa? Dia tidak akan berani macam-macam sama kamu lagi.”

“Aku, aku cuma…”

“Aku tahu.” Fandy memotong kalimat Eva. “Aku nggak akan ngebiarin kamu di perlakukan seperti itu lagi sama siapapun, tidak Ramon, tidak juga yang lain.”

Eva tersenyum mendengar kalimat Fandy. “Terimakasih sudah melindungiku.” Fandy tidak menjawab, dia hanya tersenyum lembut ke arah Eva. Lalu ia mengajak Eva untuk segera keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumahnya.

***

Ramon duduk berlutut di hadapan Nick Mayers dengan kedua tangan yang sudah di bekuk dan di ikat di belakang punggungnya. Wajah lelaki itu babak belur karena pukulan-pukulan keras dari Fandy kemarin. Sedangkan Nick sendiri masih sibuk memutar video rekaman Ramon yang tadi baru saja di serahkan padanya.

Eva sudah kembali ke kamarnya, sedangkan Fandy saat ini juga berada di ruangan yang sama dengan Nick dan juga Ramon.

“Berani-beraninya dia menyentuh puteriku.” Nick menggeram kesal setelah ia melihat rekaman video tersebut.

“Jadi, apa yang harus saya lakukan selanjutnya, Tuan?” tanya Fandy dengan serius pada Nick.

“Kamu tidak perlu melakukan apapun, saya yang akan bertindak, membuatnya membusuk di penjara.”

Fandy menganggukkan kepalanya. Nick memanggil beberapa pengawal di rumahnya untuk segera menyingkirkan Ramon dari hadapannya, karena jika tidak, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membunuh lelaki muda itu saat ini juga.

Setelah Ramon dan beberapa anak buah Nick meninggalkan ruangan Nick, kini hanya ada Fandy dan Nick berada di dalam ruangan tersebut. Fandy akan meminta diri untuk meninggalkan Nick sendiri, tapi ternyata lelaki paruh baya itu meminta Fandy untuk tetap berada di ruangannya karena ia ingin berbicara sesuatu pada Fandy.

“Terimakasih sudah menjaga puteriku.”

Fandy mengangguk patuh. “Sudah menjadi tugas saya, Tuan.”

Nick meraih sebuah gelas, di isinya gelas tersebut dengan anggur lalu ia menyesap anggur tersebut. Setelah Maria meninggalkannya, Nick memang kembali menjadi sosoknya yang dulu, sosok yang suka sekali minum-minuman beralkohol, padahal, selama hidup bertiga dengan Maria dan Eva, Nick sudah mengubur sifat buruknya yang dulu.

“Saya melihat jika ada sesuatu di antara kamu dan puteri saya.” Fandy menegang seketika saat mendengar pernyataan lelaki paruh baya di hadapannya tersebut. Bukan tanpa alasan, ia hanya tidak ingin hubuhngan intimnya yang terjalin dengan Eva secepat ini di ketahui orang.

Nick sendiri memang sudah lama mencurigai ada hubungan khusus antara Eva dan Fandy. Sikap manja Eva dengn lelaki di hadapannya itu membuat Nick tahu jika puterinya menyimpan perasaan khusus dengan pengawalnya sendiri. Di tambah tadi, keduanya saling bergandengan tangan seakan sudah terjalin sesuatu di antara mereka. Nick bukannya tidak menyetujui, ia hanya takut jika Eva sakit hati karena perasaan sukanya, atau terlebih lagi, puterinya itu di manfaatkan seseorang yang di sukainya seperti apa yang dilakukan Maria terhadapnya.

“Saya hanya berusaha melindungi Nona Evelyn.”

“Hanya melindungi? Hanya sebagai pelindung? Apa hanya itu hubungan kalian?”

Fandy menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak mungkin berkata jika dirinya sudah melakukan hubungan intim dengan Nonanya sendiri.

“Ya, tuan.”

Nick berjalan cepat ke arah Fandy. “Dengar, Evelyn tampak sangat menyukai kamu, dia terlihat begitu tertarik denganmu, dan kamu hanya menganggap dia sebagai orang yang harus kamu lindundungi? Tidak lebih? Fandy, saya tidak suka puteri saya di permainkan.”

“Saya tidak mempermainkan Nona Evelyn. Saya juga menyukainya.”

Nick sempat terpaku dengan pengakuan Fandy tersebut.

“Tapi dalam agensi saya memiliki peraturan, bahwa kami tidak di ijinkan menjalin kasih dengan klien. Jatuh cinta adalah hal terlarang untuk kami.”

“Apa-apaan itu? agensi macam apa yang memiliki peraturan seperti itu? kamu bukan robot yang tidak seharusnya memiliki cinta. Kamu manusia biasa yang bisa saja memiliki perasaan itu. kamu bisa keluar dari sana dan bekerja dengan saya.”

“Maaf, Tuan.” Fandy menundukkan kepalanya. “Boss sudah seperti orang tua asuh saya sendiri, saya di pungut dari panti asuhan dan menjadi seperti sekarang ini karena beliau, saya tidak mungkin meninggalkannya.”

“Apa? Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Saya juga tidak mungkin memutuskan hubungan saya dengan Nona Evelyn. Jadi…” Fandy mengambil sesuatu di balik setelah hitam yang ia kenakan. “Saya memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan saya, Tuan.” Fandy memberi Nick amplop cokelat yang berisi surat pengunduran dirinya.

Nick membulatkan matanya seketika. apa yang di lakukan Fandy? Padahal Nick sudah sangat percaya dengan Fandy, bisa di bilang, kini Fandy adalah salah satu orang yang paling ia percayai untuk menjaga Eva, bagaimana mungkin Fandy memutuskan untuik mengundurkan diri? Lalu bagaimana dengan Eva? Siapa yang akan menjaga dan melindungi puterinya tersebut?

-TBC-

Advertisements

4 thoughts on “Evelyn – Chapter 11 (Pengunduran diri)

  1. Fandy mengundurkan diri agar biza pacaran dan mnjaga eva , karna ql dia masih bekerja sebagai pengawal dia ga biza pacaran ma eva , bagus juga ide na ..
    q lebih kuatir ma bapa na fandy ktinbang bapa na eva .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s