romantis

Evelyn – Chapter 10 (Pengalaman pertama)

Evelyn

 

Chapter 10

Pengalaman pertama-

 

“Sayang, ayo buka matamu.”  Samar-samar Eva mendengar suara tersebut. Ia kemudian membuka matanya sedikit demi sedikit, dan ia baru sadar jika ada yang aneh dengan tubuhnya.

Oh sial! Ia sedang dalam keadaan terikat di atas kursi dengan bibir yang di bungkam oleh sesuatu. Eva juga baru sadar jika kini pakaiannya sudah di lucuti hingga meninggalkannya hanya dengan pakaian dalamnya saja.

Astaga, apa yang terjadi?

Eva ingin meronta, tapi tidak bisa, bibirnya di bungkam hingga yang bisa ia lakukan hanya menggeliat mencoba melepaskan diri dari ikatan yang terasa menyakitkan di pergelangan tangannya.

“Lihat aku sayang, Hei.” Eva menatap ke arah suara tersebut, rupanya itu Ramon yang sedang membawa sebuah kamera untuk merekamnya. Apa yang di lakukan laki-laki sialan itu?

“Sebenarnya aku ingin sekali menyentuhmu saat kamu belum sadarkan diri tadi, tapi, tentu itu tidak asyik, aku ingin pengalaman kita terekam jelas dalam kamera ini, setelahnya, aku akan mengirimkan rekaman video ini pada pengawal sialanmu.” Tampak senyuman mengerikan yang di tampilkan oleh Ramon, dan Eva benar-benar merasa takut.

Ia kembali menggeliat, mencoba melepaskan diri, tapi ikatannya terlalu kencang hingga membuat Eva malah kesakitan.

Ramon terkekeh melihat tingkah Eva, ia tidak menyangka jika dirinya akan bisa melakukan hal ini pada wanita yang ia sukai.

Evelyn Mayers. Nama itu terkenal di kalangan teman-temannya sejak gadis itu baru masuk di kampusnya. Wajahnya yang sangat cantik di tambah lagi sikapnya yang supel membuat banyak lelaki di kampusnya berbaris rapi ingin memiliki status sebagai kekasihnya.

Entah sudah berapa banyak lelaki yang di tolak oleh Eva, dan juga berapa banyak pria yang di jadikan kekasihnya, hingga itu membuat Ramon tertarik. Tanpa di duga, Eva malah mendekatinya dan terang-terangan ingin menjadi kekasihnya, tentu saja itu hal yang tidak di duga oleh Ramon.

Mereka akhirnya memutuskan untuk menjalin kasih. Ramon berpikir jika hubungannya dengan Eva akan menjadi hubungan yang indah layaknya sepasang kekasih, karena Ramon sadar, jika dirinya ternyata bukan hanya tertarik terhadap Eva, tapi ia juga memiliki perasaan yang lebih dalam terhadap gadis tersebut. Tapi nyatanya, itu tidak di rasakan oleh Eva.

Ramon mendengar dari beberapa temannya jika Eva masih memiliki kekasih lain selain dirinya, belum lagi kabar yang ia dengar bahwa Eva mendekatinya hanya karena membuktikan kepada seseorang jika gadis itu mampu menaklukkan hatinya. Oh, jangan di tanya bagaimana murkanya Ramon.

Selama ini Ramon berpikir jika Eva benar-benar menyukainya, tapi ternyata, semuanya hanya akting belaka. Ia merasa sangat bodoh karena dengan mudah di bodohi oleh sosok Eva, harga dirinya terlukai, karena baru kali ini ia di permainkan oleh seorang gadis, apalagi gadis itu adalah gadis pertama yang mampu mengetuk hatinya.

Belum lagi tentang pengawal sialan Eva yang benar-benar membuat Ramon memiliki dendam pada lelaki itu. Fandy namanya, Ramon dapat melihat dengan jelas jika ada hubungan lebih di antara Eva dan Fandy. Cara lelaki itu menatap Eva, cara lelaki itu melindungi Eva menunjukkan jika lelaki itu memiliki rasa lebih pada majikannya, dan Ramon tidak suka dengan hal itu.

Kini, Ramon akan membalaskan semua rasa sakitnya pada Eva dan Fandy. Setelah ini, Eva akan tahu siapa dirinya hingga gadis itu tidak akan berani mempermainkannya lagi, sedangkan Fandy, setelah mengirim video mereka nanti, Ramon yakin jika Fandy juga akan merasakan rasa sakit saat melihat gadis yang di sukainya di lecehkan.

Ramon memasang kamera tersebut pada tempat yang ia sediakan, kemudian ia melangkah menuju ke arah Eva dan membuka bungkaman di mulut gadis tersebut.

“Sialan kamu! Apa yang kamu lakukan!” Eva menyembur seketika saat bungkaman di mulutnya di buka.

Slow down, baby. Aku hanya ingin mengabadikan momen berharga kita.”

“Kamu sudah gila Ramon! Lepaskan aku!”

“Tidak! Sebelum kita melakukannya.” Ramon menggeram.

“Please, lepaskan aku. Aku nggak mau ini terjadi Ramon.” Eva memohon, matanya sudah tampak berkaca-kaca.

Ramon meraih dagu Eva, mendongakkan ke arahnya. “Jangan berlebihan! Aku tahu kalau kamu perempuan sialan yang memiliki banyak kekasih. Kamu pasti sudah sering melakukannya dengan kekasih-keksihmu, benar bukan?”

Eva menggeleng cepat. “Tolong, jangan lakukan ini.”

“Aku menyukaimu, Eve, aku benar-benar menyukaimu, tapi kamu hanya mempermainkanku! Kamu hanya memanfaatkan keberadaanku untuk membuat pengawal sialanmu itu cemburu!” Ramon berseru keras.

Eva membulatkan matanya seketika, “Kamu, kamu tahu dari mana tentang hal itu?”

“Tahu dari mana? Semua terlihat jelas di wajahmu, kamu menyukainya dan kamu ingin dia memperhatikan dirimu.”

“Ramon.”

“Eve, aku menyukaimu, aku akan memperhatikanmu, aku akan melindungimu melebihi apa yang dia bisa lakukan. Jadi biarkan aku melakukannya.”

“Jangan, please, jangan lakukan.”

Ramon mengusap lembut pipi Eva, “Kameranya berfungsi untuk mengikatmu, jika setelah ini kamu masih berhubungan dengan kekasihmu yang lain, atau mungkin berbuat nekat, maka aku akan menyebar luaskan video kita nanti.”

“Jangan! Please, jangan lakukan! Hentikan Ramon, hentikan..”

Eva meronta tapi ramon tidak peduli yang ia pedulikan saat ini adalah bibir Eva yang sudah tampak menggoda untuknya. Oh, ia akan memiliki seutuhnya bibir tersebut. Secepat kilat Ramon menyambar bibir Eva, mencecap rasanya hingga membuat Ramon menginginkan lebih. Gairahnya terbangun seketika, belum lagi sikap Eva yang tidak berhenti menggeliat membuat Ramon semakin menginginkan gadis tersebut.

Saat Ramon menikmati bagaimana lembutnya bibir Eva, suara keras yang berasal dari pintu keluar membuat Ramon mengalihkan perhatiannya pada pintu tersebut.

Pintu itu sudah terbuka, di dobrak oleh seseorang, siapa lagi jika bukan Fandy. Lelaki itu berdiri di ambang pintu dengan wajah murkanya. Oh, Ramon sempat menciut menatap ke arah Fandy, tapi secepat kilat ia meraih sebuah kursi tak terpakai yang terbuat dari kayu, lalu berlari ke arah Fandy dan memukul lelaki tersebut dengan kursi itu.

Eva berteriak keras saat mendapati pemandangan di hadapannya. Dengan tenang Fandy menangkis pukulan Ramon dengan lengan kekarnya hingga membuat kursi kayu tersebut patah berserahkan.

Ramon sempat tercengang dengan aksi yang di lakukan Fandy, dan hal itu membuat Fandy bergerak cepat untuk membekuknya.

Fandy memelintir lengan Ramon ke belakang tubuh lelaki tersebut, kemudian membanting keras tubuh Ramon di atas lantai. Ramon mengaduh, meringis kesakitan, tapi itu tidak cukup untuk Fandy, di raihnya kerah baju yang di kenakan Ramon, kemudian secepat kilat ia kembali membanting tubuh kurus itu ke arah lain.

Tubuh Ramon terpental keras ke arah dinding. Darah segar keluar dari hidungnya, tapi Fandy merasa jika itu masih belum cukup. Dengan langkah lebar ia menghampiri Ramon, meraih kembali kerah baju Ramon lalu memukuli habis-habisan wajah lelaki itu.

“Fandy, cukup! Hentikan! Hentikan!” Eva berteriak menghentikan Fandy karena melihat Ramon yang sudah tidak berdaya lagi. Tapi Fandy masih saja melanjutkan aksinya memukuli lelaki yang tergeletak di hadapannya tersebut.

Please Fan, hentikan! Kamu akan membunuhnya. Kumohon hentikan!” Eva berseru lebih keras lagi. Ia tak dapat menahan tangisnya.

Dan akhirnya Fandy menghentikan aksinya, ia melihat ke arah Eva yang benar-benar tampak berantakan. Hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, rambut yang sudah berantakan, bibir yang setengah bengkak karena di cium habis-habisan oleh Ramon, di tambah lagi mata yang berkaca-kaca.

Gadis itu menangis, dan Fandy tidak suka melihatnya menangis.

Fandy berdiri seketika, menuju ke arah Eva, tanpa banyak kata, ia meraih sebuah pisau kecil yang memang selalu ia sisipkan tak jauh dari mata kakinya. Lalu secepat kilat ia memutus tali yang mengikat kedua kaki dan tangan Eva.

Setelah lepas dari ikatan tersebut, secara spontan Eva melemparkan dirinya pada Fandy, memeluk erat-erat tubuh lelaki tersebut. Sedangkan yang bisa di lakukan Fandy hanya diam ternganga dengan apa yang di lakukan Eva.

Please, bawa aku pergi, aku nggak mau di sini. Aku nggak mau di sini.” rengek Eva.

Fandy memeluk erat tubuh Eva. “Kita akan urus dia dulu.”

“Tapi Fan-”

“Aku sudah menelepon seseorang tadi.”

“Siapa? Aku nggak mau papa tahu hal ini.”

“Tuan besar pasti akan tahu, dan beliau harus tahu.” Fandy lalu membuka kemeja yang ia kenakan, kemudian memakaikannya pada Eva. Pipi Eva memerah seketika saat sadar jika sejak tadi dirinya hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. “Kamu akan masuk angin kalau tidak segera memakai baju.” Fandy berkata pelan sembari mengancingkan kemeja yang ia pakaikan pada tubuh Eva.

“Aku nggak bisa berpikir, bagaimana jika tadi kamu terlambat.”

“Aku tidak akan terlambat.” Fandy menjawab cepat.

Dengan spontan Eva kembali memeluk tubuh Fandy. Sedangkan Fandy tidak canggung lagi membalas pelukan erat dari tubuh Eva. Tak berapa lama, beberapa orang masuk ke dalam ruangan tersebut. Orang-orang tersebut memiliki postur tinggi tegap lengkap dengan jas hitam yang mereka kenakan.

“Si- siapa mereka?” tanya Eva yang tampak terkejut melihat tiga orang pria di hadapannya.

“Mereka teman-temanku dalam agensi. Aku tadi sempat menghubunginya, takut jika terjadi sesuatu denganmu, aku tidak mungkin menghubungi pengawal rumahmu yang lain sebelum memastikan apa yang terjadi denganmu.”

Eva menatap Fandy dengan tatapan lembutnya. “Aku senang kamu tidak menghubungi mereka.”

“Tapi tuan besar tetap harus tahu.”

“Aku akan memberi tahunya nanti, tidak sekarang.”

“Aku mengerti.” Fandy lalu meminta sebuah jas yang di kenakan salah seorang temannya, lalu memakaikan jas itu pada tubuh Eva. Jas tersebut cukup besar hingga saat di kenakan Eva, panjangnya mencapai lutut Eva. “Aku akan mengantarmu pulang, mereka yang mengurus sisanya.”

Eva menuruti saja apa yang di katakan Fandy, ia mengikuti kemana kaki Fandy melangkah, sedangkan jemarinya sendiri ia biarkan di genggam erat oleh Fandy. Eva merasa terlindungi jika ada Fandy di sisinya.

***

“Aku nggak mau pulang.” Eva berkata saat sudah duduk di dalam mobil.

Fandy yang akan menyalakan mesin mobil akhirnya menolehkan kepalanya pada Eva. “Apa maksudnya nggak mau pulang?”

“Aku nggak mau pulang dalam keadaan seperti ini.”

“Kita akan mampir di butik tedekat.”

“Aku nggak mau!”

“Eva.”

“Fan, aku hampir di perkosa, penampilanku berantakan, belum lagi perasaan ketakutan masih kurasakan hingga kini. Tubuhku masih gemetar, dan aku tidak ingin bertemu dengan papa atau nenek dalam keadaan seperti ini.”

Fandy menghela napas panjang, ia mengerti apa yang di rasakan Eva. “Lalu bagaimana dengan tuan besar dan nyonya besar?”

“Aku akan menghubunginya nanti.”

Fandy menganggukkan kepalanya. “Oke, kamu mau kemana sekarang?”

Eva menundukkan kepalanya, lalu menggeleng pelan. “Aku nggak tau.”

Fandy kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu mulai mengemudikan mobil tersebut. “Kita ke apartemenku saja. Kamu harus membersihkan diri dan berganti pakaian bersih di sana.” Meski di katakan dengan datar, tapi Eva senang karena Fandy terlihat begitu perhatian padanya. Eva tersenyum hangat, setidaknya, Fandy kini tidak lagi bersikap kaku dan formal padanya, dan Eva menyukainya.

***

Tiba di apartemennya, Fandy segera menuju ke arah lemari pakaiannya yang berada di dalam kamarnya, mengeluarkan sebuah T-shirtnya dan sebuah celana piyama miliknya, lalu memberikannya pada Eva yang sejak tadi sudah mengekor di belakangnya.

“Kamar mandinya di sana, kamu bisa mandi dan memakai ini.” ucap Fandy. “Aku akan keluar sebentar mencari makan malam.”

Eva tersenyum dan menganggukkan kepalanya, pipinya terasa memanas karena perhatian dan kelembutan yang di tunjukkan Fandy padanya. Sedangkan Fandy sendiri memilih segera pergi meski sebenarnya ia ingin lebih lama memperhatikan gadis di hadapannya tersebut.

Setelah Fandy pergi dan pintu depan di tutup, Eva segera menuju ke arah kamar mandi Fandy, mengunci dirinya sendiri di sana dan mulai menangis. Oh, ia merasa ketakutan, tidak pernah ia merasa setakut ini. Bagaimana jika tadi Fandy tidak segera datang menolongnya? Mungkin saat ini Ramon sudah menyentuhnya, merekam aktivitas mereka dan menyebarkannya. Eva tidak dapat membayangkan bagaimana jika hal itu terjadi.

Eva menyalakan pancuran, seketika itu juga air dingin mengguyur tubuhnya yang masih mengenakan kemeja Fandy. Ia harus membersihkan sisa-sisa sentuhan yang di berikan Ramon pada tubuhnya, sungguh, ia tidak sudi jika sisa sentuhan lelaki itu masih ada di kulitnya.

Eva melucuti pakaiannya sendiri hingga polos, lalu melanjutkan menggosok seluruh bagian kulitnya yang tadi tersentuh oleh Ramon, bibirnya, dan juga sepanjang kulit wajahnya. Setelah itu ia memilih berendam di dalam bathub. Rasanya memang sangat nyaman, bahkan mata Eva sudah hampir memejamkan matanya karena terlalu lelah dengan apa yang terjadi hari ini.

***

Fandy kembali ke apartemennya dengann membawa beberapa bingkisan di kedua tangannya, ia membelikan makan malam untuk Eva dan dirinya sendiri, dan tak lupa ia juga membelikan Eva pakaian ganti untuk di kenakan gadis tersebut.

Fandy sengaja memilih tempat yang tak jauh dari apartemennya karena ia tidak ingin meninggalkan Eva terlalu lama, gadis itu baru saja mengalami hal buruk, jadi Fandy sangat yakin jika Eva kini masih merasa ketakutan. Tadi, Fandy juga sempat melihat tangan Eva yang tak berhenti gemetaran, sorot mata gadis tersebut yang tampak ketakutan, dan itu benar-benar berbeda dengan Eva yang biasanya.

Fandy merasa jika dirinya harus melindungi nonanya tersebut, ya, ia harus melindungi Eva apapun yang terjadi. untuk Ramon, nanti ia akan membalasnya dengan menjebloskan bocah sialan itu ke dalam penjara.

Setelah masuk ke dalam apartemennya dan meletakkan belanjaannya di meja dapur, Fandy lantas mencari Eva, ia mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, tapi gadis itu tidak membukanya, apa Eva tidur?

Akhirnya Fandy membuka pintu tersebut dan dia tidak mendapati Eva di dalam sana. Fandy melirik ke arah kamar mandi, apa Eva masih berada di dalam kamar mandi? Atau jangan-jangan gadis itu….

Tanpa banyak pikir lagi Fandy mendobrak pintu kamar mandinya sendiri. Saat ini kondisi mental Eva mungkin sedikit terganggu setelah apa yang di lakukan Ramon padanya tadi, Fandy tidak ingin terjadi hal-hal serius pada Eva. Dan ketika pintu tersebut berhasil ia dobrak, Fandy mendengar jeritan Eva.

“Eva, kamu nggak apa-apa, kan?” Fandy bertanya dengan khawatir, ia bahkan memanggil nama Eva dengan namanya saja, tidak pakai embel-embel Nona seperti biasanya.

Eva berdiri di ujung bathub sembari menutupi bagian tubuhnya dengan kedua tangannya. Tadi, setelah menggosok seluruh kulitnya, Eva memutuskan untuk berendam sebentar, ternyata rasanya sangat nyaman hingga membuatnya lupa waktu, kemudian saat matanya sayu-sayu hampir tertutup karena ngantuk, tiba-tiba ia mendengar sebuah dobrakan keras yang bersumber dari pintu kamar mandi yang sedang ia tempati kini. Oh, jangan di tanya bagaimana terkejutnya Eva saat ini.

“Fandy! Kamu apa-apaan sih?” Eva berseru keras. Jengkel karena ternyata itu Fandy.

Fandy membulatkan matanya seketika menatap lekuk tubuh Eva. Ini sudah kedua kalinya ia menatap tubuh tersebut. Dulu, saat pertama kali ia tidak sengaja melihatnya, ia tidak memiliki perasaan apapun. Dan entah kenapa kini berbeda.

Kulit itu masih terlihat sama, putih mulus, tapi kini sedikit kemerahan, apa si pemiliknya sedang gugup? Dan entah kenapa itu yang membuat Fandy tidak berhenti menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat, perutnya melilit karena menahan gairah yang tiba-tiba saja terbangun dari dalam tubuhnya.

Man, apa yang terjadi denganmu?

Fandy bertanya pada dirinya sendiri. Dengan canggung Fandy membalikkan badannya memunggungi Eva. “Kupikir, kupikir terjadi sesuatu denganmu.”

“Aku baik-baik saja.”

“Oke, aku keluar.” Fandy berkata jika dirinya akan keluar, tapi kakinya belum juga bergerak melangkah pergi. Ia seakan terpaku di tempatnya berdiri. Sungguh, ia tidak ingin pergi dari hadapan Eva.

“Fan.” Panggil Eva karena sedikit heran dengan tingkah Fandy yang sedikit aneh untuknya. Eva segera meraih T-shirt yang di berikan Fandy padanya tadi, mengenakannya begitu saja, lalu berjalan menuju ke hadapan Fandy. “Ada apa?” Eva bertanya dengan lembut.

Fandy kembali ternganga melihat Eva yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Gadis itu sudah mengenakan T-shirt miliknya yang tampak kebesaran. Dan itu tampak benar-benar menggoda untuk Fandy, belum lagi tubuh gadis itu yang masih basah hingga membuat T-shirt yang di gunakannya juga ikut basah.

Fandy memalingkan wajahnya seketika, ia harus bisa mengendalikan dirinya, jika tidak, maka ia yakin jika malam ini mereka tidak akan selamat.

“Ada apa?” tanya Eva lagi.

“Jauhi aku.” Hanya itu yang di ucapkan Fandy.

Eva tercengang dengan apa yang di katakan Fandy. Jauhi? Apa maksudnya? Apa Fandy ingin dirinya keluar dari apartemen ini dan meninggalkan lelaki itu sendiri? Tapi kenapa? Kenapa Fandy tega mengusirnya?

Tanpa banyak kata, dengan kesal Eva keluar dari dalam kamar mandi Fandy, sepertinya Fandy memang ingin dirinya pergi dari sini. Tapi ketika Eva akan membuka pintu kamar Fandy, tubuhnya tiba-tiba di balik seseorang dari belakang. Fandy memenjarakan tubuh Eva dengan kedua lengannya.

“Jangan pergi.”

Eva benar-benar bingung dengan sikap Fandy. “Kamu sebenarnya kenapa? Mau apa?”

Fandy menundukkan kepalanya. Matanya terpaku mentapa bibir Eva. “Aku mau kamu.” Entah dari mana datangnya kalimat itu. Fandy bahkan tidak sadar sudah mengucapkan kalimat tersebut.

“Ma- maksudmu?” Fandy tidak menjawab, ia malah menundukkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir Eva, mengecupnya lembut kamudian melepaskannya kembali.

Jemari Fandy terulur mengusap lembut pipi Eva. “Kamu membuatku tergoda.” Bisiknya serak. “Tapi aku tidak bisa melakukannya mengingat apa yang sudah terjadi denganmu hari ini, aku nggak mau kamu semakin takut.”

Fandy akan menjauh, tapi Eva malah melingkarkan lengannya pada leher Fandy. “Aku tidak akan takut jika itu kamu.”

“Apa?”

“Aku tidak takut jika itu orang yang kusuka.”

Mendengar itu, Fandy memberanikan diri untuk kembali menyentuh bibir Eva dengan bibirnya. “Setelah itu, kamu akan menjadi milikku.”

“Aku memang ingin kamu miliki.”

“Aku tidak akan melepaskanmu.”

“Maka jangan lepaskan.” Eva membalas ucapan Fandy dengan pasti.

Fandy kembali menempelkan bibirnya pada bibir Eva, melumatnya dengan lembut, mencecap rasanya hingga gairahnya kembali menanjak. Diraihnya pinggang Eva, di angkatnya tubuh gadis tersebut menuju ke atas ranjangnya.

Fandy masih saja mencumbu permukaan bibir itu, seakan tidak bosan dengan rasanya, tidak lelah dengan pergerakannya. Jemarinya menyibak T-shirt kebesaran yang di kenakan Eva, berjalan di balik T-shirt tersebut dengan sesekali menggoda kulit lembut Eva.

Jemarinya lalu berhenti pada dada Eva, oh, benar-benar terasa pas di tangannya, memijat dengan lembut, menggoda puncaknya hingga sang pemilik tak kuasa menahan diri untuk mengeluarkan erangannya.

Bibir Fandy turun, menyusul jemarinya, ikut menggoda di sana, mencecap rasanya, meninggalkan jejak-jejak basah seakan mengklaim jika itu miliknya. Oh ya, kini Eva hanya akan menjadi miliknya.

Setelah puas menggoda, bibirnya kembali turun, turun lagi dan lagi hingga berada pada pusat diri Eva. Menatapnya sebentar, mengagumi keindahannya, sebelum kemudian mendaratkan bibirnya di sana.

“Ohhh…” Eva mendesah panjang.

“Heemmm.” Fandy menggeram tanpa meninggalkan pusat diri Eva. Rasanya nikmat, Ya, Eva memiliki rasa yang enak, aroma yang semakin menaikkan gairahnya, bahkan Fandy seakan bisa meledak saat ini juga ketika ia menggoda pusat diri gadis yang terbaring pasrah di hadapannya tersebut.

“Ohhh, astaga, astaga…” Eva menjerit karena pelepasan pertamanya, rasanya benar-benar luar biasa. Astaga, ia memang bukan gadis baik-baik, tapi tentang hal intim seperti ini, merupakan pengalaman pertamanya.

Fandy mengangkat wajahnya, tersenyum saat melihat reaksi Eva. Oh, biasanya gadis itu yang tampak selalu agresif dan memegang kendali, namun kini, Eva seakan tak memiliki kekuatan dan hanya bisa pasrah di hadapannya.

Fandy lantas berdiri, melucuti pakaiannya sendiri, membebaskan bukti gairahnya yang sudah berdenyut dan nyeri. Entah sejak kapan ia menjadi lelaki mesum seperti sekarang ini. Seks tidak menjadi kebutuhan utamanya, bahkan bisa di bilang, ia tidak pernah memikirkannya, ia juga tidak pernah melakukan seks dengan wanita sebelumnya. Ini benar-benar pengalaman pertamanya, tapi bukan berarti ia buta tentang seks. Dan ia ingin ini menjadi indah untuk mereka berdua.

Fandy kembali menindih Eva, mengusap lembut pelipis gadis itu yang sudah mulai berkeringat karena pelepasan yang ia berikan.

“Kamu mau aku lanjut, atau kita berhenti di sini?” tanya Fandy yang masih setia menatap Eva, mengagumi kecantikan gadis di hadapannya tersebut.

Eva tidak menjawab, ia hanya mengalungkan lengannya pada leher Fandy dan menariknya untuk mendekat kepadanya. Fandy sedikit tersenyum melihat tingkah Eva.

“Itu tandanya kamu ingin lanjut.” Bisik Fandy sebelum kembali melumat lembut bibir Eva. “Ini pengalaman pertama bagiku, tapi aku akan berusaha yang terbaik untuk membuatmu senang.” bisik Fandy.

“Jadi, malam itu kita tidak melakukannya?” tanya Eva.

Fandy tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu ini juga pengalaman pertama untukku.” Oh, mendengar pengakuan Eva membuat Fandy merasa lega. Selama ini ia berpikir jika Eva adalah gadis nakal yang mungkin saja sudah pernah tidur dengan kekasih-kekasihnya, mengingat sikapnya yang selalu agresif dan centil padanya, tapi ternyata gadis ini masih murni.

“Baiklah, aku akan memulainya.” Fandy memposisikan dirinya untuk menyatu dengan Eva, tapi tiba-tiba, Eva mencengkeram lengannya. Fandy menghentikan aksinya dan menatap Eva dengan tatapan tanda tanya.

“Aku, aku takut.” Dengan gugup Eva mengungkapkan apa yang ia rasakan.

Fandy mengusap lembut pipi Eva sambil berkata. “Aku tidak akan menyakitimu, aku janji.” Setelah kalimatnya tersebut, Fandy mendaratkan bibirnya kembali pada bibir Eva, melumatnya lembut, menggodanya, berharap jika cumbuannya mampu menenangkan Eva, mampu meyakinkan gadis itu jika semua akan baik-baik saja. Sedangkan yang di bawa sana tak berhenti mendesak, mencari jalan untuk penyatuan terindah antara tubuh mereka, sampai ketika Fandy menemukan penghalang tersebut, Fandy mendesak lebih keras lagi hingga penyatuan sempurna di antara keduanya tak terelakkan lagi.

-TBC-

Advertisements

7 thoughts on “Evelyn – Chapter 10 (Pengalaman pertama)

  1. Akhirx abang fandy nyerah jg hahaaa…
    Duhhh kpn lh hot hotnya malah TBC nihhh…
    Penasarannnnn jgn lama2 yaaa….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s