romantis

Samantha – Bab 3

Samantha

 

Bab 3

 

“Aku hamil.” Dua kata itu menghentikan langkahnya seketika, tubuhnya membeku tanpa pergerakan sedikitpun. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Ekspresinya, jangan di tanya lagi. Aku takut, takut jika dia menolak kehadiran bayinya, takut jika dia berbuat nekat padaku atau pada bayi ini. Tuhan, semoga aku sanggup menghadapi semua reaksinya padaku setelah dia mengetahui kenyataan ini.

Kebisuan Nick membuatku menggigil, ekspresi shocknya membuatku mual, ini akan berakhir buruk, aku tahu itu. Nick tidak suka dengan apa yang kukatakan, dan dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Hingga kemudian, dia melanjutkan langkahnya menginggalkanku, seakan apa yang kukatakan tadi bukanlah hal yang serius, bukan suatu hal yang mengganggunya. Dia mengabaikanku. Dan yang bisa ku lakukan hanya satu, menangis.

***

Hari-hari yang kulalui setelah malam itu begitu berat. Nick benar-benar mengabaikanku, dia sama sekali tidak peduli dengan keadaanku yang memburuk. Mual muntah berlebihan setiap hari hingga nyaris membuatku di rawat di rumah sakit.

Aku sakit, dan entah kenapa hatiku juga merasa tersakiti karena sikap yang di tampilkan Nick padaku. Aku menginginkannya, menginginkan untuk lebih dekat dengannya, aku menginginkan dia perhatian padaku, tapi nyatanya itu hanya keinginanku. Aku tidak mengerti dari mana datangnya keinginan ini. Dan aku bingung dengan sikapku yang mudah sekali menangis seperti ini.

Tentang Ethan, aku masih sering mengunjunginya, bahkan hampir setiap hari, tapi aku merasa ada sesuatu yang hilang di sana, sesuatu yang dulu memaksaku bertahan untuk menunggunya. Tapi dua bulan kemudian, ketika dia benar-benar sadar untukku, yang ku rasakan adalah rasa takut. Bukan takut jika Ethan marah ketika mengetahui keadaanku saat ini, tapi aku takut jika Nick mengembalikanku padanya.

Sekali lagi kuusap lembut perutku yang sudah sedikit berbentuk, mengingat waktu empat bulan terakhir membuatku kembali menangis. Aku seperti hidup di dalam sebuah neraka, neraka yang di ciptakan oleh suamiku sendiri.

Nick memang tidak melakukan apapun terhadapku, tapi kebisuannya membuatku tersakiti, rasa tidak pedulinya membuatku seakan-akan tak di inginkan. Apa yang akan terjadi setelah ini? Haruskah aku melakukan apa yang di rencanakan oleh Nick? Bersembunyi dari Ethan, melahirkan bayi ini, mencarikan orang tua asuh untuknya, lalu kembali lagi pada Ethan seperti tidak terjadi apapun? Bisakah?

Kembali menghela napas panjang, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang besar yang terasa dingin, mencoba memejamkan mata dan menghilangkan bayangan-bayangan Nick yang membuatku tersakiti. Aku harus istirahat, demi diriku, demi bayiku.

***

Esoknya, setelah mandi dan berganti pakaian, sedikit terkejut saat tiba-tiba Nick masuk ke dalam kamar kami. Aku yakin jika ada sesuatu yang akan dia bicarakan padaku, dan ternyata….

“Bereskan pakaianmu.”

“Ada apa?”

“Kau akan pindah.”

“Apa? Pindah? Pindah ke mana?”

“Apartemenku, minggu depan Ethan mungkin sudah pulang, dan aku tidak ingin dia melihat kau ada di rumah ini dengan keadaanmu yang seperti itu.”

“Kenapa dengan keadaanku? Aku hanya hamil, bukan terjangkit penyakit menular, jadi berhenti berbicara sinis tentang keadaanku.” Aku tak sanggup lagi menahan kalimat itu untuk tidak keluar dari mulutku. Sungguh, sikap yang di tampilkan Nick benar-benar membuatku mual.

“Jangan mempersulitku, sialan! Kau yang menginginkan ini terjadi, ini adalah keputusanmu untuk mempertahankan bayi itu, jadi kau harus menanggung resikonya.”

“Resiko?”

“Ya, resiko, sekarang cepat bereskan pakaianmu dan mari kita pergi.”

Aku kembali ternganga dengan sikap yang di tampilkan Nick padaku. Begitukah sifat aslinya? Sekasar itukah? Sekejam itukah?

***

Hari ini, Nick benar-benar memindahkanku ke apartemennya. Rupanya ini sudah ia rencanakan jauh-jauh hari. Terlihat jika apartemen yang akan ku tempati ini terlihat begitu rapih, siap huni dan juga semua sudah tersedia di sana.

Aku menatap ke seluruh penjuru ruangan. Apartemen ini tidak jauh berbeda dengan kamar Nick. Bercat hitam, dan suasananya terasa begitu dingin, seakan tidak ada sedikitpun keceriaan di sana.

“Semuanya sudah ku siapkan, kau bisa masak, dan lain sebagainya, semua bahan sudah ada di dapur.”

Aku menatap Nick dengan mata senduku. Nick kemudian melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruangan.

“Ini kamarmu, kau akan tidur di sini nanti.”

“Dan kau?”

“Aku? Aku tetap akan tinggal di rumah.”

“Maksudmu, kau akan meninggalkanku untuk tinggal di apartemenmu yang dingin ini sendiri?”

“Lalu apa yang kau inginkan? Ethan akan curiga jika aku tidak tinggal di rumah kami.”

“Nick, kita tidak akan bisa menyembunyikan semua ini dari Ethan, bagaimana dengan media? Ethan akan tahu ketika dia sudah membaca berita tentang dirimu.”

“Aku akan melakukan apapun supaya Ethan tidak mengetahui tentang hubungan sialan ini.”

“Termasuk membiarkan perempuan hamil tinggal di apartemen sebesar ini sendirian?”

Nick menghela napas kasar. “Jangan berlebihan, aku akan sering-sering mengunjungimu ke sini.”

Aku menangis, dan aku sungguh membenci air mata ini. Oh, ini benar-benar terasa berat. Aku tidak ingin tinggal sendiri tanpa bisa melihat Nick. Entahlah, aku hanya ingin selalu dekat dengannya.

Aku melihat Nick berjalan menuju ke arah pintu keluar, apa dia benar-benar meninggalkanku di sini sendiri?

“Kau tahu Nick, aku melihatmu sebagai seorang pengecut.” Kalimat itu keluar begitu saja tanpa bisa ku tahan.

Nick menghentikan langkahnya. “Dan apa kau tahu, jika penilaianmu tidak berarti untukku?” Nick membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. “Aku sudah pernah mengecewakan Ethan sebelumnya, membuatnya gagal menikah dengan wanita yang ia cintai, dan kini, aku akan melakukan apapun untuk kembali menyatukan dia dengan wanita yang dia cintai.”

Aku mengerutkan keningnku, tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan, tapi belum sempat aku bertanya lagi, Nick sudah pergi meninggalkanku. Dia benar-benar meninggalkanku sendiri di sini.

***

Malamnya…

Aku lapar. Sejak Nick pergi, aku menghabiskan waktuku di dalam kamar. Yang bisa kulakukan hanya menangis dan ketakutan. Oh, aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi denganku. Setelah kedua orang tuaku meninggal, aku hanya tinggal sendiri, dan bisa hidup mandiri di dalam rumah sederhana kami. Aku tidak takut, tidak juga merasakan perasaan tidak nyaman seperti yang kurasakan saat ini, tapi entah kenapa saat ini aku merasakan perasaan campur aduk seperti ini.

Rasa takut, rasa benci rasa rindu semua bercampur aduk menjadi satu hingga yang dapat kulakukan saat ini hanya menangis, apa ini ada hubungannya dengan kehamilanku? Mungkin saja.

Aku bangkit, menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesi, aku menuju ke arah dapur, melihat apa yang bisa di masak di sana.

Ternyata Nick sudah menyiapkan semuanya, ada daging, ayam, sayur yang sudah siap masak. Beberapa makanan kaleng, dan juga snack. Sedikit bingung tentang menu makan malamku.

“Kau mau apa?” tanyaku pada perut buncitku, dan aku hanya bisa tersenyum menertawakan diriku sendiri.

Selama ini aku tidak cukup perhatian dengan kehamilanku, semuanya karena aku terlalu sibuk memilikirkan perasaanku terhadap Ethan maupun Nick. Kini, aku baru sadar jika aku harus lebih memperhatikan dia jika aku ingin mempertahankannya.

Aku memilih-milih sayuran di dalam lemari pendingin, tapi tidak berselera, melihat daging yang masih mentah saja membuatku sedikit mual. Akhirnya aku memilih memasak makanan kaleng. Kuraih sebuah makanan kaleng, lalu kucoba membuka kaleng tersebut. Dan…

‘Cetaakkk’ Alat pembukanya patah.

Astaga, apa aku benar-benar sial hari ini? Kuraih satu lagi makanan dalam kaleng tersebut, kemudian aku mencoba membukanya dengan lebih hati-hati. Lagi-lagi…

‘Cetaakkk’ alat pembukanya kembali patah.

Dengan kesal, kulemparkan saja kaleng tersebut ke sembarang arah, kemudian aku mulai menangis. Aku lapar, dan aku kesal dengan apa yang menimpaku saat ini.

Kuraih telepon apartemen dan mencoba menghubungi seseorang.

“Halo?” teleponku di angkat pada deringan kedua oleh Nick. Ya, entahlah, aku ingin menghubunginya.

“Aku lapar.” Astaga, jika kalian pernah melihat anak kecil yang merengek pada ibunya ketika meminta mainan, seperti itulah aku saat ini. Menangis dan merengek pada Nick. Apa yang terjadi denganku?

“Lapar? Kau bisa memasak, banyak makanan di dalam lemari pendingin.”

“Aku tidak ingin masak, Nick, aku ingin makanan kaleng, dan kalengnya tidak bisa terbuka.”

“Apa?”

“Pengaitnya patah setiap kali aku membukanya.” Lagi-lagi aku merengek. Dan tanpa di duga, dengan begitu menjengkelkannya, Nick memutus sambungan telepon kami.

Aku kembali menangis, kulemparkan saja telepon tersebut ke sembarang arah sama seperti aku melemparkan kaleng makanan tadi. Entahlah, aku hanya terlalu kesal. Yang bisa ku lakukan saat ini hanya kembali ke tempat tidur, menangis hingga lelah dan ketiduran, mungkin aku akan berakhir mati kelaparan di dalam apartemen ini, atau, apa memang seperti itukah yang di inginkan Nick?

***

Kembali terbangun saat aku merasakan tubuhku di goncang-goncang oleh seseorang. Mataku terbuka seketika saat sadar jika itu adalah Nick. Dia datang kembali.

Perasaan senang dan bahagia datang menghampiriku, aku bahkan melupakan rasa kesal yang tadi kurasakan hingga membuatku tidak berhenti menangis.

“Makanlah.” Nick memberiku sebuah nampan berisikan makan malam yang tadi kuinginkan.

“Kau memasaknya?”

“Ya.”

“Kau bisa membuka kalengnya?” tanyaku lagi dengan begitu bodohnya.

“Ya.”

Secepat kilat kuraih nampan tersebut dan mulai memakannya dengan begitu lahap. Rasanya sangat nikmat, dan entah kenapa aku merasakan jika masakan ini adalah masakan terenak yang pernah kumakan. Apa Nick menambahkan bumbu lain dalam makanan kaleng ini ketika memasaknya? Entahlah, yang pasti aku sangat menyukainya.

“Kau benar-benar kelaparan?” Nick bertanya masih menatapku dengan tatapan herannya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa menghentikan aksi makanku yang benar-benar terlihat seperti orang yang kelaparan.

“Bisakah kau makan dengan lebih pelan?”

Aku menggelengkan kepala. “Aku tidak makan sejak pagi tadi, apa salah jika cara makanku berlebihan? Bayiku juga kelaparan.” Setelah jawabanku tersebut, Nick tidak lagi berkomentar. Ia memilih membalikkan tubuhnya kemudian melangkah pergi.

“Kau mau ke mana?” tayaku lagi. Sungguh, aku tidak ingin dia meninggalkanku malam ini. Ada apa denganku?

“Membersihkan dapur.” jawaban singkat itu membuatku sedikit tersenyum lega. Setidaknya Nick tidak akan pergi meninggalkanku malam ini.

***

Aku benar-benar merasa kenyang setelah menghabiskan makanan yang di masakkan oleh Nick. Aku bangkit dan membawa bekas piringku menuju ke arah dapur, rupanya, Nick masih berada di sana. Lelaki itu tampak sibuk mencuci bekas-bekas wadah yang ia gunakan untuk memasak tadi, dan aku kembali tersenyum.

Jantungku berdebar tak beraturan. Andai saja jalan hidup kami tak serumit ini, mungkin aku dan Nick bisa hidup bahagia bersama dan menantikan kehadiran buah hati kami.

Aku melangkahkan kakiku menuju ke arah Nick. Kemudian mulai bertanya untuk menghilangkan kebisuan dan kegugupan di antara kami.

“Kau menambahkan sesuatu dalam makanan tadi?” tanyaku sambil membersihkan piring bekas tempatku makan.

“Berikan padaku, biarkan aku yang mencucinya.” Nick merebut piringku, kemudian mencucinya dengan cekatan, sedangkan aku hanya pasrah sambil menatapnya. “Tidak, aku tidak menambahkan apapun.”

“Tapi rasanya berbeda dengan makanan kaleng biasanya.”

“Mungkin pabriknya merubah resepnya.” jawabnya datar. Dan aku hanya mengerutkan keningku. “Kau mau tambah?” tanya Nick tiba-tiba.

“Aku sudah sangat kenyang.” jawabku sambil mengusap perut buncitku. Nick menatap apa yang kulakukan, tapi secepat kilat ia memalingkan wajahnya. Ya, aku tahu jika dia masih tidak menginginkan bayi ini. Tapi biarlah, aku sudah terbiasa dengan sikap acuh tak acuhnya.

Karena Nick masih menyibukkan dirinya sendiri di dalam dapur, akhirnya dengan sedikit canggung aku meninggalkannya, duduk di depan televisi dan mulai menyalakan televisi di hadapanku tersebut.

Cukup lama aku menonton siaran ulang drama romantis komedi yang di putar di salah satu chanel  Tv tersebut sebelum Nick datang menegurku.

“Sudah malam, harusnya kau kembali tidur.”

Aku menatap ke arah Nick, dia sudah mengenakan mantelnya dan juga topinya. Dia akan pergi, aku tahu itu.

“Kau pergi?”

“Ya.” jawabnya pendek.

“Ba- bagaimana  jika nanti aku membutuhkan sesuatu?”

“Jika kau tidur, kau tidak akan membutuhkan sesuatu.”

Kurasakan pandanganku mulai mengabur, mataku kembali berkaca-kaca. Ah, bagaimana mungkin aku bisa secengeng ini? Nick tetap melanjutkan langkahnya menuju ke arah pintu keluar tanpa menghiraukanku.

Dan entah keberanian dari mana yang datang padaku, secepat kilat aku berdiri, berlari menuju ke arah Nick, kemudian memeluk erat tubuhnya dari belakang.

“Jangan pergi.” ucapku tanpa bisa kutahan.

Nick membatu karena ulahku, tubuhnya kaku dan beku, seakan tak percaya dengan apa yang kulakukan saat ini. Ya, bahkan aku sendiri saja tidak percaya dengan apa yang kulakukan saat ini. Aku begitu berani, begitu bodoh. Kenapa aku melakukan hal ini? Dan satu-satunya jawaban kini menari-nari dalam kepalaku.

Aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku.

-TBC-

Advertisements

7 thoughts on “Samantha – Bab 3

  1. Suka banget sma cerita2 mbk zenny ini.. mulaaii dri the badboy series smpe seekarang… g bosen2 bacanya…
    Di tunggu update cerita2 terbarux mbk… semangat ya…

    Like

  2. Kurang panjanngggg buuu 😊.
    entah apa yng ada d pikiran na nick , ko q ngerasa makin ksini dia sengaja menghindari sam , dan apa maksud dia tadi , sbner na apa yng terjadi ma nick dan ethan dulu , ko seperti na nick merasa bersalah ma ethan dan menyesal gitu ….
    kasian sam , mungkin bawaan baby na dia pengen deket” ma nick trus , tapi lucu juga pas dengan bodoh na sam nanya k nick dia biza mmbuka kaleng na 😁.

    Like

  3. Huuuuu😭😭
    Pengn nangis ngliat hidupnya samantha
    Si nick datar amat,, jadi gak tega digituin ama nick
    Bner kata yg lain… kurg panjang😁😂
    Tapi gak papa.. cerita nya bagus kok
    Next chap!!

    Like

  4. Baby nya pengen deket” ma ayahnya…suka ma nick yang bela”in masak buat sam penasaran ma kelanjutannya jangan lama” ya kak ceritanxa dlanjut

    Like

  5. Walau cuek,,sprtinya Nick mnrma khdiran bayinya.. Hormon ibu hamil emng pngnnya yg aneh2,,entah itu ingin dimanja atau pngn sllu dkt suami hehehe
    kata2 Nick misterius bgt mngenai kisah cinta Ethan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s