romantis

Lovely wife – Chapter 5 (Membunuhku dengan kenikmatan)

Lovely wife

 

Chapter 5

-Membunuhku dengan kenikmatan

 

Setelah seharian senam jantung, jantung Nadine tidak di biarkan beristirahat walau hanya sebentar saja, ia kembali berdebar-debar saat Dirga menunjukkan kamar hotel mereka. Oh, ia merasa sangat gugup karena berada dalam satu ruangan dengan lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya.

Nadine tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya, dan kenapa juga Dirga mengajaknya masuk ke dalam kamar mereka, bukankah ini masih sore? lagi pula, kalau malam memangnya kenapa? Apa mereka akan melakukan malam pengantin seperti kebanyakan orang pada umumnya? Sepertinya tidak.

Nadine mengalihkan pandangannya seketika saat Dirga dengan santainya membuka pakaian yang lelaki itu kenakan. Astaga, apa Dirga tidak merasa risih sedikitpun?

“Aku mandi dulu.” ucap lelaki itu pendek. Nadine masih mengalihkan pandangannya ke arah lain, hingga kemudian suara Dirga membuatnya mengangkat wajah.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Dirga sedikit heran saat melihat Nadine tidak berani menatap ke arahnya.

Nadine hanya diam, ia tidak berani menjawab.

“Malu?” Dirga lalu mendekat ke arah Nadine, kemudian mengangkat wajah wanita itu padanya “Tidak perlu malu, kamu pernah melihat lebih dari ini. Lagi pula, setelah ini kamu akan sering melihatku seperti ini, ‘telanjang di hadapanmu’. Ingat, aku sudah menjadi suamimu.”

Setelah kalimat yang di ucapkan dengan sedikit tersenyum tersebut, Dirga meninggalkan Nadine begitu saja yang masih ternganga karena ulahnya.

Oh, apa lelaki itu baru saja menggodanya? Nadine mengusap kedua pipinya sendiri yang entah kenapa terasa memanas. Sial! Dirga benar-benar mempengaruhinya.

***

Setelah mandi, Nadine sedikit terkejut ketika ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Dirga yang sudah duduk di depan meja yang penuh dengan makan malam. Lelaki itu tampak santai dengan kemeja putihnya. Jemarinya sudah membawa segelas anggur, dan lelaki itu sesekali menyesapnya sambil menatap ke arah Nadine.

“Sudah selesai? Kita bisa makan malam dulu.”

Nadine mengangkat sebelah alisnya. “Makan malam di sini saja? Nggak bareng yang lainnya?”

“Tentu saja, mereka akan mengerti kalau ini malam pengantin kita.”

Nadine menelan ludah dengan susah payah saat mendengar jawaban Dirga. Malam pengantin? Jadi mereka berdua akan menjalani ritual malam pengantin seperti pasangan-pasangan lainnya? Entah kenapa kegugupan kembali melanda diri Nadine.

“Kenapa merah gitu? Kamu nggak mau melakukan malam pengantin bersamaku?”

Oh, apa Dirga bisa berhenti berkata terang-terangan padanya? Astaga, apa lelaki ini tidak memiliki sedikit saja kegugupan atau kecanggungan saat berada di dekatnya? Nadine benar-benar tak habis pikir dengan apa yang di rasakan Dirga saat ini.

“Bukan gitu.” Hanya itu jawaban Nadine. Please, santai saja. Lelaki di hadapanmu saja bisa bersikap sesantai itu, kenapa kamu yang jadi salah tingkah seperti saat ini? Nadine merutuki dirinya sendiri.

Mencoba santai, Nadine duduk di hadapan Dirga, kemudian meraih segelas anggur di hadapannya, kemudian menyesapnya sedikit.

“Jangan terlalu banyak, aku mau malam ini kita melakukannya saat kamu masih dalam keadaan sadar.”

Perkataan Dirga sontak membuat Nadine tersedak anggur yang di minumnya. Oh, kenapa juga Dirga lagi-lagi membahas tentang apa yang akan mereka lakukan malam ini.

Saat Nadine sibuk terbatuk-batuk, Dirga malah menertawakan Nadine. Apa kini ia tmpak lucu di hadapan lelaki itu? oh, bagus sekali Nadine, kamu sekarang jadi bahan tertawaan oleh lelaki itu.

Setelah puas tertawa, Nadine melihat Dirga berdiri , dengan santai lelaki itu menuju ke arah home teater yang di sediakan oleh hotel tersebut. Astaga, Nadine bahkan baru menyadari bagaimana megahnya kamar hotel yang ia tempati saat ini, sangat mewah, dan peralatannya begitu lengkap, bahkan ketika melirik ke arah ranjang di hadapannya, Nadine sempat terperangah mendapati ranjang tersebut yang begitu besar dan megah, lengkap dengan bunga mawar merah yang di bentuk seperti hati.

Saat Nadine sibuk dengan pikirannya dan juga keadaan di sekitarnya, ia mendengar suara musik yang di putar, musik yang terdengar lembut dan romantis di telinganya.

Ia menatap ke arah Dirga yang sudah berjalan menuju ke arahnya, lelaki itu sedikit menyunggingkan senyum miringnya, kemudian jemarinya terulur meminta jemari Nadine.

“Kupikir, dansa akan membuatmu sedikit rileks.” ucapnya lembut.

Rileks? Astaga, Nadine tidak yakin jika dirinya akan rileks saat berada di dekat Dirga. Tapi, hanya duduk membatu di sinipun tidak akan membantu. Akhirnya Nadine kembali menyesap anggurnya, berharap supaya anggur tersebut memberinya kekuatan untuk melupakan kegugupannya, kemudian diraihnya jemari Dirga, dan ia bangkit dari duduknya.

Dirga menarik tangan Nadine hingga membuat tubuh wanita itu mendekat, membentur dadanya. Lalu dengan penuh keahlian, Dirga mulai melangkahkan kakinya, mengikuti irama musik. Matanya tidak berhenti menatap ke arah Nadine, wanita yang kini menjadi wanita tercantik di dunia, setidaknya itu baginya saat ini.

Ya, Dirga akan melihat siapa saja menjadi wanita tercantik di dunia saat ia benar-benar menginginkan wanita itu di atas ranjangnya. Dan kini, ia benar-benar menginginkan Nadine di atas ranjangnya. Jangan tanya bagaimana frustasinya Dirga dua minggu terakhir. Astaga, setiap saat ia mengingat malam itu, malam dimana Nadine mendesah karena sentuhannya, malam dimana ia mendapatkan kepuasan luar biasa hingga ia menginginkannya lagi dan lagi, seakan tak ingin berhenti. Bagaimana bisa wanita ini membuatnya candu seperti sekarang ini?

“Apa kamu tahu, aku nggak pernah memikirkan hal ini terjadi.” Dirga berkata dengan suara seraknya. “Menikah sama sekali tidak ada dalam kamusku, terikat dengan satu wanita itu bukan diriku. Tapi kamu, kamu membuatku memilih jalan itu.”

Nadine mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Dirga, lelaki itu tampak sungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kenapa?”

“Karena aku menginginkanmu.” Dirga menjawab cepat.

“Hanya ingin? Bagaimana jika rasa inginmu hilang dan berganti rasa bosan?”

“Maka jangan sampai membuatku bosan.”

Jawban Dirga membuat Nadine ternganga. Nadine lalu menelan ludahnya dengan susah payah. “A- apa yang membuatmu tidak bosan?”

Dirga sedikit tersenyum lalu mengusap lembut pipi Nadine. “Banyak, aku akan menunjukkan padamu nanti.”

“Dan ketika kak Dirga tetap bosan?”

“Maka aku akan bermain-main di luar sebentar untuk menghilangkan kebosananku.”

Entah apa yang di rasakan Nadine saat ini. Dadanya terasa sesak mendengar jawaban lelaki itu. apa itu tandanya jika lelaki yang sudah menjadi suaminya ini akan mencari penggantinya di luar sana untuk menghilangkan kebosanannya? Bagaimana mungkin Dirga mengucapkannya dengan begitu santai seperti tidak terjadi apapun?

Dengan berani Nadine mengalungkan lengannya pada leher Dirga, kakinya sedikit berjinjit untuk menggapai bibir Dirga.

“Aku tidak akan membiarkan Kak Dirga bermain-main di luar sana dengan wanita lain walau hanya sebentar.” Nadine berkata antara sadar dan tidak sadar. Ia hanya menyuarakan isi hatinya. Oh, tentu saja ia tak akan membiarkan Dirga bermain-main dengan wanita murahan di luar sana, lelaki ini sudah menjadi miliknya, suaminya.

Dirga sedikit tersenyum dengan apa yang di lakukan Nadine. “Hmm, mau menjadi istri posesif, ehh?”

“Bukan, aku hanya melindungi apa yang menjadi milikku.”

“Berani menunjukkan kepemilikankmu?”

Nadine tidak menjawab, dia malah menyunggingkan senyuman manisnya.

Dirga menghentikan gerakannya, kemudian menangkup kedua pipi Nadine. “Dengar, bukan aku yang menjadi milikmu, tapi kamu yang menjadi milikku, dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh apa yang sudah menjadi milikku.” Setelah kalimatnya tersebut, Dirga mendekatkan wajahnya pada wajah Nadine kemudian menempelkan bibirnya pada bibir ranum wanita tersebut. Menciumnya dengan lembut hingga membuat gairah keduanya terbangun seketika.

Sedikit demi sedikit Dirga mendorong tubuh Nadine hingga menempel pada dinding terdekat tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, jemari Dirga mulai berani membuka pakaian yang di kenakan Nadine, sedangkan Nadine sendiri seperti membiarkan apa yang di lakukan Dirga. Ya, mereka sudah suami istri, jadi apa lagi yang membuatnya menolak? Perasaan? Bahkan Nadine sendiri kini sudah bingung dengan perasaan yang ia raskan.

Nadine membalas setiap cumbuan yang di berikan oleh Dirga, ia masih setia melingkarkan lengannya pada leher lelaki tersebut, dengan sesekali meremas rambut Dirga ketika lelaki itu berhasil meloloskan pakaian yang ia kenakan.

Dalam sekejap, Nadine sudah berdiri tanpa sehelai benangpun, pakaiannya jatuh tepat di bawah kakinya, di lucuti oleh lelaki yang kini suidah berstatus sebagai suaminya, dengan berani, Nadine membuka kancing-kancing kemeja yang di kenakan Dirga, Dirga membiarkan apa yang di lakukan Nadine karena dia lebih sibuk menikmati pemandangan di hadapannya yang membuat gairahnya semakin memuncak.

“Sejak kapan kamu memiliki tubuh seindah ini?” Dirga bertanya dengan suara seraknya. Nadine tidak menghiraukan apa yang di tanyakan oleh Dirga, ia masih sibuk melucuti pakaian lelaki di hadapannya tersebut.

Tampak tubuh Dirga yang berdiri tegap dengan otot-otot yang tampak menyembul di lengannya, dada bidang serta perut kotak-kotak  seperti model pria dewasa asal luar negeri. Oh, Nadine bahkan sempat menahan napas ketika melihat bagaimana bergairahnya lelaki tersebut saat setelah ia melucuti celana yang di kenakan Dirga.

“Kenapa?” tanya Dirga pada Nadine saat Nadine tidak berhenti menatap bagian tubuhnya yang paling intim.

“Uum, aku, apa aku boleh menyentuhnya?” Nadine bertanya begitu saja, ia bahkan tidak sadar karena telah menanyakan kalimat tersebut. Apa ini efek anggur yang tadi ia minum? Atau, ini karena gairah dalam tubuhnya yang sudah mempengaruhi logikanya? Entahlah.

Dirga tersenyum, diraihnya jemari mungil Nadine, lalu di kecupnya lembut jemari-jemari tersebut sebelum kemudian membawanya pada bukti gairahnya.

“Sentuhlah, semaumu.”

Nadine tersenyum mendengar  penyerahan yang di lakukan Dirga. Ia kemudian berlutut di hadapan lelaki tersebut, memainkan jemarinya hingga membuat Dirga tak kuasa menahan erangannya. Lalu tanpa di duga, Nadine memberanikan diri menyentuhkan bibirnya pada bukti gairah lelaki tersebut.

“Kamu, kamu mau apa?” Dirga bertanya dengan sedikit menggeram.

Nadine hanya mengangkat wajahnya, matanya bertemu pandang dengan mata Dirga yang sudah berkabut, kemudian tanpa banyak bicara lagi, ia melanjutkan aksinya, menyiksa Dirga dengan kenikmatan yang ia berikan dari bibirnya. Oh, erangan lelaki itu membuat Nadine semakin berani, umpatan-umpatan khas yang keluar dari mulut Dirga membuat Nadine senang karena merasa bahwa ia dapat menyiksa suaminya tersebut dengan kenikmatan yang ia berikan.

Tak berapa lama, Dirga menarik tubuh Nadine untuk kembali berdiri di hadapannya, kemudian menghimpit tubuh Nadine di antara dinding, Dirga mengangkat sebelah kaki Nadine lalu tanpa banyak bicara lagi dia menyatukan diri di sertai dengan erangan panjangnya.

“Ooouhh.” Nadine melenguh panjang saat Dirga menyatu sepenuhnya dengan tubuhnya.

“Suka dengan ini?” tanya Dirga dengan senyuman mirinya. Ia menghujam lagi, dan lagi, membuat Nadine tak kuasa menahan erangannya. Bibir Nadine tak berhenti terbuka dan itu membuat Dirga tidak bisa menahan diri untuk menyambarnya.

Dirga memagut bibir tersebut dengan begitu panas, lidahnya menari, mencecap rasa dari bibir wanita yang kini sudah menjadi istrinya, miliknya seorang. Ah, mengingat hal itu membuat Dirga seakan tak ingin berhenti.

Bibir Dirga turun ke rahang Nadine, merambat ke sepanjang leher Nadine, mencecap rasa di sana hingga meninggalkan jejak-jejak panas yang membuat erangan Nadine semakin keras terdengar.

Pergerakan Dirga semakin cepat, sebelah tangannya sudah memenjarakan tangan Nadine di atas kepala wanita tersebut, bibirnya sudah kembali memagut bibir Nadine dengan sesekali mengerang karena puncak kenikmatan yang hampir ia dapatkan. Dirga menghujam lagi dan lagi, lebih cepat, lebih keras dari sebelumnya, mencari-cari kenikmatan untuknya dan juga untuk wanita yang tengah menyatu dengannya, hingga ketika puncak kenikmatan itu ia dapatkan, yang keluar dari bibirnya hanya umpatan-umpatan khas bukan kata-kata cinta pada umumnya.

Nadine berdiri dengan lemas, kakinya terasa tak dapat menyangga tubuhnya sendiri hingga ia memilih melingkarkan kembali lengannya pada leher Dirga. Keringatnya bercucuran, menyatu dengan keringat Dirga. Oh, bahkan ia sangat yakin jika kamar ini berAC, tapi AC saja tidak cukup menyejukkan pergerakan panas yang tadi baru saja mereka lakukan.

“Bagaimana?” dengan begitu menjengkelkannya, Dirga menanyakan hal itu pada Nadine.

“Apanya?” Nadine berbalik bertanya.

“Suka dengan posisi tadi?”

Nadine sedikit tersenyum. “Kakiku pegal.”

Tanpa di duga, Dirga mengangkat tubuh Nadine, lalu sedikit membantingnya di atas ranjang, tanpa banyak bicara lagi, Dirga kembali menindih tubuh Nadine.

“Kak, Kak Dirga mau- Ouuhhh” Nadine tak dapat melanjutkan kalimatnya saat Dirga kembali menyatukan diri dengan tubuhnya. Ohh, lelaki itu terasa penuh mengisinya, rasa sesak membuat gairahnya kembali naik seketika, padahal baru beberapa menit yang lalu ia merasakan indahnya surga dunia.

“Aku tidak ingin berhenti.” Dirga meraup kembali bibir Nadine dengan bergerak seirama, memuaskan hasrat primitifnya yang entah kenapa seakan tak dapat padam ketika ia berdekatan dengan Nadine.

 Oh, Nadine benar-benar sudah menjadi candu untuknya.

***

Saat pagi menjelang, Nadine membuka matanya ketika ia merasakan kecupan-kecupan basah merambat di sepanjang kulit punggungnya yang masih telanjang. Nadine tahu pasti siapa orang yang tengah menggodanya saat ini, itu Dirga, suami yang baru kemain menikah dengannya.

Oh, apa yang di inginkan lelaki ini? Apa lelaki ini ingin kembali menyentuhnya? Astaga, apa semalaman bercinta tidak membuat Dirga bosan? Lelaki itu bahkan tidak hanya sekali dua kali berteriak karena pelepasannya, Dirga menyentuhnya lagi dan lagi hingga mereka berdua kelelahan dan tertidur pulas, tapi apa yang di lakukan Dirga saat ini seakan menunjukkan jika lelaki itu menginginkannya lagi.

“Kak, apa yang kamu lakukan?” tanya Nadine dengan suarab serak khas orang bangun tidur.

Dirga yang tadi mengecupi sepanjang punggung telanjang Nadine akhirnya kini menuju pada tengkuk Nadine dan berbisik di sana.

“Aku menginginkanmu.”

“Apa?” Nadine membulatkan matanya seketika. Sebesar inikah gairah seorang Dirga Prasetya?

Dirga menempelkan bukti gairahnya yang sudah terasa membengkak pada belakang bagian tubuh Nadine, dan yang bisa di lakukan Nadine hanya menolehkan kepalanya ke arah Dirga.

“Kenapa? Kamu merasakannya, kan? Aku menginginkanmu hingga aku tidak bisa tidur.”

“Tapi tadi malam kita sudah-”

“Hanya tadi malam, dan itu belum membuatku puas.” Setelah kalimatnya tersebut, Dirga mengangkat sebelah kaki Nadine kemudian menyisipkan  bukti gairahnya untuk menyatu sepenuhnya dengan tubuh Nadine. “Oh, kamu bahkan sudah basah dan siap menerimaku, sayang.” Racau Dirga.

Nadine kembali mengerang. Ia tak menyangka jika akan di perlakukan Dirga seperti ini, bercinta lagi dan lagi seakan waktu hanya milik mereka berdua. Tidak ada yang aneh dengan perasaanya, ia menerima Dirga, menerima lelaki itu sepenuhnya, tak ada keterpaksaan sedikitpun, tak ada keraguan sedikitpun. Apa ini karena perasaanya juga yang sudah mulai berpaling pada Dirga, lelaki yang sudah berstatuskan sebagai suaminya sendiri?

Dirga bergerak pelan dan lembut, jemarinya memainkan kedua payudara Nadine yang terasa pas dalam genggamannya, sedangkan bibirnya tak berhenti menggingit-gigit sepanjang pundak Nadine. Oh, wanita ini hanya miliknya, dan hanya boleh di miliki olehnya.

“Kak…” Nadine mengerang dalam kenikmatan yang ia rasakan. Tak pernah ia merasakan rasa seperti saat ini. Di cumbu dengan begitu panas, di mainkan oleh sentuhan-sentuhan panas hingga membuat dirinya sendiri seakan candu oleh sentuhan tersebut.

Dirga benar-benar berbeda dengan lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya. Dan entah kenapa ia menginginkan lelaki ini melebihi lelaki-lelaki yang pernah mengisi hatinya dulu. Apa perasaannya ini salah?

“Kamu benar-benar nikmat, kamu benar-benar membuatku candu. Sialan!” Dirga masih saja meracau dengan sesekli mengumpat keras. Yang bisa di lakukan Nadine hanya tersenyum mendengar racauan-racauan dan juga umpatan-umpatan khas yang keluar dari bibir Dirga.

“Kamu akan membunuhku dengan kenikmatan. Shit!”

Lagi-lagi yang di lakukan Nadine hanya tersenyum dengan sesekali mendesah menikmati apa yang di lakukan Dirga, tapi kemudian senyumnya itu hilang saat jemari Dirga ikut menyentuh pusat dirinya tanpa menghentikan pergerakannya.

“Ohh, apa yang kamu- Astaga…” Nadine tak dapat melanjutkan  kalimatnya lagi saat ia merasakan gairahnya menanjak seketika karena ulah jemari Dirga.

“Masih bisa tersenyum? Ini hukuman karena kamu menertawakan aku saat aku tersiksa dengan kenikmatan ini.”

“Astaga, Oohh.. kumohon.”

“Memohon ampun, sayang?”

“Tolong, tolong hentikan.” Nadine benar-benar berada di tepi kenikmatan yang seakan ingin membunuhnya. Oh, rasanya benar-benar luar biasa. Ia tidak menyangka jika Dirga akan meberikan sesuatu yang luar biasa padanya.

Dirga menarik dirinya, lalu memposisikan diri untuk menindih Nadine, kemudian menyatukan diri kembali sambil berkata “Aku tidak akan menghentikan permainan ini.” Ucapnya parau sebelum kemudian menyambar bibir Nadine dengan cumbuan panasnya. Jemarinya memenjarakan jemari Nadine, ritme pergerakannya meningkat hingga membuat Nadine mengerang dalam cumbuannya. Oh, Dirga benar-benar seakan tak ingin berhenti dengan permainan ini.

***

Siangnya…

Setelah mandi bersama dengan penuh kecanggungan dan di akhiri satu lagi sesi panbas di kamar mandi, akhirnya Nadine mampu menghela napas lega ketika Dirga membiarkannya menghias diri sebelum kembali berkumpul dengan keluarga mereka.

Oh, Dirga benar-benar panas dan menggoda. Nadine bahkan tidak menyangka jika dirinya akan begitu mudah jatuh pada pelukan lelaki tersebut. Kini, lelaki itu sedang sibuk menatapnya, dan kegugupan kembali dirasakan oleh Nadine.

“Uum, kita ke mana selanjutnya?”

“Kemana lagi? Kita akan bertemu dengan para orang tua, lalu bersenang-senang menikmati pantai.” Dirga menjawab dengan santai seakan kedekatan mereka tidak mengganggunya sama sekali.

“Aku suka pantai.” Tiba-tiba Nadine menyuarakan isi hatinya. Entahlah, tapi ia memang benar-benar menyukai pantai, dan ia tidak menyangka jika kemarin dirinya akan melakukan upacara pernilkahan di tepi pantai.

“Kita bisa bermain di sana seharian ini.” Dirga berkata dengan nada lembut, dan Nadine merasa jika Dirga begitu perhatian padanya. Apa memang seperti ini sikap asli Dirga? Lembut dan perhatian pada wanita? Mengingat itu Nadine kembali tersenyum.

“Sudah selesai?” Dirga bertanya lagi. Nadine hanya menganggukkan kepalanya dan bangkit dari tempat duduknya.

Dirga mengulurkan tangannya, Nadine menatap sebentar kemudian menyambut uluran tangan tersebut. Akhirnya mereka berdua keluar dari dalam kamar hotel mereka bersama-sama sembari bergandengan tangan.

***

Sampai di lobi, Dirga menegang seketika saat menatap pemandangan di hadapannya. Itu Karina, dengan Darren suaminya, yang statusnya mungkin masih menjadi kekasih Nadine. Genggaman jari Dirga semakin ert pada jemari Nadine, seakan tidak ingin membiarkan Nadine berlari kepada lelaki tersebut.

Dirga memasang ekspresi sesantai mungkin, menunjukkan jika tak ada masalah apapun di antara mereka, padahal kini ketegangan sudah menguasai hatinya. Emosinya bergolak di dalam dadanya saat membayangkan jika mungkin saja Nadine akan pergi bersama Darren.

Tidak! Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Nadine hanya miliknya, dan hanya boleh di miliki oleh dirinya.

Dirga berjalan mendekat ke arah Karina dan juga Darren sambil menyapa dengan sesantai mungkin. “Kalian ke sini?”

Dan tanpa di duga, bukannya mendapat jawaban, Dirga merasakan sebuah pukulan keras melayang di wajahnya, tubuhnya di terjang begitu saja oleh tubh Darren, dan laki-laki sialan itu kembali memukulinya lagi-dan lagi.

Sial! Darren akan mendapatkan balasannya!

-TBC-

Advertisements

3 thoughts on “Lovely wife – Chapter 5 (Membunuhku dengan kenikmatan)

  1. gila parah dirga bener” stres , ga nyangka nadine juga biza seliar ini , q rasa mereka bener” pasangan yng cocok , sama gila ql d suruh bercinta , dirga bener” setan yng mnggoda iman , siapa juga yng biza menolak pesona na…
    q rasa mereka akan menjadi pasangam favorit selanjut na …
    untung nadine masih biza jln 😂😂
    tapi dirga udah bener” sayang ma nadine tapi dia belom menyadari na .

    Like

  2. Ampuuun deh Dirga emng gila sex ya,,,moga aja kehadiran Nadine dihdupnya bkin ia insaf dan hnya Nadine seorang yg akan ada dipelukannya…
    Wow bklan trjd perkelahian antar saudara jdinya hehehe
    gk nygka hdup mrka br 4 jd smkin dkt hehehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s