romantis

Lovely wife – Chapter 4 (Menikah)

Lovely wife

 

Chapter 4

-Menikah-

 

Hampir dua minggu berlalu setelah malam itu terjadi. Semuanya terasa sesak untuk Nadine, ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Dirga selalu menatapnya dengan tatapan-tatapan mengintimidasi. Setiap pergerakan dari lelaki itu membuat Nadine seakan susah bernapas karena menahan diri. Astaga, apa yang terjadi dengannya?

Saat ini Nadine sedang sibuk memperhatikan Dirga, lelaki itu tampak serius dengan berkas-berkas di hadapannya. Ya, meski Dirga yang ia kenal adalah lelaki yang brengsek dan suka sekali tidur dengan wanita manapun, namun di sisi lain, ia mengenal bahwa lelaki ini begitu serius dalam pekerjaannya. Dirga bahkan tidak pernah gagal dalam memenangkan tender-tender besar, maka tidak salah jika perusahaan keluarganya semakin maju karena kehadiran Dirga.

Belum lagi fakta jika lelaki ini begitu sayang dengan keluarganya. Nadine masih ingat, saat dulu ia sering bermain ke rumah Karina, ketika Dirga pulang dari jalan, lelaki itu basti membawakan Karina sekantong oleh-oleh seperti ice cream dan lain sebagainya. Dirga juga selalu menghajar siapa saja yang berani-beraninya mengganggu Karina, kadang, Nadine suka iri melihat hal itu, mengingat ia hanya anak tunggal yang tidak memiliki kakak seperti yang di miliki Karina.

“Bawa kembali.” Dirga mengembalikan berkas-berkas yang di bawa Nadine tadi. Nadine sedikit tersentak karena ia sempat melamunkan tentang Dirga tadi.

“Baik Pak.” Nadine akan bergegas pergi, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara Dirga.

“Ada yang aneh dari kamu.”

“Maaf, maksud Pak Dirga?”

“Kamu nggak hamil, kan?”

Nadine membulatkan matanya seketika, jika saat ini dirinya sedang makan, mungkin ia akan tersedak mengingat Dirga bertanya dengan terang-terangan dan begitu datar tanpa ekspresi.

“Enggak, saya nggak hamil.” Oh, Nadine bahkan tidak memikirkan hal itu. Ia masih tidak dapat mengingat apa yang terjadi malam itu, dan ia pikir, walau Dirga sudah melakukannya, tapi kemungkinan besar lelaki itu menggunakan pengaman. Ya, tentu saja, bukankah Dirga sudah seperti dewa seks yang selalu melakukan seks kapan saja ketika lelaki itu ingin? Kemungkinan besar lelaki itu sudah mengantongi alat pengaman kemanapun dia pergi, dan Nadine tidak perlu khawatir tentang hal tersebut, bukan?

“Kamu yakin?”

Nadine mengangguk cepat. Tentu saja ia yakin, ia tidak merasakan apapun yang aneh pada tubuhnya, lagi pula melakukan seks sekali dan kemungkinan Dirga melakukannya dengan pengaman, tidak akan membuat dirinya hamil.

“Baiklah, jangan lupa, lusa kita ke Bali.”

“Baik, Pak.”

“Uum, apa besok kamu ada waktu?” pertanyaan Dirga membuat Nadine sedikit mengerutkan keningnya.

“Ada apa, Pak? Besok minggu, apa ada kerjaan?”

“Enggak, saya cuma mau ngajak kamu jalan.” Dirga menjawab dengan begitu arogan.

Lagi-lagi mata Nadine membulat seketika. Jalan? Seperti kencan, gitu? Oh yang benar saja. Ia tidak akan mungkin jalan hanya berdua dengan Dirga, tidak akan ada kencan di antara mereka selain karena pekerjaan.

“Maaf Pak, saya ada janji dengan seseorang.”

“Siapa? Darren? Nadine, Darren sudah menikah, apa kamu mau merebut dia dari adik saya?”

“Saya tidak pernah berpikir seperti itu.”

“Tapi apa yang kamu lakukan menegaskan seperti itu!” Dirga berseru keras, sepertinya emosinya mulai tersulut. “Kamu pikir saya nggak tahu kalau selama ini kamu masih menemui dia secara diam-diam? Astaga, kamu benar-benar murahan!”

“Atas dasar apa pak Dirga menilai saya murahan?!” Nadine pun sedikit emosi mendengar pernyataan Dirga padanya.

Dirga sedikit tersenyum miring. “Apa ada yang salah dengan penilaian saya? Kamu sudah tidur dengan saya tapi di sisi lain kamu masih berniat merebut suami orang.” Dirga berkata dengan nada sinisnya pada Nadine.

“Saya tidak pernah berniat merebut siapapun!”

“Kalau begitu jauhi Darren!” Dirga berseru keras.

Nadine hanya menatap Dirga dengan tatapan marahnya. Astaga, kenapa lelaki ini berani sekali mengatur hidupnya? Lagi pula, ia tidak akan merebut Darren dari Karina, ia hanya mencoba bertahan di sisi Darren, meski sebenarnya hubungan mereka terlarang.

Merasa kesal dengan Dirga, Nadine bergegas pergi begitu saja meninggalkan ruang kerja Dirga. Oh, berada di sana membuat perasaan Nadine campur aduk, antara kesal, takut, canggung, gugup dan lain sebagainya. Dirtga benar-benar mempengaruhinya, tapi di sisi lain, lelaki itu juga membuatnya kesal.

***

Setelah Nadine keluar dari ruangannya dengan ekspresi kesalnya, Dirga segera menelepon seseorang. Orang tersebut adalah orang yang ia suruh untuk mengatur segala rencananya. Rencana untuk memiliki Nadine.

Ya, Dirga sudah memutuskannya. Ia akan menikahi Nadine dengan atau tanpa persetujuan dari wanita tersebut. selain ia akan mendapatkan diri Nadine seutuhnya, alasan lainnya tentu supaya dirinya memiliki kendali lebih atas diri Nadine. Nadine tidak akan berani mendekati Darren lagi saat ia sudah menikahi wanita tersebut, pun dengan Darren yang tidak akan berani mendekati Nadine lagi. Dengan begitu, semua akan mendapat keuntungan dari pernikahannya. Ia akan bisa mendapatkan kepuasan dari tubuh Nadine lagi, sedangkan Karina –adiknya, akan mendapatkan diri Darren seutuhnya tanpa takut di rebut oleh Nadine lagi.

“Ya pak?” panggilannya di jawab oleh suara di seberang.

“Sudah siap semuanya?” tanyanya dengan nada arogan.

“Ya pak, semua sudah hampir selesai.”

“Saya mau lusa sudah siap semua.”

“Baik, Pak.”

Dirga akhirnya menutup teleponnya. Ia mengangkat sebelah ujung bibirnya. “Nadine kamu tidak akan bisa lari dari genggaman tanganku.” gumamnya.

***

Hari itu akhirnya tiba juga, hari di mana Nadine akan berangkat ke Bali hanya berdua dengan Dirga. Saat ini, Nadine sedang menunggu Dirga di ruang tunggu bandara, dan kegugupan kembali menyelimutinya.

Kemarin, saat ia jalan berdua dengan Darren, dengan tidak sengaja mereka bertemu dengan Karina, Evan, dan juga Dirga. Oh jangan di tanya bagaimana tampang Dirga saat itu. Lelaki itu tampak sangat marah. Nadine tentu tahu kemarahan Dirga karena ia yang dekat dengan Darren, suami Karina, adiknya. Nadine tahu betul bagaimana sayangnya Dirga pada adiknya itu, jadi bisa di pastikan Dirga marah karena melihat adiknya tersakiti.

Sampai di rumah, Dirga segera meneleponnya, lelaki itu tidak marah, tapi nada bicaranya sangat dingin, hingga membuat Nadine takut. Astaga, bukankah seharusnya ia tidak perlu takut? Dirga bukan kekasihnya, kenapa juga ia harus takut dengan kemarahan lelaki itu?

Tak lama, sosok yang berada dalam pikirannya itu akhirnya datang juga. Nadine berdiri seketika dengan sesekali meremas kedua belah telapak tangannya. Kegugupan kembali menyelimutinya. Apalagi saat menatap ke arah Dirga yang entah kenapa tampak begitu menarik perhatiannya.

Lelaki itu tidak mengenakan setelan seperti biasanya, tapi tampak santai dengan celana jeansnya, jaket Armani, dan juga kaca mata hitamnya. Tubuhnya yang tinggi tegap itu tampak begitu sempurna berjalan dengan gagah menuju ke arahnya.

Oh, jika saja Nadine tidak mengetahui betapa bejatnya sikap lelaki itu, mungkin saat ini Nadine sudah tertarik bahkan jatuh hati dengan Dirga. Atau, apa ia memang sudah tertarik dengan lelaki itu walau ia sudah mengetahui sikap buruk lelaki itu?

“Kenapa bengong gitu?”

Pertanyaan dari Dirga tersebut sontak membuat Nadine mengatupkan bibirnya yang sejak tadi ternganga. Sial! Ternganga? Jadi ia ternganga karena terpesona dengan kehadiran penjahat kelamin di hadapannya tersebut?

“Enggak.” Hanya itu jawaban yang dapat di jawab oleh Nadine.

“Ayo masuk, sudah waktunya chek in. sepertinya kita telat.”

Nadine mendengus sebal. Ya, seperti itulah Dirga. Atasannya yang suka sekali memerintah, hingga ia tidak dapat berkutik sedikitpun. Kadang, Nadine ingin sekali membantah atau melakukan apa yang di larang oleh Dirga, hingga membuat lelaki itu kesal, tapi apa dayanya, ia hanya bawahan dari Dirga yang artinya apapun yang di perintahkan lelaki tersebut harus ia laksanakan.

***

Sampai di Bali, mereka segera menuju ke hotel pesanan Dirga. Sampai di hotel tersebut, alangkah terkejutnya Nadine saat mendapati keluarganya berada di sana menyambutnya. Astaga, apa yang terjadi?

“Ibu, Ayah, kok di sini?” Nadine benar-benar tampak bingung. Ia menatap ke belakang ayah dan ibunya, ternyata di sana juga ada beberapa sanak saudaranya. Kenapa mereka semua ada di sini? Astaga, bahkan tadi pagi, saat ia akan berangkat ke Bali, ayah dan ibunya masih berada di rumah dan mengantarkannya hingga halaman rumahnya. Lalu, kapan mereka berangkat kemari? apa saat ia pergi lalu ayah dan ibunya juga segera pergi? Ya mengingat tadi ia sempat ganti penerbangan karena ternyata ia dan Dirga ketinggalan pesawat di karenakan Dirga yang telat datang, jadi ia dan Dirga harus mengikuti penerbangan selanjutnya. Lalu kenapa mereka semua ada di sini?

“Nak Dirga yang memboyong kami semua ke sini. Kamu kok nggak bilang kalau selama ini menjalin hubungan dekat dengan Nak Dirga.”

“Apa?” Nadine membulatkan matanya seketika. Ia menatap ke arah Dirga, lelaki itu masih tampak santai dengan memasukkan kedua tangannya pada saku celananya.

“Aku nggak ngerti apa maksud Ibu, dan apa maksud dia memboyong keluarga kita ke sini.”

Sang ibu malah tersenyum. “Tentu dia ingin pernikahan kalian terasa lebih sakral dengan kehadiran keluarga kita.”

“Pe- pernikahan?” Nadine benar-benar shock dengan apa yang di katakan ibunya.

Tiba-tiba Nadine merasakan sebuah lengan melingkari pinggangnya dengan begitu posesif. “Aku menebak jika kamu belum memberitahu keluargamu tentang keadaanmu.”

Nadine menatap Dirga dengan tatapan bingungnya. “Keadaanku? Memangnya apa yang terjadi denganku?”

Dirga sedikit tersenyum miring. “Tentang kehamilanmu.”

“Apa?” Nadine.

“Hamil?” Ibunya.

“Siapa?” Ayahnya.

Ketiganya berkata secara bersamaan sambil menatap ke arah Dirga dengan mata membulat masing-masing.

“Kak Dirga ngomong apa sih? Aku nggak hamil.” Nadine berkata cepat.

“Jadi hubungan kalian sudah sejauh itu?” Ayah Nadine bertanya dengan tatapan menuduh ke arah Dirga dan Nadine.

“Ya Om.” Dirga menjawab dengan santai. “Maka dari itu, sore ini juga saya ingin menikahi Nadine sebelum semuanya terlambat.”

Nadine masih ternganga dengan apa yang di katakan Dirga. Astaga, apa sebenarnya yang di inginkan lelaki ini? Kenapa tiba-tiba lelaki ini akan menikahinya?

***

Semuanya terjadi begitu cepat. Nadine masih membatu saat jemari-jemari profesional itu dengan mahir mempoles wajahnya dengan Make up. Rambutnya di tata sedemikian rupa hingga membuatnya tampak begitu anggun dan menawan di hari pernikahannya.

Ya, hari ini, sore ini, ia benar-benar akan melaksanakan pernikahan dengan Dirga. Pernikahan kilat, karena nyatanya ia sendiri tidak tahu menahu jika Dirga sudah menyiapkan semuanya sendiri. Mereka hanya akan mengikat janji suci di depan penghulu, sedangkan resepsinya akan di laksanakan di Jakarta akhir minggu nanti.

Lalu, untuk apa Dirga jauh-jauh mengajaknya menikah di Bali? Apa lelaki itu takut jika Darren akan datang mengacaukan semuanya? Ya, mungkin saja.

Tentang Darren, ahh, Nadine bahkan bingung dengan kelanjutan hubungan mereka. Tadi, Darren sempat menghubunginya, dan bisa di tebak percakapan mereka di akhiri dengan cekcok Dirga dengan Darren.

Oh Nadine seakan frustasi. Bagaimana mungkin ia dapat menikah dalam suasana hati yang seperti ini? Belum lagi keluarganya yang tidak berhenti menatapnya dengan tatapan menuduh. Tentu saja, meski Dirga tadi berkata bahwa dirinya hamil dengan nada santai dan sedikit bercanda, tapi tanggapan keluarganya benar-benar serius. Ibunya bahkan tidak berhenti menanyakan keadaannya apakah baik-baik saja atau kelelahan, sedangkan sang ayah hanya memasang wajah sangarnya sejak tadi.

Oh, Nadine bahkan sangat yakin jika dirinya tidak hamil. Kenapa Dirga melakukan semua ini?

“Sudah siap? Mari kita menuju ke tempat akad nikah. Semua sudah menunggu di sana.” Seorang datang ke ruang make up, membuat Nadine tersadar dari lamunan.

Nadine berdiri seketika. Dipandangi pantulan pada cermin di hadapannya. Terlihat anggun, tapi tidak sedikitpun mengurangi ekspresi sendu di wajahnya. Haruskah ia melanjutkan pernikahan ini? Pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan?

Saat Nadine sibuk menatap pantulan dirinya sendiri, sebuah suara lagi-lagi membuatnya tersadar dari lamunan.

“Cantik sekali.” Nadine menolehkan kepalanya, dan mendapati Mama Dirga berada di sana. Wanita paruh baya itu datang menghampirinya, dan menatapnya dengan tatapan kagumnya.

“Pantas saja Dirga ngebet pengen nikahin kamu. Kamu benar-benar terlihat sempurna, sayang.” ucap wanita itu dengajn lembut penuh perhatian.

Ya, Mama Dirga memang orang yang sangat baik dan perhatian. Nadine mengenal wanita itu sejak ia kecil, saat ia sering main ke rumah Karina. Dan Nadine tidak pernah menyangka jika wanita itu akan menjadi ibu mertuanya dalam beberapa jam kedepan.

“Sudah siap? Dirga dan yang lainnya sudah menunggumu.”

Nadine hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya. Astaga, apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus membatalkan pernikahannya sebelum semuanya terlambat?

Nadine keluar dari ruang Make up dengan di gandeng oleh Mama Dirga. Mereka berjalan dengan pelan dan Nadine sama sekali tidak mempedulikan sekitarnya. Ia hanya bisa menunduk, menatap kaki-kakinya yang seakan melangkah menuju takdirnya.

Bagaimana mungkin kehidupan asmaranya berakhir seperti ini? Kekasihnya menikah dengan sahabatnya sendiri, sedangkan ia di paksa menikah dengan orang  yang baginya bersikap sangat buruk. Apa beginikah akhir dari semuanya? Inikah akhir dari petualangan cintanya?

Nadine sedikit mengerutkan keningnya saat mendapati kakinya menginjak pasir. Astaga, entah sudah berapa lama ia melamun sambil berjalan tadi, hingga ia tidak menyadari jika dirinya sudah berjalan di luar ruangan dan di atas pasir.

Nadine mengangkat wajahnya, mendapati Mama Dirga yang masih setia menggandeng lengannya, seakan wanita itu tidak ingin melepaskan dirinya, kemudian tatapan matanya teralih pada di sekitarnya. Benar saja, mereka berada di pinggir pantai, yang sudah di hias dengan tiang-tiang buatan dan juga bunga-bunga yang indah. Beberapa lampu kecil bersinar kuning keemasan membuat suasana terasa begitu romantis.

Romantis? Apa Dirga yang melakukannya? Mengingat itu jantung Nadine kembali berdebar kencang seakan membuat rongga dadanya terasa sakit.

Nadine lalu mengarahkan pandangannya untuk mencari-cari sosok tersebut, dan ia mendapatkan apa yang ia cari tepat di ujung jalan yang sedang ia tuju.

Dirga tampak duduk dengan tenang di hadapan ayahnya dan juga lelaki paruh baya lainnya yang di yakini Nadine sebagai penghulu. Lelaki itu mengenakan pakaian serba putihnya lengkap dengan kopiah putih yang ia kenakan. Entah kenapa Nadine melihat Dirga tampak begitu dewasa, berbeda dengan hari-hari biasa.

Lelaki itu tampak begitu tampan dan menawan, tidak ada tampang sangar maupun arogan seperti biasanya, dan Nadine terpana…

Ia melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah lelaki tersebut, seakan tak ada keraguan sedikitpun. Pada saat bersamaan, lelaki itu menoleh ke arahnya hingga membuat Nadine terpaku sejenak, mencari-cari keraguan dalam mata lelaki tersebut, tapi yang ia dapatkan hanya tekat kuat. Apa Dirga benar-benar bertekat menikahinya? Tanpa ragu sedikitpun?

“Tunggu apa lagi, Nak?” suara Mama Dirga kembali membuat Nadine tersadar dari lamunannya. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah Dirga, dan duduk tepat di sebelah lelaki tersebut.

Rasa gugup tiba-tiba menyelimutinya. Berbagai macam pikiran mulai menari dalam kepala Nadine, bagaimana kelanjutan hubungan mereka nanti? Bagaimana rumah tangga mereka nanti?

“Mbak? Mbak Nadine mendengar saya, bukan?” itu suara lelaki paruh baya yang duduk di sebelah ayahnya, di hadapanya.

Nadine mengangkat wajahnya menatap lelaki paruh baya tersebut yang ia yakini sebagai penghulu. “Ya, Pak?” astaga, ia bahkan tidak mendengar apa yang di tanyakan penghulu padanya.

“Apa Mbak Nadine bersedia dengan suka rela menjalankan pernikahan ini?”

Nadine diam sebentar, di liriknya Dirga yang duduk di sebelahnya. Lelaki itu tampak tenang dan tegap menghadap ke arah penghulu, seperti sudah siap menghadapi apapun juga. Kemudian Nadine melirik ke arah ayahnya yang juga berekspresi tenang.

Ini adalah kesempatannya untuk menolak dan meninggalkan pernikahan tidak masuk akal ini, kemudian melanjutkan hidup tanpa ada Dirga di dalamnya. Tapi yang ia lakukan malah…

“Ya pak, saya bersedia dengan suka rela.” Nadine mengatakan kalimat tersebut tanpa ragu. Entah apa yang terjadi dengannya, apa yang ia pikirkan hingga mengucapkan kalimat tersebut tanpa ragu sedikitpun.

“Kalau Mas Dirga bagaimana?” si penghulu bertanya pada Dirga. Nadine tahu, mungkin penghulu hanya ingin memastikan jika pernikahan mereka tanpa di dasari oleh paksaan sedikitpun, hingga penghulu menanyakan kerelaan masing-masing mempelai.

Dirga tersenyum dan menjawab dengan tegas. “Saya juga bersedia.”

“Baiklah, mari kita mulai upacara pernikahannya.”

Kemudian Nadine mulai larut, terbawa dengan suasana saat penghulu membacakan doa-doa untuk mereka. Jantung Nadine kembali berdebar kencang ketika ia mendengarkan Dirga yang mengucapkan janjinya di hadapan ayahnya, semua orang dan juga di hadapan tuhan.

Mata Nadine tiba-tiba berkaca-kaca. Ia tidak pernah berpikir jika pernikahannya akan di laksanakan pada hari ini, di tempat ini, tempat paling indah yang pernah ia bayangkan. Di saksikan oleh orang-orang terdekatnya, di tepi pantai, di atas pasir putih, dengan pemandangan mentari yang hampir tenggelam. Oh, ia benar-benar merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena mendapatkan hari pernikahan yang menurutnya sangat indah.

Tidak ada rasa sesal sedikitpun, tak ada keraguan sedikitpun meski ia sadar jika lelaki yang menjadi suaminya kini bukanlah lelaki yang ia cintai, atau mungkin, ia sudah mulai mencintai lelaki ini?

Nadine menatap ke arah Dirga, ketika sang penghulu sudah mengesahkan status mereka sebagai suami istri. Tiba-tiba Dirga juga menatap ke arahnya, dan untuk pertama kalinya Nadine merasa tersipu-sipu dengan tatapan lelaki tersebut.

Dirga mengulurkan jemarinya, dan Nadine tahu, yang harus ia lakukan adalah meraihnya, kemudian mengecup punggung tangan lelaki tersebut menandakan jika dirinya kini menghormati lelaki itu sebagai suaminya.

Dan tanpa di duga, secepat kilat lelaki itu meraih wajahnya kemudian mengecup lembut keningnya.

Degg…

Deggg…

Degggg….

Jantung Nadine seakan melompat dari tempatnya. Entah berapa banyak lelaki yang pernah ia cintai, entah berapa banyak lelaki yang pernah mengisi hari-harinya, tapi Nadine tahu, jika hanya lelaki ini yang membuat jantungnya tak berhenti berdebar kencang, hanya lelaki ini yang mampu membuatnya tersipu-sipu malu hingga tak berani mengangkat wajahnya sendiri, dan hanya lelaki ini yang mampu membuatnya kebingungan tentang perasaan aneh apa yang kini sedang ia rasakan.

-TBC-

haii maaf bgt yaa aku telat post, padahal di wattpad udah aku post dari kemaren, ini karena aku pakek leptop satunya dan harus login ke wordpress dulu, jadi yaaa baru sempat update deh… hehehehe but, jangan sedih, aku update 2 part sekaligus plus cerita baru, jadiiiii happy reading.. semoga suka.. muacchhhh

Advertisements

3 thoughts on “Lovely wife – Chapter 4 (Menikah)

  1. Waaaahhhhhhhh omg nadine beruntung banget , sekalipun dirga brengsek tapi dia soo sweet banget , milih pantai buat akad mereka ….
    Gila q d bikin senyum” sendiri …
    dirga keren deh , apapun alasan na tapi dia mo bertanggung jawab ma apa yng udah dia lakukan k nadine …
    ga sabar ma malam pertama mereka 🙈😂

    Like

  2. waaaahhhhhhhh omg , nadine beruntung banget , sekalipun dirga brengsek tapi dia so sweet mmlih pantai buat akad mereka … gila q d bikin snyam senyum sendiri ….
    dirga keren deh , apapun alasan na tapi dia mo bertanggung jawab ma apa yng udah dia lakukan ma nadin …
    ga sabar ma malam pertama mereka 🙈😂

    Like

  3. Smpailah mrka ke pernikahan yg sgt mendadak,,tp sgt istimewa mnrtku,,Nadine aja ampe trpanah dan gk bsa menolak..
    Sprtinya Dirga brharap skli klo Nadine hamil hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s