romantis

Evelyn – Chapter 9 (Hilang)

 

Trailer di atas itu Castnya Fandy yaa…. wkwkwkwkkwkwk mau bgt di kawal sama dia.. uuggghhh

 

Mark tampak menegang seketika. “Memangnya apa yang kamu ketahui tentang hubunganku dan Fandy?” geramnya.

“Tidak banyak, yang ku tahu bahwa dia memiliki darah Austin dalam tubuhnya.”

Secepat kilat Mark bangkit menuju ke arah Maria lalu mencengkeram erat rahang wanita tersebut. “Tidak ada yang tahu antara hubunganku dengan Fandy, dari mana kamu tahu tentang hal itu?”

Maria tersenyum mengejek. “Tidak sulit untukku, Mark, aku tahu semua tentangmu, rahasiamu tentang Fandy dan ibunya yang menjadi wanita simpananmu saat itu.”

“Kurang ajar!”

Bukannya takut, Maria malah tertawa lebar. “Dengar Mark! Aku tidak akan membiarkan kamu menguasai harta Evelyn seorang diri. Ingat Mark, aku sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari, jadi aku tidak ingin kamu atau puteramu itu mengacaukannya.”

“Aku tidak mengacaukannya, sialan!”

“Kalau begitu, jangan biarkan Fandy memiliki Evelyn.” Setelah perkataannya tersebut, Maria mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Mark, dan setelah ia berhasil lepas, Maria memilih pergi meninggalkan Mark yang masih sibuk dengan pikirannya.

***

Chapter 9

-Hilang-

 

Fandy menghentikan mobil Eva ketika sampai di halaman kampus Eva. Ia mematikan mesin mobil tersebut, lalu menatap ke arah Eva, ternyata gadis itu masih sibuk menatapnya. Apa ada yang aneh dengan dirinya?

“Sudah sampai.” ucapan Fandy membuat Eva sedikit berjingkat dari lamunannya? Oh sial! Ternyata lagi-lagi ia melamunkan sosok Fandy.

Sepanjang pagi, lelaki itu tampak begitu berbeda, sikapnya tidak kaku, ekspresinya juga tidak terlalu datar seperti biasanya, dan yang paling membuat Eva merasa kurang nyaman adalah, pakaian yang di kenakan Fandy kini hanya sebuah kemeja biasa, tak ada jas hitam ala-ala agen FBI seperti di film-film action. Fandy tampak santai dengan sesekali menyunggingkan senyumannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan lelaki itu?

“Oke, aku keluar.” Dengan salah tingkah Eva membuka pintu mobil di sebelahnya dan akan bangkit dari tempat duduknya, tapi tubuhnya terpental kembali duduk dan ia baru sadar jika dirinya belum membuka seat beltnya. Astaga, kenapa ia bisa berlaku bodoh seperti saat ini?

“Hati-hati, kamu kenapa? Kamu kayak orang bingung.” Fandy berkata sambil membantu Eva membuka seatbeltnya.

“Aku nggak apa-apa.” Eva akan menghindar, tapi kemudian ia hanya bisa terpaku saat Fandy begitu dekat dengan dirinya. Wajah lelaki itu amat-sangat dekat, dan yang bisa Eva lakukan hanyalah menahan napas sambil tak berhenti memperhatika Fandy dari dekat.

“Kamu punya sisi ceroboh juga ternyata.” ucap Fandy saat masih membantu Eva membuka seatbeltnya.

“Ceroboh?”

“Sudah, kamu bisa keluar sekarang.” ucap Fandy tanpa menanggapi ucapan Eva sebelumnya.

Eva masih diam, bahkan ia tidak berhenti menatap ke arah Fandy.

“Kenapa? Kamu nggak mau keluar?” tanya Fandy lagi yang wajahnya masih begitu dekat dengan wajah Eva.

“Uum, bagaimana aku keluar kalau tubuh kamu menghalangiku?”

Fandy sedikit tersenyum, ia lalu menarik dirinya ke tempat semula. “Aku tunggu di sini saja, jaga diri baik-baik, dan ingat, jangan terlalu dekat dengan Ramon.”

“Kenapa? Kamu cemburu saat aku bersama dengan Ramon?” Eva bertanya dengan sedikit kegirangan.

“Tidak.” jawaban Fandy membuat Eva mengerucutkan bibirnya seketika. “Dia bukan lelaki baik-baik, jadi jauhi saja.”

“Aku nggak mau jauhi dia kalau alasannya hanya seperti itu.”

“Kamu kekanakan.” gerutu Fandy.

“Aku nggak kekanakan, aku hanya-”

“Jauhi dia, aku nggak suka lihat kamu dekat-dekat sama dia.” potong Fandy hingga membuat Eva diam seketika.

“Uum, jadi, kamu benar-benar cemburu?”

“Anggap saja begitu.”

“Fandy…” rengek Eva. Tapi yang di lakukan Fandy hanya tersenyum kemudian memasang headset di telinganya dan mulai memutar lagu-lagu dalam ipodnya. Ahh, Eva benar-benar sangat kesal, kesal sekaligus gemas melihat tingkah Fandy.

***

Amora menutup pintu kamarnya kemudian menyandarkan tubuhnya pada pintu tersebut, jantungnya berdegup kencang karena masih tak percaya dengan apa yang ia dengarkan tadi.

Jadi, Fandy adalah putera dari ayahnya? Lelaki itu benar-benar kakaknya? Lalu kenapa sang ayah menyembunyikan status Fandy selama ini? Astaga, benar saja, semuanya jadi semakin masuk akal. Selama ini ayahnya memperlakukan Fandy secara special. Meski ayahnya selalu bersikap profesional terhadap Fandy, tapi Fandy sudah seperti anak buah kesayangan ayahnya. Kini, Amora sudah tahu alasannya, karena memang Fandy juga memiliki darah seorang Austin seperti dirinya, tapi kenapa sang ayah menyembunyikan kenyataan itu?

Apa karena ini berhubungan dengan ibu Fandy?

Tadi, karena begitu penasaran tentang apa yang terjadi, secara diam-diam Amora mengikuti ke mana ayahnya pergi, ternyata sang ayah masuk ke dalam kamar tante Maria, dengan lancang Amora menguping pembicaraan sang ayah dan juga wanita yang bernama Maria tersebut. Hingga kemudian, Amora mendapati sebuah rahasia besar tentang status Fandy yang tak lain adalah putera dari ayahnya, Fandy adalah kakaknya.

Amora lalu berjalan menuju ke arah meja mungil di sebelah ranjangnya, di raihnya sebuah foto  yang terbingkai dengan indah. Foto ibunya.

“Mama, Amora semakin tidak mengenal Papa, kenapa Papa menyembunyikan semuanya dari Amora? Apa Papa juga menyembunyikan semua ini dari Mama?” Amora mengusap lembut foto tersebut, foto yang bisa menepis semua rasa kesepiannya.

***

Di lain tempat, Maria menuju ke sebuah apartemen yang sudah lama tidak ia tinggali. Itu apartemennya, yang dulu menjadi tempat tinggalnya sebelum menikah dengan Nick dan memiliki puteri Evelyn. Itu apartemennya ketika ia masih menjadi seorang wanita malam bersama dengan sahabatnya, Alana, ibu Fandy.

Maria melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, meski sudah tidak pernah ia tempati, nyatanya apartemen ini masih terawat karena ia sengaja membayar seseorang untuk membersihkannya setiap hari.

Mata Maria memejam, mengenang kejadian beberapa tahun yang lalu.

Saat itu, Alana berkata jika dirinya hamil dengan seorang lelaki, Mark Austin namanya. Lelaki yang sudah beristri, dan terlihat sangat mencintai istrinya. Tapi Maria tentu tidak percaya dengan cinta, jika Mark benar-benar mencintai istrinya, kenapa lelaki itu sampai bisa membuat Alana hamil?

Akhirnya Maria memaksa Alana meminta pertanggung jawaban pada Mark, tapi yang di lakukan lelaki brengsek itu adalah melemparkan uangnya pada Alana dan meminta Alana supaya menggugurkan bayinya dengan alasan Mark terlalu mencintai istrinya. Oh, jangan di tanya bagaimana kesalnya Maria saat Alana bercerita tentang hal itu, ia sangat berbeda dengan Alana, meski mereka berdua sama-sama wanita malam, tapi Alana memiliki sifat yang penyabar, sedangkan ia sendiri tidak.

Lalu semuanya terjadi dengan cepat, Alana melahirkan, dan terjadi komplikasi ketika temannya itu berusaha melahirkan bayinya, hingga Alana tidak mampu bertahan.

Fandy lahir tanpa ibu, Maria masih mengingat dengan jelas bagaimana tangis bayi laki-laki itu. Ia takut, tentu saja, ia tidak bisa merawat bayi, dan ia memang tidak pernah menginginkan seorang bayi, tapi kenapa Alana meninggalkan bayinya kepada dirinya?

Hingga kemudian, Maria memutuskan memasukkan Fandy ke dalam sebuah panti asuhan ketika  masih bayi, meski begitu, Maria tidak lepas tanggung jawab. Ia selalu memantau perkembangan Fandy dari jauh.

Kemudian, ia bertemu dengan Nick, menjebak lelaki kaya itu hingga mau menikahinya, dan memiliki Evelyn, ia melupakan tentang Fandy, bayi yang ia titipkan di sebuah panti asuhan, karena terlalu sibuk dengan kehidupan rumah tangganya bersama dengan Nick yang ternyata tidak sesuai dengan perhitungannya. Dan ketika ia tak bisa lagi jauh dari dunia malamnya, ia mengenal sosok Mark, sosok yang mau tidak mau mengingatkannya pada Alana dan juga Fandy.

Ah, dunia ternyata begitu sempit hingga mempertemukan mereka dalam keadaan seperti ini, apa memang ini merupakan rencana Mark? Atau memang sudah seperti ini jalannya? Entahlah, yang jelas Maria tidak akan membiarkan Mark memiliki apa yang seharusnya ia miliki. Ia sudah terlalu banyak mendapatkan penghinaan, penolakan, dan cacian semasa hidupnya dulu, apa salah jika kini ia menginginkan lebih? Memiliki harta keluarga Mayers seorang diri? Bagaimanapun juga ia yang mengandung dan membesarkan Evelyn, dan ia berharap jika puterinya itu mau bekerja sama dengannya nanti.

***

Mark kembali menyesap anggurnya. Ia kini sedang duduk di kursi kebesarannya di dalam ruang kerjanya yang gelap temaram. Ia senang sekali menghabiskan waktunya di dalam ruang kerjanya tersebut sembari mengenang masa lalunya bersama dengan wanita yang begitu ia cintai, Zoya Amora, istrinya.

Entah kapan hal itu terjadi, Mark bahkan lupa tepatnya berapa tahun yang lalu. Ia bertemu dengan Zoya, dan jatuh cinta pada wanita itu. Semuanya tampak sempurna, mereka menikah dan hidup bahagia. Hingga kemudian, Mark melakukan kesalahan dengan tidak sengaja ia meniduri seorang wanita malam hingga wanita itu hamil.

Mark tentu enggan mengakuinya, bagaimana dengan Zoya? Zoya pasti sangat terpukul jika tahu tentang wanita itu. Akhirnya Mark memilih lepas tangan, memberikan wanita itu banyak uang supaya tidak mengganggu kehidupan rumah tangganya dengan Zoya. Merasa bersalah? Tentu saja, bahkan ketika Zoya hamil dan meninggal ketika melahirkan Amora, Mark merasa jika itu adalah hukuman karena ia telah menelantarkan wanita yang tengah mengandung darah dagingnya.

Akhirnya, Mark berusaha mencari wanita itu, dan ia mendapati kenyataan jika wanita itu sudah meninggal ketika melahirkan sama seperti Zoya yang juga meninggal ketika melahirkan Amora. Mark tidak berhenti sampai di situ saja, ia terus berusaha mencari tahu di mana bayi yang di lahirkan wanita itu, hingga ia menemukan titik terang jika bayi itu berada di dalam sebuah panti asuhan. Mark melakukan serangkaian test untuk memastikan anak itu adalah darah dagingnya, dan benar saja, anak laki-laki itu memang positif darah dagingnya. Itu Fandy, yang kini menjadi bawahannya.

Mark tidak bisa begitu saja membawa Fandy masuk ke dalam rumahnya dan mengakui jika Fandy adalah putera kandungnya, meski Zoya sudah tidak ada lagi, tapi ia tidak ingin menyakiti hati Amora, puteri kecilnya. Akhirnya ia mengangkat Fandy menjadi salah seorang anak buahnya, anak buah yang special tentunya. Biarlah status Fandy hanya ia sendiri yang mengetahuinya.

Mark menghela napas panjang, sudah begitu lama ia mencoba memungkiri kenyataan tersebut, tapi pernyataan Maria tadi benar-benar mengganggunya, membuatnya seakan kembali mengingat masa lalu suram yang ia lalui beberapa tahun yang lalu.

Sialan! Bagaimana mungkin Maria berpikir begitu jauh tentang rencananya? Ia tentu tidak pernah merencanakan bahkan menduga jika Fandy akan kembali jatuh cinta dengan wanita yang seharusnya dia kawal. Ia bahkan mendidik Fandy supaya anak itu tidak mengenal cinta, karena ia tidak ingin Fandy menjadi lemah karena cinta tersebut.

Tapi, jika benar apa yang di katakan Amora tentang Fandy yang mencintai Evelyn, apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Fandy tentu akan menjadi penghalang yang sulit di singkirkan untuk menjalankan rencananya bersama dengan Maria.

Sialan! Ia harus menjauhkan Fandy dari Evelyn secepatnya.

***

Eva tidak berhenti menggerutu kesal. Bagaimana tidak, Icha hari ini tidak masuk, padahal sore nanti mereka sudah berencana untuk mengunjungi Sienna di apartemennya. Kini, Eva merasa jika suasana di sekitarnya benar-benar membosankan.

Aah, andai saja Fandy ikut kuliah bersamanya, mungkin akan menyenangkan menggoda lelaki itu. Bicara tentang Fandy, Eva masih tidak habis pikir dengan lelaki itu, perubahannya benar-benar membuat jantung Eva seakan melompat dari tempatnya. Apa tadi malam mereka benar-benar melakukannya? Lalu kenapa ia tidak merasakan sakit atau tidak nyaman sedikitpun?

Entah berapa kali pertanyaan-pertanyaan tersebut menari-nari dalam kepalanya, nyatanya Eva belum juga mendapatkan jawabannya, apa mereka tadi malam melakukan sesuatu, atau tidak.

Eva mendengus sebal, mengingat sikap Fandy sepanjang pagi. Ia memang tidak suka Fandy yang kaku dan datar-datar saja padanya, tapi di sisi lain, ia juga tidak suka Fandy yang dapat mempengaruhinya dan membuatnya salah tingkah saat berada di dekat lelaki itu seperti tadi pagi. Ahh, benar-benar membingungkan.

Ketika Eva menuju ke arah kantin, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang. Itu ramon, kekasihnya. Astaga, mau apa lagi?

Tiba-tiba Eva teringat akan nasihat Fandy untuk menjauhi lelaki di hadapannya ini. Kenapa? Apa karena Ramon benar-benar bukan lelaki baik-baik? Atau, itu hanya sebuah efek dari kecemburuan Fandy? Mengingat itu, Eva sedikit tersenyum.

“Ada apa?”

“Aku kangen.”

“Kangen? Kemarin kita baru saja jalan bareng.” Eva kemudian melirik ke arah ujung bibir Ramon yang sedikit memar. “Ini kenapa?”

Ramon sedikit menjauh saat jemari Eva akan menyentuh ujung bibirnya yang masih memar akibat pukulan Fandy tadi malam.

“Nggak apa-apa.” jawabnya singkat. “Ngomong-ngomong, apa kamu haus? Aku membawakanmu minuman.”

“Oh ya? Kamu kok bisa tahu kalau aku lagi haus?”

“Kamu berjalan ke arah kantin, jadi kemungkinan besar kamu lagi cari minum.”

Eva menyambar air yang di bawakan oleh Ramon sambil berkata “Thanks.” Kemudian meminum air tersebut hingga membasahi tenggorokannya. Rasanya benar-benar segar, Ramon benar-benar sangat perhatian padanya.

“Uum, apa kamu mau jalan sama aku lagi malam ini?” tanya Ramon lagi.

“Maaf, sebenarnya aku ada acara, aku mau ngunjungin temanku. Tapi..”

Ramon mengangkat sebelah alisnya. “Tapi?”

Eva memijit pelipisnya, entah kenapa tiba-tiba kepalanya terasa pusing. “Kok aku pusing, ya?” tanyanya. Sedangkan Ramon tidak menjawab, ia malah sedikit menyunggingkan senyumannya ketika tahu jika mangsanya baru saja jatuh dalam genggamannya.

Eva mengerjapkan matanya saat ia merasakan matanya mulai terasa berat, ada apa ini? Dan Eva tak dapat berpikir lagi ketika kesadarannya mulai menghilang.

Ramon meraih tubuh Eva yang limbung karena pingsan. Ternyata, Eva cukup bodoh karena mau saja meminum minuman yang ia berikan. Beruntung sekali Eva tidak membawa pengawal sialannya masuk ke dalam kampus hingga Ramon bisa dengan mudah menjalankan aksinya.

Ramon tersenyum menyeringai. ‘Evelyn, aku akan mendapatkanmu.’ sumpahnya dalam hati.

***

Fandy melirik ke arah jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul Lima sore, tapi Eva belum juga menampakkan batang hidungnya. Bukankah seharusnya gadis itu sudah pulang? Fandy keluar dari dalam mobilnya, entah kenapa ia perasaannya tidak enak.

Fandy kemudian mengeluarkan ponselnya, menghubungi nomor Eva, tapi gadis itu tidak menjawabnya. Ada apa? Fandy menghubunginya lagi dan lagi, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Apa Eva sedang ada kelas?

Fandy kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya, mengeluarkan sebuah Tab yang memang di sediakan oleh keluarga Mayers. Tab tersebut di rancang untuk terkoneksi langsung pada ponsel yang di gunakan Eva hingga Fandy maupun pengawal Eva yang lain bisa dengan mudah menemukan posisi Eva jika Eva sedang membawa ponselnya ketika gadis itu hilang atau mungkin kabur.

Fandy menyalakan Tab tersebut, kemudian mengoperasikannya. Sedikit mengerutkan keningnya ketika ia mendapati sinyal ponsel Eva ternyata masih berada di dalam area kampus. Fandy memperbesar tampilan layar Tab tersebut. Tampak jelas skema dari kampus Eva, gedung-gedung besar yang terpisah satu dengan yang lainnya, taman dalam kampus, tempat parkir, dan lain sebagainya. Tapi yang membuat Fandy kembali mengerutkan keningnya adalah sinyal ponsel Eva yang berada di gedung paling ujung kampus tersebut, gedung yang terlihat lebih kecil dan terpisah lebih jauh dengan gedung-gedung lainnya.

Karena instingnya merasakan sebuah kejanggalan, akhirnya Fandy memutuskan untuk menyelidikinya.

Fandy menuju ke arah pos satpam yang memang berada di sebelah gerbang kampus Eva dan bertanya pada satpam tersebut.

“Maaf Pak, saya mau menjemput adik saya di Fakultas ekonomi, kalau boleh tahu, di sebelah mana, Pak?”

“Oh Fakultas Ekonomi silahkan belok kiri lurus terus nanti akan ada tulisan besar di depan gedungnya.”

Fandy mengangkat sebelah alisnya. “Kiri?” tanyanya lagi.

“Ya Mas.”

Fandy hanya menganggukkan kepalanya, “Terimakasih.” ucapnya sambil bergegas pergi. Eva tidak sedang berada dalam kelasnya, Fandy tahu itu karena sinyal yang di tunjukkan dalam Tabnya memperlihatkan jika Eva berada pada gedung di ujung kampus sebelah kanan, dan ia harus segera menyusul gadis itu. Apa yang di lakukan Eva di sana? Pikirnya.

Fandy mempercepat langkahnya dengan sesekali melirik ke arah Tab yang sedang ia bawa. Sinyal yang keluar dari ponsel Eva terlihat semakin dekat, tapi ia sedikit heran karena jalan yang ia lewati mulai sepi. Tidak ada lagi mahasiswa yang berlalu lalang seperti di jalanan utama tadi. Hingga kemudian, ia menemukan gedung tersebut tersebut. Rupanya gedung itu lebih cocok di sebut sebagai bangunan kecil yang tampak tidak terawat. Kenapa Eva ada di sana?

Fandy mendekat, dan memasuki bangunan tersebut, sinyal Eva menunjukkan jika sinyal tersebut berada di ruangan paling ujung. Fandy sedikit mempercepat langkahnya, hingga kemudian langkahnya terhenti seketika saat ia mendengar percakapan-percakapan dalam ruangan tersebut.

Astaga, apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana?

-TBC-

Advertisements

6 thoughts on “Evelyn – Chapter 9 (Hilang)

  1. Dunia emng sempit ya,,trnyta Maria adlh shbat ibunya Fandy..dan skrg mlh pnya hbngan dgn ayahnya Fandy.

    Ya ampuun knp kmu bodoh bgt c Eva,,sllu trtipu oleh Ramon?? Jd gemes dehhh

    Like

  2. huwahhhh akhir na semua terungkap dsni knp om ramma biza ada hubungan na ma cerita ini , ternyata amora anak tante zoya … semoga ini bukan rencana om mark buat misahin fandy ma eva , dan semoga amora bisa ngasih tau fandy tentang rencana om mark ma tante maria …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s