romantis

Lovely Wife – Chapter 3 (Malam yang panjang)

Lovely wife

 

Chapter 3

-Malam yang panjang-

 

Sekarang…

Nadine menatap bayangan di hadapannya dengan lesu. Wajahnya memang terhias hingga terlihat begitu cantik, tapi ekspresinya sangat sendu, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis, dan suasana hatinya, jangan di tanya lagi.

Hari ini adalah hari pernikahan Darren, tapi bukan ia yang menjadi pengantin wanitanya, melainkan sahabatnya yang bernama Karina. Bisa di bayangkan bagaimana hancurnya perasaan Nadine saat ini. Kekasihnya menikah dengan sahabatnya sendiri, sedangkan dirinya, mau tidak mau harus turut menghadiri pesta pernikahan tersebut.

Nadine tahu, meski dulu ia hanya iseng-iseng menerima cinta Darren karena tidak enak menolak cinta lelaki tersebut, tapi semakin kesini perasaannya pada Darren semakin nyata, ia benar-benar telah jatuh hati pada lelaki tersebut, bahkan ia sudah menerima lamaran Darren sebelum akhirnya lelaki itu di paksa menikah dengan Karina, sahabatnya sendiri. Kenapa takdir seakan mempermainkannya? Kenapa dulu ia harus dekat dengan Darren jika akhirnya mereka tidak berakhir bersama seperti saat ini?

Nadine kembali terisak, lalu cepat-cepat ia menghapus air matanya. Saat ini ia masih berada di dalam sebuah toilet di hotel tepat di mana acara pesta pernikahan Darren dan Karina di gelar. Meski hatinya terasa sakit, tapi Nadine tidak ingin terlihat sperti orang bodoh yang menangisi kekasihnya saat di pesta tersebut.

Setelah memperbaiki riasannya, Nadine kembali keluar dari dalam toilet. Batinnya akan kembali berperang ketika melihat Karina dan Darren yang berdiri di atas pelaminan. Ingin rasanya ia pulang, tapi tidak bisa, orang tuanya yang juga hadir di pesta tersebut pasti mencari dirinya.

Nadine masuk kembali dalam pesta dan berbaur dengan tamu lainnya seakan-akan tak terjadi sesuatu apapun padanya. Saat melihat beberapa pelayan berlalu lalang membawa beberapa minuman, dengan santai Nadine meraih minuman tersebut dan menegaknya hingga tandas.

Rasa membakar seketika terasa di tenggorokannya, itu minuman beralkohol, tapi Nadine tak peduli, meski ini pertama kalinya ia meminum-minuman seperti itu, nyatanya minuman tersebut dapat sedikit memperbaiki perasaannya yang sedang kacau balau. Dan Nadine memutuskan mengambil sebuah minuman lagi dan lagi. Ya, sepertinya banyak minum bukan masalah, mungkin akan bagus jika ia tiba-tiba teler dan tak ingat apapun termasuk Darren. Ya, ia ingin segera melupakan lelaki tersebut.

***

Dirga benar-benar sangat muak dengan acara-acara keluarga seperti saat ini. Di paksa berdiri dengan memasang senyuman manis hingga membuat banyak wanita yang ada di sana terpesona padanya. Oh yang benar saja, belum lagi beberapa teman orang tuanya yang secara terang-terangan menjajakan anak perempuan mereka pada dirinya.

Sesekali Dirga mengumpat dalam hati, dalam acara seperti ini, seharusnya ia datang dengan pasangannya, setidaknya pasangannya tersebut akan menjauhkan dirinya dari parasit bermuka dua seperti teman orang tuanya yang berniat menjodohkan dirinya dengan puteri mereka. Tapi, mau dengan siapa? Dirga sendiri sama sekali tidak pernah berniat mengajak wanita pulang ke rumahnya untuk di kenalkan kepada orang tuanya, ia hanya akan mengajak wanita tersebut pulang untuk di tidurinya ketika orang tuanya sedang ke luar kota.

Sesekali mata Dirga teralih pada saudara kembarnya, di sana ada Davit, yang berdiri dengan wajah bahagianya, bersama dengan Sherly, istri dari saudara kembarnya tersebut dengan bayi mereka. Melihat Davit yang tampak begitu bahagia dengan keluarga kecil mereka membuat Dirga dilanda rasa iri. Kenapa hanya Davit? Kenapa dirinya tidak merasakan kebahagiaan yang sama?

Kemudian mata Dirga teralih pada Karina, adiknya yang kini berada di atas pelaminan dengan suami barunya, Darren Pramudya. Lelaki yang katanya begitu di cintai oleh Karin, tapi Dirga cukup tahu jika lelaki itu tidak memiliki perasaan yang sama dengan adiknya karena lelaki itu nyatanya memiliki kekasih yang tak lain adalah Nadine, sekertaris pribadinya.

Bicara tentang Nadine, mata Dirga segera menelusuri segala penjuru ruangan, mencari-cari sosok itu. Di mana Nadine? Apa wanita itu tidak hadir dalam pesta pernikahan ini? Sepertinya tidak mungkin. Karena tadi Dirga juga sempat melihat bayangan kedua orang tua Nadine yang juga ikut hadir dalam pesta pernikahan Darren dan Karina, jadi kemungkinan besar Nadine juga hadir dalam pesta ini.

Pada saat bersamaan, tatapan mata Dirga jatuh pada sosok yang tengan menegak sebuah minuman yang telah di sediakan oleh pramusaji, Dirga mengerutkan keningnya saat menyadari jika Nadine saat itu tengah minum seperti orang gila. Apa wanita itu sudah terbiasa meminum minuman beralkohol? Mungkin saja, lagi pula apa urusannya?

Dirga kemudian melirik ke arah wanita di sebelahnya, wanita yang tampak modis dengan gaun malamnya, rambut yang di sanggul dengan begitu seksi serta make up tebal yang entah kenapa membuat Dirga tidak nafsu untuk mengajak wanita itu naik ke atas ranjangnya. Wanita itu mendesak ke arahnya, menempel seperti parasit, padahal Dirga tidak yakin jika dirinya mengingat nama wanita yang tadi baru saja di kenalkan oleh orang tuanya.

“Maaf, siapa nama kamu tadi?” tanya Dirga pada wanita tersebut.

“Astaga, masa iya kamu melupakan namaku? Padahal baru tadi kita berkenalan.”

Dirga tersenyum miring. “Maaf sayang, di dalam kepalaku terlalu banyak nama wanita, hingga mengingatnya satu persatu saja aku sulit.” Dengan begitu kurang ajarnya Dirga mengatakan kalimat tersebut.

Si wanita itu mendengus sebal, kesal dengan sikap dan juga perkataan yang terlontar dari bibir Dirga. “Marsha, namaku Marsha, teman kencan kamu malam ini.”

“Oh, maaf, Marsha, sepertinya tadi aku belum sempat mengatakan padamu jika aku sudah memiliki teman kencan malam ini.”

“Apa?” Marsha tampak merah padam, malu bercampur dengan kesal.

“Ya, itu, teman kencanku sedang berada di sana.” Dirga menunjuk ke arah Nadine, wanita itu tampak menghabiskan minumannya lagi, lalu meraih gelas lainnya yang berisi minuman yang sama.

“Apa? Wanita itu? Tampaknya dia  bukan selevel kita, lihat saja, gaunnya lusuh, dan dia terlihat bar bar dengan cara minumnya.” Wanita itu berujar sinis.

Ya, Nadine memang tampak sederhana dengan gaun malam sederhananya, tak ada yang special dengan wanita itu, tapi entah kenapa melihatnya saja membuat Dirga menegang.

Dirga tertawa lebar, bibirnya lalu mendekat ke arah telinga Marsha lalu berbisik pelan di sana. “Nyatanya, dia mampu membuatku bergairah dengan gaun lusuhnya.” Setelah membisikkan kalimat tersebut, Dirga lantas pergi begitu saja menuju ke arah Nadine, sedangkan Marsha hanya dapat berdiri di sana dengan ekspresi kesalnya.

***

“Apa yang kamu lakukan?” Dirga bertanya dengan suara yang ia buat setenang mungkin.

Nadine membalikkan tubuhnya, lalu ia mendapati sosok yang selama ini begitu menyebalkan untuknya, itu Dirga, atasannya.

“Oh, Pak Dirga di sini ternyata.”

Dirga mengerutkan keningnya. Sepertinya Nadine sudah mulai mabuk. Wanita itu tidak bisa berdiri tegak, cara bicaranya juga aneh, biasanya Nadine hanya akan memanggilnya dengan panggilan ‘Pak Dirga’ itu ketika di kantor saja, sedangkan saat di luar jam kerja, wanita itu akan memanggilnya ‘Kak Dirga’, dan sekarang, wanita itu juga sedang senyum-senyum tidak jelas.

Oke, dia memang mabuk.

“Kamu mabuk, ayo, ikut aku.”

“Aku nggak mau! Aku mau di sini, melihat pacarku nikah sama sahabatku.” Nadine menunjuk ke arah Karina dan Darren yang berdiri di atas pelaminan. “Mereka terlihat aneh, harusnya aku yang berada di sana. Lihat, Darren sudah memberiku ini, tapi kenapa Karin merebutnya?” Nadine menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.

“Mungkin dia bukan jodohmu.” Dirga menjawab dengan wajah datarnya.

“Bapak tahu apa tentang jodoh? Bukannya yang Pak Dirga tahu hanya tentang ukuran payudara wanita saja?”

Mata Dirga membulat seketika, sesekali ia memperhatikan orang-orang di sekitar mereka yang mungkin saja mendengar ucapan vulgar Nadine.

“Kamu ngomong apa sih?”

“Saya tahu semuanya, Pak, Bapak kerap kali bercinta bahkan dengan klien wanita, dan di ruang kerja Pak Dirga, saya juga tahu kalau-” Secepat kilat Dirga membungkam bibir Nadine, kemudian menarik tubuh wanita tersebut untuk menjauh dari keramaian pesta.

“Emmppptt.” Nadine meronta. Akhirnya Dirga melepaskan bungkaman tangannya ketika mereka berada di tempat yang lebih sepi. “Lepasin! Lepasin!” seru Nadine ketika Dirga tak juga melepaskan cekalannya pada lengan Nadine.

“Kamu mabuk, ayo, ku antar pulang.”

“Aku nggak mau pulang! Aku nggak mau pulang dan menangis sendiri di rumah! Aku nggak mau pulang!” Nadine berteriak dan mulai terisak. “Aku benci Karina, aku benci Darren, aku benci mereka semua! Mereka mengkhianatiku!”

Dirga melepaskan cekalannya pada lengan Nadine, kemudian terpaku melihat wanita itu. Dari luar, Nadine tampak begitu tegar, tapi ternyata wanita ini sangat rapuh.

“Aku benci ketika semua ini harus terjadi, aku ben-” Nadine tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika ia merasakan bibirnya di bungkam dengan sesuatu yang lembut dan panas.

Itu bibir Dirga.

Tubuhnya kemudian di dorong hingga punggungnya menempel pada dinding, Dirga sedikit mengangkat tubuh Nadine supaya sejajar dengan tubuhnya yang lebih tinggi, hingga wanita itu sedikit melayang di udara sembari merasakan pagutan panas dari bibir Dirga.

Dirga tak bisa berhenti, ia melumat bibir Nadine dengan begitu panas, menuntut supaya ciuman tersebut tak berakhir, hingga kemudian, ia melepaskan tautan bibirnya saat merasakan napas Nadine sudah hampir habis.

“Demi Tuhan, aku menginginkanmu.” bisik Dirga parau ketika bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Nadine.

Nadine tak bereaksi, ia hanya menatap bibir Dirga yang begitu menggoda. Lengannya kini bahkan sudah melingkari leher Dirga, kemudian dengan begitu berani, Nadine menempelkan bibirnya pada bibir Dirga, melumatnya dengan lembut seakan menggoda Dirga untuk membalas ciumannya.

Dirga tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, diraupnya bibir Nadine, seakan itu adalah miliknya, haknya untuk di sentuh, lalu tanpa banyak bicara lagi, Dirga mengangkat tubuh Nadine menuju ke arah kamar hotelnya tanpa melepaskan tautan panas dari bibir mereka.

***

Di dalam kamar….

Dirga sudah melucuti satu persatu pakaian yang menempel pada tubuh Nadine hingga kini wanita tersebut sudah terbaring tanpa sehelai benangpun. Wajah wanita itu merah padam, mungkin karena efek anggur yang memabukkan, tatapan mata Nadine berkabut, entah karena gairah, atau lagi-lagi efek dari anggur. Dirga tidak peduli.

Setelah melucuti pakaian Nadine, Dirga lantas melucuti pakaiannya sendiri, kemudian kembali menindih tubuh Nadine yang kini sudah berada di bawahnya.

“Kamu sangat indah.”

Nadine tersenyum, entah wanita itu mengerti apa yang di katakan Dirga atau tidak. Jemari Nadine kemudian terulur meraba pipi Dirga hingga membuat Dirga membatu menatapnya.

“Aku mencintaimu, Darren, kamu mengajariku untuk mencintaimu, tapi ketika aku benar-benar mencintaimu, kenapa kamu meninggalkanku?”

Lagi-lagi, pernyataan Nadine membuat Dirga tercenung. Nadine mengingatkannya pada seseorang yang dulu pernah ia sia-siakan, yang dulu hanya ia mainkan, hingga kemudian yang ia dapatkan saat ini hanya sebuah penyesalan….

“Jadi kamu jalan bareng lagi sama Ana?” terdengar suara yang bernada marah dari seorang wanita, itu Sherly, kekasih yang di pacarinya sejak tiga bulan yang lalu.

“Ya, kenapa?” tanya Dirga dengan santai, ia bahkan tidak memperhatikan ke arah Sherly, malah dengan santai memainkan ponselnya.

“Dirga, aku tanya sama kamu! Kamu jalan lagi sama wanita itu?”

“Aku kan sudah jawab ‘Ya’.”

“Kamu selingkuhin aku?”

Dirga mengalihkan pandangannya ke arah Sherly. “Oke Sher, aku sudah capek. Kamu terlalu cerewet, terlalu banyak ngatur, dan terlalu posesif, aku nggak suka, aku merasa kamu mencekik leherku karena aku tidak bisa lagi bebas sejak berpacaran denganmu.”

“Lalu kamu mau apa? Kamu mau aku memberi kebebasan? Dirga, kita pacaran, dan kamu bersikap seolah-olah kamu masih sendiri, kamu kayak anak kecil!”

“Oke cukup! Aku paling muak jika ada yang bilang aku kayak anak kecil. Kamu hanya pacarku, bukan istriku, aku bebas melakukan apapun yang ku mau. Lagian, aku jalan sama dia karena mencari apa yang tidak bisa kamu berikan padaku.”

Mata wanita itu berkaca-kaca seketika. “Apa salah jika aku mepertahankan kehormatanku? apa salah jika aku menolak keinginanmu ketika status kita hanya sepasang kekasih bukan sepasang suami istri? Apa salah jika aku menuntut lebih? Aku hanya mencintaimu, aku tidak ingin kamu bersama wanita lain, aku cemburu melihatnya.”

“Dan aku tidak suka dengan wanita pencemburu atau wanita yang masih memegang teguh adat orang kuno! Sudahlah, lupakan saja, mending kita jalan sendiri-sendiri saja dulu, dan setelah kamu menyadari kesalahanmu, kamu bisa kembali lagi padaku.” Setelah itu Dirga bangkit dan meninggalkan Sherly begitu saja.

Enam bulan setelahnya, Sherly memang kembali padanya, tapi bukan sebagai kekasihnya, melainkan sebagai wanita yang akan di nikahi oleh Davit, kakak kembarnya. Oh jangan di tanya lagi bagaimana perasaan Dirga saat itu. Meski dulu ia tidak terlalu suka dengan Sherly, tapi tetap saja, Sherly adalah mantan kekasihnya, bagaimana mungkin Davit menikahi wanita itu? Hingga kemudian, Dirga baru merasa menyesal ketika melihat bagaimana keistimewaan Sherly ketika wanita itu resmi menjadi istri saudaraa kembarnya.

                                                  

Sial! Dirga mengumpat dalam hati saat mengingat penggalan-penggalan kenangan dari masa lalunya. Ia kemudian memfokuskan pandangannya pada Nadine, wanita ini pasti mabuk berat hingga menyangka jika dirinya adalah Darren, apa ia harus melanjutkan aksinya?

Oh sial! Tentu saja. Ia sudah menegang, rasanya begitu nyeri ketika harus menahannya, dan Dirga tidak ingin menahannya lagi.

Dirga mendaratkan bibirnya pada bibir Nadine, melumatnya kembali dengan begitu lembut hingga membuat Nadine mengerang dengan sesekali menggeliat di bawah tindihannya.

“Hemm, Darren benar-benar bodoh! Bisa-bisanya di lepasin kamu hanya karena saham sialan itu.” Dirga meracau sambil mengecupi permukaan leher Nadine. “Katakan padaku, sudah berapa kali bajingan itu menyentuhmu?” lagi-lagi Dirga meracau. “Setelah ini, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh tubuhmu, kecuali aku.”

Dirga lalu menatap payudara ranum yang terpampang jelas di hadapannya, menggodanya sebentar lalu mendaratkan bibirnya di sana. Nadine mengerang dengan kenikmatan yang di ciptakan oleh bibir Dirga. Sedangkan Dirga seakan tidak ingin berhenti menggoda, jemarinya kini bahkan sudah turun, membelai pusat diri Nadine, hingga membuat Nadine semakin jauh dari kewarasannya.

“Oh, kamu benar-benar sangat nikmat.” bisik Dirga sebelum turun menatap pusat diri Nadine, lalu mendaratkan bibirnya di sana, membelai lembut, hingga membuat Nadine tak kuasa menjerit nikmat.

Setelah puas menggoda tubuh Nadine, Dirga kembali ke atas, menatap Nadine yang kini sudah berkabut karena badai gairah yang baru saja menghantamnya. Dirga tersenyum menatap pemandangan di bawahnya. Nadine tampak begitu cantik, amat sangat cantik ketika wanita itu terbaring tanpa sehelai benangpun dengan ekspresi berkabut seperti saat ini.

Oh sial! Sudah berapa kali Darren melihat ekspresi ini? Entah kenapa dalam hati Dirga tidak rela saat membayangkan jika Nadine mungkin saja sering melakukan hal intim seperti ini dengan kekasih-kekasihnya yang dulu.

“Aku akan memulainya.” Suara Dirga benar-benar sangat serak. Ia memposisikan dirinya untuk menyatu dengan tubuh Nadine. “Kamu beruntung karena kamu adalah wanita pertama yang akan kumasuki tanpa pengaman, bukan karena aku sengaja ingin menjebakmu dan membuatmu mengandung janinku, tapi karena alat pengamanku habis.” Dirga sedikit tersenyum mengingat hal itu.

Nadine tersenyum mendengar kalimat Dirga. Entah wanita itu mendengar apa yang di katakan Dirga atau tidak, nyatanya mata Nadine terlihat berkabut, seperti antara sadar dan tidak sadar.

Dirga tak ingin membuang-buang waktu lagi, ia mulai memasuki diri Nadine, mendesak dan berharap dapat menyatu sepenuhnya, tapi ketika ia menemukan suatu penghalang di sana, matanya membulat seketika ke arah Nadine.

“Ka –kamu perawan?” Dirga benar-benar terkejut dengan kenyataan itu.

Selama ini ia berpikir jika Nadine adalah wanita gampangan, bukan hanya Nadine, tapi semua wanita yang ia kenal –kecuali  Karina dan ibunya tentunya, apalagi yang ia tahu bahwa sejak SMA Nadine memang sering bergonta-ganti kekasih.

Nadine tidak menjawab, wanita itu malah menggeliat kesana kemari, menggoda tubuh Dirga yang setengah menyatu dengan tubuhnya, dan itu membuat Dirga tidak dapat lagi berpikir secara logis. Jemari Dirga kemudian terulur menuruni sepanjang pinggang Nadine, berhenti pada pinggul wanita tersebut dan menahannya di sana.

“Maaf, ini akan sedikit sakit dan akan terasa sedikit merobekmu. Tapi setelah ini, aku akan memberimu kenikmatan yang belum pernah di berikan laki-laki lain padamu.” Dirga berkata dengan senyum yang penuh dengan kebanggaan. Ya, ia bangga karena dirinya adalah laki-laki pertama untuk wanita ini, dan entahlah, itu mebuat Dirga semakin menginginkan diri Nadine.

Dirga mendaratkan bibirnya pada bibir Nadine, melumatnya dengan panas, pada saat bersamaan, ia menghentak dengan keras hingga menyatu sepenuhnya pada tubuh Nadine.

Wanita itu terlihat ingin berteriak kesakitan, tapi bibirnya telah di bungkam oleh bibir Dirga, hingga tak lama, Nadine kembali mengerang sesekali mendesah penuh dengan kenikmatan.

Dirga menghela napas panjang, menahan diri supaya tidak lepas kendali. Ini adalah pengalaman pertama untuk Nadine, meski wanita itu kini sedang mabuk dan Dirga sangat yakin jika Nadine tidak ingat hal ini besok pagi, namun Dirga tetap menginginkan jika percintaannya kali ini dengan Nadine adalah percintaan yang panas, intim, dan penuh dengan kelembutan.

Dirga mulai bergerak, pelan, amat sangat pelan, hingga dirinya sendiri mengerang dan meracau tidak jelas karena kenikmatan yang tercipta. Tubuh Nadine membalutnya begitu pas, mencengkeramnya begitu erat, seakan-akan tubuh wanita tersebut memang tercipta hanya untuknya.

“Brengsek! Kamu terlalu rapat, Sayang, Sialan!” racau Dirga, sedangkan Nadine sendiri sudah tidak sadar lagi dengan apa yang ia lakukan. Wanita itu hanya bisa mendesah, mengerang, sesekali meracau tak jelas ketika kenikmatan berbalut dengan gairah tanpa ampun menghantamnya lagi dan lagi.

Dirga lalu bergerak lebih cepat dari sebelumnya saat ritme permainan mereka mulai meningkat, hingga ketika gelombang kenikmatan itu datang menghantamnya, yang bisa Dirga lakukan hanyalah memeluk erat-erat tubuh yang berada di bawahnya itu.

Dirga tersungkur lemas saat setelah ledakan kenikmatan yang ia alami, dan Dirga merasa menjadi seorang bajingan ketika ia merasa menegang kembali hanya karena sentuhan dari kulit Nadine yang begitu lembut terhadap kulitnya.

“Sial!” umpat Dirga keras-keras. Ia menatap ke arah Nadine, wanita itu sudah menutup matanya, mungkin karena kelelahan, kesakitan, atau entahlah, yang jelas Dirga cukup tahu diri dan tidak akan membangunkan Nadine untuk meminta jatah kembali, atau dengan brengseknya ia memaksakan kehendaknya dan memperkosa wanita tersebut saat sedang tidak sadar seperti saat ini.

Sial! Itu benar-benar bukan dirinya.

Akhirnya Dirga bangkit, menyelimuti tubuh polos Nadine, lalu menatap wanita tersebut sebentar. Sial! Ini akan menjadi malam yang panjang untuknya, mengingat ia kembali menegang dan begitu mendamba tubuh wanita tersebut. Tapi ia harus mengalah, ia akan sabar, hingga tiba waktunya dirinya kembali memiliki tubuh Nadine. Ya, ia akan mendapatkannya kembali, bagaimanapun caranya.

Dirga lalu pergi, meninggalkan Nadine untuk masuk ke dalam kamar mandi. Ya, malam ini ia harus puas dengan satu sesi, dan di tutup dengan mandi air dingin, supaya dapat memadamkan gairahnya yang seakan membara di dalam tubuhnya.

-TBC-

Advertisements

3 thoughts on “Lovely Wife – Chapter 3 (Malam yang panjang)

  1. Sudah saatnya Dirga tobat dan brlabuh ke Nadine heheh
    jd slm ini Dirga menyagka klo Nadine itu cwk gmpangan,,tp skrg prasangkanya itu sm skli gk bnr.
    Smg dgn dtgnya Nadine,,Dirga bsa brubah dan menghargai sebuah hubungan…

    Like

  2. huwaaaaahhhhhhhhhhhh dirga bikin q panas dingin , gila sii iblis yng sangat mnggoda 😍😍😍😍😍😍😍😍
    dari awal q udah curiga ql dirga ma serly ada sesuatu , dan ternyata serly mantan na dirga …
    ga nyangka dirga juga pernah ngerasain penyesalan dan membuat dia ga tertarik buat membangun kmetmen ,untung ada nadin yng akan segera merubah semua na .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s