romantis

Evelyn – Chapter 8 (Rahasia)

Evelyn

 

“Di sini saja.” Bisik Eva dengan suara serak.

“Saya harus pulang.”

“Please, di sini saja, temani aku.”

“Nona.”

“Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kenapa perlakuanmu padaku berbeda dengan perlakuanmu padanya?” tanya Eva dengan sedikit terisak. “Aku benci kamu, aku benci kamu yang selalu bersikap seperti ini padaku.”

Fandy menelan ludahnya susah payah. “Kamu mabuk, aku harus pulang.”

“Temani aku, malam ini saja, kumohon.” Eva memohon. Ia kemudian menarik tengkuk Fandy supaya mendekat pada wajahnya, dan tanpa banyak bicara lagi, Eva menggapai bibir Fandy, menciumnya dengan begitu berani, berharap jika Fandy akan membalas ciumannya bahkan melakukan hal yang lebih padanya.

Fandy sendiri tidak bisa menolak ciuman tiba-tiba yang di lakukan oleh Eva. Yang bisa ia lakukan hanyalah menerima dan membalas ciuman tersebut, karena mau di pungkiri seperti apapun juga, nyatanya ia menginginkan gadis yang kini sedang menciumnya, hasratnya tak bisa di bohongi, keinginannya tak bisa lagi di kendalikan, haruskah ia melanjutkan apa yang ia inginkan? Atau berhenti sebelum menyesali semuanya?

***

Chapter 8

-Rahasia-

 

Fandy tidak bisa berhenti, dan ia yakin jika pertahanan yang selama ini ia bangun sudah runtuh seketika. Dengan cekatan, ia mengangkat kakinya, memposisikan diri menindih tubuh mungil di bawahnya tanpa menghentikan pagutan bibir mereka.

Jemari Fandy sudah merayap, membuka pakaian yang di kenakan Eva, sedang bibirnya kini sudah turun mencumbu rahang Eva yang tampak begitu menggoda untuknya. Eva mengerang penuh dengan kenikmatan saat bibir Fandy membelai lembut permukaan lehernya.

Tak lama, Fandy menghentika aksinya, ia mulai membuka pakaiannya sendiri dan juga mulai melucuti celana yang ia kenakan, tapi ketika ia kembali naik ke atas ranjang Eva, gairahnya padam seketik saat menatap Eva yang kini sudah tertidur pulas.

Tidur? Secepat itu?

Oh sial!

Fandy tak berhenti mengumpat dalam hati saat menyadari jika dirinya hampir saja meniduri atasannya saat wanita itu sedang mabuk. Fandy akhirnya duduk di pinggiran, menghela napas panjang sambil menurunkan bahunya yang sejak tadi menegang seiring gairah yang membara di dalam tubuhnya. Jemarinya terulur mengusap pipi Eva, dan ia tersenyum.

Astaga, apa iya dirinya dapat tergoda dengan begitu cepat oleh sosok yang kini sedang tertidur pulas di hadapannya tersebut? oh jangan tanya bagaimana frustasinya Fandy saat ini. Ia menegang, hampir meledak karena gairah yang seakan meletup-letup dari dalam dirinya. Sial! Sepertinya malam ini ia harus mandi air dingin supaya bisa memadamkan api gairang yang seakan tak berhenti membara.

Fandy mencondongkan wajahnya, mengecup lembut bibir Eva yang sedikit terbuka dan berbisik di sana.

“Aku pulang, besok aku kembali lagi.” Suaranya benar-benar terdengar sangat serak dan tertahan.

Dengan berat hati Fandy bangkit, ia membenarkan penampilannya yang tadi hampir ia tanggalkan karena tergoda untuk melakukannya dengan Eva. Setelah di rasa pakaiannya sudah kembali rapih, Fandy menatap lekat-lekat wajah Eva sebelum kemudian ia pergi meninggalkan gadis itu. Ah, rasanya sangat berat, baru kali ini ia merasakan perasaan campur aduk seperti saat ini.

Keluar dari kamar Eva, Fandy sedikit terkejut saat mendapati ayah Eva yang sudah berdiri tak jauh dari pintu kamar puterinya.

“Tuan.” Fandy menyapa dengan sedikit canggung. Untung saja tadi dirinya belum melakukan apapun terhadap Eva, bagaimana jika mereka melakukan sesuatu yang lebih lalu ayah Eva datang? Oh, Fandy tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Ikut ke ruang kerja saya.” Suara itu di ucapkan begitu dingin, dan yang bisa Fandy lakukan hanya mengikuti pria paruh baya tersebut tanpa membantahnya.

***

“Ternyata kamu benar-benar menuruti apa kemauan saya saat itu.” ucap ayah Eva ketika ia dan Fandy sudah berada dalam ruang kerjanya.

Fandy mengerutkan keningnya, “Maaf, maksud Tuan?”

Nick menuangkan minuman ke sebuah gelasnya lalu meminum minuman tersebut. “Kemauan saya supaya kamu mendekati puteri saya, menjadikan dia teman kamu, bukan hanya sekedar Nona kamu. Saya senang melihatnya.”

Fandy menelan ludah dengan susah payah. Sejujurnya, ia tidak pernah memikirkan permintaan tuannya tersebut, ia tidak mendekati Eva karena permintaan ayah gadis tersebut, semuanya terjadi begitu saja, ia tak dapat lagi bekerja dengan profesional, nyatanya, setelah malam ini, ia sudah menatap Eva bukan hanya sebagai gadis yang harus ia kawal, melainkan gadis yang ingin ia miliki.

“Saya tidak mendekati Nona Evelyn.”

Nick menatap Fandy dengan mengangkat sebelah alisnya. “Maksud kamu? Saya pikir semakin ke sini kamu semakin dekat dengannya.”

“Saya dekat dengan Nona Evelyn karena saya suka.”

“Apa?” Nick tercengang dengan pengkuan begitu berani yang terlontar dari bibir Fandy. “Apa maksud kamu dengan suka?”

Fandy hanya diam, ia bahkan tidak bisa menjelaskan pada dirinya sendiri bagaimana perasaannya pada Eva saat ini. Devinisi suka ia tak mengerti, yang ia tahu adalah bahwa Eva kini menjelma menjadi sosok yang special untuknya, bukan hanya sekedar gadis yang harus ia lindungi keselamatannya.

“Kamu menyukai dia seperti laki-laki menyukai perempuan?” tanya Nick lagi.

“Sepertinya begitu, Tuan.”

“Apa kamu sadar apa yang kamu katakan? Saya bisa memecat kamu saat ini juga karena ketidak profesionalan kamu sebagai pengawal pribadinya. Saya hanya ingin kamu memposisikan diri kamu menjadi temannya, sahabatnya, bukan kekasihnya.”

“Saya juga tidak berharap menjadi kekasih Nona Evelyn, saya sadar, bahwa kami berbeda.”

“Saya tidak membicarakan tentang perbedaan. Saya tidak peduli dengan status kekasih Evelyn nantinya, yang saya pedulikan adalah keselamatannya. Kamu adalah pengawalnya, pelindung keselamatannya, saya sangsi kamu bisa bersikap profesional saat perasaan ikut campur tangan di dalamnya.” Nick berkata dengan mimik serius.

Fandy hanya diam membatu. Ya, tidak seharusnya ia memiliki perasaan sejenis yang ia rasakan saat ini. Ia adalah orang yang berbeda, tak seharusnya ia memiliki rasa yang menggelikan seperti rasa yang ia rasakan saat ini. Bossnya sudah berkali-kali menjejalinya dengan nasehat, bahwa jangan sampai mencampur adukkan perasaan dengan pekerjaan, orang sepertinya tak seharusnya memiliki perasaan suka, atau bahkan cinta.

“Saya mengerti.”

Nick lalu berjalan menuju ke arah Fandy. “Saya tidak menyuruh kamu menghapus perasaan kamu pada puteri saya. Tapi Evelyn saat ini lebih membutuhkan seorang pengawal dari pada seorang kekasih.” Nick tampak sedikit frustasi.

“Maaf sebelumnya, Tuan, tapi, apa yang membuat anda begitu ketakutan dengan keselamatan Nona Evelyn? Saya pikir, beliau baik-baik saja.”

Nick menjauh, ia mengisi gelasnya kembali dengan anggurnya, kemudian menegaknya kembali. “Kamu tidak mengerti, Fan. Satu minggu lagi, Evelyn genap berusia dua puluh tahun, dan setelah ulang tahunnya tersebut, secara otomatis, semua aset keluarga Mayers akan tertulis atas namanya. Dia belum mengetahuinya hingga kini, tapi banyak orang di luar sana yang sudah mengetahuinya.”

Fandy mengerutkan keningnya. “Orang di luar sana?”

Nick menghela napas panjang. “Dua puluh satu tahun yang lalu, saya mengenal seorang wanita, wanita yang membuat saya tergila-gila meski saya tahu bahwa dia bukan wanita baik-baik. Dia ibu Evelyn, seorang yang bekerja sebagai wanita malam di sebuah kelab malam.”

Mata Fandy membulat seketika, ia tidak menyangka jika ibu Eva adalah orang seperti itu, dan ia lebih tidak menyangka lagi karena ayah Eva mau menceritakan semuanya pada dirinya.

“Bisa di tebak apa yang terjadi selanjutnya, kami menjalin hubungan, dia hamil, dan saya bertanggung jawab atas kehadiran Evelyn, tapi itu membuat saya menanggung resiko seperti di coret dari ahli waris keluarga. Ya, orang tua saya tidak pernah menyetujui pernikahan saya dengan ibu Evelyn.” Nick menyesap lagi anggur dalam gelasnya. “Saya tidak peduli, karena yang saya rasakan pada Maria saat itu benar-benar cinta, tapi ternyata, saya baru sadar jika dia tidak pernah berubah.”

“Maksud Tuan?”

“Maria hanya memanfaatkan kehadiran saya dan Evelyn, bahkan di belakang saya, dia masih menjalankan pekerjaan lamanya, tentu saja orang seperti Maria tidak akan pernah berubah.” Nick menegak lagi anggurnya, kali ini dengan tatapan marah. Emosi tampak terlihat jelas di raut wajahnya. Dia benar-benar terlihat seperti orang yang di kecewakan, di hianati, dan di sakiti.

“Evelyn tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan saya dan ibunya, karena selama ini kami hanya bercerita jika hidup kami bahagia, kami saling jatuh cinta lalu menikah dan semuanya sempurna karena kehadiran Evelyn.”

“Jadi, Tuan takut kalau ibu Nona Evelyn bertindak jauh?”

Nick mengangguk, “Bukan hanya dia. Saat Evelyn berusia tiga belas tahun, ayah saya yang saat itu masih tinggal di Paris meninggal dunia, dan lucunya, dia mewariskan seluruh aset kekayaannya atas nama cucunya yang bahkan tidak pernah ia temui sebelumnya. Ya, tentu saja dia tidak mewariskan apapun atas nama saya, karena dia begitu kecewa dengan saya yang tergila-gila dengan wanita murahan itu.”

Nick lalu menatap ke arah Fandy dengan tatapan seriusnya. “Semuanya akan jatuh ke tangan Evelyn ketika dia genap berusia dua puluh tahun, dan ketika saat itu tiba, banyak orang yang menginginkan dia, atau lebih tepatnya, tanda tangan dan juga sidik jarinya.”

“Termasuk ibunya?”

“Tentu saja, Maria adalah orang yang licik, dia akan melakukan apapun yang dia bisa lakukan untuk mencapai keinginannya.”

Fandy hanya menganggukkan kepalanya.

“Saya tidak peduli apa yang kamu rasakan, tapi saya berharap perasaan kamu tidak mempengaruhi kewaspadaan kamu untuk melindunginya, saya rela menukar apa saja untuk kebahagiaan dan keselamatan Evelyn.” Nick menepuk bahu Fandy, “Cukup, itu saja, kamu boleh keluar.”

“Tuan, bagaimana jika ibu Nona Evelyn ingin bertemu dengan Nona Evelyn?”

“Selama itu denganmu, bukan masalah.”

Fandy menganggukkan kepalanya, mengerti dengan semua yang di ucapkan atasannya tersebut padanya. Kemudian ia memohon diri untuk segera kembali, bagaimanapun juga, hari ini seharusnya ia tidak datang ke rumah ini, tapi karena Eva, gadis itu membuat hidupnya tak berjalan seperti biasanya. Ah, gadis itu lagi, mengingat itu Fandy kembali tersenyum, benarkah ia memiliki perasaan lebih pada seorang Evelyn Mayers?

***

Eva membuka matanya dan mendapati kepalanya yang benar-benar terasa sangat pusing, ia bahkan tidak dapat mengingat sama sekali apa yang terjadi dengannya kemarin hingga dirinya bisa bangung di atas ranjangnya yang begitu nyaman. Apa Fandy yang membawanya pulang? Oh, yang benar saja, kenapa juga ia memikirkan lelaki itu lagi? Lelaki yang bahkan terlihat sangat asik dengan gadis lai.?

Eva memposisikan dirinya setengah terduduk di atas ranjangnya, dengan punggung yang menyandar di kepala ranjang. Ia lalu memijit pelipisnya yang terasa berdentum karena rasa nyeri yang tiba-tiba menyerangnya.

Oh sial! Seberapa banyak ia meminum-minuman keras semalam? Ia tidak pernah merasa semabuk ini sebelumnya. Ketika Eva sibuk dengan rasa sakit yang mendera kepalanya, pintu kamarnya di buka dari luar. Apa itu para pelayan yang setiap pagi membangunkannya?

Eva melirik ke arah jam di nakas, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Tidak mungkin jika itu para pelayan yang setiap pagi di tugaskan untuk mengurus semua perlengkapannya. Eva mengangkat wajahnya, dan alangkah terkejutnya ketika ia mendapati sosok Fandy yang sudah berdiri di ambang pintu dengan membawa sebuah nampan yang penuh dengan sarapan paginya.

Rasa gugup menyelimutinya begitu saja. Astaga, apa ini? Kenapa Fandy yang masuk ke dalam kamarnya? Kenapa lelaki itu yang membawakannya sarapan? Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Jangan bilang kalau mereka semalam sudah melakukannya?

Dengan spontan Eva melirik tubuh bagian bawahnya yang berada di balik selimut tebalnya. Ia sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya. Siapa yang mengganti pakaiannya? Apa fandy? Apa yang sudah mereka lakukan semalam? Tidak, pasti tidak terjadi apapun, kalaupun iya, dirinya pasti merasakan sesuatu yang tidak nyaman karena itu merupakan pengalaman pertamanya, tapi kenapa Fandy tiba-tiba datang membawakannya sarapan layaknya sepasang pengantin baru? Tunggu dulu, pengantin baru? Apa yang kamu pikirkan, Eva? Jerit Eva dalam hati.

“Sarapan untuk kamu, dan ini, obat pereda sakit kepala.”

Tunggu dulu, ini benar-benar Fandy, kan? Kenapa dia bersikap lembut penuh dengan perhatian? Dan kata-katanya, kenapa tidak seformal biasanya? Oh, apa yang sudah terjadi di antara mereka?

Dengan canggung Eva menerima nampan pemberian Fandy, dan tanpa di duga, lelaki itu tiba-tiba duduk tepat di pinggiran ranjangnya. Jemarinya terulur begitu saja mengusap kening Eva, dan itu membuat Eva membatu seketika.

“Kamu demam, akan ku ambilkan kompres.” Fandy berdiri dan bersiap pergi meninggalkan Eva.

“A –apa yang terjadi?” tanya Eva masih dengan kebingungannya. Sikap Fandy hari ini benar-benar sangat berbeda.

Fandy menghentikan langkahnya, ia membalikkan badannya menghadap Eva kembali, kemudian mengerutkan keningnya saat tidak mengerti apa yang di maksud dengan Eva.

“Maksud kamu?”

“Kamu, kenapa kamu berubah? Sikapmu tidak sekaku dan seformal biasanya, uum, A –apa yang sudah terjadi di antara kita?”

Fandy tampak berpikir sebentar. Memangnya apa yang terjadi? Astaga, mereka hanya hampir bercinta semalam jika bukan karena Eva tertidur, lalu, apa Eva berpikir jika mereka sudah melakukannya?

“Memangnya apa yang kamu pikirkan?” Fandy bertanya balik dan itu membuat Eva kesal.

“Aku bertanya padamu, Fan, karena aku tidak mengingat apapun tentang semalam.”

“Kalau begitu jangan di ingat.”

“Fandy.” Eva merengek. “Tolong kasih tahu aku, apa yang sudah kita lakukan.”

“Kamu akan mengingatnya nanti.” Fandy menjawab dengan sedikit tersenyum. Astaga, rasanya menyenangkan juga menggoda Eva seperti saat ini.

“Fandy, apa kita sudah melakukannya? Mengingat sikapmu padaku pagi ini, aku hampir yakin kalau kita sudah melakukannya? Uum, apa kamu pakai pengaman?”

Fandy hampir saja tertawa lebar dengan pertanyaan polos yang di tanyakan Eva padanya. Ah, ternyata gadis ini memiliki sisi asyik, dan terlihat begitu menggemaskan ketika sikap polosnya muncul.

Fandy mendekat, jemarinya terulur mengusap lembut pipi Eva. Eva kembali membatu dengan sikap yang di tampilkan Fandy padanya. Astaga, Fandy membuat jantungnya seakan melompat dari tempatnya.

“Semuanya akan baik-baik saja, yang penting, aku akan selalu berada di dekatmu, dan bertanggung jawab atas apa yang sudah kuperbuat.” Fandy menahan diri untuk tidak tertawa dengan apa yang ia katakan. Kemudian ia pergi begitu saja, sedangkan Eva sendiri semakin bingung dengan kalimat yang terdengar ambigu dari Fandy, oh, sebenarya apa yang sudah mereka perbuat semalam?

***

Eva keluar dari dalam kamar mandinya dan sekali lagi ia terkejut karena sudah mendapati Fandy yang duduk di pinggiran ranjangnya, lelaki itu terlihat sedang menunggunya, dan sadar akan hal itu membuat jantung Eva kembali berdebar tak menentu.

“A –apa yang kamu lakukan di sini?” Eva bertanya dengan sedikit terpatah-patah, sejujurnya, ia sedikit kurang nyaman dengan perubahan yang di tampilkan oleh Fandy.

“Aku kan sudah bilang kalau aku akan keluar mengambil kompres, tapi kamu malah mandi, dan sarapanmu belum kamu makan.”

“Aku nggak apa-apa, nggak perlu di kompres.”

“Beneran? Tapi kening kamu tadi hangat.”

“Sekarang sudah dingin, apa kamu bisa keluar sebentar? Aku mau dandan.”

“Tidak, aku akan menunggumu di sini.”

Eva kemudian mendekat ke arah Fandy, lalu mengulurkan telapak tangannya menyentuh kening Fandy. “Kamu nggak lagi demam, kan? Kamu nggak lagi sakit, kan?”

“Enggak, kenapa?”

“Kamu berubah terlalu banyak, aku nggak nyaman.”

“Jadi kamu lebih suka aku yang kaku dan selalu bersikap formal padamu?”

“Ya nggak gitu juga.” Eva tampak berpikir sebentar, kemudian dengan centil ia duduk tepat di atas pangkuan Fandy tanpa canggung sedikitpun. “Jadi, apa kita sudah jadian?”

“Jadian? Aku nggak bilang kita jadian.”

“Tapi sikap kamu memperlihatkan jika kamu, uumm, kamu…”

“Aku apa?”

“Kamu kayak pacarku yang sangat perhatian padaku.”

Fandy mengangkat sebelah ujung bibirnya, menampilkan sedikit senyuman miring yang hanya sekilas terlihat. “Anggap saja begitu.”

“Apa?”

“Sudah, sekarang cepat habiskan sarapanmu.”

“Tapi kita sedang pacaran, kan?”

“Nggak tahu.”

“Fandy…..”

Dan Fandy hanya tersenyum melihat tingkah Eva yang tampak begitu manja padanya, ah, gadis ini benar-benar terlihat sangat menggemaskan. Apa iya dirinya harus melangkah lebih jauh untuk memiliki Nonanya tersebut? Ya, apa salahnya dengan melangkah lebih jauh.

***

“Jadi, tadi malam kamu dari kelab malam? Dengan Fandy?”

“Iya Pa, ah, Fandy terlihat suka dengan gadis yang bernama Evelyn itu, dan gadis itu juga terlihat menyukai Fandy.” Amora bercerita panjang lebar kepada ayahnya tanpa memperhatikan wajah pucat wanita yang juga ikut makan siang di meja mereka.

Amora kemudian melirik ke arah wanita tersebut yang menghentikan pergerakannya seketika saat mendengar apa yang di ucapkan Amora.

“Tante Maria kenapa? Ada yang salah?” Amora bertanya dengan polos pada wanita yang bernama Maria tersebut, wanita yang ia kenal sebagai teman dekat ayahnya.

Wanita yang bernama Maria itu berdiri seketika. “Kita harus bicara.” ucapnya dingin pada ayah Amora. Kemudian wanita itu pergi meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya.

“Papa, apa yang terjadi? Aku nggak salah omong, kan?” tanya Amora pada ayahnya.

Sang ayah mengusap bibirnya dengan lap yang di sediakan. “Tidak sayang, tak ada yang salah denganmu, papa tinggal sebentar.” Kemudian sang ayah pergi meninggalkan Amora menuju ke arah wanita yang bernama Maria tersebut.

***

“Sialan kamu Mark!” umpat Maria keras-keras ketika ia sadar jika Mark sudah masuk ke dalam kamarnya dan mengunci mereka berdua di dalam kamarnya.

“Ada apa?” Mark bertanya dengan santai.

“Jangan pura-pura bodoh kamu Mark! Apa ini semua rencanamu? Sudah jelas kamu mengirim Fandy ke rumah itu untuk mendekati puteriku.”

Lelaki yang bernama Mark itu tampak santai dan malah duduk di sebuah sofa. “Lalu, apa ada yang salah dengan hal itu?”

“Ya, tentu saja! Saat Evelyn bersatu dengan Fandy, kesempatanku untuk memiliki aset-aset keluarga Mayers semakin menipis, kecuali jika itu memang rencanamu dari awal untuk membuat mereka bersatu dan menguasai harta Evelyn sendiri melalui Fandy.”

“Hemm, rupanya kamu berpikir terlalu jauh, sayang.”

“Aku tidak akan berpikir sejauh itu jika aku tidak tahu ada hubungan apa antara kamu dan Fandy.”

Mark tampak menegang seketika. “Memangnya apa yang kamu ketahui tentang hubunganku dan Fandy?” geramnya.

“Tidak banyak, yang ku tahu bahwa dia memiliki darah Austin dalam tubuhnya.”

Secepat kilat Mark bangkit menuju ke arah Maria lalu mencengkeram erat rahang wanita tersebut. “Tidak ada yang tahu antara hubunganku dengan Fandy, dari mana kamu tahu tentang hal itu?”

Maria tersenyum mengejek. “Tidak sulit untukku, Mark, aku tahu semua tentangmu, rahasiamu tentang Fandy dan ibunya yang menjadi wanita simpananmu saat itu.”

“Kurang ajar!”

Bukannya takut, Maria malah tertawa lebar. “Dengar Mark! Aku tidak akan membiarkan kamu menguasai harta Evelyn seorang diri. Ingat Mark, aku sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari, jadi aku tidak ingin kamu atau puteramu itu mengacaukannya.”

“Aku tidak mengacaukannya, sialan!”

“Kalau begitu, jangan biarkan Fandy memiliki Evelyn.” Setelah perkataannya tersebut, Maria mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Mark, dan setelah ia berhasil lepas, Maria memilih pergi meninggalkan Mark yang masih sibuk dengan pikirannya.

-TBC-

Advertisements

6 thoughts on “Evelyn – Chapter 8 (Rahasia)

  1. huwaaaaahhhhhhhhh rahasia besar apa ini ??
    jangan bilang ql fandy anak na zoya 😱😱
    gila ternyata bos na fandy pacar na emak na evelyn , bener” kejutan yng luar biasa ini…
    q suka gaya na bapak na eva , dia ga perduli pada apapun bagi dia yng penting keselamatan eva , lampu ijo tu buat sii fandy ..
    ternyata fandi ma amora saudra beneran , walaupun beda ibu …

    Like

  2. Terlalu banyak rahasia yg mengejutkan 😲😲😲
    Semoga abang fandy tetep ama evelyn😘😘😘😍😍
    Jahat bgt siih orang tua ni maux harta org lain jaa.. makax kerja biar kaya 😅😅😅

    Like

  3. Rahasia mulai terkuak penasaran hubungan fandy sama bos nya…ternyata mamanya eva manfaatin eva untuk mendapatkn harta keluarga mayers…gak sabar nunggu kelanjutan ceritanya

    Like

  4. Trnyata Fandy bsa jg ya menggoda Eva hahaha
    gk di sangka Bossnya Fandy adlh ayahnya sndri,,dan Ibu Eva ktrlaluan jg ya,mau morotin kok harta anaknya.aduhhh ini bnr2 Ibu yg durhaka..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s