romantis

Lovely Wife – Chapter 2 (Membawamu ke atas ranjangku)

Lovely Wife

 

Chapter 2

-Membawamu ke atas ranjangku-

 

Satu tahun setelahnya….

Dirga tidak berhenti menatap sepasang kaki jenjang yang mengenakan hak tinggi itu, melangkah ke sana kemari mencari-cari berkas di area lemari tinggi di ujung ruangannya. Oh, kaki itu tampak jenjang, dan menggoda tentunya. Sejak tadi Dirga bahkan tidak memungkiri jika dirinya sudah menegang karena kaki-kaki jenjang tersebut.

“Pak, dokumennya tidak ketemu.” Suara itu terdengar begitu lembut di telinganya. Suara Nadine, si pemilik kaki jenjang tersebut.

“Kamu.” Dirga berdehem sejenak karena merasakan suaranya tiba-tiba serak. “Kamu yakin tidak bisa menemukannya?” tanya Dirga yang kini sudah berdiri dan menuju ke tempat Nadine berdiri.

“Ya Pak, saya sudah mencari di-” Nadine tak dapat melanjutkan kalimatnya karena ia merasakan seseorang berdiri tepat di belakangnya, punggungnya menempel pada sebuah dada bidang yang ia yakini adalah milik dari atasannya. Oh, apa yang di lakukan Dirga di belakangnya? Astaga, Nadine bahkan tidak berani menggerakkan tubuhnya lagi karena kedekatan mereka yang benar-benar mempengaruhinya.

Sudah setahun lamanya ia menjadi sekertaris pribadi Dirga, dan dalam jangka waktu itu, banyak sekali yang terjadi di antara mereka. Mulai dari Nadine yang mengetahui semua sikap buruk dari atasannya tersebut.

Ya, jika dulu Nadine mengenal Dirga hanya sebatas kakak dari Karina sahabatnya yang sangat perhatian,maka kini semua sikap buruk lelaki itu seakan di umbar dengan begitu jelas di hadapannya.

Lelaki itu memiliki banyak kekasih, hobby menggoda wanita, suka sekali melakukan seks di manapun tempatnya,suka seenaknya sendiri, mengintimidasi, kasar, dan juga pemarah. Oh, jangan di tanya bagaimana frustasinya Nadine ketika berada di dekat Dirga.

Jemari Dirga terulur pada rak paling atas lemarinya, kemudian ia mengambil sebuah dokumen di sana.

“Ini dokumennya, bagaimana mungkin kamu tidak dapat menemukannya?”

“Uum, itu terlalu tinggi untuk saya gapai, Pak.”

“Oh ya? Lalu apa gunanya kamu mengenakan hak tinggi? Apa untuk menggoda lawan jenis.”

“Maaf?” Nadine tidak mengerti.

“Lupakan saja.” Dirga menjauh. “Kamu boleh keluar.”

“Baik, Pak.” Nadine akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan Dirga, tapi kemudian langkahnya kembali terhenti saat Dirga kembali memanggil namanya.

“Nadine, kita akan makan siang bersama.”

“Uum, maaf pak, tapi saya ada janji.”

“Janji? Dengan siapa? Pacar kamu?”

Nadine tak mampu menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya. Tentu saja ia tidak enak menolak permintaan atasannya tersebut, tapi di sisi lain, Nadine cukup hapal apa yang akan di lakukan Dirga jika mereka makan siang bersama. Biasanya lelaki itu juga akan mengajak salah satu kekasihnya, lalu berakhir dengan Nadine pulang sendirian dan Dirga entah kemana dengan kekasihnya tersebut. Nadine tentu tidak ingin hal itu terulang lagi dan lagi.

“Baiklah, kamu boleh keluar, tapi nanti tidak boleh menolak ajakanku lagi.”

Nadine mengangguk patuh, lalu dia pergi keluar dari ruang kerja Dirga. Sedikit kesal karena nyatanya Dirga selalu bersikap seenaknya sendiri. Lelaki itu melakukan apapun yang di inginkannya, dan Nadine mau tidak mau menuruti perintah dari lelaki tersebut.

***

Dirga mengepalkan kedua belah telapak tangannya saat melihat pemandangan di hadapannya. Tampak Nadine sedang di jemput oleh seseorang, dan Dirga cukup kenal dengan orang tersebut. Itu Darren, yang juga merupakan sahabat dari Karina, adiknya. Tampaknya Darren dan Nadine bukan hanya bersahabat, keduanya tampak sangat intim dengan tatapan mata masing-masing. Sial! Apa hubungan mereka?

Dirga menggeram dalam hati, sudah cukup lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Perasaan seperti ada yang memukul-mukul rongga dadanya hingga terasa nyeri. Perasaan yang sudah bertahun-tahun lamanya ia lupakan.

Sial! Memangnya perasaan apa?

Dirga mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut. Ia tidak ingin kembali jatuh dalam kubangan yang sama. Kubangan menyakitkan hingga membuat dirinya memungkas semua indera perasanya hingga ia tak mampu lagi merasakan perasaan-perasaan menggelikan seperti yang kini ia rasakan.

Brengsek!

Ia harus pergi, pergi mencari pengganti untuk menghilangkan sikap lembeknya yang seakan ingin tumbuh lagi dari dalam dirinya.

Dirga lalu merogoh ponselnya, menghubungi teman yang biasanya selalu setia menuruti permintaannya.

“Halo.” Panggilannya di jawab pada deringan pertama.

“Carikan gue perempuan, siang ini juga.”

“Lo gila?”

“Ya, gue sudah mulai gila.” Dan setelah jawabannya tersebut, Dirga memutus panggilan tersebut begitu saja tanpa mempedulikan suara di seberang yang tidak berhenti mengumpatinya. Sial! Ia butuh wanita, ia butuk seks, ia butuh pelepasan siang ini juga.

***

Nadine menatap Darren yang tampak lahap dengamn makan siangnya, ah, sengan sekali melihat lelaki di hadpannya ini lagi. Perasaannya pada Darren kini semakin tumbuh membesar. Meski dulu awalnya ia hanya terpaksa menerima Darren, namun kini cinta itu tumbuh karena terbiasa.

Ya, dirinya benar-benar mencintai Darren, dan semoga saja hubungan mereka tidak akan menghadapi cobaan yang serius.

“Ada apa?” suara Darren membuat Nadine tersadar, ternyata lelaki itu sudah menatapnya dengan tatapan bingungnya. “Ada yang salah dengan cara makanku?”

Nadine tersenyum dan meggelengkan kepalanya. “Enggak, nggak ada yang salah. Kamu hanya seperti orang goa yang kelaparan.”

Darren tertawa lebar. “Sejujurnya tadi pagi aku tidak sarapan, jadi siang ini aku makan dobel.”

“Kenapa nggak sarapan?”

“Aku kesiangan. Kamu lupa bangunin aku.”

“Ah ya, aku minta maaf, tadi pagi ada rapat mendadak. Jadi aku lupa membangunkanmu.”

“Rapat lagi? Aku bingung dengan bossmu itu, dia suka sekali mengadakan rapat, pagi-pagi, malam-malam, dan lain sebagainya.”

Nadine hanya diam. Ia ingin menjawab tapi tak yakin jika ia dapat menjelaskan perkataannya secara gamblang. Ya, Dirga memang suka seenaknya sendiri. Pagi-pagi buta, lelaki itu sudah meneleponnya, berkata jika mereka ada rapat mendadak, nyatanya, saat sampai di kantor, tak ada rapat apapun. Malampun demikian, tak jarang Dirga tiba-tib meneleponnya, meminta untuk menemui Dirga saat itu juga karena ada hal penting, tapi nyatanya, lelaki itu malah tengah asik di tempat hiburan dengan beberapa wanita di sebelahnya, ya, meskipun alasan kerja juga sedikit masuk akal karena ia berada di tempat tersebut bersama dengan beberapa kliennya.

“Nadine?”

Lagi-lagi nadine tersadar jika dirinya baru saja melamunkan lelaki lain saat bersama dengan Darren, kekasihnya. Ah, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

“Maaf.”

“Kamu terlihat banyak pikiran.”

“Ya, aku memang banyak kerjaan.”

Darren meminum jus di hadapannya. “Begini saja, keluar saja kamu dari tempat kerjamu, dan kamu bisa kerja di tempatku.”

Nadine mengerutkan keningnya. “Memangnya bisa seperti itu?”

“Bisa, beri saja dia alasan yang masuk akal, misalnya, kita mau nikah dan kamu memilih bekerja dengan calon suamimu.” Darren berkata dengan begitu santai.

Nadine tersenyum. “Kamu curang, kita nggak akan nikah.”

“Please, apa lagi yang kamu tunggu?”

“Aku belum siap Darren, dan kita sudah membahas masalah ini sebelum-sebelumnya, bahwa aku belum ingin menikah.”

Fine. Tapi aku mau kamu segera pindah ke kantorku.”

Nadine berpikir sebentar, “Aku akan memikirkannya nanti.”

“Ayolah.” Darren memohon.

“Darren, bagaimanapun juga aku tidak enak dengan keluarga Karina, dulu mereka mau menerimaku padahal aku belum memiliki pengalaman kerja apapun.”

“Oke.” Darren mengulurkan jemarinya mengusap lembut pipi Nadine. “kamu memang seperti malaikat.” Nadine tersenyum lembut.

“Kamu berlebihan.”

“Ya, terserah apa katamu. Sekarang, cepat habiskan makananmu sebelum boss sialanmu kembali menghubungimu sebelum jam makan siangmu habis.”

Nadine hanya mengangguk patuh tanpa menghilangkan senyumannya. Ia bahagia memiliki Darren, lelaki yang begitu pengertian dan perhatian padanya.

***

“Oh sia! Sial! Sial!.” Dirga tak berhenti mengumpat keras ketika ia mendapatkan pelepasannya. Ia menggeram, sesekali menepuk pinggul wanita yang kini masih berposisi membelakanginya. Wanita tersebut berteriak keras dan entah kenapa itu menggoda untuk Dirga.

Dirga menarik dirinya, lalu membuang alat pengaman ke sembarang tempat, dan memasangnya kembali yang baru ketika pangkal pahanya tak berhenti menegang. Ia menyatukan dirinya kembali dengan begitu panas hinga membuat wanita tersebut mengerang nikmat.

“Ohh, apa yang kamu lakukan?” Wanita itu menoleh ke belakang, ketika mendapati Dirga kembali menyatu dengan tubuhnya.

“Apa lagi? Tentu saja memasukimu.”

“Sial! Aku mau tarifku di tambah.”

“Kamu akan mendapatkannya, sayang.” Dirga lalu kembali bergerak, menarik untaian r4ambut wanita tersebut sambil bergerak seirama. Keduanya bahkan sama-sama mengerang, tak peduli jika mungkin saja suara mereka terdengar orang lain.

Saat Dirga masih tengah asik dengan pergerakannya, ponselnya berbunyi, ia tidak menghiraukan panggilan tersebut dan membiarkannya mati sendiri, tapi setelah bunyi panggilan itu mati, ternyata ponselnya kembali berbunyi. Sial! Siapa lagi yang sedang mengganggunya?

“Ambilkan ponselku.” Ucap Dirga tanpa menghentikan pergerakannya.

What? Kamu mau ngangkat telepon saat masih menyatu denganku?”

“Kamu keberatan?”

Wanita itu berpikir sejenak. “Tidak.”

Well, kalau begitu tolong ambilkan ponselku.”

Akhirnya  wanita tersebut menggapai ponsel Dirga yang memang terletak di meja kecil dekat dengan kepala ranjang. Setelah menerima ponselnya dari wanita di depannya, Dirga melirik sekilas, ternyata yang memanggilnya adalah nomor kantor. Siapa? Jangan bilang ayahnya.

“Halo.” Dirga mengangkat panggilan tersebut sambil sedikit menggeram.

***

Nadine menjauhkan gagang telepon tersebut dari telinganya saat mendengar sapaan dari seberang. Suara Dirga terdengar seperti sebuah geraman, kenapa? Apa karena ia sedang mengganggu waktu dari lelaki tersebut?

Setelah makan siang dengan Darren, Nadine sedikit kebingungan mencari keberadaan Dirga, karena jadwalnya nanti jam dua siang akan ada klien yang datang menemui lelaki tersebut, tapi hingga kini –jam setengah dua siang, lelaki itu belum juga menampakan batang hidungnya. Kemana dia? Atau jangan-jangan Dirga lupa dengan jadwalnya?

“Maaf, pak, ini saya.”

“Uuh, Nadine, ada apa? Shit!”

Nadine kembali menjauhkan gagang telepon tersebut sambil menatapnya. Sebenarnya Dirga sedang apa? Kenapa suaranya terdengar seperti orang yang sedang mendesah-desah?

“Uum, itu pak, ada jadwal bertemu klien jam dua siang nanti.”

“Bangsat!”

“Maaf?” Nadine benar-benar tak mengerti kenapa Dirga mengumpatinya.

“Sorry, bukan kamu. Oh sial! Apa kamu bisa berhenti bergoyang?”

Nadine mengerutkan keningnya. “Bergoyang?” tanyanya bingung.

“Oke, Nadine, aku akan segera-”

“Apa kamu tidak bisa lebih cepat? Oh, aku akan sampai, aku akan sampai.”

Nadine ternganga mendengar suara tersebut.Terdengar suara wanita yang tengah memotong kalimat Dirga, dan suaranyapun di iringi dengan napas yang sersenggal-senggal. Astaga, jangan bilang kalau mereka sedang…..

“Pak, Pak Dirga sedang-”

“Demi Tuhan, matikan telepon sialan itu! Oohh..” terdengar lagi seorang wanita berseru, sedangkan Dirga sendiri tidak berhenti mengeluarkan erangan-erangan yang entah kenapa membuat bulu kuduk Nadine meremang seketika.

Dengan spontan Nadine menutup sambungan telepon tersebut. Dadanya berdebar tak karuan, pipinya merah padam, entah kenapa ia merasa jika tadi ia baru saja melihat sepasang kekasih yang tengah memadu kasih dengan begitu panasnya. Nadine menggelengkan kepalanya seketika, astaga, apa yang sedang ia bayangkan??

***

Waktu sudah hampir menunjukkan pukul tiga sore, tapi Dirga belum juga sampai di kantornya. Ingin rasanya Nadine kembali menghubungi lelaki itu karena kini kliennnya sudah menunggu di ruangan lelaki tersebut, tapi nyatanya, Nadine masih takut, jika nanti dirinya mengganggu aktifitas bossnya tersebut.

Ketika Nadine gelisah dengan sesekali melirik ke arah jam tangannya, orang yang ia tunggu-tunggu tersebut akhirnya tiba juga.

Dirga masih mengenakan kemeja yang sama dengan tadi pagi, tatanan rambutnya sedikit berantakan, tak ada lagi dasi yang bertengger di lehernya, lengan panjangnya yang sudah di gulung, dan yang paling ia rasakan perbedaanya adalah aroma lelaki tersebut yang biasanya beraroma citrus kini berubah menjadi aroma yang di yakini Nadine seperti parfume wanita.

Dengan gugup Nadine berdiri menyambut kedatangan atasannya tersebut.

“Apa dia.” Dirga terlihat sedang mengendalikan sesuatu di dalam dirinya. “Maksud saya, apa ada tamu untuk saya?”

“Ya pak, sudah menunggu di dalam.”

“Oke.” Hanya itu. Dirga lalu masuk dan Nadine berakhir menghela napas panjang. Astaga, kenapa juga ia menjadi gugup saat berhadapan dengan Dirga? Apa ini tandanya jika dirinya memang sudah tidak bisa bekerja dengan lelaki itu lagi?

***

Pertemuan yang di lakukan Dirga dan kliennya bersangsung cukup lama, hingga jam lima sore, kliennya tersebut baru keluar dari dalam ruangan Dirga. Entah apa yang mereka bahas, Nadine sendiri tak tahu, nyatanya Dirga tidak memanggilnya untuk ikut masuk ke dalam ruangan lelaki tersebut.

Setelah mengetahui hanya ada Dirga di ruangannya, Nadine memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Dirga untuk membicarakan perihal dirinya yang ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ini. Ah, semoga saja Dirga tidak mempersulitnya.

Nadine mengetuk pintu ruangan tersebut sedikit lebih keras, hingga kemudian iaa mendengar kata “Masuk” yang di ucapka oleh Dirga.

Nadine masuk dengan dada yang sudah berdebar tak karuan. Entah kenapa setiap kali berhadpan dengan Dirga, perasaannya selalu tidak enak. Lelaki itu seakan-akan selalu menatapnya dengan tatapan mengintimidasi, dan itu benar-benar membuat Nadine tidak nyaman.

Dirga menatap kedatangannya dengan mengangkat sebelah alisnya. “Ada apa?” tanyanya secara langsung.

Nadine menelan ludahnya dengan susah payah, “Begini pak.” Ia lalu duduk di kursi di depan meja Dirga, dan mulai menyuarakan isi hatinya. “Saya, saya mau mengundurkan diri dari perusahaan bapak.”

“Apa?” mata Dirga membulat seketika. Nadine sebenarnya sedikit terkejut dengan reaksi Dirga yang baginya sedikit berlebihan itu. Apa pengunduran dirinya ini bermasalah dengan Dirga? Sepertinya tidak, jadi seharusnya Dirga tidak menampilkan ekspresi seperti saat ini.

“Uum, saya mendapat pekerjaan baru.” Nadine berkata sambil menundukkan kepalanya.

“Pekerjaan baru?” ulang Dirga. Tampang lelaki itu menggelap seketika. “Pekerjaan baru apa? Apa kamu tidak tahu kalau kamu terikat kontrak dengan perusahaan ini?”

“Maaf pak, tapi nanti saya akan berusaha untuk mengganti rugi-”

“Dengan apa?” Dirga memotong kalimat Nadine. Lelaki itu kini bahkan sudah berdiri, mencondongkan tubuhnya tepat di hadapan Nadine hingga membuat Nadine hanya menunduk dan tak berani menghadap ke arahnya. “Dengar, kamu tidak bisa keluar begitu saja dari dalam perusahaan ini sebelum saya mampu membawamu ke atas ranjangku.”

Dengan spontan Nadine mendongakkan wajahnya ke arah Dirga, matanya bertemu tapat pada mata Dirga yang entah kenapa terlihat membara, apa lelaki ini sedang marah? Pikir Nadine, tapi kenapa marah? Bukankah seharusnya ia yang kesal karena ucapan Dirga barusan?

“Keluar dari ruangan saya.” Kalimat itu di ucapkan dengan nada begitu dingin hingga Nadine tak mampu membantahnya lagi.

Akhirnya Nadine memilih bangkit lalu keluar dari dalam ruangan tersebut meski dengan hati kecewanya. Ya, tentu saja ia sangat kecewa karena sikap Dirga yang di nilainya sedikit berlebihan, dan kurang ajar mengingat lelaki itu mengucapkan keinginannya untuk membawa dirinya ke atas ranjang lelaki tersebut, oh, yang benar saja.

-TBC-

Advertisements

3 thoughts on “Lovely Wife – Chapter 2 (Membawamu ke atas ranjangku)

  1. dirga mngengat kan q ma ramma …
    mungkin nadin ma daren mang sling cinta tapi entah knp hubungan mereka seperti kurang greget , seperti ga ada fell , beda ketika daren ma karin sekalipun lagi berantem aura mreka berbeda , begitupun dirga ma nadin aura mereka saat bersama terlalu kuat …

    Like

  2. Astagaaa gk nygka bgt ama kelakuan Dirga yg tingkat kemesumannya udah akut hahah

    tdk di sangka jg trnyata Darren lbh baik drpd Dirga hehehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s