romantis

Unwanted wife – Epilog

Unwanted wife

 

Epilog

 

-Darren-

 

Aku keluar dari dalam kamar mandi dengan sesekali mengusap rambutku yang masih basah. Kutolehkan kepalaku ke belakang, dan mendapati Karina yang juga baru keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basahnya juga. Dia menatap ke arahku, dan senyum lembutnya terukir pada wajah cantiknya.

Ah, senyum itu lagi. Senyum yang mampu membuatku jatuh lagi dan lagi dalam pesonanya. Ku pandangi tubuhnya yang kian hari kian berisi, ya, aku suka dengan perubahannya. Karina tidak sekurus dulu, pipinya tidak setirus saat awal-awal aku menikahinya. Mungkin karena kehamilannya yang semakin tua hingga membuat tubuhnya juga semakin berisi seperti saat ini.

“Kemarilah, ku bantu mengeringkan rambutmu.” ucapku lembut sambil mengulurkan telapak tanganku padanya.

Karina tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya. “Rambut kamu juga masih basah, aku bisa mengeringkan rambutku sendiri.” jawabnya, tapi dia tetap meraih uluran telapak tanganku.

“Rambutku bisa kering sendiri, berbeda dengan rambutmu.”

“Baik, tuan. Lakukan apapun maumu.” Aku terkikik mendengar ucapannya.

Kutuntun dia ke sebuah kursi di depan meja riasnya, setelah duduk di sana, ku bantu dia mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut. Rambut yang lembut dan wangi itu membuatku tergoda untuk mengirup aromanya, menyentuh kelembutannya hingga kembali membuatku menegang ingin memiliki sang pemilik dari rambut indah tersebut.

Sial! Padahal baru beberapa menit yang lalu kami melakukan sesi panas di dalam kamar mandi, dan kini aku menginginkannya kembali? Oh Darren, seharusnya kau sadar jika istrimu saat ini sedang hamil tua, bagaimana mungkin kau bisa lebih bergairah dari sebelum-sebelumnya?

“Ada apa?” aku tersadar dari lamunanku saat Karina menanyakan pertanyaan tersebut.

Kutatap cermin di hadapan kami dan aku mendapati wajah Karina dengan ekspresi bingungnya sedang menatap bayanganku.

“Tidak ada apa-apa.” jawabku sesantai mungkin, padahal kini aku masih sibuk mengendalikan hasrat primitifku terhadapnya.

“Pestanya tadi sangat meriah.” Tiba-tiba Karina membahas pesta yang tadi baru saja kami datangi. Ya, itu pesta ulang tahun Aleta, gadis kecil yang beberapa bulan yang lalu pernah tinggal bersamaku dan juga Karina. “Kalau bayi kita lahir nanti, dan ulang tahun, aku ingin mengadakan pestanya semeriah pesta Aleta dengan konsep princess seperti tadi.” Karina berkata penuh antusias sambil mengusap perut besarnya.

“Hei, enak saja. Konsepnya harus bajak laut. Kamu yakin sekali kalau dia perempuan.”

“Aku yang mengandungnya, aku yang merasakannya, dia lemah lembut sepertiku, dia pasti perempuan.”

“Oh, begitu? kalau dia laki-laki bagaimana?”

“Tidak mungkin.”

Aku tersenyum, ku taruh pengering rambut tersebut di meja rias di hadapannya, kemudian ku peluk erat tubuh Karina dari belakang, kusandarkan daguku pada pundaknya sesekali kuhirup wangi dari rambut panjangnya yang terurai.

“Jadi, kamu benar-benar yakin dia perempuan?”

“Ya.”

“Kalau begitu setelah melahirkan, aku minta satu lagi, dan saat itu harus laki-laki.” kataku dengan pasti.

Karina tertawa lebar. “Kalau yang selanjutnya juga perempuan, bagaimana?”

“Kita buat lagi, lagi, lagi, lgi, dan lagi.”

“Hei, aku baru sadar jika kamu juga punya sikap menggelikan seperti saat ini.”

“Menggelikan? Ini bukan menggelikan, ini namanya merayu.”

“Merayu? Merayu apanya coba. Sudah ah, aku lelah, dan aku mau tidur.” Karina berdiri, dan aku mengikutinya.

“Baik, tuan puteri, jangan lupa minum sususmu.” Kuberikan segelas susu yang tadi sudah ku buatkan sebelum kami mandi bersama.

Karina duduk di pinggiran ranjang, ia meraih gelas susu yang ku berikan padanya kemudian meminum susu tersebut hingga tandas.

“Senang melihatmu menikmati minuman itu.” ucapku penuh arti. Ya, Karina memang tidak suka dengan susu, tapi beberapa bulan terakhir, dia sepertinya menyukai susu buatanku.

“Karena kamu yang buat.” jawabnya sambil menyunggingkan senyuman. Karina memberikan gelas kosong tersebut padaku, lalu ia mulai berbaring di atas ranjang.

Setelah menaruh sembarangan gelas kosong itu di atas meja, aku menuju ke arah Karina, dan ikut berbaring di sana, ku rengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku, karena dia bilang, dia tidak akan bisa tidur nyenyak jika aku tidak memeluknya.

“Darren, jika saat itu aku tidak egois, apa kamu akan tetap menikah dengan Nadine?”

Aku menghela napas panjang. “Tentu saja, aku sudah melamarnya, aku benar-benar mencintainya saat itu.”

“Lalu sejak kapan kamu sadar jika kamu kembali mencintaiku?”

“Aku tidak tahu kapan persisnya, yang ku tahu bahwa aku takut kehilangan kamu, itu saja.”

“Uum, apa kamu masih membenci keluargaku?” tanyanya sedikit ragu.

Aku menundukkan kepalaku, wajahku bertemu pada wajah Karina yang sudah mendongak ke arahku. Lalu aku tersenyum lembut padanya.

“Tidak, aku sudah melupakan semuanya. Kecuali kakakmu yang brengsek itu.”

Karina tersenyum. “Darren, Mas Dirga nggak brengsek.”

“Ya, tapi dia sialan! Oh, jangan di tanya bagaimana takutnya aku saat dia bilang kamu sakit. Sial! Tubuhku sampai gemetaran.”

Karina terkikik geli dengan ucapanku. Ya, aku memang benar-benar kesal dengan Dirga, meski hubungan kami kini sudah membaik, tapi tetap saja, dia brengsek, dan aku masih kesal dengannya.

“Tapi karena itu aku sadar, jika aku takut kehilanganmu.”

“Jadi, kamu sudah mau melupakan kesalahan kakakku itu, kan?” Karina bertanya dengan sedikit merayu.

“Tidak sekarang.”

“Darren.” Karina mulai merengek, dan aku tertawa.

“Karin, asal hubungan kami baik-baik saja, apa itu masih kurang? Setidaknya saat ini aku sudah tidak ingin memukul wajahnya ketika kami bertemu.” Karina menganggukkan kepalanya sambil terkikik geli.

Ya, semuanya sudah mulai membaik. Aku sudah menghilangkan sikap kurang ajarku pada keluarga Karina, karena bagaimanapun juga, kini mereka juga adalah keluargaku.

Tentang Nadine dan Dirga, aku tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan mereka, yang ku tahu mereka baik-baik saja. Dan semoga saja memang seperti itu. aku menyayangi Nadine, karena dia sahabatku, aku pernah mencintainya, jadi aku tentu ingin dia juga bahagia seperti yang ku rasakan saat ini dengan Karina.

Tentang Evan, kakakku, ku pikir dia juga sudah melupakan Karina. Beberapa hari yang lalu, dia pulang dengan membawa seorang wanita cantik bersamanya, meski aku tidak yakin jika wanita itu adalah tipe wanita idaman Evan, tapi aku senang, karena Evan sudah memiliki wanita lain dan sudah bisa melupakan Karina.

Ya, sangat egois, karena aku hanya memikirkan kebahagiaanku dengan Karina tanpa mempedulikan kebahagiaan yang lainnya. Tapi, bukankah cinta itu memang egois? Jika tidak, maka aku yakin, jika aku dan Karina tidak akan berakhir indah seperti sekarang ini.

Aku mengingat sesuatu yang sudah sejak lama ingin ku beritahukan pada Karina, akhirnya aku bangkit. Karina sedikit terkejut dengan pergerakanku yang tiba-tiba.

“Ada apa?” tanyanya.

“Ada yang ingin ku perlihatkan padamu.”

Karina mengerutkan keningnya, “Apa?”

Aku hanya tersenyum. Ku raih ponselku yang berada di atas meja rias, lalu aku kembali menuju ke tas ranjang, berbaring di sana dan membuka ponselku tersebut dengan Karina.

“Ada apa?” Karina masih tampak penasaran.

“Buka saja.” Aku meberikan ponselku pada Karina. “Ada sebuah folder di sana dengan judul ‘Jangan di buka’. Folder yang selalu membuatku tergoda untuk membukanya ketika aku mengingatmu.”

Karina semakin mengerutkan keningnya karena bingung dengan ucapanku. Tapi dia tetap melakukan aksinya membuka-buka isi dari ponselku.

Ketika Karina menemukan folder tersebut, tatapan matanya beralih ke padaku, aku tersenyum dan menganggukan kepalaku, menyatakan jika aku memerintahkan dia membuka folder tersebut.

Karina menyentuh gambar folder tersebut, dan dia ternganga mendapati isinya.

“A –apa ini?” tanyanya tak percaya.

Aku tersenyum melihat keterkejutan yang tampak jelas di wajah Karina. Oh, dia sangat menggemaskan.

“Si –siapa yang pernah melihat isi folder ini?” tanyanya masih dengan wajah shocknya.

“Nggak ada, hanya aku dan kamu yang tahu isinya.” Karina hanya ternganga, dan aku hanya bisa tertawa lebar karenanya.

Astaga, aku tidak menyangka jika semuanya akan berakhir membahagiakan seperti saat ini. Aku tidak pernah berpikir akan bisa hidup bahagia dengan Karina, wanita yang tidak ku cintai, istri yang tidak ku inginkan, tapi karena kegigihan wanita tersebut membuatku kembali belajar mencintainya, menerimanya, hingga aku yakin, hanya dia satu-satunya wanita di dunia ini yang mampu membuatku bahagia dan tertawa lebar seperti saat ini.

Ya, hanya Karina yang mampu membuatku bahagia seperti saat ini.

-the end-

Advertisements

3 thoughts on “Unwanted wife – Epilog

  1. apa isi polder itu bu , dari awal q pasaran ma isi na , walau udah biza d tebak isi na tentang karina , tapi tetap az q penasaran ?.?
    knp karin sampe kaget gitu .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s