romantis

Unwanted Wife – Chapter 20 (Beginikah akhirnya?)

Unwanted wife

 

Chapter 20 (End)

-Beginikah akhirnya?-

 

“Darren, apa yang terjadi denganku? Bagaimana dengan bayiku?” tanya Karina yang tidak menghilangkan kekhawatirannya meski kini Darren masih memeluknya dengan begitu erat.

Darren melepaskan pelukannya, lalu menatap Karina dengan tatapan lembutnya. “Kamu pingsan, terlalu stress, capek dan kekurangan nutrisi, dan itu membuatmu pendarahan.”

“Apa? Lalu bayiku.” Karina benar-benar panik dengan penjelasan Darren.

“Tenang, dokter masih bisa menyelamatkan bayinya.”

Karina menghela napas panjang lalu dengan spontan ia memeluk tubuh Darren erat-erat. “Aku takut, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau terjadi apa-apa dengan dia.” lirih Karina.

“Begitupun denganku, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu pada kalian.” Darren ikut berkata.

Karina melepaskan pelukannya. “Kamu nggak marah kalau aku mengandung bayimu?”

“Kenapa harus marah?” Darren mengangkat sebelah alisnya.

“Ku pikir kamu akan marah, pernikahan kita hanya karena keegoisanku yang memaksamu untuk menerimaku, jadi aku tidak yakin kalau kamu akan menerima bayi ini.”

“Bodoh! Apapun yang terjadi, dia tetap bayiku, bagaimana mungkin aku menolak kehadirannya?”

“Lalu, kenapa selama ini kamu bersikap acuh padaku? Ku pikir kamu melakukan itu bukan hanya karena melihat kedekatanku dengan kak Evan, tapi juga karena tahu tentang kehamilanku.” Karina menundukkan kepalanya.

Dengan spontan Darren menangkup kedua pipi Karina, dan mendongakkan wajah itu ke arahnya. “Dengar, ada banyak hal yang harus kita bahas, tapi tidak sekarang. Kamu harus banyak istirahat, entah itu fisik maupun pikiran kamu. Aku nggak mau terjadi apa-apa lagi dengan kamu atau bayi kita.”

Oh, rasanya Karina meleleh seketika saat mendengar pernyataan lembut penuh dengan perhatian dari bibir Darren. Karina menganggukkan kepalanya lemah.

“Tidurlah, aku akan menemanimu di sini.”

“Kamu nggak tidur di sini?” Karina menepuk ranjang sebelahnya.

Darren tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Enggak, tidak cukup ruang, terlalu sempit nggak baik buat bayinya.”

Lagi-lagi pipi Karina merona-rona dengan pernyataan Darren. Apakah Darren akan selalu bersikap lembut seperti itu padanya? Semoga saja.

***

Paginya, Karina terbangun karena mendengar bisik-bisik suara. Tidurnya sangat nyenyak tadi malam karena ia merasakan jemari Darren tak luput dari menggenggam jemarinya. Dan kini, saat Karina merasakan genggaman tangan itu tidak lagi ia rasakan, Karina membuka matanya seketika.

“Pagi.” Itu Evan, yang sedang menyapanya.

“Karin?” Dan Davit, kakaknya yang tinggal di Bandung. Kenapa keduanya ada di sini?

Karina bangun dan mencoba duduk, tapi Evan melarangnya, ia meminta agar Karina tetap terbaring di atas ranjang.

“Kak, kok ada di sini? Mas Davit juga kok ada di sini?”

Evan tersenyum lembut. “Beberapa hari ini aku memang tinggal di rumahnya. Kemarin, ada rekan kerja kamu yang menghubungiku, katanya kamu pingsan dan pendarahan di sekolah, lalu aku menelepon mama dan mama menghubungi Darren, aku takut terjadi sesuatu yang serius pada kamu dan calon keponakanku, jadi aku memutuskan pulang, dan dia ikut.” Evan melirik ke arah Davit.

“Apa yang terjadi sayang? Kamu tidak tampak baik-baik saja.” Davit mengusap lembut pipi adik kesayangannya tersebut.

“Aku baik-baik saja. Uum, Darren mana?” Karina malah menanyakan keberadaan Darren, dan itu membuat Evan dan Davit saling padang.

“Kenapa kamu nanyain dia?”

“Ku pikir tadi malam dia di sini, dan menemaniku sampai pagi, tapi..” Karina menundukkan kepalanya. “Mungkin itu hanya mimpiku.” Ia mulai terisak.

“Aku di sini.” Suara itu datang dari ambang pintu kamar mandi ruang inap Karina.

Karina ternganga mendapati Darren yang terlihat segar dari dalam kamar mandi, lelaki itu datang menghampirinya, lalu ketika Darren sudah berada di hadapannya, tanpa banyak kata lagi Karina memeluk erat perut Darren.

“Kenapa?” tanya Darren sambil mengusap lembut rambut Karina.

“Ku pikir aku hanya mimpi.”

Darren tersenyum. “Mimpi? Jika ini mimpi, maka aku tidak akan membiarkan kakakmu atau kakakku berada di sini.”

Karina ikut tersenyum. Ia melepaskan pelukannya pada Darren, dan sedikit canggung karena di dalam ruangan tersebut bukan hanya ada ia dan Darren saja, tapi juga ada Evan, dan juga Davit, kakaknya.

“Mungkin mereka ingin berbicara dengaanmu sebentar, aku akan keluar, cari kopi.” Tanpa di duga, Darren mengecup lembut puncak kepala Karina. “Jangan banyak pikiran, rileks saja.” bisiknya sebelum pergi keluar dari ruang inap Karina.

“Aku juga akan keluar sebentar.” Evan berkata, ia ingin menyusul Darren, dan berbicara sesuatu pada adiknya tersebut.

“Kak, kumohon, jangan bertengkar.”

Evan tersenyum. “Kami tidak bertengkar, kami baik-baik saja.” Setelah itu ia pergi menyusul Darren.

“Oke, jadi sekarang, adikku sedang di perebutkan oleh sepasang kakak beradik?”

Karina menundukkan kepalanya, pipinya merona seketika. “Mas Davit bisa saja.”

“Ayo, ceritakan semuanya padaku, jangan ada yang terlewat.”

Karina menggelengkan kepalanya. “Aku nggak mau nanti Mas Davit jadi ikutan membenci Darren seperti yang di lakukan Mas Dirga.”

“Dirga?” Davit bertanya dengan bingung. “Bocah sialan itu juga ikut campur dalam masalah kalian?”

Karina mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, tapi ku pikir pernikahannya dengan Nadine berhubungan denganku dan juga Darren.”

“Hei, jangan berpikiran buruk. Dirga memang bajingan, tapi aku tahu dia penyayang. Nadine akan bahagia dengannya.” Davit mengusap lembut pipi Karina. “Jika dia berani macam-macam pada Nadine, Mas Davit sendiri yang akan memukulinya.”

Karina tersenyum menatap kakaknya tersebut. Ya, Dirga memang suka sekali berkelahi, tapi ketika di suruh berkelahi dengan saudara kembarnya sendiri, Dirga akan mundur. Lelaki itu memang sadis, tapi sikapnya manis. Dan Karina yakin, jika Dirga di hadapnkan dengan Davit, maka kakaknya itu tidak akan bisa berkutik lagi.

Dengan spontan Karina memeluk tubuh sang kakak. “Aku senang Mas Davit di sini. Setidaknya aku tenang.”

“Ya, aku akan selalu ada di dekatmu, sayang.” Davit mengusap lembut rambut adik kesayangannya tersebut.

***

“Ngapain lo ngikutin gue?” Darren bertanya dengan nada dinginnya saat Evan sudah duduk tepat di hadapannya.

“Apa yang terjadi dengan Karin? Kenapa dia sampai masuk rumah sakit?”

“Entah.”

“Darren!”

“Gue mau lo nggak usah ganggu hidup kami lagi. Karin sudah bahagia sama gue.”

“Gue tahu dia akan bahagia sama lo.” Evan memotong kalimat Darren. “Tapi gue belum melihat hal itu. Lo terlihat kekanakan, dan gue nggak yakin kalau lo bisa bahagiain dia.”

“Lalu, kalau lo nggak yakin, apa yang akan lo lakuin? Lo akan ngerebut dia?”

“Nggak!” jawab Evan penuh dengan penekanan. “Walaupun lo yang nyuruh gue untuk merebut Karin, gue nggak akan ngelakuin itu.”

“Kenapa? Bukannya lo cinta sama dia?”

Rahang Evan mengeras seketika. “Ya, gue cinta sama Karin.” Kali ini rahang Darren yang ikut mengeras ketika mendengar penyataan tersebut. “Tapi gue masih punya otak. Gue nggak akan merebut istri dari adek gue sendiri.”

“Lalu kenapa saat itu lo cium dia?”

Evan tidak dapat menjawab pertanyaan Darren. Kenapa? Tentu karena ia terbawa suasana. Ia ingin memiliki Karina, tentu saja, tapi keinginanya tersebut sudah ia coba kubur sedalam mungkin, bahkan ia sudah mencoba menjauh sejauh mungkin, supaya perasaannya sedikit demi sedikit menghilang. Seharusnya Darren dapat melihat itu. bukan hanya marah karena cemburu buta.

“Lo hanya terlalu cemburu.”

“Gue nggak peduli apa gue cemburu atau tidak. Nyatanya lo memang menginginkan Karina sebesar gue menginginkannya.”

“Sial!” Evan mengumpat keras pada Darren. “Kalau lo bukan adek gue, gue sudah mukulin lo sampai babak belur. Brengsek!”

Darren tampak sedikit terkejut. Kakaknya itu hampir tidak pernah mengumpat sebelumnya, tapi kini lelaki itu terlihat sangat marah, sangat frustasi dengan pertanyaan-pertanyaan darinya yang menyudutkan kakaknya.

“Dengar, gue akui kalau gue cinta sama Karin, gue masih menginginkannya seperti lo menginginkan dia. Setidaknya gue jujur, bukan kayak lo yang hanya bisa marah saat wanita yang lo cintai dekat dengan lelaki lain.”

“Van.”

“Gue belum selesai.” Evan menjawab cepat sebelum Darren memotong kalimatnya. “Karin sangat berharga untuk gue, kebahagiaannya adalah kebahagiaan gue, jadi kalau dia bahagia dengan lo, gue akan mengalah dan menjauh dari kehidupan kalian. Apa lo puas?”

Darren tersenyum miring. “Apa yang harus gue pegang dari omongan lo?”

“Brengsek.” Evan mendesah panjang. “Gue nggak akan pulang, sebelum gue menemukan wanita pengganti Karin yang akan gue nikahi.” Tatapan Evan menajam pada Darren. “Dan sampai saat itu tiba, gue mau, lo sudah membuat Karin bahagia.”

“Kalau gue nggak bisa membahagiakannya?”

“Gue akan merebutnya apapun yang terjadi.”

Evan tampak serius dengan perkataannya. Merebut Karin? Oh, Darren tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Karina hanya miliknya, dan hanya boleh dimiliki oleh dirinya.

***

Ketika Darren akan kembali ke ruang inap Karina dengan Evan di sebelahnya, tiba-tiba seorang menerjang tubuhnya, mencengkeram kerah kemeja yang di kenakan Darren. Sial! Siapa lagi orang itu jika buka Dirga si brengsek sialan.

“Apa yang lo lakuin sama adek gue? Sialan!”

“Ga, lo apa-apaan sih? Lepasin!”  Evan melerai dan melepaskan cengkeraman tangan Dirga pada kerah leher Darren.

“Dia Brengsek!”

“Lo lebih brengsek.” Darren tak mau mengalah.

“Kalian berdua sama-sama Brengsek!” suara itu keluar dari dalam ruang inap Karina. “Kalian nggak lihat ini rumah sakit? Kayak anak kecil. Dan lo Ga, sialan! Kalau ini bukan rumah sakit, gue sudah pukulin lo sampai babak belur.” Dirga ternganga mendapati Davit berada di sana dan tampak marah dengannya.

Dirga melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Darren. “Gue?” Dirga tampak bingung.  “Dan lo ngapain ada di sini?”

“Mau bunuh lo.” Davit menjawab dengan datar.

“Apa?”

“Brengsek! Apa kalian nggak sadar kenapa Karin masuk rumah sakit? Semua itu karena kalian. Karena ketololan kalian sampai membuat dia stress dan masuk sini.”

“Vit, gue-”

“Gue nggak sedang butuh bantahan, Ga.” Davit memotong kalimat Dirga saat kembarannya itu akan meralat ucapannya. “Lo paling tua di sini, tapi kelakuan lo paling menggelikan kayak anak kecil.”

Dirga tidak menjawab ucapan Davit. Ya, bagaimanapun juga, ia memang terlalu jauh ikut campur masalah rumah tangga Karina dan Darren.

“Dan lo Ren. Brengsek! Kalau lo bukan orang yang di cintai Karin setengah mati, gue sudah ngulitin lo hidup-hidup.” Darren hanya menatap Davit dengan diam.

Davit kemudian menatap tajam ke arah Evan. Entah apa yang akan ia katakan pada sahabatnya itu, tapi yang Davit tahu, apa yang di lakukan Evan sudah benar. Evan mengalah dan meninggalkan semuanya, ya, setidaknya hanya itu yang ia tahu saat ini.

“Sekarang kalian masuk. Karin butuh kalian semua, dia sayang sama kalian semua, dan dia tidak ingin melihat kalian baku hantam hanya karena masalah sepele.”

Darren lebih dulu masuk, lalu di ikuti Evan, kemudian Dirga, tapi sebelum Dirga masuk, bahunya di tepuk oleh Davit, saudara kembarnya.

“Urusan kita belum selesai.”

Dirga melirik ke arah saudara kembarnya tersebut dengan bingung. “Urusan? Urusan apa?” tapi Davit tidak menjawabnya, ia hanya melanjutkan langkahnya memasuki ruang inap Karina di ikuti Dirga yang masih bingung dengan pernyataan saudara kembarnya tersebut.

***

Hari yang membahagiakan untuk Karina, setidaknya itu yang ia rasakan saat ini. Meski kini ia sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit, tapi ia bahagia jika rasa sakitnya mampu membuat semuanya berkumpul dan bersatu seperti saat ini.

Tadi siang, Karina sedikit terkejut saat mendapati Darren, Dirga dan juga Evan masuk ke dalam ruang inapnya. Meski ketiganya tidak banyak bicara, setidaknya Karina senang karena mereka bertiga berada di dalam ruangan tersebut tanpa suasanan tegang mencekam dengan hasrat saling baku hantam satu dengan yang lainnya. Dan itu semua Karina yakini karena keberadaan Davit, kakaknya yang super dewasa. Oh, Karina tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada Davit saat ini.

Kini, semuanya terasa lengkap ketika di tambah kehadiran Nadine pada sore harinya. Ya, Nadine juga berada di ruangan ini, ruang inapnya, dan kini sahabatnya itu sedang sibuk mengupaskan buah apel untuknya.

Karina melirik ke arah sofa panjang dengan sebuah meja di ujung ruangannya. Tampak empat pria dewasa itu sedang asik memainkan kartu domino. Sedikit tersenyum karena Dirga dan Darren melakukan hal itu dengan wajah cemberutnya karena paksaan dari Davit, kakaknya. Ah, Davit benar-benar ajaib, hingga mampu membuat dua pria kekanakan itu duduk bersama dan bermain walau dengan wajah sangar masing-masing.

Dengan spontan Karina mengusap lembut perut datarnya. Ini semua juga berkat bayinya karena sudah menyatukan semuanya. Meski semuanya belum benar-benar selesai, dan belum benar-benar membaik, tapi setidaknya kesalah pahaman di antara mereka sudah  sedikit terselesaikan.

“Ada apa? Ada yang sakit?” tanya Nadine penuh perhatian karena ia melihat Karina yang mengusap lembut perut datarnya.

“Enggak, aku hanya bahagia.” Karina tersenyum lembut. “Nadine, jujurlah padaku. Apa kamu benar-benar rela melepaskan Darren untukku.”

“Astaga, berapa kali ku bilang. Lupakan masa lalu. Aku benar-benar rela melepasnya untukmu, dan aku ikut bahagia jika kalian berdua juga bahagia.”

“Kenapa? Apa kamu sudah memiliki cinta baru? Dengan mas Dirga?” Nadine menundukkan kepalanya, pipinya merona seketika. “Aku tidak tenang Nadine, jika belum melihatmu bahagia juga.”

“Aku sudah bahagia. Lihat, aku tampak bahagia.”

“Tidak. Ada yang kamu sembunyikan dariku.”

Nadine tersenyum kemudian menggenggam erat telapak tangan Karina.”Aku baik-baik saja, dan aku yakin, jika aku akan bahagia dengan orang yang ku cintai.”

“Ku cintai? Maksudmu, kamu, kamu sudah jatuh cinta sama…”

‘Shhttt.’ Nadine menaruh telunjuknya pada permukaan bibirnya, mengisyaratkan pada Karina untuk menutup mulutnya. “Mungkin sekarang hanya aku yang merasakannya, tapi aku yakin, kalau nanti aku bisa membuat kakak kamu jatuh hati padaku.”

“Bangsat!”

Karina dan Nadine terkejut dengan umpatan keras yang di lontarkan dari mulut Dirga hingga keduanya menolehkan kepalanya ke arah para lelaki tersebut. Nadine bahkan sempat memucat, takut jika umpatan yang di ucapkan Dirga tersebut tertuju padanya karena ia sudah lancang mengucapkan kalimat yang tadi baru saja ia ucapkan, tapi ternyata…

“Apa-apaan ini? Kenapa gue terus yang kalah?” Dirga tampak kesal, ia membanting sisa kartu domino yang berada di tangannya.

“Karena otak lo cetek.” Darren menjawab dengan datar.

“Brengsek lo!”

“Ga, berhenti ngumpat. Oke, kita mulai lagi.” Davit  mulai menata kembali kartu di hadapannya lalu mengocoknya kembali.

Karina dan Nadine saling pandang. Keduanya kemudian tersenyum satu sama lain.

“Dia benar-benar kasar.” Karina berkomentar.

“Ya, kasar sekali.” Nadine mengiyakan. “Tapi aku menyukainya.” bisiknya malu-malu. Dan entah kenapa Karina ikut bahagia dengan apa yang di rasakan Nadine saat ini.

Ya, mungkin perjalanan mereka masih panjang, tapi setidaknya Karina tahu jika Nadine berada di tangan orang yang tepat. Kakaknya itu memang sangat kasar, tapi Karina yakin jika kakaknya itu tidak akan menyakiti hati Nadine. Entah apa yang membuat Karina yakin, ia sendiri tidak tahu.

Keduanya kembali saling bercerita bersama, hingga tak terasa waktu semakin larut. Evan dan Davit berpamitan pulang, karena keduanya akan langsung kembali ke Bandung.

“Jaga diri baik-baik, Baby.” Davit mengusap lembut pipi Karina. “Kalau dia jahat, hubungi Mas, Mas akan datang menjemputmu.” Pesan Davit pada Karina sambil sesekali melirik ke arah Darren. Karina hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut padanya.

“Aku pergi, suatu saat aku akan pulang, karena aku masih ingat dengan janji kita kemarin. Ingat, kamu harus bahagia.” Evan berkata penuh perhatian.

“Kak Evan juga harus bahagia.”

Evan tersenyum. “Tentu saja.”

“Jangan mengkhawatirkannya, dia sudah..” dengan spontan Evan menyikut perut Davit hingga Davit tidak dapat melanjutkan kalimatnya.

Karina dan Darren mengerutkan keningnya. “Sudah apa?” Darren yang bertanya.

“Move on.” Davit menjawab cepat.

“Brengsek lo, Vit.” umpat Evan.

Karina hanya tersenyum, melihat tingkah keduanya.

Nadine dan Dirga yang akan pulang juga menghampiri Karina. Dengan penuh perhatian, Nadine memeluk tubuh sahabatnya tersebut.

“Ingat, selalu hubungi aku kalau ada apa-apa.” Karina mengangguk pasti. Rasanya sangat bahagia karena sahabatnya telah kembali. Sedangkan Dirga, hanya berdiri di belakang Nadine, lelaki itu tidak mengucapkan sepatah katapun karena tampak jelas di wajah lelaki itu jika dia masih terlihat kesal.

Mereka berempat akhirnya keluar dari ruang inap Karina, Darren sendiri hanya mengantar keempatnya sampai di pintu ruang inap Karina, lalu ia kembali menghampiri istrinya tersebut.

Jemari Darren terulur mengusap lembut pipi Karina. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya lembut.

“Sangat baik.”

“Bolehkah aku tidur di sebelahmu?”

“Uum, bukannya kemarin kamu bilang kalau ranjangnya terlalu sempit?”

“Setelah kulihat lagi, ternyata tidak terlalu sempit.” Dan Karina tersenyum mendengar pernyataan Darren.

Karina menggeser tubuhnya ke ujung ranjang, hingga sisi sebelahnya muat untuk di tempati tubuh Darren. Darren membuka kemeja yang ia kenakan hingga hanya menyisahkan kaus dalamnya saja yang membalut tubuh kekarnya. Kemudian ia berbaring miring lalu merengkuh tubuh kurus Karina masuk ke dalam dekapannya.

“Begini apa nyaman?” tanyanya sambil memeluk Karina dari belakang.

Karina mengangguk dengan pipi yang sudah memanas. Ia merasakan jemari Darren menelusup ke dalam pakaian yang ia kenakan, lalu mengusap lembut perut datarnya.

Oh rasanya sangat nyaman dan menenangkan. Karina benar-benar merasa di sayangi oleh Darren. Darren memang bukan suami yang baik, tapi Karina yakin, jika lelaki itu akan menjadi ayah yang baik nantinya.

“Hari ini sangat melelahkan.” desah Darren dengan sesekali mengecup lembut tengkuk belakang Karina.

“Ya, pasti melelahkan sekali menghadapi kakak-kakakku.”

Darren mengangguk. “Tapi aku senang karena semua terselesaikan.”

“Bagaimana hubunganmu dengan Kak Evan?” tanya Karina lembut.

Ia tidak mengkhawatirkan hubungan Darren dengan Dirga, kakaknya, karena ia yakin, jika suatu saat nanti keduanya akan membaik jika Dirga sudah tahu betapa bahagianya dirinya dengan Darren. Tapi Karina tidak yakin dengan hubungan Darren dan Evan.

“Baik, kami sudah baikan.”

“Lalu kenapa dia masih tetap pergi?” tanyanya sedikit lirih.

Darren membalik tubuh karina hingga menghadapnya seketika. “Dengar, Evan mencintaimu. Satu-satunya jalan suapaya dia bisa melupakanmu adalah menjauh dan mencari kehidupan baru tanpa ada kamu di sekitarnya. Dan aku akan sangat mendukung keputusannya tersebut, karena aku tidak ingin, orang yang ku cintai dekat dengan lelaki yang mencintainya.”

Karina ternganga mendengar pernyataan Darren. “A –apa?”

“Aku mencintaimu, dan aku tidak ingin melihatmu dekat dengan lelaki lain, meski itu kakakku sendiri.”

“Kamu, kamu serius dengan apa yang kamu katakan?” tanya Karina yang matanya kini sudah berkaca-kaca. Rasanya ia ingin menangis karena bahagia mendengar pernyataan dari Darren tersebut.

“Ada banyak hal, –banyak sekali hal yang harus kita bahas, tapi tidak sekarang, tidak saat ini, karena kamu tidak boleh banyak pikiran, tapi satu hal yang pasti, aku mencintaimu, aku kembali jatuh cinta padamu hingga aku takut jika kamu pergi meninggalkanmu.”

Dengan spontan Karina memeluk tubuh Darren, wajahnya bersandar pada dada bidang lelaki tersebut, airmata kebahagiaan menetes begitu saja dari dalam pelupuk matanya. Apa ini nyata? Beginikah akhirnya?

“Kenapa menangis?” tanya Darren sambil mengusap lembut rambut Karina.

“Karena aku bahagia.”

Darren tersenyum. “Benarkah? Aku belum melakukan apapun untukmu, dan kamu sudah bahagia?”

“Kamu tidak perlu melakukan apapun, hanya dengan menerimaku dan bayiku saja, aku sudah sangat bahagia dan berterimakasih padamu.”

“Bodoh! Harusnya aku yang berterimakasih karena kamu masih mau bertahan di sisiku bahkan ketika aku tidak pantas untuk di pertahankan.”

“Kamu pantas di pertahankan.” Karina meralat ucapan Darren.

“Dan kamu pantas di bahagiakan.” Darren menjawab cepat. Pelukannya semakin erat pada tubuh Karina hingga Karina dapat merasakan jika lelaki yang sedang memeluknya kini benar-benar tidak ingin kehilangan dirinya.

Oh, beginikah akhirnya pernikahan mereka yang berawal dari keegoisannya? Karina pikir bukan ini akhirnya, karena Karina masih ingin merasakan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya yang akan ia jalani bersama dengan Darren dan bayinya, dan ketika saat itu tiba, ia ingin, jika nanti Nadine, Evan, maupun Dirga juga ikut merasakan kebahagiaan bersama dengannya.

-end-

Advertisements

One thought on “Unwanted Wife – Chapter 20 (Beginikah akhirnya?)

  1. yaaa allah daren bener” berengsek 😂😂.
    bu knp ga dari kmren” davit d munculin , knp baru sekrang ??
    aaahhhhhh davit bener” dewasa …

    ql d pikir” daren ma nadin mang dari awal udah ga saling cinta , karna daren dari awal cinta na ma karin dan dia mengalah karna evan juga menyukai karin , dan nadin juga gitu dia menerima daren karna merasa ga enak , dan ql d pikir lagi dia mang dari awal udah jatuh cinta ma pesona seorang iblis yng bernm DIRGA .

    q juga ga menyangka bakal berakhir kek gini , karna q pikir mereka bakal pisah dulu , tapi untung na happy ending .

    suka banget ma kata” daren d atas , bikin evan mncrat” 😁😁.

    ga sabar pengen cepet” ketemu ma dirga .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s