romantis

Evelyn – Chapter 7 (Nona saya)

Evelyn

 

Chapter 7

Nona saya-

 

Fandy tidak berhenti menggerutu dalam hati ketika Amora tidak berhenti mengajaknya berjalan menyusuri segala penjuru pusat perbelanjaan. Entah apa yang di cari gadis itu, ia sendiri tidak tahu. Yang Fandy tahu adalah gadis itu tidak berhenti bergelayut manja pada lengannya dengan sesekali bercerita tentang kekasih pertamanya.

“Jadi, menurutmu bagaimna? Apa aku harus memberikan ciuman pertamaku padanya?” tanya Amora secara terang-terangan.

“Apa?” Fandy benar-benar tidak menyangka jika Amora akan menanyakan pertanyaan ini padanya.

“Iya, ciuman pertama, first kiss, haruskah aku-”

“Amora.” Fandy memotong kalimat Amora. “kamu bahkan belum lulus SMA, bagaimana mungkin kamu-”

“Jangan kolot deh.” Kali ini Amora yang memotong kalimat Fandy. “Hampir semua temanku sudah melakukan ciuman pertama mereka saat SD.”

“SD?” Fandy membulatkan matanya seketika. Sial! Apa benar yang di katakan Amora? Bahkan ia saja baru kemarin melakukan ciuman pertamanya, itupun, gadis manja yang berstatuskan sebagai Nonanya yang merebut ciuman pertamanya.

Astaga, kenapa juga ia mengingat tentang hal itu?

“Fandy, ayolah, aku boleh memberinya ciuman pertamaku, bukan?”

“Kenapa meminta ijin padaku? Aku bukan ayahmu.” Fandy menjawab dengan ekpresi datarnya.

“Dan aku tidak mungkin meminta ijin pada ayahku, dia akan menguliti pacarku jika tahu kalau aku sudah memiliki pacar.”

“Kalau begitu, berhenti pacaran, dan belajar saja yang benar. Kamu masih sangat polos untuk memiliki pacar.”

“Dan kamu sudah terlalu tua untuk tidak memiliki pacar, atau jangan-jangan…. Kamu belum pernah melakukan ciuman pertama?”

Mata Fandy membulat seketika pada Amora. Astaga, ia tidak menyangka jika seiring pertumbuhan Amora, gadis itu akan semakin cerewet.

“Fandy.” Panggilan itu membuat Fandy menolehkan kepalanya, dan mendapati sosok manja lainnya yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Itu Eva, Nonanya.

Amora sendiri mengerutkan keningnya ketika mendapati Eva datang ke arah mereka. Dengan spontan Amora mengeratkan pelukannya pada lengan Fandy, seakan ia tidak ingin jika kedatangan Eva akan menganggu kedekatannya dengan Fandy hari ini.

“Nona Evelyn, apa yang nona lakukan di sini?”

“Apa yang ku lakukan? Aku sedang belanja, dan jalan-jalan. Kamu sendiri sedang apa? Dengan siapa?” tanya Eva secara lengsung sambil melirik rangkulan tangan Amora pada lengan Fandy.

“Kami sedang kencan.” Jawab Amora cepat.

Eva benar-benar tidak suka dengan jawaban yang terlontar dari bibir Amora. Matanya memicing ke arah Amora, seakan mengancam gadis itu agar tidak macam-macam terhadapnya.

“Kencan? Aku tebak kalau kamu belum lulus SMA. Dan kamu sudah mengerti kencan?”Eva berkata dengan  sinis.

“Aku juga menebak kalau kamu belum lama lulus SMA. Kenapa kamu ikut campur urusanku dengan Fandy?”

Well, Eva benar-benar sangat kesal dengan gadis cerewet di hadapannya tersebut. Ia akan berkata lagi, tapi Fandy lebih dulu membuka mulutnya.

“Nona Evelyn, ini Amora, adik saya. Dan Amora, ini Nona Evelyn, orang yang harus saya jaga.”

Eva sedikit mengangkat ujung bibirnya saat Fandy mengakui gadis di sebelahnya adalah adik dari lelaki tersebut. Tapi apa benar jika keduanya adik kakak?

“Fandy! Aku bukan adik kamu, lagian aku nggak suka sama dia, dia terlihat suka sama kamu, dan sangat centil.” Amora berkomentar terus terang tanpa memiliki rasa tidak enak pada Eva.

Eva membulatkan matanya seketika, wajahnya merah padam ketika mendengar komentar dari Amora yang terang-terangan padanya. Apa ia terlihat sedang mengejar Fandy? Apa ia terlihat seperti gadis murahan?

Eva akan membuka mulutnya untuk membalas perkataan Amora, tapi sikutan dari Icha menghentikan katanya.

“Apaan sih Cha?”

“Kita pulang saja, astaga, kamu malu-maluin banget.” Bisik Icha.

“Apa? Malu-maluin?” Eva membulatkan matanya seketika pada Icha. Ketika ia akan menanggapi komentar Icha, pada saat bersamaan sebuah panggilan membuat Eva dan semua yang berdiri di sana menoleh pada suara tersebut.

“Babe, ternyata kamu di sebelah sini? Aku muterin mall ini buat nyari kamu.” Itu Ramon, yang langsung mengecup pipi Eva ketika sampai di hadapan mereka semua.

Amora melihat dengan tidak suka, pun dengan Fandy yang entah kenapa segera mengepalkan tangannya saat melihat pemandangan di hadpaannya tersebut.

“Kalau begitu, kami permisi.” Fandy akan mengajak Amora pergi. Ia tidak suka dengan pemandangan di hadapannya, dan yang bisa ia lakukan adalah pergi dan tidak melihat pemandangan tersebut.

“Ehhh, mau ke mana? Kita akan double date.”

“Apa? Memangnya siapa kamu bisa mengajakku dan Fandy double date?”

“Aku Nonanya, jadi dia harus menuruti apa mauku.” Jawab Eva dengan nada yang sangat menjengkelkan untuk di dengar.

“Saya libur saat hari minggu.” Jawab Fandy cepat.

Eva memutar otaknya untuk bisa membuat Fandy dan Amora mau jalan bersama dengannya dan juga Ramon, ia lalu melirik ke arah Amora, dan sebuah ide  muncul di kepalanya.

“Kamu, katanya kamu kencan sama Fandy, buktikan kalau kamu benar-benar kencan, kita kan kencan bersama, dan aku tidak akan mengganggu Fandy lagi.”

“Oke, siapa takut.” Tanpa banyak pikir lagi, Amora menjawab seperti itu.

“Amora, apa yang kamu lakukan?”

“Aku hanya membantumu supaya dia tidak mengganggumu lagi. Astaga, aku sebal melihatnya, dasar centil!” Amora berbisik pada Fandy.

“Kamu juga centil.” Fandy menjawab dengan ekspresi datarnya. Oh sial! Jadi hari ini ia akan terjebak dengan dua gadis manja yang sama-sama cerewet? Yang benar saja.

“Kalau begitu aku pulang.” Icha menyahut.

“Pulang? Ngapain pulang?”

“Ngapain? Kalian akan kencan bersama, kamu pikir aku mau menjadi obat nyamuk di antara kalian berempat?” Icha tampak sedikit kesal.

Eva terkikik geli. “Kamu juga bisa ikutan kencan bareng.”

“Sama siapa?”

“Tuh.” Eva menunjuk pengawalnya yang masih setia berdiri tegap dengan bebebrapa tas belanjaannya.

“Sialan kamu, Va.” Icha mendengus sebal. Dan akhirnya mau tidak mau ia pergi meninggalkan Eva dengan para teman-teman barunya.

“Baiklah, sekarang, kemana tujuan pertama kita?”

“Aku yang nentuin.” Amora menjawab cepat.

“Its okay.” Eva hanya menurut saja, sesekali ia melirik ke arah Fandy yang ternyata juga sedang meliriknya, dengan spontan Eva meraih lengan Ramon, menggandenganya dengan mesra lalu mulai berjalan mengikuti Amora.

***

Entah sudah berapa lama mereka jalan bersama. Semuanya terasa semakin menyebalkan, dan sangat membosankan untuk Eva. Bagaimana tidak, mereka kini berada dalam zona permainan di dalam mall tersebut, Fandy tampak asik bermain dengan Amora, sedangkan Ramon tampaknya asik bermain tembak-tembakan sendiri, oh sial! Ia merasa jika kini dirinya seperti orang bodoh yang sedang mengikuti ketiga orang itu bermain dengan keasyikan masing-masing.

Eva tak berhenti menatap ke arah Fandy. Lelaki itu tampak santai, tak ada tampang kaku, datar seperti biasanya, tak terlihat juga kewaspadaan seperti biasanya, Fandy benar-benar menjadi orang lain ketika bersama dengan Amora, kenapa? Apa karena Fandy memiliki perasaan tersendiri pada gadis tersebut? Oh yang benar saja. Amora tidak ada apa-apanya di bandingkan dirinya, jika Fandy loebih memilih Amora, berarti mata Fandy sudah rabun.

Eva mendengus sebal memikirkan hal itu. ia kemudian melirik ke arah Ramon, lelaki itu masih saja bermain sendiri, seakan memiliki dunianya sendiri. Ah, jika saja Ramon bukan anak populer di kampusnya, mungkin ia akan mencoret lelaki itu dari daftar teman kencannya, benar-benar terlihat bodoh!

Eva melirik jam tangannya, ternyata waktu sudah malam, entah sudah berapa jam mereka berada di tempat membosankan tersebut, ingin rasanya ia mengajak mereka semua keluar dari tempat yang menyebalkan ini, tapi Eva tidak tahu, mau kemana lagi tujuan mereka.

Pulang? Tidak, tentu saja tidak. Eva belum mendapatkan apa yang ia mau. Ia belum mempamerkan kemesraannya dengan Ramon di hadapan Fandy. Dan ia juga belum mampu menunjukkan pada gadis manja itu jika dirinya juga berarti untuk Fandy. Jadi ia tidak akan pulang sebelum apa yang ia inginnkan tercapai.

Eva mendekat ke arah Ramon, berbisik pada lelaki itu jika ia sudah bosan berada di tempat tersebut.

“Ini kan lagi seru-serunya, babe.”

“Kamu seru, aku di sini seperti orang bodoh, tak ada yang bisa ku lakukan.”

“Kamu bisa foto-foto narsis di kotak foto itu, atau bahkan bisa bermain lainnya.” Ramon menjawab dengan datar.

“Aku nggak mau, aku mau keluar. Ayolah, kita cari tempat yang lebih seru.”

“Tempat yang lebih seru dari area permainan bagiku adalah diskotek, memangnya kamu mau ku ajak ke sana?”

Eva memutar bola matanya jengah, tapi kemudian ia berpikir sebentar. Ah, ya, apa tidak sebaiknya ia mengajak Fandy dan gadis manja itu ke diskotek? Ya, tentu saja.

“Ya, kita akan ke diskotek.”

Ramon menatap Eva dengan sedikit terkejut. “Kamu yakin mau ke diskotek denganku?”

“Tentu saja.” Dan seketika itu juga Ramon meninggalkan permainannya.

Eva lalu menuju ke tempat Fandy dan Amora yang terlihat asik bermain, keduanya seakan memiliki dunia sendiri yang bahkan Eva saja tidak mampu menembusnya, Eva benar-benar kesal melihat pemandangan di hadapannya tersebut.

“Fan, kita pindah tempat yuk.”ajak Eva.

“Cari tempat ke mana? Ini sudah malam, kalau keluar dari sini, mending kita pulang.” Fandy menjawab ajakan Eva dengan datar tanpa sedikitpun senyum di wajahnya.

Astaga, benar-benar menyebalkan. Eva kemudian menuju ke arah Amora, ya, jika ia mengajak Fandy, pasti lelaki itu akan menolaknya, berbeda dengan Amora.

“Hei, apa kamu mau ikut aku?”

“Kemana?” meski tampak tertarik, tapi Amora menjawab ajakan Eva dengan nada ketusnya.

“Diskotek.”

Amora membulatkan matanya seketika. Tentu saja, ia tidak pernah ke tempat seperti itu sebelumnya, ayahnya tentu melarangnya, kalaupun ia ke tempat seperti itu pasti ayaknya akan menyuruh anak buahnya untuk mengawal dirinya.

“Uum,..” Amora tampak berpikir sebentar.

“Kenapa? Kamu nggak berani ke tempat seperti itu? Atau kamu memang belum pernah ke sana?”

“Enak saja, walau aku belum lulus SMA, tapi aku sudah pernah ke kelab malam.”

“Well, buktikan padaku kalau begitu.”

“Oke, aku ikut.” Eva tertawa dalam hati. Ahh, ternyata gadis ini sangat mudah di bodohi. Pikirnya dalah hati.

“Ikut ke mana?” suara datar itu membuat Eva menolehkan kepalanya, ternyata Fandy sudah berdiri di belakangnya, apa sejak tadi?

“Kita akan ke kelab malam.” Jawab Eva dengan santainya.

“Apa? Tidak! Amora tidak boleh ke sana.”

“Siapa yang nggak ngebolehin? Papa kan di rumah, dia nggak akan tahu dan dia tidak akan mencari tahu karena aku bersamamu.” Amora menjawab.

“Amora.”

“Please, jangan jadi seperti Papa.”

“Amora.”

“Aku akan baik-baik saja, bukannya ada kamu yang selalu menjagaku?”

Eva benar-benar muak melihat pemandangan di hadapannya. Astaga, ia benar-benar tidak suka sikap manja yang di tampilkan Amora terhadap Fandy.

“Sudahlah, kalian ikut apa enggak? Kalau enggak aku bisa berangkat berdua saja dengan Ramon, bukan begitu sayang?” tanya Eva yang sudah sangat kesal dengan Amora dan Fandy, ia bahkan berpikir untuk mengakhiri rencana gilanya itu, sepertinya ke kelab malam hanya berdua dengan Ramon bukan masalah, daripada ia harus melihat kemanjaan yang di tampilkan Amora pada Fandy.

Fandy menatap Eva sebentar, kemudian pandangannya teralih pada Ramon. Tidak! Ia tidak bisa membiarkan Eva berangkat ke kelab tersebut hanya berdua dengan Ramon, siapa yang akan menjaga wanita ini jika dia mungkin saja mabuk? Pengawalnya? Fandy menatap pengawal Eva yang hari ini menggantikannya. Bukannya ia meremehkan pengawal tersebut, tapi tampaknya ia tidak yakin dengan pengawal tersebut.

“Kita ikut.” Fandy menjawab dengan dingin.

Hampir saja Eva dan Amora berteriak kegirangan, tapi Eva menahan diri, bagaimanapun juga ia tidak ingin terlihat begitu menginginkan Fandy. Sedangkan Amora tidak menahan diri lagi, ia berteriak kegirangan karena Fandy mau menuruti permintaannya.

Fandy lalu berjalan menuju ke arah pengawal Eva dan berbisik pada pengawal tersebut.

“Sebaiknya kamu pulang, saya yang akan menjaga Nona Evelyn.”

“Tapi, bukannya hari ini kamu seharusnya tidak menjaganya?”

“Ya, tapi dia terlihat ingin ku jaga.” Fandy melirik sekilas ke arah Eva. “Bilang saja pada Tuan besar, dan Nyonya besar, jika Nona Evelyn sedang bersama saya.”

Pengawal tersebut mengangguk. Ia tentu tahu dan kenal dengan Fandy, selain ia memang satu agensi, ia juga sedikit mendengar gosip tentang kedekatan Fandy dengan Nona mereka. Akhirnya sang pengawal itupun pergi meninggalkan mereka.

“Kamu ngomong apa sama dia? Kenapa dia ninggalin aku?” tanya Eva saat Fandy kembali ke arah mereka berdiri.

Dengan wajah datar Fandy menjawab. “Tidak ada.”

Eva mendengus sebal dengan sikap datar yang di tampilkan oleh Fandy. Ahh, laki-laki ini benar-benar membuatnya darah tinggi. Tapi terserahlah, yang penting ia bisa terlepas dari pengawalnya itu.

***

Sampai di kelab malam tujuan mereka, Fandy lantas mencari tempat duduk, sedikit risih karena memang ia tidak suka ke tempat-tempat seperti ini sebelumnya, tak lupa ia menggandeng tangan Amora supaya gadis itu tidak lepas dari pengawasannya. Sedangkan matanya tidak berhenti menatap ke arah Eva, gadis itu tampak asik dengan kekasihnya.

Entah sudah berapa lama Fandy duduk-duduk saja tanpa melakukan apapun, beberapa minuman yang di pesan Eva di hadapannya tak tersentuh sama sekali. Sesekali Amora ingin mencoba minuman tersebut, tapi Fandy melarangnya dengan memasang tampang sangarnya.

“Fan, masa kita di sini saja sih? Aku kan juga pengen turun, goyang-goyang sama mereka.” Rengek Amora yang sudah merasa sangat bosan, karena walau mereka ada di tempat seperti ini, tapi mereka tak melakukan apapun selain duduk-dudukan saja.

“Tidak boleh.” Fandy menjawab datar, tapi matanya tidak teralihkan dari menatap ke arah Eva yang saat ini sudah menari dengan kekasihnya.

Tatapan Amora mengikuti apa yang sejak tadi seakan menarik perhatian Fandy, ternyata Fandy sibuk mengawasi gerak-gerik Eva, dan entah kenapa itu membuat Amora ingin tahu tentang Fandy dan gadis nakal itu.

“Kamu, kamu suka sama dia?”

Pertanyaan Amora membuat Fandy menolehkan kepalanya seketika pada gadis manis yang duduk di sebelahnya. “Kamu bicara apa?”

“Jangan purta-pura. Kamu suka, kan sama dia? Kalau tidak, mana mungkin kamu mau ngurusin apa yang dia lakukan saat ini.”

“Dia Nonaku.”

“Benarkah? Apa hanya itu? Bukannya kamu menuruti kemauannya untuk ke sini karena ingin mengawasi dia dengan kekasihnya?”

“Amora, kamu tidak mengerti.”

“Karena aku tidak mengerti makanya jelaskan padaku supaya aku mengerti. Kamu curang! Aku bercerita padamu tentang pacarku, tapi kamu tidak menceritakan apapun padaku tentang dia.”

“Aku tidak ingat kamu bercerita tentang pacarmu.” Fandy berkata datar.

“Karena kamu tidak mau mendengarkannya, ayolah.”

Fandy menghela napas panjang. “Dengar, aku tidak menyukainya. Dia hanya selalu menggodaku, itu saja.”

“Bohong!”

“Terserah apa katamu.”

“Fandy.” Amora kembali merengek.

Fandy menatap Amora, lalu mengusap pipinya lembut. “Dia hanya selalu mengingatkanku pada orang-orang yang ada di hatiku.”

“Siapa? Sienna?” tanya Amora lagi.

Fandy menggelengkan kepalanya, lagi-lagi nama Sienna di sebut. Ya, Amora memang sempat mendengar tentang Fandy yang pernah jatuh cinta dengan Sienna, mantan wanita yang harus di kawalnya, dan setahu Amora, Fandy memang hanya pernah menyukai wanita itu saja.

“Ya, Sienna, sikap manjanya yang kadang kambuh membuatku mengingat Sienna, dan dia juga mengingatkanku pada kamu, dia kesepihan seperti kamu, dan aku ingin melindunginya seperti aku melindungimu saat ini. Apa kamu puas?”

“Hanya itu? Apa kamu tidak merasakan apapun lagi tentangnya?” Fandy berpikir sebentar. “Ayolah, jujur saja padaku, aku tidak akan bilang sama papa kalau kamu lagi-lagi suka dengan klien kita.”

“Dia, dia membuatku tergoda.”

“Apa?” Amora tidak menyangka Fandy akan mengucapkan kalimat itu. Kini, wajah Fandy bahkan tampak memerah seperti tomat.

“Sudahlah, lupakan saja.”

“Fandy, aku mau dengar. Kamu harus bercerita!”  seru Amora.

“Oke, aku tahu kamu nggak akan diam kalau aku tidak bercerita semuanya.” Fandy menghela napas panjang, ia meraih gelas berisi minuman beralkohol di hadapannya, menegaknya hingga tandas, seakan-akan minuman tersebut dapat memicu keberaniannya untuk bercerita pada Amora.

“Sienna memang pernah membuat hatiku berdebar-debar, dan aku sadar jika saat itu aku memiliki perasaan lebih padanya, tapi dengan Evelyn, dia bukan hanya mampu membuatku berdebar-debar, tapi juga menyulut sesuatu di dalam diriku yang membuatku ingin memilikinya.”

Amora hanya ternganga mendengar pernyataan Fandy. Meski ia belum cukup dewasa, tapi ia tahu apa yang di maksudkan Fandy.

“Kamu bergairah padanya?”

“Apa?” Fandy benar-benar tersentak dengan pertanyaan itu. Ada begitu banyak kosa kata di kamus bahasa Indonesia, tapi bagaimana mungkin Amora menggunakan kata ‘Bergairah’ untuk menggambarkan perasaannya pada Eva saat ini?

Fandy menuang lagi minuman ke dalam gelasnya, kemudian menegaknya lagi. “Lupakan saja, kamu pasti kebanyakan minum sampai-sampai tahu kata itu.”

“Minum? Hei, kamu yang sejak tadi minum-minuman itu, aku bahkan tidak menyentuhnya sedikitpun.”

Tatapan mata Fandy kemudian kembali ke arah di mana Eva tadi asik menari dengan kekasihnya, tapi ternyata, gadis itu sudah tidak ada di sana, pun dengan Ramon.

“Tunggu dulu, di mana mereka?” Fandy berdiri seketika, mencari-cari keberadaan Eva dan kekasihnya tapi tetap saja, ia tidak dapat menemukannya. Fandy lalu turun ke lantai dansa di ikuti oleh Amora di belakangnya, ia mencari-cari keberadaan Eva, tapi tetap saja ia tidak menemukannya. Hingga kemudian ia mendapati bayangan Ramon dari sudut matanya.

Lelaki itu tampak memapah seseorang yang di yakini Fandy adalah Eva, dan lelaki itu menuju ke tempat yang lebih sepi. Perasaan Fandy tidak enak, akhirnya ia memutuskan mengikuti kemana Ramon melangkah.

Ramon berhenti tepat di ujung lorong menuju ke arah toilet, ia menyandarkan tubuh Eva yang tampak lunglai ke dinding di hadapannya, kemudian tanpa banyak bicara lagi ia mendaratkan bibirnya pada bibir Eva, mencumbunya dengan begitu panas, sedangkan jemarinya sudah bergerak menyentuh bagian tubuh Eva.

Jemari Fandy mengepal seketika saat menatap kejadian di hadapannya. Ramon semakin berani dengan mencumbu sepanjang leher jenjang Eva, sedangkan tubuhnya semakin mendesak tubuh Eva ke di antara dinding. Tanpa banyak bicara lagi, Fandy menghampiri Ramon, memisahkan tubuh Ramon dari tubuh Eva kemudian menghantam wajah Ramon dengan pukulan kerasnya.

“Apa-apaan lo! Brengsek!” seru Ramon keras.

“Jangan sentuh Nona saya.”

“Bajingan lo!” Ramon akan menyerang Fandy tapi secepat kilat Fandy menagngkis serangan Ramon lalu mengunci tubuh Ramon hingga Ramon tak dapat berkutik lagi.

“Jauhi Nona saya.” Fandy berujar dengan nada dingin mengancam, lalu ia mendorong keras-keras tubuh Ramon hingga lelaki itu jatuh tersungkur. Setelah itu ia meninggalkan Ramon sambil membawa Amora dan juga Eva yang ternyata sudah mabuk.

***

Setelah mengantar Amora pulang, Fandy lantas membawa Eva pulang dengan mobilnya. Ya, meski ia hanya bekerja sebagai seorang pengawal, nyatanya ia dapat membeli sebuah apartemen dan juga mobil mewah dari hasil pekerjaannya tersebut. kadang Fandy juga merasa sedikit aneh, apa bossnya itu tidak terlalu mahal menggajihnya? Entahlah.

Fandy menghentikan mobilnya di pelataran rumah Eva yang sudah mirip sekali dengan sebuah istana, ia keluar dari dalam mobilnya lalu menuju ke pintu mobil sebelah tempat duduk yang di duduki Eva. Ia kemudian membopong tubuh Eva yang memang sudah tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.

Masuk ke dalam rumah Eva, Fandy di sambut dengan beberapa pengawal dan juga pelayan rumah. Tak ada Nyonya Elisabeth, mungkin beliau sudah tidur, sedangkan Tuan Nick, ayah Eva pun tidak ada. Tadi ayah Eva memang sempat menghubungi Fandy, menanyakan keadaan Eva, tapi Fandy sempat menjawab jika Eva bersamanya dan sedang baik-baik saja. Kemungkinan tuannya itu saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya, atau mungkin sudah tidur juga, mengingat waktu sudah menunjukkan hampir pukul setengah duaa dini hari.

Akhirnya Fandy memutuskan menuju ke kamar Eva, menidurkan gadis itu di atas ranjangnya, lalu pulang. Tapi ketika Fandy selesa meletakkan tubuh Eva di atas ranjang wanita tersebut, lengannya di tarik oleh Eva hingga Fandy tidak dapat meninggalkan gadis itu.

“Di sini saja.” Bisik Eva dengan suara serak.

“Saya harus pulang.”

“Please, di sini saja, temani aku.”

“Nona.”

“Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kenapa perlakuanmu padaku berbeda dengan perlakuanmu padanya?” tanya Eva dengan sedikit terisak. “Aku benci kamu, aku benci kamu yang selalu bersikap seperti ini padaku.”

Fandy menelan ludahnya susah payah. “Kamu mabuk, aku harus pulang.”

“Temani aku, malam ini saja, kumohon.” Eva memohon. Ia kemudian menarik tengkuk Fandy supaya mendekat pada wajahnya, dan tanpa banyak bicara lagi, Eva menggapai bibir Fandy, menciumnya dengan begitu berani, berharap jika Fandy akan membalas ciumannya bahkan melakukan hal yang lebih padanya.

Fandy sendiri tidak bisa menolak ciuman tiba-tiba yang di lakukan oleh Eva. Yang bisa ia lakukan hanyalah menerima dan membalas ciuman tersebut, karena mau di pungkiri seperti apapun juga, nyatanya ia menginginkan gadis yang kini sedang menciumnya, hasratnya tak bisa di bohongi, keinginannya tak bisa lagi di kendalikan, haruskah ia melanjutkan apa yang ia inginkan? Atau berhenti sebelum menyesali semuanya?

 

-TBC-

Advertisements

4 thoughts on “Evelyn – Chapter 7 (Nona saya)

  1. Hahahaha lucu sekali melihat interaksi Amora dgn Eva…
    Eva jlas cmburu melihat Fandy dkt cwk lain,,sdgkn Amora sngaja memanas2i Eva yg trlihat kecentilan..
    Beruntung Fandy cpt dtg,,klo gk mau jd apa tuh c Eva…lama2 klo sllu di suguhin kaya gtu,,ya gk kuat jg hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s