Uncategorized

Lovely Wife – Chapter 1 (Wanita menggoda)

Lovely Wife

 

Akhirnyaa rilis juga bang Dirganya yaa,,, wakakkaka semoga suka,…

 

Chapter 1

-Wanita yang menggoda-

 

Dua tahun yang lalu…

Pagi itu, nadine sedang sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil mereka. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, jika sebelum-sebelumnya Nadine sarapan dengan santai, maka hari ini ia sedikit terburu-buru.

Ya, hari ini adalah hari pertamanya kerja di salah satu perusahaan besar meilik keluarga dari sahabatnya sendiri. Meski si pemilik perusahaan sangat baik terhadap dirinya dan keluarganya, tapi tetap saja Nadine harus profesional. Ia tidak ingin di terima dalam perusahaan tersebut hanya karena kenal dan dekat dengan si pemiliknya, tapi karena potensinya berada di dalam perusahaan tersebut.

“Nadine, ini bekal untuk kamu, sayang.” Nadine melirik ke arah kotak bekal yang di siapkan sang ibu. Sederhana tapi Nadine suka.

“Terimakasih, Bu.”

“Apa Karin juga ikut kerja di perusahaan ayahnya?”

“Sepertinya tidak.”

Sang ibu hanya menganggukkan kepalanya. Nadine melirik ke arah jam tangannya, waktu menunjukkan jika hari sudah semakin siang, akhirnya ia menyambar tasnya dengan membawa sepotong roti tawar yang sudah di olesi dengan selai cokelat, lalu berpamitan dengan sang ibu untuk segera berangkat.

“Kamu yakin hanya sarapan itu?”

“Ya, Bu. Kan aku sudah bawa bekal.”

“Baiklah, hati-hati di jalan, sayang.” Nadine menganggukkan kepalanya dengan pesan sang ibu, ia mengecup lembut punggung tangan sang ibu tak lupa juga ia berpamitan dengan ayahnya lalu segera berangkat menuju ke tempat kerja barunya.

***

Saat Nadine sibuk menunggu Bus di sebuah halte tak jauh dari gang rumahnya, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Nadine tersenyum saat mendapati siapa pemilik dari mobil tersebut. Itu Darren Pramudya, lelaki yang sudah resmi menjadi kekasihnya sejak beberapa minggu yang lalu.

Darren membuka kaca mobilnya lalu melonggokkan kepalanya ke arah Nadine. “Ayo masuk.”

“Uum, kamu mau ngantar aku? Kamu nggak sibuk?” tanya Nadine masih berdiri tepat di sebelah mobil Darrenh.

Ya, setahu Nadine, Darren adalah orang yang sibuk. Lelaki itu juga sibuk dengan perusahaan keluarganya, jadi Nadine tidak enak jika harus merepotkan Darren untuk mengantarnya kerja.

“Untuk kamu, aku nggak akan pernah sibuk. Ayo, masuklah.” Nadine tersenyum lembut. Ah, lelaki ini gampang sekali membuatnya berbunga-bunga.

Nadine akhirnya masuk ke dalam mobil Darren, setelah duduk di sebelah lelaki itu, Nadine sedikit mengerutkan keningnya saat mendapati ada yang berbeda dengan tampilan mobil Darren. Pada Dashboar mobil Darren, dulu terdapat sebuah bingkai mungil yang di dalamnya ada foto Darren, Karina dan dirinya, tapi kini bingkai tersebut hanya berisikan foto dirinya saja. Oh, jangan di tanya bagaimana terkejutnya Nadine saat ini. Pipinya bahkan sudah merona-rona.

“Kenapa?” Darren bertanya sambil mulai mengemudikan mobilnya.

“Fotonya, apa yang terjadi dengan fotonya? Kenapa ganti?”

Darren sedikit tersenyum. “Apa yang terjadi? aku hanya memasang foto wanita yang sedang menjadi kekasihku.”

“Aissh, aku nggak enak sama Karin kalau kamu hanya memasang fotoku di sini.”

“Karin? Kenapa dengan dia? Dia pasti mengerti. Dia adalah sahabat terbaik kita, jadi dia tidak akan mempermasalahkan foto ini.”

“Ya tapi dia belum tahu tentang hubungan kita.”

“Nanti aku yang akan memberi tahunya. Oke?” dan Nadine hanya mampu menghela napas panjang.

Ya, ia Karina dan Darren memang sahabatnya sejak kecil karena orang tua mereka memang bersahabat sejak remaja. Sebenarnya Nadine sedikit tidak enak, ketika tiba-tiba Darren mengungkapkan perasaan lelaki tersebut padanya. Baginya, Darren adalah seorang yang istimewa, sama dengan Karina, tapi hanya itu, tidak lebih. Nadine melihat Darren sebagai sahabat yang ia sayangi, hingga kemudian beberapa minggu yang lalu saat lelaki itu mengungkapkan perasaannya, Nadine jadi galau tak menentu.

Ia ingin menolak, tapi tidak enak, takut jika hubungannya dengan Darren akan merenggang, atau lelaki itu akan menghindarinya. Akhirnya, Nadine mencoba hubungan tersebut dengan Darren, meski sebenarnya tanpa cinta. Saat itu Nadine sedang sendiri karena ia baru putus dengan kekasihnya, dan dengan hadirnya Darren, ia mau mencoba menjalin kasih kembali dengan seorang pria. Setidaknya, ia mengenal Darren, lelaki itu adalah lelaki baik, jadi tidak ada salahnya mencoba dengan Darren.

“Jadi, apa nanti mau makan siang bersamaku?” Nadine menolehkan kepalanya pada Darren.

“Ah, maaf, aku bawa bekal.”

“Aku bisa ke tempat kerjamu dan makan di kantin kantormu nanti.” Darren menjawab lagi.

“Darren, itu nanti akan sangat merepotkan kamu. Lagian aku baru di sana, jadi aku harus banyak bergaul dengan pegawai lainnya-”

“Dari pada makan siang bersamaku?” potong Darren.

Nadine tersenyum. “Bukan begitu maksudku.”

“Oke Princess, aku mengerti. Kalau ada yang jahat sama kamu, lapor saja sama aku.”

Nadine terkikik geli. “Baik Boss.”  Keduanya lalu melanjutkan percakapan ringan mereka dengan sesekali bercanda gurau bersama.

***

“ASTAGAAAAAAAA!!!!”

Suara teriakan tersebut seketika menghentikan pergerakan Dirga, membuat Dirga dan Amel, wanita yang kini masih menyatu dengannya menolehkan kepalanya ke arah wanita yang berteriak tersebut.

“Ada apa?” seorang lelaki datang menghampiri wanita yang sedang berteriak tersebut, wanita itu menutup matanya karena melihat pemandangan yang menurutnya amat sangat vulgar. Dan lelaki itu segera menatap pemandangan di hadapannya.  Tampak seorang lelaki yang kembar identik dengannya sedang bersenggama dengan seorang wanita dalam posisi yang begitu panas dan berani.

“Brengsek lo Ga! Apa yang lo lakuin di sini?!” Seru lelaki itu lantang. Dia Davit, saudara kembar Dirga yang kini tinggal di Bandung.

Dirga mengumpat dalam hati. Bagaimana tidak, sebentar lagi ia akan mencapai klimaksnya, tapi di ganggu oleh Davit dan juga Sherly, istri dari kembarannya tersebut. Ah sial! Apa juga yang di lakukan Davit di sini? Bukankah mereka seharusnya berada di Bandung?

Dirga menarik dirinya dari penyatuan terhadap tubuh Amel, dan tanpa mempedulikan ketelanjangannya, ia bertanya balik pada Davit.

“Lo sendiri ngapain di sini?”

“Ini apartemen gue, jadi terserah gue mau ke sini atau enggak.”

Sial! Tentu saja. Harusnya Dirga sadar diri karena apartemen yang ia jadikan sebagai  basecamp untuk bercinta dengan para wanitanya adalah apartemen milik Davit.

“Setidaknya lo bisa ketuk pintu sebelum masuk.” gerutu Dirga sambil menyambar kimono tidurnya. Ia melirik ke arah Amel, wanita itu tampak sangat malu karena kini menutupi sekujur tubuh telanjangnya dengan selimut tebal mereka.

“Ketuk pintu? Ngapain gue ketuk pintu kalau kue punya kuncinya? Lo benar-benar sialan.”

Slow man, lo kayak nggak kenal gue, keluar dulu sana, lo mau seharian di situ dan lihat gue telanjang?”

Davit menggelengkan kepalanya. “Sinting lo!” lalu ia mengajak istrinya pergi meninggalkan kamar yang masih di tempati Dirga tersebut.

Dirga menyambar baju wanita teman kencannya yang berserahkan di lantai, dan melemparkannya begitu saja pada wanita itu. “Pakai bajumu, kita akan pergi dari sini.”

“Kita nggak lanjutin tadi?”

“Kamu bercanda? Aku sudah tidak bergairah. Cepat pakai.” Dirga lalu melirik ke arah jam tangannya dan mendapati jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. “Sial! Kita ada rapat jam satu siang.”

“Kamu kan bisa batalin rapatnya.” Wanita itu berkata sambil mengenakan pakaiannya satu persatu.

“Membatalkan? Meski aku brengsek, aku tidak pernah mangkir dari pekerjaanku.” Dirga memakai kembali kemejanya. “Brengsek! Ngapain juga si Davit ke sini.”

Setelah memakai pakaiannya, Dirga keluar menghampiri kakak kembarnya. “Lo ngapain ke sini? Bukannya harusnya lo ada di Bandung?”

“Gue lagi ada kerjaan di sini. Sialan! Bukannya wanita itu sekertaris pribadi lo? Lo kencan sama dia?”

Dirga meraih sebotol air mineral di dalam lemari pendingin lalu meminumnya. “Dia suka godain gue di kantor, jadi gue kencani aja.” Jawab Dirga dengan datar.

“Bener-bener sinting lo. Lo nggak akan bisa profesional sama dia nantinya, Ga.”

Well, setelah gue selesai sama dia, gue akan pindah tugaskan dia ke bagian lain.”

“Dan lo akan cari sekertaris pribadi baru gitu? Seperti sebelum-sebelumnya?”

“Tepat sekali.”

“Lo benar-benar gila.”

“Jadi kamu mau memecatku?” terdengar suara Amel yang baru saja keluar dari kamar.

Dirga menghampiri wanita tersebut. “Oh, aku tidak sekejam itu sayang, kamu hanya akan di pindah tugaskan ke tempat lain.”

“Kenapa? Supaya kamu tidak ada yang menggoda?”

“Tepat sekali.” Dirga menjawab santai.

Wanita itu akan menjawab lagi, tapi suaranya tercekat di tenggorokan ketika seorang wanita lainnya menuju ke arah dapur melewati dirinya dan juga Dirga. Itu wanita tadi yang memergoki mereka saat sedang asik menyatu dan bergerak seirama, itu Sherly, istri Davit.

Dirga melirik sekilas ke arah istri Davit, lalu menyapanya dengan suara menggoda. “Pagi, Kak.”

Sherly  hanya melirik sekilas ke arah Dirga, lalu melanjutkan langkahnya mendekat ke arah suaminya tanpa menghiraukan Dirga. Dirga tampak kesal dengan istri dari kembarannya itu, ia hanya bisa berakhir dengan mendengus sebal.

“Gue cabut.” Dirga berkata dengan wajah yang sudah masam.

“Lo nggak mandi? Badan lo masih bau seks.”

“Nggak.” Hanya itu jawaban Dirga sambil bergegas pergi menuju pintu keluar apartemen Davit.

Sialan! Sherly benar-benar mampu membuat moodnya memburuk.

***

“Jadi kamu benar-benar memecatku?!” Amel, sekertaris pribadi Dirga akhirnya tak kuasa menahan amarahnya saat Dirga memberika surat pernyataan jika dirinya di pindah tugaskan ke bagian lain saat setelah mereka sampai di kantor. Astaga, padahal baru beberapa jam yang lalu Dirga bercinta dengannya, bagaimana mungkin lelaki ini melakukan hal sekejam ini padanya?

“Jangan berlebihan, aku tidak memecat, kamu hanya di pindah tugaskan ke tempat lain.”

“Ya, dan artinya aku nggak akan bisa berhubungan lagi denganmu.”

“Sayangnya, memang seperti itu tujuannya. Maaf.” Dengan begitu menjengkelkan, Dirga mengucapkan kalimat tersebut dengan senyuman miringnya.

“Kamu benar-benar keterlaluan, baru beberapa jam yang lalu kamu memasukiku, dan sekarang-”

“Sekali lagi, jangan berlebihan. Aku belum klimaks.” Dirga memotong kalimat Amel lagi-lagi dengan begitu menjengkelkan.

“Brengsek!” setelah mengumpat keras,  Amel keluar dari ruangan Dirga. Dan Dirga hanya menatapnya dengan tersenyum penuh kemenangan. Ia bahkan tidak menghiraukan Amel yang membanting keras-keras pintu ruangannya.

Dirga kembali duduk di kursi kebesarannya, tapi baru beberapa detik ia duduk, pintunya kembali di ketuk oleh seseorang. Siapa lagi ini? Pikirnya.

“Masuk.” Dengan malas Dirga mengucapkan perintah tersebut.

Pintu di buka, Dirga mengangkat wajahnya dan mendapati sosok cantik berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Sosok yang tidak asing baginya, karena dulu, ia sering sekali bertemu dengan sosok tersebut, tapi kini, entah apa yang membuat Dirga ternganga mendapati penampilan sosok tersebut yang baginya cukup berbeda.

Itu Nadine, sahabat dari Karina, adiknya.

Kenapa Nadine di sini?

Dirga mengangkat sebelah alisnya, menatap penampilan Nadine dari ujung rambut sampai ujung kaki wanita tersebut.

Rambutnya tergerai indah, dia mengenakan kemeja dan juga rok yang menurut Dirga terlihat begitu seksi saat di kenakannya, belum lagi sepatu hak yang membuat kaki jenjang wanita itu terlihat begitu menggoda untuk Dirga.

What the F*ck!

Sejak kapan Nadine menjadi wanita menggoda seperti saat ini? Sejak kapan ia menegang seutuhnya hanya karena melihat teman dari adiknya itu berdiri dengan pakaian lengkapnya?

Dirga menelan ludahnya susah payah. Ia mulai tidak nyaman dalam duduknya, dan entah mengapa dahinya mulai berkeringat.

Sial! Ia kepanasan.

“Siang Pak, saya di suruh megantar dokumen ini pada Pak Dirga.” Nadine berkata seformal mungkin. Meski sebelumnya ia sudah mengenal Dirga, tapi tetap saja saat ini Dirga adalah atasannya.

Dengan gerakan pelan tapi mengintimidasi, Dirga melangkah menuju ke arah Nadine. Jemarinya dengan spontan melonggarkan ikatan dasinya yang entah kenapa terasa mencekiknya.

“Nadine, kamu, kerja di sini?”

“Uum, iya pak, ini hari pertama saya kerja di sini.”

“Di bagian apa?” tanyanya lagi.

“Bagian administrasi.”

“Bereskan barang-barang kamu, mulai hari ini kamu jadi sekertaris pribadi saya.” Dengan arogan Dirga mengucapkan kalimat tersebut.

“Apa?” Nadine tampak shock dengan ucapan Dirga.

“Ya, saya lagi butuh seorang sekertaris, dan saya rasa, kamu orang yang paling cocok menggantikan sekertaris saya yang baru saja saya pecat.”

“Tapi pak-.”

“Bersikap biasa saja seperti sebelum-sebelumnya.”

“Maaf?”

“Sekarang, kembali ke ruanganmu, dan bereskan barang-barangmu. Sisanya, aku yang akan mengurus semuanya.” Nadine hanya mengangguk patuh lalu ia membalikkan badannya dan mulai pergi meninggalkan ruangan Dirga.

Dirga sendiri menghela napas panjang setelah Nadine keluar dari ruangannya. Sial! Bagaimana mungkin Nadine mampu menciptakan ketegangan seksual di dalam dirinya hanya karena melihat penampilan wanita itu?

***

Cukup lama Nadine membereskan meja kerjanya, meski ini hari pertamanya menempati ruangan mungilnya tersebut, tapi tetap saja banyak yang di bereskan, mengingat ia membawa banyak barang di atas mejanya.

Sedikit risih karena beberapa rekan kerjanya menatap ke arahnya dengan sesekali berbisik pada yang lainnya, seakan dirinya kini menjadi bahan gosip. Tentu saja, siapa yang tidak menggosipkan tentang dirinya dalam keadaan seperti ini? Sangat aneh jika ada seorang pegawai biasa baru yang langsung naik pangkat menjadi sekertaris pribadi wakil direktur utama perusahaan besar tersebut.

Seorang rekan kerja Nadine datang menghampirinya. “Jadi, kiamu benar-benar akan menjadi sekertaris pribadi pak Dirga?” tanya salah satu  rekan kerja wanita Nadine.

“Ya, sepertinya begitu.”

“Wahh, sepertinya Pak Dirga sedang membidik mangsa baru.”

Nadine mengerutkan keningnya. “Membidik mangsa baru?”

“Lihat saja, posisi kamu di sana tidak akan lama. Paling lama juga mungkin dua bulan. Pak Dirga selalu bergonta-ganti sekertaris pribadi setelah dia berhasil mendapatkannya.”

“Mendapatkannya? Maksud kamu, mendapatkan apa?” Nadine benar-benar tidak mengerti.

“Mendapatkannya di ranjang.”

“Apa?” dengan spontan Nadin membulatkan matanya seketika.

“Tenang, itu sudah menjadi rahasia umum, jika atasan kita yang satu itu memang seperti itu. meski begitu, banyak yang mengidamkan menjadi sekertaris pribadi pak Dirga meski nanti ia akan menjadi kekasih semalam pak Dirga dan berakhir di campakan.”

Nadine merasa mual dengan kenyataan tersebut. Tidak! Kak Dirga tidak akan memperlakukannya seperti itu, mereka sudah kenal lama, keluarga mereka sudah saling mengenal dengan baik, tidak mugkin lelaki itu akan memperlakukannya seperti memeperlakukan sekertarisnya yang dulu-dulu.

-TBC-

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Lovely Wife – Chapter 1 (Wanita menggoda)

  1. waahhhhhhhh parah bener” deh sii dirga brengsek ma kaga ktolongan , dia lebih parah dari ramma , dan dia 11 12 ma yongi … dan apa maksud na itu , jangan bilang ql dia juga tergoda ma sherly kk ipar na sendiri 😱😱.

    wajar lah ql dia menyandang predikat iblis .

    kek na q harus baca cerita daren dari prolog dulu , kek na ada yng ketinggalan .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s