romantis

Unwanted Wife – Chapter 19 (Kamu membuatku takut)

Unwanted Wife

 

Chapter 19

-Kamu membuatku takut-

 

Membuka mata dan mendapati sebuah lengan merengkuh tubuhnya dengan begitu posesif, membuat Karina mengerutkan keningnya, tapi tak lama ia menyunggingkan senyumannya saat sadar jika lengan tersebut adalah lengan dari suami yang begitu ia cintai, Darren Pramudya.

Pipinya merona seketika saat menyadari bagaimana panas dan intimnya hubungan mereka berdua tadi malam. Oh, bahkan Karina merasa sangat malu karena ia duluanlah yang menghampiri Darren dan meminta lelaki tersebut untuk tidur bersamanya.

Karina mendaratkan jemarinya pada perut datarnya, mengusap lembut dan merasakan kehangatan di sana. Ia menghela napas panjang, haruskah ia melaksanakan rencananya untuk meninggalkan Darren? Untuk melepaskan lelaki itu?

Cukup lama Karina melamunkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya hingga kemudian jemari Darren yang tiba-tiba ikut mengusap perutnya membuat Karina sadar sepenuhnya dari lamunannya.

“Uum, sudah bangun?” tanya Karina dengan lembut.

“Hemm.” Hanya itu jawaban Darren sambil menenggelamkan wajahnya pada uraian rambut Karina.

“Aku akan bangun, nanti kesiangan.”

“Begini saja.” Darren semakin mengeratkan pelukannya. “sebentar saja.” tambahnya lagi. Dan Karina menuruti apa yang di perintahkan Darren. Ya, ia memang merasa nyaman di peluk seperti ini oleh Darren, apalagi ketika jemari lelaki itu ikut mengusap lembut perut datarnya. Oh, Darren benar-benar membuatnya tenang pagi ini.

***

Darren akhirnya memilih sarapan hanya berdua dengan Karina di kamar mereka. Darren membawakan sebuah nampan yang berisi sarapan mereka ke dalam kamar, sedangkan Karina saat ini masih sibuk membenarkan penampilannya di depan sebuah cermin di dalam kamar mereka.

“Kenapa sarapan di sini?” tanya karina saat Darren sudah menaruh nampan yang ia bawa di atas meja.

“Mama sama papa sudah selesai sarapan, jadi kita sarapan di sini saja.”

Karina bangkit dari duduknya lalu menghampiri Darren. Ia kemudian duduk di hadapan Darren sedangkan Darren sendiri sibuk menyiapkan sarapan di hadapan Karina.

Keduanya lalu makan dalam diam, dengan kecanggungan masing-masing. Begitu banyak masalah di antara mereka, tapi entah kenapa sentuhan tadi malam dan juga tadi pagi membuat masalah-masalah tersebut seakan sudah terlupakan.

Darren melirik ke arah Karina yang terlihat tidak bersemangat memakan sarapannya. “Kenapa? Apa tidak enak? Kamu merasa mual?” tanya Darren dengan spontan.

Karina mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Darren. “Enggak, ini enak, dan aku nggak sedang mual.”

“Lalu, kenapa kamu terlihat seperti ada yang mengganggu pikiranmu?”

Karina tidak tahu harus menjawab apa, ia sangat ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Darren, tapi di sisi lain, ia takut jika Darren akan kembali marah terhadapnya. Tapi mau sampai kapan ia menyimpan semuanya? Lagi pula, bukankah pemarah adalah sifat dasar dari Darren?

“Uum, aku, ingin bicara sesuatu padamu.”

“Habiskan dulu makananmu, baru bicara.” Darren menjawab cepat.

Karina menganggukkan kepalanya, dengan lebih cepat ia menghabiskan sarapannya, sebelum keberaniannya menghilang. Setelah suapan terakhir, Karina meminum susu yang di bawakan oleh Darren, kemudian ia menghela napas panjang sebelum mulai berbicara pada Darren.

“Sepertinya penting sekali sampai kamu benar-benar menghabiskan sarapanmu secepat kilat.”

“Aku ingin bicara sekarang sebelum keberanianku menghilang.”

“Bicara tentang apa hingga kamu perlu mengumpulkan keberanian sebelum berbicara?”

Karina lalu bangkit dari tempat duduknya, ia menuju ke arah tasnya, dan mengambil sesuatu dari sana. Itu sebuah map berwarna biru tua, map yang kemarin ia ambil dari sang ayah. Karina kembali duduk di hadapan Darren lalu menyerahkan map tersebut pada Darren.

Darren mengangkat sebelah alisnya. “Apa ini?”

“Itu, itu adalah surat serah saham dari papaku.” Karina menjawab dengan sedikit ragu.

“Apa?” Darren sedikit terkejut dengan jawaban Karina, secepat kilat ia meraih map itu, membukanya dan membaca isinya. Setelah itu tatapan mata Darren menajam ke arah Karina. “Kenapa memberiku ini?” pertanyaan Darren terdengar seperti sebuah geraman yang entah kenapa menakutkan untuk seorang Karina.

“Ku pikir, aku akan melepaskanmu.”

Darren tercengang dengan pernyataan Karina. Sial! Bagaimana mungkin Karina mengucapkan kalimat tersebut setelah semalam mereka berdua bercinta dengan begitu panas? Kenapa? Kenapa Karina ingin melepaskannya? Apa karena Karina ingin bersama dengan Evan?

 Tidak! Itu tidak boleh terjadi.

“Aku tidak mau!” dengan spontan Darren merobek surat-surat tersebut tepat di hadapan Karina.

Karina sendiri ternganga dengan jawaban dan juga reaksi dari Darren. “A –apa yang kamu lakukan? Bukankah itu alasan utama kamu mau menikahiku? Sekarang papa sudah mengembalikan semua saham keluarga kamu, jadi kamu bisa… kamu bisa…” Karina tidak sanggup mengucapkannya.

“Menceraikanmu? Lalu membiarkanmu hidup bahagia dengan Evan dan membawa bayiku?” Darren melanjutkan kalimat Karina sambil tersenyum miring. “Jangan bermimpi Karin!”

Darren berdiri lalu bersiap meninggalkan Karina.

“Darren, kenapa kamu berpikir seperti itu? aku tidak akan hidup dengan kak Evan.”

“KALAU BEGITU KENAPA KAMU MEMINTA BERCERAI DARIKU?!” Oh, jangan di tanya bagaimana ekspresi Darren saat ini.

Karina berjingkat hingga ia meringsut mundur saat mendengar seruan Darren yang begitu keras tepat di hadapannya. Darren tidak pernah seperti ini, Darren tidak pernah semarah ini.

“Dengar Karin! Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia dengan pria lain! Tidak, setelah apa yang sudah kamu lakukan padaku.” Setelah kalimat itu, Darren pergi meninggalkan Karina begitu saja.

‘Setelah apa yang sudah kamu lakukan padaku?’ Memang apa yang sudah ia lakukan pada Darren hingga Darren seperti tidak akan bisa memaafkannya?

***

Darren membanting keras pintu mobilnya.

Sialan! Ia benar-benar sangat marah, hingga seakan ia tak dapat mengontrol kemarahannya.

Bercerai? Karina ingin bercerai darinya? Brengsek! Itu tidak mungkin! Ia tidak akan mungkin melepaskan Karina setelah apa yang sudah Karina lakukan pada dirinya. Setelah Karina kembali membuatnya jungkir balik karena perasaan sialan yang dulu pernah ia rasakan pada wanita tersebut.

Oh ya.. Karina telah membuatnya kembali memiliki rasa pada wanita itu.

Tapi kenapa pada saat seperti ini wanita itu malah ingin pergi meninggalkannya? Melepaskanya?

Tidak bisa!

Apapun yang terjadi, Karina tidak bisa pergi darinya. Jika dulu Karina bertindak egois untuk memiliki dirinya, maka kini, Darren yang akan bertindak egois untuk tetap memiliki wanita tersebut di sisinya.

***

Setelah sarapan pagi dengan penuh ketegangan, Karina akhirnya berangkat menuju ke sekolah tempat dimana dirinya mengajar, tempat di mana dirinya dapat melupakan masalahnya bersama Darren sesaat karena melihat tawa ceria dari anak didiknya. Tapi, sampai di sekolah, entah kenapa pikirannya masih saja terganggu oleh masalahnya dengan Darren.

Karina duduk di kursinya di dalam ruang kelas. Kelas sendiri belum mulai dan anak-anak juga belum semuanya datang. Pada saat Karina sibuk mengeluarkan buku-bukunya, ponselnya berbunyi.

Karina meraih ponselnya dan melirik nama pemanggil, ternyata nomor baru, siapa?

“Halo?” Akhirnya Karina mengangkat panggilan tersebut.

“Karin.” Oh, panggilan itu membuat jangtung Karina berdebar semakin kencang. Itu Evan, ya, yang sedang meneleponnya saat ini adalah Evan.

“Kak?”

“Ya, ini aku. Bagaimana kabarmu?”

“Kenapa kak Evan baru telepon? Mama selalu khawatir keadaan kak Evan, mama bahkan ingin menyusul kak Evan ke Bandung karena kak Evan nggak  pernah sekalipun menghubungi orang rumah.”

“Aku baru meneleponnya tadi.”

“Oh ya? Benarkah?”

“Ya, dan, apa kamu tidak mengkhawatirkan keadaanku?”

“Aku?” dengan spontan Karina menanyakan pertanyaan tersebut. “Te –tentu aku khawatir, kak Evan menghilang begitu saja, mana mungkin aku nggak khawatir, tapi mama yang lebih khawatir.”

Terdengar sedikit tawa dari Evan. “Aku baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana?”

“Aku juga baik.”

“Darren, bagaimana dengan dia? Apa dia tidak memperlakukanmu dengan buruk lagi?”

“Uum.” Karina tidak tahu harus berkata apa. “Dia baik denganku.”

“Kamu ada masalah dengannya? Apa aku harus menghubunginya?”

“Jangan.” Dengan cepat Karina menjawab. “Kami baik-baik saja. Ku mohon, jangan menghubungi Darren dalam waktu dekat.”

“Aku tahu kalian tidak sedang baik-baik saja. Oke, kalau begitu. Ini nomor baruku, simpan saja, nanti aku hubungi lagi.” Setelah kalimat itu, panggilan terputus.

Karina menatap ponselnya dengan bibir yang masih ternganga. Evan menghubunginya, oh, syukurlah lelaki itu masih mau menghubunginya. Tapi bagaimana jika Evan juga akan menghubungi Darren? Tidak, Evan pasti tidak akan menghubungi Darren karena ia sudah melarangnya.

Karina akhirnya kembali fokus pada anak didiknya, dan memulai pekerjaannya sebagai seorang guru TK di sekolahan tersebut meski beberapa masalah pribadi masih saja mengganggu pikirannya.

***

Darren tidak bisa bekerja karena memikirkan tentang Karina. Oh sial! Wanita itu benar-benar mempengaruhinya. Bagaimana mungkin Karina mampu mempermainkan perasaannya?

Dan om Roy, Tua bangka sialan itu kenapa juga mau-maunya menuruti semua permintaan Karina. Padahal dulu, Om Roy melakukan cara licik untuk membuatnya bersatu dengan Karina, tapi kenapa sekarang dengan mudahnya Om Roy menuruti permintaan Karina?

Akhirnya dengan perasaan kesalnya, Darren bergegas menuju ke kantor mertuanya tersebut. Ia ingin bertanya secara langsung pada pria tua itu, apa yang dia inginkan, dan apa yang Karina inginkan.

Sampai di kantor ayah Karina, Darren bersyukur karena ia tidak bertemu dengan si brengsek Dirga. Bukan karena takut, tapi Darren tidak ingin tangannya secara spontan melayang memukul kakak iparnya tersebut. Ya, bagaimanapun juga, Darren masih amat sangat kesal dengan Dirga. Laki-laki sialan itu sudah menjadikan Nadine sebagai tawanannya, dan dia juga sudah menipu Darren tentang kesehatan Karina. Oh, mengingat itu saja emosi Darren kembali tersulut.

Darren mencoba mengendalikan emosinya saat ia akan memasuki ruang kerja mertuanya. Ya, kali ini ia harus datang dan bicara dengan baik-baik. Tidak ada ketegangan atau emosi. Semuanya harus di selesaikan secara baik-baik.

“Selamat siang, Om.” Darren menyapa.

Roy mengangkat kepalanya dan mendapati Darren sudah berdiri tak jauh dari meja kerjanya. “Siang. Kamu, kenapa di sini?”

“Ada yang mau saya bicarakan sama Om Roy.”

Roy mengerutkan keningnya. “Bicara apa? Bukannya semuanya sudah selesai? Apa kamu mau mengejek saya karena sudah mampu membuat hidup puteri saya tidak bahagia?”

Rahang Darren mengeras seketika. “Saya tidak mengerti apa maksud Om Roy.”

Roy berdiri, menuju jendela tak jauh dari meja kerjanya. “Darren, saya tidak tahu apa yang kamu lakukan pada puteri saya, tapi percayalah, dia sangat mencintai kamu, tapi di sisi lain saya melihat dia tersiksa bersama kamu.”

Darren hanya diam, tangannya tiba-tiba mengepal begitu saja. Ia ingin marah, tapi tidak tahu marah dengan siapa.

“Saya menuruti kemauan Karina untuk menikahkannya denganmu, karena saya ingin melihat puteri saya satu-satunya bahagia dengan lelaki yang di cintainya, dan sekarang, saya menuruti permintaannya untuk melepaskanmu, karena yang saya lihat, dia begitu menderita bersamamu.”

“Saya tidak akan membuatnya menderita.” geram Darren.

“Kenapa?”

Darren tidak dapat menjawabnya. “Om tidak perlu tahu kenapa, tapi saya tidak akan membiarkan Karina lepas dari genggaman tangan saya.”

“Karena kamu mencintainya?”

Darren membatu mendengar pertanyaan tersebut.

“Jawab pertanyaan saya Darren! Apa karena kamu mencintainya?!”

“Bukan urusan Om.”

“Darren!”

Darren menghela napas panjang sebelum dia berseru dengan lantang “Ya, karena saya mencintainya. Apa Om puas?!”

Sial! Bukan ini yang ia inginkan. Mengakui perasaannya pada om Roy yang selama ini ia anggap sebagai musuhnya, sama saja Darren mengakui jika dirinya sudah kalah.

“Saya tidak puas. Saya puas ketika melihat puteri saya bahagia dengan orang yang dia cintai dan juga mencintainya.” Darren terdiam dengan perkataan lelaki paruh baya di hadapannya tersebut. “Pulang, dan katakanlah pada Karin, kalau kamu juga mencintainya, kamu tidak ingin melepaskannya karena kamu mencintainya, bukan karena alasan lain.”

“Kenapa dia mau berpisah dengan saya?” tanpa sadar Darren menanyakan pertanyaan itu.

“Karena dia pikir kamu tersiksa dengan hubungan kalian, dan melihatmu tersiksa juga melukai hatinya.”

Sial! Tentu saja, selama ini ia selalu bersikap kurang ajar pada Karina, seakan-akan dirinya tersiksa dan menjadi korban karena pernikahan mereka, padahal nyatanya tidak begitu. Ya, awalnya ia memang mersa menjadi korban karena keegoisan Karina dan keluarga wanita tersebut, tapi jauh dalam hatinya yang paling dalam, Darren tahu jika ia juga menikmati perannya sebagai suami Karina, meski ia mencoba menutupi semuanya dengan dinding-dinding kekejaman yang ia bangun di hadapan Karina.

“Kembalilah, Darren, saya tidak peduli dengan saham-saham itu, yang saya pedulikan adalah kebahagiaan puteri saya.”

Darren menganggukkan kepalanya. Lalu dengan patuh ia berbalik dan keluar dari dalam ruiang kerja mertuanya tersebut.

Sedikit linglung, tentu saja. Ia tidak pernah mengakui perasaannya pada Karina secara gamblang di hadapan orang lain. Ia selalu mampu memagari dirinya dengan dinding-dinding tinggi yang di buat dengan sikap dingin dan arogannya saat membahas tentang Karina, tapi bagaimana bisa Om Roy mengetahui isi hatinya? Bagaimana mungkin lelaki paruh baya itu membaca apa yang ia rasakan?

Saat Darren sudah keluar dari kantor keluarga Prasetya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Darren merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya, lalu mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

“Halo?”

“Darren, kamu di mana?” itu suara mamanya. Dan mamanya terdengar panik.

“Aku di jalan, Ma, ada apa?”

“Astaga, Karina masuk rumah sakit, dia pingsan di sekolahan dan pendarahan.”

“Apa?!” Darren membelalakkan matanya seketika, tubuhnya membeku mendengar kabar tersebut.

Karin… Karin… tidak boleh meninggalkannya. Ya, Karin dan bayinya tidak boleh pergi meninggalkannya.

***

Darren berlari cepat menuju ruang gawat darurat. Tadi mamanya sempat memberi tahu di mana Karina di rawat. Oh, jangan sampai ia kehilangan Karina dan juga bayinya, jika itu terjadi, Darren tidak akan pernmah memaafkan dirinya sendiri.

“Maaf pak, silahkan anda keluar, anda tidak boleh di area ini.” Seorang suster melarang Darren masuk ke ruang IGD.

“Istri saya ada di dalam. Saya mau melihatnya.”

“Maaf Pak, masih ada tindakan medis, jadi silahkan tunggu di luar.” Setelah kalimat tersebut, sang suster menutup kembali pintu IGD.

Ketika Darren tidak dapat menutupi kekhawatirannya, seorang wanita menepuk bahunya dari belakang.

“Pak Evan?” Darren menoleh ke arah wanita tersebut, lalu mengerutkan keningnya.

“Evan?” tanyanya bingung.

“Ya, tadi saya yang menghubungi anda karena Mbak Karin pingsan di sekolahan.”

Darren semakin bingung dengan apa yang di katakan wanita tersebut. Bukankah yang menghubunginya tadi adalah mamanya?

“Maaf, anda salah sangka.”

“Salah sangka? Tapi saya tadi yang menghubungi anda lewat ponsel Mbak Karin, ini ponselnya.”

Darren mengerutkan keningnya sambil menatap ponsel Karina yang ada dalam genggaman tangannya. “Kenapa anda menghubungi Evan?”

“Karena nomor itu yang ada dalam panggilan terakhir, saya pikir itu nomor penting.”

Panggilan terakhir? Jadi, Karina dan Evan baru saja berteleponan? Bicara tentang apa? Apa mereka saling melepas rindu lewat telepon? Membayangkan itu saja kembali membuat Darren merasakan rasa sesak membakar di hatinya.

***

Karina membuka matanya yang terasa sangat berat. Ia tidak ingat apa-apa, dan ia merasa asing dengan tempatnya terbaring saat ini. Terbaring? Karina mencoba bangkit dari tidurnya, tapi ia merasakan kepalanya yang sangat pusing. Ia meraba kepalanya, tapi tidak ada perban di sana, lalu ia meraba hidungnya yang terasa tidak nyaman, dan ternyata di sana ada sebuah selang oksigen. Karina melihat pada punggung tangannya, dan benar saja, di sana telah tertancap sebuah jarum infus.

Apa yang terjadi dengannya? Dengan bayinya?

Ketika sadar tentang bayinya, Karina sedikit panik, dan kepanikannya itu akhirnya membangunkan orang yang sejak tadi tertidur di kursi di sebelah ranjangnya.

“Kamu sudah sadar?” tanya Darren masih dengan ekspresi khawatirnya.

“Darren, aku kenapa? Bayinya bagaimana?”

Tanpa di duga, Darren memeluk erat tubuh Karina.

“Jangan seperti ini lagi. Kamu, kamu membuatku takut.” Pelukan Darren semakin erat, sedangkan Karina sendiri hanya ternganga dan tidak mampu menjawab pernyataan Darren.

 

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 19 (Kamu membuatku takut)

  1. aduhhhhh daren bener” ngegemesin deh , bisa” na dia curhat ma papa mertua na …
    untung papa na karin orang baik …
    biza” daren salah paham lagi nii , knp juga evan nlpon pagi” ….
    baby na karin ga apa” kan , itu pendarahan biasa az kan karna karin terlalu banyak pikiran , srmoga az semua baik” az .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s