romantis

Unwanted Wife – Chapter 18 (Tidak ingin berhenti)

Unwanted Wife

 

Part di bawah mengandung ena2, jadi mohon baca setelah berbuka atau setelah lebaran. wakakakkakakakak happy reading..

 

“Karin nggak akan nyesal. Karin nggak mau pikiran ini selalu menghantui Karin. Mereka semua terluka karena keegoisanku, dan sampai kapanpun aku nggak akan bahagia saat tahu jika kebahagiaanku mengorbankan kebahagiaan mereka.”

“Mereka?”

Karina menganggukan kepalanya. “Darren, kak Evan, Nadine, bahkan mungkin Mas Dirga. Aku sayang semuanya, dan aku merasa menjadi orang yang paling jahat sedunia saat tahu jika mereka terluka karena ulahku.”

Sang ayah hanya menghela napas panjangnya. “Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Aku akan berusaha melepaskan Daren, Pa. Dia harus bahagia, meski tidak bersamaku.”

Mengucapkan kalimat tersebut sangat mudah untuk Karina, tapi melakukannya, apa ia bisa? Apa ia mampu? Astaga, kenapa dirinya jadi selemah ini sekarang?

 

 

Chapter 18

-Tidak ingin berhenti-

 

Karina pulang dengan langkahnya yang sedikit lemas. Setelah berperang dengan batinnya tadi, Karina akhirnya  benar-benar memutuskan jika ia memang harus melakukan hal ini. Melepaskan Darren dan mencoba membuat Darren kembali dengan Nadine.

Apa itu benar?

Entahlah, Karina bahkan tidak tahu mana yang benar untuknya. Yang ia tahu adalah jika perasaan sekarang ini semakin tak menentu, perasaan kalut, takut, merasa bersalah dan lain sebagainya seakan terus menerus menghantuinya, ia tidak bisa hidup seperti ini, dengan berbagai macam perasaan tersebut yang membuatnya susah tidur setiap malam.

Karina membuka pintu gerbang rumah Darren. Ah, ternyata ia pulang kesorean, kini bahkan sudah jam enam sore. Karina tidak pernah pulang sesore ini.

Ya, tadi siang setelah ke tempat ayahnya, sang ayah tak lupa mengajaknya makan bersama, keduanya banyak bercerita hingga tak terasa waktu sudah sore.

Karina masuk ke dalam rumah besar tersebut, lampu-lampu halaman rumah bahkan sudah di nyalakan. Ah, semoga saja Darren tidak marah karena ia terlambat pulang.

Marah? Yang benar saja.

Lelaki itu bahkan kini bersikap acuh tak acuh padanya. Seakan tak peduli apapun yang akan di lakukan Karina. Kenapa? Mungkin Darren masih marah tentang malam itu. Atau mungkin, Darren menjaga jarak padanya karena lelaki itu sudah tahu tentang kehamilannya?

Oh, Karina merasa semakin pusing saat berbagai macam kemungkinan menari di kepalanya. Ya, ia kini lebih banyak berprasangka, menerka-nerka apa yang akan terjadi dari pada berpikir positif. Entahkah kenapa ia seperti itu, apa ada hubungannya dengan kehamilannya? Mungkin saja.

Di dalam rumah, Karina di sambut oleh mama Darren, tante Sarah bahkan kini tampak sangat perhatian padanya.

“Kamu dari mana saja? Sudah hampir malam dan kamu baru pulang tanpa memberi kabar? Apa kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya kami?” Karina sedikit mengerutkan kening dengan kalimat pembuka dari mama mertuanya tersebut.

“Karin nemuin papa tadi, dan, ponsel karin mati karena habis batreinya, Ma.”

“Astaga, Darren mencari kamu seperti orang gila.”

“Apa? Mama nggak bercanda, kan?”

“Bercanda? Apa kamu lihat mama sedang bercanda? Setiap jam setengah dua, dia selalu menelepon mama, mencari tahu apa kamu sudah pulang atau belum. Dan tadi, saat mama bilang kamu belum pulang, dia menelepon lagi dan lagi, hingga saat dia pulang jam lima tadi, dia tampak sangat khawatir dengan keberadaan kamu.”

Karina hanya ternganga mendapati pernyataan panjang lebar dari sang mertua. Benarkah Darren melakukan itu? perhatian padanya?

“Uum, lalu, sekarang Darren di mana?”

“Dia tadi keluar lagi, mencari kamu. Nanti biar mama telepon, supaya dia cepat kembali pulang. Kamu sudah makan?”

“Sudah Ma, tadi sama papa.”

“Baiklah, sekarang lebih baik kamu ke kamar, mandi dan istirahat, orang hamil harus banyak istirahat.”

Karina sempat terkejut dengan perkataan tente Sarah, jadi, tante Sarah sudah mengetahui kehamilannya? Siapa yang bilang? Setahu Karina, yang tahu tentang kehamilannya hanya Evan, Darren dan tante Iva, bahkan keluarganya sendiri saja belum mengetahui keadaannya.

“Mama, mama tahu aku hamil?”

“Ya, Darren yang ngasih tahu kemarin. Dia bahkan selalu berpesan jika mama harus jagain kamu, dan jangan sampai lupa memaksamu makan, walaun kamu sedang nggak nafsu makan.”

Darren? Lagi-lagi Darren secara diam-diam perhatian padanya? Ah, sebenarnya apa yang terjadi dengan lelaki itu? apa yang dia rasakan? Kenapa beberapa hari terakhir Darren bersikap dingin pada dirinya padahal lelaki itu sangat perhatian padanya? Kenapa harus sembunyi-sembunyi?

“Sudah, nggak usah di pikirin lagi, sekarang cepat ke kamar.”

Karina hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ke arah kamarnya meski pikirannya masih bingung memikirkan tentang sikap Darren padanya.

***

Darren tidak berhenti menggerutu dalam hati. Perasaannya kalut, rasa khawatir bercampur aduk menjadi satu.

Sialan! Dimana Karina?! teriaknya dalam hati.

Beberapa hari terakhir, ia memang bersikap brengsek pada wanita itu. Ia kembali menampilkan sikap dinginnya, seakan ia tidak ingin sekalipun menyapa atau bertatap muka pada Karina, padahal bukan seperti itu yang ia rasakan.

Oh, jangan di tanya bagaimana frustasinya Darren, ingin sekali ia memeluk tubuh kurus Karina saat malam tiba, mengusap lembut perut datar wanita tersebut yang di dalamnya ada sang buah hatinya, tapi, semua keinginannya tersebut nyatanya di kalahkan oleh egonya, oleh rasa sialan yang selalu ia rasakan ketika mengingat kedekatan Karina dengan Evan malam itu.

Brengsek!

Darren benar-benar merasa jika dirinya menjadi orang terbrengsek di dunia ini. Bagaimana mungkin ia memperlakukan Karina seperti itu padahal wanita itu kini sedang mengandung bayinya? Bersikap seolah-olah ia tidak peduli hanya karena sebuah rasa yang di sebut dengan cemburu?

Apa? Tunggu dulu, cemburu?

Ia cemburu dengan kedekatan Karina dan Evan?

Kenapa?

Apa karena rasanya yang dulu telah kembali tumbuh?

Tidak mungkin!

Ya, tidak mungkin ia dengan begitu cepat kembali merasakan perasaan pada seorang Karina setelah ia mengubur perasaan itu dalam-dalam dan menghapus bayang wanita itu di hatinya.

Kecuali… kecuali kenyataan bahwa memang dirinya tidak pernah menghapus bayang Karina di hatinya.

Sial!

Tidak mungkin.

Setelah berperang melawan pikiranya sendiri, Darren menghentikan mobilnya di halaman rumah keluarga Karina. Oh sial! Padahal rumah ini adalah rumah terakhir yang ingin ia kunjungi, tapi mau bagaimana lagi, Karina menghilang sejak siang tadi tanpa kabar, dan mau tidak mau ia mencarinya ke kediaman keluarga Prasetya.

Tadi siang, seperti biasa, ia akan segera menghubungi mamanya saat tiba waktunya Karina pulang, menanyakan apa wanita tersebut sudah sampai rumah dengan selamat atau belum, lalu menanyakan apa Karina sudah makan dengan baik dan lain sebagainya, dan tadi siang, sang mama berkata jika Karina belum juga pulang, hingga satu jam berikutnya Darren kembali menghubungi mamanya. Jawabannya sama, Karin belum pulang, sampai Darren pulang dari kantorpun, wanita itu belum pulang.

Oh, jangan di tanya bagaimana khawatirnya Darren, mengingat ponsel wanita itu juga tidak bisa di hubungi. Akhirnya, ia segera menyusul ke tempat kerja Karina, meski kini dirinya masih mengenakan pakaian kerjanya. Sampai di sana ternyata satpam sekolahan  tersebut berkata jika semua guru dan murid sekolah tersebut sudah pulang tepat pada waktunya, pernyataan tersebut membuat Darren semakin kalut.

Apa Karina ke rumah keluarganya? Mungkin saja.

Dann akhirnya, saat ini dirinya berada di rumah keluarga Prasetya untuk menjemput Karina, istrinya.

Darren mengetuk pintu besar di hadapannya beberapa kali sebelum pintu tersebut di buka oleh seseorang dari dalam.

Itu Nadine, kekasih hatinya yang dulu begitu ia cintai.

Dulu?

“Darren, kamu kok ke sini?”

“Karin mana?” tanpa basa-basi Darren bertanya tentang keberadaan Karina.

“Karin? Kenapa kamu nyari dia di sini?”

“Dia pasti ada di dalam, suruh keluar, aku akan mengajaknya pulang.” Darren berkata dengan nada dinginnya. Ah, padahal biasanya ia tidak pernah berkata dengan nada seperti itu pada Nadine.

“Karin benar-benar tidak di sini.”

“Ada apa ini.” Suara itu terdengar di belakang Nadine, ternyata itu Dirga yang sudah berada di sana. “Ngapain lo ke sini?” Dirga bertanya dengan nada tidak ramah. “Mau ngencanin istri gue?” tanyanya dengan di sertai senyuman mengejek darinya.

“Brengsek lo!” Darren maju, hampir saja ia memukul wajah Dirga yang tampak menyebalkan untuknya, tapi secepat kilat Nadine menghalangi tubuh Dirga dengan tubuhnya.

“Tidak Darren! Tidak ada saling memukul lagi.” Nadine berujar tegas.

Darren memicingkan matanya ke arah Nadine, pada saat bersamaan ponselnya berbunyi. Darren merogoh ponsel yang berada dalam saku celananya, lalu mengangkat panggilan tersebut.

“Darren, kamu di mana?” itu suara mamanya.

“Ada apa Ma?” Darren balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan mamanya.

“Karin sudah pulang, sekarang dia sudah di kamarnya.”

“Apa? Dia nggak apa-apa, kan?”

“Ya, dia baik-baik saja. Mendingan kamu segera pulang.”

“Baik, Ma.” Dan teleponpun di tutup. Darren menatap ke arah Nadine sebentar, lalu menatap tajam ke arah Dirga. “Urusan kita belum selesai.” geramnya penuh penekanan.

“Ya, tidak akan selesai!” Dirga sedikit berteriak karena Darren sudah pergi dari hadapannya dan juga Nadine.

“Kamu kenapa sih Kak? Apa tidak bisa sedikit bersikap baik pada Darren?” Nadine memberanikan diri mengucapkan nasihatnya, bagaimanapun juga Darren adalah adik ipar Dirga, dan usia Dirga yang lebih tua dari pada Darren seharusnya bisa membuat Dirga mengalah dan sedikit menurunkan egonya.

“Bersikap baik? Seperti ngajak dia hangout bareng, gitu? Lalu kamu ikut, dan kamu juga bisa kembali dekat dengan dia, gitu?”

“Apa?” Nadine tidak percaya jika Dirga akan berpikir sejauh itu.

“Dengar! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Dirga sedikit menggeram. “Kamu tidak akan bisa merebut Darren dari Karina.”

“Aku tidak ingin merebut dia.”

Dirga mendekat ke arah Nadine dengan gerakan mengintimidasi. Jemarinya terulur mengangkat dagu istrinya tersebut. “Kamu tidak bisa berbohong di hadapanku. Dan ingat, kamu adalah milikku, hanya akan menjadi milikku.” Setelah itu, Dirga pergi meninggalkan Nadine begitu saja, sedangkan Nadine sendiri hanya membatu dengan degupan jantung yang semakin menggila karena kedekatannya dengan suami yang sangat mempengaruhinya tersebut.

***

Karina baru selesai mandi setelah hampir satu jam lamanya ia berendam di dalam bathub. Hati dan pikirannya sangat lelah, berendam sebentar membuat perasaannya sedikit membaik, tapi ketika ia membuka pintu kamar mandi di hadapannya, Karina sedikit terkejut saat mendapati Darren yang sudah berada di dalam kamar mereka.

Lelaki itu sedikit berantakan dengan rambut yang sudah tidak tertata rapi lagi, lengan kemeja yang sudah di sisingkan sesikunya, dasi yang sudah di longgarkan, serta wajah yang tampak kusut. Entah apa yang ada di dalam benak Darren saat ini, karena lelaki itu tampak khawatir dengan berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.

“Darren.” Suara lembut Karina menghentikan pergerakan Darren dan membuat lelaki itu menatap ke arah Karina seketika. secepat kilat Darren mendekat ke arah Karina lalu mencengkeram kedua bahu Karina.

“Dari mana saja, kamu?! Apa kamu nggak tahu kalau aku hampir gila mengkhawatirkanmu?!” Serunya dengan nada tinggi.

“Maaf, batrei ponselku habis.”

“Itu bukan alasan! Seharusnya kamu segera pulang saat pulang dari mengajar.”

“Aku ketemu sama Papa.” Dan setelah jawaban dari Karina tersebut, Darren melepaskan cengkeraman tangannya. Entahlah, ketika membahas tentang keluarga Karina, Darren pasti sedikit malas.

“Lain kali, kabarin ke rumah kalau kamu pulang telat.”  Darren sudah berbalik, dan bersiap pergi meninggalkan Karina, tapi tiba-tiba, dengan begitu berani Karina memeluk tubuh Darren dari belakang.

Darren membatu seketika. Pelukan Karina terasa sangat erat, seakan wanita itu tidak ingin melepasnya, Darren juga merasakan wajah Karina yang tersandar dengan damai pada punggungnya.

“Terimakasih sudah mengkhawatirkanku.”

Darren tidak menjawab, ia hanya diam dan membiarkan Karina semakin erat memeluknya dari belakang. Oh, apa yang harus ia lakukan pada wanita ini? Haruskah ia mengalah, melupakan semuanya dan kembali bersikap baik pada Karina? Tapi tidak di pungkiri, hati Darren masih kesal, bayangan kedekatan antara Karina dan Evan selalu saja menghantuinya, membuat dadanya terus-terusan di dera rasa sesak membakar yang akhir-akhir ini sering ia rasakan.

Sialan!

Dengan spontan Darren melepaskan pelukan Karina. “Istirahatlah, aku akan keluar sebentar.” Darren mengucapkan kalimat itu dengan dingin, lalu pergi meninggalkan Karina yang masih bingung dengan sikap suiaminya yang gampang sekali berubah-ubah.

***

Karina tidak bisa tidur, ia melirik sisi ranjang sebelahnya, dan ranjang itu masih kosong Darren lagi-lagi tidak tidur di kamar mereka. Oh, kenapa  Darren bersikap seperti ini padanya? Dengan memberanikan diri, Karina bangkit lalu keluar dari kamar tidurnya. Ia menuju ke ruang kerja Darren yang letaknya tepat di sebelah kamar mereka, dengan sedikit ragu Karina membuka pintu ruangan tersebut, ia kemudian masuk dan kembali menutup pintunya.

Setelah beberapa langkah memasuki ruangan tersebut, Karina melihat sosok yang ia cari, Darren sudah tertidur pulas di atas sebuah sofa panjang, kaki Karina melangkah dengan spontan mendekati lelaki tersebut, dan tanpa di duga, dengan begitu berani, Karina mendesak Darren dan ikut berbaring di atas sofa yang tidak cukup lebar untuk mereka berdua.

Darren membuka matanya seketika saat merasakan sesuatu mendesak tubuhnya, ia tercenung mendapati tubuh kurus istrinya yang ternyata telah bergelung ke dalam dadanya. Apa yang terjadi dengan wanita ini? Kenapa dia begitu berani melakukan hal ini?

“Karin? Kenapa kamu di sini?” suara Darren terdengar serak.

“Aku ingin bersamamu, kenapa kamu menghindariku?” Karina semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Darren.

Mau tidak mau Darren merengkuh tubuh Karina ke dalam pelukannya, takut jika wanita itu terjatuh dari atas sofa.

“Sofanya sempit, kenapa kamu di sini?” lagi-lagi Darren menanyakan pertanyaan tersebut.

“Kalau sofanya sempit, maka ayo, kita pindah ke kamar kita.”

Darren terdiam dengan perkataan Karina, ia tidak menyangka jika Karina akan mengucapkan kalimat tersebut.

“Apa yang terjadi denganmu?”

“Harusnya aku yang tanya, kamu kenapa? Kamu masih marah dengan masalah kemarin? Dengan kedekatanku dan kak Evan?”

“Aku nggak marah.”

“Lalu kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Diam-diam kamu perhatian padaku, tapi di depanku, kamu memperlakukan aku dengan begitu dingin. Aku capek, Darren, aku lelah.”

Darren tidak menjawab, tapi pelukannya semakin erat pada tubuh Karina. “Tidurlah, kamu tidak boleh banyak pikiran.”

“Aku nggak mau tidur!” seru Karina pada Darren, “Aku nggak mau tidur tanpa kamu, aku nggak mau.”

Secepat kilat Darren mengajak Karina bangun dari posisi mereka, tanpa banyak bicara lagi, Darren menggendong tubuh Karina keluar dari ruang kerjanya dan masuk ke dalam kamar mereka.  Darrren membaringkann Karina di atas ranjang mereka, ia kemudian menuju ke arah pintu kamarnya, menguncinya lalu kembali ke arah Karina.

Darren membuka pakaiannya sendiri satu persatu, hingga kini dirinya sudah polos tanpa sehelai benangpun, kemudian ia segera menindih tubuh Karina tanpa mengucapkan sepatah katapun. Karina sendiri hanya bisa diam, ia tidak berhenti menatap mata Darren yang kini juga sedang menatapnya.

Ketika Darren mendratkan bibirnya pada bibir Karina, Karina menutup matanya, menikmati setiap sentuhan lembut dari suaminya tersebut.

Jemari Darren bergerilya di sepanjang kulit tubuh Karina, membelainya lembut, menggodanya, dan juga mencoba melepaskan kain yang masih membalut tubuh Karina. Karina hanya pasrah, ia menyerahkan diri sepenuhnya pada Darren, entah kenapa ia sangat yakin jika Darren tidak akan menyakitinya meski lelaki itu tidak sepatah katapun mengucapkan kalimat lembut menggoda.

Karina merasa terbuai, terpesona dengan sentuhan lembut dari Darren, lelaki itu tampak sangat menyayanginya, memujanya dengan memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang tubuh Karina. Hingga kemudian, Karina baru tersadar saat ketika Darren mulai menyatukan diri dengannya.

Mata lelaki itu menatapnya tajam, seakan dapat menembus iris mata Karina, tampak sebuah rasa frustasi yang terlihat di mata Darren, Karina mengulurkan jemarinya, mengusap lembut pipi dari suaminya tersebut.

Darren sempat terpaku dengan sentuhan lembut yang di berikan jemari Karina pada pipinya, jemari itu tampak rapuh, tapi menenangkan. Lalu Darren melanjutkan pergerakannya, mendesak lagi hingga tubuhnya menyatu dengan sempurna pada tubuh Karina..

Bibir Karina sedikit terbuka ketika napasnya tiba-tiba memburu, Darren terasa penuh di dalam tubuhnya, membuat Karina merasa sesak namun begitu nikmat. Bibirnya yang terbuka tiba-tiba di sambar oleh bibir Darren, di lumat lembut dengan gerakan menggoda, sedangkan yang di bawah sana tidak berhenti bergerak seirama, menghujam dengan pelan dan lembut hingga membuat Karina ingin meneriakkan nama Darren saat itu juga.

“Jangan berhenti, jangan berhenti..” oh, Karina bahkan tidak sadar jika dirinya telah mengucapkan dua kata tersebut berkali-kali.

Darren sedikit tersenyum melihat efek yang di berikan oleh tubuhnya pada diri Karina. “Tidak, aku tidak akan berhenti.”  Setelah kalimat tersebut, Darren kembali bergerak dengan irama lebih cepat dari sebelumnya, ia mencari-cari kenikmatan untuk dirinya sendiri dan juga untuk diri Karina. Oh, rasanya begitu nikmat ketika karina juga dapat menikmati permainannya. Darren tidak ingin permainan tersebut cepat berakhir.

Ya, ia tidak akan berhenti, karena ia juga tidak ingin berhenti.

 

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 18 (Tidak ingin berhenti)

  1. tbc na menggangu … aaahhhhhh sumpah bingung q mo komen apa , gila daren keren banget , entah la sepanjang baca part ini q bener” terpesona ma daren …
    aduhhhhh karin plissssss u jangan egois lagi , jangan sampai u blang k daren ql u mo pisah , biza meledak entar daren na , sekarang az dia udah posisip banget …
    entah lah ini mmbuat q deg”an udah baik sekrang daren udah bersikap baik lagi , jangan sampai u merusak semua na .

    dirga ma nadin semakin membuat q penasaran …

    Like

  2. ciee Darren begitu kawthirnya sama Karina..

    itu Tanya lu udh cinta sama Karin.. tapi masih aja gengsi… 🐻

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s