romantis

Evelyn – Chapter 6 (Amora Austin)

Evelyn

 

jangan lupa putar trailernya yaa.. wkakakakakkakak

 

“Karena aku akan menemanimu.”

Eva tersenyum mendengar pernyataan Fandy. “Benarkah? Uum, apa aku boleh minta sesuatu darimu, di sini?”

“Silahkan.”

“Aku ingin menciummu.”

Fandy sempat membulatkan matanya saat mendengar permintaan Eva yang begitu terang-terangan. “Tidak.”

“Fandy.” Rengek Eva.

“Karena kali ini, aku yang akan menciummu.” Eva terperangah dengan ucapan Fandy, dan ketika bibirnya masih terbuka karena tercengang, Eva merasakan jika bibir Fandy sudah mulai menyambar bibirnya yang masih terbuka, melumatnya dengan lembut seakan lelaki itu begitu menginginkannya. Apa benar Fandy menginginkannya?

***

Chapter 6

-Amora Austin-

 

Eva memejamkan matanya, merasakan sapuhan lembut dari bibir Fandy pada bibirnya. Astaga, apa yang terjadi dengan lelaki ini? Kenapa lelaki ini bisa menciumnya dengan lembut seperti saat ini?

Eva masih memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut dari bibir Fandy, hingga ketika Fandy melepaskan tautan bibir mereka, mata Eva tetap memejam, menikmati sisa-sisa dari bibir panas itu yang tadi telah menyentuhnya.

“Nona, nona Evelyn.” Panggilan Fandy bahkan tidak mampu menyadarkan Eva dari angannya.

Eva masih memejamkan matanya, mencoba menikmati kembali apa yang tadi ia rasakan dengan Fandy.

“Nona, Nona Evelyn tidak apa-apa, kan?” Lagi, Fandy memanggilnya, tapi Eva tidak ingin mengakhiri mimpi indahnya.

Mimpi?

“Eva? Eva?” Eva merasakan pipinya di tepuk-tepuk oleh seseorang, dan seketika itu juga ia membuka matanya. Ternyata Fandy menatapnya dengan ekspresi khawatir dari lelaki tersebut.

“Apa yang terjadi dengan anda?” tanya Fandy dengan wajah bingungnya.

Eva mempalingkan wajahnya seketika.

Sial! Ternyata tadi dia cuma berangan-angan.

Bagaimana mungkin ia membayangkan Fandy akan melakukan hal tersebut hanya karena lelaki itu mau mengajaknya ke tempat menakjubkan seperti sekarang ini? Oh, Eva merasa kini pipinya pasti sudah merah padam seperti orang tolol.

“Saya menyebutnya ‘tempat rahasia’. Ini tempat di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri. Tempat yang tidak pernah saya tunjukkkan pada orang lain.”

Eva menatap Fandy seketika, perkataan Fandy sangat mirip dengan apa yang ia bayangkan tadi. Apa mungkin…. kejadian itu nanti akan menjadi kenyataan?

“Ta –tapi kamu menunjukkannya padaku.” Eva menatap Fandy dengan tatapan anehnya, ia menjawab pernyataan Fandy tersebut sama seperti apa yang ia bayangkan tadi, oh semoga saja apa yang ia bayangkan tadi menjadi kenyataan.

“Karena saya pikir, Nona Evelyn membutuhkan tempat ini.”

Eva bersorak dalam hati karena jawaban Fandy sama persis dengan apa yang ia bayangkan tadi. Oh, apa Fandy akan benar-benar menciumnya?

Eva mengulurkan jemarinya, berharap ia bisa mengusap lembut pipi Fandy seperti apa yang tadi ia bayangkan. Tapi di luar dugaannya, Fandy malah mencengkeram erat pergelangan tangannya, seakan tidak membiarkan dirinya untuk menyentuh wajah lelaki itu.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Eva dengan sedikit kesal.

“Anda mau apa?” Fandy berbalik bertanya.

“Aku?” Eva bingung mau menjawab apa. Apa iya dia harus menjawab kalau dia akan memngusap lembut pipi lelaki itu? oh yang benar saja. “Ada nyamuk di pipimu, aku mau menepuknya.”

Fandy lalu menepuk pipinya sendiri, melihat telapak tangannya dan tidak ada apa-apa di sana. Ia kemudian memicingkan matanya ke arah Eva.

“Jangan main-main. Ayo kembali, ini sudah malam.” ajak Fandy.

“Apa? Kembali? Kenapa cepat sekali?” Eva tampak kesal dengan sikap Fandy yang kembali datar-datar saja, tidak seperti apa yang ia bayangkan tadi.

“Ini sudah malam, lagi pula, perasaan Nona Evelyn sepertinya sudah membaik.”

“Belum! Aku belum membaik!” rengek Eva sedikit kesal. “aku nggak mau pulang sebelum kamu menciumku di sini!”

Fandy benar-benar tercengang dengan apa yang di katakan Eva. “Apa?”

Sedangkan Eva, memerah seketika saat sadar jika ia mengucapkan kalimat tersebut di hadapan Fandy. Oh apa yang terjadi dengannya? Padahal sebelumnya ia tidak pernah malu-malu di hadapan orang, kenapa dengan Fandy ia merasa tak karuan seperti ini?

“Ahh! Lupakan! Kita pulang saja.” Seru Eva dengan kesal sambil meninggalkan Fandy dan berjalan lebih dulu memasuki apartemen Fandy.

***

Hingga sampai di rumah Eva, Fandy dan Eva saling berdiam diril Eva memang sudah melupakan kesedihannya karena sang mama, tapi ia sangat kesal dengan sikap Fandy. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sikap lelaki tersebut, hanya saja Eva kesal, karena kenapa hanya dirinya yang merasa gugup tak menentu seperti saat ini? Kenapa Fandy seakan sama sekali tidak terpengaruh dengan kedekatan mereka?

“Sudah sampai, Nona.”

Eva mendengus sebal. Tanpa banyak bicara dia keluar dari mobilnya lalu masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Fandy yang bingung dengan sikap Eva hanya mampu mengikuti gadis tersebut dari belakang.

Fandy masih berdiri tepat di depan kamar Eva ketika Eva baru masuk ke dalam kamarnya dan akan menutup pintu kamarnya.

“Ngapain kamu masih di sini?” tanya Eva dengan ketus.

“Bukannya biasanya-”

“Nggak ada biasanya, sana pergi, aku lagi muak sama kamu.” Eva membanting keras-keras pintu kamarnya tepat di hadapan Fandy.

Sial! Apa yang terjadi dengan gadis manja itu? pikir Fandy.

***

Esonya, Eva bangun kesiangan. Sama seperti hari kemarin, kalau biasanya Eva akan segera bangun dan mencari keberadaan Fandy, maka berbeda dengan hari ini, ia masih kesal dengan sikap Fandy yang tidak sesuai dengan angannya.

Eva menutup tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di ujung kakinya. Ia tidak mempedulikan beberapa pelayan yang sudah berlalu-lalang untuk mempersiapkan dirinya.

“Nona, air hangatnya sudah siap.” Seorang pelayan akhirnya memberitahunya, seakan memerintahkan dirinya supaya segera bangun.

“Tinggalkan saja kamar ini, aku malas bangun.” Eva masih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.

“Tapi Nona, nyonya besar sudah menunggu Nona Evelyn di ruang makan untuk sarapan bersama.”

“Astaga, bilang saja kalau aku malas makan.” Eva benar-benar sangat kesal. Ia masih malas keluar dari kamarnya dan bertemu dengan Fandy. Ah, lelaki itu masih membuatnya kesal karena mengingat kejadian semalam.

Para pelayan akhirnya pergi meninggalkan Eva, sedangkan Eva memilih kembali memejamkan matanya, mencoba tidur kembali dan melupakan bayang-bayang tentang Fandy.

***

Cukup lama Eva tertidur, hingga ia merasakan tidur nyenyaknya terganggu ketika ia meraskan tubuhnya di guncang-guncang.

“Evelyn, Evelyn.” Suara lembut itu memanggil-manggil namanya. Apa itu suara mamanya? Seketika itu juga Eva membuka matanya, dan mendapati sang Nenek yang telah membangungkannya.

“Nenek, ada apa?”

“Sudah siang. Ini bahkan sudah masuk waktu makan siang, dan kamu belum bangun?”

Eva memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. “Aku malas bangun.” Ia bersikap seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Kenapa? Apa karena hari ini bukan Fandy yang mengawalmu?”

Eva mengerutkan keningnya, secepat kilat ia bangkit dari posisi tidurnya. “Bukan Fandy? Dia kemana? Kenapa dia tidak mau mengawalku lagi?” tanya Eva cepat. Astaga, Fandy tidak boleh mengundurkan diri dari mengawal dirinya. Ia belum bisa menakhlukkan hati lelaki itu jadi Fandy tidak boleh berhenti mengawalnya.

Sang Nenek malah tersenyum lembut melihat tingkah yang di tampilkan oleh Eva. “Ini minggu, waktunya Fandy pulang.”

“Apa? Nggak asik banget.” gerutu Eva.

“Kamu benar-benar menyukainya?” Sang Nenek tergoda untuk bertanya.

“Tidak tahu lah Nek, aku suka saja menggodanya, tapi kadang dia menyebalkan, aku masih kesal dengannya.”

Sang Nenek masih tersenyum lembut melihat sikap manja yang di tampilkan Eva padanya. “Sudah-sudah, sekarang bangun, mandi, dan mari kita makan siang bersama.”

Eva menganggukkan kepalanya lalu mulai berdiri dan menuju ke kamar mandinya. Hari ini ia tidak akan bertemu dengan Fandy, tapi… entah kenapa ada sebuah rasa aneh yang menggelitik hatinya? Kenapa?

***

Dengan bosan Eva memainkan bandul-bandul mungil yang ada di hadapannya. Fandy tidak mengawalnya hari ini, dan itu membuat Eva semakin bosan, apalagi mengingat pengawal yang menggantikan Fandy saat ini adalah pengawal yang sudah setengah tua dengan kepala botaknya dan juga wajah sangarnya. Oh, jangan di tanya bagaimana perasaaan Eva saat ini.

Sekarang, dirinya sedang menjaga toko aksesorisnya yang berada di salah satu pusat perbelanjaan, berharap jika harinya tidak akan semembosankan ini, tapi nyatanya, sial! Ia benar-benar bosan.

“Apa seharian kamu akan seperti itu terus? Astaga, membosankan sekali.” Suara itu membuat Eva mengangkat wajahnya dan mendapati Icha, sahabatnya berdiri tepat di hadapannya.

“Hai, untung kamu ke sini, setidaknya tokoku tidak akan sepi seperti kuburan.”

“Bagaimana nggak sepi kalau yang jaga manyun gitu.”

“Bukan sepi pembeli, tapi sepi karena nggak ada yang berisik.”

“Sial! Jadi menurutmu aku berisik gitu? Ya sudah, aku pulang saja.”

“Eiitss, apaan sih, tukang ngambek. Aku sedang dalam mood buruk, please, di sini saja.”

Sambil mengunyah permen karetnya, Icha duduk di kursi sebelah Eva. Mata Icha tertuju pada seorang yang berdiri tegap tepat di sebelah pintu toko Eva.

“Yang mau belanja ke sini pasti kabur duluan karena lihat ada agen FBI di sini.” gerutu Icha sambil menunjuk pengawal Eva.

Eva mendengus sebal. “Lama-lama aku bosan, aku nggak bisa bebas kayak dulu lagi dengan pengawal seperti itu.”

“Ngomong-ngomong, si Fandy mana? Kenapa bukan dia yang ngawal kamu?”

“Libur.”

“Libur? Kayak anak sekolahan aja pakek libur.”

Eva menyentil kening Icha. “Jangan bahas dia lagi, aku sedang muak. Mending kita main.”

“Main? Main ke mana? Kamu kan harus jaga toko.”

“Di tutup aja tokonya.” Eva bangkit dan menyiapkan barang-barangnya.

“Ciyee, yang sekarang jadi princess milyader…” Icha menggoda. “Mau dong di teraktir.”

Eva mendengus sebal karena kecerewetan sahabatnya tersebut. “Ayo ikut aku, nanti ku teraktir bakso di pinggir jalan sampek perutmu kembung.”

“Bakso? Buat apa?” Eva tidak menghiraukan pertanyaan Icha, ia malah menyibukkan diri untuk segera menutup tokonya dan segera pergi dari sana.

***

Fandy keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecilnya. Rasanya segar, dan juga sedikit lega mengingat ia bisa terbebas sepenuhnya dari sosok manja bernama Evelyn Mayers, Nona yang harus ia jaga. Ya, walaupun hanya sehari, tapi Fandy akan menikmati kesendiriannya hari ini.

Belum juga ia duduk santai di atas pinggiran ranjangnya, tiba-tiba ia mendengar bell pintu apartemennya berbunyi. Siapa yang datang bertamu? Sambil mengeringkan rambutnya, Fandy berjalan menuju ke arah pintu apartemennya. Dan setelah membuka pintu apartemennya, Fandy di kagetkan dengan sebuah pelukan yang ia dapatkan dari seorang gadis muda.

“Amora.” Suara yang setengah menggeram itu datang dari belakang gadis yang kini masih memeluk tubuh Fandy. Gadis yang bernama Amora itu segera melepaskan pelukannya pada tubuh Fandy ketika sang ayah setengah menggeram padanya.

“Boss.” Fandy berkata dengan penuh hormat. Ya, itu adalah sang Boss yang memperkerjakan Fandy.

“Boleh masuk?” sang Boss bertanya dengan wajah datar tanpa ekspresinya.

“Silahkan.” Meski sedikit bingung, tapi Fandy tetap mempersilahkan atasannya itu masuk beserta puteri manjanya. Ya, selama ini Bossnya itu tidak pernah datang ke apartemennya, jika kini bossnya itu datang kemari, berarti ada hal penting.

Fandy mempersilahkan sang Boss duduk di ruang tengah, sedangkan dirinya segera bergegas menuju ke arah dapur untuk membuatkan minuman untuk Bossnya.

“Aku kangen sama kamu.” Tiba-tiba Fandy merasakan tubuhnya di peluk dari belakang oleh seorang gadis manja.

Itu Amora Austin. Puteri dari Bossnya.

“Maaf Nona, jangan seperti ini.”

Amora mengerucutkan bibirnya. “Kamu berbeda. Ada apa? Kamu sudah punya adik baru di luar sana? Papa bilang kamu harus mengawal seorang nenek-nenek beberapa bulan kedepan, apa nenek itu sudah mengalihkan perhatianmu padaku?” Amora bertanya dengan nada sedikit merajuk.

Fandy sedikit tersenyum. Ah, gadis ini benar-benar menggemaskan. Fandy mengenal Amora sejak gadis itu masih kecil, ketika ia baru di masukkan ke dalam pelatihan sebuah agensi yang letaknya memang di rumah Amora. Gadis itu sangat menggemaskan dan lucu, tapi sayang, dia tidak punya teman. Ibunya entah pergi ke mana, dan Amora hanya memiliki seorang ayah, yaitu Bossnya saat ini.

Karena merasakan apa yang di rasakan Amora, secara alamiah Fandy dapat dengan cepat dekat dengan gadis itu. Amora sudah seperti adiknya sendiri, dan gadis itupun sudah menganggapnya sebagai kakaknya sendiri.

“Kamu tetap yang paling istimewa untukku.” Fandy menghilangkan nada formalnya, dan itu membuat Amora kembali tersenyum. “Tapi, ku mohon, jangan seperti ini di depan Boss.”

“Oke tuan.” Amora memberi hormat pada Fandy dan itu membuat Fandy tersenyum sesekali mengusap lembut puncak kepala Amora.

Amora kembali menuju ke arah ayahnya, duduk di sana sambil meraih sebuah majala yang berada di atas meja Fandy. Sesekali ia membacanya, sedangkan sang ayah masih duduk tegap penuh dengan kewaspadaan, ah, ayahnya itu sangat membosankan, hampir mirip dengan Fandy yang selalu datar tak berekspresi. Tak lama Fandy datang dan membawa minuman untuk mereka bertiga.

“Ada yang penting hingga Boss datang kemari?” tanya Fandy secara langsung.

“Saya cuma mengantar Amora, dia ingin bertemu denganmu.”

Fandy mengerutkan keningnya. Biasanya, jika Amora ingin pergi keluar atau ingin menemuinya, gadis itu akan di antar oleh anak buah Bossnya, bukan Bossnya secara langsung.

“Bagaimana pekerjaanmu? Apa gadis itu menyulitkanmu?” pertanyaan si Boss seketika membuat Fandy mengangkat sebelah alisnya. Gadis itu? bagaimana bossnya tahu kalau kini ia di tugaskan menjaga seorang gadis?

“Gadis? Bukannya papa bilang kalau Fandy harus mengawal seorang nenek?” Amora yang bertanya.

“Ya, sedikit menyulitkan.” Fandy menjawab pertanyaan Bossnya tanpa menghiraukan pertanyaan Amora.

“Jadi Fandy benar-benar mengawal seorang gadis?” Amora kembali bertanya.

“Dia cucu dari nenek yang harus ku jaga, Amora.” Fandy menjawab.

“Tetap saja, papa bohong tentang ini.”

“Amora!” sang ayah berseru keras. “Fandy hanya menjalankan tugasnya, entah itu seorang nenek atau bukan, itu bukan urusan kamu.”

Amora diam seketika karena seruan keras yang ayah. Ayahnya tidak pernah sekasar ini padanya, kenapa reaksi ayahnya berlebihan seperti ini?

“Lebih baik kita pulang.” Lelaki tinggi besar itu segera berdiri, mengajak puterinya pergi dari apartemen Fandy.

“Enggak, aku mau di sini dengan Fandy.”

“Amora!”

“Boss, biarkan saja Amora di sini, saya yang akan mengantarnya nanti.” Fandy menyahut.

“Dia terlalu banyak di manja.” Setelah kalimatnya tersebut, lelaki itu pergi meninggalkan Fandy dan juga Amora.

Setelah ayahnya pergi, Amora menangis seketika. ia benci ketika melihat ayahnya bersikap seperti itu padanya. Seharusnya sang ayah dapat membedakan mana anak buahnya mana puterinya, tapi ayahnya itu seakan selalu melihat semua orang sama. Amora tidak suka dengan hal itu.

Yang dapat Fandy lakukan hanyalah memeluk Amora, ya, bagaimanapun juga gadis itu sudah seperti adik kandungnya sendiri, ia mengenal Amora sejak keci, dan ia tidak bisa menghilangkan rasa sayangnya pada gadis itu.

***

Eva tidak berhenti menggerutu kesal. Meski ada Icha yang setia menemani di sebelahnya, tapi entah kenapa rasa bosan seakan tidak ingin meninggalkannya. Kakinya terus melangkah, menyusuri ke segala penjuru pusat perbelanjaan, lalu berhenti ketika matanya menemukan sesuatu yang menarik baginya, kemudian membelinya begitu saja tanpa pikir panjang. Selalu seperti itu hingga tangan seorang pengawal yang berjalan di belakangnya saat ini penuh dengan barang-barang belanjaannya.

Icha tidak berhenti bercerita tentang Kevin, kekasihnya yang juga sekaligus teman Eva, namun Eva seakan enggan mendengar cerita dari Icha, entahlah, ia hanya sedang dalam mood  buruk. Dan ia tahu jika ini ada hubungannya dengan Fandy?  karena jika Fandy berada di sini, mungkin saat ini ia sedang asik menggoda lelaki itu.

Eva memutuskan untuk menghubungi Ramon, meminta lelaki itu untuk menyusulnya ke tempat dimana dia berada hingga ia mampu menghilangkan mood buruknya yang sejak semalam ia rasakan. Tapi lelaki itu belum juga sampai di hadapannya saat ini.

Ahhh, Ramon sama  menjengkelkannya seperti Fandy.

“Va, kamu mau ke mana lagi? Aku capek ngikutin kamu terus.”

“Entahlah. Aku juga bingung.”

“Astaga, kamu kenapa sih? Hari ini nggak asik banget.” Eva hanya mengangkat kedua bahunya. “Apa ada hubungannya dengan Fandy?” tanya Icha lagi.

“Fandy? Kenapa dengan dia?”

“Mungkin kamu lagi kangen sama dia.”

“Enak saja, aku lagi muak sama dia, mana mungkin aku kangen sama dia.” Kaki Eva terus saja melangkah hingga kemudian ia menghentikan langkahnya ketika pandangannya tertuju pada sesuatu.

Itu adalah lelaki yang sejak tadi mengganggu pikirannya dan membuat moodnya memburuk. Fandy, lelaki itu tidak sendiri melainkan dengan seorang gadis yang bergelayut manja pada lengannya.

Siapa dia? Apa itu… wanita yang di cintai Fandy seperti yang pernah lelaki itu ucapkan?

Tidak mungkin!

“Va, kenapa?” Icha bertanya saat Eva menghentikan langkahnya dan menatap sesuatu dengan bibir yang ternganga. Icha mengikuti arah pandang Eva dan mendapati Fandy sedang asik dengan seorang gadis yang terlihat lebih muda dari mereka. “Itu Fandy? Sama siapa? Pacarnya?” Icha juga mulai bertanya-tanya.

Icha lalu menatap ke arah Eva, sahabatnya itu tampak shock dengan pemandangan di hadapan mereka. Dan itu membuat Icha tertawa lebar melihat ekspresi bodoh yang di tampilkan oleh Eva.

Eva melihat ke arah Icha yang tampak tertawa lebar. “Kamu gila?”

“Kamu terlihat bodoh.” jawab Icha masih dengan tawa lebarnya.

“Bodoh? Mari kita tunjukkan, bagaimana ‘Bodoh’ itu.” Eva menjawab sambil berjalan menuju ke arah Fandy.

“Eh, kamu mau ngapain?”

“Kita akan menghampiri mereka, kita cari tahu apa hubungan mereka.”

“Kamu gila? Enggak ah, malu-maluin aja ganggu orang pacaran.”

“Kita nggak ganggu, kita hanya akan ke sana dan bertanya baik-baik. Apa itu salah?”

“Kalau mereka beneran pacaran gimana? Apa kamu nggak malu tanya secara terang-terangan pada mereka?”

“Nggak. Pokoknya aku mau ke sana dan bertanya secara langsung pada Fandy dan gadis itu.” Eva tidak bisa di ganggu gugat. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ke arah Fandy. Tak lupa ia merogoh ponselnya, lalu kembali menghubungi Ramon, menanyakan keberadaan lelaki itu yang tak juga kunjung sampai.

Sial! Ia membutuhkan Ramon, ia membutuhkan lelaki itu untuk menguatkan hatinya saat menghadapi Fandy.

-TBC-

Advertisements

4 thoughts on “Evelyn – Chapter 6 (Amora Austin)

  1. Yaaaa kirain beneran di kiss nya ndak taux cuma angan2x eva doang… ikut kecewa kita 😂😂😂

    Sapa lg ni amora 😤😤

    Like

  2. ternyata cuma dan ( penonton pun kecewa ) aahhhhhh fandy jual mahal sii 😂😂. bntar lagi eva pesti meledak , coba lebih sabar dikit dan jual mahal dikit , pasti pandy cepet luluh na .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s