romantis

Unwanted Wife – Chapter 13 (“Dia sakit”)

Unwanted Wife

Darren bergerak pelan, dan anehnya setiap pergerakan Darren memicu sebuah erangan dari bibir Karina. Oh, rasanya benar-benar sangat aneh, aneh tapi nikmat. Karina toidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

“Kamu menikmatinya?”

“Ya. Oh, ini aneh, tapi, aku, suka.”

Darren tersenyum melihat ekspresi yang di tampilkan Karina. Di raihnya jemari Karina, di kecupnya satu persatu jemari tersebut hingga membuat Darren semakin menggila.

Oh, rasanya begitu nikmat. Sangat berbeda dengan saat ketika ia memaksakan kehendaknya dengan Karina seperti sebelum-sebelumnya. Ternyata bercinta dengan seseorang yang juga merasakan kenikmatan rasanya benar-benar berbeda, dan itu semakin membuat Darren tak dapat menahan diri.

Darren menghujam lagi dan lagi, meski dengan gerakan yang lembut, tapi itu mampu menuntun Karina pada kenikmatan yang seakan tak bertepi. Hingga kemudian, Darren tak dapat menahan lagi saat Karina mencengkeramnya dengan begitu erat, membuat Darren mengerang panjang karena kenikmatan bertubi-tubi yang telah menghantamnya.

***

Chapter 13

-“Dia Sakit”-

 

Darren memeluk erat tubuh telanjang yang terbaring di sebelahnya. Setelah bercinta dengan begitu panas, keduanya tertidur karena kelelahan. Darren terbangun lima belas menit yang lalu ketika ia merasa lengannya pegal karena Karina menggunakan lengannya sebagai bantal.

Darren menundukkan kepalanya, menatap dengan intens wanita yang kini masih dalam pelukannya. Oh, Karina begitu menggoda, percintaan panas mereka tadi benar-benar sangat di nikmati oleh Darren, hingga Darren merasa jika dirinya tidak ingin berhenti jika Karina tidak tergeletak karena kelelahan.

Di kecupnya lembut puncak kepala Karina, harum dari rambut wanita itu membuat Darren memejamkan matanya, rasanya begitu damai, seakan Darren dapat melupakan semua masalah  yang sedang menimpanya.

Masalah?

Darren membuka matanya seketika, bukannya saat ini seharusnya ia sedih karena Nadine telah menjadi milik orang? Bukankah seharusnya ia membenci Karina karena secara tidak langsung wanita ini yang membuatnya hancur? Tapi entah kenapa Darren tidak merasakan hal itu. Darren mencari-cari rasa sesak membakar yang tadi ia rasakan ketika melihat Karina berciuman dengan Evan saat ia membayangkan Nadine dengan Dirga hidup bahagia bersama, tapi Darren tidak merasakan rasa sesak membakar tersebut. Darren hanya merasa kesal, tapi tidak sesakit saat melihat Karina berciuman dengan Evan.

Kenapa bisa seperti itu?

Darren mengeratkan pelukannya seakan tidak ingin Karina pergi meninggalkannya dan berpaling pada lelaki lain. Rasa posesif itu muncul begitu saja tanpa Darren sadari. Oh, bagaimana bisa seperti ini?

“Darren… Maafkan aku.”

Karina terdengar sedikit merengek, Darren menatap ke arah Karina, ternyata wanita itu masih menutup matanya, sesekali menggumam tak jelas. Ahh, wanita ini pasti sedang mengigau. Pikirnya.

“Darren… Aku hamil, maafkan aku.”

Lagi, Karina mengigau sambil merengek, tapi rengekan terakhir wanita itu seketika membuat Darren membatu ketika mendengarnya.

***

 

“Jadi, kamu hamil?”

Karina menundukkan wajahnya dan mengangguk malu.

“Sejak kapan? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Aku, aku takut kamu marah. Kamu sudah sangat marah ketika ku paksa menikahiku, lalu di tambah dengan pernikahan Nadine, jadi, aku takut kamu semakin marah dengan berita ini dan memaksaku untuk menggugurkan bayi ini.” Karina masih menundukkan kepalanya.

“Kamu gila? Mana mungkin aku melakukan itu?”

“Aku hanya berpikir seperrti itu.”

“Dengar.” Darren menangkup kedua pipi Karina lalu mendongakkan Karina untuk menghadap ke arahnya. “Aku memang membencimu karena keegoisanmu, aku marah karena keterpaksaan ini, tapi sekesal-kesalnya aku, aku tidak akan melakukan hal keji itu.”

“Benarkah?”

Darren tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan pasti. Karina sontak memeluk tubuh Darren, sedangkan Darren sendiri berakhir mengecup puncak kepala Karina. Oh, betapa bahagianya hati Karina ketika Darren bersikap lembut seperti seakarang ini.

 

Karina menggeliat dalam tidurnya yang nyaman, nyaman serta damai karena mimpi indah tersebut.

Mimpi?

Karina membuka matanya seketika dan mendapati dirinya yang masih bergelung manja di ranjang kamarnya. Ia sendirian, tidak ada Darren di sebelahnya. Kemana perginya lelaki itu?

Karina memijit pelipisnya yang terasa nyeri, astaga, dan ia baru ingat jika kemarin dirinya sempat pingsan karena terkena pukulan keras dari sang kakak hingga jatuh dan kepalanya terbentur lantai. Jemarinya kemudian meraba ujung bibirnya yang terasa bengkak, dan rasa sakit kembali menderanya. Mungkin kini bibirnya benar-benar bengkak karena pukulan sang kakak yang tidak di sengaja, di tambah lagi cumbuan Darren semalam yang seakan tidak ingin berhenti.

Cumbuan?

Pipi Karina memanas seketika saat mengingat kejadian semalam. Kejadian di mana Darren memberikan ia ‘surga’ berkali-kali hingga Karina menginginkannya lagi dan lagi.

Karina duduk, dan mendapati tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benangpun. Ah, untung saja ia bangun sendiri, Karina tidak dapat membayangkan jika ia bangun di sebelah Darren, mungkin lelaki itu dapat melihat dengan jelas pipinya yang memerah seperti tomat.

Ketika Karina sedang sibuk membalut tubuhnya dengan selimut, pintu kamarnya di buka dari luar. Karina menolehkan kepalanya seketika dan mendapati Darren sudah berdiri di sana dengan sebuah nampan yang penuh dengan makanan di sana.

Karina mempalingkan wajahnya seketika, menghindari kontak mata dengan Darren yang entah kenapa membuatnya mengingat setiap detail dari kejadian semalam yang mereka alami.

“Sudah bangun?” tanya Darren dengan suara beratnya. Darren berjalan menuju ke arah Karina, menaruh nampan tersebut pada meja kecil di sebelah ranjang yang kini di duduki Karina, lalu ia berdiri tegak tepat di hadapan Karina.

Dengan sesuka hatinya, Darren meraih dagu Karina, mendongakkan wajah Karina ke atas, lalu Darren menundukkan kepalanya. Seketika Karina menutup matanya, berharap jika Darren memberinya sebuah kecupan manis di pagi hari, tapi ternyata….

“Kenapa memejamkan mata?” tanya Darren sambil mengangkat sebelah alisnya.

Karina tidak menjawab, ia hanya diam dengan pipi yang tidak berhenti merona merah.

“Ini terlihat parah.” Darren berkata sambil mengusap lembut luka di ujung bibir Karina hingga membuat Karina mengerutkan kening karena sakit.

Karina membuka matanya, dan mendapati Darren sedang sibuk mengamati luka di ujung bibirnya. Mata itu kemudian beralih menatap tepat pada mata Karina, begitu dekat, hingga Karina seakan dapat melihat apa yang ada dalam pikiran Darren lewat mata tajam lelaki tersebut.

Darren melepaskan pegangannya pada dagu Karina, lalu kembali berdiri tegak. “Nanti aku akan telepon tante Iva, biar dia periksa luka kamu.”

“Jangan, ini sudah membaik.”

“Aku tidak perlu persetujuan darimu. Lagian, mencium bibir yang luka itu rasanya tidak enak.” Darren mengatakan kalimat tersebut dengan datar sembari menuju ke arah lemari pakaiannya, lalu mengambil sebuah dasi lalu mengenakannya.

Oh, jangan di tanya apa yang di rasakan Karina saat ini, perasaannya campur aduk tidak karuan. Perkataan Darren tadi seakan menegaskan jika lelaki itu akan menciumnya lagi seperti tadi malam, dan membayangkan itu, membuat Karina menundukkan kepalanya dengan wajahnya yang sudah merah padam.

Karina mencoba menghilangkan rasa gugupnya dengan berdiri menuju ke arah kamar mandi. Setengah telanjang seperti ini di hadapan lelaki yang begitu mempengaruhinya benar-benar membuat Karina merasa tidak nyaman, akhirnya Karina memutuskan untuk segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri, tapi baru beberapa langkah, kaki Karina tersandung juntaian selimut yang ia kenakan hingga tubuhnya hampir saja tersungkur ke lantai. Dengan sigap Darren meraih tubuh Karina hingga tubuh rapuh tersebut mengambang di udara.

“Apa yang kamu lakukan! Kamu bisa jatuh tersungkur ke lantai!” Darren tampak sangat marah dengan seruannya yang sedikit lantang ke arah Karina.

“A- aku minta maaf.”

“Maaf? Aku nggak butuh maaf. Kamu hanya perlu lebih berhati-hati.” Darren memberdirikan Karina kemudian menuntun wanita tersebut masuk ke dalam kamar mandi.

Entah ini hanya perasaan Karina saja, atau memang Darren saat ini terlihat begitu perhatian padanya. Apa yang terjadi dengan lelaki itu? bukankah kemarin Darren masih menatap Nadine dengan tatapan penuh cinta dan juga penuh dengan kerinduannya? Kenapa kini lelaki ini bersikap seola-olah menjadi suami yang sangat mencintai istrinya?

“Bisa mandi sendiri?” pertanyaan Darren membuat Karina mengangkat wajahnya menatap ke arah lelaki yang lebih tinggi darinya tersebut.

“Ya, aku akan mandi sendiri.”

“Kamu yakin? Lantainya licin.”

“Aku akan duduk di sana.” Karina menunjuk ke sebuah kursi kecil yang memang tersedia di ujung kamar mandi mereka.

“Oke, aku tunggu di luar. “ Darren bergegas pergi meninggalkan Karina, sedangkan Karina sendiri hanya mampu menghela napas panjang ketika Darren sudah menghilang dari hadapannya. Oh, suaminya itu benar-benar sangat mempengaruhinya dan membuatnya salah tingkah.

***

Karina memakan sarapan di hadapanya dengan sedikit canggung ketika sepasang mata itu tidak berhenti memperhatikannya. Rasanya aneh, Darren terlihat perhatian, dan sedikit protektif terhadapnya. Kenapa?

“Habiskan makananmu.” Perintah itu seakan tak dapat di ganggu gugat oleh siapapun. Darren mengucapkannya dengan begitu arogan, seakan itu seperti sebuah keharusan.

Karina menggelengkan kepalanya. “Perutku penuh.”

“Penuh?” Darren melirik ke arah perut Karina. “Kamu mau muntah? Apa kita perlu ke rumah sakit?”

“Enggak, bukan begitu.” Karina tampak salah tingkah dengan tatapan dan perkataan Darren. Jangan sampai Darren membawanya ke rumah sakit dan berakhir mengetahui kehamilannya, sungguh, Karina takut jika Darren akan marah dan menghilangkan sikapnya semalam yang sangat manis.

“Aku sudah kenyang.”

“Kenyang? Baru beberapa suap dan kamu sudah kenyang? Tambah lagi. Lihat, badanmu kurus kering seperti itu.”

Karina hanya mnganggukkan kepalanya dan mulai menyuapkan makanannya. Ia tentu tahu jika dirinya tidak akan mampu melawan kekeras kepalaan Darren.

“Apa kepalamu sakit?”

Karina menatap Darren kembali, cukup lama, karena Karina berpikir jika lelaki di hadpannya itu bukanlah Darren yang sesungguhnya. Darren yang sesungguhnya –setelah mereka menikah, tidak akan pernah menanyakan keadaannya, Darren tidak akan peduli dengan dirinya, dan Darren hanya bisa bersikap cuek, dingin tak tersentuh, serta acuh tak acuh padanya. Tapi kini, apa ini tandanya jika Darren yang dulu telah kembali?

“Uum, aku, itu, uum, sedikit pusing.”

“Bibirmu?”

Seketika Karina mengusap bibirnya karena kini araah pandang Darren fokus pada bibir Karina. “nggak apa-apa.” jawab Karina yang kini sudah semakin gugup.

“Nanti sore biar tante Iva datang memeriksamu.”

Karina hanya menganggukkan kepalanya, ia ingin nmenolak, tapi ia tahu dengan jelas jika Darren tidak akan mendengarkannya ketika ia menolak.

Darren lalu bangkit. “Istirahat saja, jangan turunkan kakimu dari atas ranjang, kalau mau ke kamar mandi, panggil mama, lantainya licin, jangan sampai jatuh. Aku pergi dulu.” Karina sempat ternganga dengan kalimat Darren yang penuh dengan perintah serta kental sekali dengan perhatian.

“Kamu ke kantor?”

“Ya, tapi aku pulang cepat.”

“Kenapa?”

“Biar ada yang ngerawat kamu.”

“Uum, aku nggak apa-apa Darren.” Tapi Darren seakan tidak mendengar kalimat Karina tersebut. “Aku mau ngajar.”

“Ngajar? Kamu sakit, cuti saja dulu beberapa hari.” Dan Karina tidak mampu menolak permintaan Darren lagi. Ia kenal betul siapa Darren, lelaki itu adalah sosok pemarah, pagi ini Darren begitu manis, begitu perhatian padanya, jadi Karina tidak ingin Darren berubah menjadi sosok sebelumnya hanya karena ia tidak menuruti permintaan Darren.

***

Di kantor.

Darren menatap lurus pada jendela ruang kerjanya. Pikirannya melayang, memikirkan hubungannya dengan Karina. Haruskah ia menerima kehadiran Karina dalam hidupnya? Haruskah ia benar-benar melepaskan dan melupakan Nadine?

Darren merogoh ponselnya berharap jika tante Iva menghubunginya terkait dengan keadaan Karina, tapi ternyata tantenya itu tidak menghubunginya. Ingin rasanya Darren menanyakan kabar Karina pada tantenya itu, tapi… ah, sudahlah, lupakan saja.

Darren kembali ke meja kerjanya dan menaruh ponselnya di sana, tapi ketika ia akan kembali ke arah jendela tempat ia berdiri tadi, ponselnya berbunyi. Dengan cepat Draren meraih ponselnya tersebut, ia measih berharap jika yang menghbunginya adalah tante Iva, tapi ternyata bukan, itu adalah Om Roy, ayah dari Karina.

Darren mendengus kesal sebelum mengangkat teleponnya. “Ada apa, Om?” suara Darren benar-benar terdengar seperti seorang yang sedang malas menerima telepon.

“Ke rumah saya siang ini juga.”

“Saya sibuk.”

“Saya tidak peduli, saya tetap akan menunggu kamu.” Lalu telepon itu di tutup begitu saja hingga membuat Darren semakin kesal dengan ayah mertuanya tersebut. Sial! Sebenarnya apa yang di inginkan lelaki tua itu?

***

“Bagaimana keadaan kamu?” tante Iva bertanya pada Karina ketika wanita itu selesai memeriksa tubuh Karina.

“Baik, tante, Uum, tidak ada yang serius dengan saya, bukan?”

“Ya, sejauh ini tidak ada. Darren bilang kamu sempat jatuh, apa kamu merasakan sesuatu pada perutmu? Sesuatu yang tidak nyaman mungkin?”

“Saya tidak merasakan apapun, tante. Hanya kepala saya yang sesekali pusing.”

Tante Iva mengamati luka memar di pelipis Karina. “Mungkin efek dari luka ini. Untuk kandungan kamu, tidak ada masalah, kamu baik-baik saja.”

Karina hanya mengangguk lemah.

“Darren terlihat sangat khawatir sama kamu, kamu sudah memberitahukan keadaanmu padanya?”

“Uum, belum, tante.”

“Oh ya? Ku pikir dia sudah tahu.”

“Nanti saya akan bilang sendiri padanya, sekarang Darren masih banyak pikiran.” Karina mencoba mengelak.

“Baiklah, bilang saja sama Darren kalau semua baik-baik saja, dia benar-benar tampak khawatir dengan keadaanmu ketika menghubungi tante tadi.”

Karina tersenyum lembut lalu menganggukkan kepalanya. Tante Iva lalu pamit pulang, dan lagi-lagi Karina hanya dapat menganggukkan kepalanya ketika tante Iva memberinya pesan untuk lebih menjaga dirinya.

Setelah tante Iva keluar dari kamarnya, Karina mengusap lembut perut datarnya, sesekali mengingat kejadian semalam dan juga tadi pagi. Darren benar-benar berbeda, pernyataan tante Iva tentang Darren yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya juga membuat Karina semakin yakin jika ada sesuatu yang aneh dengan lelaki itu. Apa Daren benar-benar berubah, atau lelaki itu sedang merencanakan sesuatu untuk membuatnya lebih menderita?

Entah kenapa, Karina merasa takut, takut jika dirinya akan semakin menderita karena ulang orang yang begitu ia cintai.

***

Darren benar-benar datang ke rumah itu, rumah keluarga Prasetya. Sebenarnya Darren enggan ada di sana, selain ia tidak ingin bertemu lagi dengan Dirga dan Nadine, alasan lainnya tentu karena ia tidak ingin membahas tentang Karina dengan Om Roy. Bagaimnapun juga, perasaannya kini masih kacau, Darren bahkan tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini.

Darren bingun dengan apa yang ia rasakan. Ia tidak pernah merasa sangat mengkhawatirkan seseorang seperti ia mengkhawatirkan Karina saat ini. Apa karena kini ia sudah tahu tentang kondisi Karina yang sedang hamil?

Sial! Wanita itu bahkan belum tentu hamil. Bisa jadi tadi malam Karina hanya mengigau. Tapi, sekuat apapun Daren mencoba memungkiri kenyataan tersebut, Darren merasa jika hal itu memang benar adanya, Karina benar-benar hamil, dan entah kenapa dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia berharap memang seperti itu kenyataannya.

Tapi jika benar, kenapa Karina menyembunyikan semuanya dari dirinya?

Daren mengenyahkan semua pikiran tentang Karina ketika dirinya sudah berada di depan sebuah pintu besar, pintu dari rumah keluarga Karina. Darren membukanya begitu saja tanpa permisi, seorang pelayan datang menghampirinya dan mempersilahkan Darren masuk menuju ke ruang kerja ayah Karina. Ya, mungkin mertuanya itu sudah berpesan pada pelayan rumahnya.

Darren masuk ke dalam ruangan tersebut, dan betapa sialnya ketika ia melihat Dirga juga ada di dalam ruangan yang sama dengan dirinya dan juga ayah Karina.

“Kenapa saya di suruh kemari?” tanpa basa-basi lagi Darren bertanya tanpa menghiraukan nada bicaranya yang terdengar tidak sopan.

Lelaki paruh baya di hadapannya hanya tersenyum. “Duduk saja dulu, kita satu keluarga, seharusnya tidak saling bersitegang seperti saat ini.”

Dengan enggan Darren duduk tepat di sebelah Dirga. Ia melirik ke arah Dirga yang memang sudah mengepalkan telapak tangannya. Ya, Dirga memang orang yang kasar dan pemarah, hampir mirip dengannya, tapi Dirga lebih parah,. Dulu saat masih sekolah, lelaki itu bahkan memiliki hobby berkelahi dan tawuran tidak jelas, sangat berbanding terbalik dengan Dafit, saudara kembarnya. Meski begitu, Darren tidak takut, ia tidak pernah takut dengan siapapun.

“Apa yang kalian lakukan tadi malam benar-benar memalukan. Dirga, bagaimana mungkin kamu berkelahi di pesta pernikahanmu sendiri? Dan kamu Darren, apa kamu masih belum rela saat melihat Nadine sudah bahagia dengan Dirga?”

“Bahagia? Om tidak perlu bersandiwara, dia menikahi Nadine hanya untuk menjadikan Nadine sebagai tawanannya, sebagai jaminan supaya saya tidak menyakiti Karina, bukan begitu?”

“Benar begitu, Dirga?”

“Pa, Darren harus di beri pelajaran. Dia tidak akan berkutik kalau Nadine dalam gengaman tanganku. Jadi aku berusaha menikahi Nadine supaya-”

Dirga tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat tamparan keras ayahnya mendarat sempurna pada pipi kirinya.

“Anak kurang ajar! Nadine adalah puteri dari sahabat papa, bagaimana mungkin kamu memperlakukan dia seperti itu?!” Ayah Karina tampak sangat marah pada puteranya.

Dirga hanya terdiam, sedangkan Darren tampak muak dengan dengan kejadian di hadapannya. Darren melirik ke arah jam tangannya lalu berkata. “Jika tidak ada yang penting, saya akan pulang.”

“Tetap di sini, Darren!” Ayah Karina menggeram, seakan kesal dengan kedua pemuda di hadapannya. “Saya belum selesai.”

“Apa lagi Om? Om mau ngancam saya juga? Om tenang saja, mulai saat ini saya tidak akan menyakiti puteri Om.”

“Karena Nadine?” pancing Om Roy.

“Bukan urusan Om, yang pasti Om Roy bisa tenang karena saya tidak akan menyakiti Karina lagi.” Darren lalu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Dirga dan ayahnya dengan tatapan penuh kebingungan.

Tapi ketika Darren baru keluar dari ruangan tersebut, Dirga ternyata sudah menyusulnya. Seperti tadi malam, dengan sangat kurang ajar lelaki itu mencengkeram kerah kemeja yang di kenakan Darren.

“Apa maksud perkataan lo tentang tidak akan menyakiti Karin lagi? Apa ini ada hubungannya dengan Nadine?”

“Sialan! Sebenarnya apa yang lo mau?!” Darren benar-benar tampak kesal dengan sikap Dirga.

“Gue cuma mau lo berubah, cintai Karina seperti dia mencintai lo. Gue nggak mau lo baik sama dia hanya karena ancaman gue.”

“Brengsek lo! Kalau gue nyuruh lo ngelakuin hal yang sama, apa lo mau lakuin? Mencintai Nadine seperti gue mencintainya?”

Dirga melepaskan cengkeraman tangannya seketika. Mencintai Nadine? Bisakah?

“Lo nggak bisa, kan, mencintai seseorang karena keterpaksaan? Begitupun dengan gue.” Darren pergi meninggalkan Dirga begitu saja, karena entah kenapa ia merasa sangat kesal dengan keegoisan yang di tampakkan oleh keluarga Karina.

Tapi baru beberapa langkah, kakinya di hentikan oleh perkataan Dirga yang terdengar lirih di telinganya.

“Dia sakit. Aku hanya ingin melihatnya bahagia.”

Darren membatu seketika, tubuhnya terasa kaku tak dapat di gerakkan saat mendengar pernyataan tersebutr. Dia? Dia siapa? Karin, atau Nadine? Tidak! Jangan bilang kalau yang di maksud Dirga adalah…

“Karin, dia sakit.”

Darren merasakan sekujur tubuhnya gemetar seketika. Benarkah apa yang di katakan Dirga? Benarkah Karina sakit? Parahkah? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang menari dalam pikirannya.

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 13 (“Dia sakit”)

  1. Ternyata chapter 13 beneran kelewatan 😂😂😂
    Makasih mombella akhirx diupdate jg 😂😂😂

    Semangat untuk chapter selanjutx yeyyy 😉😉😘😍

    Like

  2. ternyata capter 13 beneran baru up … ko q lucu gmn gitu liat kelakuan 2 manusia brengsek itu , sama” egois , keras kepala dan tidak mo mengalah , pntes ql mereka ber 2 dapet predikat setan ma iblis 😂😂😂😂
    jadi karin ngego pntes daren tau ql dia hamil .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s