romantis

Evelyn – Chapter 5 (Tempat Rahasia)

Evelyn

 

Trailer Novel Evelyn dera, di tonton yakk.. hehehehheheh

 

Dengan sigap Fandy mulai sedikit mengangkat tubuh Eva, membawa Eva ke atas ranjang gadis tersebut tanpa melepaskan tautan bibirnya. Oh, Eva merasakan jika kini Fandy adalah lelaki terpanas yang pernah ia temui, ia tidak pernah menginginkan seorang lelaki evelyseperti ia menginginkan Fandy, haruskah ia memberikan kehormatannya pada seorang Fandy?

Sedangkan Fandy sendiri sudah tidak bisa berhenti, tubuhnya menegang seutuhnya ketika gairah primitif tengah menguasainya. Ia menginginkan gadis ini, gadis yang kini masih bertautan bibir dengannya. Haruskah ia melanjutkan apa yang ia inginkan?

***

Chapter 5

-Tempat rahasia-

 

Fandy terus melumat bibir mungil tersebut, ciumannya semakin panas ketika ia merasakan balasan dari Eva. Fandy sudah menindih Eva, sedangkan tangannya sudah memenjarakan kedua pergelangan tangan gadis di bawahnya ini.

Yang di bawah sana sudah menegang seketika. Oh, Fandy tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Ia selalu bisa menahan diri, ia selalu bisa mengendalikan hawa nafsunya, tapi dengan Eva, entah kenapa semua berbeda. Eva seakan dapat  menyentuhnya, merobohkan dinding-dinding kewaspadaannya.

Cumbuan Fandy turun ke rahang Eva, ketika tautan bibir mereka terlepas, Eva mengeluarkan erangan-erangan yang membuat Fandy semakin tergoda. Ah, gadis ini sungguh menggemaskan, menggemaskan sekaligus menggairahkan, berbeda ketika ia mengagumi sosok Sienna dulu, Sienna yang manja dan menggemaskan.

Sienna?

Fandy menghentikan aksinya seketika saat bayangan gadis itu muncul dalam benaknya. Sial! Kenapa bayangan Sienna masih menghantuinya?

Fandy bangkit, lalu membenarkan penampilannya sesekali melirik ke arah Eva yang tampak berantakan di atas ranjangnya.

“Kenapa nggak di teruskan?” Eva malah menayakan pertanyaan tersebut pada Fandy.

“Sudah malam, saya akan tidur.” Fandy berbalik, dan bersiap pergi meninggalkan Eva,tapi baru dua langkah, Eva menghambur memeluk tubuhnya dari belakang.

“Kenapa? Apa aku kurang menarik untukmu? Apa kamu punya wanita lain yang kamu cintai sampai-sampai kamu tidak tertarik denganku?” Oh, jangan tanya bagaimana frustasinya Eva saat ini, ia tidak pernah gagal dalam merayu lelaki, dengan senyumannya dan juga sikap centilnya saja, ia bisa menggaet lelaki yang ia kehendaki. Tapi Fandy, ah, lelaki ini benar-benar, Eva bahkan sudah menggoda Fandy, tapi lelaki itu seakan tidak tertarik dengaan dirinya.

“Ya, sudah ada wanita yang ku cintai.” Tanpa di duga, Fandy mengucapkan kalimat tersebut.

Dengan spontan Eva melepaskan pelukannya, lalu ia memaksa tubuh Fandy untuk menghadap tepat ke arahnya. “Siapa wanita itu? apa kelebihan dia di bandingkan aku?”

“Anda tidak perlu tahu, Nona.”

“Persetan dengan omong kosongmu! Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku dan melupakan wanita sialan itu.”

“Maaf, itu tidak mungkin.”

“Kita lihat saja nanti.”

“Baiklah, saya akan keluar.”

“Fandy.” Eva meraih pergelangan tangan Fandy, membuat lelaki itu menghentikan langkahnya. “tidur di sini saja.” ucap Eva sambil bergelayut manja di lengan Fandy.

Fandy melepas paksa pelukan Eva pada lengannya, lalu berkata lembut pada gadis tersebut. “Maaf, saya tidak tidur dengan perempuan yang belum menjadi istri saya.” Fandy mengucapkan kalimat tersebut dengan di iringi oleh senyuman lembutnya, lalu ia meninggalkan Eva begitu saja.

Eva sendiri hanya ternganga dengan kepergian Fandy. Oh, lelaki itu benar-benar membuatnya terpesona, karena senyumnya, karena perkataannya, dan karena semua yang ada dalam diri lelaki tersebut.

Fandy, aku akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya, aku akan mendapatkanmu. Sumpah Eva dalam hati.

***

Paginya…

Fandy benar-benar terkejut ketika ia keluar dari dalam kamar mandinya dan mendapati Eva sudah duduk di pinggiran ranjangnya. Gadis itu masih mengenakan piyama tidurnya, terlihat sekali jika gadis itu baru bangun tidur.

“Pagi, sayang.” Sapa Eva dengan manja.

Fandy hanya mengangkat sebelah alisnya. “Ada apa anda ke sini pagi buta seperti ini?”

Eva malah bangkit dan berjalan menuju ke arah Fandy. “Entah berapa kali ku bilang, bisakah kamu menghilangkan cara bicaramu yang formal dan menyebalkan itu?”

Fandy hanya diam, ia mentap Eva yang tampak menantangnya. Saat ini Fandy masih bertelanjang dada dengan sebuah handuk yang melingkari pinggangnya. Eva sedikitpun tidak tampak canggung dengan ketelanjangan Fandy, begitupun dengan Fandy yang dapat mengendalikan kegugupan yang entah sejak kapan sedang melandanya.

“Bisakah kamu keluar sebentar? Aku mau mengganti pakaian.”

“Tidak mau.”

Fandy menghela napas panjang. Ia kemudian melangkah menuju lemari pakaiannya, memilih kemeja yang akan ia kenakan tanpa mempedulikan Eva yang sudah mengikuti tepat di belakangnya.

“Membosankan sekali, pakaianmu semua warnanya senada, kemeja putih dengan setelan hitam, hidupmu terlihat membosankan.” Eva memberi komentar setelah ia melihat isi lemari Fandy yang hanya ada beberapa potong baju yang di gunakan untuk bekerja.

“Memang seperti ini hidupku.”

“Bersamaku, kamu tidak perlu hidup membosankan seperti ini.”

“Maksudnya?”

“Oke, pakai saja kemejamu, aku akan mandi sebentar, dan kita akan pergi.”

“Tapi Nona-”

“Aku tidak ingin di bantah.” ucap Eva sambil pergi meninggalkan Fandy. Sedangkan Fandy hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tubuh gadis itu keluar dari dalam kamarnya.

Dasar gadis manja yang suka seenaknya sendiri. Gumamnya dalam hati.

***

 

Cukup lama Fandy menunggu Eva di luar kamar gadis tersebut. Beberapa pelayan rumah keluar masuk dari kamar Eva sesekali melirik ke arah Fandy. Ya, Fandy tentu mendengar gosip di dalam rumah ini, gosip tentang kedekatan dirinya dengan Eva.

Sedikit risih, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi pekerjaannya, dan semua ini adalah permintaan Eva. Fandy tentu tak dapat menolak berdekatan dengan Eva hanya karena alasan gosip sialan itu.

“Anda di suruh masuk Nona Evelyn.” Seorang pelayan berkata padanya. Fandy mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Eva.

Di dalam kamar, ternyata semua pelayan sudah keluar, hanya terlihat Eva yang masih sibuk memilih sepatu yang akan ia kenakan.

Fandy menatap Eva dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis tersebut. Eva tampak santai mengenakan T-shirt ketatnya, dengan di padukan celana yang super pendek. Oh, Fandy bahkan dapat melihat betapa putih mulusnya kaki jenjang itu. tanpa sadar Fandy menelan ludahnya dengan susah payah, gairahnya terbangun begitu saja, apa yang terjadi dengannya?

“Hai, kamu sudah di sini?” sapa Eva yaang kini sudah menatap ke arahnya, tapi gadis itu masih sibuk memilih sepatu yang akan ia kenakan.

“Itu saja.” Tanpa sadar Fandy berkomentar ketika ia melihat Eva mencoba sepatu flat berwarna merah muda, sangat cocok dengan kulit pucat gadis tersebut.

Eva memiringkan kepalanya, ia lalu berjalan menuju ke arah Fandy. “Kamu memperhatikan aku? Kamu ingin aku pakai sepatu ini?” tanyanya sambil mendekat ke arah Fandy.

“Maksudku,” Fandy berdehem ketika ia rasa jika suaranya tiba-tiba serak. “Kamu cocok pakai sepatu itu.”

“Oh ya?” Eva menatap kakinya sendiri. “Apa aku terlihat cantik? Terlihat menakjubkan? Atau aku terlihat menggairahkan dengan sepatu ini?”

Fandy memutar bola matanya ke arah lain ketika penyakit Eva yang super percaya diri itu kambuh. “itu hanya terlihat cocok, tidak lebih.” Fandy bergumam datar.

“Ahh kamu nggak asik. Lagian apaan ini, buka saja.” Eva akan membuka setelan yang di kenakan Fandy tapi kemudian Fandy mencengkeram pergelangan tangannya.

“Aku tidak sukah di sentuh.”

“Hadeh, siapa yang mau nyentuh kamu, Pede sekali. Aku cuma mau membuka setelanmu. Kita akan belanja ke mall, dan aku tidak suka di temani dengan lelaki yang super rapi dan membosankan kayak kamu.”

“Kalau begitu, Nona Evelyn bisa meminta pengawal lain untuk menemani Nona.”

“Enak saja, aku ingin di temani sama kamu. Ayo cepat buka.”

Fandy mendengus sebal. Mau tidak mau dia menuruti kemauan Eva. Ketika Eva melucuti senjatanya, Fandy kembali menjegal tangan Eva.

“Tidak ada senjata hari ini.”

“Tapi Nona-”

“Panggil Eva.”

“Eva.” Akhirnya mau tidak mau Fandy memanggil Eva dengan panggilan tersebut meski ia merasa sedikit aneh. “Ini sudah pekerjaanku.”

“Dan hari ini kamu di bebaskan dari tugas dan pekerjaanmu, ayolah, turuti mauku sekali ini saja.”

Fandy menghela napas panjang dan menuruti permintaan Eva. Kini, Fandy hanya berdiri dengan mengenakan kemeja putiknya. Eva tampak asik mengamati tubuh Fandy dengan sesekali mengusap dada bidang Fandy.

“Nah kalau seperti ini kan kamu kelihatan lebih muda. Berapa umurmu?”

“Aku tidak tahu.”

“Tidak tahu? Kamu aneh.”

“Aku besar di panti asuhan, jadi untuk pastinya usiaku, tidak ada yang tahu.”

Eva tercenung sebentar. “Di panti asuhan? Lalu, bagaimana kamu bisa menjadi pengawal profesional seperti sekarang ini?”

“Mungkin sudah takdirku.”

Eva mendengus sebal. “Kamu tahu nggak, kamu adalah orang yang paling menyebalkan yang pernah ku kenal. Apa kamu bisa hilangkan sikap datarmu itu sedikit saja saat berhadapan denganku?”

Fandy hanya mengangkat sebelah alisnya, ia tak menanggapi pernyataan Eva tersebut.

“Jadi kira-kira, berapa usiamu?”

“Dua puluh enam, mungkin.”

Eva membulatkan matanya seketika. “Kamu yakin? Kamu terlihat seperti om-om dengan usia tiga puluhan.”

“Aku tidak peduli dengan penampilanku.”

“Tapi aku peduli, sekarang, ayo ikut aku, kita akan merubah penampilanmu.”

“Merubah?” Fandy tampak bingung dengan yang di maksud Eva, tapi gadis itu hanya tersenyum sambil menyeret lengan Fandy keluar dari kamarnya.

***

Ini benar-benar gila.

Eva benar-benar menuruti hasratnya untuk mengubah penampilan Fandy. Gadis itu kini sedang sibuk memilih pakaian-pakaian keren untuk Fandy, sedangkan Fandy sendiri merasa tidak nyaman dengan apa yang di lakukan gadis tersebut.

“Nona, ini berlebihan.”  Fandy berkata pada Eva, tapi Eva seakan tidak mendengarkannya. Gadis itu masih terlihat asik memilihkan T-shirt untuknya.

“Coba ini.”

“Tidak.”

“Fandy, ayo coba.”

“Ini sudah berlebihan, kamu sudah banyak membelikanku pakaian, sedangkan aku tidak ingin mengenakannya.” Fandy mengangkat beberapa tas belanjaan yang semua isinya adalah pakaian-pakaian yang di belikan Eva tadi untuknya.

“Ini nggak seberapa.”

“Aku tahu kamu kaya, tapi aku tetap tidak ingin kamu memperlakukanku seperti ini.”

Eva menyipitkan matanya pada Fandy. “Aku hanya ingin merubahmu supaya kamu tidak terlalu kaku.”

“Aku memang sudah kaku dari sananya, jadi kamu tidak perlu merubahku.”

Eva mendengus sebal. Ah, Fandy benar-benar keras kepala. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Eva merogoh ponselnya dan mengangkat telepon tersebut.

“Halo.”

“Evelyn.”

“Mama! Mama di mana? Astaga.”

“Mama di tempat yang aman, bagaimana kabar kamu sayang? Mama kangen kamu.”

“Eva juga kangen Mama, Mama kenapa pergi?” mata Eva sudah berkaca-kaca, ia bahkan tidak menghiraukan Fandy yang kini sedang memperhatikannya.

“Mama sama Papa ada sedikit masalah. Ev, kamu masih mau ketemu Mama, bukan?”

“Tentu saja, Ma. Di mana? Kapan?”

“Di tempat kita biasa makan siang dulu. Siang ini, Mama benar-benar kangen sama kamu.”

“Oke, Eva akan ke sana. Apa Mama ingin Eva mengajak Papa?”

“Jangan.” Eva sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari sang mama. “Maksud mama, hubungan papa dan mama belum membaik, jadi biarkan kami saling menyendiri dulu.”

“Tapi sampai kapan, Ma?” Eva benar-benar sangat sedih mengingat hubungan kedua orang tuanya. Ia tentu berharap jika keluarga mereka akan kembali utuh seperti dulu.

“Mama juga nggak tahu, Ev, sudah dulu ya, mama tunggu kamu di restoran biasa nanti siang.”

“Ma-” belum sempat Eva melanjutkan kalimatnya, sang mama sudah memutus sambungantelepon mereka. Eva menghela napas panjang, ia menundukkan kepalanya, rasanya ingin menangis, tapi kemudian ia sadar jika mungkin saja kini Fandy sedang memparhatikannya.

Eva menoleh ke arah Fandy, dan benar saja, ternyata lelaki itu sedang memperhatikannya. Eva tampak salah tingkah, apa ia terlihat cengeng dan menggelikan? Oh yang benar saja, Eva tidak ingin terlihat seperti itu di mata siapapun apalagi Fandy.

“Ayo kita pergi dari sini.” Ajak Eva sambil berjalan meninggalkan Fandy yang masih terpaku menatap ke arahnya.

Fandy akhirnya menyusul Eva, Eva tampak berbeda ketika sedang berbicara dengan mamanya tadi. Fandy tahu jika gadis itu mungkin saja sedang merasa kesepihan, dan itu sama seperti dirinya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Fandy ketika dirinya sudah berada tepat di sebelah Eva. Eva berjalan cepat seakan ingin menghindari kontak mata darinya, Fandy tentu tahu itu karena gadis itu terlihat seperti ingin menangis, mungkin Eva tidak ingin terlihat seperti itu di depan orang lain.

“Aku akan ketemu Mama, akhirnya dia menghubungiku.” Eva terlihat seperti orang yang kegirangan, padahal Fandy dapat menangkap dari mata gadis itu, jika gadis itu kini sedang bersedih.

“Kamu terlihat sedih.”

“Sedih? Kamu gila? Aku mau ketemu mama, mana mungkin aku sedih?”

“Mungkin sedih karena hal lain.”

“Kamu sok tahu, ayo ikut saja.”  Dan yang bisa Fandy lakukan hanya mengikuti kemanapun kaki Eva melangkah ketika gadis itu dengan manjanya mengapit lengannya dan berjalan dengan mesra bersamanya layaknya sepasang kekasih.

***

Mereka menunggu di sebuah restoran cukup lama, Fandy bahkan sudah sesekali melirik ke arah jam tangannya, tanda jika ia dan Eva sudah sangat lama menunggu, apa mama Eva benar-benar akan menemui puterinya?

“Nona, apa tidak sebaiknya nona makan dulu, kita sudah menunggu lebih dari dua jam, ini sudah lewat waktu makan siang.”

“Aku mau nunggu mama, aku mau makan siang bareng mama.”

“Tapi Nona-”

“Fan, please, kalau kamu bosan di sini, kamu bisa keluar jalan-jalan dan temui aku lagi di sini setelah rasa bosanmu hilang, tapi aku tetap akan di sini, menunggu mama dan makan siang bareng sama dia nanti. Jangan paksa aku.”

“Saya tidak akan meninggalkan Nona Evelyn.”

Eva menghela napas panjang. Meski Fandy lagi-lagi berkata formal padanya, tapi ia tidak ingin meralat ucapan Fandy seperti sebelum-sebelumnya, entahlah, ia merasa lelah, perasaannya sedih bercampur aduk menjadi satu. Ia merindukan sang mama, ia ingin sang mama benar-benar menemuinya siang ini, tapi nyatanya, ia juga lelah menunggu sang mama, apa benar mamanya akan datang?

***

Di lain tempat

“Ini tidak benar Mark, Evelyn akan membenciku jika aku tidak datang menepati janjiku untuk menemuinya siang ini.” Maria sedikit khawatir ketika Mark, kekasihnya melarangnya untuk menemui Eva, puterinya.

“Dia tidak akan membencimu, ini hanya sebuah cara supaya Evelyn semakin merindukanmu.”

“Tapi bagaimana jika nanti dia membenciku?”

“Tidak mungkin. Kamu seharusnya percaya dengan pengalamanku, instingku selalu tajam, dan instingku mengatakan jika kamu harus menarik ulur puterimu tersebut hingga dia semakin menginginkan untuk bertemu denganmu.”

“Tapi jika kebalikannya?”

“Maria.” Lelaki yang bernama Mark tersebut menangkup kedua pipi Maria. “Percaya padaku, Evelyn akan jatuh ke tangan kamu, jika tidak, kamu tenang saja, aku masih memiliki rencana B buat kamu.”

Maria mengerutkan kieningnya. “Rencana B?”

Mark hanya tersenyum miring. Senyuman misterius yang entah sejak kapan membuat Maria semakin jatuh terpuruk dalam pesona kekasihnya itu hingga ia memilih meninggalkan suami dan anaknya demi lelaki di hadapannya tersebut.

***

Malam semakin larut, tapi Eva sedikitpun tidak ingin bergegas dari tempat duduknya. Entah sudah berapa gelas minuman yang ia pesan sejak siang tadi untuk menunggu mamanya, tapi sang mama tak juga kunjung datang.

Fandy hanya menatap iba Nonanya yang biasanya tampak ceria tapi kini gadis itu terlihat sendu. Fandy yang tadinya memang berdiri agak jauh dari tempat duduk Eva, kini sudah melangkah mendekati gadis tersebut.

“Sudah malam, apa nggak sebaiknya kita pulang?”

“Aku mau nunggu Mama.”

“Restorannya mau tutup, kalau Nona mau, kita bisa menunggu di dalam mobil.” Dan tanpa banyak bicara, Eva bangkit meninggalkan tempat duduknya tadi.

Fandy menghela napas panjang. Perasaan Eva saat ini pasti sangat sedih, sedih dan hancur, tapi bagaimana lagi, ia juga tidak dapat menghibur gadis tersebut, karena ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghibur seseorang.

Fandy membayar tagihan Eva, tak lupa ia juga memesankan makanan untuk gadis itu karena setahunya, Eva belum memakan apapun sesiang ini selain beberapa gelas jus yang ia pesan.

Fandy segera menuju ke arah mobilnya, dan ketika ia masuk ke dalam mobilnya, ia tercenung menatap Eva yang sudah lebih dulu berada di sana. Gadis itu duduk memeluk kedua lututnya dengan wajah yang di tenggelamkan pada lututnya.  Dan gadis itu sedang terisak.

Yang bisa Fandy lakukan hanya diam dan menatap Eva. Ia membiarkan Eva tenggelam dalam kesedihannya tanpa ingin mengusiknya. Jemarinya seakan ingin terulur, mengusap lembut rambut gadis tersebut, tapi ia masih dapat mengendalikan dirinya. Akhirnya Fandy memutuskan untuk hanya menatap Eva yang menangis sesenggukan.

Setelah cukup lama Eva menangis dan menenggelamkan wajahnya, gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya. Yang pertama kali Fandy lihat adalah mata Eva yang basah dengan sisa-sisa air mata di sana. Ingin rasanya ia mengusap airmata itu, tapi sekali lagi ia dapat menahan dirinya hingga tidak berbuat terlalu jauh.

“Kita pulang saja.” Suara yang biasanya terdengar centil dan ceria, kini terdengar serak dan sendu oleh telinga Fandy.

“Nona Evelyn tidak ingin keluar? ke tempat lain, mungkin? Saya akan menemani.”

“Enggak, aku mau pulang.”

“Kita tidak bisa pulang saat Nona Evelyn dalam keadaan seperti ini. Saya harus menjawab apa ketika Nenek atau Papa Nona nanti bertanya.”

“Kalau begitu bawa aku pergi dari sini! Aku nggak mau di sini, aku mau pergi dari sini!”

Fandy akhirnya mulai menyalakan mesin mobilnya ketika Eva kembali menangis. Ah, gadis ini benar-benar membuatnya bingung, harus ia bawa kemana gadis ini hingga perasaannya bisa membaik?

***

“Kita sudah sampai.”

Eva mengangkat wajahnya saat mendengar kalimat itu. ia tampak asing dengan pemandangan di hadapannya, ini seperti di sebuah basement, tapi Eva tidak tahu di mana tepatnya karena sejak tadi ia memilih menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya.

“Ini di mana?”

“Yang pasti bukan di rumah Nona Evelyn.” Jawab Fandy dengan wajah datarnya.

“Aku tahu ini bukan di rumahku. Jadi sekarang cepat katakan, di mana ini atau aku nggak mau keluar dari dalam mobil.”

“Oke, kalau begitu saya saja yang kaluar sendiri.” Fandy keluar dari dalam mobil sedangkan Eva akhirnya mau tidak mau mengikuti Fandy tepat di belakang lelaki tersebut.

“Sebenarnya kita akan ke mana?”

Fandy tidak menjawab, ia masuk ke dalam sebuah lift, dan yang bisa Eva lakukan hanya mengikuti kemanapun langkah lelaki di hadapannya tersebut. Lift menuju pada lantai paling atas, Eva sesekali melirik ke arah Fandy karena lelaki itu tampak sedikit misterius. Tak di pungkiri jika kini dirinya sedikit takut dengan sosok yang berdiri di sebelahnya tersebut.

Lift terbuka, dan di depan sebuah lift tersebut hanya ada sebuah pintu.

“Ini apartemen saya.”

“Apa?” Eva tampak terkejut dengan ucapan Fandy.

“Ayo masuk.”

Akhirnya Eva mengikuti Fandy masuk ke dalam apartemennya. Apartemen yang sangat luas, tapi tak ada pernak-pernik yang menghiasi interiornya, tak ada bingkai foto, vas bunga, atau pajangan-pajangan berharga lainnya, semuanya tampak datar di mata Eva. Datar tapi cukup mewah.

“Jadi, kamu tinggal di sini?” Eva bertanya masih dengan menatap sekelilingnya.

“Ya, jika tidak bertugas.”

“Ini milik kamu sendiri, atau kamu menyewanya?”

Fandy memberikan sebuah minuman kaleng yang baru di ambilnya dari dalam lemari pendingin pada Eva. Sedikit tersenyum dia bertanya, “Kenapa? Ada yang aneh?”

“Aku hanya penasaran, berapa banyak gajih yang kamu dapat  dengan pekerjaanmu hingga kamu memiliki aset mewah seperti apartemen ini?”

Fandy tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Ayo ikut saya.”

“Kemana lagi?”

“Akan saya tunjukkan pada Nona tempat saya menghabiskan waktu ketika merindukan seseorang.”

Eva menyipitkan matanya pada Fandy, tapi ia tetap mengikuti kemanapun lelaki itu pergi. Mereka menuju ke sebuah lorong yang berujung pada sebuah anak tangga kecil. Fandy menaikinya, dan Eva tetap mengikutinya hingga Eva sadar jika kini dirinya sudah berada pada atap dari gedung yang ia pijaki saat ini.

“Astaga… ini gila!” Eva sedikit berlari menuju pinggiran atap gedung tersebut. Ia menatap jauh ke segala penjuru. Pemandangan yang sangat indah, lampu-lampu jalanan beserta gedung-gedung tinggi lainnya entah kenapa membuat perasaannya tenang dan damai.

“Bagaimana mungkin ada tempat seperti ini? Ini menakjubkan sekali.” Eva benar-benar terlihat senang ketika berada di sana.

“Saya menyebutnya ‘tempat rahasia’. Ini tempat di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri. Tempat yang tidak pernah saya tunjukkkan pada orang lain.”

“Tapi kamu menunjukkannya padaku.” Eva menatap Fandy dengan lembut.

Fandypun menatap Eva dengan tatapan lembutnya, “Karena saya pikir, Nona Evelyn membutuhkan tempat ini.”

Eva mengulurkan jemarinya mengusap lembut pipi Fandy. “Jangan bersikap formal padaku, bukannya di sini kamu bisa menjadi dirimu sendiri? Jadi lupakan saja status kita.”

Fandy tidak menjawab pernyataan Eva, ia memilih menatap Eva dengan tatapan penuh kekaguman. Gadis di hadapannya tersebut benar-benar terlihat indah di matanya, indah dan menggoda.

Tanpa sadar, Fandy sudah mengulurkan jemarinya untuk mengusap lembut pipi Eva. “Jangan sedih lagi, jangan menangis lagi, aku tidak suka melihat perempuan menangis.”

“Aku hanya merasa kesepian.” Lirih Eva.

“Kamu tidak akan kesepihan lagi.”

“Kenapa?”

“Karena aku akan menemanimu.”

Eva tersenyum mendengar pernyataan Fandy. “Benarkah? Uum, apa aku boleh minta sesuatu darimu, di sini?”

“Silahkan.”

“Aku ingin menciummu.”

Fandy sempat membulatkan matanya saat mendengar permintaan Eva yang begitu terang-terangan. “Tidak.”

“Fandy.” Rengen Eva.

“Karena kali ini, aku yang akan menciummu.” Eva terperangah dengan ucapan Fandy, dan ketika bibirnya masih terbuka karena tercengang, Eva merasakan jika bibir Fandy sudah mulai menyambar bibirnya yang masih terbuka, melumatnya dengan lembut seakan lelaki itu begitu menginginkannya. Apa benar Fandy menginginkannya?

-TBC-

Advertisements

8 thoughts on “Evelyn – Chapter 5 (Tempat Rahasia)

  1. Huahhhhhh akhirx evelyn update juga 😂😂😂😂

    Dan sedikit2 abang fandy mulai luluh lantah hatix ckckckcc… asik asik.. maju terus evelyn buat fandy tergila2 padamu 😙😙😙😙

    Makasih mamabella udh diupdate evelyn nya.. next nya jangan lama2 ya mom… hampir gila aku tiap hari menunggu semua tulisan mu heheee😙😙😙

    Like

  2. Udah mulai ketagihan nih Fandy ama Eva,,, rupanya pesona Eva bnr2 gk bsa diragukan lg….
    Semangatttt Eva buat trus c Fandy trpesona ama kmu hehe

    Like

  3. huwaahhhhhhh apa ini apa , knp fandy sangat keren sekali , q seperti sedang menonton drama korea 😍😍😍😍.
    mo dong jadi cewe na fandy , aduhhhh ngebayangin az udah bikin senyum” sendiri , fandy bikin q gagal fokus …

    Like

  4. Huuuuaahhhh akhirnya up date juga huhuhu eva ganas ya sana fandy bacanya sambil ngebayangin jadi deg deg ser sendiri huhuhu

    Like

  5. Judul lagu dari evelyn (1) trailernya apa ka??

    Mish056 Pada tanggal 17 Mei 2017 00.02, “Mamabelladramalovers – Zenny Arieffka’s

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s