romantis

Unwanted Wife – Chapter 10 (Benarkah?)

 

di atas adalah Trailer Novel Unwanted wife. di puter yakk.. kyaaaaa Darren keren banget tauukk.. huaaaaaa

 

Chapter 10

Benarkah?

 

Darren masih tidak bisa menutup matanya. Matanya seakan menolak untuk tertutup ketika di hadapannya tampak wanita rapuh yang tidak berhenti meneteskan air matanya.

Tadi, setelah memuaskan diri berkali-kali, menghukum Karina dengan sentuhan kasarnya, wanita itu berakhir pingsan dalam gendongannya. Astaga, Darren tidak  mengerti entah apa yang salah dengan dirinya, ia seakan tidak bisa berhenti menyentuh wanita itu, wanita yang entah sejak kapan kembali mengusik hidupnya.

Kini, Karina sudah tertidur dengan posisi miring menghadap ke arah Aleta. Pun dengan Darren yang ikut tidur miring menghadap ke arah Aleta yang berada di tengah-tengah mereka. Wanita itu memejamkan matanya, tapi Darren dapat melihat dengan jelas jika ada bulir air mata yang jatuh dari sudut mata wanita di hadapannya tersebut.

“Kamu sudah bangun?” suara Darren terdengar serak. Oh, Darren seakan ingin mengumpat pada kejantanannya yang tidak berhenti menegang hanya karena menatap kulit mulus dan pucat dari wajah Karina. Sial! Kenapa seperti ini? Bahkan dengan Nadine saja ia tidak seperti ini. Ia selalu dapat menahan diri.

Bulu mata Karina bergerak, kemudian wanita itu membuka matanya seketika. Menatap Darren dengan tatapan sendunya. Darren merasa seperti seorang bajingan jika Karina sedang menatapnya dengan tatapan menyedihkan seperti saat ini.

“Kenapa nggak tidur?” tanya Darren lagi.

“Aku lapar.” Dua kata itu entah kenapa membuat Darren tersenyum.

“Bukannya tadi kamu sudah makan malam bersama dengan Evan?”

Karina menggeleng pelan. “Aku nggak bisa makan, aku sudah bilang kalau badanku tidak  enak.”

Darren bangkit seketika. “Mau makan apa?”

Karina terkejut dengan perubahan yang di tampilkan oleh Darren. Sebenarnya apa yang di inginkan lelaki ini? Kadang Karina melihat sisi Darren yang penyayang, yang perhatian padanya, tapi di sisi lain, Darren terlihat seperti orang jahat, orang yang tega menyakiti hatinya lagi dan lagi.

“Apa saja asal makan.”

“Oke.”  Darren menuju ke arah lemari pakaiannya, mengambil sebuah T-shirt lalu mengenakannya. Pada saat bersamaan, sebuah lengan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Lengan rapuh dari istri yang tidak pernah ia inginkan.

Darren membatu seketika, merasakan tubuh kurus itu memeluknya dari belakang. Pipi tirus itu terasa menempel pada punggungnya yang kekar, ada apa dengan Karina? Kenapa wanita ini begitu berani memeluknya?

“Ada apa?”

“Aku takut tidak bisa berhenti mencintaimu, ketika kamu bersikap baik seperti ini kepadaku.”

“Maka jangan berhenti.” Dengan spontan Darren menjawab seperti itu.

“Tapi aku tahu jika rasa cintaku menyakitimu. Aku tidak bisa melihatmu tersakiti.”

“Dan aku sudah tersakiti, lalu apa? Berhenti mencintaiku tidak akan menyembuhkan lukaku, itu juga tidak akan mengembalikan Nadine padaku.”

“Aku minta maaf.”

“Entah sudah berapa kali aku mendengar maaf darimu. Tapi rasanya tetap sama, aku merasa benci, benci sekaligus….” Darren tidak dapat melanjutkan kalimatnya. “Sudahlah, lupakan saja.”

Darren melepas paksa pelukan Karina. “Aku cari makan dulu.” Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Karina yang masih terpaku menatap kepergianya.

***

Paginya…

Karina demam. Ia bahkan tidak bisa bangkit dari ranjangnya. Makanan yang tadi malam di bawakan oleh Darren, pagi ini ia muntahkan kembali

Darren khawatir, tapi di sisi lain ia tidak ingin memperlihatkan kekhawatirannya. Darren akhirnya membawa Aleta keluar dan memberikan bocah itu pada Mamanya. Ia tahu jika Karina tidak mungkin bisa mengasuh Aleta hari ini.

Sampai di ruang makan, di sana sudah ada Evan. Darren benar-benar enggan menyapa Evan. Entahlah, ia merasa kesal dengan sosok Evan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya?

“Karin mana?” pertanyaan Evan membuat Darren menolehkan wajahnya ke arah lelaki tersebut.

“Kenapa nyariin dia?”

“Kenapa dia nggak ikut turun dan sarapan bareng?”

“Gue pikir itu bukan urusan lo.”

Evan tersenyum mengejek. “Gue hanya mencoba perhatian sama dia, karena gue pikir suaminya tidak pernah memperhatikannya.”

Darren mengepalkan tangannya lalu berdiri seketika.

“Apa yang kalian lakukan? Sejak kemarin kelakuan kalian kayak kucing dan tikus. Kalian seperti anak kecil yang berebut mainan.” Mama Darren akhirnya melerai ketika melihat ketegangan di antara kedua puteranya.

Tanpa banyak bicara, Darren menyiapkan makanan untuk dirinya dan juga untuk Karina. Ia tidak akan membantah mamanya, dan ia juga terlalu malas berurusan dengan Evan. Sialan! Kakaknya itu kini makin berani menampakkan perasaannya pada Karina.

***

Darren masuk ke dalam kamarnya, dan mendapati ranjangnya kosong, di mana wanita itu? Darren menaruh nampan yang berisi sarapan mereka di meja di ujung ruangan, kemudian mencari Karina, mungkin wanita itu ada di dalam kamar mandi, dan benar saja ketika Darren masuk ke dalam kamar mandi, ternyata di sana sudah ada Karina yang terduduk lemas tak bertenaga.

“Ada apa?”

“Aku muntah.”

“Mau ke dokter?”

Karina menggelen pelan. “nggak usah. Mungkin aku cuma capek dan masuk angin.”

“Ayo balik, aku bawakan kamu sarapan.”

Karina mengangguk. Ia berdiri dengan bantuan Darren, tapi ketika akan melangkahkan kalinya, hampir saja Karina tersungkur. Tanpa banyak berkata, Darren menggendong Karina menuju ke arah ranjang mereka.

“Nanti siang aku panggilkan dokter keluarga, biar dia memeriksamu di sini.”

“Jangan, nggak perlu.”

“Aku tidak meminta ijin darimu. Aku melakukannya karena aku tidak ingin keluargamu berpikir jika keluargaku tidak merawatmu dengan baik.”

“Uum, keluargaku tidak akan mungkin berpikir seperti itu.”

“Jangan banyak bicara, sekarang, makan saja sarapanmu.” Dan Karina akhirnya menuruti apa yang di perintahkan Darren.

***

Saat di kantor, entah kenapa pikiran Darren tidak tenang, meski tadi ia sudah menelepon Tante Iva, dokter keluarganya, tapi tetap saja ia mengkhawatirkan Karina. Apa sakitnya Karina ada hubungannya dengan penyiksaan seksual yang selama ini ia berikan? Apa ini ada hubungannya dengan penyiksaan batin yang ia berikan setiap kali bertemu dengan wanita tersebut? entah kenapa Darren merasa bersalah. Ia takut, bukan takut di salahkan atas sakitnya Karina, tapi ia takut kehilangan wanita tersebut karena ulah bodohnya sendiri.

Ah sial! Apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya?

Tak lama pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang. Darren sedikit heran karena hari ini ia tidak ada jadwal bertemu atau rapat dengan siapapun.

“Masuk.” Akhirnya ia memerintahkan siapapun itu yang sedang mengetuk pintu ruang kerjanya.

Ketika pintu di buka, Darren berdiri seketika saat mendapati Om Roy, ayah Karina yang ternyata sudah berdiri di sana. Ada apa lagi sekarang? Kenapa tua bangka itu menghampirinya lagi?

Darren sudah memasang wajah sangarnya ketika akan menghadapi ayah mertuanya yang menurutnya sangat licik itu.

“Ada apa lagi Om? Saya pikir kita tidak memiliki urusan lagi.”

Laki-laki paruh baya itu tertawa dengan kalimat sapaan Darren yang sangat tidak bersahabat. “Kamu salah Darren, kita masih berurusan, dan akan selalu berurusan.”

“Langsung saja Om, saya tidak suka basa-basi.”

“Oke, langsung saja. Saya ke sini hanya untuk mengingatkan kamu, kalau semua saham keluarga kamu masih atas nama saya, jadi jangan macam-macam.”

Darren tersenyum mengejek. “Om Roy mau megancam saya?”

“Darren, saya nggak main-main. Di Bali, saya melihat kamu tidak memperlakukan puteri saya dengan baik, jadi saya ke sini untuk mengingatkan kamu kalau-”

“Seharusnya saya yang mengingatkan Om Roy!” Darren memotong kalimat mertuanya itu dengan tegas. “Puteri Om sangat tergila-gila dengan saya, bahkan dia rela menjadi budak saya, jadi Om Roy jangan macam-macam.  Saya bisa dengan mudah menghancurkan hati puteri Om kalau saya mau.”

“Tapi kamu tidak melakukannya. Kenapa?”

Darren membatu. Rahangnya mengeras, ia tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana tersebut.

“Kenapa kamu tidak melakukannya? Kenapa kamu tidak meninggalkan dia? Kenapa kamu menuruti mau kami untuk menikahinya? Apa Kkrena perusahaan? Karena saham? Darren, saya tahu kamu bisa saja pergi jauh tanpa mempedulikan permintaan saya untuk menikahi puteri saya. Tapi kenapa kamu tetap melakukannya walau dengan terpaksa?”

Darren membalikan tubuhnya seketika. “Urusan kita sudah selesai, Om. Silahkan keluar.”

“Kamu tidak bisa menjawab? Apa perlu saya yang menjawab?”

“Dengar!” tanpa tahu sopan santun Darren berkata keras di hadapan lelaki paruh baya tersebut. “Jangan terlalu jauh mencampuri urusan saya. Silahkan pergi atau saya akan melakukan hal yang nekat.”

Lelaki paruh baya itu hanya tersenyum melihat reaksi dari Darren. “Terimakasih. Setidaknya saya tahu jika puteri saya jatuh di tangan orang yang tepat.” Setelah kalimat tersebut, ayah Karina berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Darren yang mematung di tengah-tengah ruang kerjanya.

***

Karina masih duduk termenung di atas ranjangnya. Ia masih bingung dan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Yang ia rasakan saat ini adalah tubuhnya yang terasa lemah seperti orang sakit, tapi penjelasan dari dokter yang tadi memeriksanya benar-benar membuatnya shock.

Ia hamil, dan ia masih tidak percaya dengan kenyataan itu.

Benarkah?

Nyatakah?

Tadi siang…

“Karin, kamu harus jaga diri, jangan kelelahan, dan harus banyak makan.” Tante Iva, dokter keluarga yang telah memeriksa Karina memberi nasehat pada Karina.

“Saya susah makan akhir-akhir ini, tante.”

“Tidak peduli susah atau tidak. Kamu harus makan, sedikit tapi sering. Supaya bayi yang kamu kandung punya nutrisi.”

“Apa? Bayi?”

“Ya, menurut pemeriksaan tante, kamu hamil.”

Karina tercengang dengan kabar tersebut. “Tante nggak salah, kan?”

“Menurut gejala yang kamu katakan, tante sudah mendiagnosa kalau kamu hamil, di tambah lagi tes urin yang tadi baru saja kamu lakukan memperkuat diagnosa tante. Hasilnya positif.”

Karina masih ternganga, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, haruskah ia senang atau malah sebaliknya, karena jujur saja, ia takut, takut kalau Darren akan marah ketika mengetahui kabar ini.

“Kamu harus memberi tahu Darren dan keluarganya, suapaya mereka ikut menjaga kamu.”

Tidak! Mereka tidak boleh tahu. Darren pasti akan sangat marah jika tahu keadaannya yang kini tengah mengandung anak dari lelaki tersebut.

“Uum, tante, biar saya sendiri nanti yang memberi tahu Darren dan keluarga kami, tolong tante jangan bilang siapa-siapa tentang keadaan saya.”

“Baiklah, tapi ingat, harus jaga diri dan makan sesering mungkin.” Karina mengangguk patuh.

 

Itu seperti sebuah mimpi. Mengandung bayi Darren tentu tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak Karina. Ya, meski Darren memang hampir setiap saat menyentuhnya, tapi tetap saja, Karina masih tidak percaya kenyataan ini.

Bagaimana jika Darren tahu? Bagaimana jika lelaki itu marah? Bagaimana jika lelaki itu menolak keras kehamilannya atau bahkan menyuruhnya untuk menggugurkan bayi tersebut? dengan spontan Karina memeluk perutnya sendiri. Tidak! Darren tidak boleh tahu. Sedalam apapun cintanya untuk Darren, ia tidak akan sanggup untuk menuruti kemauan lelaki itu untuk menggugurkan bayinya.

Ya, Darren tidak boleh tahu.

Ketika Karina sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu kamarnya terbuka dan terlihat sosok Darren yang sedang menggendong Aleta. Karina benar-benar terkejut saat mendapati Darren yang sudah berada di rumah jam segini.

Darren menurunkan Aleta di atas ranjang, seketika itu juga Aleta menghambur memeluk tubuh Karina erat-erat.

“Tante Karin sakit?  Kata Om Darren, tante sakit, padahal Aleta mau ikut sekolah lagi.”

“Kata mama, dia cari kamu terus. Mama mau mengajak ke sini, tapi takut ganggu kamu yang sedang istirahat.” Darren mengucapkan kalimat tersebut dengan datar, bahkan kini lelaki itu sibuk membuka dasinya tanpa memperhatikan Karina yang sudah gugup karena kedatangangnya.

Karina hanya diam, ia tidak tahu harus menanggapi apa kalimat Darren tersebut ia bingung, ia takut, dan masih banyak lagi perasaan yang sedang di rasakannya saat ini.

“Bagaimana keadaanmu?” pertanyaan Darren membuat Karina menatap pada sosok tampan di hadapannya yang kini sudah bertelanjang dada.

“Baik.” Hanya itu jawaban dari Karina.

“Apa tante Iva benar-benar ke sini tadi? Apa yang di bilang tante Iva?”

“Uum,” Karina tidak tahu harus menjawab apa.

“Uum? Maksudnya?”

“Aku, aku hanya capek, masuk angin karena telat makan.”

“Mulai sekarang, jangan sampai telat makan, apa kamu tahu kalau papamu tadi ke kantorku?”

“Papa? Kenapa?”

Darren tersenyum mengejek. “Mengancam. Oh yang benar saja, keluargamu benar-benar licik.”

“Aku nggak ngerti apa yang kamu bilang, Darren.”

“Dia mengancam, katanya kamu terlihat tidak baik saat bersamaku, jadi dia mengancam tidak akan mengembalikan saham perusaan keluarga kami jika aku menyakitimu. Yang benar saja.”

“Papa nggak mungkin seperti itu, dia selalu menepati janjinya.”

Well, nyatanya sampai saat ini dia belum menepati janjinya. Kenapa? Karena dia takut aku menceraikanmu? Bilang saja sama orang tuamu kalau aku tidak akan pernah menceraikanmu.”

Karina tidak dapat menjawab lagi ketika Darren mulai berkata dengan nada sinis terhadapnya. Bagaimanapun juga, lelaki itu tersakiti karena ulahnya dan juga keluarganya, jadi mau tidak mau Karina harus mengalah.

“Jadi, apa kamu sudah makan?”

Karina menggelengkan kepalanya, ia memang tidak nafsu makan seharian ini. Apa saja makanan yang masuk ke dalam mulutnya selalu di keluarkannya kembali hingga Karina merasa lelah.

“Ada yang ingin kamu makan?”

Karina menggelengkan kepalanya kembali.

Darren menghela napas panjang. “Cepat ganti bajumu, ayo temani aku.”

“Kemana? Aku nggak enak badan, Darren.”

“Aku nggak peduli. Ayo cepat ganti baju.”

“Aleta boleh ikut, Om?”

“Tentu saja kamu ikut.” Darren mengusap lembut puncak kepala Aleta, sedangkan Aleta sendiri hanya bersorak gembira karena akan berjalan-jalan dengan Karina dan Darren.

***

Mobil Darren berhenti pada sebuah parkiran rumah makan yang tidak asing untuk Karina. Tentu saja, dulu, saat masih kuliah, Karina sangat sering makan di tempat ini bersama dengan Darren dan Nadine. Bahkan ketika sakit, Karina hanya ingin memakan makanan dari rumah makan tersebut.

Karina hanya ternganga menatap rumah makan di hadapannya. Apa Darren mengajaknya kesana karena ingat kenangan mereka? Atau Darren mengajaknya ke sana karena ingin mengenang tentang Nadine?

“Kenapa? Kamu nggak mau masuk?”

“Kenapa kita ke sini?”

“Karena kamu nggak nafsu makan, dulu bukannya kamu minta di bawakan makanan dari rumah makan ini saat kamu sakit?”

Karina menganggukkan kepalanya.

“Sekarang, ayo kita turun.” Akhirnya Karina menuruti apa yang di katakan Darren.

Mereka turun dan masuk ke dalam rumah makan tersebut. sekarang baru jam lima sore, jadi rumah makan tersebut masih cukup sepi. Darren memberikan Karina daftar menu untuk memesan menu yang di inginkan Karina.

Semua makanan di sana enak, tapi yang selalu menjadi kesukaan Karina adalah Bakso dengan tulang sumsum yang sangat nikmat di santap saat hangat.

“Aku ini saja.”

Darren tersenyum miring. “Jadi selalu ini menu favoritmu?”

Karina tersenyum malu. “Aku suka sumsumnya.”

“Oke, aku akan memesan dua porsi untuk kamu.”

“Hei. Satu porsi sudah cukup.”

“Lihat, badanmu kurus kering. Kamu harus banyak makan jadi keluargamu tidak berpikir macam-macam padaku.”

Karina menganggukkan kepalanya pasrah.

“Aleta mau apa?”

“Apa saja yang penting enak.” Darren tertawa lebar mendengar jawaban polos yang di berikan Aleta. Akhirnya Darren memesankan makanan yang akan mereka makan bersama sore itu.

***

Ketiganya akhirnya makan bersama. Karina tampak lahap memakan makanan di hadapannya, tidak ada rasa mual sedikitpun seperti kemarin atau tadi pagi. Semuanya tampak nikmat menggugah selera hingga tak terasa Karina menghabiskan porsi pertama makanannya.

“Apa begitu yang namanya orang tidak nafsu makan?” sindir Darren.

“Ini memang selalu enak, dan aku tidak merasa mual sedikitpun.”

Darren mengerutkan keningnya. “Mual? Memangnya sejak tadi kamu masih mual-mual?”

“Uum, sedikit.”

“Tante Iva sudah memberimu obat?”

“Sudah.”

“Baguslah.” Hanya itu jawaban Darren.

“Darren.” Karina tampak ragu akan membicarakan sesuatu pada Darren.

“Ada apa?”

“Uum, minggu nanti, kamu mau menemaniku menghadiri resepsi pernikahan Mas Dirga, kan?”

Darren mendengus sebal. “Mau bagaimana lagi? Mau tidak mau aku harus ke sana. Menyedihkan bukan? Menghadiri pernikahan orang yang begitu kucintai?”

“Aku minta maaf.”

“Cukup! Jangan bahas ini lagi. Aku terlalu muak. Yang penting minggu nanti aku akan ke sana, denganmu. Oke?”

Karina menganggukkan kepalanya. Meski sebenarnya ada rasa sesak yang menghimpit dadanya. Tentu ia merasakan kesakitan yang di rasakan oleh Darren. Ahh, entah berpa kali ia minta maaf, Darren pasti tidak akan memaafkannya. Apa lagi jika nanti lelaki itu mengetahui keadaannya saat ini yang tengah mengandung bayi dari lelaki tersebut.

Dengan spontan Karina mengusap lembut perut datarnya. Seberapa lama ia akan menyembunyikan kenyataan tersebut? Karina tidak sadar jika pergerakannya di lihat oleh Darren.

“Ada apa?”

Karina benar-benar terkejut saat sadar jika Darren sejak tadi sudahmengamati gerak-geriknya. “Uum, aku nggak apa-apa.”

“Kamu sakit perut? Kenapa sejak tadi meraba perutmu sendiri?”

Ohh, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia berkata pada Darren tentang keadaanya saat ini? Tidak! Itu tidak mungkin. Tapi bagaimana jika nanti Darren tahu sendiri dari orang lain? Bukan tidak mungkin lelaki itu akan semakin marah padanya. Ahhh, entahlah. Karina tidak ingin memikirkan sesuatu yang membuatnya semakin pusing.

Advertisements

3 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 10 (Benarkah?)

  1. baru kali ni aku baca cerita sampai nangis sampai tersedu-sedu,,,kayaknya si darren bakal kena karma ni,,tiba-tiba si karina ninggalin dia mampus,,,baru tau rasa dia,,,sedih bangett,,,,

    Like

  2. huwahhhh huwahhh knp kek gini , karine ayo kasihhhh tau daren ql u hamil …
    prasaan q campur aduk baca part ini , tau ga bu q sampe 2x baca part ini , q suka kata” d part ini , dan q jatuh cinta ma daren untuk kesekian kali na , tapi q lebih penasaran ma reaksi dia ql tau karin hamil , ql q pikir mah dia pasti seneng ql tau karin hamil …

    Like

  3. Walaupun trlihat jahat tp Darren prhatian ama kmu lo Karina,,,tp wajar aja c Darren kan sbnrnya msi mnyimpan rasa cinta utk Karin…mgkin saat ini Darren gk mau mengakuinya,,,krna bayang2 Nadine msi ada dlm hatinya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s