romantis

Evelyn – Chapter 4 (Pelindung)

Evelyn

“Fan, aku curiga jika kamu menyalahgunakan pekerjaanmu untuk mengekangku.”

“Maaf?” Fandy tampak tak mengerti.

Eva tertawa mengejek. “Begini, akui saja kalau kamu tidak suka melihat kedekatanku dengan kekasihku.”

“Apa?” Fandy tampak terkejut dengan tuduhan yang di tunjukkan Eva padanya. “Maaf Nona Evelyn, anda berpikir terlalu jauh.”

Eva tampak kesal dengan jawaban yang di berikan Fandy. “Kalau begitu tinggalkan aku, aku akan berkencan dengan kekasihku sendiri tanpa kamu mengawalku.”

“Maaf, saya tidak bisa.”

“Fandy.”

“Sudah, tinggalkan saja dia.” Secepat kilat Ramon meraih pergelangan tangan Eva kemudian menariknya pergi dari hadapan Fandy, tapi baru beberapa langkah, Fandy menyusul, dan dalam sekejap mata Fandy sudah memisahkan Eva dari Ramon.

“Saya tidak akan membiarkan anda mengajak Nona Evelyn pergi tanpa saya.” Ekspresi Fandy masih tetap datar-datar saja, tapi perkataan itu di ucapkan dengan penuh penekanan.

Entah kenapa Fandy merasakan jika lelaki di hadapannya itu bukanlah lelaki yang baik, instingnya mengatakan jika ia tidak boleh meninggalkan Eva hanya berdua dengan lelaki itu. Tapi di sisi lain Fandy ragu, apa itu hanya instingnya yang terlalu tajam, atau ini ada campur tangan dari sebuah rasa aneh yang sejak tadi sedikit menggelitiknya?

 

Chapter 4

Pelindung

 

“Saya tidak akan membiarkan anda mengajak Nona Evelyn pergi tanpa saya.” Ekspresi Fandy masih tetap datar-datar saja, tapi perkataan itu di ucapkan dengan penuh penekanan.

Dengan sengaja Ramon mendekat ke arah Fandy, lalu tangannya melayang, berharap mampu meninggalkan pukulan di wajah tampan Fandy, tapi Ramon salah. Dengan cekatan Fandy menangkis pukulan dari Ramon, kemudian memutar tangan Ramon dan menguncinya di belakang tubuh lelaki tersebut.

“Brengsek! Apa yang lo lakuin, sialan!” Ramon tidak berhenti mengumpati Fandy, sedangkan Fandy sendiri masih santai mengunci kedua tangan Ramon di belakang tubuh lelaki tersebut

“Lepasin Fan! Kamu berlebihan!”

“Dia bukan lelaki yang baik untuk anda, Nona.”

“Baik atau tidaknya itu bukan urusan kamu!”

“Maaf, tapi itu urusan saya, saya bukan sekedar pengawal anda, saya adalah pelindung anda.” Eva hanya ternganga dengan jawaban yang di berikan oleh Fandy. Pelindung? Oh yang benar saja.

“Oke, oke. Sekarang lepaskan dia, aku tidak akan keluar dengan dia tanpa kamu.” Fandy masih tidak mau melepaskan kuncian tangan Ramon. “Fandy, Please.” Eva memohon. Akhirnya Fandy mau melepaskan kuncian tangan Ramon.

“Brengsek!” Ramon mengumpat keras-keras.

Ramon akan menyerang Fandy tapi dengan cepat Eva menghadangnya. “Ramon, sudah. Astaga, aku malu di lihat banyak orang.”

“Lain kali kalau jalan, jangan ajak dia.”

Eva menghela napas panjang. Ahh, rencananya benar-benar berantyakan. Bagaimana mungkin dua lelaki ini selalu ingin adu jotos? Padahal niat Eva kan hanya untuk memancing reaksi Fandy. Dan Fandy, astaga, lelaki itu masih datar-datar saja. Memang Fandy sempat terlihat emosi, tapi bagi Eva itu wajar, mengingat Fandy ingin melindunginya sebagai pengawal.

“Ya sudah, kita jalan, oke.” Dengan sigap Eva merangkul lengan Ramon dan mengajak Ramon berjalan lebih dulu. Sedangkan Fandy hanya mampu mengikutri keduanya dari belakang.

Di sisi lain, sepasang mata memperhatikan ketiganya dengan seksama. Sepasang mata itu mengikuti kemanapun ketiganya berjalan, sesekali menghubungi seseorang untuk melaporkan situasi yang sedang ia lihat.

***

Eva tidak berhenti memanyunkan bibirnya ketika berada di dalam mobil. Bukan tanpa alasan, ia hanya merasa jika semuia rencananya gagal total.

Sial Fandy! Sebenarnya lelaki ini terbuat dari apa sih? Eva sangat sulit menerka-nerka apa yang di rasakan lelaki ini.

Tadi, ketika di Dufan. Fandy tidak berhenti mengekori Eva dan Ramon. Sedikit senang karena hal itu membuat Fandy melihat betapa mesranya Eva dan Ramon. Tapi yang bikin kesal adalah lelaki itu sama sekali tidak bereaksi. Fandy baru akan bereaksi ketika Ramon dengan mesumnya akan mencoba menyentuh Eva. Tentu saja itu tidak cukup. Semua pengawal akan melindungi Nonanya seperti yang di lakukan Fandy pada Eva tadi, Eva hanya ingin Fandy melakukan lebih. Misalnya, melarang Ramon berdekatan dengan Eva, atau melarang jemari keduanya bersentuhan seperti tadi. Tapi sepertinya itu hanyalah mimpi, Fandy tidak mungkin seposesif itu.

“Kita ke Mall.” Perintah Eva dengan nada ketus.

“Maaf Nona, anda harus ke kampus.”

“Kamu apaan sih? Kamu hanya pengawalku, nggak berhak ngatur kemanapun aku mau!” Eva benar-benar tampak kesal.

“Baik.” Fandy menjawab dengan formal.

“Aku benci kamu, tahu nggak?”

Fandy hanya diam, dan itu membuat Eva semakin kesal.

“Fandy! Aku ngomong sama kamu, tahu!”

“Ya, Nona.”

“Ah! Lupakan! Pokoknya aku mau ke mall saat ini juga. Mending aku buka toko aksesorisku kembali dari pada ngampus.” Fandy tidak menjawab, ia memilih menuruti apa yang di perintahkan Eva. Meski sebenarnya dalam hati Fandy juga merasa sedikit kesal.

Kesal? Entahlah! Fandy sendiri bahkan tidak mengerti ia kesal karena apa.

***

“Jadi, apa yang kamu dapat?” seorang wanita bertanya pada seorang lelaki yang berpakaian hitam-hitam seperti seorang mata-mata.

“Ini, Nyonya. Nona Evelyn menjalankan aktifitasnya seperti sebelum-sebelumnya, hanya saja, sekarang ini dia selalu bersama dengan seseorang.” Si lelaki itu menyodorkan beberapa foto-gfoto hasil dari memata-matai seorang targetnya.

Si wanita mengamati dengan  teliti foto-foto tersebut. “Pengawal? Dia ada yang ngawal?”

“Ya, sepertinya begitu, nyonya.”

“Brengsek! Ini pasti rencana Nick agar aku tidak bisa dekat dengan Evelyn. Sialan!” Wanita itu mengumpat keras-keras.

“Ada apa, sayang?” sebuah suara lainnya datang dari ruangan berbeda. Seorang lelaki tinggi besar datang menghampiri wanita tersebut. Dengan manja si wanita bergelayut mesra di lengan lelaki tersebut.

“Nick, dia brengsek! Dia memberi pengawal pada Evelyn. Aku tahu dia melakukan itu karena tidak ingin aku dekat dengan Evelyn. Bagaimanapun juga, Evelyn adalah puteriku.” Si wanita menyodorkan foto-foto tersebut pada si lelaki.

Si lelaki hanya tersenyum miring. “Tenang sayang, kamu bisa mendapatkan Evelyn beserta aset-aset dari suami bodohmu itu. kita hanya menunggu waktunya saja.” Si wanita tersenyum puas.

Nick, aku akan mendapatkan semuanya, Evelyn dan juga semua yang kamu punya. Itu sumpahku…

***

Eva kesal. Sangat kesal.

Bagaimana tidak, sat ini Fandy sedang berdiri tegap khas pengawal-pengawal pada umumnya, lelaki itu berdiri tepat di sebelah pintu masuk toko aksesoris milik Eva dengan wajah sangarnya. Astaga, bagaimana ada orang yang mau mampir ke tokonya jika tokonya tersebut di jaga oleh Fandy?

Dengan kesal Eva menghampiri Fandy. “Fan, apa kamu nggak bisa masuk dan duduk saja di sana?”

“Tidak Nona, saya akan tetap di sini.”

“Kamu gila, ya? Mana ada yang mau mampir ke tokoku kalau tokoku di jaga ketat olehmu?”

“Saya tidak menjaga ketat.”

“Ya, tapi ini,” Eva mengusap kening Fandy yang berkerut. “Ini.” Usapan Eva turun pada mata Fandy. “Dan ini.” Kali ini Eva mengusap bibir Fandy. “Menegaskan jika kamu sedang menjaga toko ini dengan sangat ketat. Seakan ada sesuatu berharga di dalamnya.”

“Maksud Nona Evelyn?”

Eva menghela napas panjang. “Maksudku, kamu seperti sedang menjaga sebuah berlian. Nggak usah terlalu serius. Santai saja.”

“Saya memang sedang menjaga sebuah berlian.”

Eva tampak tidak mengerti. Tapi kemudian ia berpikir kalo mungkin saja Fandy menganggapnya sebagai sebuah berlian yang sangat berharga. Pipi Eva merona merah saat mendapati pemikiran tersebut.

“Berlian bagi keluarga Mayers.” Dan setelah Fandy melanjutkan kalimatnya, Eva kembali cemberut.

“Aish! Kamu nggak asik.” Eva memukul lengan Fandy dengan kesal, lalu ia kembali masuk ke dalam toko aksesorisnya sambil tak berhenti menggerutu kesal.

Ahh!! Fandy benar-benar menyebalkan. Pikirnya.

Sedangkan Fandy sendiri hanya menatap Eva dengan bingung. Gadis aneh! Memangnya dia salah bicara? Atau memang gadis itu selalu aneh seperti ini sikapnya? Dasar gadis manja! Pikir Fandy.

***

Elisabeth Mayers memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat puteranya yang kini sedang sibuk dengan pekerjaannya. Elisabeth tersenyum saat menyadari jika puteranya tersebuk kini sudah menjadi lelaki dewasa dengan seorang puteri cantiknya. Ah.. rasanya baru kemarin ia memiliki bayi mungil.

“Apa aku mengganggu?” suara Elisabeth membuat Nick mengangkat wajahnya.

Nick tersenyum kepada sang ibu. “Tidak Bu, masuk saja.”

Sang ibu akhirnya masuk dan duduk di sofa yang berada di ruang kerja puteranya. “Kamu masih sama dengan dulu Nick, pekerja keras.”

Nick tersenyum. “Menurun dari ayah.” Jawabnya.

Elisabeth tertawa lebar. “Nick, sebenarnya aku khawatir dengan Evelyn. Kenapa kita tidak memboyongnya ke negara kita saja? Di sini ibu khawatir jika mungkin saja tiba-tiba Maria berbuat nekat.”

“Ibu.” Nikck berjalan menuju ke arah ibunya, berjongkok di hadapan ibunya lalu menggenggam erat kedua telapak tangan ibunya yang sudah renta. “Maria tidak akan melakukan hal nekat. Bagaimanapun juga, Evelyn adalah puterinya ia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak.”

“Tetap saja ibu tidak tenang. Evelyn cucuku satu-satunya, dia pewaris semua aset keluarga kita. Akan banyak sekali orang yang ingin menjatuhkannya, termasuk istrimu yang licik itu.”

Nick tersenyum. “Maria tidak akan bisa menyentuh Evelyn. Evelyn sudah di jaga dengan baik oleh pengawalnya.”

“Sejujurnya, ibu masih sangsi. Evelyn hanya ingin di jaga oleh seorang pengawal, bagi ibu itu tidak cukup.”

“Ibu, ini Jakarta. Evelyn hidup di sini dari kecil, pergaulannya akan terganggu jika banyak seorang yang mengawalnya. Lelaki itu sudah cukup untuk mengawalnya. Nick percaya.”

“Tapi kalau istrimu kembali?”

“Saya sendiri yang akan menghadapinya, Bu.”  Nick berdiri, kemudian menatap jauh ke arah luar jendelanya.

Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa, Maria, tidak aku, Evelyn, atau bahkan hartaku yang selama ini kamu incar.

***

“Kamu benar-benar menyebalkan! Pokoknya mulai besok, ganti style kamu.”

“Saya tidak mengerti apa maksud anda Nona.” Fandy masih setia mengikuti langkah Eva masuk ke dalam rumahnya. Hari sudah malam, dan Eva baru pulang dari toko aksesorisnya. Sebenarnya tadi Eva meminta di antar di sebuah kelab malam, tapi Fandy menolak dengan keras. Tempat seperti itu sangat rawan kekerasan, jadi Fandy akan menjaga Eva sebisa mungkin menjauhkan Nonanya itu dari tempat yang menurutnya membahayakan.

Eva menghentikan langkahnya seketika dan itu membuat Fandy tidak sengaja menubruknya dari belakang.

“Dengar! Aku benci dengan kekakuanmu,dengan baju seragamu ini, dan juga dengan sikapmu yang seenaknya sendiri. Besok aku akan merubahmu.” Eva berkata dengan tegas sembari menunjuk-nunjuk dada Fandy.

“Tapi Nona.”

“Pokoknya kamu harus berubah. Untuk aku.” Eva merajuk manja.

“Ada apa ini?” suara yang terdengar berwibawah itu membuat Eva dan Fandy menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Di sana tampak Nick Mayers, ayah dari Eva.

“Papa.” Eva menghambur memeluk ayahnya.

“Ada apa sayang? Kenapa kamu tampak marah-marah?”

“Pa, aku mau dia berubah. Aku nggak suka melihatnya kaku begitu. Aku ingin dia mengawalku kemanapun aku pergi, tapi tidak dengan pakaiannya yang kaku dan membosankan seperti itu.”

Sang ayah tersenyum melihat tingkah manja puterinya. “Baiklah, sekarang, masuk saja ke dalam kamarmu, papa mau bicara berdua dengan dia.”

Eva mengecup lembut pipi sang Papa. “Ingat Fan, besok kita akan perbaiki penampilan kamu.” Eva tertawa lebar sambil meninggalkan fandy dan ayahnya.

“Ikut ke ruangan saya.” Ucap Nick pada Fandy. Dan Fandy akhirnya menuruti perintah atasannya tersebut.

***

Nick membuka berkas di hadapannya sesekali menatap ke arah Fandy yang masih setia berdiri tegap di hadapannya.

“Jadi, kamu Fandy, 27 tahun, dengan keahlian menembak dan memainkan pisau?” Nick melirik sekilas ke arah Fandy. “Yatim piatu, besar di sebuah panti asuhan?”

“Saya, Tuan.”

Nick tersenyum kemudian menuju ke arah Fandy dan menepuk bahu lelaki tersebut. “Jangan terlalu serius. Saya hanya ingin mengenal seorang yang saya percaya untuk menjaga puteri saya.”

Fandy menganggukkan kepalanya.

“Evelyn besar sebagai puteri tunggal. Dia pasti akan sangat menyebalkan dengan sikapnya. Kehidupan sosialnya tidak susah karena dia dapat dengan mudah berteman dengan siapapun, dan itu menjadikannya sosok yang seperti saat ini. Ceria, agresif tapi sedikit nakal.”

Fandy mendengar dengan seksama meski sebenarnya dia tidak tahu apa yang di maksud ayah Eva mengatakan semua ini padanya.

“Kamu mungkin bertanya-tanya, untuk apa Evelyn di kawal ketat. Jawabannya adalah karena di luar sana akan banyak sekali orang yang menginginkan puteri saya itu.” Ayah Eva menghela napas panjang. “Jadi Fandy, maukah kamu dengan bersungguh-sungguh menjaga Evelyn untuk saya?”

Fandy mengangguk dengan patuh. “Itu sudah menjadi pekerjaan saya, Tuan.”

“Bukan hanya sebagai pengawal, tapi juga pelindung, teman, atau bahkan sahabat, apa kamu mampu?”

“Saya pikir tugas saya hanya mengawal Nona Evelyn.”

“Saya akan membayar kamu berapapun, asal kamu selalu ada untuk dia.”

“Saya akan berusaha yang terbaik, Tuan.”

Ayah Eva kembali menepuk bahu Fandy. “Dia bukan hanya membutuhkan seorang pengawal, dia juga butuh teman, dia kesepihan, jika dulu dia bisa bercerita dengan ibunya, maka kini dia tidak memiliki ibu lagi. Maukah kamu mengisi kekosongan itu?”

Fandy mengangguk patuh.

“Bersahabatlah dengan dia. Saya tidak bisa selalu bersamanya, karena itu saya ingin kamu selalu setia di sisinya.”

Fandy kembali mengangguk patuh.

“Oke, hanya itu saja. Ingat, saya percaya dengan kamu. Kamu yang paling baik di antara yang terbaik. Kamu boleh pergi.”

“Baik, Tuan.” Fandy akhirnya berbvalik dan akan pergi meninggalkan Nick, tapi kemudian panggilan Nick menghentikan langkahnya. “Fan, kamar kamu sudah di pindahkan tepat di sebelah kamar Evelyn.”

Fandy hanya mengangguk, meski dalam hati Fandy sedikit kesal karena harus selalu berdekatan dengan Eva meski dalam hal kamar tidur.

***

Fandy berjalan menuju ke kamar barunya yang letaknya bersebelahan dengan kamar Eva. Ketika Fandy berjalan dengan tenang, tiba-tiba sebuah lengan merengkuhnya. Dengan gerakan reflek Fandy memutar lengan tersebut dan menguncinya.

“Fan! Kamu apa-apaan sih? Lepasin!”

Astaga. Itu Eva.

Dengan cepat Fandy melepaskan kunciannya. Eva mengaduk sesekali mengusap lengannya sendiri.

“Astaga, kamu menakutkan. Ini naku, kamu pikir siapa?”

“Maaf Nona, saya hanya reflek.”

Eva mendengus sebal. “Ayo masuk.”

“Masuk? Kemana?”

“Ke kamarku, memangnya kemana lagi?”

“Maaf, Nona. Ini sudah malam. Silahkan istirahat. Saya akan berjaga di sini.”

“Menyebalkan.” Eva dengan sekuat tenaga menarik lengan Fandy untuk masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya mau tidak mau Fandy mengikuti kemauan Eva.

Ketika sudah berada di dalam kamar Eva, dengan berani Eva membuka setelah yang di kenakan Fandy.

“Kamu mau apa?”

“Mau apa lagi? Kita akan tidur bersama.”

Fandy menggenggam erat pergelanga tangan Eva. “Jangan macam-macam.”

Eva mendengus sebal. “Aku nggak macam-macam, tahu!” Eva melanjutkan membuka rompi yang di kenakan Fandy, kemudian membuka kancing-kancing kemeja Fandy.

“Berhenti!”

“Aku nggak mau berhenti.”

“Berhenti atau aku akan-”

“Akan apa? Akan apa?” dengan berani, Eva malah merangkulkan lengannya pada leher Fandy seakan menantang lelaki tersebut.

Oh, jangan di tanya lagi apa yang kini Fandy rasakan. Ia adalah lelaki dewasa yang tentunya dapat tergoda jika di goda seperti saat ini. Eva tidak berhenti menempelnya, menggesekkan tubuhnya yang menggoda itu pada tubuh Fandy, dan Fandy merasa jika dirinya tak dapat menahan diri lagi. Secepat kilat Fandy menangkup kedua pipi Eva kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir ranum gadis tersebut. Melumatnya dengan panas hingga Fandy merasa lupa diri.

Eva terkejut, sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Fandy terhadapnya. Ia hanya berusaha menggoda Fandy, dan Eva tidak menyangka jika Fandy akan terpancing begitu saja dengan godaan yang ia berikan.

Dengan sigap Fandy mulai sedikit mengangkat tubuh Eva, membawa Eva ke atas ranjang gadis tersebut tanpa melepaskan tautan bibirnya. Oh, Eva merasakan jika kini Fandy adalah lelaki terpanas yang pernah ia temui, ia tidak pernah menginginkan seorang lelaki seperti ia menginginkan Fandy, haruskah ia memberikan kehormatannya pada seorang Fandy?

Sedangkan Fandy sendiri sudah tidak bisa berhenti, tubuhnya menegang seutuhnya ketika gairah primitif tengah menguasainya. Ia menginginkan gadis ini, gadis yang kini masih bertautan bibir dengannya. Haruskah ia melanjutkan apa yang ia inginkan?

-TBC-

Advertisements

8 thoughts on “Evelyn – Chapter 4 (Pelindung)

  1. huwaahhhhhhh fandy apa yng u lakukan ??
    akhir na fandy tidak biza menhan diri lagi , wahhhhh ternyata tante maria jahat yaa .

    Like

  2. Kira2 bakal kejadian gk ya???
    Jelas trgoda lah, Fandy laki2 dewasa yg normal. Dan digoda sdmikian rupa,,mana bsa tahan haahahahahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s