romantis

Unwanted Wife – Chapter 9 (Kamu Milikku)

Unwanted Wife

Chapter 9

-Kamu milikku-

 

Karina masih sesekali melamun saat memperhatikan anak didiknya sedang asik belajar sambil bermain. Aleta juga ada di sana, bocah kecil itu tampak senang sekali karena memiliki banyak teman. Pikiran Karina kembali pada tadi pagi, ketika ia sedikit bingung dengan sikap yang di tampilkan oleh Darren, sebenarnya ada apa dengan lelaki itu?

Tadi pagi..

 

“Ya, berdiskusi tentang adik baru untuk kamu.”

Semua orang yang berada di ruang makan menatap ke arah Darren seketika, kecuali Evan.

“Darren, apa yang kamu bicarakan?” bisik Karina yang pipinya sudah merona merah.

“Adik? Jadi Aleta mau punya adik? Hore.” Aleta bersorak gembira, sedangkan Darren kembali dalam mode datarnya. Sesekali lelaki itu melirik ke arah Evan yang masih membatu dalam duduknya.

Perasaan Karina sendiri semakin tak menentu. Kenapa Darren berkata seperti itu? Akhirnya Karina melanjutkan menyuapi Aleta, kemudian ia menyiapkan bekal makan siang untuk Darren dan Evan.

Baru saja Karina selesai membuatkan bekal makan siang untuk kedua kakak beradik tersebut, dalam sudut matanya Karina melihat Evan yang sudah berdiri bersiap meninggalkan ruang makan. Secepat kilat Karina melanjutkan pekerjaannya tersebut kemudian menghampiri Evan.

“Kak, ini bekalnya.” Karina menyodorkan kotak makan siang untuk Evan.

Evan menatap kotak tersebut, lalu menatap ke arah Karina. Karina sempat tidak enak dengan tatapan Evan, lelaki itu biasanya langsung menerima kotak makan yang ia siapkan tanpa menatapnya dengan tatapan seperti ini, tapi kenapa pagi ini berbeda?

“Kupikir kamu sudah berhenti menyiapkan makan siang untukku.” Ucap Evan kemudian meraih kotak tersebut. “Terimakasih.” Dan lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan Karina yang masih berdiri mematung menatapnya.

“Lalu, mana bekal makan siangku?”

Karina benar-benar berjingkat ketika mendengar suara berat tepat di belakangnya. Itu suara Darren, dan astaga, sejak kapan lelaki itu berdiri di sana?

“Oh, iya, sebentar.” Karina bergegas ke meja dapur lagi, tapi perkataan Darren selanjutnya benar-benar membuatnya tidak mengerti.

“Kamu lebih sibuk menyiapkan bekal orang lain ketimbang suamimu sendiri, hebat sekali.”

Karina menoleh ke arah Darren. “Aku nggak ngerti apa maksud kamu.”

“Lupakan saja, aku makan di luar.” Darren pergi.

Karina akan menyusulnya tapi di urungkan niatnya, Darren pasti akan menolak pemberiannya, menolak kebaikan yang ia berikan sama seperti kemarin-kemarin. Akhirnya Karina memutuskan kembali ke pada Aleta yang masih asik dengan puding sebagai makanan penutupnya.

 

Suara sorak gembira anak-anak membuat Karina tersadar dari lamunannya. Ternyata Bell menandakan jika kini sudah waktunya pulang.

“Baiklah anak-anak, ayo sekarang di bereskan buku-bukunya, dan mari berbaris.” Setelah melakukan serangkaian kegiatan, akhirnya kini waktunya pulang.

Aleta terlihat sangat bahagia ikut bersama dengan Karina, Aleta bahkan sempat bilang jika nanti dirinya akan meminta mamanya untuk pindah sekolah di mana Karina yang mengajar sebagai gurunya.

Ketika semua anak sudah keuar dari kelas dan menghambur pada orang tua masing-masing, Karina ikut keluar bersama dengan Aleta yang masih setia ia gandeng. Karina akan menuju ke ruang guru, tapi kemudian teriakan Aleta membuat Karina mengurungkan niatnya.

“Om Evan, Om Evan.” Aleta menarik-narik tangan Karina sambil menunjuk ke arah luar gerbang sekolah. Mau tidak mau Karina melihat ke arah yang di tunjuk Aleta.

Tampak di sana Evan sedang berdiri sambil tersenyum dan melambaikan telapak tangannya. Ada apa? Kenapa lelaki itu menghampirinya? Apa lelaki itu tidak kerja?

Akhirnya Karina mengajak Aleta menghampiri Evan.

“Hai, apa aku mengganggumu?”

Karina tersenyum, rupanya Evan sudah kembali seperti semula, sikap lelaki itu sudah tidak lagi aneh seperti kemarin atau tadi pagi.

“Enggak, aku sudah selesai ngajar, ini mau pulang.”

“Bagus, kalau gitu kita bisa pulang bareng.”

“Apa? Nggak perlu kak, kak Evan pasti sibuk di kantor.”

“Enggak, aku sudah pulang. Kantor membosankan.”

“Tapi-”

“Aleta mau ikut Om Evan main, kan?” Aleta tampak berpikir sebentar. “Nanti Om Evan belikan ice crem, sama kembang gula.”

“Yeay, Aleta mau. Ayo tante, kita ikut Om Evan, ayo.”

Karina menghela napas panjang. “Kak Evan curang.”

“Ya, terserah apa kata kamu, pokoknya kita akan pergi bersama.” Dengan sengaja Evan menggendong Aleta dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya hingga mau tidak mau Karina ikut serta bersama dengan Aleta.

***

Tidak tanggung-tanggung, Evan memborong semua mainan yang di inginkan oleh Aleta, setelah itu Evan mengajak Aleta dan Karina ke sebuah toko ice cream, memesan ice cream untuk Aleta.

Karina sendiri hanya mengikuti kemana langkah keduanya. Sebenarnya ia merasa sangat lelah, entahlah, mungkin karena kini ia sangat jarang berjalan-jalan seperti sekarang ini.

“Kak, kita nggak pulang? Ini sudah sore sekali.”

Evan menatap ke arah Karina. “Kamu sakit? Wajahmu pucat.”

“Aku cuma capek, kakiku pegal.” Karina sedikit tersenyum.

“Kita makan dulu ya.”

“Enggak, aku makan di rumah saja.”

“Kamu yakin?” Karina hanya menganggukkan kepalanya. “Aleta mau pulang atau makan dulu dengan Om Evan?”

“Kak, kamu curang.”

“Kok curang? Aku cuma bertanya dengan Aleta.”

“Aleta mau makan.”

“Oke, kita makan dulu.” Lagi-lagi Evan dengan sengaja mengajak Aleta masuk ke dalam sebuah restoran, sedangkan Karina sendiri mau tidak mau mengikuti kemana langkah kaki keduanya.

***

Karina benar-benar tidak nyaman dengan apa yang ia rasakan. Ia merasa mual ketika seorang pelayan menyadikan makanan pesanan mereka di meja tepat di hadapannya.

Apa ia masuk angin? Mungkin saja, mengingat hanya tadi pagi ada makanan masuk ke dalam perutnya, sedangkan tadi siang ia sibuk menyuapi Aleta sambil bermain sampai mengabaikan kalau dirinya sendiri belum makan siang.

Evan menatap ke arah Karina yang tampak tidak nyaman. “Ada apa?” tanyanya dengan spontan.

“Aku mual.”

“Mual?”

Karina membungkam mulutnya sambil menggelengkan kepalanya, kemudian ia berdiri dan bergegas masuk ke dalam toilet. Evan hanya mampu menatap Karina dengan bingung. Apa Karina sakit?

***

Karina memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya hingga tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, oh, ini pasti karena masuk angin. Karina merutuki dirinya sendiri ketika sadar jika ia sudah mengabaikan kesehatannya sendiri.

Tak lama, ponsel di dalam tasnya berbunyi, Karina merogoh ponsel di dalam tasnya dan mendapati nomor Darren sedang memanggilnya. Karina mengangkat sebelah alisnya saat sadar jika sudah lama sekali Darren tidak menghubunginya saat setelah mereka menikah.

Ya, lelaki itu memang tampak enggan mempedulikannya, dan Karina sadar semua itu karena ulahnya sendiri.

“Halo.” Karina mengangkat panggilan dari Darren.

“Kamu di mana?”

“Aku, um, di toilet.”

“Apa?”

“Itu, aku di kamar kecil sebuah restoran.”

“Di restoran? Jadi kamu makan di luar? Dengan Aleta? Apa kamu nggak tahu kalau Aleta itu nggak bisa makan sembarangan? Dia punya banyak alergi.”

“Apa? Maaf, aku nggak tahu, oke, aku akan ajak dia pulang.”

“Sebutkan di mana tempatmu, biar aku yang jemput.”

“Uum, sepertinya kami pulang sendiri saja.”

“Kenapa? Kamu sedang dengan seseorang?”

Karina terdiam sebentar, ia bingung apa ia akan memberi tahu darren jika kini dirinya sedang bersama dengan Evan. Jika Darren tahu, apa lelaki itu akan marah? Ahh tidak mungkin, kenapa juga Darren marah.

“Aku dengan kak Evan. Kami akan pulang secepatnya.”

“Katakan di mana posisimu dan aku akan menjemputmu.” Mau tidak mau, Karina menyebutkan di mana posisinya saat ini meski dalam hati ia bingung kenapa Darren terdengar seakan-akan lelaki itu marah, apa ia melakukan kesalahan lagi?

***

“Kita harus pergi dari tempat ini.” Karina berkata ketika ia sudah sampai tempat duduknya tepat di hadapan Evan. Matanya melirik ke arah Aleta yang masih asik memakan makanan di hadapannya.

“Kenapa tiba-tiba pergi? kamu nggak enak badan?”

“Enggak kak, Uum, Darren bilang Aleta nggak bisa sembarangan makan, dia punya banyak alergi.”

“Omong kosong, nyatanya dia baik-baik saja. Ayo, makan makananmu.”

“Uum, Darren sudah menjemput kami.”

“Menjemput? Dia tahu kalau kamu di sini?” Karina mengangguk pelan.

“Tadi dia menelepon aku, dan mau tidak mau aku memberi tahu di mana keberadaanku.”

Evan menghela napas panjang. “Oke, kita pergi. Tunggu Aleta selesaikan makanannya dulu.” Evan berkata dengan acuh tak acuh.

“Kak Evan nggak marah, kan?”

“Ngapain harus marah? Toh aku memang tidak berhak mengajak kalian pergi tanpa persetujuan Darren.”

“Bukan begitu, kak.”

Evan tersenyum. “Kamu nggak perlu jelasin. Sudahlah, aku nggak apa-apa.”

Meski Evan berkata seperti itu, karina merasakan jika lelaki itu tidak sedang baik-baik saja. Entah kenapa Karina merasa tidak nyaman ketika sebuah pemikiran melintasi kepalanya, pemikiran tentang Evan yang mungkin saja….

Tidak! Itu tidak mungkin! Secepat kilat Karina menepis semua pemikiran-pemikiran aneh tersebut.

***

Tidak lama setelah keluar dari restoran tersebut, Karina melihat Darren yang baru keluar dari dalam mobilnya. Lelaki itu kemudian berjalan menuju ke arahnya, seperti biasa, tatapan mata lelaki itu tampak sangar, dan entah kenapa itu mempengaruhi Karina.

Aleta yang biasanya langsung menghambur pada Darren saat bertemu dengan lelaki tersebut, kini berbeda, Aleta tampak tenang seakan ia nyaman saat jemari mungilnya di genggam oleh Evan. Entah kenapa itu membuat Darren tidak suka.

“Oh, jadi Aleta lebih memilih kencan dengan Om Evan dari pada Om Darren?” suara Darren entah kenapa terdengar seperti sebuah sindiran.

“Ya, Om Evan baik, Om Darren jahat.”

“Jahat? Om Darren tidak jahat.” Darren berjongkok tepat di hadapan Aleta. “Ayo pulang dengan Om Darren.”

“Enggak, Om Evan lebih baik. Aleta di belikan banyak mainan dan gula-gula.”

“Om Darren bisa membelikan lebih banyak lagi.”

“Benarkah?” Aleta tampak berbinar.

“Tentu saja. Ayo, pulang sama Om Darren.”

“Tante Karin gimana?”

Darren mendongakkan kepalanya, melirik ke arah Karina yang berdiri tepat di sebelah Aleta. “Tentu tante Karin ikut dengan Om Darren, tante Karin adalah istri Om Darren, Aleta tentu masih ingat dengan itu, bukan?”

Ohh, jangan bertanya bagaimana perasaan Karina saat ini. Di tatap seperti itu dan entah kenapa Karina merasa jika sejak tadi Darren menyindir dirinya, itu membuat Karina kembali mual.

Tanpa basa-basi lagi, Darren menggendong Aleta masuk ke dalam mobilnya, dan dengan canggung Karina berpamitan pada Evan.

“Terimakasih, Kak. Kami pulang dulu.”

“Jangan lupa makan, kamu belum makan.”

Mendengar perhatian dari Evan, Karina tersenyum, “Terimakasih perhatiannya.” Suara klakson mobil Darren mempertegas jika lelaki itu seakan tidak sabar menunggu Karina yang masih sibuk berpamitan dengan Evan, akhirnya Karina menuju ke arah mobil Darren dengan sedikit berjalan cepat.

***

Di dalam mobil suasana terasa berbeda. Aleta sudah tertidur pulas di kursi belakang, mungkin karena bocah itu kelelahan karena seharian bermain hingga kini tertidur begitu pulas. Sedangkan Darren sendiri hanya diam, seakan tidak ingin bertanya atau sekedar menyapa Karina. Itu membuat Karina bingung, sebenarnya apa yang di inginkan lelaki di sebelahnya ini?

“Jadi, senang karena sudah kencan dengan kakakku?”

Karina menoleh ke arah Darren seketika. “Aku nggak ngerti apa maksud kamu.”

Darren tersenyum miring. “Pura-pura polos lagi, Karin?” Darren mencengkeram erat kemudi mobilnya. “Karena keegoisanmu, aku sudah kamu miliki seutuhnya, apa kamu masih kurang hingga kini mendekati kakakku.”

Tiba-tiba Karina merasa mual dengan tuduhan yang di arahkan Darren padanya. “Aku nggak pernah bermaksud untuk mendekati kak Evan”

“Dari apa yang aku lihat, tidak begitu”

“Darren berhenti.”

“Kenapa? Mau merajuk? Aku nggak akan berhenti.”

“Aku mau muntah.”

“Apa?” dengan spontan Darren menghentikan mobilnya, setelah mobil berhenti, Karina keluar dan mulai memuntahkan isi di dalam perutnya. Darren hanya ternganga menatap wanita itu.

***

Karina masuk kembali dengan badan yang sudah lemas. Sedangkan Darren masih tidak berhenti menatap ke arahnya.

“Aku nggak enak badan, tolong biarkan aku tenang sehari ini saja.” Karina memohon.

“Jadi selama ini aku tidak pernah membuatmu tenang? Selama ini aku mengganggumu?”

“Darren, aku lelah dan pertengkaran kita.”

“Seharusnya kamu tahu kenapa kita selalu bertengkar, kenapa aku selalu menyalahkanmu, kenapa aku bersikap seperti ini padamu!”

“Ya, aku tahu karena aku salah. Aku sudah memaksamu menikah denganku, aku sudah membuatmu putus dengan wanita yang begitu kamu cintai, aku salah dan aku pantas mendapatkan hukuman darimu.” Karina mulai menangis lagi. “Aku memang wanita teregois yang pernah ada, dan aku meminta maaf karena itu, Darren.”

Darren mencengkeram erat kemudi mobilnya. “Aku akan memaafkanmu, dengan syarat.”

“Apa?”

“Jadilah Nadine untukku.”

“Aku nggak bisa.”

Darren tersenyum miring. “Kalau begitu maaf, aku tidak akan memaafkanmu.” Darren mulai menyalakan dan mengemudikan mobilnya kembali. Ia ingin segera sampai di rumah, lalu kembali memberikan Karina sebuah hukuman, hukuman karena telah menolak keinginannya, hukuman karena telah membuatnya kesal. Ya, Karina pantas mendapatkan hukuman tersebut.

***

Sampai di rumahnya, Darren lantas menggendong Aleta yang sedang tertidur pulas, ia segera menuju ke dalam kamarnya, sedangkan Karina masih mengikutinya dari belakang dengan langkah lelahnya.

Darren menidurkan Aleta di atas ranjangnya, kemudian tanpa basa-basi lagi ia  berbalik dan menarik lengan Karina masuk ke dalam kamar mandi.

“Kamu mau apa?” Darren tidak menjawab, ia hanya menarik tangan Karina untuk masuk ke dalam kamar mandi lalu mengunci diri mereka berdua di dalam kamar mandi tersebut.

Darren memaksa Karina masuk ke dalam bathub, lalu menyalakan shower yang berada tepat di atas mereka. Karina memekik ketika air shower mulai membasahi tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.

“Apa yang kamu lakukan?” suara Karina bergetar karena ia merasa kedinginan.

“Menghukummu.”

“Apa?”

Dengan kasar Darren melucuti baju Karina yang sudah basah kuyub, mendorong tubuh kurus itu hingga menempel pada dinding, Darren bahkan tidak menghiraukan tubuhnya yang juga ikut basah kuyub karena pancuran air shower. Yang ada dalam kepalanya saat ini hanyalah memuaskan hasrat primitifnya yang entah kenapa selalu terbangun begitu saja  ketika melihat tubuh kurus Karina.

Setelah melucuti pakaian Karina dan juga pakaiannya sendiri, seperti biasa, Darren mulai menyatukan diri tanpa pemanasan sedikitpun, dan itu kembali membuat Karina tersakiti.

Darren menghujam dengan cepat dan kasar, mencari-cari kepuasannya sendiri tanpa menghiraukan wanita yang sedang menahan tangis karena ulahnya. Hingga tak lama, ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

Napas Darren terengah ketika keningnya menempel dengan kening Karina. Matanya terbuka menatap wajah basah Karina yang begitu dekat dengan pandangannya. Wajah sendu, yang tampak sekali raut kesakitan di sana. Apa ia sudah menyakiti wanita ini?

Tentu saja, bodoh!

Dengan spontan Darren  mengangkat wajah Karina hingga wanita itu menatap ke arahnya.

“Kamu hanya perlu menuruti apa mauku, maka aku tidak akan menyakitimu.”

“Aku tidak bisa menjadi Nadine untukmu, aku ingin kamu menerimaku karena aku, bukan karena wanita lain.”

“Dan jika aku tidak bisa menerimamu?”

“Maka aku akan pergi.”

Rahang Darren mengeras seketika. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Karin!”  secepat kilat Darren membalik tubuh Karina hingga membelakanginya.

“Tapi Darren.”

“Tidak ada tapi, kamu milikku, hanya milikku.” Darren kembali menyatukan diri membuat Karina kembali mengerang panjang karena penyatuan yang begitu erotis yang di lakukan oleh Darren. Lelaki itu kembali bergerak, memuaskan diri seperti biasa tanpa menghiraukan rengekan Karina yang memohon pengampunan darinya.

 

-TBC-

Advertisements

10 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 9 (Kamu Milikku)

  1. horeeeee karin hamil , pasti karin hamil …
    q ga ngerti ma jln pikiran na daren , ql cemburu tinggal bilang az , pdhal anak kecil juga tau ql dia lg cemburu … tuh kan bener ql sekrang dia udah mulai kecanduan ma karin , maka na sekarang d otak na cuma ada hukuman buat karin ,…

    oya nadine ma dirga mn bu , ko ga keliatan ??

    Like

  2. Buset nih darren seenak jidat banget
    Pengen banget cemplungin di air comberan.Bilang ama karin tanyain darren nngk usah mandi di bath up mandi di got aja biar juga nggk bisa macam2 hufft yg sabar yah karin

    Like

  3. Ihhh s daren tinggal bilang aja cemburu gitu ko repot,mo enaknya aj,pasti karin hamil d buat pingsan ya karinnya wktu d kmr mandi biar s daren tau klo karin lg hamil,kelabakan” dah

    Like

  4. Darren cemburu masih aja gk mau mengakui…
    Bagus juga siih, Evan deket2 Karina
    Biar Darren cemburu terus, suka liat Darren cemburu…….. 😜

    Like

  5. Darren mulai menunjukan tanda2 cemburu lg pd Karin,,,ah skrg ketauan kan klo sbnrnya km suka Karin,,,, wahhh Karin hamil sprtinya?!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s