romantis

Unwanted Wife – Chapter 8 (Aleta)

Unwanted Wife

“Seperti ini.” Darren mendaratkan bibir basahnya pada permukaan leher Karina. Membuat Karina memejamkan matanya ketika sebuah rasa aneh mulai menggelitik dirinya. “Lalu seperti ini.” Darren kembali menggoda Karina dengan mencumbu telinga Karina.

“Uum, Kak Evan, ti –tidak mungkin melihatku seperti itu.” Karina terpatah-patah, karena ia merasakan sesuatu dari dalam dirinya tersulut begitu saja, sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Tapi yang kulihat seperti itu!” Darren menggeram dengan kesal. “Nadine sudah pergi meninggalkanku, jadi sekarang, kamu harus menggantikan dia untuk menjadi milikku.”

Pengganti? Karina merasakan hatinya berdenyut nyeri ketika menyadari jika ternyata Darren hanya menganggapnya sebagai pengganti seorang Nadine. Hanya pengganti. Kenapa Darren begitu tega dengannya?

Sekuat tenaga Karina melepaskan diri dari tangan Darren. “Aku bukan pengganti siapapun!” teriak Karina sekuat tenaga.

“Kenapa? Kamu marah karena kamu hanya sebagai seorang pengganti?”

Napas Karina memburu saat Darren menarik tubuhnya hingga menempel pada tubuh lelaki tersebut. Astaga, Darren sangat bergairah, Karina dapat merasakannya.

“Puaskan aku.” Hingga kemudian bisikan sensual yang di bisikkan Darren padanya membuat Karina membulatkan matanya seketika.

“Aku nggak mau!”

“Sayangnya kamu tidak memiliki kesempatan untuk menolak.” Dalam sekejap mata Darren sudah mendaratkan bibirnya pada bibir Karina, melumatnya dengan kasar dan penuh gairah. Sedangkan Karina sendiri hanya mampu menikmati cumbuan kasar yang di berikan oleh suaminya tersebut. Ya, cumbuan seperti malam itu, sangat kasar tapi entah kenapa mampu membuat jantung Karina berdegup tak menentu.

Darren, apa yang kamu lakukan denganku? Kenapa aku begitu memujamu walau aku sadar jika kamu sudah sering kali menyakitiku?

 

 

Chapter 8

-Aleta-

 

Pagutan bibir Darren semakin melembut seiring berjalannya waktu, Karina semakin menikmati cumbuan yang di berikan suaminya tersebut padanya hingga tak terasa sesekali ia mengerang dalam hati.

Oh, beginikah rasanya di cumbu oleh orang yang di cintai? Rasanya aneh, seakan Karina merasakan tubuhnya dapat melayang di udara.

Jemari Darren mulai menggoda Karina, berjalan dengan pelan menelusuri leher jenjang wanita yang kini sedang di cumbunya.

Karina mengerang dengan rasa aneh yang merayapi dirinya. Ia merasa jika tubuhnya kini seakan hangus terbakar oleh sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti apa itu. Sedangkan Darren sendiri kini semakin berani, kini jemarinya sudah mendarat pada dada Karina, menggodanya hingga membuat Karina memekik tak nyaman.

“Kenapa?” Darren bertanya ketika tautan bibirnya terlepas karena pekikan Karina.

Karina hanya menggeleng, sedangkan pipinya tak berhenti merona karena malu. Ah, ia bahkan tidak mengerti rasa apa yang kini sedang ia rasakan.

Darren akan kembali melanjutkan apa yang tadi ia lakukan, tapi pergerakannya terhenti ketika pintu kamar mereka di ketuk oleh seseorang. Tanpa sadar keduanya saling pandang sebentar, lalu keduanya tersadarkan dengan suara panggilan dari mama Darren.

Darren mengerutu kesal, tapi ia tetap membuka pintu kamarnya dan mendapati sang mama berada di sana dengan seorang gadis mungil yang langsung menghambur ke arah Darren.

“Om Darren.”

Ah, itu Aleta, bocah centil berusia Empat tahun. Puteri dari Rara, sepupunya. Untuk apa bocah ini di sini?

“Hei, apa yang kamu lakukan di sini?” Darren bertanya pada bocah tersebut.

“Mama dan Papanya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri, jadi dia di titipkan di sini.”

“Apa? Bagaimana mungkin mereka tega meninggalkan puteri mereka? Orang tua macam apa itu?”

“Darren, kamu tahu sendiri jika saat ini di eropa sedang musim salju, sedangkan Aleta tidak bisa beradaptasi dengan musim itu. Mau tidak mau Rara menitipkan dia di sini. Lagian Aleta kan dekatnya sama kamu.”

“Ya, tapi aku sedang tidak ingin dekat dengan siapapun, Ma. Mama tahu sendiri keadaanku.”

“Om Darren nggak cinta lagi sama Aleta?”

“Enggak!” dan setelah jawaban Darren tersebut, bocah itu menangis.

“Aishh, apa yang kamu lakukan?” sang mama tampak kesal dengan Darren. “Karin, kamu mau bantu mama ngurus Aleta, kan beberapa hari ke depan?”

Karina tersenyum dan mengangguk. “Ya, Ma.”

“Dia siapa?” Aleta bertanya pada mama Darren sambil menunjuk ke arah Karina.

“Tante Karin, istri Om Darren.” Darren yang menjawab, meski Darren menjawab dengan nada datar nya tapi mampu membuat pipi Karina merona merah.

“Istri? Istri itu apa?” Darren hanya tersenyum tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan gadis mungil tersebut.

“Sudah-sudah, sekarang Aleta main saja dengan Om Darren, Oma mau bikinin Aleta cemilan dulu.”

“Ma, saya ikut.” Cepat-cepat Karina berkata, entah kenapa ia tidak ingin melanjutkan apa yang tadi telah di lakukan Darren terhadapnya.

Darren sendiri seketika menatap Karina dengan tatapan tajamnya. “Kamu tetap di sini.”

“Tapi aku-”

“Ya Karin, kamu di sini saja. Temani Aleta.” Dan Karina berkhir menghela napas panjang dengan menganggukkan kepalanya. Sungguh, sebenarnya Karina ingin sedikit menghindar dari Darren, entah kenapa sikap lembut lelaki itu membuat Karina semakin salah tingkah.

***

Malamnya, Darren menggerutu kesal karena ternyata Aleta ingin tidur sekamar dengannya dan juga Karina. Ya, Aleta memang sangat dekat dengan Darren, bahkan gadis mungil itu berharap jika nanti akan menikah dengan Darren. Darren sudah seperti orang yang ia idolakan.

“Jadi dia benar-benar tidur di sini?” tiba-tiba Darren bertanya ketika Karina sibuk membereskan tempat tidur mereka.

“Ya, dia ingin tidur di sini.” Karina melirik bocah yang sudah tertidur pulas di atas ranjangnya.

Darren mendengus sebal. “Aku nggak bisa tidur dengan orang banyak.”

“Aku akan tidur di sofa. Kamu bisa tidur di sini dengan Aleta.” Karina menunjuk ranjang yang telah selesai ia bereskan.

Darren hanya menatap Karina dengan tatapan anehnya, dan itu benar-benar membuat Karina salah tingkah.

“Ada apa?”

“Urusan kita tadi sore belum selesai.”

Pipi Karina memerah. “Urusan apa?”

“Tentang kedekatanmu dengan Evan. Jadi, kalian benar-benar dekat sampai dia lebih tahu semua tentangmu dari pada aku?”

“Aku nggak tahu apa yang kamu maksud.”

“Maksudku, jika kamu sangat dekat dengannya, kenapa saat itu kamu meminta aku untuk menikahimu? Kenapa tidak meminta Evan saja?”

“Aku…”

“Kenapa?”

Karina hanya menundukkan kepalanya.

“Kamu nggak bisa jawab? Karena kamu iri dengan Nadine yang bisa selalu dekat denganku? Atau karena kamu tidak ingin melihat aku bersatu dengan Nadine?”

“Aku mencintaimu, Darren.”

Darren tertawa mengejek. “Cinta? Cinta itu tidak egois, Karin, jika kamu mencintai seseorang, kamu akan melakukan apapun supaya orang tersebut bahagia, meskipun itu menyakiti hatimu.”

“Aku hanya ingin selalu bersamamu.”

“Itu bukan cinta, itu hanya sebuah obsesi.”

Karina mulai menangis.

“Aku muak melihat tangismu.”

“Apa, apa salah jika aku menginginkan lebih? Aku, aku tidak pernah dekat dengan lelaki lain, kecuali dengan kedua kakak kembarku, kak Evan dan juga denganmu. Sedangkan Nadine sangat mudah bergaul dengan lelaki lain. Aku hanya ingin memiliki sesuatu yang aku inginkan.”

“Meski itu milik sahabatmu sendiri?”

Karina hanya diam.

“Kamu bisa meminta Evan untuk menikahimu saat itu, tapi kenapa harus aku?”

“Karena aku mencintaimu.” Karina menegaskan sekali lagi.

“Dan aku tidak! Mencintai tidak harus memiliki, seharusnya kamu mengerti istilah itu.” Darren mengacak rambutnya frustasi. “Sudahlah, lupakan saja. Toh sekarang aku sudah kehilangan semuanya, harusnya kamu puas dan bahagia dengan semua ini.”

Darren bersiap pergi tapi suara Karina menghentikan langkahnya. “Aku tidak bahagia saat melihatmu sakit.” Kalimat itu terdengar bergetar dan begitu rapuh di telinga Darren. “Tapi aku berharap suatu saat kamu akan bahagia bersamaku.”

“Jika saat itu tidak pernah terjadi?”

“Aku, aku…”

“Kenapa?”

“Aku akan meninggalkanmu.”

“Dan apa kamu pikir setelah kamu meninggalkanku, aku akan bahagia?” Darren kembali tersenyum mengejek. “Aku tidak akan pernah bahagia ketika wanita yang kucintai sudah menjadi milik orang lain.” Setelah kalimatnya tersebut, Darren pergi begitu saja meninggalkan Karina yang terpaku karena ucapannya.

Air mata Karina jatuh begitu saja, ia tahu jika lelaki itu sudah hancur. Ia telah menghancurkan lelaki yang begitu ia cintai, bagaimana mungkin ia bisa sebodoh ini? Hatinya terasa sakit saat melihat Darren yang juga tersakiti.

Inikah Neraka yang di ucapkan Darren? Karena entah kenapa Karina merasakan jika dirinya kini hidup di dalam neraka, hidup penuh dengan kesakitan karena melihat orang yang ia cintai tersakiti karena ulahnya sendiri.

“Tante Karin kenapa?” suara Aleta membuat Karina tersadar jika gadis mungil tersebut ternyata terjaga dari tidurnya.

“Kamu kok bangun?”

“Aleta dengar Om Darren marah-marah, jadi Aleta bangun.” Gadis mungil itu menjawab dengan begitu polos.

Karina tersenyum. “Om Darren nggak marah.”

“Tapi tante Karin menangis.”

Dengan spontan Karina memeluk Aleta. “Tante nggak nangis, udah ya, kita bobok lagi.”

“Om Darren jahat, nanti Aleta mau marahin Om Darren.” Karina hanya tersenyum, ia semakin mengeratkan pelukannya pada gadis mungil tersebut.

***

Pagi itu, suasana canggung menyelimuti ruang makan keluarga Darren. Di sana ada Darren dan Evan yang duduk saling berdiam diri dan sibuk dengan aktifitas masing-masing tanpa saling tegur sapa. Sedangkan Karina memilih menyuapi Aleta sambil sesekali melirik ke arah Darren dan juga Evan.

Ini adalah pertama kalinya Darren dan Karina bertemu kembali dengan Evan setelah kemarin sore Darren dan Evan bersitegang. Evan tidak ikut makan malam bersama malam itu, dan kini ketiganya di hadapkan dalam situasi canggung ketika sarapan bersama.

Tidak ada bedanya dengan Darren dan Karina, setelah cekcok mereka semalam, keduanya tidak bertemu lagi hingga pagi ini. Darren bahkan memilih tidur di ruang kerjanya dari pada tidur bersama dengan Karina dan Aleta. Saat ini lelaki itu bahkan bersikap lebih dingin lagi dari sebelumnya. Karina ingin menyapa, tapi tentu saja ia mengurungkan niatnya karena ekspresi Darren yang tampak mengerikan di matanya.

“Tante, apa nanti guru di sekolahnya galak?” tanya Aleta dengan polos.

Karina yang kini sedang menyuapi Aleta akhirnya tersenyum mendengar pertanyaan polos tersebut. Karina tadi memang berniat mengajak Aleta ikut serta ke sekolah tempatnya mengajar. Ia tidak mungkin membiarkan Aleta di rumah sendiri apalagi ikut Darren ke kantor, jadi Karina berinisiatif mengajak Aleta ikut serta.

“Enggak, tante yang akan menjadi gurunya.”

“Hore kalo tante Karin yan jadi gurunya, Aleta mau sekolah, kalo Om Darren, Aleta nggak mau, Om Darren galak.”

Daren mendelik dengan apa yang di katakan Aleta. “Galak? Siapa yang bilang Om galak?” tanya Darren.

“Aleta dengan Om Darren marah-marah sama tante Karin tadi malam, Aleta nggak suka.”

Darren hanya tercengang, sedangkan Karina tampak salah tingkah. “Uum, Aleta, Om Darren nggak marahin tante Karin kok.”

Darren melirik ke arah Evan, kakaknya itu masih duduk santai, tapi terlihat jelas jika kakaknya itu sedag tegang. Kenapa? Apa karena kakaknya itu tidak suka dengan kenyataan bahwa ia telah memarahi Karina seperti yang di ucapkan Aleta?

Darren tersenyum miring. “Om nggak marah, Aleta, Om Darren cuma sedikit berdiskusi dengan tante Karin.”

“Berdiskusi?”

Darren masih tersenyum sesekali melirik ke arah kakaknya. “Ya, berdiskusi tentang adik baru untuk kamu.”

Karina membulatkan matanya seketika. Oh jangan di tanya lagi bagaimana saat ini ekspresi bodoh yang di tampilkan oleh Karina. Darren seperti orang yang sedang menggoda dan entah kenapa Karina tergoda hingga membuat pipinya memanas dan dia salah tingkah.

-TBC-

Advertisements

6 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 8 (Aleta)

  1. tbc na itu loo yng bikin pusing , ciyeeeeee daren segaja tu biar evan cemburu , kek na daren udah kecanduan ma elena maka na dia ga rela aleta tidur d kamar mereka 😊😊. bu pnjangin dikit napa , udah ngeshare na lama , d pendekin pula .

    Like

  2. Knpa c Darren kyknya sngja bgt buat manas2in Evan ,,,kasian kan Evan… Sadarlah Darren jgn trlalu kasar ama Karin ntar nysel lg.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s