romantis

Unwanted wife – Chapter 7 (Pengganti)

Unwanted Wife

“Nadine, dia sudah bukan milikku lagi, dia memutuskanku, dia benar-benar meninggalkanku, kenapa kamu melakukan semua ini pada kami, Karin?”

Dan Karina sudah tak mampu lagi mendengar suara Darren yang terdengar bergetar di telinganya. Dengan spontan Karina mendekatkan diri, lengan rapuhnya begitu berani terulur memeluk tubuh kokoh suaminya tersebut dari belakang.

“Aku minta maaf.” Karina menangis. Wajahnya menyandar pada punggung Darren, air matanya kembali menetes, dan ia kembali terisak. Sungguh, melihat Darren serapuh ini, Karina benar-benar melupakan sikap kasar yang berkali-kali di berikan Darren padanya. Ia merasa bersalah, terlebih lagi hatinya terasa sakit saat mengingat jika kesedihan Darren bermula dari dirinya.

Tubuh Darren menegang, ketika merasakan lengan kurus itu memeluknya dari belakang. Oh Karina, terbuat dari apakah hatimu? Berkali-kali sudah aku menyakitimu, tapi kamu seakaan tidak lelah menempel padaku. Apa yang harus ku lakukan padamu?

Tanpa di duga, Darren membalikkan tubuhnya menghadap tubuh Karina, lengannya terulur begitu saja mengusap lembut pipi Karina, tatapan mata Darren melembut ke arah Karina, lalu dia berkata “Nadine sudah meninggalkanku, dia benar-benar meninggalkanku.”

“Maafkan aku, aku hanya-”

“Jangan tinggalkan aku seperti yang di lakukan Nadine padaku.” Darren memotong kalimat Karina dengan kalimat tersebut, lelaki itu kemudian memeluk erat tubuh Karina dengan lengan kekarnya. Sedangkan Karina sendiri hanya terpana dengan apa yang baru saja di ucapkan dan yang sedang di lakukan oleh suaminya iti.

Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Apa benar Darren tidak ingin Karin menginggalkannya?

***

Chapter 7

-Pengganti-

 

Darren merasa sangat frustasi, kenapa jalan hidupnya menjadi seperti ini? Kenapa setiap wanita yang di cintainya harus berakhir meninggalkannya? Jika dulu Karina, kenapa sekarang Nadine juga meninggalkannya? Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?

Darren merasakan dadanya di dorong sekeras mungkin oleh wanita yang kini sedang ia cumbu penuh dengan kerinduan. Ketika tautan bibirnya terputus, ia melihat wanita yang begitu ia cintai menangis karena ulahnya.

“Kita sudah nggak bisa bersama lagi.”

“Aku masih ingin bersama!”

Tampak Nadine menggelengkan kepalanya pelan. “Maaf, aku nggak bisa.”

“Nadine.”

“Aku, aku sudah jadi istri orang.” Setelah kalimatnya itu, Nadine pergi begitu saja meninggalkan Darren yang tercengang menatap kepergiannya.

“Jangan pergi, jangan pergi, jangan pergi…..”

 

Darren membuka matanya seketika, dan ia baru sadar jika dirinya masih memeluk tubuh Karina, istrinya. Darren menundukkan kepalanya, menatap ke arah wanita yang kini masih dalam pelukannya, wanita itu tampak damai dalam tidurnya, dan perasaan Darren semakin di buat kacau karena pemandangan tersebut.

“Jangan tinggalkan aku seperti yang di lakukan Nadine padaku.” Darren mengingat pernyataannya tadi malam kepada Karina. Apa yang sedang ia bicarakan? Kenapa ia berkata seperti itu? Sial!

Darren menatap kembali wajah Karina, lalu bayangan Nadine ketika memutuskannya mencul begitu saja dalam kepalanya. Bayangan itu tadi sama persis seperti mimpi buruk yang baru saja ia alami. Apa ia harus mulai melupakan Nadine? Lalu menerima Karina dan belajar mencintai wanita itu lagi? Tidak! Seharusnya bukan seperti ini, seharusnya ini tidak terjadi.

Darren melepaskan pelukannya pada tubuh Karina sepelan mungkin supaya wanita itu tidak terbangun dari tidurnya, Darren lalu bangkit dan meninggalkan Karina menuju ke arah kamar mandi.

***

Karina menggeliat dalam tidurnya, matanya sedikit demi sedikit terbuka. Oh, tidurnya malam ini benar-benar sangat nyenyak, kenapa? Apa ada hubungannya dengan pernyataan Darren tadi malam? Mengingat itu Karina tersenyum malu. Apa tadi malam Darren sadar ketika mengucapkan kalimat itu? Karina masih saja tersenyum malu-malu hingga suara berat itu membuat Karina berjingkat karena terkejut.

“Sudah bangun?”

Karina menoleh ke arah suara tersebut, nyatanya itu Darren, yang kini sudah rapi dan duduk tepat di sebelah jendela kamar mereka, tatapan mata Darren tertuju pada Karina, dan entah kenapa itu membuat Karina malu, pipinya bersemu merah ketika sadar jika mungkin saja Darren sejak tadi sudah menatap ke arahnya sejak ia masih tertidur.

“Ya, uum, maaf, aku kesiangan.” Karina membenarkan letak selimut yang kini membalut tubuhnya yang masih polos.

“Nggak apa-apa, mandilah, kita akan kembali ke Jakarta.”

Karina mengerutkan keningnya mendengar kalimat Darren tersebut. Bukan tentang isi kalimat itu, tapi tentang nada bicara lelaki itu padanya. Sedikitpun Darren tidak terdengar dingin atau datar seperti biasanya, kenapa? Apa lelaki itu kini sudah berubah? Tidak mungkin.

Karina bangkit dan akan menuju ke arah kamar mandi, tapi kemudian Darren juga ikut bangkit, jemari Darren terulur, dengan spontan Karina mundur. Entahlah, Karina hanya takut, jika tiba-tiba saja Darren berlaku kasar terhadapnya.

“Aku tidak akan menyakitimu.”

Kalimat itu membuat Karina tertegun. Sebenarnya ada apa dengan Darren? Apa lelaki itu sedang mengigau? Mabuk mungkin? Oh yang benar saja.

Karina hanya menundukkan kepalanya ketika tiba-tiba jemari Darren mengusap lembut pipi kirinya.

“Mandilah.” Dengan canggung Karina mengangguk pelan. Lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Darren.

***

Setelah keluar dari dalam kamar mandi, kegugupan kembali melanda Karina karena melihat Darren yang masih berada di sana, menatapnya dengan tatapan anehnya. Oh, untung saja ia sudah mengenakan pakaian lengkapnya sejak di dalam kamar mandi.

Dengan gugup Karina menuju ke arah kopernya kemudian memasukkan berapa barang-barangnya yang masih berserahkan di dalam kamar tersebut tanpa menghiraukan Darren yang masih menatapnya.

Tiba-tiba Karina merasakan jemari Darren meraih pergelangan tangannya, sontak Karina menghentikan pergerakannya, lalu tatapan matanya menatap ke arah Darren yang kini sudah berdiri tepat di sebelahnya.

“Ada apa?”

Darren tidak menjawab, tapi ia malah membuka perban di pergelangan tangan Karina.

“Apa masih sakit?” tanyanya dengan nada lembut.

Jantung Karina berdebar lebih cepat lagi dari sebelumnya karena pertanyaan lembut yang di tanyakan Darren padanya. Karina hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Sudah di obatin?” tanya Darren sembari menatap pergelangan tangan Karina dengan seksama.

“Sudah, tadi.” Darren membalut kembali pergelangan tangan tersebut dengan hati-hati. Karina semakin salah tingkah di buatnya, sebenarnya ada apa dengan lelaki itu? Kenapa dia sangat berbeda? Apa Darren sudah berubah? Tidak mungkin!

“Oke, bereskan barang-barangmu, dan kita pergi secepatnya.” Karina mengangguk pelan.

***

Sampai di lobi, ternyata di sana Karina dan Darren bertemu dengan keluarga Karina, termasuk Dirga dan Nadine. Tubuh Karina menegang seketika saat merasakan jemari Darren menggenggam jemarinya.

Semuanya berdiri di sana dalam keadaan tegang. Karina melihat Nadine menundukkan kepalanya, lalu ia juga melihat sang kakak yang wajahnya masih babak belur sedang mengepalkan kedua belah telapak tangannya.

“Kalian akan pulang?” suara lembut sang mama membuat Karina bersyukur karena dapat memecah keheningan di antara mereka.

“Ya, Ma.” Setelah jawaban dari Karina, semuanya kembali diam. Canggung dan tegang karena suasana yang tercipta di antara mereka.

“Ayo kita pergi.” ajak Darren sembari menarik telapak tangan Karina yang telah di genggamnya dengan begitu erat. Karina hanya mengikuti Darren. Tapi baru beberapa langkah ia meninggalkan keluarganya, suara teriakan Dirga membuat Darren dan Karina menghentikan langkahnya.

“Lo akan menyesal kalo sampai lo nyakitin adek gue.”

Darren menolehkan kepalanya ke arah Dirga kemudian tersenyum miring pada lelaki tersebut, tatapan matanya kemudian teralih pada Nadine, dan Darren kembali menyunggingkan senyuman miringnya pada wanita itu. Lalu tanpa berkata lagi, Darren pergi dengan genggaman tangannya yang semakin erat pada jemari Karina.

***

Hingga sampai di rumah, Darren tidak lagi bersuara meski jemari lelaki tersebut tak pernah lepas dari menggenggam jemari Karina. Entah apa yang di pikirkan Darren, yang jelas, Karina bahkan tidak berani untuk memulai pembicaraan dengan suaminya itu.

Darren keluar dari dalam mobilnya, mengeluarkan barang-barang mereka dari dalam bagasi mobil, sedangkan Karina hanya melihat tanpa tahu apa yang harus ia lakukan

“Hai, sudah balik.” Suara ramah itu membuat Darren dan Karina menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, dan mendapati Evan yang sudah berdiri tak jauh dari tempat Karina berdiri

“Hai.” Karina membalas sapaan dari Evan. “Iya, baru pulang.”

“Kok cepat, kenapa nggak tinggal lebih lama? Apa Bali membuat kalian bosan?”

“Oh enggak, Bali sangat indah, tapi kak Evan tahu sendiri, Darren harus kerja dan aku juga harus ngejar.”

“Ngajar?” Darren menatap Karina penuh tanya.

“Uum, iya, itu, aku gantiin temanku ngajar.”

“Dimana? Kenapa aku nggak tahu?” desak Darren.

“Mungkin karena lo terlalu sibuk dan Karin lupa mau kasih tahu lo.” Evan menjawab. Tapi darren tidak puas dengan jawaban kakaknya tersebut.

Darren tampak menunggu jawaban dari Karina.

“Kupikir kamu nggak mau tahu kegiatan yang aku lakuin di luar sana.”

“Apa dia tahu?” Darren menunjuk ke arah Evan dengan pertanyaan yang ia tanyakan dengan nada yang tidak enak di dengar.

Evan tertawa menanggapi dengan santai pertanyaan dari adiknya tersebut. “Lo kayak anak kecil, memangnya kalau gue tahu kenapa?”

“Gue nggak sedang bercanda sama lo.” Darren berkata penuh dengan penekanan. Oh, jangan di tanya lagi bagaimana ekspresinya saat ini.

“Darren, kak Evan tahu karena saat itu dia yang jemput aku ketika aku pulang dari ngajar.”

“Jemput?” Darren menatap Karina dan Evan secara bergantian, lalu berakhir mengumpat dalam hati. Tanpa banyak bicara lagi dia pergi begitu saja meninggalkan Karina dan juga Evan, masuk ke dalam rumahnya.

“Dia kenapa?”

Karina menghela napas panjang. “Mungkin Darren masih kesal dengan pernikahan Nadine dan Mas Dirga.”

“Apa?” Evan tampak terkejut dengan jawaban Karina.

“Kak Evan nggak tahu? Mas Dirga nikah sama Nadine, resepsinya minggu depan, kami ke Bali untuk memastikan kabar itu.”

“Kakakmu benar-benar sialan! Bisa-bisanya dia nggak ngasih tahu aku.”

“Aku saja tidak tahu kalau dia nikah.” Karina menjawab sembari menundukkan kepalanya. Evan tersenyum sambil menatap ke arah Karina, tapi kemudian senyumya hilang saat tatapan matanya teralih pada pergelangan tangan Karina yang di balut oleh sebuah perban tipis.

“Ini kenapa?” tanya Evan sambil meraih pergelangan tangan Karina dan menatapnya lekat-lekat.

“Uum, itu..” Karina tidak tahu harus menjawab apa, tidak mungkin ia menjawab jika luka itu karena ulah Darren yang mengikat erat pergelangan tangannya dengan ikat pinggang lelaki tersebut yang terbuat dari kulit saat mereka melakukan seks.

“Kenapa Karin?” Evan mendesak, tapi Karina tetap bungkam. “Apa ini karena Darren?” Karina masih tidak menjawab, tapi Evan tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.

Secepat kilat Evan meninggalkan Karina menuju ke arah kamar Darren, sedangkan Karina sendiri memilih berlari mengikuti Evan.

Evan membuka dengan kasar kamar Darren yang memang tidak terkunci, di dalam sana ia mendapati Darren yang masih duduk di pinggiran ranjangnya sambil memainkan ponselnya.

Seketika itu juga Darren berdiri ketika menatap penuh tanya wajah Evan yang tampak sangar dalam pandangannya.

“Ngapain lo?”

Secepat kilat Evan berjalan ke arah Darren, mencengkeram kerah kemeja yang di kenakan adiknya tersebut dan bertanya penuh dengan penekanan.

“Lo apain Karina?”

Darren mengangkat sebelah alisnya. “Bukan urusan lo.”

“Brengsek! Gue tanya lo apain Karina?” Evan tampak sangat emosi, dan itu menyulut emosi dalam diri Darren.

“Lo yang brengsek! Karin istri gue, milik gue, mau gue apain sesuka hati gue, itu bukan urusan lo!”

“Gue nggak akan ngebiarin lo nyakitin dia, sialan!”

“Kak!” Karina datang memisah keduanya. “Aku nggak apa-apa, sungguh.”

“Tapi tangan kamu luka.” Evan berkata penuh perhatian.

“Ini nggak apa-apa kak.” Karina menjawab setenang mungkin, berharap jika Evan tidak terlalu khawatir dengan keadaannya.

Evan menatap tajam ke arah Darren. “Kalau sampai dia kenapa-kenapa gara-gara lo, gue nggak segan-segan membalasnya.” Evan kemudian berjalan keluar.

“Lo ngancam gue? Karin milik gue, ingat itu, jadi gue berhak ngelakuin apa aja pada tubuhnya.”

Evan berdiri mematung membelakangi Darren dan Karina, tubuhnya menegang karena pernyataan yang terlontar dari bibir Darren. Ya, Karina memang milik Darren, apa haknya melarang Darren menyentuh istrinya sendiri? Tapi di sisi lain, Evan tidak tega melihat Karina yang selalu tampak kesakitan ketika bersama dengan Darren.

Masih dengan mengepalkan telapak tangannya, Evan memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar Darren begitu saja. Ia terlalu marah, marah ketika melihat keadaan wanita yang begitu ia cintai tampak rapuh di tangan adiknya sendiri, sedangkan dirinya tidak memiliki kuasa untuk menolong wanita tersebut.

***

Karina meremas kedua belah telapak tangannya, perasaannya campur aduk, ia gugup, dan juga bercampur takut saat melihat ekspresi wajah Darren yang masih mengeras meski Evan sudah cukup lama meninggalkan kamar mereka.

“Kenapa kamu tidak mengejarnya?” pertanyaan itu di tanyakan Darren dengan nada dingin seperti biasnya, bukan nada lembut seperti tadi pagi. Astaga, bagaimana mungkin lelaki ini dapat dengan cepat merubah suasana hatinya?

“Kenapa aku harus mengejarnya?”

Darren mendengus sebal. “Baru tadi pagi aku berusaha melupakan semuanya dan mencoba memulai semuanya dari awal denganmu, tapi kamu sudah mengkhianatiku seperti yang di lakukan Nadine padaku.”

Karina tersentak dengan kalimat yang di ucapkan Darren. Apa lelaki itu bilang? Mencoba memulai semuanya dari awal dengannya? Apa Darren serius? Dan astaga, mengkhianati bagaimana maksud Darren?

“Darren, aku tidak mengkhianatimu.”

“Benarkah? Kupikir kedekatanmu dengan kakakku merupakan kedekatan yang special.”

“Kak Evan sangat baik padaku, dia seperti kakakku sendiri.”

“Tapi kupikir dia tidak melihatmu seperti itu.”

“Darren, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud.” Sungguh, Karina memang tidak mengerti apa yang di maksud Darren dan apa yang di inginkan lelaki itu.

Darren mendekat ke arah Karina dengan gerakan mengintimidasi, membuat Karina sedikit ngeri dengan tatapan yang di berikan lelaki itu terhadapnya.

Darren mengangkat dagu Karina, menelusuri wajah cantik itu dengan tatapan matanya. “Maksudku adalah, dia melihatmu seakan-akan ingin memilikimu.”

“Me -memiliki?”

“Seperti ini.” Darren mendaratkan bibir basahnya pada permukaan leher Karina. Membuat Karina memejamkan matanya ketika sebuah rasa aneh mulai menggelitik dirinya. “Lalu seperti ini.” Darren kembali menggoda Karina dengan mencumbu telinga Karina.

“Uum, Kak Evan, ti –tidak mungkin melihatku seperti itu.” Karina terpatah-patah, karena ia merasakan sesuatu dari dalam dirinya tersulut begitu saja, sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Tapi yang kulihat seperti itu!” Darren menggeram dengan kesal. “Nadine sudah pergi meninggalkanku, jadi sekarang, kamu harus menggantikan dia untuk menjadi milikku.”

Pengganti? Karina merasakan hatinya berdenyut nyeri ketika menyadari jika ternyata Darren hanya menganggapnya sebagai pengganti seorang Nadine. Hanya pengganti. Kenapa Darren begitu tega dengannya?

Sekuat tenaga Karina melepaskan diri dari tangan Darren. “Aku bukan pengganti siapapun!” teriak Karina sekuat tenaga.

“Kenapa? Kamu marah karena kamu hanya sebagai seorang pengganti?”

Napas Karina memburu saat Darren menarik tubuhnya hingga menempel pada tubuh lelaki tersebut. Astaga, Darren sangat bergairah, Karina dapat merasakannya.

“Puaskan aku.” Hingga kemudian bisikan sensual yang di bisikkan Darren padanya membuat Karina membulatkan matanya seketika.

“Aku nggak mau!”

“Sayangnya kamu tidak memiliki kesempatan untuk menolak.” Dalam sekejap mata Darren sudah mendaratkan bibirnya pada bibir Karina, melumatnya dengan kasar dan penuh gairah. Sedangkan Karina sendiri hanya mampu menikmati cumbuan kasar yang di berikan oleh suaminya tersebut. Ya, cumbuan seperti malam itu, sangat kasar tapi entah kenapa mampu membuat jantung Karina berdegup tak menentu.

Darren, apa yang kamu lakukan denganku? Kenapa aku begitu memujamu walau aku sadar jika kamu sudah sering kali menyakitiku?

 

-TBC-

Advertisements

8 thoughts on “Unwanted wife – Chapter 7 (Pengganti)

  1. yaa ampun q ikut dagdigdug , q ga biasa dengan daren yng kek gitu , bener” mmbuat q gila , q lebih suka daren yng sadis 😂😂.
    ciyeeeeee ada yng cemburu , ternyta bener dugaan q ql daren pernah suka ma karine , tapi knp dia berhenti menyukai karine , apa karna evan ??
    seperti na karine udah ter biasa dengan cumbuan kasar dari daren dan seperti na dia udah mulai menikmati , tpi tidak dengan daren karna seperti na dia malah sudah ga biza buat ga menyentuh karine …

    Like

  2. Aku ega tau jalan pikiran karina , dan apa apa deren penganti ??? Ohh yya ntar penganti jadi ketagihan lagi , haduhhh …

    Like

  3. Jdi dlu Darren mencintai Karina,,qu kira hanya skdar kagum aja…
    Mgkin Darren brpikir Karin itu suka ama Evan dan dia mnyerah dan memilih brsma Nadine..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s