romantis

Evelyn – Chapter 3 (Rasa Aneh)

Evelyn

“Apa yang anda lakukan, Nona?”

“Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Eva, hanya panggil Eva.  Atau mungkin sayang.”

Fandy menghela napas panjang. “Apa yang kamu mau?”

Eva tersenyum ketika Fandy sudah tidak bersikap formal padanya.

“Aku mau kamu.” Eva mendongakkan wajahnya seakan menantang Fandy.

“Berhenti main-main, aku tidak suka dengan gadis kecil sepertimu.”

Eva membulatkan matanya seketika. “Gadis kecil katamu? Walau umurku belum sembilan belas tahun, tapi aku sudah bisa memuaskan laki-laki, tahu!”

“Aku tidak suka perempuan yang sudah pernah memuaskan laki-laki.”

“Uum, maksudku aku belum pernah, tapi aku bisa.”

“Lupakan, lebih baik kamu jauhi aku.”

“Tidak, aku tidak akan menjauhimu, dan kamu tidak akan bisa menjauh dariku.”

“Kenapa?”

“Karena kamu milikku.” Kalimat itu di katakan Eva dengan penuh penekanan. Eva semakin mendekatkan dirinya, kakinya bahkan sudah berjinjit untuk menggapai wajah Fandy yang memang jauh lebih tinggi darinya. “Kamu milikku, Fan. Dan kamu tidak bisa menolakku.”

***

Chapter 3

Rasa Aneh-

 

“Kamu milikku, Fan. Dan kamu tidak bisa menolakku.”

Dengan sigap Fandi meremas kedua pundak Eva dengan kedua tangannya, kemudian menjauhkan gadis tersebut dari tubuhnya.

“Berhenti menempel padaku, asal kamu tahu, aku bisa menolak apapun yang tidak aku suka.”

Eva tersenyum mengejek. “Sayangnya, aku bukan salah satu dari sesuatu yang tidak kamu suka.”

“Jangan terlalu percaya diri.”

“Oke, bagaimana dengan ini?” Eva berjinjit kemudian menggapai bibir Fandy dengan bibirnya, mengecup singkat bibir lelaki tersebut dengan bibir lembutnya.

Fandy benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja di lakukan Eva, bagaimana mungkin gadis ini begitu berani menciumnya? Apa gadis ini tidak memiliki rasa malu lagi?

“Apa yang kamu lakukan?” Fandy menjauhkan Eva dari tubuhnya.

“Menciummu.”

Fandy mendengus sebal. “Dengar, tidak semua pria suka di goda bahkan di cium sembarangan oleh gadis kecil sepertimu.”

“Aku bukan gadis kecil.”

“Bagiku kamu gadis kecil.”

Dengan kesal Eva mendorong-dorong tubuh Fandy sekuat tenaganya hingga lelaki itu terjengkang di atas ranjang besar milik Eva.

“Aku akan memperlihatkan padamu jika aku bukan gadis kecil lagi.”

Dengan sigap Eva naik ke atas tubuh Fandy yang kini sudah setengah terbaring, jemari Eva dengan cepat membuka setelan yang masih di kenakan oleh Fandy. Eva tertegun menatap pakaian lelaki tersebut, sebuah rompi dengan sebuah pistol di dalamnya.

“Kenapa?” tanya Fandy saat melihat Eva diam menatap pistolnya.

“Kamu punya pistol?”

“Semua pengawal di rumah ini punya.”

“Kamu bisa menembak?”

“Aku bahkan bisa membunuh seseorang yang ku kehendaki.”

“Orang seperti apa?” Eva bertanya dengan wajah polosnya.

“Orang seperti kamu, pemaksa yang hampir memperkosa pengawalnya sendiri.” sindir Fandy.

Eva bangkit seketika. “Hei, aku bukan pemerkosa, tahu!”

Fandy ikut bangkit. “Apapun itu, aku tidak suka kamu berperilaku genit padaku.”

Eva tersenyum miring. “Tidak suka? Aku bahkan merasakan bukti gairahmu saat aku menaikimu tadi.” sindir Eva sambil tertawa lebar.

Fandy mencoba tidak menghiraukan sindiran Eva tadi. Ia memilih merapikan kembali pakaiannya.

“Kenapa aku di suruh ke sini?”

“Aku cuma mau bilang, kalau kamar kamu besok sudah pindah.”

“Pindah?”

“Ya, kamu tidak lagi tidur di paviliun belakang rumah ini, tapi akan tidur di sebelah kamarku ini.”

“Apa?!” Fandy tercengang dan Eva tertawa lebar. Oh, Fandy masih tak habis pikir, sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis di hadapannya tersebut?

“Ya, karena kamu sudah jadi pacarku, maka kamu nggak boleh jauh-jauh dariku.”

“Aku bukan pacarmu.”

“Ya, kamu pacarku!”

Dan Fandy mengalah, ia hanya bisa menghela napas panjang. “Apa ada lagi?”

“Enggak.”

Setelah jawaban Eva tersebut, Fandy bersiap keluar dari dalam kamar Eva, tapi kemudian dengan manjanya Eva bergelayut pada lengan Fandy.

“Jangan pergi.”

“Aku harus istirahat, besok harus jagain kamu lagi.”

“Kamu baru boleh pergi setelah aku sudah tidur.” Eva berucap dengan nada yang di buat manja.

“Apa?”

“Pokoknya aku mau di temani sampai aku tidur!” Eva menyeret Fandy untuk kembali duduk di atas ranjangnya, setelah itu ia melemparkan tubuhnya sendiri di atas ranjang. “Ayo, kemarilah, peluk aku.”

“Kamu gila?” Fandy masih tidak habis pikir dengan Eva. Sial! Apa gadis itu tidak bisa melihat ketegangan sialan di pangkal pahanya tadi? Apa Eva memang berniat menggodanya hingga ia tak mampu menahan diri?

“Iya, aku memang gila, sekarang cepat kemarilah, aku tidak bisa tidur kalau tidak di peluk.”

“Memangnya selama ini siapa yang peluk kamu saat kamu tidur?”

“Mama, dan sekarang mama nggak ada, jadi kamu yang harus memelukku sampai aku tertidur pulas.”

Fandy mengembuskan napas kasar. Tapi ia tetap mematuhi apa yang di perintahkan Eva. Ah sial, gadis kecil ini nyatanya mampu membuatnya menegang seutuhnya.

***

Paginya, Eva terbangun sendiri. Seperti kemarin, ia terbangun karena mendengar bisik-bisik dari para pelayan di kamarnya. Eva bangkit kemudian menatap di sekeliling kamarnya. Fandy sudah tidak ada, apa lelaki itu pergi saat ia masih tidur? Atau baru pergi pagi ini?

Eva Berdiri, kemudian seorang pelayan menghampirinya, membawakannya sebuah handuk sembari berkata “Air hangat sudah siap, Nona.”

Seperti anak kecil, Eva menuju ke arah kamar mandinya sambil sesekali mengucek matanya.

“Dimana Fandy?” tanyanya pada pelayannya tersebut.

“Fandy?” sang pelayan tampak bingung.

“Iya, Fandy, pengawalku.”

“Oh, Fandy tentu ada di paviliun belakang mansion ini, Nona.”

“Apa? Bukannya tadi malam dia tidur di sini?” tanya Eva dengan begitu polosnya.

“Tidur di sini?” sang pelayan membulatkan matanya seketika saat mengetahui fakta tersebut.

“Umm, maksudku, dia di tugaskan Nenek untuk mengawalku sampai aku tertidur pulas.”

“Oh, mungkin Fandy keluar saat anda sudah tertidur, Nona.”

Eva menggerutu kesal. “Padahal aku ingin di temani sampai pagi. Apa kalian bisa memanggilkan dia untukku?”

“Untuk apa Nona?”

“Untuk apa? Tentu saja untuk mengawalku.”

“Baik, Nona.” Dan sang pelayan akhirnya bergegas pergi meninggalkan Eva untuk mencari keberadaan Fandy.

***

Fandy mendengus sebal karena pagi-pagi sekali dirinya sudah di suruh untuk menghadap gadis manja yang bernama Evelyn. Bukan tanpa alasan, karena semalaman ia sudah tidak tidur karena di peluk oleh Eva, dan Fandy sendiri tidak mampu menghilangkan ketertarikan secara fisik terhadap gadis tersebut.

Tidak munafik, Eva adalah gadis yang sangat cantik, dan sejak tadi malam, Fandy menyadari jika gadis itu memiliki daya tarik secara fisik. Lelaki manapun akan menegang seutuhnya jika di goda oleh gadis cantik seperti Eva.

Kini, Fandy bahkan semakin kesal ketika menyadari kenyataan kalau gadis itu akan selalu menempel kepadanya mengingat ia adalah pengawal pribadi gadis tersebut.

Fandy mengetuk pintu besar di hadapannya, itu pintu kamar Eva. Entah kenapa jantungnya mulai berdegup tak menentu karena akan masuk ke dalam kamar tersebut.

“Masuk.” Suara manja itu terdengar khas di telinga Fandy, suara Eva.

Fandy akhirnya membuka pintu di hadapannya, kemudian masuk, dan berakhir mengumpati dirinya sendiri sambil menundukkan kepalanya ketika melihat Eva yang masih setengah telanjang dengan handuknya.

Tanpa tahu malu, Eva malah berlari mendekat ke arah Fandy. “Akhirnya kamu datang juga.” Ia bersorak gembira, sedangkan Fandy dengan canggung menolehkan kepalanya ke arah lain.

“Ada apa, Nona?”

Eva kesal karena Fandy kembali bersikap formal padanya. “Apaan sih? Tadi malam kita sudah sepakat kalau kamu nggak akan seformal ini lagi padaku.”

“Maaf Nona Evelyn, jika tidak ada yang penting, saya akan keluar.”

Eva menarik lengan Fandy yang sudah membalikkan tubuhnya untuk segera keluar dari kamar Eva, tapi kemudian tiba-tiba handuk yang di kenakan Eva terlepas dan jatuh di lantai.  Fandy membulatkan matanya seketika saat menatap tubuh polos gadis di hadapannya tersebut.

“Hei! Apa yang kamu lihat!” sontak Eva meraih handuknya kemudian mengenakannya kembali, sedangkan Fandy masih shock dengan apa yang baru saja ia lihat tadi.

Tubuh itu benar-benar tampak sempurna, berwarna putih pucat, sedangkan kulitnya tampak kencang dan halus, oh, jangan lupakan dua payudara mungil yang mungkin saja akan terasa pas dalam genggamannya. Fandy menggelengkan kepalanya seketika saat pikiran-pikiran jorok mulai menguasai kepalanya.

“Maaf.” Fandy membalikkan badan membelakangi Eva. “Nona Evelyn, silahkan mengenakan pakaian terlebih dahulu, saya akan keluar sebentar.” Dan tanpa menunggu lagi, Fandy keluar.

Eva hanya mampu menatap punggung Fandy yang menghilang dari balik pintu kamarnya. Ah, lelaki itu sangat manis. Pikirnya.

***

Eva keluar dari kamarnya setengah jam kemudian, ia sudah cantik dengan T-shirt ketatnya yang di padukan dengan celana jeans robek-robek ala anak muda.

Eva tersenyum saat melihat Fandy yang masih berdiri di sebelah pintu kamarnya. “Ayo.” ucapnya sambil merangkul lengan Fandy.

“Nona Evelyn, tolong jangan bersikap seperti ini pada saya.” Fandy melepas paksa rangkulan tangan Eva karena merasa sedikit risih dengan apa yang di lakukan gadis tersebut padanya.

“Tuan Fandy, tolong jangan bersikap seperti ini pada saya.” Eva mengulangi kalimat Fandy.

“Bersikap seperti apa maksud Nona?”

“Bersikap kaku, datar dan sangat formal kepadaku, aku nggak suka, tahu!”

“Ini memang sudah seharusnya, karena saya pengawal anda.”

“Kamu pacarku! Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu pacarku.”

“Nona-”

“Hai, cucu nenek sudah cantik.” Suara di belakang Fandy membuat Fandy menghentikan kalimatnya. Itu nenek Eva, dan Fandy tidak akan mendebat Eva di hadapan neneknya.

“Hai Nek.” Eva menyapa dengan riang sambil kembali merangkul lengan Fandy.

“Mau kemana? Kok sudah cantik? Berangkat kuliah?”

“Enggak Nek, aku ada kelas sore, pagi ini aku mau ajak Fandy jalan.”

Sang Nenek mengangkat sebelah alisnya sembari memperhatikan kedekatan Eva dan Fandy. “Kalian berkencan?”

“Tidak.”

“Ya.”

Eva dan Fandy menjawab secara bersamaan. Eva sempat melotot ke arah Fandy ketika lelaki itu berkata tidak.

“Nenek, tidak apa-apa bukan jika aku kencan dengan Fandy?”

Sang nenek menggelengkan kepalanya. “Bukan masalah. Asal kamu senang dan ada yang menjagamu dengan baik, maka Nenek akan menyetujui apapun pilihan kamu.”

Dengan spontan, Eva memeluk tubuh neneknya. “Terimakasih, Nek.” Setelah itu akhirnya Eva pamit pada sang nenek, sedangkan Fandy sendiri masih memasang wjah datar tak berekspresinya.

***

“Kamu terlihat tidak suka kita pergi bersama.” Eva menatap Fandy dengan tatapan penuh selidik.

“Perasaan anda saja, Nona.”

Eva mendengus sebal. Fandy kembali bersikap formal padanya. Astaga, bagaimana caranya supaya ia dapat mencairkan dinginnya hati lelaki tersebut? Kemudian Eva memiliki sebuah ide. Ah, pasti menyenangkan sekali jika ia menjalankan idenya tersebut.

Eva merogoh ponsel di dalam tasnya, lalu mulai menghubungi seseorang. Itu Ramon, kekasihnya yang entah ke berapa, Eva bahkan lupa menghitung banyaknya lelaki yang menjadi kekasihnya.

“Halo Babe.”

“Hai Babe, ketemuan yuk.” Eva mengajak dengan nada manjanya.

“Beneran kamu ngajak aku ketemuan? Kamu nggak lagi ngigau, kan?”

“Astaga, kamu mau ketemuan nggak? Mumpung aku lagi di luar.”

“Oke, baby, kita ketemu di Dufan.”

Eva mendengus sebal. Dufan? Ngapain ke sana coba? “Ya sudah.” Kemudian Eva menutup teleponnya begitu saja. “Ke Dufan.” Perintahnya pada Fandy, dan Fandy hanya mangangguk patuh.

***

Lama Eva menunggu Ramon di Dufan sambil sesekali menggerutu kesal. Ramon adalah lelaki tampan tapi sedikit brengsek. Entah apa yang membuat Eva saat itu ingin memacari lelaki itu. Ah ya, itu karena taruhan dengan Icha, sahabatnya. Dan akhirnya Eva memenangkan taruhan tersebut ketika mampu menjadikan Ramon salah satu koleksi pacarnya.

Ramon sangat agresif, entah berapa kali lelaki itu mencoba mencium Eva, bahkan mencoba mengajak Eva melakukan hal baru seperti bercinta, tapi tentu saja Eva menolaknya mentah-mentah. Ramon tak lebih dari sekedar koleksinya, ia tidak memiliki perasaan apapun, satu-satunya alasan kenapa ia mempertahankan lelaki itu adalah karena ketampanannya dan kepopulerannya di kampus mereka yang membuat Eva bangga memiliki kekasih seorang Ramon.

Kini, ia mencoba memanfaatkan kehadiran Ramon untuk memancing reaksi Fandy, apa lelaki itu akan bereaksi lain? Atau hanya akan datar-datar saja seperti biasanya?

Eva menyuapkan ice cream yang tadi ia beli ke dalam mulutnya tanpa menghiraukan jika sejak tadi sebuah mata mengawasinya.

Itu Fandy yang sedang sibuk memperhatikan tingkah Eva. Eva tampak seperti gadis manja, dan entah kenapa itu mengingatkan Fandy pada Sienna. Ah, nama itu lagi. Ketika ia sibuk memperhatikan Eva, tatapan mata Eva teralih padanya.

“Kenapa menatapku seperti itu? Kamu kagum dengan kecantikanku?” Eva bertanya penuh dengan percaya diri.

Dengan datar Fandy menjawab “Saya pengawal anda, mau tidak mau saya harus mengawasi setiap gerak-gerik anda.”

Eva tertawa lebar. “Kalau begitu antar aku ke toilet.”

“Maaf, itu pengecualian.”

“Nanti kalau ada orang yang macam-macam di toilet, bagaimana?”

Fandy menghela napas panjang. “Baiklah.”

Bukannya bangkit, Eva malah tertawa lebar menertawakan Fandy. “Kamu benar-benar lucu. Aku cuma bercanda, tahu. Jangan terlalu serius jadi orang.” Eva masih tertawa lebar, tak lama, seorang pemuda datang menuju ke arah mereka, seketika Eva berdiri menyambut kedatangan pemuda tersebut.

Pemuda itu dengan spontan memeluk tubuh Eva, sebenarnya Eva sangat risih, tapi mau bagaimana lagi, rencana dia kan untuk memancing reaksi Fandy.

“Hai, kamu udah nunggu lama?”

“Iya, lama banget, dari tempat ini baru buka sampai sudah rame gini.” Eva menjawab dengan nada yang di buat semanja mungkin.

“Maaf, kupikir ini terlalu pagi.”

“Terlalu pagi? Ini sudah siang tahu! Lagian kenapa sih ke Dufan, aku kan pengen ke tempat lain.”

“Di sini lebih romantis tahu!” Ramon mencubit gemas pipi Eva. Oh, keduanya benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, dan itu tak lepas dari pandangan Fandy.

“Romantis? Kalau mau yang lebih romantis, kita bisa ke hotel terdekat.” Eva menantang sembari melingkarkan lengannya pada leher Ramon. Oh, ini benar-benar bukan dirinya, Eva sungguh risih dengan kedekatan yang ia ciptakan bersama Ramon, tapi ia menahannya, ia hanya ingin melihat reaksi yang di tampilkan Fandy. Tapi sungguh sial, karena Fandy tampak cuek dan datar-datar saja padanya.

“Kamu yakin mau ke hotel denganku?” Ramon melepaskan pelukannya pada Eva seketika. Ia benar-benar tidak menyangka jika Eva akan berkata seperti itu padanya.

“Ya, tentu saja.” Eva masih kukuh pada pendiriannya meski hati nuraninya mengatakan jika tidak baik bermain-main dengan seorang Ramon.

“Baiklah, sepulang dari sini kita akan ke hotel.” Ramon tampak sangat bersemangat.

“Maaf, nanti Nona Evelyn harus ke kampus.” Suara datar Fandy membuat Eva dan Ramon menatap ke arahnya.

“Lo siapa?”

“Saya pengawal pribadi Nona Evelyn.”

Ramon tertawa mengejek. “Pengawal? Lo bercanda?”

“Ramon, dia memang pengawalku. Dan kamu Fan, urusan kamu hanya menjagaku, bukan mengatur hidupku.” Eva mencoba membuat Fandy kesal dengan cara membantah lelaki itu, tapi tentu saja Eva tidak akan mendapatkan keinginannya.

“Nenek anda memerintahkan saya untuk mengawal sekaligus mengawasi anda.”

“Oh ya? Jadi aku sudah seperti tawanan, gitu?”

Fandy hanya diam. Eva kemudian mendekat ke arah Fandy, menatap Fandy dengan tatapn menantangnya.

“Fan, aku curiga jika kamu menyalahgunakan pekerjaanmu untuk mengekangku.”

“Maaf?” Fandy tampak tak mengerti.

Eva tertawa mengejek. “Begini, akui saja kalau kamu tidak suka melihat kedekatanku dengan kekasihku.”

“Apa?” Fandy tampak terkejut dengan tuduhan yang di tunjukkan Eva padanya. “Maaf Nona Evelyn, anda berpikir terlalu jauh.”

Eva tampak kesal dengan jawaban yang di berikan Fandy. “Kalau begitu tinggalkan aku, aku akan berkencan dengan kekasihku sendiri tanpa kamu mengawalku.”

“Maaf, saya tidak bisa.”

“Fandy.”

“Sudah, tinggalkan saja dia.” Secepat kilat Ramon meraih pergelangan tangan Eva kemudian menariknya pergi dari hadapan Fandy, tapi baru beberapa langkah, Fandy menyusul, dan dalam sekejap mata Fandy sudah memisahkan Eva dari Ramon.

“Saya tidak akan membiarkan anda mengajak Nona Evelyn pergi tanpa saya.” Ekspresi Fandy masih tetap datar-datar saja, tapi perkataan itu di ucapkan dengan penuh penekanan.

Entah kenapa Fandy merasakan jika lelaki di hadapannya itu bukanlah lelaki yang baik, instingnya mengatakan jika ia tidak boleh meninggalkan Eva hanya berdua dengan lelaki itu. Tapi di sisi lain Fandy ragu, apa itu hanya instingnya yang terlalu tajam, atau ini ada campur tangan dari sebuah rasa aneh yang sejak tadi sedikit menggelitiknya?

-TBC-

Advertisements

7 thoughts on “Evelyn – Chapter 3 (Rasa Aneh)

  1. rasa aneh itu seperti apa yaa , apa seperti coklat ato seperti permen lolipop ☺☺
    q suka gaya eva , ciyeeeeeeee baru gitu az sii fandi udah mulai tergoda …
    pagi” fandi udah d suguhi srapan yng sempurna , sampe dia ga fokus 😂😂.

    Like

  2. Aku pikir cerita ini tdx agak boring… ternyataaaa aku SALAH BESAR….
    Cerita ini sungguh2 menarik… aku yg baca aja sampe ketawa2 sendiri ngeliat kelakuan eva ke fandy.. dikasih sarapan gratis pula nih fandy 😆😆

    Mamabella semangat ya chapter selanjutnya😙😙😙😙
    Unwanted wife nya jg donggg 😘😘😘

    Like

  3. Gimana gk trgoda liat klakuan Eva yg sgt agresif,,,Pstinya bkin hati Fandy jd ketar ketir hahahayyyy
    siap2 aja imannya gk kuat hihihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s