romantis

Unwanted Wife – Chapter 6 (Sakit)

Unwanted wife

Seperti biasa, tanpa pemanasan sedikitpun, Darren memasuki begitu saja tubuh Karina setelah tubuh itu polos, membuat Karina memekik kesakitan karena sikap kasar yang di berikan Darren padanya.

Darren menghujam lagi dan lagi, sedangkan yang dapat di lakukan Karina hanya menangis dan menangis. Tanpa di duga, Darren kemudian menundukkan tubuhnya,mendekatkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Karina, kemudian berkata di sana.

“Sudah menikmati hukumanmu, hem?” tanyanya sambil mencengkeram erat rahang Karina. Karina hanya mampu menjawab dengan matanya yang berkaca-kaca. “Jika belum, maka dengan senang hati aku akan menambah hukumanmu.”

Secepat kilat Darren meraup bibir Karina dengan bibirnya, melumat bibir istrinya itu dengan lumatan kasarnya, sesekali menggigitnya. Oh, bagaimana mungkin melakukan seks dalam keadaan marah benar-benar membuatnya semakin bergairah?

 Sedangkan Karina sendiri merasakan tubuhnya bergetar hebat saat bibir Darren menyentuh permukaan bibirnya. Ini adalah pertama kalinya lelaki itu menciumnya, ciuman pertamanya yang di berikan oleh Darren dengan begitu kasar. Oh, bukan seperti ini yang ia inginkan, bukan kehidupan semacam ini.

 

Chapter 6

Sakit-

 

Darren terbangun dini hari ketika merasakan tubuhnya tidak nyaman karena tertidur saat dirinya penuh dengan keringat. Matanya kemudian melirik ke arah tubuh di sebelahnya yang terkulai lemah setelah apa yang ia lakukan terhadap tubuh tersebut.

Karina terbaring miring memunggunginya, sedangkan lengan wanita itu masih terikat di kepala ranjang dengan ikat pinggangnya. Darren menelusuri tubuh telanjang wanita itu dengan matanya, tampak pucat dan kurus, ada beberapa tanda merah di pundak wanita itu dan Darren tahu jika itu karena ulahnya. Selimut yang di kenakan wanita itu melorot hingga pinggangnya. Darren akan membenarkan selimut itu, tapi tangannya terpaku.

Darren memejamkan matanya frustasi, kemudian ia bangkit lalu menuju ke kamar mandi. Sepertinya mandi air dingin bukan masalah, pikirnya.

Setelah sampai di dalam kamar mandi, ia kemudian menyalakan air shower, lalu membiarkan air tersebut mengalir membasahi tubuhnya. Sesekali Darren memukul dinding di hadapannya dengan telapak tangannya sendiri.

Menyesal…

Tentu saja, melihat Karina seperti itu tadi membuatnya sangat menyesal. Apa yang sudah ia lakukan pada wanita itu? kenapa ia menyiksanya di saat ia sadar jika mungkin saja pernikahan Nadine tak ada hubungannya dengan Karina? Darren kembali memejamkan matanya frustasi.

Sebenarnya tadi ia hanya ingin meminta penjelasan pada Karina, apa wanita itu yang membuat Nadine menikah dengan kakaknya? Apa wanita itu tahu tentang masalah itu? tapi melihat Karina tadi membuat Darren seakan tak dapat menahan emosinya, kenapa? Apa yang membuatnya seemosi itu? apa karena……

Tidak! Bukan karena itu, sialan!

Darren melanjutkan mandi malamnya, sambil mencoba mengenyahkan semua pikiran tentang Karina. Sial! Bagaimana mungkin wanita itu sekarang mampu membuatnya tertarik memikirkannya?

Setelah cukup lama membersihkan diri, Darren akhirnya keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan juba mandinya.

Kaki telanjangnya melangkah begitu saja menyusuri ruangan dan berhenti tepat di hadapan Karina. Cukup lama Darren berdiri di sana, mengamati wanita itu yang kini sedang tertidur pulas, mungkin kelelahan, atau bahkan mungkin wanita itu kini telah pingsan karena apa yang baru saja ia lakukan tadi.

Oh, jangan di tanya lagi. Darren melakukannya berkali-kali tanpa mempedulikan Karina yang memohon supaya dirinya menghentikan hal menyakitkan tersebut.

Jemari Darren kemudian terulur untuk meraih selimut, dan menyelimuti tubuh polos Karina yang entah mengapa begitu menggoda untuknya. Dengan pelan, Darren kemudian melepaskan ikatannya pada pergelangan tangan Karina. Ikatan itu membekas, bahkan Darren menemukan sedikit luka lecet di sana.

Sial! Ia benar-benar keterlaluan.

Darren bangkit, lalu keluar dari kamarnya. Tak lama ia kembali dengan membawa kotak obat, kemudian dengan pelan ia mengobati pergelangan tangan Karina. Wanita itu tidak bangun, hanya sesekali menggeliat dalam tidurnya. Apa wanita itu begitu kelelahan?

Tentu saja, sialan!

Darren lalu membalut pergelangan tangan Karina dengan perban, setelahnya, ia mengecup lembut pergelangan tangan tersebut.

“Maaf.” bisiknya. Lalu ia bangkit dan meninggalkan Karina tidur sendirian di dalam kamarnya.

***

Karina membuka matanya, tubuhnya terasa remuk, dan itu mengingatkan Karina dengan sepanjang malam yang ia habiskan dengan menangis karena perlakuan kasar dari suaminya sendiri. Karina akan bangkit, tapi kemudian ia sadar jika ia terbangun sendiri.

Dimana Darren?

Karina berakhir merutuki dirinya sendiri. Lelaki itu tentu saja sudah pergi, entah kerja atau kemanapun Karina sendiri tak tahu. Karina baru sadar jika ada yang aneh, dan benar saja, pergelangan tangannya terasa sedikit pedih. Ia melihat pergelangan tangannya yang ternyata sudah di balut oleh sebuah perban. Apa ini Darren yang melakukannya?

Tidak mungkin!

Karina mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut, nyatanya tidak mungkin Darren melakukan itu, mungkin saja lelaki itu memanggil seorang pelayan untuk mengobati tanganya tadi malam, pikirnya.

Karina bangkit, dan sedikit terhuyung. Masih sama dengan hari-hari yang lalu, di mana ia bangun dengan tubuh remuk dan memar-memar di beberapa bagian tubuhnya. Ia kemudian menuju ke arah kamar mandi, berharap jika Darren sudah tidak berada di sana, dan ia berakhir menghela napas panjang saat menyadari jika lelaki itu memang sudah tak ada di dalam kamar mereka lagi.

Setelah mandi dan membersihkan diri cukup lama, Karina keluar dari dalam kamar mandi, dan alangkah terkejutnya saat mendapati Darren sudah duduk di pinggiran ranjang mereka. Ia terpaku di depan pintu kamar mandi, kakinya seakan tidak ingin bergerak kemanapun. Tatapan mata Karina penuh dengan ketakutan, Darren kini benar-benar seperti monster baginya.

Darren mengangkat wajahnya dan menatap Karina dengan tatapan tajam membunuhnya. Ia kemudian bangkit lalu berjalan pelan menuju ke arah Karina.

“Kita akan ke Bali.”

“A –apa?”

“Ya, kita akan ke sana, menyusul Nadine dan kakak sialanmu itu.”

“Darren.”

“Aku tidak ingin mendengar bantahan, Karin! Dan ingat, jika ini semua memang berhubungan denganmu, maka aku akan membuatmu menyesal karena sudah menikah denganku.”

Karina bergidik dengan apa yang baru saja di ucapkan Darren. “Aku, aku nggak enak badan.”

“Jangan banyak alasan! Pakai bajumu, dan siapkan semuanya, kita akan ke Bali siang ini juga.”

Karina tak mampu lagi menolak. Ya, sekeras apapun ia menolak, sekuat apapun ia melawan, ia tak akan mampu merubah pikiran Darren, merubah lelaki itu untuk kembali memperlakukannya seperti dulu.

***

Siang itu juga, Karina dan Darren sampai di Bali. Karina sempat menghubungi orang tuanya untuk bertanya di hotel mana keluarganya menginap, karena Darren bersikeras supaya mereka menginap di hotel yang sama, tentu saja Karina tahu jika pasti semua itu ada hubungannya dengan Nadine. Mengingat itu, Karina kembali sedih.

Kini, mobil yang di tumpangi Karina dan Darren akhirnya sampai juga di hotel yang mereka tuju. Dalam hati, Karina masih berharap jika apa yang ia dengan kemarin dari sang mama hanya sebuah kebohongan. Karina tidak ingin apa yang di pikirkan Darren menjadi kenyataan, seperti Nadine yang benar-benar menikah dengan kakaknya dan itu di karenakan oleh keluarga mereka, Karina tidak ingin itu terjadi.

Karina dan Darren keluar dari mobil, Darren sendiri seketika masuk dan menuju ke arah resepsionist, memesan kamar untuk mereka berdua, sedangkan Karina masih setia mengikuti tepat di belakangnya.

Karina sedikit lega, mengingat Darren hanya diam dan mengendalikan emosinya. Tidak meledak-ledak dan mencari keluarganya saat itu juga, setidaknya Karina ingin beristirahat sebentar sebelum peperangan batinnya kembali di mulai.

Keduanya lalu naik ke lantai Lima, tempat di mana kamar yang mereka pesan berada. Setelah sampai di dalam kamar pesanannya, Darren segera masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Karina sendiri dalam kebingungan.

Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Haruskah ia mencari keluarganya sekarang? Karina mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Ketika Karina mulai sibuk dengan pikirannya sendiri, Darren keluar dari dalam kamar mandi. Matanya kemudian menatap tajam ke arah Karina, seperti biasa, lelaki itu kembali menampilkan sikap dinginnya pada Karina.

“Mandilah, dan kita akan segera mencari keluarga kamu.” Kalimat itu di ucapkan dengan begitu dingin.

“Darren, jika semua itu benar-benar terjadi, aku minta maaf.”

Darren mendengus sebal. “Maaf? Telingaku terlalu penuh mendengar kata maaf darimu.”

“Aku, aku benar-benar tidak tahu menahu tentang hubungan Nadine dengan Mas Dirga.”

“Mereka tidak berhubungan.” Darren menggeram kesal. “Jika hal itu benar-benar terjadi, itu pasti karena rencana keluargamu, bukan karena Nadine mengkhianatiku.”

“Tapi Darren, aku-”

“Diam Karin! Sekarang mandilah, dan kita akan menemui semua keluarga sialanmu itu.” Setelah kalimatnya yang menyakitkan itu, Darren lantas menyibukkan diri membongkar koper yang berisi pakaian miliknya tanpa menghiraukan Karina yang mulai berkaca-kaca karenanya.

***

Sorenya, Karina benar-benar bertemu dengan keluarganya di restoran hotel tersebut. Darren menahan diri untuk tidak mengumpat pada sepasang lelaki dan perempuan paruh baya yang berstatus sebagai mertuanya. Jika boleh jujur, Darren benar-benar sangat marah pada mereka semua, seluruh keluarga Karina, tapi Darren mencoba menahan diri.

“Mama senang kamu menyusul kami ke sini, kalau saja kalian ke sini kemarin, mungkin kalian akan melihat wajah bahagia Dirga.” Mama Karina berujar dengan tenang, seakan mengenyahkan pikirannya pada perban yang melingkar pada pergelangan tangan puterinya.

Sedangkan Darren hanya menggerutu dalam hati. Jika ia ke sini kemarin, mungkin ia akan mengacaukan semuanya. Lagian, bukankah memang tujuan keluarga mereka mengadakan pernikahan tersebut di Bali supaya ia tidak mengacaukan semuanya? Sangat licik!

Sedangkan Karina sendiri menegang dengan ucapan sang mama, jadi memang benar kakaknya kemarin melakukan pernikahan dengan Nadine?

Ketika Darren dan Karina sibuk dengan pikiran masing-masing, orang yang mereka tunggu-tunggu datang juga. Itu Dirga yang datang bersama dengan Nadine.

Darren berdiri seketika, pun dengan Karina yang semakin menegang ketika menatap kedatangan kakaknya dengan kekasih suaminya.

Dirga tampak menggenggam telapak tangan Nadine dengan mesra, dan entah kenapa itu membuat Karina tidak suka. Astaga, bukannya ia seharusnya bahagia jika memang Nadine sudah menikah dengan Dirga, kakaknya? Tapi kenapa yang ia rasakan malah sebaliknya. Karina tidak suka dengan kenyataan jika Nadine benar-benar menikah dengan kakaknya.

“Kalian ke sini?” Dirga menyapa dengan nada santainya.

Tapi kemudian secepat kilat Darren menghambur ke arah Dirga, memukuli lelaki itu dengan pukulan-pukulan kerasnya. Darren bahkan tidak berhenti mengumpati Dirga tanpa mempedulikan banyak orang yang sedang memperhatikan mereka termasuk kedua orang tua Karina.

“Darren, hentikan! Hentikan!” Karina memohon tapi Darren tidak mau menghentikan pukulan-pukulannya pada kakak iparnya yang kini ia kunci di bawahnya.

“Berhenti Darren! Darren, berhenti!” teriakan Nadine membuat Darren berhenti seketika.

Darren mengangkat wajahnya lalu mendapati Nadine yang sudah penuh dengan air mata. Ia kemudian bangkit, dan tanpa tahu sopan santun ia meraih pergelangan tangan Nadine dan mengajak wanita itu pergi dari sana.

Karina mengesampingkan perasaannya yang tersakiti dengan sikap Darren, secepat kilat ia menghampiri kakaknya dan membantu kakaknya tersebut bangkit.

***

Nadine menghempaskan cekalan tangan Darren pada pergelangan tangannya. Ia kesal, sangat kesal pada Darren, dan entah kenapa ia merasakan perasaan kesal tersebut.

“Apa yang kamu lakukan? Kamu seperti orang gila tahu nggak?”

“Orang gila? Ya, aku memang gila. Kamu pikir siapa yang tidak gila ketika aku di paksa menikahi wanita yang tidak ku cintai, lalu kekasihku sendiri meninggalkanku dengan salah satu orang yang ku benci? Kamu nggak mikir gimana perasaanku?!” Darren benar-benar sudah meledakkan seluruh kekesalannya pada Nadine. “Kamu sudah berjanji akan setia denganku, kita akan tetap bersama meski aku sudah menikahi wanita sialan itu, tapi sekarang? Kamu bahkan menikah dengan laki-laki lain, apa salah jika aku marah?!”

“Maaf.” Hanya itu yang dapat di ucapkan Nadine.

“Apa? Maaf katamu? Aku mengusahakan segala cara supaya aku segera lepas dari Karina, menyiksa wanita itu melebihi batas rasa tegaku, supaya dia lekas pergi meninggalkanku dan aku bisa kembali denganmu, tapi kamu, kamu malah melakukan pernikahan sialan ini dengan lelaki lain?”

Nadine tak dapat menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya.

“Katakan, katakan kalau kamu hanya di jebak, katakan, Nadine!” Darren menangkup kedua pipi Nadine kemudian mendongakkaan wajah tersebut tepat ke arahnya.

“Maaf, tapi…” Nadine ragu mengucapkannya, tapi ia tidak bisa menyembunyikan semuanya lagi. “Aku, aku sudah mengkhianatimu, maafkan aku.”

Mata Darren membulat seketia, tanpa sadar ia melepaskan tangkupan telapak tangannya pada pipi Nadine.

Nadine mengkhianatinya? Wanita itu benar-benar meninggalkannya? Tidak! Itu tidak mungkin. Secepat kilat Darren kembali menangkup kedua pipi Nadine, mendorong tubuh wanita itu hingga menempel pada dinding kemudian melumat bibirnya secara membabi buta.

Nadine meronta, ia tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan sekasar itu dari Darren, lelaki yang di cintainya. Nadine mencoba mendorong-dorong tubuh Darren, tapi Darren seakan tidak bergeming, hingga kemudian Nadine menyerah. Ia membalas setiap lumatan dari kekasihnya, kekasih yang sangat di rindukannya. Oh, semua keadaan ini membuat keduanya frustasi, bagaimana mungkin mereka di permainkan seperti ini?

Keduanya larut dalam cumbuan penuh dengan kerinduan, tanpa sadar sepasang mata menatap keduanya dengan nanar.

***

Karina duduk di pinggiran ranjang sambil meremas kedua belah tangannya. Matanya tak berhenti meneteskan bulir-bulir air mata. Kenapa mencintai bisa sesakit ini? Oh, tentu saja ia tak bisa menyalakan orang lain, semua ini salahnya, salahnya karena terlalu memaksakan keadaan.

Karina kembali teringat cumbuan Darren dengan Nadine tadi, cumbuan yang sarat akan cinta dan kerinduan, sedangkan suaminya itu tak pernah sekalipun mencumbunya seperti itu. Tadi, setelah nenolong kakaknya, Karina segera menyusul Darren, mencari lelaki itu karena takut jika Darren berbuat nekat terhadap Nadine, tapi ternyata, apa yang ia lihat benar-benar menyakiti perasaannya.

Sakit, rasanya sakit…

Tapi ini konsekuensi yang harus ia terima. Menjadi orang teregois yang pernah ada memang sangat wajar jika yang ia dapatkan hanyalah sebuah rasa sakit. Apa ia harus menyerah? Apa ia harus pergi saja dan mengakhiri semuanya? Lalu bagaimana dengan Darren? Nadine bahkan sudah menikah dengan lelaki lain, kemungkinan keduanya juga tidak akan kembali bersatu. Lalu apa ia harus bertahan saja?

Saat pikirannya penuh dengan kebimbangan, orang yang ia pikirkan itu datang juga. Darren datang dengan wajah kusutnya, wajah lelaki itu terlihat penuh dengan emosi. Apa lagi sekarang? Apa lelaki itu akan kembali melampiasakan kemarahannya pada dirinya?

Karina tidak peduli, nyatanya ia juga tersakiti dengan keadaan ini, ia sama sekali tidak tahu jika sang kakak menikah dengan kekasih Darren, suaminya. Tapi kenapa Darren seakan menyalahkan dirinya? Mengatakan seolah-olah ia yang merencanakan semua ini dan ia yang patut di hukum. Akhirnya dengan keberaniannya yang terbatas, Karina bertanya.

“Dari mana saja kamu?”

Darren tampak menghentikan pergerakannya kemudian melirik tajam ke arah Karina. “Bukan urusanmu!”

Karina berdiri seketika “Bukan urusanku? Aku istrimu Darren, aku ingin tahu kamu dari mana!” Oh Tuhan, entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk melawan Darren yang tampangnya sudah tampak sangat mengerikan. Entahlah, Karina hanya perlu mengingat ciuman yang di lakukan Darren dan Nadine tadi, dan seketika itu juga sesuatu tersulut dalam dirinya, sesuatu yang mampu membuatnya kuat melawan tatapan-tatapan membunuh dari Darren.

Darren kemudian mendekat, sedangkan Karina merasakan jika ia sudah menyesal karena sudah berusaha melawan lelaki itu.

“Istri? Kamu hanya pemuasku, tidak lebih.”

“Aku tidak ingin menjadi pemuasmu lagi!” Karina kembali melawan Darren sekuat yang ia bisa.

Dalam sekejap mata, Darren sudah mencengkeram rahangnya kemudian mendongakkan wajahnya ke arah lelaki tersebut. “Kita lihat saja, apa kamu mampu menghentikan aksiku, Karina?” ucapan Darren benar-benar terdengar seperti sebuah ancaman di telinga Karina, secepat kilat Darren menyambar bibir ranum Karina, kemudian melumatnya dengan begitu kasar, sama seperti kemarin ketika ia mencumbu wanita itu, cumbuan yang di tunjukkan sebagai sebuah hukuman.

Karina meronta sekuat tenaga, ia kesal dengan Darren, ia marah. Kenapa lelaki itu selalu memperlakukan dirinya sekasar ini? Kenapa tidak selembut seperti ketika lelaki itu dengan Nadine? Mengingat itu, sekuat tenaga Karina mendorong tubuh Darren hingga tautan bibir mereka terlepas, lalu dengan spontan Karina mendaratkan tamparan kerasnya pada pipi Darren.

Keduanya membatu seketika, Darren tidak menyangka jika Karina yang ia kenal sebagai wanita lembut dan pendiam bisa menamparnya keras-keras seperti barusan, pipinya terasa panas, dan harga dirinya sebagai lelaki terlukai.

Begitupun dengan Karina yang juga sama terkejutnya. Ia tak menyangka jika dirinya mampu melakukan hal itu, menampar lelaki yang sangat ia cintai, suaminya sendiri. Napas karina memburu karena ketegangan yang terjadi di antara keduanya.

“Darren, aku, aku-”

“Perempuan sialan!” secepat kilat Darren meraih pinggang Karina, membantingnya tepat di atas ranjang kemudian mulai menjalankan aksinya dengan begitu kasar pada Karina.

“Jangan lakukan itu, jangan lakukan itu!” Karina meronta, memohon dengan begitu menyedihkan, tapi Darren seakan menulikan telinganya, ia melanjutkan aksinya untuk memuaskan dirinya sendiri tanpa menghiraukan Karina yang memohon pengampunan darinya.

***

Jam dua dini hari, Darren masih membuka matanya, posisinya terbaring miring memunggungi Karina. Pun dengan Karina yang masih terisak dengan posisi miring memunggungi Darren.

“Apa kamu tahu kalau kamu mengacaukan semuanya?” pertanyaan itu di tanyakan Darren dengan nada tenang.

Karina menghentikan isakannya seketika karena mendengar pertanyaan tersebut. Itu adalah pertama kalinya Darren bertanya dengan nada tenangnya sejak mereka menikah beberapa minggu yang lalu.

“Aku mencintai Nadine, aku sudah melamarnya dan dia menerima lamaranku. Semuanya sangat sempurna, kami sudah membayangkan akan hidup bersama sampai menua, tapi kenapa kamu mengacaukannya?”

Karina hanya diam, ia tak mampu menjawab, karena ia memang merasa bersalah dengan keegoisannya tersebut. Air matanya turun semakin deras dengan sendirinya, hatinya tersakiti, tanpa memberi tahu seperti itu, Karina juga sadar jika ia memang bersalah, ia adalah orang ke tiga di antara hubungan Nadine dan Darren.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu, kamu adalah gadis yang dulu pernah ku kagumi, gadis pendiam dan lemah lembut, tapi aku tidak menyangka jika kamu akan bertindak sangat egois.”

Karina membalikkan tubuhnya, menatap punggung Darren yang sedikit bergetar. Kenapa? Apa lelaki itu hancur? Apa itu karenanya? Oh, tentu saja, bodoh!

“Nadine, dia sudah bukan milikku lagi, dia memutuskanku, dia benar-benar meninggalkanku, kenapa kamu melakukan semua ini pada kami, Karin?”

Dan Karina sudah tak mampu lagi mendengar suara Darren yang terdengar bergetar di telinganya. Dengan spontan Karina mendekatkan diri, lengan rapuhnya begitu berani terulur memeluk tubuh kokoh suaminya tersebut dari belakang.

“Aku minta maaf.” Karina menangis. Wajahnya menyandar pada punggung Darren, air matanya kembali menetes, dan ia kembali terisak. Sungguh, melihat Darren serapuh ini, Karina benar-benar melupakan sikap kasar yang berkali-kali di berikan Darren padanya. Ia merasa bersalah, terlebih lagi hatinya terasa sakit saat mengingat jika kesedihan Darren bermula dari dirinya.

Tubuh Darren menegang, ketika merasakan lengan kurus itu memeluknya dari belakang. Oh Karina, terbuat dari apakah hatimu? Berkali-kali sudah aku menyakitimu, tapi kamu seakaan tidak lelah menempel padaku. Apa yang harus ku lakukan padamu?

Tanpa di duga, Darren membalikkan tubuhnya menghadap tubuh Karina, lengannya terulur begitu saja mengusap lembut pipi Karina, tatapan mata Darren melembut ke arah Karina, lalu dia berkata “Nadine sudah meninggalkanku, dia benar-benar meninggalkanku.”

“Maafkan aku, aku hanya-”

“Jangan tinggalkan aku seperti yang di lakukan Nadine padaku.” Darren memotong kalimat Karina dengan kalimat tersebut, lelaki itu kemudian memeluk erat tubuh Karina dengan lengan kekarnya. Sedangkan Karina sendiri hanya terpana dengan apa yang baru saja di ucapkan dan yang sedang di lakukan oleh suaminya iti.

Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Apa benar Darren tidak ingin Karin menginggalkannya?

 

-TBC-

Advertisements

10 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 6 (Sakit)

  1. Huaaahuùuhuuu 😭😭😭
    Jahatx Daren.. sampe keluar air mata aku…
    Semoga Daren lekas sadar dengan semua kelakuan jahat diaaa dan tetep setia dengan karin 😍😍😍

    Semangat ya mamabella buat chapter selanjutx 😙😙😙

    Like

  2. huwaahhhhhh apa ini apa , q bingung mo komen apa , daren u nyebelin tapi q suka , karin bagus sekali” lah u kasih pelajaran ma sii daren , deg”an bu saking tegang na …
    semoga daren cepet dpet hidaya yaa allah ..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s