romantis

Unwanted Wife – Chapter 5 (Hukuman)

Unwanted Wife

“Lupakan dia, dia akan menikah.” Tiba-tiba Darren mendengar suara itu, suara dari laki-laki yang sangat di kenalnya, siapa lagi jika bukan Dirga, kakak dari istrinya.

“Lo, apa yang lo lakuin sama pacar gue?”

Terdengar Dirga mendengus kesal. “Pacar? Brengsek lo! Nadine calon istri gue!”

Dan setelah kalimat yang di lontarkan Dirga tersebut, Darren hanya tercengang. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tidak! Tidak mungkin Nadine akan menikah dengan laki-laki lain dan meninggalkannya. Bukankah mereka sudah janji jika akan selalu bersama? Nadine tidak mungkin meninggalkannya. Atau, apa jangan-jangan kekasihnya itu di paksa menikah dengan Dirga, sama seperti dirinya yang di paksa menikah dengan Karin? Oh ya, tentu saja, bukankah keluarga Karina memang sangat egois karena akan melakukan segala cara demi mencapai tujuannya?

Sial!

Telapak tangan Darren mengepas seketika, mungkinkah ini bagian dari rencana Karin untuk mendapatkan dirinya seutuhnya? Meminta kakaknya untuk menikahi Nadine? Oh tentu saja, semua jadi semakin masuk akal.

Darren mendengus kesal. Karina, kamu akan menyesal. Sumpahnya dalam hati dengan mengepalkan telapak tangannya.

***  

 

Chapter 5 

-Hukuman-

 

“Kak, kenapa kak Dirga bilang seperti itu sama Darren?!” Nadine benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya pada Dirga. Lelaki yang akan di nikahinya sore ini juga.

Oh, jangan di tanya betapa shocknya Nadine saat mengetahui bahwa keberangkatannya ke Bali hari ini adalah untuk pernikahannya sendiri. Nadine tidak tahu, sama sekali tidak tahu. Yang ia tahu adalah saat ia berhenti di hotel yang di pesan oleh Dirga, di sana sudah berkumpul semua keluarganya yang tampak bahagia karena akan melihat pernikahan Nadine dan Dirga sore ini.

Nadine merasa tertipu, tentu saja. Bagaimana mungkin Dirga dan keluarganya melakukan hal ini kepadanya? Nadine merasa dirinya di jebak, tapi lelaki itu seakan tidak mempedulikan perasaannya.

“Kamu harus putus dengan dia. Kita akan menikah, lagian Darren sudah menikah dengan Karin.”

“Ya, aku tahu, tapi ini bukan kita yang menginginkannya. Kamu membuat seakan-akan aku sudah mengkhianati Darren.”

“Kamu memang sudah mengkhianatinya ketika tidur denganku.”

Nadine menutup kedua telinganya seketika, sungguh, ia tidak ingin mendengar lagi tentang malam itu. Malam di mana dirinya mengkhianati Darren, lelaki yang sangat di cintainya.

***

Darren sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi ketika memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk tentang hubungannya dengan Nadine. Semua ini ada hubungannya dengan Karin, ya, pasti ada. Pikirnya.

Akhirnya Darren memutuskan pulang saat itu juga, mencari tahu apa yang Karin rencanakan, atau bahkan memberi pelajaran istrinya tersebut karena sudah merencanakan semua ini untuk membuatnya putus dengan Nadine.

Dengan gusar Darren membuka pintu rumahnya, berharap jika Karin ada di rumah. Tapi nyatanya, ketika ia mencari-cari wanita itu, ia tidak melihatnya di manapun. Akhirnya Darren bertanya pada salah satu pelayan di rumahnya.

“Karin di mana?”

“Itu tuan, tadi Nona Karin keluar sebentar.”

“Keluar? Sama siapa?”

“Sendiri, tuan.”

Darren hanya menggeram kesal. Ia akan menunggu Karin, menunggu sampai wanita itu pulang dan menjelaskan semuanya pada dirinya.

***

Karina keluar dari sebuah gerbang sekolah TK. Hari ini memang hari pertama ia mengajar di sebuah taman kanak-kanak. Bukan tanpa alasan Karina melakukan hal tersebut. Beberapa hari yang lalu, salah seorang temannya mencari seorang guru pengganti untuk menggantikan temannya itu yang kini sedang hamil tua, akhirnya Karina menawarkan diri untuk menggantikan temannya tersebut. Karina hanya ingin suasana yang baru.

Hanya di dalam rumah Darren membuatnya sesak. Sikap dingin dan cuek Darren membuat Karina menginginkan suasana baru, belum lagi rasa sepi melanda ketika para penghuni rumah tersebut sedang sibuk dengan aktifitas masing-masing.

Karina berjalan menuju halte bus yang tak jauh dari sekolahan tempatnya mengajar, baru duduk sebentar di halte tersebut, ponselnya berbunyi. Karina melirik ke arah ponselnya, ternyata Evan yang sedang menghubunginya.

Karina tersenyum kemudian mengangkat teleponnya.

“Kamu di mana?” belum sempat Karina menyapa, suara Evan terlebih dahulu bertanya padanya.

“Aku, uum, di jalan.”

“Di jalan? Kebetulan sekali, aku juga akan pulang dari kantor, sebutkan tempatmu berada saat ini, aku akan menemuimu.”

“Tapi, Kak.”

“Ayolah, aku ada perlu sebentar denganmu.”

Karina menghela napas panjang, akhirnya, mau tidak mau ia menuruti apa kata Evan untuk menyebutkan di mana tempatnya berdiri saat ini.

***

Evan tersenyum saat melihat sosok itu, sosok yang sudah sejak lama sekali menggetarkan hatinya.

Karina Prasetya, adik dari sahabatnya. Sejak dulu, Evan memang sudah memendam rasa dengan Karina. Gadis pendiam tapi entah kenapa mampu membuat hatinya tertarik. Evan sempat shock, ketika mendapati kenyataan bahwa keluarga Karina menginginkan Darren menikahi gadis tersebut, kenapa bukan dirinya? Kenapa harus Darren? Dan Evan baru tahu jika ternyata Karinalah yang meminta semua itu, gadisnya itu ternyata sudah jatuh hati pada Darren, adiknya.

Kenapa semuanya jadi begitu rumit? Entah berapa kali Evan menanyakan pertanyaan tersebut. Ia mencintai Karina, sedangkan Karina mencintai Darren, dan Darren, dengan bodohnya malah mencintai wanita lain.

Takdir benar-benar tega mempermainkan mereka bertiga.

Evan menghentikan mobilnya tepat di sebuah Halte tempat di mana ia melihat sosok bertubuh kurus tersebut. Tampak Karina yang menatapnya dengan sebuah senyuman lembutnya. Ya, senyuman itu yang sudah membuatnya semakin jatuh kedalam pesona istri adiknya sendiri.

Evan keluar dari dalam mobilnya kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Karina, dengan sedikit canggung Karina memasuki mobil Evan, dan setelah itu, Evan kembali masuk ke dalam mobilnya.

“Apa yang kamu tunggu di sana?”

“Kak Evan.”

Evan tersenyum mendengar jawaban Karina. “Maksudku, sebelum aku meneleponmu, apa yang kamu lakukan di sana?”

“Uum, aku kerja.”

Evan mengerutkan keningnya. “Kerja? Kerja apa?”

“Aku menggantikan temanku menjadi guru TK di sekolahan itu.” Karina menunjuk sekolah TK yang memang terlihat dari termpat mereka duduk.

“Kenapa kamu tiba-tiba kerja? Darren tidak memberimu uang belanja?” goda Evan, dan Karina tertawa.

“Bukan tentang uang, aku hanya mencari kesibukan.”

Evan mulai menghidupkan mesin mobilnya kemudian mengemudikannya. “Memangnya kamu bisa mengajar?”

Pipi Karina memerah, dan ia menggeleng pelan. “Ini pengalaman pertamaku, lagi pula aku hanya membantu di sana, hanya menyanyi dan mengajari mewarnai beberapa gambar.”

“Wah, pasti menyenangkan sekali.”

Karina tersenyum. “Ya, sangat menyenangkan.” Ia menghela napas panjang. Ya,tentu saja sangat menyenangkan, mengingat dengan menyibukkan diri, ia bisa sedikit melupakan tentang Darren.

“Sudah makan?” tiba-tiba Evan mengalihkan topik pembicaraan.

“Oh, aku akan makan di rumah.”

Evan tersenyum “Maaf, bukan begitu rencananya.”

Karina menatap Evan penuh tanda tanya, tapi kemudian kebingungannya terjawab ketika Evan membelokkan mobilnya ke sebuah restoran.

“Kak, kenapa kita ke sini?”

“Untuk makan, masa iya numpang tidur.” Jawab Evan asal.

“Tapi kita bisa makan di rumah.”

“Ayolah, jangan menyebalkan, anggap saja ini ucapan terimakasih karena sudah membuatkanku bekal makan siang.”

“Oh, itu tak perlu terimakasih, aku juga membuatkannya untuk Darren, dan kalau papa juga ke kantor, aku pasti membuatkannya untuk papa juga.”

“Nah! Karena kamu sudah sangat baik terhadap keluargaku, maka aku akan mengajakmu makan bersama.”

“Kak.”

“Ayolah, kamu terlihat sedang membatasi diri denganku. Ada apa Karin?”

Pertanyaan Evan membuat Karina menundukkan kepalanya. “Aku, aku hanya tidak enak.”

“Apa yang membuatmu tidak enak? Ayolah, aku tetap kak Evan yang dulu, sahabat dari kakak kamu. Kamu seperti sedang menjauhiku.”

“Aku tidak menjauhimu, Kak.”

“Kalau begitu, bersikap biasa saja, ayo ikut aku masuk.” Karina menghela napas panjang, dan mau tidak mau ia menuruti kemauan Evan.

***

Entah sudah berapa jam Darren menunggu kedatangan Karina, tapi wanita sialan itu tak juga pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Kemana sebenarnya wanita itu?

Darren juga tidak berhenti menghubungi Nadine, tapi sialnya ponsel wanita tersebut tidak aktif. Apa yang Nadine lakukan? apa memang benar Nadine memiliki hubungan serius dengan Dirga sialan itu? Tidak! Kalaupun iya pasti ini ada hubungannya dengan Karina.

Ketika Darren sibuk dengan pikirannya sendiri, matanya teralih pada sorot lampu yang baru masuk ke halaman rumahnya. Darren yang memang sedang duduk di teras rumahnya, berdiri seketika saat melihat mobil kakaknya masuk ke dalam halaman rumahnya.

Mobil itu berhenti, dan tak lama rahang Darren mengeras seketika saat melihat siapa yang keluar dari dalam mobil tersebut.

Itu Karina, yang keluar dari dalam mobil kakaknya, apa yang di lakukan wanita itu? kenapa bisa keduanya keluar bersama? Dengan spontan jemari Darren mengepal seketika. Bagaimana mungkin wanita itu bersenang-senang ketika ia dan Nadine sedang memiliki masalah yang mungkin saja di akibatkan oleh wanita itu?

Darren melihat Karina berjalan cepat menuju ke arahnya. “Hai, kamu sudah di rumah?” tanya Karina dengan lembut. Tapi dengan tatapan membunuh, Darren melihat Karina dari ujung rambut hingga ujung kakinya, kemudian lelaki itu berbalik masuk begitu saja ke dalam rumahnya.

***

Karina tampak bingung dengan reaksi yang di tampilkan Darren padanya. Akhirnya karena perasaannya tidak enak, secepat kilat ia mengikuti Darren ke dalam kamar mereka. Tapi baru beberapa langkah, pergelangan tangannya di raih Evan.

“Ada apa?”

Karina menggelengkan kepalanya. “Nggak ada apa-apa.”

“Dia terlihat marah.”

“Ya, tapi aku tidak tahu kenapa, aku akan mencari tahu.” Karina akan beranjak lagi tapi pergelangan tangannya masih di genggam erat oleh Evan.

“Boleh aku menemanimu? Aku takut dia berbuat yang enggak-enggak padamu.”

Karina tersenyum lembut. “Darren tidak akan jahatin aku, Kak Evan nggak perlu khawatir.”

“Tapi-”

“Kak, bagaimanapun juga ini urusan rumah tangga kami, aku baik-baik saja.”

Evan menganggukkan kepalanya pelan, meski sebenarnya hatinya masih tidak tega saat membayangkan Darren berperilaku kasar terhadap Karina.

“Oke, kalau ada apa-apa teriak saja, aku akan datang.”

Dan Karina terkikik geli. “Kak Evan berbuat seolah-olah aku dan Darren akan bertengkar hebat, kami baik-baik saja.” Evan tersenyum kemudian melepaskan genggaman tanganya, dan setelah itu Karina pergi.

Karina menuju ke arah kamarnya, membuka pintu kamarnya tersebut, dan sudah mendapati Darren yang berdiri membelakangi pintu kamarnya.

“Tutup dan kunci pintunya.” Suara itu terdengar dingin di telinga Karina. Oh, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Darren bersikap seperti ini lagi?

“Ada apa? Kupikir kamu-”

Darren membalikkan tubuhnya seketika menghadap ke arah karina. “Apa yang kamu lakukan dengan Nadine.”

“Nadine? Maksud kamu?” Karina benar-benar bingung apa yang di maksud Darren.

“Telepon kakakmu dan tanya apa yang terjadi.”

“Kakak?”

“Jangan berlagak tolol. Cepat telepon dia sebelum aku semakin marah.”

Dan Karina menuruti apa yang di perintahkan Darren. Secepat kilat ia menelepon Dirga, kakaknya, ia ingin menelepon Davit, kakaknya yang satunya, tapi setelah di pikir-pikir, Nadine tidak mungkin bermasalah dengan Davit, karena Davit sendiri tinggal di luar kota dengan istrinya, jadi kemungkinannya adalah kakaknya yang bernama Dirga yang sedang bermasalah dengan Nadine.

Karina menelepon lagi dan lagi, tapi tak ada jawaban, ia mulai takut karena tatapan mata Darren benar-benar tampak mengerikan padanya.

“Te -teleponnya tidak di angkat.” Karina terpatah-patah.

“Aku tidak mau tahu, hubungi dia sampai dia memberi kabar yang jelas!”

Karina mencoba menelepon kakaknya lagi, tapi tetap saja, tak ada yang mengangkat teleponnya tersebut. Akhirnya Karina mencoba menelepon orang tuanya. Setelah berapa kali deringan, teleponpun di angkat sang mama.

“Ada apa Karin?”

“Ma, aku nggak bisa hubungin Mas Dirga.”

“Oh, Dirga, itu, uum.”

“Ada apa Ma?” Karina tampak khawatir.

“Sebelumnya maaf karena tidak memberitahumu terlebih dahulu, Dirga nikah hari ini di Bali, tapi cuma upacara pernikahannya saja, resepsinya nanti tetap di adakan di Jakarta.”

Karina tampak shock dengan kabar yang baru saja di ucapkan sang mama. “Apa? Nikah? Kok bisa?”

Meski Darren tidak dapat mendengar suara orang yang sedang di telepon Karina, tubuh Darren menegang seketika saat mendengar perkataan Karina.

“Ya, semuanya terjadi sangat cepat. Dirga menikah dengan Nadine.”

Karina membulatkan matanya seketika, ia kemudian menatap ke arah Darren dengan bibirnya yang masih ternganga. Suaminya itu kini sedang menatapnya dengan tatapan membunuhnya, oh apa yang akan di lakukan lelaki itu padanya jika mengetahui kabar tersebut? Dengan spontan Karina menutup teleponnya begitu saja, ia sedang dalam sebuah masalah, Karina tahu itu.

“Ada apa Karin?” Darren bertanya dengan penuh penekanan.

Karina menundukkan kepalanya dan hanya mampu menggelengkan kepalanya.

“Aku bertanya, ada apa?” Lagi, suara Darren terdengar begitu menakutkan di telinga Karina.

“Aku, aku nggak tahu apa yang terjadi dengan mas Dirga dan Nadine.”

Darren semakin mendekatkan tubuhnya. “Kenapa dengan mereka, katakan!”

Karina masih menggelengkan kepalanya, tapi kemudian Darren mencengkeram erat rahangnya lalu mendongakkan wajah Karina ke arahnya.

“Katakan, atau aku akan bertindak kasar.”

“Mereka, mereka sudah menikah hari ini, di Bali.” Meski sedikit terpatah-patah, Karina mampu menyelesaikan kalimatnya.

Darren tercengang dengan perkataan Karina, cengkeramannya pada leher Karina terlepas begitu saja. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Nadine meninggalkannya? Tapi kemudain secepat kilat ia menarik lengan Karina, kemudian menghempaskan tubuh kurus itu ke atas ranjangnya.

“Katakan! ini semua rencanamu, bukan?”

“Enggak! Aku benar-benar tidak tahu menahu, Darren.”

“Bohong!” Darren tentu tidak percaya. Darren lalu membuka ikat pinggangnya, sedangkan matanya masih menatap Karina dengan tatapan membunuhnya.

“Kamu, kamu mau apa?”

Darren tersenyum miring. “Mau apa? Aku akan menghukummu.” Secepat kilat Darren meraih pergelangan tangan Karina kemudian mengikatnya dengan ikat pinggang yang tadi ia kenakan, mengikatnya dengan begitu kencang dan kasar hingga Karina meringis kesakitan.

Darren kemudian mengikat ujung ikat pinggangnya yang lain pada kepala ranjang hingga kini Karina sudah dalam posisi terbaring dan terikat di atas ranjangnya sendiri.

Karina mulai menangis, karena ia tahu jika Darren akan melakukan itu lagi, memperkosanya lagi untuk kesekian kalinya, dan yang akan ia rasakan hanya sebuah kesakitan, bukan kenikmatan atau apapun itu yang tertulis dalam novel-novel yang pernah ia baca.

“Jangan lakukan ini.” Karina memohon, meski ia yakin jika Darren sangat menikmati saat melihatnya memohon seperti sekarang ini.

“Jangan lakukan ini? Apa kamu mau mendengarkanku saat aku memintamu menghentikan pernikahan sialan kita ini? Tidak bukan? Dan sekarang, aku tahu kalau pernikahan Nadine juga pasti ada hubungannya denganmu.” Darren mulai melucuti pakaiannya sendiri hingga kini dirinya sudah berdiri polos memperlihatkan pahatan-pahatan sempurna tubuhnya pada Karina.

“Aku benar-benar tidak tahu tentang pernikahan Nadine dan mas Dirga.”

“Tidak tahu? Aku tidak peduli. Hancurnya hubunganku dengan Nadine itu karenamu, jadi sudah sepantasnya aku menghukummu.”

Darren kini sudah mulai membuka pakaian yang di kenakan Karina, sedangkan Karina benar-benar tak dapat berbuat banyak. Ikatan Darren pada tangannya sangan kencang, dan itu melukainya. Karina tak dapat berbuat banyak.

Seperti biasa, tanpa pemanasan sedikitpun, Darren memasuki begitu saja tubuh Karina setelah tubuh itu polos, membuat Karina memekik kesakitan karena sikap kasar yang di berikan Darren padanya.

Darren menghujam lagi dan lagi, sedangkan yang dapat di lakukan Karina hanya menangis dan menangis. Tanpa di duga, Darren kemudian menundukkan tubuhnya,mendekatkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Karina, kemudian berkata di sana.

“Sudah menikmati hukumanmu, hem?” tanyanya sambil mencengkeram erat rahang Karina. Karina hanya mampu menjawab dengan matanya yang berkaca-kaca. “Jika belum, maka dengan senang hati aku akan menambah hukumanmu.”

Secepat kilat Darren meraup bibir Karina dengan bibirnya, melumat bibir istrinya itu dengan lumatan kasarnya, sesekali menggigitnya. Oh, bagaimana mungkin melakukan seks dalam keadaan marah benar-benar membuatnya semakin bergairah?

Sedangkan Karina sendiri merasakan tubuhnya bergetar hebat saat bibir Darren menyentuh permukaan bibirnya. Ini adalah pertama kalinya lelaki itu menciumnya, ciuman pertamanya yang di berikan oleh Darren dengan begitu kasar. Oh, bukan seperti ini yang ia inginkan, bukan kehidupan semacam ini.

-TBC-

Maaf yaa aku Update UW dulu,, wkwkwkkwk meski banyak yg minta Elena, tapi jangan sedih, aku gak PHP kok, saat ini Elena sudah masuk terlaris di Playbook no 8, nahh jika besok peringkatnya naik, maka aku akan update Elena, kalo enggak, yaa aku akan update malam minggu aja, oke.. hehheheheheh doakan yaa…

Advertisements

7 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 5 (Hukuman)

  1. Aduh kasian amat karina disiksa gitu ee dia ny diem aj, teriak kek apa kek, biar si evan dgr trus nolongin karina, haduuhh…
    Sbnar ny ini ga masuk genre ak sih yg pke kekerasan kyk gini, tp gpp… penasaran sm lanjutan crita ny, semngat author ^o^

    Ooo elenaaa, aku jg nungguin update ny hiks TT

    Like

  2. akhir na darren mo mncium karin juga walau dengan kekerasan … entah mngapa q merasa ql daren udah mulai candu ma karin , walaupun dia melakukan itu dengan kekerasan tapi dia tidak biza berhenti buat tidak melakukan itu ma karin … evan udah mulai berani sekrang , harus ada moment dirga ma nadine yaa , q penasaran ma mereka ..

    Like

  3. lanjut lanjut lanjut….
    semangat ya mamabella untuk lanjut chapterx.. yg panjangan dikit lah mom ceritanyaaa… penasaran pake bangetttttt hehehee ^.^

    elena jg dong mom lanjutttt…

    semangat semangat ya mamabella…

    Like

  4. Brtambah rumit aja nih dgn adanya pernikahan Dirga dan Nadine,,,
    Darren jd brpikir ini adlh rencananya Karin n klrga.. Pd akhirnya tetap Karin yg di salahkan kasian jg ya,,tp ini udah resikonya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s