romantis

Elena – Chapter 20 (Aku mencintainya)

Elena

Yogie menghela napas panjang. “Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

Dan telapak tangan Yogie mengepal seketika. “Kasih tahu di mana posisimu, aku akan ke sana.”

Dan akhirnya orang pesuruhnya tersebut memberi tahu posisinya di mana saat ini, kemudian dengan cepat Yogie menyusul. Ia ingin tahu, siapa lelaki yang di temui Elena, apa lelaki itu yang membuat Elena berubah padanya? Apa lelaki itu yang membuat Elena ingin meninggalkannya lagi?

Sial! Yogie bahkan sudah tak dapat menahan emosinya legi ketika membayangkan lelaki tersebut.

 

Chapter 20

-Aku mencintainya-

 

“Terimakasih kamu mau menemaniku.” lirih Elena pada sosok lelaki di sebelahnya. Itu Aaron yang kini sedang mengemudikan mobilnya.

Tadi Elena memang berniat ke tempat dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilannya, hanya saja setelah sampai di sana, Elena sangat malu karena di sana hanya ia yang sendirian, sedangkan wanita yang periksa di sana di temani oleh suami masing-masing.

Dengan spontan Elena berbalik dan meninggalkan tempat tersebut. Ia juga ingin di temani dengan ayah dari bayi yang di kandungnya, tapi meminta Yogie untuk menemaninya, benar-benar tidak mungkin.

Yogie terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, lelaki itu sudah berubah dan hanya mementingkan kesenangannya sendiri, mana mungkin Yogie mau mengakui bahwa bayi yang di kandungnya adalah bayi dari lelaki tersebut.

Belum lagi kenyataan jika dulu Yogie juga pernah membuat dirinya kehilangan calon bayinya, ah, saat itu Yogie pasti sengaja meminta dokter untuk menggugurkan bayinya hingga lelaki itu bisa lepas dari segala tanggung jawab, seperti yang di lakukan Gilang dulu. Kini, Elena tidak akan mengulangi kebodohannya lagi. Yogie belum siap menjadi orang tua, dan ia tidak akan pernah menjadikan Yogie sebagai orang tua dari bayi yang di kandungnya.

“Elena.” Panggilan itu membuat Elena menolehkan kepalanya ke samping, di sana ada Aaron yang masih setia mengemudikan mobilnya.

Setelah keluar dari rumah sakit, Elena lantas menghubungin Aaron. Entah kenapa ia merasa hanya Aaron yang dapat membantunya. Aaron adalah sahabatnya, dulu ketika sama-sama sekolah di Harvard, Elena sering sekali membantu Aaron hingga lepas dari masalah, kini, tidak ada salahnya bukan jika ia meminta bantuan pada Aaron? Aaron pasti akan mengerti, lelaki itu memiliki pikiran yang terbuka.

“Iya.”

“Aku masih heran, kenapa kamu memintaku mengantarmu ke dokter kandungan? Maksudku, apa yang terjadi dengan ayah dari bayimu?”

“Aku hanya memintamu untuk menemaniku, Aaron, bukan berarti kamu harus tahu semuanya tentang hidupku.”

“Aku tidak ingin tahu tentang hidupmu, hanya saja ini masalah besar, Elena. Aku tahu kamu mampu menjadi ibu tunggal, tapi apa kamu tidak berpikir tentang media? Kamu pewaris tunggal dari perusahaan besar di negeri ini, dan semua tentangmu akan menjadi sorotan publik. Sedikit banyak ini akan mempengaruhi nama baik keluargamu.”

Elena terdiam sebentar. “Aku akan pergi.”

“Pergi?”

“Ya. Setelah usia kehamilanku empat bulan, mungkin.”

“Pergi bukan solusi yang baik, Elena, lalu kamu akan kembali dengan seorang bayi? Ayolah. Kamu tidak bisa menyembunyikan semuanya.”

“Aku tidak mau membahas ini, Aaron! Kepalaku sudah cukup pusing.”

Aaron menghela napas panjang. “Apa lelaki brengsek itu tidak mau bertanggung jawab? Jika iya maka bilang siapa orangnya. Aku akan memukulinya hingga babak belur dan memohon ampun padamu.”

Elena menggeleng cepat. “Dia bahkan tidak tahu aku hamil.”

“Apa?!” Aaron terkejut seketika. “Aku benar-benar nggak habis pikir denganmu. Astaga, kamu aneh!”

“Ya, aku memang aneh. Jadi diam saja dan turuti apa mauku.” Aaron hanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.

 

***

Elena tidak berhenti meraba perut datarnya. Setelah memeriksakan diri dengan di temani Aaron, kini perasaan Elena semakin tenang. Ia sangat senang mendapati kehidupan lain yang kini sedang tumbuh dalam rahimnya. Dan astaga, ia tak pernah merasa sesenang ini.

Elena yakin jika ia mampu melewati semuanya nanti sendiri, tanpa Yogie ataupun yang lainnya. Ia akan melewati semuanya dengan calon bayinya yang entah sejak kapan begitu ia sayangi.

“Kamu baik-baik saja, kan?” suara Aaron memaksa Elena menolehkan kepalanya ke samping.

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Apa kamu bahagia dengan calon bayimu?”

Elena tersenyum. “Tentu saja, aku sangat bahagia.”

“Apa kamu tidak berpikir jika ayahnya juga pasti akan bahagia ketika tahu ada dia di dunia ini?”

Elena memutar bola matanya sebal ke arah Aaron. “Berhenti membahas tentang ayah bayi ini, Aaron!”

“Aku hanya mengingatkanmu, Elena.”

“Aku tidak mau di ingatkan.”

Aaron kembali menghela napas panjang. “Baiklah, sekarang kamu mau ku antar ke mana?”

“Aku mau pulang saja. Aku ingin banyak istirahat supaya tidak terjadi sesuatu dengan bayiku.”

“Oke, aku akan mengantarmu pulang.”

Dan keduanya akhirnya pergi dari rumah sakit tersebut tanpa mengetahui jika sejak tadi ada sepasang mata penuh dengan amarah sedang mengintai keduanya.

***

Dengan gusar Yogie membelokkan mobilnya ke arah apartemen Elena. Ia harus menghampiri wanita tersebut, tidak bisa di tunggu lagi.

Setelah seharian mengikuti kemana Elena pergi, ternyata wanita itu pergi ke sebuah praktek dokter spesialis kandungan. Kenapa? Apa Elena hamil? Dengan Aaron?

Brengsek! Tentu saja. Bukankah tadi Aaron yang mengantar wanita tersebut? Jika bukan Aaron yang menghamili Elena, tentu Aaron tidak mau repot-repot mengantar Elena, dan membuat salah paham istrinya mengingat lelaki itu baru saja menikah.

Yogie mencengkeram erat kemudi mobilnya, sesekali ia memukulnya. Sumpah demi apapun juga, ia ingin memukuli Aaron sampai lelaki itu babak belur. Berani-beraninya lelaki sialan itu merebut Elenanya. Apa Bella masih kurang untuk Aaron hingga Aaron mencari seorang simpanan seperti Elena? Mengingat kembali hal itu membuat emosi Yogie semakin menjadi.

Setelah memarkirkan mobilnya, Yogie masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Setelah sampai di depan pintu apartemen Elena, tanpa banyak bicara lagi Yogie menggedor pintu apartemen Elena dengan sangat keras.

“Buka, Elena!” teriaknya.

Tak lama pintu tersebut di buka. Menampilkan sosok Elena yang tampak menawan walau wanita itu hanya mengenakan pakaian santainya.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Kita harus bicara.” Yogie menyambar pergelangan tangan Elena dan menarik wanita tersebut keluar dari dalam apartemennya.

“Lepasin! Apa yang kamu lakukan? Aku sudah tidak mau bertemu denganmu lagi.”

“Kita harus bicara, Sialan!” Yogie mengumpat keras tepat di hadapan Elena.

Elena menghela napas panjang. Oh, bagaimana mungkin ia mencintai lelaki yang kekanakan seperti Yogie? Lelaki yang tidak dapat meredam emosinya dan hanya bisa mengumpat kesana kemari?

“Bicara saja di sini.”

“Tidak. Kita akan bicara di luar.”

“Aku tidak mau! Aku mau kamu bicara di sini.”

“Kalau aku bicara di sini, maka setelahnya aku akan menidurimu, memasukimu dengan sangat kasar, karena saat ini aku sedang sangat marah padamu.”

Elena merasa ngeri dengan ancaman yang di berikan oleh Yogie. Akhirnya ia mengalah. Ah, mungkin setelah menyelesaikan semuanya dengan lelaki tersebut, maka ia akan bebas, Yogie akan melepaskannya dan ia tidak akan berurusan dengan lelaki itu lagi. Pikir Elena.

“Oke, kita bicara di luar.” Dan akhirnya Elena kembali masuk ke dalam apartemennya, memngganti pakaiannya kemudian keluar bersama dengan Yogie.

***

Elena kini sudah duduk di ujung kafe milik Jihan. Telapak tangannya menangkup secangkir cokelat hangat yang mengepul di hadapannya. Sesekali ia menatap ke arah Yogie.   Yogie sendiri tampak murung dengan ekspresinya. Entah apa yang sedang di pikirkan lelaki tersebut.

“Kita lupakan saja semuanya.” Setelah cukup lama berdiam diri tanpa ada yang mau memulai pembicaraan, akhirnya Elena berucap dengan datar.

“Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?”

“Aku akan kembali ke luar negeri, jadi lupakan semuanya.”

Yogie tersenyum miring. “Benarkah? Kupikir kamu sedang berniat menggoda suami orang.” sindir Yogie.

“Jaga mulut kamu, Yogie!”

“Aku sudah tahu Elena, kamu kembali menjalin hubungan dengan Aaron, kan? Padahal kamu jelas tahu, kalau dia sudah menikah dengan Bella.”

“Bukan urusanmu.” Elena berdiri kemudian bergegas pergi, tapi kemudian tangan Yogie meraih pergelangantangan Elena.

“Kenapa Elena? Kamu takut aku memepengaruhimu makanya kamu mencari lelaki lain untuk mengalihkan perhatianmu dariku?”

Dengan gusar Elena menghempaskan tangan Yogie. “Dengar ya, hubungan kita tidak lebih dari sekedar seks, jadi lupakan semuanya, kamu sama sekali tidak berpengaruh padaku.” ucap Elena penuh penekanan.  Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Yogie yang masih menatapnya dengan tatapan kosongnya.

Yogie menghela napas panjang. Entah apa yang terjadi dengan wanita tersebut hingga terlihat sangat membencinya, dan apa juga yang terjadi dengannya hingga ia tidak dapat mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Elena.

Yogie jelas tahu, jika tujuannya berbicara dengan Elena adalah untuk meminta penjelasan tentang hubungan Elena dengan Aaron, Yogie ingin meminta penjelasan apa Elena benar-benar hamil anak dari Aaron atau tidak. Tapi entah kenapa lidahnya menjadi kelu. Yogie tidak sanggup menanyakan pertanyaan tersebut, karena ia terlalu takut jika apa yang di pikirkannya itu adalah sebuah kenyataan. Jika memang kenyataannya Elena menjadi simpanan Aaron, lalu wanita itu hamil dengan lelaki sialan tersebut, sungguh, Yogie tidak dapat menerima kenyataan tersebut.

Nyatanya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Yogie sadar jika ia ingin memiliki Elena seutuhnya. Ia tidak ingin Elena dimiliki lelaki lain, ia tidak ingin Elena meninggalkannya lagi. Tapi kenapa kenyataan seakan selalu mempermainkannya?

Yogie mengusap rambutnya dengan kasar. Ia kesal, sangat kesal. Kemudian ia merasakan seseorang duduk di hadapannya.

“Kamu butuh seseorang untuk mendengarkanmu?” suara lembut itu membuat Yogie mengangkat wajahnya dan mendapati Jihan yang sudah duduk di hadapannya dengan senyuman lembutnya.

Yogie hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu harus bercerita apa. Perasaannya tidak menentu, dan mana mungkin Jihan dapat mengerti tentangnya?

“Kamu berubah, Gie. Kamu tidak seperti Yogie yang ku kenal dulu.”

“Aku tidak akan menjadi Yogie yang dulu, Yogie yang bodoh karena hanya bisa mengejar-ngejar wanita dan di tinggalkan begitu saja oleh wanita yang di sukainya.”

Jihan tersenyum. “Tak ada yang salah dengan mengejar wanita, Gie. Sudah menjadi kodrat lelaki untuk mencari pasangannya, jika dia meninggalkanmu, maka kejarlah.”

Yogie tersenyum miring. “Jadi itu yang terjadi denganmu dulu? Kamu ingin aku mengejarmu ketika kamu pergi meninggalkanku?”

“Kita sudah sepakat tidak membahasnya lagi, Gie. Aku bahagia dengan hidupku saat ini, dan ku pikir kamu juga seharusnya bahagia dengan hidupmu yang saat ini.”

Yogie mendengus sebal. “Bagaimana mungkin hidupku bahagia jika pikiranku selalu penuh dengan perempuan sialan itu?”

Jihan mengerutkan keningnya. “Elena? Kamu selalu memikirkan Elena?”

Yogie mengangguk lemah. “Dia meninggalkanku. Sial! Dia melakukannya lagi, dia meninggalkanku lagi seperti dua tahun yang lalu. Apa yang salah denganku? Aku sudah berubah, tapi kenapa dia tetap meninggalkanku?”

Jihan menggenggam jemari Yogie yang ada di atas meja di hadapan mereka. “Perubahanmu ke arah yang salah, hingga dia memutuskan meninggalkanmu lagi.”

“Salah? Aku tidak mengerti.”

“Lihat ke dalam diri kamu, Gie. Apa kamu senang melakukan semua ini? Melakukan semua perubahan ini?”

Yogie hanya terdiam, ia mencoba menyelami beberapa waktu yang ia habiskan dengan Elena setelah wanita itu kembali dari Boston.

“Elena kembali untuk kamu, tapi aku kecewa ketika tahu kalau kamu memperlakukan dia dengan sangat kasar, kamu menginjak-injak harga dirinya, dan sangat wajar jika kini Elena menyerah dan kembali pergi meninggalkanmu.”

“Elena kembali untukku?”

“Ya, dia benar-benar kembali untukmu, untuk mencarimu, memulai semuanya dari awal denganmu.”

“Dan dari mana kamu tahu jika aku memperlakukannya dengan kasar?”

“Dia sering ke sini dan bercerita denganku, dia pikir hanya aku dan temannya yang bernama Megan yang dapat mendengarkan semua keluh kesahnya.”

“Apa dia bercerita yang lain denganmu?”

“Tidak. Dia hanya bicara jika dia kecewa dengan semua perlakuan yang kamu berikan padanya.”

Yogie menghela napas panjang. “Aku, aku berpikir jika dia hanya memanfaatkan keberadaanku seperti dulu. Dia hanya butuh tubuhku untuk memuaskan dahaganya, dan aku benci jika itu alasan dia kembali padaku.”

“Sebegitu rendahnyakah pandanganmu terhadap Elena? Apa dia terlihat seperti wanita gatal yang menjajahkan dirinya padamu? Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian sebelum dia pergi ke Boston, tapi yang kutahu, dia kembali dengan sesuatu, sesuatu yang sangat jelas terlihat di matanya.”

“Apa itu?”

“Cinta.”

Yogie menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak! Tidak mungkin. Elena pernah bilang jika dia tidak pernah percaya dengan cinta.”

“Aku bisa melihatnya.”

Yogie masih menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin.”

“Kalau dia benar-benar kembali dengan cinta untukmu, apa kamu menerimanya?” pertanyaan Jihan membuat Yogie tertegun.

Apa ia akan menerima Elena dengan cintanya? Apa ia akan kembali percaya dan berharap dengan kata yang bernama cinta? Yogie masih menggelengkan kepalanya, tapi hatinya sedikit luluh dan mencoba percaya dengan apa yang di katakan Jihan.

“Pikirkanlah sendiri, kamu yang menjalaninya, tentu kamu yang lebih tahu dan yang dapat merasakannya sendiri.” Jihan bersiap berdiri untuk meninggalkan Yogie sendiri, tapi kemudian pernyataan Yogie menghentikannya.

“Aku sudah salah.” Tanpa sadar Yogie mengucapkan kalimat tersebut.

Jihan kembali duduk karena ia berpikir jika Yogie akan mengatakan sesuatu padanya.

“Aku sudah memperlakukannya dengan tidak baik, aku bodoh karena selalu berpikiran buruk padanya. Dan kini, dia benar-benar meninggalkanku. Aku yang salah.”

“Kamu masih bisa mengejarnya, semuanya belum terlambat.”

“Bagaimana jika dia menolakku? Dia terlihat sangat membenciku.”

“Kamu belum mencoba, jika dia menolakmu, jangan menyerah. Aku tahu kamu tipe orang yang tidak gampang menyerah.”

Yogie kembali tercenung. Apa ia akan mengejar Elena? Membuat wanita itu kembali padanya? Apa ia akan menerima Elena dengan keadaan wanita itu saat ini yang mungkin saja sedang hamil dan mengandung bayi lelaki lain. Dapatkah ia menerima kenyataan itu?

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Entahlah, aku hanya… sedikit ragu.”

“Oke, sekarang pertanyaan sederhana, apa kamu mencintainya?”

Yogie terperangah dengan pertanyaan yang di lontarkan Jihan. Apa ia mencintainya? Mencintai Elena?

“Aku tidak tahu.”

“Ayolah, jangan menyebalkan. Bagaimana kamu mau mengejarnya jika kamu sendiri tidak yakin dengan perasaanmu?”

“Aku, aku-”

“Apa?”

Yogie menghela napas panjang. Tidak ada gunanya lagi membohongi dirinya sendiri, memungkiri perasaannya sendiri, jika kenyataannya ia memang tidak dapat jauh dari sosok Elena, dan semua itu di karenakan oleh perasaannya, bukan tentang kontak fisik dengan wanita tersebut, bukan juga perasaan tentang seks atau apapun itu, melainkan perasaan sesungguhnya yang entah sejak kapan sudah tumbuh di hatinya, perasaan yang di sebut dengan cinta.

“Ya, aku mencintainya.”

Jihan tersenyum lebar. “Kalau begitu, tunggu apa lagi. Kejar dia.”

Tapi….

Yogie masih ragu, tentu saja. Tak gampang untuknya mengakui jika ia memang sudah jatuh hati pada sosok Elena. Elena bukan sosok wanita sempurna, tapi entah kenapa wanita itu mampu membuatnya jatuh cinta dengan segala kekurangan wanita tersebut.

 

-TBC-

Jangan baper yaa.. Nextnya.. hahahhahaha yg penasaran boleh beli dulu Pdfnya di playbook, wakakakakakakak

Advertisements

11 thoughts on “Elena – Chapter 20 (Aku mencintainya)

  1. Yogieeeee buruan lariii kejar elenaaa… jgn sampe km ditinggal lg 😂😂😂

    Mbaaa next chaptr jgn lama2 yaaa kami merindukannyaa 😙😙😙😙

    Like

  2. Ihh… Yogie bnar2 nyebelin dech… Prasangka trud sma elena pdhal elena sudh berkorban yach… Ckckck.
    Klo yogie ngejar elena apa elena akn terima yogie?
    Atau elena nya kbru pergi lagi… Dtggu part berikutnya kak.. ☺

    Like

  3. knp pendek banget , bikin orang penasaran az … ayo lah gie jangan cengeng gitu , bukti kan ql u masih yongie yng brengsek , semangat dong , masa gitu az baper …

    Like

  4. Disaat2 udah genting Yogie bru mnyadri rasa cintanya pd Elena,,,skrg nyesel kan?
    Di abaikan dan sbntr lg akan ditinggalkan lg,,,and smga Yogie bsa mykinkan Elena utk tetap tinggal…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s