romantis

Unwanted Wife – Chapter 4 (Rumit)

Unwanted Wife

Haii, berhubung draft Evelyn belum selesai, maka aku update UW dulu yaa.. hehehheheh besok malam akan ada Updet Elena. happy reading..

Nadine membuka matanya perlahan-lahan, yang pertama kali ia rasakan saat itu adalah rasa tidak nyaman di sekujur tubuhnya. Tubuhnya terasa ngilu dan remuk. Nadine bangkit dari tidurnya dan betapa terkejutnya ketika ia mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun, hanya selimut di ranjang tersebutlah yang membalut tubuh telanjangnya.

Sial! Apa yang terjadi? Pikirnya masih bingung. Ia sama sekali tidak dapat mengingat apapun tentang tadi malam, dan itu membuat Nadine semakin kesal.

Dan semua yang ada di dalam pikiran Nadine tersebut hilang ketika ia melihat sosok yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sosok yang bertelanjang dada, hanya berbalutkan handuk kecil di pinggulnya dan memperlihatkan perut kotak-kotaknya.

Itu Dirga, atasannya, kakak dari sahabatnya. Oh sial! Apa yang sudah mereka lakukan semalam?

***  

Chapter 4

-Rumit-

 

Keluarga Nadine, Karina dan juga Darren memang bersahabat sejak remaja. Itu sebabnya mereka bertiga juga bersahabat sejak kecil. Darren memiliki usia 2 tahun lebih tua di bandingkan Karina dan Nadine, sedangkan Kakak kembar Karina, Dirga dan Davit memiliki usia 5 tahun lebih tua dari pada Karina dan Nadine, kedua kakak kembar Karina tersebut sebaya dengan Evan, kakak Darren. Dengan begitu, mereka berenam memang saling mengenal satu sama lain sejak kecil.

Keluarga Nadine memang bukan keluarga kaya, tapi keluarga Darren dan Karina tidak pernah memandang status sosial sebagai patokan mereka bergaul. Nadine sendiri sudah sejak dua tahun yang lalu bekerja di perusahaan keluarga Karina, menjadi sekertaris pribadi salah seorang kakak Karina yang bernama Dirga.

Hubungan Dirga dan Nadine memang biasa saja karena sebelumnya keduanya memang saling mengenal sebagai teman, tapi semua itu berubah sejak saat itu, saat Nadine sadar jika telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua semalam.

“Sudah bangun?” suara berat itu membuat Nadine semakin gugup. Apa yeng terjadi dengannya.

“Ya, Uum, apa yang terjadi, Kak?”

Tanpa di duga Dirga berjalan ke arahnya kemudian mengusap puncak kepala Nadine dengan lembut. “Mulai saat ini kamu milikku.”

“Apa? Kak-”

“Nadine, aku tahu kamu masih sedih dengan pernikahan Darren dan Karin. Aku akan membantumu melupakan semuanya.”

Nadine menggelengkan kepalanya cepat. “Aku mencintai Darren, Kak.”

“Tapi aku sudah memilikimu. Kamu milikku, Nadine.” Dan Nadine tak dapat membantah lagi. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Tuhan, bukan seperti ini kehidupan yang ia inginkan. Bukan seperti ini.

 

Nadine menggelengkan kepalanya cepat ketika bayangan pagi itu muncul dalam ingatannya. Malam itu adalah malam pesta pernikahan Darren dan Karin. Mau tidak mau, Nadine datang menghadiri pesta tersebut meski suasana hatinya benar-benar sangat buruk.

Matanya terlihat sembab, tapi ia tidak peduli, nyatanya kekasih hatinya sedang menikah dengan sahabatnya sendiri, sangat wajar jika ia sakit hati dan menangis hingga matanya bengkak.

Itu adalah malam terpanjang untuk Nadine, hingga ia memutuskan meminum banyak sekali anggur hingga tak sadarkan diri karena mabuk dan berakhir bangun di atas ranjang atasannya.

Lamunan Nadine terhenti setelah sebuah panggilan kembali masuk dalam ponselnya. Nadine melirik ke arah ponselnya dan mendapati Dirga yang sedang menghubunginya. Nadine menghela napas panjang sebelum mengangkat ponsel tersebut.

“Halo.”

“Kamu dimana?”

“Aku di rumah.”

“Kamu nggak bohong, kan?”

“Aku benar-benar di rumah, Kak.”

“Oke, aku percaya. Jangan lupa besok kita akan ke Bali.”

“Aku nggak akan lupa.”

Dirga terdiam cukup lama sebelum berkata lagi “Aku nggak suka melihat kamu masih dengan Darren.”

“Kak.”

“Aku nggak suka, Nadine!”

Dan Nadine hanya terdiam.

“Oke, tidurlah, besok kita berangkat pagi.” Dan hanya seperti itu, kemudian telepon di tutup begitu saja. Nadine hanya terpaku menatap ponsel dalam genggamannya. Kenapa semuanya jadi serumit ini?

***

Karina sudah selesai mandi ketika Darren sampai di rumah. Dengan sedikit gugup Karina melangkah menuju ke arah lemari pakaian mereka, mengambil pakaiannya dengan sesekali melirik ke arah Darren yang masih terduduk dengan tenang di pinggiran ranjang mereka.

“Darimana saja kamu tadi?” suara dingin Darren memaksa Karina menolehkan kepala ke arah suaminya tersebut.

“Uum, itu, aku cuma jalan sebentar sama Kak Evan dan Mas Dirga.”

“Oh ya? Hanya jalan?”

“Aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi kami memang hanya jalan bersama.”

Darren tersenyum mengejek. “Apa yang aku pikirkan? Aku tidak peduli mau kamu jalan dengan siapapun, asalkan kamu juga jangan mempedulikan urusanku dengan Nadine.”

“Aku tidak pernah mempedulikan hubungan kamu dengan Nadine.” Mata Karina mulai berkaca-kaca, suaranya terasa tercekat di tenggorokan. Memangnya istri mana yang rela melihat suaminya jalan dengan perempuan lain? Tentu tidak ada.

“Oh ya? Aku nggak percaya, kamu mungkin mengadu pada keluargamu, merengek pada mereka karena aku memperlakukanmu dengan tidak baik.”

Karina menggelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah melakukan itu, Darren.”

“Terserah apa katamu, aku sudah terlalu muak denganmu.” Darren berdiri dan bersiap pergi ke dalam kamar mandi.

“Tidak bisakah kamu menerimaku? Aku kurang apa di bandingkan Nadine?”

“Kurang apa? Kamu tida ada apa-apanya di bandingkan Nadine. Kamu tidak akan bisa menggantikan posisinya di hatiku.” Darren masuk begitu saja ke dalam kamar mandi lalu membanting pintu kamar mandi dengan begitu keras. Sedangkan Karina hanya bisa menangis melihat perlakuan orang yang di cintainya tersebut pada dirinya.

***

Paginya.

Karina masih menjalankan tugasnya seperti biasa. Hanya saja pagi ini tugasnya bertambah karena Darren nyatanya tidak berangkat pagi-pagi seperti biasanya. Ia mulai menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya tersebut, dasi serta sepatu yang akan di kenakan oleh Darren, sedangkan lelaki itu kini masih sibuk di dalam kamar mandi.

Pagi ini, Karina bangun lebih pagi dari sebelumnya karena semalam Darren tidak menyentuhnya. Lelaki itu tampak dingin terhadapnya, mereka bahkan tidur saling memunggungi satu sama lain. Kenapa? Apa Darren sudah mulai bosan menyentuh tubuhnya?

Karina menggelengkan kepalanya cepat. Entah kenapa pikirannya sampai ke sana. Saat Karina sibuk dengan pikirannya sendiri, Darren keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sudah segar. Rasa gugup kembali menyelimuti diri Karina.

“Hai, aku, sudah siapin pakaian buat kamu.”

“Nggak perlu repot, aku bisa siapin sendiri.” Dan Karina hanya diam tidak mempedulikan nada bicara Darren yang terdengar dingin di telinganya.

“Akan kubuatkan kopi.”

“Kubilang tidak perlu repot! Tidak perlu mengurus urusanku, urus saja dirimu sendiri!”

“Tapi aku ingin-”

“Jangan memaksaku melakukan hal yang lebih kasar padamu, Karin! Aku sudah cukup muak dengan wajah sok polosmu.”

“Baiklah.” Desah Karina yang kemudian berjalan keluar dari kamar mereka.

***

Meski selalu mendapat perlakuan seperti itu dari Darren, Karina tetap bersikap biasa-biasa saja di depan ibu mertuanya dan juga Evan, kakak iparnya. Ia masih membantu sang ibu mertua menyiapkan sarapan meski hatinya sedang sakit karena perlakuan suaminya tersebut.

Meski tidak seramah dulu, tapi sikap tante Sarah kini sudah lebih baik di bandingkan dengan awal-awal pernikahannya dengan Darren. Wanita paruh baya itu tidak lagi menjadi sosok pendiam di hadapannya. Tante Sarah bahkan sudah beberapa kali mengajak Karina belanja bersama. Hanya saja, Karina merasa masih ada yang kurang. Senyuman wanita paruh baya itu sedikit berkurang padanya, tidak seperti dulu, ketika hubungan mereka semua masih baik-baik saja.

Memangnya kenapa? Lagi pula itu salahnya sendiri karena memaksakan keadaan. Harusnya Karina lebih bersyukur karena masih di terima di dalam keluarga mereka setelah pengkhianatan yang telah di lakuan ia dan keluarganya.

“Pagi.” Suara berat yang berasal tepat di belakang Karina membuat Karina sedikit terlonjak karena terkejut karena kedatangan Evan yang di rasanya sangat tiba-tiba.

“Aww..” Tanpa sengaja jari Karina menyentuh panci di hadapannya yang memang berada di atas kompor yang sedang menyala hingga membuat Karinya merintih kesakitan.

“Maaf, aku nggak bermaksud ngagetin kamu.” Evan sedikit khawatir dengan apa yang terjadi pada Karina.

Dengan spontan Evan meraih jemari Karina dan meniup-niup jemari tersebut hingga Karina tidak merasa kesakitan lagi karena panas ketika bersentuhan dengan panci tersebut.

“Aku nggak apa-apa, kak.”

“Tapi itu panas.” Evan masih tidak berhenti meniup-niup jemari Karina.

Pada saat bersamaan, Darren yang memang menuju ke ruang makan, melihat kejadian tersebut. Tatapannya membunuh ke arah kedekatan Evan dan juga Karina, entah kenapa ia merasa sangat kesal dengan apa yang ia lihat.

“Pagi Darren.” Sapa mamanya yang kemudian membuiat Karina dan Evan menatap ke arah Darren.

Dengan spontan Karina menjauh dari Evan dan kembali melanjutkan aktifitas masaknya, sedangkan Evan sendiri hanya mampu menatap Karina dengan tatapan sendunya.

“Kenapa?” tanya Evan dengan sedikit berbisik pada Karina.

“Enggak apa-apa.” Jawab Karina dengan senyuman lembutnya.

“Kamu takut dia berpikir yang enggak-enggak tentang kita?”

Karina hanya menggelengkan kepalanya. Memangnya berpikir apa? Darren tentu tidak peduli dengan kedekatannya bersama pria manapun, apalagi dengan Evan, kakaknya sendiri.

“Dia nggak akan peduli.” Jawab Karina pelan.

“Oke, bagaimana dengan ini?” dengan sengaja Evan melingkarkan lengannya pada pinggang Karina dan itu benar-benar membuat Karina terkejut. Apa yang di lakukan lelaki itu? Kenapa kakak iparnya itu melakukan hal ini padanya?

“Aku langsung berangkat saja.” Suara Darren kembali membuat Karina dan Evan menolehkan kepala pada lelaki tersebut.

“Loh kamu nggak sarapan dulu?”

“Sarapan di luar saja.” Kemudian Darren pergi begitu saja dengan sesekali menatap Karina dan Evan dengan tatapan membunuhnya.

“Kamu lihat, dia peduli dengan kedekatan kita.” Bisik Evan pada Karina.

Karina terdiam sebentar kemudian dirinya baru ingat jika tadi ia sudah menyiapkan bekal untuk Darren. Secepat kilat ia meraih kotak makan yang sudah ia siapkan kemudian tanpa mempedulikan Evan lagi, Karina berlari menyusul Darren.

“Dasar bodoh! Kamu sudah memiliki dia Darren, bagaimana mungkin kamu menyia-nyiakannya? Apa kamu mau aku merebutnya?” lirih Evan pelan ketika melihat Karina berlari menyusul Darren.

***

“Darren, tunggu.” Karina terengah ketika sampai di halam rumah Darren, lelaki itu bareu akan masuk ke dalam mobilnya, untung saja ia tadi berlari cepat hingga tidak terlambat menyusul Darren.

“Ada apa?” suaranya terdengar begitu dingin di telinga Karina, tapi Karina seolah mengenyahkan sikap dingin suaminya tersebut.

“Ini buat kamu.” Karina menyodorkan bekal makan siang untuk Darren, makanan yang ia buat sendiri. Ia tahu jika lelaki itu sangat suka sekali dengan Omlet keju, dan tadi Karina menyempatkan diri membuat masakan tersebut untuk bekal makan siang suaminya itu.

“Nggak perlu, aku bisa makan di luar.”

“Tapi aku sengaja membuatnya untuk kamu.”

“Beri saja sama Evan. Mungkin dia akan bahagia mendapat bekal makan siang darimu.” Darren menjawab datar.

“Ini buat kamu, aku sudah menyiapkan yang lainnya untuk kak Evan, jadi tolong di bawa.”

Darren mendengus sebal. Oh, ternyata Evan juga mendapat jatah yang sama seperti dirinya? dan entah kenapa itu membuat Darren kesal.

“Buang saja.” Setelah mengucapkan dua kata itu, Darren masuk begitu saja ke dalam mobilnya, kemudian mengemudikannya tanpa memperhatikan Karina yang terpaku menatap kepergiannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

***

Siangnya…

Setelah rapat, Darren lantas mencari ponsel miliknya. Ia ingin segera menghubungi Nadine, apa kekasihnya itu sudah sampai di Bali atau belum. Tapi nyatanya, Nadine belum juga menjawab telepon darinya.

Darren mencoba lagi dan lagi, tapi tetap tidak ada jawaban, akhirnya ia menyerah. Kemudian ia memainkan ponselnya karena memang sedang suntuk. Mau melanjutkan pekerjaanpun pasti tidak akan bisa konsentrasi karena belum ada kabar tentang Nadine.

Darren mengutak-atik ponselnya, membuka foto-foto kebersamaannya bersama dengan Nadine, hingga kemudian, foto itu tak sengaja terbuka. Berbagai macam foto dalam sebuah folder yang tersembunyi di dalam ponselnya.

Lupakan!

Sisi lain dari diri Darren mengatakan seperti itu, tapi sisi lainnya memerintahkan supaya dirinya membuka folder tersembunyi tersebut. Ketika Darren akan membuka folder tersebut, pada saat bersamaan, ponsel tersebut berbunyi.

Nadine meneleponnya, dan Darren benar-benar melupakan keinginannya untuk membuka folder tersebut…

“Kamu ke mana saja? Aku meneleponmu sejak tadi.”

“Uum, aku.”

“Kenapa Nadine? Kamu sudah sampai di Bali, kan?”

“Darren, aku, aku minta maaf.”

“Maaf? Kamu kenapa? Apa yang terjadi?”

Darren hanya mendengar sebuah isakan dari Nadine. Oh, sebenarnya apa yang terjadi dengan kekasihnya itu?

“Lupakan dia, dia akan menikah.” Tiba-tiba Darren mendengar suara itu, suara dari laki-laki yang sangat di kenalnya, siapa lagi jika bukan Dirga, kakak dari istrinya.

“Lo, apa yang lo lakuin sama pacar gue?”

Terdengar Dirga mendengus kesal. “Pacar? Brengsek lo! Nadine calon istri gue!”

Dan setelah kalimat yang di lontarkan Dirga tersebut, Darren hanya tercengang. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tidak! Tidak mungkin Nadine akan menikah dengan laki-laki lain dan meninggalkannya. Bukankah mereka sudah janji jika akan selalu bersama? Nadine tidak mungkin meninggalkannya. Atau, apa jangan-jangan kekasihnya itu di paksa menikah dengan Dirga, sama seperti dirinya yang di paksa menikah dengan Karin? Oh ya, tentu saja, bukankah keluarga Karina memang sangat egois karena akan melakukan segala cara demi mencapai tujuannya?

Sial!

Telapak tangan Darren mengepas seketika, mungkinkah ini bagian dari rencana Karin untuk mendapatkan dirinya seutuhnya? Meminta kakaknya untuk menikahi Nadine? Oh tentu saja, semua jadi semakin masuk akal.

Darren mendengus kesal. Karina, kamu akan menyesal. Sumpahnya dalam hati dengan mengepalkan telapak tangannya.

 

-TBC-

Advertisements

8 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 4 (Rumit)

  1. Apaan siih daren ni.. ntr klo karina udh diambil ama kak evan bru tau rasa km… syebelll bgt ngeliatx..
    Cowok bodo ma egois bin jahat pula nih daren…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s