romantis

Unwanted Wife – Chapter 3 (Mulai Mengganggu)

Unwanted Wife

Haiii aku Up lagi nih dear.. wahhh nggak nyangka bgt kalo pada suka ama cerita gaje ini.. wakakkakakakak padahal aku bikinnya iseng2 loh.. hahhahahaha banyak yg benci karin maupun darren, dan aku makin semangat lanjutinnya… yeaayyy.. huehheheheh happy reading dehh kalo gitu…

“Semua ini karenaku?” tanpa sadar Darren menanyakan kalimat tersebut. Karina tidak bersuara. Ia masih sibuk dengan ras sakit yang bersumber dari tubuh Darren.

Darren menghentikan pergerakannya, jemarinya menelusuri beberapa warna merah kebiruan yang ada pada pundak dan pinggang Karina.

“Aku menyayangimu, Karin, aku menyayangimu karena kamu sahabat terbaikku, tapi kenapa kamu membuatnya menjadi sulit? Aku tidak ingin menyakitimu, tapi kamu sendiri yang secara tidak langsung memaksaku menyakitimu. Dan maaf, aku tidak bisa berhenti menyakitimu.”

Darren bergerak kembali dan Karina kembali menangis. Menangis karena ia sadar jika ia sudah kehilangan sosok Darren Pramudya, sahabat yang menyayanginya dan selalu ada untuknya. Kini sosok tersebut sudah berubah, sosok tersebut sangat membencinya, dan Karina tahu, jika semua itu karena keegoisannya untuk memiliki lelaki tersebut.

***

Chapter 3

Mulai mengganggu-

 

Darren masih sibuk mengenakan pakaiannya setelah beberapa kali memuaskan hasratnya pada tubuh Karina di dalam kamar mandi tadi. Sesekali matanya melirik ke arah cermin di hadapannya, dimana di sana terdapat bayangan wanita kurus yang msih berbalut juba mandi, masih duduk dengan menundukkan kepalanya di pinggiran ranjang.

Rasa sesal, selalu ia rasakan ketika selesai melecehkan Karina. Ketika ia selesai menyakiti wanita itu. Itulah alasan kenapa dua minggu terakhir Darren selalu berangkat ke kantor pagi-pagi sekali bahkan sebelum Karina bangun dari tidurnya.

Ia tidak sanggup melihat wajah itu, melihat ekspresi kesakitan itu, melihat mata itu yang tidak berhenti berkaca-kaca karena ulah brengseknya. Kenapa? Kenapa ia tidak sanggup? Karena Darren tahu, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih sangat menyayangi Karina sebagai sahabatnya. Sebenci apapun Darren dengan Karina, wanita itu tetaplah sahabat yang sangat ia sayangi, sahabat yang selalu ada untuknya.

Darren memejamkan matanya ketika beberapa ingatan berkelebat dalam pikirannya.

 

“Kamu sudah ngerjain PR?” Darren bertanya pada Karina yang sibuk membaca buku novelnya, kegemaran gadis tersebut memang membaca novel-novel romantis dengan bumbu melankolis.

“Sudah, kenapa?”

“Mau bantu aku ngerjain PRku?”

“Hei, mana boleh seperti itu?”

“Memangnya siapa yang nggak ngebolehin?”

“Darren, kamu memang bisa sembunyi-sembunyi menyontek, atau menyalin PRku tanpa ketahuan guru, tapi suatu saat kamu akan mendapat akibatnya ketika mungkin saja kamu di suruh mengerjakan PR dengan soal yang sama oleh anakmu nanti.”

Darren mengacak poni Karina sambil tertawa lebar. “Kamu berpikir terlalu jauh, gimana? Mau bantu nggak?”

Karina menghela napas panjang. “Aku akan membantumu, tapi bukan dengan cara menyalin PRku.”

“Lalu?”

“Kamu sendiri yang harus mengerjakan PRmu dengan bantuanku.”

Darren tersenyum lebar. “Siap, Boss.” Dan akhirnya keduanya masuk ke dalam kelas untuk mengerjakan PR bersama.

 

 

 

Darren mengembuskan napasnya dengan kasar. Sesekali ia merutuki dirinya sendiri karena memperlakukan Karina dengan begitu keterlaluan.

“Aku pergi.” Ucap Darren sambil menyambar dompet, ponsel, dan kunci mobil yang berada di atas meja rias, kemudian ia pergi begitu saja tanpa menghiraukan Karina yang masih duduk mematung di pinggiran ranjangnya.

***

Bertemu dengan Nadine benar-benar menjadi pengobat untuk perasaan Darren yang kacau balau. Melihat wanita itu berlari menghambur ke dalam pelukannya benar-benar membuat Darren melupakan masalah pelik yang sedang ia hadapi saat ini.

Nadine merupakan sosok yang sempurna untuk Darren, memiliki paras cantik jelita dengan kepribadian yang asik. Wanita itu sangat pandai bergaul, memiliki selera humor yang tinggi serta selalu menjadi pendengar yang baik ketika ia memiliki masalah.

Itulah yang membuat Darren jatuh cinta lagi dan lagi terhadap sosok tersebut, Nadine memiliki banyak sekali kelebihan, sangat berbeda dengan Karina.

Karina? Kenapa juga ia memikirkan wanita itu di saat seperti sekarang ini?

“Bagaimana kabarmu?” selalu saja pertanyaan itu yang di lontarkan Nadine ketika bertemu dengannya. Apa ia terlihat menyedihkan hingga wanita itu selalu menanyakan pertanyaannya dengan penuh perhatian?

“Baik, kamu sendiri?”

“Sangat baik.” Jawab Nadine penuh dengan antusias. “Kita kemana hari ini?”

“Aku mau makan siang lalu ke tempat karaoke, kamu mau menemaniku, bukan?”

Nadine tertawa lebar. “Tentu saja, lagi pula tempat karaoke adalah tempat favorit kita saat berkencan.”

“Well, kita ke sana sekarang.” Dengan penuh semangat Darren dan Nadine menuju tempat karaoke yang dulu sering mereka kunjungi bersama, bahkan bertiga bersama dengan Karina ketika dulu hubungan ketiganya masih sangat harmonis.

***

Siang itu, Karina makan siang sendirian di ruang makan keluarga Pramudya. Tante Sarah sedang menemani Om Tony untuk chek up ke dokter, sedangkan Evan, kakak Darren, tidak tahu sedang di mana lelaki tersebut.

Tapi kemudian Karina di kejutkan oleh seseorang dari belakang, siapa lagi jika bukan Evan. Astaga, lelaki itu benar-benar hampir membuat jantungnya copot.

“Kak Evan kemana saja? Aku makan siang sendiri, maaf.”

“Hei, nggak perlu minta maaf, aku sudah makan tadi. Aku dari luar.”

“Oh.”

“Darren mana?”

“Dia keluar.”

“Sendiri?”

“Ya.” Desah Karina.

“Kamu nggak mau keluar? Jalan-jalan mungkin. Ini minggu, masa iya kamu di rumah sendirian.”

Karina menggelengkan kepalanya. Apa bedanya dulu dan sekarang? Semuanya sama saja. Jika minggu ia menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk membaca buku-buku koleksinya, ia baru akan keluar jika Nadine atau Darren menghubunginya, mengajaknya jalan atau bahkan berkaraoke bersama. Kini, siapa yang akan mengajaknya keluar? Darren dan Nadine sangat membencinya, dan itu tentu karena salahnya sendiri.

“Mau keluar sama Kak Evan?” tawar Evan.

“Kemana?”

“Kita bisa jalan-jalan kemanapun, aku juga lagi suntuk di rumah.”

Karina kembali menggelengkan kepalanya. Ia memang ingin keluar dari rumah Darren yang terasa menyesakkan, tapi tidak dengan Evan, hanya berdua dengan lelaki tersebut, sepertinya itu bukan ide yang bagus.

“Ayolah, kita tidak hanya akan berdua, kita juga akan mengajak Dirga.”

“Mas Dirga?” Karina bertanya tak percaya.

“Ya, Dirga, aku juga sudah lama nggak jalan bareng dengan dia, jadi, apa kamu mau jalan bareng sama aku dan Dirga?”

Karina tersenyum lebar. “Ya, aku mau jika Mas Dirga ikut.”

“Oke, kalau begitu kamu punya waktu tiga puluh menit untuk menyiapkan diri.”

Secepat kilat Karina bangkit dan permisi menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Ia sangat senang, tentu saja, selain ia akan jalan-jalan keluar, dirinya juga akan bertemu dengan salah seorang kakak kembarnya. Dan itu benar-benar sangat membahagiakan untuk Karina.

***

Karina benar-benar senang karena hari ini ia bisa sedikit melupakan semua masalahnya dengan Darren karena ia menghabiskan waktunya berjalan-jalan dengan Evan dan juga Dirga, kakaknya. Keduanya seakan tidak berhenti menghibur Karina, seakan keduanya tahu jika Karina memang butuh sebuah hiburan.

Ketiganya tadi baru saja menghabiskan waktu di Zona permainan yang bertempatkan di sebuah pusat perbelanjaan, tak lupa ketiganya makan bersama kemudian sedikit berbelanja, hingga tak terasa, sorepun sudah tiba.

“Oke, setelah ini kita kemana lagi?” Tanya Evan penuh semangat.

“Udah sore. Apa nggak pulang saja. Aku takut Darren sudah pulang.”

“Dia nggak mungkin pilang sore.” Jawab Evan. “Lo mau kemana, Ga?” tanya Evan pada Dirga.

“Kemana aja gue ikut.”

“Karin mau kemana?”

Karina tampak berpikir sebentar. Sebenarnya ia sedikit tidak nyaman, takut jika Darren pulang dan mencarinya, tapi sepertinya itu tidak mungkin.

“Aku, sebenarnya aku ingin ke tempat karaoke.”

“Kamu yakin? Memangnya kamu bisa nyanyi?” tanya Dirga sedikit meremehkan.

“Aku yakin Mas Dirga akan terpesona dengan suaraku nanti.” Karina sedikit terkikik geli ketika menyombongkan dirinya sendiri.

“Oke, oke, kita lihat bagaimana merdunya suara kamu nanti.” Evan menimpali.

“Aku mau cari toilet dulu, kalian duluan saja.”

“Oke.” Dan akhirnya Karina dan Evan menuju ke arah tempat karaoke yang memang masih di dalam mall tersebut.

Setelah memilih tempat, Evan dan Karina akhirnya menuju ke arah tempat tersebut tanpa menunggu Dirga. Dan ketika mereka melewati sebuah lorong yang penuh dengan pintu-pintu ruang karaoke, langkah keduanya terhenti ketika salah satu pintu ruang karaoke tersebut terbuka dan menampilkan sosok dari dalam ruangan tersebut.

Itu Darren, dengan Nadine. Karina berdiri ternganga ketika mendapati pemandangan di hadapannya tersebut. Jadi Darren keluar dengan Nadine? Suaminya itu sedang bersenang-senang dengan sahabatnya sendiri?

Pun dengan Darren yang tampak terkejut melihat kehadiran Karina dengan Evan, kakaknya. Untuk apa mereka berdua berada di tempat seperti ini? Apa mereka sedang berkencan? Yang benar saja.

“Kok lo di sini?” Evan bertanya pada Darren tanpa menghilangkan nada terkejutnya.

“Memangnya kenapa? Lo juga di sini.” Darren menjawab dengan nada cueknya.

Karina melirik ke arah tangan Darren dan Nadine yang entah sejak kapan saling bertautan. Oh, ia benar-benar merasa jika dirinya menjadi orang ketiga, penghancur dari hubungan Darren dan Nadine.

“Gue ngajak Karin jalan. Lo gila ya? Jalan sama perempuan lain dan ninggalin istri lo di rumah sendiri.”

“Itu pilihannya. Lo nggak perlu ikut campur urusan gue.”

“Sialan lo!” Evan tak kuasa mengumpat pada adiknya sendiri yang di rasa tak tahu diri.

“Apa-apaan ini?” suara di belakang Karina dan Evan memaksa semua yang ada di sana menatap ke arah suara tersebut.

Itu Dirga, yang sudah berdiri dengan tatapan membunuhnya pada Darren. Dan entah kenapa, Nadine yang ada di sana menundukkan kepalanya seketika.

“Apa yang lo lakuin di sini dengan dia?” Suara Dirga terdengar seperti sebuah geraman.

“Kita sedang berkencan” Darren menjawab dengan santai.

“Brengsek!” umpat Dirga sambil berusaha memukul Darren, tapi kemudian Evan menghalaunya.

“Ga, sabar, lo nggak perlu terpancing emosi lo.”

“Nggak perlu terpancing? Dia nyakitin hati adek gue, Van.”

“Mas, aku nggak apa-apa mas.” Karina ikut melerai. “Lebih baik kita pulang saja.” Lanjut Karina lagi sambil menyeret lengan Dirga untuk keluar dari tempat karaoke. Sedangkan Evan hanya mengikuti Karina dan Dirga yang keluar dari tempat karaoke tersebut.

***

Darren masih tidak berhenti mencengkeram erat kemudi mobilnya. Pikirannya kacau, entah karena apa ia sendiri tidak tahu. Apa karena melihat Karina berdiri di sana tadi dengan kakaknya? Sial! Tentu bukan karena itu. Tapi mengingat hal itu memberi Darren satu kenyataan, jika Karina dan kakaknya memiliki hubungan special.

Memangnya kenapa?

Evan memang memiliki perasaan khusus untuk Karina dan Darren sudah mengetahui hal tersebut sejak dulu. Bahkan ia rela memendam kekagumannya pada sosok Karina demi sang kakak.

 

“Karin hanya milikku.” Suara Evan tegas tanpa bisa di bantah.

“Milikmu? Bukannya dia sahabatku?” Darren membantah.

“Ya, tapi kamu sudah punya Nadine, jadi kamu harus memberikan Karin untukku.”

“Kalau dia tidak mau?”

“Aku akan memaksanya hingga dia mau.”

Darren menghela napas panjang. “Baiklah, Karin untukmu, dan Nadine milikku.”

“Oke, kamu memang adik terbaik.” Evan kemudian memeluk Darren erat-erat.

 

Bayangan beberapa tahun yang lalu mencuat begitu saja dalam pikiran Darren. Bayangan ketika ia masih remaja, masih sama-sama polos, saat itu Evan memintanya untuk memberikan Karina pada kakaknya tersebut, dan Darren menuruti apa mau Evan.

Ia mulai menganggap Karina sebagai milik dari kakaknya tersebut, lalu hadirlah Nadine dalam kehidupannya. Sosok yang benar-benar mampu membuat Darren berpaling dari sosok Karina. Nadine yang cantik, yang pandai bergaul dan memiliki banyak sekali pengagum, sangat berbeda sekali dengan Karina yang pendiam dan penyendiri.

Oh sial! Kenapa juga ia mengingat masalalu? Kenapa kehadiran Karina kini mulai mengganggu pikirannya?

“Darren, apa yang terjadi? Kenapa kamu hanya diam saja sejak tadi?” pertanyaan Nadine membuat Darren sadar jika dirinya baru saja menyelami masa lalunya.

“Ahh, enggak.”

“Apa kamu mikirin kejadian tadi?”

“Enggak.”

“Lalu, apa yang kamu pikirin?”

“Tidak ada, aku hanya berpikir kemana lagi kita setelah saat ini?”

“Antar aku pulang saja, aku capek.”

“Beneran? Ini masih sore.”

“Ya, besok aku harus berangkat pagi, jadi aku mau tidur cepat.”

“Tidak biasanya kamu berangkat pagi.”

“Besok aku akan ke Bali, selama dua hari.”

“Apa? Dan kamu baru memberitahuku hari ini?” Darren tampak terkejut.

“Maaf, Darren. Ini hanya perjalanan bisnis seperti biasanya, aku harap kamu mengerti.”

“Ya, aku mengerti, aku mengerti kalau kamu akan berangkat ke Bali hanya berdua dengan Boss sialanmu itu.” Darren tampak kesal.

“Dia tidak sialan, Darren, dan dia adalah kakak iparmu.”

Well, terserah apa katamu.” Setelah ucapan Darren tersebut, Keduanya sama-sama terdiam. Tidak ada pembicaraan lagi sampai mereka berpisah di rumah Nadine.

***

Sampai di dalam kamarnya, Nadine merogoh ponsel di dalam tasnya. Ia terkejut ketika mendapati puluhan Misscall dari nomer yang sama.

Boss

Atasannya yang tak lain adalah Dirga, kakak dari Karina. Untuk apa lelaki itu menghubunginya? Dan astaga, sejak kapan ia mulai terpengaruh dengan keberadaan Dirga? Apa sejak pagi itu?

Pagi itu…

Nadine membuka matanya perlahan-lahan, yang pertama kali ia rasakan saat itu adalah rasa tidak nyaman di sekujur tubuhnya. Tubuhnya terasa ngilu dan remuk. Nadine bangkit dari tidurnya dan betapa terkejutnya ketika ia mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun, hanya selimut di ranjang tersebutlah yang membalut tubuh telanjangnya.

Sial! Apa yang terjadi? Pikirnya masih bingung. Ia sama sekali tidak dapat mengingat apapun tentang tadi malam, dan itu membuat Nadine semakin kesal.

Dan semua yang ada di dalam pikiran Nadine tersebut hilang ketika ia melihat sosok yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sosok yang bertelanjang dada, hanya berbalutkan handuk kecil di pinggulnya dan memperlihatkan perut kotak-kotaknya.

Itu Dirga, atasannya, kakak dari sahabatnya. Oh sial! Apa yang sudah mereka lakukan semalam?

 

-TBC-

Advertisements

8 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 3 (Mulai Mengganggu)

  1. huwaaaahhhhhhh q tidak mngera ql mereka mmliki hubungan yng sangat aneh , evan ma daren walau dari awal q sudah menduga ql evan ada sesuatu ma karin , tapi ga nyangka ql daren dulu sempet suka ma karin , dan dirga ma nadine huwaaaaahhhhhh apa yng telah kalian lakukan , entah knp q lebih penasaran ma dirga dan nadine ketimbang ma daren …
    d tunggu next na bu jangan lama” …

    Like

  2. wah…jadi rumit niy. Setelah hubungan rumit Evan-Karin-Darren-Nadine, sekarang ada Dirga yg ternyata sudah melakukan hal lebih sama Nadine. jadi makin penasaran.

    Like

  3. Cinta segitiga emang bkin sakit,,,salut ama kegigihan Karin buat jadiin Darren miliknya…

    Nadine trnyata ada sesuatu dgn Dirga???

    Like

  4. gimana cara membaca novel nya yg dari pertama kali sampai habis , soal nya saya baru ne membaca novel ini tapi tidak dapat cerita nya dari pertama do

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s