romantis

Sang Pemilik Hati – Chapter 3 (“Kita akan berkencan”)

Sang Pemilik Hati

“Tapi saya punya syarat untuk kamu, untuk menjadi penutup mulut saya.” Lanjut Yoga yang seketika itu juga membuat Nana menatap Yoga dengan penuh tanya.

Syarat? Syarat apa? Kenapa lelaki yang baru di kenalnya itu mengajukan syarat padanya? Yang benar saja.

“Syarat? Syarat apa, Mas?”

Entah dari mana Nana berani memanggil lelaki itu dengan panggilan ‘Mas’, selama ini Nana hanya memanggil kakaknya dengan penggilan itu, tidak ada lagi lelaki yang di panggilnya dengan panggilan tersebut, tapi dengan Yoga, entah kenapa ia ingin memanggil lelaki itu dengan panggilan yang menurutnya lebih akrab di dengar.

“Nana.”

Lelaki itu kembali memanggil nama Nana dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya. Dan itu membuat Nana menatap penuh tanya pada lelaki tersebut.

“Jadilah kekasih saya.”

Dan tiga kata tersebut sontak membuat Nana membulatkan matanya seketika. Menjadi kekasihnya? Kekasih seorang Prayoga yang memiliki ketampanan di atas rata-rata? Kekasih Prayoga, yang ternyata kakak dari orang yang kini menjadi pacarnya? Oh apa lagi ini? Tidak cukupkah kehidupan di sekolahannya berantakan karena seorang Rino Permana? Dan kini seakan Tuhan menambah lagi sesosok Prayoga untuk kembali membuat hidupnya semakin jungkir balik karenanya. Apa ia memiliki kesalah di masa lampau hingga Tuhan menghukumnya dengan cara menggelikan seperti ini? Oke, ini berlebihan. Tapi demi Tuhan, seorang Rino saja sudah mampu membuat jantungnya jumpalitan tidak keruan, apalagi di tambah dengan seorang Prayoga?

***

Chapter 3

-“Kita akan berkencan”-

 

Nana masih membatu karena ucapan lelaki yang duduk di sebelahnya tersebut. ‘Jadilah kekasih saya’ , apa maksudnya? Pacaran?

“Kamu mendengar saya, kan, Na?” tanya Yoga lagi.

“Uum, itu, anu.”

“Apa?” tanya Yoga sambil tersenyum lembut, dan Nana semakin di buat salah tingkah dengan senyuman yang di berikan Yoga padanya.

“Mas Yoga kok ngomong gitu.”

“Ngomong apa?”

“Tadi, yang ‘jadilah kekasih saya’. Nana nggak ngerti.”

“Maksudnya, Mas pengen kamu jadi pacar Mas Yoga.”

“Tapi kan, Nana sudah punya-”

“Ya, saya tahu. Tapi apa saya nggak boleh berharap sedikit saja?” Yoga masih tersenyum ketika mengucapkan kalimat tersebut.

“Tapi-”

“Pikirkan saja dulu.” Pungkas Yoga. “Ngomong- ngomong, kamu beneran pacaran sama Rino?”

“Uum, aku nggak tahu Mas, Kak Rino memaksaku gitu aja, padahal kami tidak saling kenal dekat sebelumnya.” Nana menundukkan kepalanya.

“Tapi kamu suka sama dia, kan?”

“Uum…” Nana tidak tahu harus berkata apa. Ia memang sempat menyukai Rino dulu, tapi entah dengan sekarang.

“Tidak apa-apa. Saya tidak memaskamu untuk berhenti menyukainya. Saya bahkan senang kalau dia mendapatkan gadis seperti kamu.”

Nana tampak bingung. Lalu apa yang sebenarnya di inginkan lelaki di hadapannya tersebut? Kenapa lelaki itu menginginkan ia menjadi kekasihnya dan di sisi lain mendukungnya menjadi kekasih adiknya? Benar-benar membingungkan.

“Tapi Nana, maukah kamu menemani Mas Yoga ketika Mas ada di Jakarta saat weekend seperti sekarang ini?”

“Maksud Mas Yoga?”

“Saya tinggal di Surabaya, dan hanya ke Jakarta saat Weekend seperti ini, jadi, maukah kamu jadi kekasih saya saat saya berada di Jakarta seperti saat ini?”

“Uum.”

“Pikirkan saja, besok saya kembali main ke sini lagi.”

Pada saat bersamaan, Bian datang. “Jadi, apa saja yang kalian bicarakan?” tanya Bian yang terlihat ingin tahu.

“Gue hanya tanya tentang sekolahnya.”

“Hanya itu?” Bian kemudian tertawa lebar. “Kapan lo majunya, Ga?”

Yoga berdiri seketika, “Udah, gue mau pulang, sudah malam. Besok ke sini lagi.”

“Nggak pamitan nih, sama Nana?” goda Bian.

Yoga tersenyum kemudian menatap Nana dengan tatapan lembutnya. “Mas pulang dulu, besok ke sini lagi.” Pamitnya dengan suara lembut. Sedangkan Nana hanya mampu mengangguk tanpa menghilangkan rona merah di pipinya.

***

Malamnya, Nana sudah tidak bisa tidur lagi. Pikiran tentang Yoga menyeruak dalam ingatannya. Cara lelaki itu bicara, cara lelaki itu tersenyum, cara lelaki itu menatapnya dengan tatapan lembutnya benar-benar membuat Nana terpengaruh.

Suara lelaki itu seakan menggema di telinganya, ia tak dapat melupakan setiap kata yang terucap dari bibir lelaki tersebut.

‘Jadilah kekasih saya.’

Kata itu di ucapkan dengan begitu sopan dari bibir Yoga. Oh, apa ia harus menerima permintaan Prayoga? Menjadi kekasih lelaki tersebut saat Weekend tiba? Bisakah? Lalu bagaimana dengan Rino? Ahh, persetan dengan lelaki itu. Lelaki itu bahkan selalu memperlakukannya dengan kasar.

Nana bahkan yakin jika rasa sukanya pada Rino kini semakin terkikis karena perlakuan semena-mena dari lelaki tersebut. Berbeda sekali dengan Yoga yang selalu memperlakukannya dengan sangat lembut. Ahh, Yoga lagi.

Nana menutup wajahnya dengan sebuah bantal kemudian berguling ke sana kemari. Jantungnya masih tak berhenti berdebar kencang. Astaga, kenapa bisa seperti ini?

***

Prayoga masih tidak berhenti menyunggingkan senyuman yang membuatnya terlihat semakin tampan. Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan untuknya, akhirnya setelah sekian lama, ia dapat menyatakan perasaannya pada Nana. Menjadikan Nana sebagai kekasihnya meski hanya saat akhir minggu seperti sekarang ini.

Tapi itu bukan masalah, Yoga bahhagia, meski sebenarnya hatinya sedikit menyimpan rasa gundah. Rasa gelisah tentang hubungan Nana dengan Rino, adiknya sendiri. Ia merasa menjadi orang yang paling jahat karena sudah menusuk adiknya dari belakang. Tapi bagaimana lagi, bukankah yang namanya cinta tidak bisa memilih?

Yoga tahu benar jika dirinya memang sudah mencintai Nana jauh sebelum Rino mengenal gadis tersebut, hanya saja ia kalah langkah. Rino lebih dulu memiliki gadis itu, dan itu membuat Yoga mau tidak mau menyembunyikan perasaannya pada sosok Nana Erieska.

Yoga membelokkan mobil yang ia kendarai masuk ke dalam sebuah pelataran rumah mewah, rumah Rino. Ya, meski kini itu juga menjadi rumahnya, baginya rumah itu hanya tempat singgahnya sementara waktu. Ia ingin keluar dari rumah tersebut dan tinggal di rumahnya sendiri nantinya ketika ia sudah memiliki cukup uang. Meski uang yang ia kumpulkan berasal dari perusahaan ayah Rino, setidaknya uang tersebut adalah hasil dari kerjanya, bukan dari meminta-minta pada ayah tirinya.

Sebenarnya Yoga sangat ingin tinggal di rumah tersebut hingga tua bersama dengan keluarga Rino. Ayah Rino sangat menyayangi dirinya dan juga ibunya, begitupun dengan Kesha, adik tirinya tersebut juga sangat menyayanginya, hanya saja, Rino seakan selalu mencari alasan untuk membencinya. Bukan salah Rino, bagaimanapun juga itu salah ia dan ibunya.

Setelah menghentikan mobilnya di garasi rumahnya, Yoga keluar, dan seketika itu juga sosok manja menghambur dalam pelukannya, siapa lagi jika bukan Kesha.

“Mas Yoga dari mana saja? Nggak seru ah, masa Kesha di tinggal.” Gadis manja itu memanyunkan bibirnya.

“Dari jalan sebentar, masa mas Yoga nggak boleh jalan, sih?”

“Boleh, sih, tapi aku kan juga pengen ikut.”

“Ya sudah, nanti mas ajak kamu jalan, deh.” Dan akhirnya keduanya masuk ke dalam rumah.

“Mas, tadi aku nggak sengaja lihat pintu kamar Mas Yoga kebuka, terus aku masuk. Kupikir mas Yoga ada di dalam, tapi ternyata nggak ada. Tapi aku sempat lihat ada foto.”

Tubuh Yoga menegang seketika. “Foto apa?”

“Uum, itu, kok ada foto pacar mas Rino di sana.”

“Oh, mungkin kamu salah lihat.”

“Aku nggak mungkin salah lihat, Mas.”

Yoga menghentikan langkahnya. “Kesha, harusnya kamu tidak masuk ke dalam kamar mas, bagaimanapun juga itu melanggar privasi orang.”

“Aku kan nggak sengaja, Mas. Masa gitu aja mas Yoga marah. Saat itu aku juga nggak sengaja lihat mas Rino masuk kamar mas Yoga, tapi mas Yoga biasa saja tuh sama mas Rino.” Kesha sedikit menggerutu kesal karena Yoga terkesan marah padanya.

“Tunggu dulu, Rino? Masuk ke dalam kamarku? Kapan?”

“Nggak tahu, aku sudah lupa.”

“Kesha, kamu beneran lihat Rino masuk sana atau itu hanya karangan kamu saja?” Yoga benar-benar tampak serius dengan pertanyaannya.

“Ya, memangnya kenapa kalau gue masuk sana?” suara tersebut membuat Yoga dan Kesha menolehkan kepalanya menuju sumber suara tersebut. Di sana sudah ada Rino yang berdiri penuh dengan keangkuhan.

“Ngapain kamu ke kamarku?” Yoga bertanya dengan nada dinginnya.

“Bukan urusan lo.” Dan Rino pergi begitu saja, tapi Yoga tidak tinggal diam. Ia menyusul adiknya tersebut hingga keduanya kini berada di balkon lantai atas rumah mereka.

“Apa yang kamu lakukan di kamarku?” tanya Yoga lagi ketika keduanya sudah sampai di balkon lantai dua.

“Kenapa? Lo khawatir gue tahu kalau lo naksir cewek gue?”

Yoga hanya membatu dengan apa yang di katakan Rino. “Aku nggak bermaksud suka dengan perempuan yang kamu sukai, aku menyukai Nana sejak lama.”

“Ya, gue tahu, tapi sekarang dia sudah jadi milik gue.”

Yoga terdiam sebentar. “Tunggu dulu, kamu tahu? Jadi kamu tahu kalau aku suka dengan Nana, tapi kamu tetap menjadikan dia sebagai pacar kamu?”

Rino tidak menjawab, dia hanya tersenyum miring dengan apa yang di katakan Yoga.

“Atau jangan-jangan kamu sengaja memacarinya karena tahu aku menyukainya?”

“Bukan urusan lo.” Rino bersiap pergi meninggalkan Yoga, tapi kemudian langkahnya terhenti saat mendengar apa yang di katakan Yoga.

“Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Nana, kalau kamu benar-benar menyukainya, maka lanjutkan, tapi kalau kamu mendekati dia hanya untuk membuatku sakit hati, maka lupakan. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Nana.” Yoga memperingati Rino dengan penuh penekanan.

***

Rino membanting pintu kamarnya keras-keras. Rasa kesal selalu menyelimuti ketika ia berhadapan dengan Yoga, kakak tirinya. Dendam karena keretakan rumah tangga orang tuanya serta kematian ibunya masih menghantui dirinya. Membuat Rino tidak bisa bersikap sedikit lebih ramah pada Yoga.

Sial! Apa saja akan ia lakukan demi membuat kakaknya itu hancur.

Rino sebenarnya sudah tahu jika Yoga menyukai Nana. Saat itu, ia memang sengaja memasuki kamar Yoga ketika Yoga masih berada di Surabaya. Bukan tanpa alasan, ia memang ingin menjatuhkan kakak tirinya tersebut dengan cara apapun. Tapi ketika ia memasuki kamar lelaki tersebut, tidak ada apa-apa di sana yang bisa membuat Rino menjatuhkan Yoga.

Yoga adalah lelaki yang pintar, ia tidak pernah melakukan sedikit kesalahan karena suatu kecerobohannya, dan itu membuat Rino sulit untuk menjatuhkan kakak tirinya tersebut. Hingga kemudian, ia melihat foto itu, foto yang terpajang di meja kecil tepat di sebelah ranjang Yoga.

Itu Nana, gadis yang dulu sempat di gosipkan menyukainya. Apa Yoga menyukai gadis tersebut? Bagaimana bisa? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya saat itu.

Akhirnya Rino memutuskan menyusun rencananya sendiri, rencana untuk membuat Yoga tersakiti. Rino sangat yakin jika Nana adalah orang yang special untuk Yoga, jika tidak, maka tidak mungkin lelaki itu memasang foto Nana di kamarnya. Lalu ia memutuskan mendekati Nana, bahkan memaksa gadis itu menjadi pacarnya untuk mencari tahu, sebenarnya ada hubungan apa antara Nana dan Yoga.

Dan kini, Rino hampir mengetahui semuanya. Dari yang terlihat dalam ekspresi kakak tirinya tadi, Yoga terlihat seperti orang yang rela memberikan seluruh hidupnya untuk Nana. Apa Nana adalah gadis yang di cintai lelaki tersebut? Apa Nana adalah sumber kebahagiaan lelaki tersebut? Jika iya maka Rino akan menghancurkan semuanya, ia akan membuat Nana menderita jika itu juga dapat membuat Yoga menderita.

Rino tersenyum miring ketika berbagai macam rencana licik  menari di kepalanya. Tidak, itu terlalu mudah untuk Yoga jika ia hanya membuat Nana menderita, bagaimana jika ia bermain-main sebentar dengan gadis tersebut? Mengacaukan perasaannya mungkin, ah, pasti menyenangkan sekali melihat Yoga tidak berdaya ketika melihat gadis yang di cintai lelaki tersebut di permainkan oleh adiknya sendiri.

***

Besok sorenya…

Yoga benar-benar datang kembali ke rumah Nana. Ia masih mengenakan kemeja yang sangat rapih, dengan wajahnya yang berseri, apa karena akan bertemu lagi dengan Nana makanya ia tak berhenti berseri-seri? Mungkin saja.

Setelah cukup lama ia duduk di ruang tamu rumah Nana dengan Bian, akhirnya datang juga gadis yang di nanti-nantinya tersebut. Nana turun dari lantai dua, gadis itu tampak sangat cantik dan manis dengan jumpsuit pendek ala anak remaja pada umumnya. Rambut Nana di ikat dengan sebuah pita, tapi gadis itu juga mengenakan bandana cantiknya hingga membuat gadis itu tampak begitu imut dan manis.

Wajah gadis itu merah merona, mungkin karena tatapan yang di berikan Yoga padanya. Tapi Yoga tidak peduli, yang ia pedulikan adalah jantungnya yang berdebar semakin menggila, napasnya yang memburu begitu saja, dan juga aliran darahnya yang seakan di aliri oleh ribuan voltase listrik. Oh, bagaimana mungkin ia merasakan perasaan seperti ini hanya pada seorang Nana Erieska?

“Woi, malah bengong lagi, yuk ah, berangkat, nanti filmnya keburu mulai.” Ajak Bian. Dan Yoga baru sadar jika sejak tadi dirinya melamun sembari menatap ke arah Nana tanpa berkedip sedikitpun.

“Oke, kita berangkat sekarang.” Jawab Yoga.

Bian sudah berjalan lebih dulu, sedangkan Yoga memang berniat menunggu Nana. Malam ini mereka memang  berniat menonton bersama di bioskop. Nana dengan Yoga, sedangkan Bian dengan Friska, kekasihnya.

Nana menundukkan kepalanya ketika berada di hadapan Yoga. Ia sedikit salah tingkah ketika mendapati Yoga yang tidak berhenti menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Kamu cantik.”

Ucapan Yoga membuat Nana mengangkat wajahnya seketika. Matanya terpaku pada mata Yoga yang terlihat berbinar, senyuman lelaki tersebut benar-benar menggetarkan hati siapapun yang melihatnya. Nana terpesona dengan ketampanan yang terpahat sempurna di wajah lelaki di hadapannya tersebut.

“Terimakasih.” Hanya itu jawaban Nana sembari menundukkan kepalanya kembai.

Tanpa meminta izin pada Nana, Yoga meraih jemari Nana, menggenggamnya erat-erat, kemudian mengajak Nana berjalan menyusul Bian ke luar rumah.

“Ayo.” Ajak Yoga.

Nana terpaku melihat jemarinya yang di genggam erat oleh lelaki tersebut, kemudian dengan spontan ia bertanya, “Kita akan kemana?”

Yoga menoleh kembali ke arah Nana kemudian tersenyum lembut pada Nana sembari menjawab. “Kita akan berkencan.”

Dan setelah kalimat Yoga tersebut, debaran jantung Nana mulai menggila kembali. Berkencan? Dengan lelaki yang super sempurna ini? Apa ini hanya mimpi? Pikirnya.

 

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “Sang Pemilik Hati – Chapter 3 (“Kita akan berkencan”)

  1. Eh,,jahat bgt ya Rino… Jadiin Nana pacarnya buat aksi balas dendam,, ntar km dpt karmanya sndri… Trbukti Nana udah mulai brpling dri Rino… Qu mdkungmu Yoga,,walau kmu braksi mndptkan Nana dgn cara menikung adik tiri km sndri.. Smngattttt trusss buat dapetin Hati Nana…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s