Non Fiksi

Mengenangnya (With Sani)

Mengenangnya (With Sani)

Mengenangnya [With Sani]

 

 

Halo.. ketemu sama aku lagi. Hehehehe oke, alasan pertama kenapa aku menulis ini, karena ternyata kemaren banyak yang baca kisahku dengan Kai, bahkan nada beberapa Reader yang inbox atau chat aku tanya apa sih hadiah yang di berikan Kai untukku? tapi maafffff bgt, aku nggak bisa bilang.. wkwkwkwkkwkwk

Sebagian dari mereka juga penasaran dengan kisahku yang lainnya dengan Sani, atau bahkan Alif. So, aku akan coba bercerita seingatku ya…

ya, ini nyata, kisah nyata tapi ku ceritakan dengan bumbu drama hingga kalian bisa menikmatinya….. dan aku bercerita semampu kepalaku mengingat.

Aku lupa, tepatnya kapan aku kenal dengan Sani. Yang pasti saat itu aku masih SMA kelas 1 di sebuah sekolahan Islam menengah atas di daerah rumahku –yang di desa-. Biasanya, ketika aku berangkat sekolah atau pulang sekolah, aku mengendarai motorku dengan membonceng temanku. Kami biasanya bergantian, misalnya hari ini aku bawa motorku, maka besok temanku itu membawa motornya. Dan bukan hanya satu teman, tapi kami bergantian dengan Lima temanku lainnya.

Setiap kali aku pulang sekolah dengan temanku yang bernama Dewi, pasti aku tidak langsung pulang. Dewi selalu mengajakku mampir ke sebuah peternakan ayam yang memang tidak jauh dari sekolah kami. Untuk apa? Tentu saja untuk menemui kekasihnya.

Dewi, temanku yang satu itu terkenal dengan kecaantikannya, banyak sekali yang menyukai temanku itu, bahkan rela di jadikan yang kedua atau ketiga. Ahh mengenangnya, aku jadi merindukan sosok Dewi. Tentu saja saat ini dia sudah menikah dan sudah memiliki seorang putera yang tampan.

Balik lagi ke cerita. Dewi mengajakku ke sebuah peternakan untuk menemui seseorang. Namanya Sani. Ahh, namanya benar-benar tidak seperti orangnya.

Sani memiliki wajah yang biasa-biasa saja, rambutnya sedikit panjang, beranting, serta memiliki beberapa tato. Ketika itu aku belum mengenal lelaki sebelumnya, dan saat pertama kali melihat Sani, aku takut.

Ya, tentu saja. Dia terlihat seperti preman. Dan astaga, aku masih nggak percaya kalau aku pernah menyukainya. Ooppss…

Sekali dua kali aku bertemu dengan Sani, aku merasa biasa-biasa saja. Bahkan aku memasang wajah cuek dan jutekku seakan tidak ingin mengenal dia atau teman-temannya. Tapi ketika aku melihatnya berkali-kali, yang kurasakan adalah rasa Iba untuknya.

Sani benar-benar menyukai Dewi. Aku tahu itu. Apapun yang di inginkan Dewi, pasti di turutin oleh Sani. Dewi sendiri terlihat hanya memanfaatkan Sani, karena saat ku tanya apa hubungan mereka, Dewi hanya bilang jika mereka tak lebih dari teman. Hanya saja… Ah, Sani terlalu menuruti apa mau Dewi. Aku kasihan terhadapnya.

Suatu malam, saat aku dan teman-temanku berkumpul bersama di rumah Dewi, Sani datang dengan seseorang.

Dia terlihat tampan di mataku, dan… pendiam.

Namnya Alif. Ya, Dia Alif. Lelaki yang kini sudah sah menjadi suamiku dan ayah dari puteri kecilku.

Kembali lagi ke cerita, saat itu aku terkejut, karena tiba-tiba teman-temanku meninggalkanku hanya berdua dengan Alif. Ada apa ini? Pikirku saat itu, dan dua hari kemudian aku baru tahu jika mereka memang sengaja menjodohkanku yang masih Jomblo ini dengan seorang Alif.

Astaga, jangan di tanya bagaimana suasana pertamaku dengan Alif saat itu. Dia pendiam, super pendiam malah, dan aku benar-benar tidak tahu harus membahas apa dengannya saat itu.

Ahh lupakan!!! Aku malu kalau mengingatnya. Hahahhaha.

Dua hari kemudian, Sani menghubungiku. Aku terkejut saat mendapati dia mempunyai nomor ponselku saat itu. Dan ternyata dia memang sengaja meminta nomorku dari Dewi.

Aku tahu, Sani hanya berbasa-basi saja saat itu, karena setiap kali nomornya menghubungiku, maka yang berbicara bukanlah Sani, tapi Alif. Ya, Alif memang selalu numpang pada Sani saat meneleponku. Dia tidak memiliki Handphone saat itu.

***

Malam itu, seingatku mungkin saat itu tengah malam. Nomor Sani kembali menghubungiku. Kupikir itu adalah Alif yang meminjam Hp Sani, tapi ternyata, itu benar-benar Sani yang berbicara denganku.

“Jen, sedang apa?”

“Sedang apa lagi? Tidur lah.” jawabku ketus

“Aku mau cerita.” Aku mengerukan kening ketika mendengar suara Sani yang sedikit aneh. Ahh dia seperti orang yang…. Mabuk.

“Aku ngantuk San, besok aja.” Aku kembali menjawab dengan nada ketus.

“Kenapa semua menjauhiku?” tanyanya yang seketika itu juga membuatku tercenung.

“Semuanya? Apa maksudmu?”

“Dewi, kamu, dan semuanya tidak ada yang peduli padaku, kenapa?”

“Udah ah, aku mau tidur, kamu mabuk, aku malas ngomong sama kamu.”

“Aku hanya menyukainya, apa dia tidak bisa sedikit membalas cintaku?” aku kembali terdiam cukup lama dan membiarkan Sani berceloteh tentang kisahnya.

Satu hal yang kusadari malam itu, jika Sani ternyata sangat menderita. Cintanya tak terbalas, dia ingin melupakan Dewi, tapi nyatanya dia tidak bisa, dan itu menumbuhkan suatu rasa di dalam dadaku yang entah aku sendiri tidak tahu rasa apa itu. Hingga kini, aku benar-benar menyesalinya karena telah menumbuhkan rasa itu.

***

Malam itu bukanlah malam terakhir Sani menghubungiku, karena setelah itu, hampir tiap malam dia meneleponku hingga jam 3 dini hari.

Nenekku bahkan tidak berhenti mengomel ketika Sani meneleponku tengah malam. Tentunya Sani meneleponku tanpa sepengetahuan Alif. Aku benar-benar merasa dekat dengannya. Di balik sosoknya yang seperti preman, ternyata dia adalah orang yang penyayang.

Sani masih terus mengejar Dewi, sedangkan aku sendiri masih dalam masa pendekatan dengan Alif. Hingga suatu hari, Alif menyatakan perasaan cintanya padaku. Entah itu cinta beneran atau hanya pura-pura. Tapi yang ku lakukan saat itu hanyalah menerimanya.

Ya, akhirnya aku jadian dengan Alif.

Sosok Sani tiba-tiba menjauhiku. Dia tak pernah lagi menghubungiku. Dan akupun mulai melupakannya.

***

Waktu berlalu cepat. Alif meninggalkanku, kemudian sosok Kai hadir menemani hari-hariku.

Entah apa yg saat itu terjadi pada Alif hingga dia pergi. Dia hanya pernah bercerita jika dia memiliki masalah dengan keluarganya. Tapi saat kutanya masalah apa? sampai saat inipun dia tak pernah mau menjawabnya.

Kai hanya mampir sekejap dalam hidupku. Dia pergi dan kembali menorehkan luka di hatiku. Aku kembali patah hati, dan salah satu temanku lagi-lagi mengenalkanku dengan seseorang.

Dia Randy.

Aku biasa memanggilnya Kak Ran. Dalam waktu dekat kami sangat akrab karena saat itu dia juga sedang dalam masa patah hati dan katanya, aku adalah teman yg baik ntuk mengalihkan rasa patah hatinya. Dia lelaki yang baik, tapi bagiku, dia sedikit Psyco, dan menakutkan bagiku hingga kini.

Ketika aku dekat dengan Kak Ran, Sani kembali mengusik hidupku. Setiap malam dia tidak berhenti menghubungiku, bercerita banyak padaku, dia seakan mendekatiku dan yang paling gila, setiap kali mabuk, dia menuju ke rumahku. Oh yang benar saja. Saat itu, aku yang hanya tinggal dengan nenekku (karena ibu dan ayahku sudah lebih dulu merantau ke samarinda) benar-benar ingin menghilang dari muka bumi ini. Bisa di bayangkan, bagaimana reaksi nenek ku yang memiliki sikap kuno. Ahh, dia tidak berhenti marah dan mengomel padaku.

Aku benar-benar membenci Sani atas kejadian itu. Dia gila, dan aku juga kembali gila karenanya.

Meski saat itu aku sedang dekat dengan Kak Ran, tapi Sani mencuri kembali hatiku, aku benar-benar dibuat gila oleh para lelaki di dekatku.

Alif masih sesekali menghubungiku. Aku masih menyukainya, aku tahu itu. Tapi ketika aku bersama dengan kak Ran, pikiran tentang Alif menghilang. Sedangkan Sani, astaga, dia selalu membuat jantungku cenat-cenut ketika mengingatnya.

Suatu malam, aku masih ingat dengan jelas. Saat itu hari jum’at malam. Sani datang ke rumah temanku yang bernama Lilis. Tentunya dia datang ke sana karena ingin menemuiku yang saat itu sedang belajar kelompok di sana.

Mau tak mau aku menemuinya. Dan ketika aku bertatap muka dengannya, dua kata itu terucap dengan jelas di dari bibirnya.

“Kamu sialan!!!”

Dia mengumpat tepat ke arahku. Rahangnya mengeras, bibirnya menipis, pipinya sedikit berkedut, tatapan matanya menajam, serta tangannya mengepal. Oh apa yg terjadi? Kenapa dia memeperlakukanku seperti itu?

Dua kata itu membuatku tersentak. Aku tidak mengerti apa yg terjadi dengan Sani, kenapa dia terlihat sangat marah denganku?

“Kamu kenapa?” Tanyaku dengan wajah bingung.

Dengan spontan Sani menarik lenganku dan memaksaku menaiki motornya, akhirnya aku mengikuti apa maunya.

Sani memboncengku menuju sebuah jembatan yang cukup sepi. Dia berhenti kemudian berteriak keras di sana. Apa dia gila? Kalau iya aku mau pulang. Karena aku sangat malu saat ada orang lalu-lalang di jalan dan melihat ke arah kami.

“Sani, kamu kenapa? Ada masalah sama Dewi?”

“Dewi, dewi, dewi. ini bukan tentang Dewi, ini tentang kamu Sialan!!!”

Kenapa sama Aku?

Sani mencengkeram rahangku dengan kasar. “Kenapa kamu menyembunyikan semuanya?”

“Apa? Menyembunyikan apa?”

“KALAU KAMU PERNAH SUKA SAMA AKU!!!” Serunya dengan nada yg lantang dan benar-benar kasar.

Aku menangis, cengkraman Sani terasa sakit di kedua pipiku. Sikapnya membuatku takut, belum lagi kenyataan jika dia sedang mabuk. Aku harus bagaimana?

Astaga, dan dari siapa juga dia tahu semua ini? Apa Nana yg bercerita? Karena seingatku, aku hanya bilang sama Nana kalau aku pernah mengagumi sosok Sani.

“Kenapa kamu nggak bilang Jen? Kenapa?”

“Kenapa kamu bilang? Kamu adalah pacar Dewi, mana mungkin aku bilang kalau aku suka dengan pacar Dewi?”

“Pacar?”

“Ya, setidaknya umumnya seperti itu. Dan kamu menjodohkanku dengan Alif, lalu apa kamu pikir aku cukup tidak tahu malu kalau aku meneruskan perasaanku padamu?”

“Aku nggak mau tahu!!! Mulai malam ini kamu jadi punyaku.”

Aku terbelalak dengan ucapan Sani saat itu. “Enggak!!!!”

“Kenapa? Karena si Randy? Aku akan nyuruh teman-teman mukulin dia kalau kamu masih dekat sama dia.”

“Sani, aku nggak mau! Aku sudah nggak suka sama kamu.”

Tiba-tiba Sani melembut. Keningnya di tempelkan pada keningku. dan berkata pelan di sana.

“Aku akan membuatmu suka sama aku lagi. Aku janji.”

Dan pada detik itu aku sadar, jika aku tidak bisa menolak kemauan Sani untuk menjadikan dia sebagai kekasihku.

***

Hari-hari yang ku alami semakin berat. Tidak ada hari selain melihat pertengkaran Sani dengan Randy, mereka bahkan beberapa kali akan adun hantam. dan jika itu terjadi, aku yakin bahwa aku akan berada dalam sebuah masalah.

Alif sendiri sangat jarang menghubungiku, mungkin dia hanya seminggu sekali menghubungiku. Perasaanku padanyapun mulai terkikis. Apa Alif sudah memiliki kekasih lain? Mungkin saja.

Fokusku kini hanya untuk Sani yang semakin gila dan Randy yang memperburuknya. Hingga kemudian, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, mengakhiri hubunganku dengan para lelaki itu.

Aku memutuskan berangkat ke kalimantan, tepatnya di samarinda, dan melanjutkan Sekolah SMAku di sana.

Sani murka. Benar-benar murka!

Dia semakin gila hingga pernah menyusulku ke sekolahan dalam keadaan mabuk. Oh jangan di tanya bagaimana reaksi teman-temanku saat itu saat mendapati Sani mengomel di sana.

Teman-teman bahkan takut menyapa atau membuat masalah padaku karena aku saat itu di kenal sebagai ‘pacar preman’. Oh ya, tentu saja. Aku tidak peduli! Toh aku mau meninggalkan semuanya.

Dewi sendiri sedikit menjauhiku ketika melihat kedekatanku dengan Sani. Dan aku semakin bingung karenanya.

***

Aku ingat, malam itu hari kamis malam, karena jumat pagi aku sudah harus berangkat ke Samarinda.

Sani datang ke rumahku…. dan mau tak mau aku menemuinya. Kamu bertemu di teras rumah yang memang sepi dan sedikit remang karena terhalang pohon-pohon mangga depan rumah.

Dia tidak mabuk, dan dia hanya diam tanpa sedikitpun membuka suara. Tiba-tiba jemarinya terulur menggenggam telapak tanganku.

“Kamu benar-benar akan pergi?” Tanyanya dengan pelan.

“Sepertinya gitu.”

“Jangab pergi Dek, aku… aku sayang kamu.”

Aku mematung dengan apa yang baru saja di katakan oleh Sani. Dia memanggilku dengan panggilan ‘Dek’ seperti yang di lakukan Kai, Alif, maupun Randy. Dan dia bilang sayang?

Sayang???

Please, jangan percaya Jeni…

“Maaf, aku tetap pergi.”

“Kenapa? Karena Alif? Kamu mau ketemuan sama dia di sana?”

“Mana mungkin aku bisa ketemuan? Aku masih sekolah, dan Samarinda Bontang itu jauh. Lagian ngapain juga aku nemuin orang yang nggak benar-benar sayang sama aku.”

“Kalau gitu tetap di sini, Jen, aku sayang kamu. Jangan pergi.” Dan aku masih membatu. Sisa malam itu ku habiskan dengan Sani yang menggenggam telapak tanganku sesekali menciumi jemariku.

Oh aku masih ingat dengan jelas malam itu…

***

Di Samarinda….

Pertama kalinya aku bepergian jauh hingga membuatku langsung sakit ketika menginjak kota Samarinda. Cuacanya yang bisa di bilang ekstrim membuat daya tahan tubuhku menurun hingga aku sakit selama tiga hari saat itu sampai memegang Hppun sulit.

Ketika aku sembuh dan mulai memainkan Hpku, berbagai macam pesan masuk, yang kebanyakan dari Sani. Dia khawatir, dia marah, dia kesal, karena selama tiga hari itu aku tidak menghubunginya.

Akhirnya aku meneleponnya. Meminta maaf padanya dan betapa terkejutnya aku ketika dia bilang jika saat itu dia sudah berada di Jakarta.

‘Untuk apa aku berada di sana lagi, jika di sana sudah nggak ada kamu? Aku ke jakarta cari uang besar, biar bisa ngelamar kamu nanti saat kamu lulus sekolah, kamu mau, kan?’

Hingga kini kata-kata itu masih dapat ku ingat dengan jelas. Sani mengucapkannya, tapi kemudian dia mengkhianatiku. Dia mengingkari janjinya untuk melamarku.

Entah berapa minggu setelah aku tinggal di Samarinda, Sani sudah mulai jarang menghubungiku, begitupun dengan Alif. Ya, nyatanya Alif masih menghubungiku hingga saat itu, meski aku tidak bisa menamai apa status hubungan kami. Dia jarang –amat sangat jarang menghubungiku.

Aku ingat hari itu minggu malam, karena paginya aku tidak sekolah. Alif Meneleponku. Aku mengangkatnya dengan sangat bahagia. Ya, entah kenapa di telepon Alif merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan untukku, dan aku tidak tahu jika malam itu adalah akhir dari semuanya.

Alif meneleponku, tapi secara bersamaan, dia menambahkan panggilannya pada Sani. (Ya, aku sangat ingat. Saat itu memang sedang trend telepon menyambung seperti itu, jadi misalnya aku di Samarinda, Alif di Bontang, dan Sani di Jakarta, kami bisa teleponan dalam satu sambungan, dengan cara, Alif meneleponku, lalu dia menyambungkan juga dengan Sani. Dan akhirnya kami bertiga bisa ngobrol bersama.)

Alif masih tidak tahu jika aku ada hubungan dengan Sani. Yang dia tahu, sahabatnya itu adalah teman dekatku, penjagaku supaya aku tidak di pacarin lelaki lain. Tapi aku mengkhianatinya, aku juga menjalin kasih dengan Sani. Dan Sani mengatakan hubungan kami pada Alif saat itu.

Percakapan yang tadinya bersahabat berubah menjadi saling mengumpat, Alif tidak berhenti misuh2 (Mengumpat ala orang jawa) ketika Sani berkata jujur jika kami menjalin hubungan di belakangnya. Alif menuntut hubungan Sani dan aku segera putus, dan aku bingung. Aku memilih mengakhiri telepon sambungan tersebut karena tidak tahan dengan cara bicara Alif dan Sani yang sama-sama kasar dan saling mengumpati satu dengan yang lainnya.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Ingin menelepon salah satu di antara mereka, tapi aku tidak berani. Hingga kemudian, besok sorenya Alif menghubungiku kembali.

“Aku sudah bicara sama dia.” Suara Alif benar-benar tidak enak di dengar.

“Bicara apa, Mas?”

“Sani, Kalian sudah nggak boleh saling berhubungan lagi.”

“Kamu kok gitu? Kamu kok seenaknya sendiri? Kenapa kamu ninggalin aku kalau aku nggak boleh sama yang lainnya?”

“Kamu boleh sama siapa aja, tapi jangan sama temanku!” Alif terdengar marah.

“Aku nggak peduli, kalau aku sukanya sama Sani memangnya kenapa?”

“Kenapa? Karena kamu nggak boleh suka sama dia. Kamu cuma boleh suka sama aku!”

Tuuttt… tuuutttt… tuuuttt… telepon terputus. Entah pulsanya habis atau apa aku tidak tahu dan aku tidak peduli. Nyatanya itu adalah terakhir kalinya Alif menghubungiku, begitupun dengan Sani yang sudah tidak pernah lagi menghubungiku setelah malam itu.

***

Aku semakin gila…

Kalimat terakhir Alif malam itu seperti mantera yang mengikatku…

‘Kamu nggak boleh suka sama dia. Kamu cuma boleh suka sama aku!’

Setelah malam itu, Alif menghilang. Lost contac denganku selama dua tahun lamanya. Kenapa dia begitu tega padaku? Dia membuat Sani meninggalkanku, tapi kenapa dia juga ikut meninggalkanku? Aku benar-benar seperti orang gila.

Setiap malam aku menulis surat, membentuk surat itu menjadi perahu kecil, kemudian menghanyutkan perahu itu di sungai tepat di bawah rumah kontrakan Ibuku (Ya, rumah kontrakan ibuku di samarinda memang rumah panggung yang bawahnya adalah sungai yang mengalir, jadi kalau hujan deras kami sering kebanjiran hehheheheh) berharap jika surat itu sampai pada Alif, bukan pada Sani…

Ya… Surat itu untuk Alif….

Alifku yang selalu menyakiti hatiku…

Dia…

Kenapa dia meninggalkanku…

Kenapa dia memisahkanku dengan Sani….

Kenapa dia meninggalkanku lagi…..

***

Agustus 2014…..

 

Ini adalah pertama kalinya aku mengajak Bella, puteri kecilku yang hampir berumur satu tahun, pulang ke kampung halamanku di Lamongan, tentunya kami pulang bertiga dengan Alif, suami yang sudah hampir Empat tahun ku nikahi, suami yang sangat ku cintai tapi sepertinya dia tidak mencintaiku, huehehhehehe.

Sangat menyenangkan karena aku kembali bertemu dengan teman-teman di kampung. Aku bertemu dengan Nana, Dewi, Lilis, dan temanku lainnya yang ternyata juga sudah pada punya anak.

Kami saling bertukar cerita hingga kemudian Dewi bercerita tentang pertemuannya dengan Sani.

Sani, lelaki itu ternyata juga sudah menikah dengan seorang wanita keturunan sunda ketika lelaki itu ke Jakarta pada saat itu. Sani kini bahkan sudah memiliki seorang putera kecil, seperti itulah yang di ceritakan Dewi.

Ya, sejak saat itu, aku memang tidak tahu menahu tentang kabar Sani. Lelaki itu hilang begitu saja bak di telan bumi. Bahkan ketika aku kembali ke kampung halaman dan  menikah dengan Alif, lelaki itu tidak menampakan batang hidungnya, padahal aku sangat berharap jika lelaki itu memberikan kami ucapan selamat.

Alif sendiri sama sekali tidak ingin membahas tentang Sani. Alif selalu acuh ketika aku bertanya tentang Sani, ketika aku mengungkit tentang lelaki itu. Bahkan pernah beberapa kali, Alif marah besar hanya karena aku bilang kalo Sani orang yang perhatian.

Oh, ya, suamiku itu memang tipe orang yang pencemburu, bisa di bilang begitu. Dia cuek, tidak seposesif tokoh-tokoh yang aku ciptakan, dia juga sama sekali tak seromantis tokoh2 tersebut. tapi jika aku membahas tentang lelaki lain sedikit saja, pasti emosinya langsung tersulut. Entahlah, dia aneh.

Hari itu, Aku, Alif dan Bella berencana ke rumah orang tua Alif yang memang berbeda desa dengan desa orang tuaku, kami melewati desa tempat tinggal Sani, dan bisa di tebak, kami melihat lelaki itu.

Sani berbeda, rambutnya sudah tidak panjang lagi, dia tampak lebih bersih, bukan seperti preman yang dulu pernah ku kenal. Mungkin karena dia sudah lebih dewasa, karena sudah meiliki istri dan anak.

Jika kalian bertanya apa yang ku rasakan, maka aku jujur, sedikit berdebar, tapi bukan debar-debar asmara karena ketemu dengan sang pujaan hati, percayalah bukan karena itu. Aku hanya berdebar karena takut dengan reaksi yang akan di tampilkan Alif pada Sani.

Nyatanya, Alif tetap santai, ia bahkan terlihat tidak menghiraukan sahabatnya –atau lebih tepatnya, mantan sahabatnya itu.

Kami sampai di rumah orang tua Alif, dan setelah aku turun dari motor, Alif kembali menyalakan mesin motor yang kami tumpangi tadi.

“Loh mas, kamu mau kemana?”

“Ada urusan sebentar.”

“Kamu ke tempat Sani, ya?”

“Enggak.”

“Ayo ngaku.”

“Pokoknya aku nggak ke sana, tenang aja.”

“Aku nggak tenang kalau kamu keluar sama teman-temanmu.” Ya, tentu saja aku nggak tenang. Walau pendiam, Alif adalah tipe orang pemarah. Saat di desa, entah sudah berapa kali aku mendapati Alif pulang dengan muka babak belur karena tawuran. Ya, dia memang suka sekali tawuran-tawuran nggak jelas seperti itu.

“Sudahlah, percaya aja, aku sudah nggak kelahi-kelahi lagi kok. Kamu kan tahu sendiri, aku sudah berhenti minum sejak ada Bella, dan aku juga sudah berhenti kelahi kayak dulu.”

“Nggak percaya.”

“Oke, kalau aku pulang mabuk atau babak belur, kamu boleh nggak ngasih aku jatah seminggu.”

Kucubit hidung mancungnya. “Itu mah curang, kan aku memang lagi dapet, jadi kamu memang nggak dapat jatah seminggu.” Alif hanya tertawa lebar, tapi dia tetap menyalakan motornya.

“Aku nggak lama, nanti balik lagi kok.” Dan dia pergi begitu saja. Sungguh, aku khawatir, aku khawatir karena aku tahu bagaimana dia dan juga bagaimana Sani.

***

Malamnya…

“Dek..”

“Hemm.”

“Besok ke rumah Sani, yuk.”

Aku yang hampir tidur akhirnya bangun seketika. “Ngapain? Enggak, ah!”

“Bagaimanapun juga dia yang ngenalin kita, Dek, harusnya kita ke sana, silaturahmi, berterimakasih.”

“Bukannya kamu yang selama ini nggak pernah mau bahas tentang dia?”

“Ya, aku salah, tapi tadi siang kami sudah baikan, kok, aku sudah ke rumahnya lagi, dan kami banyak cerita.”

“Enggak, aku tetetp nggak mau, kalau mas mau ke sana, ke sana sendiri aja. Bagaimanapun juga bertemu mantan itu canggung, tahu!” Gerutuku.

“Ya sudah. Terserah kamu saja.” Dan kamipun kembali tidur.

***

Sekitar Februari 2015….

Perasaan menggebu, itulah yang kurasakan saat ini, bukan menggebu karena seks, percayalah. Seks itu sudah menjadi makananku sehari-hari dengan Alif, jadi kami tidak menggebu-nggebu seperti ketika pengantin baru dulu, wakakakkakakak. Kali ini perasaan menggebuku hadir untuk hobby baruku, yaitu menulis.

Ya, aku mulai menulis sejak tahun 2014 akhir. Hanya menulis fansfic korea yang aku share di grup-grup saja. Tapi kemudian ada rasa kurang puas. Dan aku memutuskan untuk menulis dengan suasana baru.

Menulis Novel.

Awalnya aku bingung mau menulis tentang apa. Tapi kemudian ide itu muncul begitu saja ketika aku melihat suamiku yang sedang sibuk memainkan gitarnya.

Aku ingat semua kisah yang kulalui bersamanya hingga aku memutuskan untuk menjadikan kisah kami sebagai inti dari cerita pertamaku.

Cinta dan persahabatan…. itulah temanya.

Dan itu kembali mengingatkanku dengan Sani. Aku mulai menulis, dan ketika aku menulis kisah itu, aku kembali mengingat semua kepingan demi kepingan masalaluku yang mulai sedikit terlupakan.

Dhanni, dan Renno. Dhanni sendiri benar-benar mengingatkanku dengan sosok Alif, sosok yang hingga kini masih setia menemaniku. Sedangkan Renno sendiri, ahhh… andai saja hubunganku dengan Sani bisa sebaik hubungan Nessa dan Renno, mungkin akan sangat membahagiakan, tapi namanya kenyataan pasti tak seindah di dalam novel. Heheheheh.

Tapi aku tidak sedih, meski aku tak dapat lagi mengingat wajah Sani, meski aku mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi, setidaknya dia abadi dalam tulisanku. Ya, Kak Renno tetaplah Sani untukku, aku akan selalu mengingatnya ketika membaca novel pertamaku tersebut.

Buat Alif, Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu, kamu tentu tahu itu. Tapi anggap saja ini satu titik –hanya satu titik dari sisi hatiku yang di tempati oleh lelaki lain.

Lelaki yang bernama Sani, dan juga lelaki lainnya yang pernah singgah di hatiku ketika kamu pergi meninggalkanku.

 

-The End-

 

Zenny Arieffka

16 Maret 2017

Advertisements

2 thoughts on “Mengenangnya (With Sani)

  1. bu dulu q juga udah pernah baca cerita tentang ibu dan seperti yng selalu q bilang , masa muda ibu penuh warna karna d kelilingi oleh pemuda” keren …
    oya sama seperti dulu q selalu penasaran ma sosok sani …

    Like

  2. Ahh ternyata ada kisah nyata dibalik sosok Renno..aku paling suka sosok Renno dan Yogie dari semua tokoh yang mbak zenny ciptakan..
    Love u mas Renno 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s