romantis

Unwanted Wife – Chapter 1 (Saya tidak akan membahagiakannya)

Unwanted Wife

Awalnya aku hanya iseng membuat cerita ini, cerita ini sudah ku tulis sejak lama dan sudah mendekati ending, kemarin aku iseng share prolog di sini, ternyata ada yang mau baca, so, aku mau share semuanya. bukanlah kisah yang manis, karena aku menulisnya ketika hatiku sedang dalam mood buruk. kemungkinan cerita ini akan menguras airmata, jadi yang nggak suka nangis jangan baca. wkwkkwkwkwk part ini untuk Unnie ofal yang dari kemaren gak berhenti chat aku karena penasaran ama Darren. jadi Un, jangan benci Darrenku setelah ini yaa.. hehehhe happy reading. 🙂

Chapter 1

-Saya tidak akan membahagiakannya-

 

Pernikahan itu benar-benar terjadi. Darren bahkan hanya bisa diam ketika Nadine menangis pilu kepadanya saat ia memberitahukan kabar tersebut pada Nadine. Nadine tidak berhenti memukuli dadanya, merengek supaya ia mencari cara lain, tapi yang bisa di lakukan Darren hanya diam membatu menerima semua pukulan yang di arahkan Nadine padanya.

Kini, hari pertama ia menjadi seorang suami telah di mulai. Bagaimana mungkin Karina tega melakukan hal ini. Setahu Darren, Karina adalah wanita yang baik, cenderung pendiam, tapi beberapa hari yang lalu wanita ibu benar-benar berubah menjadi sosok yang paling ia benci.

Saat itu, Darren menolak secara halus keinginan dari Om Roy, ayah dari Karina. Darren bahkan berkata jika ia mencintai wanita lain, tapi Om Roy seakan tidak ingin tahu. Lelaki paruh baya itu hanya menunjuknya sebagai seorang menantu, bukan menunjuk Evan, kakaknya atau siapapun. Dan ketika Darren bertanya apa alasannya, Om Roy berkata jika puterinya, Karina lah yang telah memintanya menjadikan Darren sebagai suaminya.

Oh, Karina, bagaimana mungkin wanita itu menjadi wanit yang paling menyebalkan yang pernah ia kenal?

Darren akhirnya memutuskan menghubungi Karina, mengajak wanita itu bertemu, tapi wanita itu seakan menolak ajakannya, seakan tahu jika ia ingin menolak permintaan wanita tersebut. Bukan hanya itu, Nadinepun sudah memohon pada Karina supaya sahabatnya itu mau melepaskan kekasihnya, namun nyatanya, Karina tidak sedikitpun mengindahkan permintaan Nadine dan juga Darren.

Kini, pernikahan itu benar-benar terjadi. Darren benar-benar telah menikahi Karina, meski tanpa cinta, tanpa perasaan sedikitpun, lalu apa selanjutnya? Apa ia akan bahagia bersama dengan wanita tersebut?

“Pagi.”

Mata Darren terbuka seketika saat mendengar sapaan lembut dari wanita yang kini sudah berstatuskan sebagai istrinya.

Darren tidak menjawab, ia hanya terduduk sambil sesekali memijit pelipisnya yang sedikit nyeri.

“Kamu nggak mandi? Aku sudah sediakan sarapan.” ucap wanita itu lagi, dan itu membuat Darren semakin kesal.

Harusnya bukan dia yang menyapanya di pagi hari. Harusnya bukan wanita itu yang menyiapkan sarapan untuknya. Kenapa kini dunia begitu kejam padanya? Pada ia dan juga Nadine?

Dengan kesal Darren bangkit lalu masuk ke dalam kamar mandinya begitu saja tanpa mengindahkan keberadaan Karina yang ada di sana.

Sedangkan Karina sendiri hanya menunduk dan tersenyum menertawakan kepahitan yang ia rasakan saat ini. Inikah yang kamu mau? Di benci oleh orang yang kamu cintai? Pikirnya.

***

Sarapan pertama sebagai pasangan suami istri di lalui Karina dengan sangat tersiksa. Darren, sahabatnya yang kini sudah berstatus sebagai suaminya nyatanya tidak berhenti bersikap dingin dan cuek terhadapnya. Dan itu membuat Karina sakit.

Semuanya bermula sejak beberapa tahun yang lalu, ketika Nadine, salah seorang sahabatnya tersebut bercerita tentang kekasih pertamanya pada Karina. Nadine bercerita jika ia sangat menyukai seorang lelaki, lelaki yang tampan dengan sikap romantisnya. Namanya Garry, Garry sendiri adalah kekasih pertama Nadine dan sejak saat itu, Karina ingin merasakan perasaan cinta seperti sahabatnya tersebut.

Berbeda dengan Nadine yang sangat mudah sekali mendapatkan pendamping karena wanita itu memiliki sikap yang supel, Karina kebalikannya. Ia sangat susah sekali mengenal lelaki, satu-satunya lelaki yang ia kenal dekat adalah Darren, sahabatnya sendiri yang penuh dengan pengertian.

Tidak butuh waktu lama untuk Karina tertarik dengan Darren. Awalnya Karina hanya main-main saja, ingin merasakan perasaan cinta dan berbunga-bunga yang di rasakan oleh Nadine, sahabatnya, tapi kemudian perasaan itu tumbuh semakin besar hingga Karina sulit mengendalikannya.

Ia mulai merasakan rasa benci ketika melihat Darren dekat dengan wanita lain, ia mulai merasa malu-malu saat Darren tak sengaja menatap ke arahnya, dan banyak sekali perasaan aneh yang hingga saat ini Karina rasakan. Hingga kemudian Karina menyadari satu hal, bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada lelaki tersebut. Ia jatuh cinta pada Darren Pramudya, sahabatnya sendiri, dan ia ingin memiliki lelaki tersebut seutuhnya.

Masalah mulai datang ketika ia sadar jika Darren tidak menyambut perasaannya meski Kirana belum pernah sama sekali mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Darren. Lelaki itu jelas menunjukkan dari sikapnya, jika darren lebih perhatian pada sahabatnya, yaitu Nadine, dan Karina tidak suka dengan kenyataan tersebut. Hingga kemudian, Karina memutuskan untuk melakukan hal yang bisa di anggap curang.

Karina meminta sang ayah untuk menjadikan Darren sebagai miliknya, lalu saat itu sang ayah berpikir secara instan, ia berencana membeli saham beberapa investor Pramudya Grup dengan harga yang sangat tinggi, lalu ketika sahamnya lebih besar dari saham yang di miliki keluarga Darren, maka dengan mudah ia mampu memaksa lelaki tersebut menikahi puterinya.

Dan seperti inilah yang terjadi saat ini. Darren benar-benar menikahi Karina, meski pernikahan itu di lakukan dengan sangat terpaksa.

Tiba-tiba Darren berdiri dari tempat duduknya, dan itu membuat Karina tersadar  dari lamunannya. Karina melirik ke arah piring Darren yang ternyata sudah bersih, lelaki itu makan dengan sangat cepat, sedangkan ia melirik ke arah piringnya sendiri yang masih penuh dengan sarapannya.

“Kamu sudah selesai?” tanya Karina sambil ikut berdiri.

“Ya.” Jawaban yang sangat pendek.

Karina melihat Darren menuju ke arah lemari pakaian kemudian mengeluarkan sebuah kemeja kerja lengan panjangnya.

“Kamu mau kemana?”

“Kerja.”

“Kerja? bukannya harus cuti dulu?”

“Cuti? Perusahaan keluargaku sekarang sedang berada di tangan orang, aku tidak mungkin enak-enakan cuti.” Darren menjawab dengan nada sinisnya.

Ia mengenakan kemejanya dengan cepat, memasangan dasinya tanpa banyak bicara, kemudian keluar begitu saja dari dalam kamarnya sendiri.

Ya, setelah menikah, Karina memang tinggal di rumah keluarga Darren. Dan kini, Karina sudah di tinggalkan sendiri di kamar suaminya di hari pertamanya menjadi seorang istri.

***

Ketika Karina keluar dari kamar Darren, lelaki itu sudah tidak ada. Mungkin sudah pergi tanpa pamit, dan itu membuat Karina sedih. Ia membereskan sisa sarapannya bersama dengan Darren tadi, lalu membawa piring-piring bekas itu ke dapur.

Ketika melewati ruang makan, ia bertemu dengan Evan, Kakak Darren yang kini sudah menjadi kakak iparnya. Karina tentu mengenal baik sosok Evan, sosok yang sudah mirip sebagai kakaknya sendiri.

“Pagi kak.” Sapa Karina dengan ramah.

“Pagi.” Jawab Evan, kemudian Evan melirik ke arah piring bekas yang di bawa oleh Karina. “Darren nggak mau makan? Kok sisa makanannya masih banyak?”

Karina melirik ke arah piring bekas di tangannya. “Oh, aku yang nggak habis tadi, Kak.”

“Oh, makan yang banyak, tubuhmu semakin kurus.”

Karina tersenyum mendengar ucapan dari Evan. Ya, lelaki itu memang sering perhatian terhadapnya. Evan merupakan sosok yang sangat baik dan perhatian pada Karina. Lelaki itu juga merupakan sahabat dari Kakak kembar Karina yang bernama Davit dan Dirga  karena ketiganya memang seumuran dan sejak SD selalu satu kelas ketika sekolah.

Tidak jarang Evan membelikan Karina berbagai macam boneka, atau coklat ketika lelaki itu main ke rumah Karina untuk bertemu dengan Davit dan Dirga.

“Davit gimana kabarnya?” tiba-tiba Evan bertanya.

“Oh, Mas Davit masih di bandung sama istrinya, kalau Mas Dirga masih di rumah.”

“Ya, si Dirga kenapa nggak ikut nikah kayak si Davit?”

Karina kembali tersenyum “Kak Evan juga kenapa nggak nikah?” Karina berbalik bertanya.

“Nggak ada yang cocok.”

“Kalau begitu sama dengan Mas Dirga.” Karina terkikik geli. Ia mulai meletakkan piring bekasnya di tempat pencucian piring, lalu mulai mencuci piring-piring tersebut.

“Karin, biarkan saja itu di sana, nanti ada yang bersihin.”

Karina tersenyum. “Aku mau jadi istri yang baik, jadi aku akan mencuci piring bekas suamiku.”

Tanpa di duga, tiba-tiba Evan berjalan menuju ke arah Karina sembari membawa piring bekas tempat sarapannya.

“Kalau begitu, cuci juga punyaku.” Evan menyodorkan piring bekasnya pada Karina.

Karina menatap piring tersebut, kemudian matanya teralih menatap ke arah Evan. Lelaki itu tersenyum lembut padanya dengan mata yang sedikit menyiratkan sesuatu yang tidak bisa di tangkap oleh Karina.

“Kamu mau, kan, menjadi adik ipar yang baik, untukku?” Karina tersenyum. Ia mengangguk dengan bahagia, lalu meraih piring bekas Evan tersebut.

“Tentu saja.” jawabnya. Sedangkan Evan sendiri kemudian tersenyum dengan jawaban yang di berikan oleh Karina.

***

Darren berdiri dengan tegap ketika seorang yang telah di tunggunya telah tiba. Itu Om Roy, lelaki yang kini berstatuskan sebagai mertuanya. Ketika jam makan siang di kantornya berbunyi tadi, ia segera bangkit dan pergi ke kantor ayah Karina. Bukan tanpa alasan, kedatangan Darren ke kantor lelaki paruh baya tersebut tentunya untuk menagih janji lelaki itu untuk segera mengembalikan saham perusahaan keluarganya setelah ia menikah dengan Karina.

“Kamu sudah di sini?” sapa om Roy yang kini sudah kembali duduk di kursi kebesarannya.

“Ya Om.” Darren bahkan terlihat enggan memanggil orang di hadapannya tersebut dengan panggilan Papa.

“Sebegitu ambisinyakah kamu kepada perusahaan keluargamu hingga baru sehari menikahi puteri saya saja kamu sudah mau menagih janji saya?”

“Saya hanya takut om lupa.”

Roy tersenyum miring. “Saya tidak akan lupa, bagaimanapun juga, Papa kamu adalah sahabat saya, saya tidak mungkin menghianati kalian.”

“Tidak mungkin?” Darren mendengus sebal. “Yang Om lakukan saat ini dengan keluarga saya adalah bentuk suatu pengkhianatan.”

Roy tertawa lebar. “Darren, saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk membuat puteri saya bahagia.”

“Benarkah? Jadi menurut Om, saat ini Karin bahagia?”

“Ya, dia hidup bersama dengan orang yang dia cintai.”

Darren tercengang. “Om, om Roy salah paham, Karin tidak mencintai saya, Om, jadi saya mohon, akhiri semua kegilaan ini.”

“Maaf, Darren, saya tidak bisa mengakhirinya.”

“Apa maksud Om?”

“Saya memang berkata akan menyerahkan seluruh saham perusahaan yang saya miliki setelah kamu menikahi puteri saya, tapi saya tidak bilang kalau saya menyerahkan semua itu atas nama kamu.”

“Maksud om?”

“Saya akan menyerahkan semua itu atas nama cucu saya nanti, anak kalian berdua. Cukup adil, kan?”

Darren kembali tercengang dengan perkataan lelaki yang kini di anggapnya sebagai lelaki terlicik di dunia.

“Kenapa om lakukan semua ini? Kenapa?” Darren menggeram sembari mengepalkan kedua telapak tangannya.

“Kamu akan tahu alasannya ketika kamu memiliki seorang puteri, dan puteri kamu meminta sesuatu padamu. Saya hanya berusaha menuruti apa keinginan puteri saya, Darren. Mengertilah.”

Darren tersenyum sinis. “Mengerti? Apa Om Roy mengerti apa yang saya rasakan? Apa Om Roy mengeri apa keinginan saya? Om Roy dan Karin terlalu egois dalam hal ini.”

“Maaf, Darren, saya hanya berusaha membahagiakan puteri saya.”

“Oke. Dan saya jamin, Om Roy tidak akan mendapatkan hal itu! Saya tidak akan membahagiakannya.”

Dengan kesal Darren keluar begitu saja dari dalam ruangan lelaki paruh baya tersebut kemudian membanting pintu di belakangnya keras-keras tanpa menjaga kesopanannya pada ayah mertuanya tersebut. Ia sangat kesal, teramat sangat kesal. Bagaimana mungkin di dunia ini ada orang yang sangat egois seperti Karina dan ayahnya?

 

-TBC-

Nantikan Chapter 2 -Selamat datang di Neraka!- wkwkwkkwkwkkwkwk nanti malam akan update Elena yaa.. happy waiting….

Advertisements

14 thoughts on “Unwanted Wife – Chapter 1 (Saya tidak akan membahagiakannya)

  1. huwahhhhhhhh kiss dulu buat author na 😘😘. 😘.
    sumpah ini mata langsung.melek pdhal tadi udah ngantuk banget …
    masih bingung mo komen apa , tapi ko q merasa evan suka yaa ma karin ..
    q pnsaran ma muka na daren , dan buat karin selamat datang d neraka na mm bella karna ini jln yng u pilih jadi u harus siap ..

    Like

  2. Wahh c karin harus siap mental nih.. yahh dia yg mau nikah sama darren yg sama sekali ga cinta ma dia, siap2 aja akibat nya, hhehehe..

    Like

  3. Anjir taik kuda kampret. Lu ya Darren makan tu taik unta kambeng. Karun bodoh Evan suka tapi di butakan sama yang namanya cinta. Kakek tua Roy goblok demi kebahagian anak perempuan bukan gitu caranya. Alamak emosi saya kakakak bacanya.

    Like

  4. Buat Karin dan Darren, selamat datang dikeluarganya Mom Bella..sudah siap kan buat digilai oleh para readersnya Mom Bell?? Harus siap yaaaaa..😂😊😋

    Like

  5. Huahhh akhirnya update💕
    Sudah dinunggu dari kemarin-kemarin, kayanya bakalan jadi cerita favorite lagi😘

    Next partnya cepetin yah kak😉 terus kalo bisa dipanjangin dikit lagi, tidak tidak dipanjanginnya banyak😂 kiss😘

    Like

  6. Wah.. ternyata ceritanya seru banget. Aku mendukung karina walaupun dia Egois, aku ngerti karna dia kuper gak kaya nadine yang supel. Jadi aku fikir karina lebih membutuhkan darren. Dan dengan sifat nadine, aku yakin dia bisa mememukan pengganti darren. Jadi nadine tolong relakan darren untuk karina.#Uneguneg
    Btw, kayanya evan ada rasa ya sama karina. Penasaran sama ceritanya, lanjut baca ya Thor..

    Like

  7. Cinta emng bkin orang jd egois,,, Karin hrus menanggung sgla konsekuensinya sndri,,krna dialah yg memulainya…dan dia jg yg akn menanggung sgla akbtnya…

    Like

  8. Kenapa ya, karina nekad begitu? Bknkah sdh jelas ia gk akan bhgia dgn pernikahan spt ini. Sptnya evan menyukainya…
    Penasaran lanjutannya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s