romantis

Evelyn – Chapter 2 (Kamu milikku)

Evelyn

Fandy, ini beneran kamu?” sekali lagi Eva bertanya tanpa menghilangkan nada girangnya sembari terus berjalan mendekat.

“Ya, Nona.” Jawab lelaki itu penuh dengan hormat.

Oh, my God.

Tuhan benar-benar sayang padanya, Eva tahu itu. Bagaimana mungkin semuanya bisa kebetulan seperti ini? Dan Fandy, lelaki itu… Astaga, setelah lelaki itu berhenti menjadi pengawal temannya, Eva pikir ia tidak akan bertemu lagi dengan lelaki tersebut tapi nyatanya….

“Nenek, Aku mau dia.” Eva berkata dengan penuh semangat dan senyuman bahagianya.

“Apa maksud kamu, Evelyn?”

“Dia, aku mau dia yang menjadi pengawal pribadiku.” jawab Eva penuh keyakinan. Oh, pasti akan sangat menyenangkan ketika memiliki Fandy sebagai pengawal pribadinya.

***  

Chapter 2

-Kamu milikku-

 

Eva masih tidak berhenti menatap sosok yang sedang sibuk mengemudikan mobilnya tepat di sebelahnya. Bahkan Eva terlihat sengaja menatap lelaki itu secara terang-terangan seakan ingin mengetahui reaksi dari lelaki tersebut.

“Apa yang anda inginkan, Nona?” tanya lelaki tersebut dengan begitu datar tanpa menolehkan wajahnya pada Eva yang duduk di sebelahnya

Eva tersenyum sambil menjawab. “Kamu.”

“Saya?”

“Ya, kamu, kamu menjadi pacarku.”

“Maaf, itu bukan termasuk dalam pekerjaan saya.”

“Oh, memang bukan. Tapi itu perintah untuk kamu.”

“Perintah?”

Eva tersenyum menyeringai. “Ya, perintah. Kamu sudah menjadi pengawal pribadiku, yang artinya tunduk dengan perintahku, maka sekarang aku memerintahkan kamu untuk menjadi pacarku.”

Fandy mencengkeram erat kemudi mobil yang sedang ia kendarai. “Kenapa harus saya, Nona?”

“Karena aku suka.”

“Hanya karena itu?”

“Ya. Memangnya apa lagi?”

“Anda tidak bisa meminta orang asing menjadi kekasih anda hanya karena anda suka, Nona.”

“Lalu aku harus memintanya karena apa? Apa aku harus menunggu sampai dia menyukaiku?”

“Ya, begitu lebih baik.”

“Well, aku nggak perlu nunggu, karena sebentar lagi kamu akan menyukaiku.” Eva menjawab dengan penuh percaya diri. Sedangkan Fandy tidak lagi menjawab pernyataan Eva tersebut.

“Fan, aku boleh tanya nggak?” Eva tampak serius menatap Fandy.

Fandy melirik sebentar ke arah Eva kemudian menjawab “Silahkan, Nona.”

“Kamu tampan sekali. Bagaimana bisa orang setampan kamu menjadi seorang pengawal?”

“Saya tidak bisa menjawab.” Fandy berkata dengan nada yang sangat datar. Dan itu membuat Eva tertawa lebar sambil memegangi perutnya sendiri.

Astaga, Fandy benar-benar lucu. Lelaki itu bersikap sedatar mungkin padanya tapi lelaki itu tidak bisa menyembunyikan sedikit rona merah di pipinya karena malu dengan sanjungan yang di berikan oleh Eva.

“Fan, kamu benar-benar harus menjadi pacarku. Pokoknya harus.” Dan Eva kembali tertawa lebar melihat sikap Fandy yang kaku dan begitu menggemaskan di matanya. Oh, ini adalah pertama kalinya Eva bertemu dengan sosok yang memiliki karakter seperti Fandy, dan itu membuat Eva menginginkan Fandy menjadi salah satu deretan lelaki yang di pacarinya. Ia menginginkan Fandy, sangat menginginkannya.

***

Fandy menegang ketika Eva sampai di kampus tempat gadis itu menimba ilmu. Bukan tanpa alasan, karena Fandy tadi juga sempat mendengar Eva berceloteh jika gadis itu satu kampus dengan sahabatnya yang bernama Sienna, mantan atasan Fandy, dan yang kini masih di cintai oleh Fandy.

“Oke, apa kamu ikut turun?”

“Saya hanya akan mengawasi dari sini saja, Nona.”

“Benarkah? Untuk hari ini aku akan membiarkanmu berada di dalam mobil saja karena aku tidak ingin mengenalkanmu pada temanku sebagai kekasihku ketika pakaianmu masih sekaku itu.” Eva menatap setelan yang di kenakan Fandy, lelaki itu benar-benar tampak kaku tak bernyawa di matanya.

“Saya bukan kekasih anda, Nona.”

Well, sayang sekali. Yang memutuskan seperti apa hubungan kita itu bukan kamu, tapi aku. Dan mulai saat ini kamu kekasihku, kekasih yang melindungiku.”

“Terserah apa kata Nona Evelyn.”

“Ngomong-ngomong, berhenti memanggilku dengan nama itu, aku benar-benar merasa seperti seorang tuan puteri.”

“Anda memang seorang tuan puteri sekarang.”

Eva tertawa lebar. “Ya, aku mau jadi tuan puteri kalau kamu jadi pangerannya.”

Fandy mengerutkan keningnya. Apa kini gadis itu sedang merayunya? Oh yang benar saja. Darimana datangnya gadis tidak tahu malu ini?

“Oke, aku akan pergi, Icha pasti sudah menungguku. Untung Sienna sudah mulai cuti dari minggu kemarin, kalau tidak, dia pasti mengomel karena aku telat.”

Dan Fandy hanya membatu. Sienna cuti kuliahnya? Itu tandanya ia tidak perlu mengendalikan diri lagi karena tidak akan bertemu dengan wanita tersebut. Lamunan Fandy tentang Sienna terhenti ketika sesuatu basah menempel pada pipinya. Itu bibir Eva, Sial! Gadis itu mencium pipinya begitu saja tanpa aba-aba.

“Aku pergi dulu, sayang. Tungguin aku, oke?” Dengan begitu centil Eva keluar dari mobilnyakemudian meninggalkan Fandy begitu saja yang masih terpaku sesekali mengusap pipinya dimana  bekas kecupan Eva berada.

***

Eva tidak berhenti tertawa lebar hingga membuat sahabatnya, Icha, tidak berhenti menggelengkan kepalanya karena kelakuan gadis tersebut. Eva benar-benar terlihat seperti orang gila.

“Kamu kenapa sih? Kayak orang sinting.”

“Aku emang sinting. Hahahahaha.”

Dan Icha hanya menggelengkan kepalanya karena muak.

“Pokoknya, nanti sepulang dari kampus, kamu musti ikut aku.”

“Kemana? Kalau kencan dengan salah satu cowok kmu, mending enggak deh.” Ya, Eva memang kerap mengajak Icha untuk menemaninya kencan dengan salah seorang kekasihnya, dan itu benar-benar membuat Icha kesal.

“Enggak lah.”

“Terus?”

“Pokoknya ke suatu tempat yang kamu nggak akan nyangka kalo ada di sana bersama aku.”

“Apaan sih?” Icha tampak tidak sabar dengan rahasia yang di sembunyikan Eva.

“Ada deh, coba Sienna masih ngampus, mungkin bakal seru kalau dia juga ikut.”  Eva sedikit menggerutu. Ya, sahabatnya yang bernama Sienna itu memang sudah tidak ke kampus lagi karena cuti hamil. Dan itu sedikit membuat Eva bosan.

“Emang kamu nggak ke toko aksesorismu nanti?”

“Nggak. Bahkan aku sempat berpikir mau menutup toko itu.”

“Bukannya dari sana kamu dapat uang jajan tambahan?”

Eva tertawa lebar. “Uang jajan tambahan? Kamu bercanda? Aku nggak butuh lagi uang jajan tambahan.” Eva masih tertawa lebar.

“Kamu benar-benar gila.” Dengan wajah datar, akhirnya Icha memilih meninggalkan Eva yang masih tertawa lebar seperti orang gila.

***

Fandy masih duduk santai di dalam mobil Eva sembari menyalakan lagu-lagu yang di sediakan dalam mobil tersebut. Matanya terpejam, tapi ia tidak menurunkan kewaspadaannya.

Sesekali ia mengerutkan keningnya ketika menyadari sebuah bayangan yang sedikit mencurigakan tak jauh dari gerbang kampus Eva.

Siapa itu? Kenapa tampak sedikit mencurigakan? Fandy membuka matanya seketika saat rasa penasaran mulai mengetuk benaknya.

Lelaki itu mengenakan celana jeans, dengan jaket kulitnya. Ia mengenakan topi dan juga sedang merokok sembari berjalan mondar-mandir dengan kepala yang sesekali melonggok ke arah kampus Eva.

Apa ada masalah?

Yang Fandy lakukan hanya menunggu. Belum tentu juga lelaki itu memiliki masalah, kalaupun iya, belum tentu masalahnya dengan Eva, gadis yang harus ia kawal. Tapi tak lama, kewaspadaan Fandy mulai meningkat ketika mendapati Eva yang berjalan keluar dari kampusnya dengan seorang gadis lainnya, pada saat bersamaan, lelaki mencurigakan itu menghentikan Eva dan temannya.

Secepat kilat Fandy menegakkan tubuhnya kemudian keluar dari dalam mobil Eva yang memang sengaja ia parkir di seberang jalan. Fandy mengamati lelaki tersebut yang tampak bertanya-tanya pada Eva dan temannya. Apa yang di inginkan lelaki tersebut?

“Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Fandy dengan nada formalnya ketika ia sampai di hadapan Eva dan juga lelaki tersebut.

“Fandy? Kok kamu di sini?” Icha, teman Eva tersebut tampak terkejut.

Eva hanya memperlihatkan cengiran khasnya. “Nanti aku ceritain.”

“Tapi Va, harusnya dia kan udah berhenti ngawal Sienna. Lagian Sienna sudah cuti kuliah, memangnya dia mau apa di sini?”

“Siapa bilang dia ngawal Sienna?”

“Lalu?”

“Nanti aku jelasin.” Eva menjawab tanpa menghilangkan senyum geli di wajahnya.

Sedangkan Fandy sendiri tidak mempedulikan dua gadis yang tampak sangat cerewet di sebelahnya itu. Ia masih sibuk memperhatikan lelaki yang ada di hadapannya, lelaki yang benar-benar tampak mencurigakan di matanya.

Fandy besar dengan berbagai macam keahlian yang di ajarkan padanya, termasuk keahliannya dalam menilai orang. Instingnya tidak pernah salah. Ia akan mencurigai sesuatu yang bahkan tidak tampak mencurigakan bagi manusia kebanyakan.

“Apa yang anda inginkan?” tanya Fandy dengan wajah datarnya dan suara dinginnya pada lelaki tersebut tanpa mempedulikan Eva dan Icha yang kini menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Hei, kamu tidak perlu sekaku itu. Mas ini hanya bertanya tentang jalan.” Eva tampak sedikit kesal dengan sikap Fandy yang baginya terlalu berlebihan.

“Dia ngebosenin banget.” Icha ikut menyahut.

“Saya hanya tanya jalan.” Lelaki itu menjawab dengan santai. “Baik, terimakasih mau menunjukkan jalan untuk saya.” Ucap lelaki tersebut pada Eva dan Icha kemudian pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga.

“Ayo.” Ajak Eva sambil menggandeng Icha, sedangkan Fandy masih menatap kepergian lelaki tersebut yang nyatanya masih sesekali menoleh ke belakang, ke arahnya.

“Fan, Ayo.” Ajak Eva lagi.

“Kamu ngajak dia?” Icha bertanya dengan wajah bingungnya dan Eva hanya menjawab dengan senyumannya.

Mereka bertiga kemudian menyebrangi jalan dan menuju ke arah sedan hitam yang terparkir di sana. Eva dan Icha masuk ke dalam sedan tersebut di susul oleh Fandy yang duduk di bangku kemudi.

“Ini mobil kamu?” Icha tampak terkejut dengan mobil yang ia tumpangi saat ini. Setahunya, Eva memang bukan orang miskin, tapi sahabatnya itu juga bukan orang kaya raya hingga memiliki mobil sedan mewah lengkap dengan supir gagahnya.

Icha menatap kesal ke arah Eva yang tidak juga menjawabnya dan malah memperlihatkan cengirannya yang seakan menertawakan kebodohan Icha.

“Va, jawab aku atau aku keluar dari mobil ini.”

Eva tertawa lebar. “Oke, oke, oke. Jawabannya adalah…. Aku sekarang sudah jadi seorang milyader.” Eva menjawab sembari tertawa lebar.

“Nggak lucu, tau!”

“Oke, kamu nggak akan percaya sebelum aku ngajak kamu ke istanaku.”

“Istana?”

Eva tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.n “Fan, kita pulang.”

“Baik, Nona.” Dan akhirnya mobil itupun melaju meninggalkan area kampus Eva.

***

Icha tidak berhenti mengumpat karena keterkejutan yang ia alami setelah Eva mengajaknya masuk ke dalam istana sahabatnya tersebut. Ya, itu benar-benar istana, dan astaga, Icha masih tidak percaya jika Eva benar-benar berubah menjadi seorang puteri tunggal dari orang asing yang memiliki perusahaan tambang emas di luar negeri sana.

“Gila, ini benar-benar gila!” Icha masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Kini dirinya sedang berada di dalam kamar Eva, kamar yang benar-benar terlihat seperti kamar seorang puteri. Aneka gaun-gaun indah tertata rapi di sebuah ruangan, rak-rak sepatu dan tas yang terisi penuh dengan barang-barang branded, lemari-lemari aksesoris dan perhiasan juga ada di sana, kamar itu benar-benar kamar untuk seorang puteri.

“Kamu masih nggak percaya apa yang aku omongin?” Eva yang terbaring di ranjangnya akhirnya menanyakan kalimat tersebut.

“Kalau Sienna kamu kasih tahu, dia juga nggak akan percaya. Ini benar-benar gila.”

Well, nyatanya ini kenyataannya. Walau kadang aku juga masih nggak percaya.”

Icha ikut melemparkan diri di atas ranjang Eva, kemudian bertanya. “Sebenarnya apa yang terjadi? Dan mama kamu gimana?”

Eva menghela napas panjang. “Aku nggak tahu, malam itu papa dan mama bertengkar hebat. Aku bahkan dengar beberapa barang pecah karena di banting. Kupikir mereka memang ada masalah. Keesokan harinya, mama sudah nggak ada, dan papa tiba-tiba ngajak aku pindah ke sini.”

“Kamu nggak mau cari tahu tentang mama kamu?”

“Kamu pikir aku bisa apa? Nenek bahkan nyiapin pengawal buat aku hingga aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Ah ya, dan masalah pengawal. Kamu benar-benar suka sama si Fandy sampai kamu minta dia jadi pengawal pribadi kamu?”

Eva tertawa lebar. “Suka sih enggak, cuma tertarik aja, aku suka godain dia.”

Icha  menggelengkan kepalanya. “Kamu benar-benar gila.”

“Nenek menyediakan banyak sekali pengawal untukku, aku nggak tahu untuk apa pengawal-pengawal tersebut. Karena kupikir, aku nggak pernah punya masalah sama orang, kecuali para cowok.” Eva kembali tertawa lebar. “Dan kebetulan, salah satu pengawal tersebut adalah Fandy, jadi aku minta dia saja yang menjadi pengawal pribadiku.”

Icha menyentil kening Eva. “Itu sih karena kamu yang kegatelan.” Dan keduanya berakhir tertawa bersama.

***

Eva tidak bisa melirik ke arah pintu masuk rumah barunya. Saat ini ia sedang duduk santai di ruang tamu rumah barunya dengan sebuah novel di tangannya. Ia sedang menunggu seseorang, siapa lagi jika bukan Fandy.

Tadi, Icha menghabiskan sorenya di rumah Eva. Bercerita, bercanda bahkan berkaraoke di ruang karaoke yang memang tersedia di rumah barunya tersebut. Setelah jam sembilan malam, Eva meminta Fandy untuk mengantarkan Icha, dan hingga kini lelaki itu belum juga kembali. Apa jam kerja Fandy memang sudah habis? Huh, sangat tidak menyenangkan jika Fandy tidak mengawalnya hingga matanya terpejam, padahal ia masih belum puas mengganggu lelaki tersebut.

“Evelyn, apa yang kamu lakukan di sana, sayang? Kamu tidak tidur?” suara sang nenek membuat Eva mengangkat wajahnya.

“Uum, aku sedang menunggu Fandy.” Eva menjawab dengan jujur.

“Sepertinya kamu dekat dengannya. Apa kamu kenal dengan dia sebelumnya? Atau jangan-jangan, kamu menyukainya?”

“Oh, tidak Nek.” Entah kenapa Eva tersipu dngan pertanyaan terakhir sang nenek. “Fandy dulu adalah pengawal sahabatku yang bernama Sienna. Sikapnya sangat kaku, dan aku suka sekali mengganggunya.”

“Oh ya? Jadi kamu suka mengganggu lelaki yang menyimpan berbagai macam senjata di balik pakaiannya?” goda neneknya.

“Senjata? Fandy bersenjata?”

Sang nenek tersenyum. “Setiap pengawal di sini harus memiliki senjata untuk melindungi kamu, sayang. Begitupun dengan dia.”

“Aku tidak pernah melihat senjatanya.”

“Dan jangan berharap kamu melihatnya.” Pesan sang nenek penuh arti.

“Nenek, apa Fandy dan pengawal di rumah ini pulang ke rumah mereka setiap harinya?”

“Tidak, di belakang mansion ini ada sebuah paviliun yang cukup besar, dan di sanalah tempat para pengawal kita menghabiskan waktu untuk beristirahat secara bergantian. Fandypun di sana.”

“Jadi dia tidak pulang?”

“Tidak. Hanya ketika libur, dia akan pulang. Dia libur setiap minggu.”

“Minggu? Kenapa harus minggu?” rengek Eva yang hanya mendapat jawaban sebuah senyuman dari neneknya. “Nek, kalau aku meminta Fandy tidur di Mansion ini bagaimana?”

“Tidak bisa sayang.”

“Kenapa tidak bisa? Ayolah, aku baru bisa merasa aman jika dia berada di dekatku.”

“Kamu menyukainya?”

“Tidak, Nenek!”

Sang nenek tertawa lebar. “Baiklah, aku akan meminta para pelayan memindahkan buku-buku yang ada di ruang baca tepat di sebelah kamar kamu. Supaya nanti Fandy bisa pindah ke sana.”

Eva benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. “Terimakasih, Nek. Oh, Nenek benar-benar nenek terbaik sedunia.” Eva memeluk neneknya, nenek yang baru di kenalnya kemarin tapi seakan mampu mencuri seluruh hatinya karena perhatian yang di berikan wanita tua tersebut.

“Apapun untukmu sayang.” Sang nenek membalas pelukannya dengan sebuah pelukan hangat, pelukan yang sangat ia rindukan dari mamanya.

***

Setelah lelah menunggu Fandy yang tak kunjung kembali, akhirnya Eva kembali ke kamarnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dan ketika ia mulai memejamkan matanya, suara ketukan pintu kamarnya membuatnya terjaga kembali. Apa itu Fandy? Mungkin saja.

Dengan semangat Eva membuka pintu kamarnya dan senyumnya terukir begitu saja ketika melihat Fandy yang sudah berdiri di sana.

“Akhirnya kamu pulang.”

“Pengawal di luar mengatakan jika anda menyuruh saya ke sini saat saya sudah kembali, ada apa Nona?”

“Berhenti bersikap kaku menyebalkan seperti itu, aku cuma heran kenapa kamu lama sekali?”

“Teman Nona Evelyn meminta saya mengantarkannya berjalan-jalan sebentar di taman kota.”

“Dan kamu menurutinya?”

“Ya.”

“Kamu kencan sama Icha?”

“Tidak.”

“Apa sebutan untuk laki-laki dan perempuan yang jalan bersama-sama di taman kota?”

“Saya tidak tahu.”

“Isshhh, kamu benar-benar menyebalkan.”

“Jika tidak ada yang penting, saya mau pamit, Nona.”

“Berhenti bersikap formal seperti itu!” Eva benar-benar mulai kesal dengan sikap kaku dan profesional yang di tampakkan Fandy padanya. Secepat kilat Eva menarik lengan Fandy hingga tubuh lelaki tersebut masuk ke dalam kamarnya, lalu ia menutup pintu kamarnya tersebut.

“Apa yang anda lakukan, Nona?”

“Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Eva, hanya panggil Eva.  Atau mungkin sayang.”

Fandy menghela napas panjang. “Apa yang kamu mau?”

Eva tersenyum ketika Fandy sudah tidak bersikap formal padanya.

“Aku mau kamu.” Eva mendongakkan wajahnya seakan menantang Fandy.

“Berhenti main-main, aku tidak suka dengan gadis kecil sepertimu.”

Eva membulatkan matanya seketika. “Gadis kecil katamu? Walau umurku belum sembilan belas tahun, tapi aku sudah bisa memuaskan laki-laki, tahu!”

“Aku tidak suka perempuan yang sudah pernah memuaskan laki-laki.”

“Uum, maksudku aku belum pernah, tapi aku bisa.”

“Lupakan, lebih baik kamu jauhi aku.”

“Tidak, aku tidak akan menjauhimu, dan kamu tidak akan bisa menjauh dariku.”

“Kenapa?”

“Karena kamu milikku.” Kalimat itu di katakan Eva dengan penuh penekanan. Eva semakin mendekatkan dirinya, kakinya bahkan sudah berjinjit untuk menggapai wajah Fandy yang memang jauh lebih tinggi darinya. “Kamu milikku, Fan. Dan kamu tidak bisa menolakku.”

 

-TBC-

Advertisements

4 thoughts on “Evelyn – Chapter 2 (Kamu milikku)

  1. wahhhhhhh eva parah dan q sangat bersemangat 😄😄.
    suka ma sifat eva yng kekanakan , manja tapi agresif , dan fandy yng malang terjebak ma kelakuan eva yng mengemas kan 😄😄😄.
    jadi ga sabar nunggu moment” mereka ber 2 .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s