romantis

Elena – Chapter 14 (Karena aku mencintaimu)

elenanewElena

Chapter 14

-Karena aku mencintaimu-

 

Elena kembali berkutat dengan pekerjaannya setelah ia menyempatkan diri membalas email dari Megan, sahabatnya. Ya, hingga kini, hanya Meganlah tempat dimana Elena mengadu. Megan selalu mengerti apa yang di inginkan dan di rasakan Elena.

Elena juga sudah bercerita semua tentang Gilang. Tentu saja Megan terlihat sangat shock ketika menghubunginya dengan video call. Temannya itu tidak menyangka jika dirinya pernah mengalami masalalu sepahit itu.

Tentang Yogie, Elena juga sudah bercerita pada Megan. Elena terlalu bingung dengan perasaannya sendiri hingga membuatnya tidak mampu membendung semua yang di rasakannya pada Yogie.

Yogie semakin aneh dan itu membuat Elena semakin gila.

Bukan aneh dalam hal buruk, hanya saja, lelaki itu semakin bersikap manis terhadapnya. Bukannya Elena tidak suka, hanya saja Elena masih merasa tidak nyaman.

Megan berkata jika Elena harus membiasakan dengan hal tersebut, karena itulah hubungan normal pada umumnya. Elena harus terbiasa jika dirinya mau lepas dari belenggu masalalunya. Dan atas nasehat Megan, Elena akan mencoba.

Kini, dirinya kembali sibuk dengan berkas-berkas di meja kerjanya. Sudah jam setengah satu, biasanya Yogie akan segera menghubunginya untuk mengajak ke kafe Jihan. Ya, seperti itulah beberapa hari terakhir setelah mereka memutuskan menjalin hubungan yang di sebut dengan ‘Kencan yang sesungguhnya’.

Dan benar saja, tak lama ponsel Elena berbunyi. Elena melirik ponselnya dan itu benar-benar dari Yogie. Ah, lelaki itu apa tidak bisa membiarkannya tenang sebentar saja?

“Halo.”

“Hai. Aku tunggu di kafe Jihan.”

“Baiklah, aku segera ke sana.”

“Mau ku pesankan sesuatu?” tawar Yogie.

“Kopi, boleh.”

“Oke, kopi akan menyambut kedatanganmu.” Elena tersenyum sebelum kemudian memutuskan hubungan telepon tersebut. Ah, dia manis sekali.

***

Yogie menunggu dengan setia. Di hadapannya sudah tersaji dua cangkir kopi yang masih mengeluarkan asap.

“Sepertinya kalian benar-benar serius.” Suara lembut tersebut memaksa Yogie mengangkat wajahnya. Tampak Jihan yang berada di hadapannya sembari membawa makan siang pesanan Yogie.

“Maksudmu?”

“Kamu dan Elena.”

Yogie tertawa lebar. “Dengar, kami hanya teman, teman yang saling memanfaatkan.”

“Oh ya? Tapi bukan begitu yang kulihat.”

“Memangnya seperti apa yang kamu lihat?”

“Uum, kalian terlihat saling tarik menarik, seperti sebuah magnet, mata kamu melihat kemanapun dia bergerak, begitupun sebaliknya.”

Yogie bersedekap. “Akupun melihatmu seperti itu dengan Nanda, suamimu.”

“Ya, itu karena kami suami istri, kami saling mencintai, dan kami memiliki keintiman yang hanya dapat di mengerti oleh kami berdua. Dan akupun melihat kamu dan Elena seperti itu. Kalian saling mencintai, bukan?”

Yogie tercenung seketika. Saling mencintai? Apa-apaan ini, itu tidak mungkin!

“Oke, dia sudah datang, aku akan pergi.” Jihan berkata sembari meninggalkan meja Yogie, seketika itu juga mata Yogie mencari dimana keberadaan Elena, dan benar saja, wanita itu ada di ambang pintu masuk kafe Jihan.

Seperti biasa, wanita itu tampak cantik dan rapi dengan pakaian kerjanya. Elena terlihat sangat kuat, mandiri dan terlihat tak memiliki masalah apapun, padahal Yogie mengerti jika wanita itu belum sembuh dari masalalu yang masih menghantuinya. sepintar itukah Elena mampu menyembunyikan perasaannya??

“Sudah lama menunggu?” pertanyaan Elena membuat Yogie tersadar jika sejak tadi dirinya bahkan tidak berkedip saat melihat Elena berjalan mendekat ke arahnya.

“Baru saja.”

Rasa gugup entah kenapa menyelimuti diri Yogie, ada apa? Apa karena perkataan Jihan tadi? Yang benar saja.

“Ada apa?” tanya Elena yang kini sudah duduk tepat di hadapan Yogie, Elena memang merasa ada yang aneh dengan sikap Yogie. Dan itu kembali membuatnya sedikit tidak nyaman.

“Nggak ada pa-apa, aku hanya sedikit kelaparan karena menunggumu.”

“Kalau begitu, makan saja dulu, kamu nggak perlu nunggu aku.”

“Hei, kita sedang berkencan, dan aku tidak akan makan duluan sebelum teman kencanku datang.”

Elena tersenyum mendengar pernyataan Yogie. “Kamu ada-ada saja.”

Lalu keduanya mulai menyantap makan siang di hadapan mereka. Elena tampak biasa-biasa saja, tapi entah kenapa kini Yogie yang di buat gugup dengan kedekatan mereka, sial! Perkataan Jihan tadi benar-benar mempengaruhinya. Saling mencintai, yang benar saja.

***

Sorenya.

Setelah pulang dari tempat kerjanya, Yogie lantas bergegas ke super market. Ia ingin berbelanja karena nanti malam ia sudah janji akan mengajak Elena makan malam di apartemennya. Sial! Ini adalah pertama kalinya ia mengajak wanita masuk ke apartemennya. Kenapa harus Elena?

Yogie menggelengkan kepalanya menepis semua pertanyaan-pertanyaan yang menari di kepalanya. Ia dapat menjawab pertanyaan tersebut, tapi ia memungkiri jawabannya jika sebenarnya ia sudah…. Ah! Lupakan!

Ketika Yogie memilih bahan makanan di sebuah supermarket, matanya tidak sengaja mengangkap sebuah bayangan yang selama ini sudah tidak pernah di jumpainya. Bayangan yang dulu membuat jantungnya berdebar-debar ketika melihat sosok tersebut.

Itu Alisha Almeera. Wanita yang membuatnya patah hati.

Yogie meraba dada kirinya. Dadanya sudah tidak berdebar-debar lagi seperti dulu. Tidak ada rasa menggebu untuk wanita tersebut, tidak ada rasa kecewa atau rasa marah karena wanita itu menolak cintanya, kenapa??

Wanita itu tampak santai dengan mendorong kereta bayinya, Yogie bahkan melihat Brandon, suami dari Alisha yang terlihat sangat protektif terhadap wanita tersebut. Dan Yogie tersenyum.

Apa? Ia tersenyum? Kenapa?

Yogie memasuki dirinya semakin jauh, menyelami perasaannya sendiri semakin dalam, dan mencari jawaban tentang apa yang telah di rasakannya saat ini. Hingga ia mendapatkan jawaban jika memang Alisha sudah tergantikan dengan sosok yang baru. Apa itu…. Elena?

Yogie memejamkan matanya frustasi. Tidak! Itu tidak boleh Elena. Astaga, wanita itu bahkan mungkin tidak mengerti arti cinta, wanita itu bahkan sudah berkata jika dia akan melajang seumur hidup tanpa seorang pasangan di sisinya.

Sial! Jika ia harus mencintai lagi, Yogie ingin jika wanita itu bukan Elena. Elena hanya mencari kepuasan, wanita itu butuh dirinya untuk menjadi pengobat masa lalunya, bukan untuk menjalin kasih, menikah bersama lalu menua bersama. Itu bukan Elena. Dan sialnya, Yogie tidak siap untuk mengalami patah hati lagi.

Yogie akhirnya mempercepat acara belanjanya. Ia ingin segera pergi dari supermarket tersebut. Entah kenapa, melihat Alisha membuat dirinya yakin jika ia sudah melupakan wanita tersebut, ia sudah menggantikan posisi wanita tersebut dengan posisi Elena, dan Yogie tidak suka kenyataan itu.

***

Elena berdiri di depan meja riasnya. Matanya menelusuri bayangan di hadapannya yang sudah tampak sempurna. Hari ini entah kenapa ia ingin terlihat cantik, gaun yang di kenakannya bukanlah gaun yang mewah, tapi gaun itu entah kenapa dirasa sangat pas ia kenakan ketika akan mekan malam bersama Yogie.

Rambutnya ia tata sedemikian rupa hingga membuatnya tampak anggun dan menawan. Apa Yogie akan menyukainya? Oh, kenapa juga ia memikirkan selera lelaki itu?

Elena kemudian menyemprotkan parfum ke area lehernya dan juga pergelangan tangannya, parfum yang di rasa sangat harum dan membuat siapapun tenang ketika menghirupnya. Kaki telanjangnya kemudian berjalan menuju rak-rak sepatu miliknya, kemudian ia memilih dan mengenakan sepatu hak sedang yang di rasanya sangat pas di kombinasikan dengan gaun yang ia kenakan.

Sempurna. Pikirnya ketika mendapati pantulan dirinya pada cermin di hadapannya. Apa Yogie akan menyukai penampilannya malam ini? Apa ia terlalu berlebihan? Oh, sejak kapan ia memikirkan pendapat orang?

Elena lantas keluar dari dalam kamarnya dan sangat terkejut saat mendapati Yogie sudah berdiri menunggu tepat di depan pintu kamarnya.

“Kamu kok sudah di sini?”

“Ya, aku menunggumu.”

“Sudah lama?”

“Cukup lama.” Pipi Elena merona seketika saat menyadari jika dirinya tadi terlalu lama berdandan, menyiapkan diri hanya untuk makan malam bersama dengan Yogie.

“Ada apa?” pertanyaan Yogie membuat Elena mengangkat wajahnya menatap lelaki di hadapannya tersebut.

“Uum, apa aku terlalu berlebihan?”

“Apanya yang berlebihan?”

“Dandananku, mungkin.”

Yogie hanya tersenyum, kemudian ia melangkah mendekat ke arah Elena, menyisipkan anak rambut Elena ke belakang telinga wanita tersebut dengan sangat lembut.

“Kamu menakjubkan.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin menciummu.” Bibir Yogie kini bahkan sudah sangat dekat dengan bibir Elena.

“Maka ciumlah.” Elena mendongakkan wajahnya, seakan ingin menggapai bibir Yogie.

Yogie hanya tersenyum. “Tidak sekarang, Honey, aku tidak ingin merusak dandananmu yang benar-benar menyejukkan mataku.”

“Aku baru sadar kalau kamu tukang nggombal.”

“Menggombal adalah hal yang wajar untuk pasangan yang sedang berkencan.”

“Oh ya?” Elena menggoda.

Yogie tertawa lebar sebelum berkata “Oke, sekarang ayo kita berangkat sebelum kemalaman.” Dan Elena hanya menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang di usulkan Yogie.

***

Sampai di apartemen Yogie, Elena hanya mampu mengamati seluru isi apartemen tersebut. khas laki-laki, pikirnya. Tidak ada barang yang istimewa, hanya peralatan sehari-hari yang di butuhkan lelaki tersebut. Apartemen itu juga lebih sederhana dari pada apartemennya. Apa Yogie memang orang yang sederhana?

“Kenapa? Kecewa karena ini bukan apartemen mewah?”

Elena menggeleng. “Tidak, aku malah suka dengan suasananya.”

“Suasananya? Yang benar saja. Di sini sangat sepi dan membosankan. Aku bahkan sudah bosan tinggal di sini sendirian.”

“Kalau begitu, kenapa tidak pulang?”

“Kamu tahu bukan, kalau aku sedikit ada masalah dengan orang tuaku, jadi, kupikir di sini lebih baik.”

Elena hanya menganggukkan kepalanya. Ia tidak ingin membahas terlalu jauh tentang keluarga Yogie, karena ia yakin jika lelaki itu tidak ingin membahasnya.

“Oke, kamu boleh duduk di sana, aku akan menyiapkan makan malamnya.”

“Hanya duduk? Kamu nggak perlu bantuanku?”

Yogie menggelengkan kepalanya sembari tersenyum lembut pada Elena. “Aku sudah memasaknya tadi, sendiri. Saat setelah pulang dari kantor. Dan aku tinggal memanaskannya saja untukmu.”

“Oh ya? Memangnya kamu masak apa?”

“Ayam panggang bumbu special.”

Elena sedikit tersenyum. “Bumbu special? Apa yang membuatnya special?”

“Karena ini ayam panggang pertama buatanku, dan aku menyiapkannya special untukmu.”

“Kamu yakin dengan rasanya? Aku tidak ingin menjadi kelinci percobaan untuk memakan masakanmu.” Elena sedikit menahan kikikan gelinya.

“Hei, rasanya pasti enak, sudah, kamu duduk saja, malam ini aku akan melayanimu.” Dan Elena akhirnya menuruti apa yang di katakan Yogie, ia duduk dengan tenang sembari menatap Yogie yang sibuk menyiapkan makan malam untuknya.

***

Keduanya makan dalam diam, hingga tak terasa Elena sudah menghabiskan makan malam beserta makanan penutup yang di siapkan oleh Yogie.

“Aku masih harus bilang kalau makanan ini sangat enak.”

“Apa kubilang, kamu akan ketagihan.” Keduanya tertawa.

“Jadi, apa rencana kita setelah ini?” Elena bertanya sambil membantu Yogie membereskan meja makan.

“Kita akan nonton.”

“Nonton lagi? Enggak! Aku bosan.” Elena menolak mentah-mentah. Setelah malam pertama mereka berkencan saat itu, Yogie memang sudah beberapa kali mengajak Elena nonton ke bioskop lagi dan lagi. Sebenarnya Elena tidak bosan, hanya saja perlakuan Yogie ketika nonton film di bioskop benar-benar sangat mempengaruhinya.

Lelaki itu membuatnya salah tingkah, jantungnya berdebar tak karuan sepanjang malam, dan itu membuat Elena tidak nyaman. Lalu apa bedanya dengan malam ini? Ya, tentu saja tidak ada bedanya. Nonton atau tidak, jantungnya tetap berdegup kencang, dirinya tetap salah tingkah ketika tiba-tiba Yogie menatapnya, jadi jangan salahkan nonton di bioskop.

“Kali ini akan berbeda.”

“Apanya yang berbeda? Apa bioskopnya ada di tengah-tengah laut? Atau mengambang di udara?”

Yogie tergelak dengan pertanyaan Elena yang terdengar sedikit mengejek. “Kemarilah.” Ajak Yogie sembari menarik pergelangan tangan Elena untuk mengikutinya.

Yogie masuk ke dalam sebuah ruangan yang di yakini Elena sebagai kamar lelaki tersebut. kamar itu amat sangat luas. Sangat berbanding terbalik dengan tampilan ruang tengah apartemen Yogie yang terlihat sederhana. Di sana ada sebuah ranjang besar dan di depan ranjang tersebut terdapat layar televisi yang super besar.

“Apa ini?”

“Kamarku.”

“Aku tahu, kenapa kamu mengajakku kemari?”

“Karena kita akan menonton di sini.”

Elena tersenyum ketika melihat ekspresi Yogie yang terlihat sedikit tengil. “Hanya menonton?” tanyanya sambil melingkarkan lengan pada leher Yogie.

“Ya, hanya menonton, dan…” Yogie menggantung kalimatnya.

“Dan apa?”

“Dan sedikit bermain.”

“Bermain seperti apa?” Elena masih terlihat enggan berhenti menggoda Yogie.

“Seperti ini.” Yogie menyambar bibir Elena yang sejak tadi menggodanya, melumatnya sebentar kemudian melepaskannya. “Jangan menggodaku.”

“Kenapa?”

“Karena kita akan menonton, bukan bercinta.” Dan Elena berakhir dengan tertawa lebar. Ada apa dengan Yogie? Kenapa lelaki itu terlihat sedang menahan diri? Elena jelas merasakan ketertarikan fisik di antara mereka, Yogie juga menginginkannya, Elena tahu itu, tapi lelaki itu seakan menahan diri, ada apa?

***

Friends with Benefits, menjadi film yang mereka tonton bersama saat itu. Film yang menceritakan tentang sepasang teman yang saling memanfaatkan dalam hal seks.

Elena dan Yogie tidak berhenti tertawa terbahak-bahak saat melihat adegan demi adegan lucu yang di mainkan oleh Justin Timberlake sebagai Dylan dan juga Mila Kunis sebagai Jamie. Yogie bahkan sempat bertanya pada Elena, apa bokongnya lebih seksi daripada bokong Justin Timberlake? Dan Elena hanya menjawab dengan tawa lebar sambil memukul-mukul Yogie dengan guling.

Tiba saatnya ketika adegan sedih, dimana karakter Jamie, yang diperankan oleh Mila Kunis merasakan sesuatu di hatinya, sesuatu yang entah kenapa membuat Elena mampu merasakan apa yang di rasakan karakter Jamie tersebut.

Tubuh Elena menegang ketika menyadari jika hubungannya dengan Yogie nyatanya sama persis dengan hubungan Jamie dan Dylan dalam film tersebut. Hanya sebagai teman, teman yang saling memanfaatkan dalam hal Seks.

Dan kini, apa yang di rasakan Elena sama persis dengan apa yang di rasakan Jamie, ia telah jatuh hati dengan teman seksnya sendiri, sedangkan lelaki di sebelahnya itu seakan tidak peduli dengan apa yang ia rasakan.

“Gie.” Suara Elena tiba-tiba menjadi serak.

“Ya?” Yogie yang masih menikmati film tersebut kini menglihkan pandanganya ke arah Elena.

“Apa, apa kamu nggak ngerasa aneh?”

“Aneh? Aneh kenapa?”

“Film itu mengingatkanku dengan hubungan kita.”

Yogie berpikir sebentar sebelum menatap Elena dengan tatapan seriusnya. “apa maksud kamu? Itu hanya film, dan itu berbeda dengan hubungan kita.”

“Gie, lihat, mereka berteman, dan mereka saling memanfaatkan keadaan dalam hal seks, sama seperti kita. Tidak ada perasaan, tidak ada ikatan hubungan, hanya sekedar seks. Hingga salah satu di antara mereka merasakan sesuatu.”

“Kita tidak akan merasakan sesuatu seperti mereka.” Yogie menggeram kesal. Ia mencoba menutupi perasaannya yang semakin kesini semakin terasa kacau.

“Tapi bagaimana jika aku sudah merasakannya?”

Yogie membulatkan matanya seketika. Bibirnya ternganga dengan apa yang baru saja di katakan Elena.

“Kamu mempengaruhiku, Gie, walau aku mencoba mengelak, tapi kamu mempengaruhiku. Kamu laki-laki pertama yang tahu tentang semua masalaluku, kamu tahu tentang sisi rapuhku, kamu tahu semua tentangku dan itu membuatku tidak nyaman. Aku merasa aneh dengan perasaanku sendiri, Gie.”

“Lalu apa mau kamu sekarang?”

Elena terdiam sebentar sebelum berkata “Kita harus mengakhirinya.”

“Apa?” Yogie tampak tak percaya dengan apa yang di katakan Elena. “Kamu gila? Tidak ada yang perlu kita akhiri, Elena.”

Elena bangkit dan berdiri. “Ya, aku memang gila, dan kita harus mengakhirinya karena aku sudah melanggar aturan pertama dari hubungan sialan kita.”

Yogie ikut bangkit dan mencekal pergelangan tangan Elena. “Aturan pertama? Apa maksud kamu?”

“Jatuh cinta.”

Tanpa sadar, Yogie melepaskan pergelangan tangan Elena yang tadi di cekalnya.

“Seprtinya aku mencintaimu.”

“Tidak! Jangan bicara tentang kata-kata sialan itu.”

“Kenapa? Kamu takut aku mencintaimu? Kamu benar-benar terlihat seperti Dylan.”

“Cukup Elena! Jangan samakan aku dengan film sialan itu.”

“Tapi hubungan kita memang seperti mereka, Gie. Dan aku benci saat menyadari jika kamu hanya tertarik secara fisk terhadapku, tidak lebih dari itu. Aku benci kenyataan itu.”

Elena tampak sangat marah, ia tidak bisa menahan emosinya, dan yang bisa Yogie lakukan hanya diam, membiarkan wanita itu sedikit lebih tenang sebelum mulai berbicara.

“Bukankah hubungan seperti ini yang dulu kamu inginkan? Kamu ingin kita hanya melakukan seks tanpa perasaan, kamu juga yang menciptakan peraturan-peraturan gila itu, lalu kenapa sekarang kamu berubah?” tanya Yogie ketika Elena sudah mulai tenang.

“Karena aku mencintaimu. Apa kamu puas? Aku mencintaimu, dan aku bisa gila karena perasaan ini.”

Yogie kembali terdiam, ia hanya menatap Elena dengan ekspresi tak percayanya. Bagaimana mungkin ia mampu membuat wanita seperti Elena jatuh cinta padanya?

Sedangkan Elena sendiri hanya mampu tersenyum pahit. Yogie tidak mencintainya, lelaki itu tidak menginginkan perasaan sialannya, astaga, siapa juga yang mau jatuh cinta dengan wanita jalang sepertinya? Elena seakan menertawakan dirinya sendiri dengan kenyataan tersebut.

“Oke, aku harus pulang.”

“Elena.”

“Kita sampai di sini saja.”

“Apa maksudmu?”

Elena menghela napas panjang. “Seperti peraturan awal, karena aku sudah melanggar peraturan itu, maka hubungan kita berakhir.” Dengan menahan air mata sialannya, Elena pergi, keluar dari kamar Yogie, meninggalkan lelaki tersebut yang masih tampak shock karena pengakuannya. Apa pengakuan cintanya begitu mengerikan untuk Yogie? Ya, tentu saja, Yogie terlihat sangat terkejut dan sedikit ketakutan ketika mendengar ungkapan cintanya tadi, lelaki itu bahkan tidak mengejarnya, lalu untuk apa lagi ia berada di sana? Dan Elena akhirnya memutuskan pergi dari apartemen Yogie dengan rasa sakit di hatinya.

 

-TBC-

Advertisements

9 thoughts on “Elena – Chapter 14 (Karena aku mencintaimu)

  1. Makin gregetan aku sama pasangan ini tarik ulur nya bukan main , katak bom duuueeerrrrr , elena jatuh cinta sama yogie .makin kacau dah yogie sama perasaanya …, huhuhu gimana nasip elena setelah ngaku kalaudia jatuh cinta

    Like

  2. lhaaaaa ko putus , gie knp ga ngejar elena ….
    q pikir semua akan berjln sempurna , makan malam , hbis tu nonton trus bercinta , bukan malah bikin baper kek gini … next na jangan klamaan bu .

    Like

  3. Kok yogie cuma diam sih ayo kejar elena bukankh yogie juga mencintai elena…apa mereka beneran putus… Gak sabar nunggu kelanjutannya

    Like

  4. Akhir nya elena sadar sama perasaan nya n lgs nembak yogie.. Pasti deh c yogie bengong dlu, ga percaya kalau elena cinta ma dia.. Mudah2an nanti ada pov yogie pas elena blg dia cinta ma yogie.. Duh ga sabar sma kelanjutaan nyaa >_<

    Like

  5. Kasian banget Elenanya, aku kira Elena tinggalin Yogie karna dia hamil. Waktu di MCL Elena hamil dan tinggalin Yogie, terus minta tolong ma Aaron waktu mau meriksa kandungannya😥. Ehh sekarang malah kayak gini, jadi BAPER… Ditunggu kelanjutannya . Fighting!!

    Like

  6. Knp Yogie bengong c,,hrsnya dia bhgia Elena mnyatakn cinta dluan ama Yogie… Dia gk bkl patah hati utk kedua kalinya …
    Sbr ya Elena.?!

    Like

  7. Kak kenapa chapter 15 tidak bisa dibuka tolong buka dong kak karena aku penasaran banget dengan kelanjutan kisahnya please….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s