romantis

Unwanted Wife – Prolog

uw1Unwanted Wife

Prolog

 

Darren Menggenggam telapak tangan seorang wanita dengan setengah berlari sembari tersenyum lebar. Hari ini ia baru saja melamar wanita tersebut, wanita yang bernama Nadine citra, salah seorang sahabatnya dari kecil, sahabatnya yang sangat ia cintai tentunya. Dan gadis itu menerima cintanya, menerima lamarannya, oh, betapa bahagianya Darren ketika mendapati kenyataan tersebut.

Hari ini juga ia akan mengungkapkan hubungan mereka pada keluarganya. Melamar Nadine secara sah di hadapan keluarga gadis tersebut, dan secepat mungkin meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan.

“Kamu yakin akan melakukan ini?” suara lembut Nadine membuat Darren mengangkat wajahnya dan menatap wanita tersebut.

“Tentu saja, apa kamu ragu?”

“Sedikit.”

“Apa yang membuatmu ragu?”

“Tidak ada, aku hanya takut kalau ini hanya mimpi.”

“Ini kenyataan sayang, semua ini adalah kenyataan.”

“Baiklah, kalau begitu kita katakan pada mereka.” ucap Nadine dengan mantab. “Bagaimana dengan Karina?” tanya Nadine lagi.

Karina sendiri adalah sahabat dari keduanya. Mereka bertiga bersahabat sejak kecil karena orang tua mereka memang berteman sejak masa sekolahnya dulu.

“Karin? Kita akan memberi tahu dia setelah aku memberitahu kedua orang tuaku.”

“Baguslah, aku sedikit tidak enak karena sampai sekarang dia belum juga memiliki kekasih.”

“Itu karena dia tidak pernah memikirkan lelaki. Ah wanita itu benar-benar. Dia lebih suka dengan tumpukan buku novelnya.”

Dan Nadine hanya tersenyum lembut. Ya, berbeda dengan mereka berdua, Karin memang lebih suka menyendiri dengan membaca berbagai macam novel romantis koleksinya. Wanita itu pendiam, dan tentunya sedikit membosankan. Tapi Darren dan Nadine tentu menyayangi sahabatnya tersebut.

Dengan semangat Darren masuk ke dalam rumahnya sendiri, ia berniat mengenalkan Nadine sebagai calon istrinya kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya pasti akan sangat setuju, mengingat kedua orang tua mereka memang saling mengenal satu sama lain. Dan ini pasti akan menjadi kabar yang sangat membahagiakan.

Tapi kemudian senyum Darren terhenti ketika ia melihat ada yang aneh di dalam rumahnya. Rumahnya tampak lebih sepi dari sebelumnya, ada apa?

“Bi, Mama sama Papa kemana?” tanya Darren pada seorang pelayan rumahnya.

“Uum, itu tuan muda, Bapak terkena serangan jantung.”

Darren membulatkan matanya seketika. “Apa? Kenapa bisa? Bukannya tadi baik-baik saja? Sekarang Papa dimana?”

“Bapak di bawah ke Rumah sakit Medika indah.”

“Kalau begitu kami ke sana.” Dan tanpa banyak bicara lagi Darren berlari menuju ke rumah sakit tersebut masih dengan menggenggam erat telapak tangan Nadine, kekasihnya.

***

Di rumah sakit…

Darren membuka pintu ruang inap sang papa, dan sedikit terkejut ketika di sana banyak sekali orang. Ada sang mama yang masih terlihat menangis, ada sang kakak, Evan yang sedikit menenangkan sang mama, lalu ada orang yang Darren kenal sebagai Om Roy, papa dari Karin, dan juga tante Irma, mama Karin. Kenapa kedunya ada di sini? Tanya  Darren dalam hati.

Darren masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa melepaskan genggaman tangannya pada telapak tangan Nadine.

“Papa nggak apa-apa, kan, Ma?” Darren bertanya dengan penuh kekhawatiran.

Sang mama hanya menggelengkan kepalanya. “Kamu harus menolongnya, sayang, kamu harus menolongnya.”

“Apa maksudnya?” Darren tampak bingung.

“Ikut gue.” Evan akhirnya mengajak Darren keluar dari ruang inap sang papa.

“Ada apa?” tanya Darren masih dengan raut bingungnya ketika mereka sudah berada di luar ruang inap sang ayah.

“Perusahaan kita bangkrut.”

“Apa?”

Evan mengangguk. “Om Roylah yang kini memiliki saham terbesar di perusahaan kita, dengan kata lain, Pramudya Group sudah menjadi milik beliau.”

“Apa? Bagaimana bisa?”

Evan mengembuskan napas panjang. “Dan satu-satunya cara supaya Om Roy mau mengembalikan saham perusahaan kita adalah, lo harus mau menikah dengan Karina.”

Darren tercengang dengan apa yang di katakan sang kakak. Menikah? Dengan Karina? Tidak! Mana mungkin ia melakukan hal tersebut?

Darren menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak! Gue tidak bisa menikah dengan dia. Sial! Gue memang akan menikah, tapi dengan Nadine, bukan dengan Karina! Kenapa bukan lo saja yang nikahin Karina?”

“Sialan! Lo pikir mereka mau? Yang mereka pilih adalah lo. Lo harus menikahi Karina atau perusahaan keluarga kita hanya tinggal nama, dan Papa, pergi dengan kekecewaan.”

Darren benar-benar tampak shock. Menikah dengan Karina? Sahabatnya sendiri? Bagaimana mungkin? Bagaimana dengan Nadine?

 

-TBC-

 

New story, akan di update secara berkala ketika cerita Bianca (The Bad Girls #3) mulai Update.

Advertisements

10 thoughts on “Unwanted Wife – Prolog

  1. Mom, cerita ini ngga di shared di watty yaa??? Hanya ada di blognya Mom yaa?? Mau cerita menguras air mata atau tidak, apapun itu jika ceritanya Mom Bella yg bikin mah pasti kereeeenn… 😊 dan ogut selalu sukaaaa..😊😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s