romantis

Elena – Chapter 13 (Karena kamu mencintainya)

elenanewElena

Chapter 13

-Karena kamu mencintainya-

 

Yogie benar-benar melakukannya.

Besok sorenya, setelah pulang dari kantor, Elena terkejut mendapati Yogie yang datang ke apartemennya dengan membawah seikat bunga mawar dan juga sekotak cokelat. Oh, menggelikan sekali. Tapi sepertinya bukan masalah jika mereka harus bersandiwara seperti ini.

“Jadi, jadwal kita kemana?” tanya Elena yang kini sedang mengganti pakaiannya.

“Nonton, mungkin.”

“Nonton? Aku tidak suka nonton, itu sama sekali bukan tipeku.”

“Hei, ingat tujuan kita adalah mengubah kebiasan buruk kita.”

“Jadi kamu akan menjadi lelaki romantis?”

“Ya, kita benar-benar sedang berkencan, Elena.”

Elena tersenyum. “Oke, aku akan melakukan apapun maumu.”

“Bagus.” Dan akhirnya keduanya memutuskan untuk nonton bersama.

***

Di dalam bioskop.

“Apa serunya nonton seperti ini? Membosankan sekali.” Gerutu Elena.

“Membosankan? Filmnya memang tidak penting, yang penting adalah seperti ini.” Yogie meraih jemari Elena kemudian menggenggamnya erat-erat.

“Apa?” tanya Elena.

“Yang terpenting adalah saling menggenggam tangan satu sama lain dari awal film di putar sampai film selesai di putar.”

“Benarkah?”

“Ya, dan coba saja rasakan, pasti sedikit berbeda.”

Ya, tentu saja sedikit berbeda untuk Elena, sejak tadi Yogie tidak berhenti bersikap manis terhadapnya, dan itu semakin membuat Elena salah tingkah. Oh kapan siksaan ini berakhir.

“Lalu begini.” Tiba-tiba Yogie membawa jemari Elena ke arah bibirnya, mencumbunya dengan lembut, sedangkan Elena yang melihat hanya mampu menahan napasnya.

Astaga Elena, lelaki itu sedang mencumbu jemarimu, tapi kenapa sekarang napasmu terputus-putus seperti orang yang akan mendapatkan sebuah orgasme?

Yogie melirik ke arah Elena dengan tatapan yang membuat Elena terintimidasi. Lelaki itu tersenyum meski bibirnya masih menempel pada jemari Elena.

“Apa yang kamu rasakan?” bisik Yogie dengan suara seraknya.

Elena menggelengkan kepalanya. “Kupikir, aku akan orgasme.” Tanpa sadar Elena mengucapkan kalimat tersebut dan seketika itu juga meledaklah tawa Yogie hingga membuat beberapa penonton dalam ruang tersebut menatap kesal ke arahnya.

“Elena, lupakan tentang orgasme.” bisik Yogie pelan

“Tapi kamu membuatku basah, sialan!” Elena terdengar sedikit kesal.

Yogie terkikik geli. “Oke, aku tidak akan mengganggumu, kita nikmati saja filmnya.” Yogie menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang di dudukinya, kemudian pandangannya lurus ke depan ke arah layar lebar di hadapan mereka. Elena melirik ke arah jemarinya yang masih di genggam erat oleh Yogie, pandangannya kemudian teralih pada wajah Yogie yang tampak serius menyimak jalannya film yang sedang mereka tonton.

Oh, beginikah yang namanya kencan dalam arti yang sesungguhnya? Menonton film dengan perasaan kacau balau tak menentu? Dengan degupan jantung yang menggila seperti ini?dengan perasaan aneh yang membuatnya kurang nyaman seperti saat ini?

***

Setelah selesai menonton film, Yogie belum juga melepaskan genggaman tangannya pada telapak tangan Elena. Elena sedikit gelisah, tentu saja. Ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya, tidak dengan siapapun. Dan Yogie seakan mengajarkan hal baru padanya.

“Kita kemana lagi?” tanya Elena dengan sedikit bingung ketika Yogie berjalan keluar menuju ke arah dimana motornya di parkir.

Ya, tadi mereka kerkencan dengan menggunakan motor besar Yogie. Elena sempat menolak, tapi kemudian Yogie memaksa dan lagi-lagi Elena tidak bisa menolaknya.

“Kita akan ke pantai.”

Elena membulatkan matanya seketika. “Pantai? Pantai mana?”

“Ancol, memangnya kemana lagi?”

“Ancol?” oh yang benar saja, Elena bahkan tidak pernah ke Ancol hingga usianya setua ini. “Malam-malam begini?”

“Ya. Ayo. Aku akan menunjukkanmu banyak hal ketika orang sedang berkencan.”

“Memangnya setiap orang yang berkencan akan melakukan ini?”

“Tidak semuanya, aku hanya melakukan seperti yang ku rencanakan.”

“Yang kamu rencanakan?”

Yogie memasangkan helm di kepala Elena, mengancingkannya dan itu kembali membuat Elena berdebar tak karuan.

“Naiklah.” Masih dengan perasaannya yang semakin tak menentu, Elena menuruti apa yang di perintahkan Yogie.

***

Ketika sampai di tempat tujuan, Yogie kembali meraih telapak tangan Elena, menggenggamnya lagi seakan takut jika Elena lari darinya. Yogie tidak sedikitpun menampakan kecanggungannya, sedangkan Elena sebaliknya.

Elena tidak berhenti menundukkan kepalanya seakan canggung dengan sikap Yogie, sesekali ia salah tingkah ketika tiba-tiba Yogie menatapnya. Oh, ada apa dengan dirinya?

Yogie mengajaknya berjalan di sepanjang dermaga. Sangat indah dengan lampu-lampu kuning di pinggiran dermaga. Elena melihat jauh ke arah laut, ia melihat beberapa lampu-lampu dari kapal yang terlihat dari tempatnya berdiri, dan itu benar-benar indah.

Perasaannya tenang, semilir angin laut membuatnya sesekali memejamkan mata meresapi ketenangan yang sedang ia rasakan.

“Kamu suka?” pertanyaan Yogie membuat Elena membuka matanya.

Elena membuka matanya dan mendapati Yogie yang sedang tersenyum hangat ke arahnya. “Aku suka, di sini sangat tenang dan nyaman.”

“Kita bisa ke sini tiap malam kalau kamu mau.”

Elena tersenyum. “Dan berakhir masuk angin?” keduanya sama-sama tertawa. “Terimakasih sudah membuat perasaanku lebih baik lagi dari kemarin.” ucap Elena dengan wajah seriusnya.

“Maksud kamu?”

“Kemarin aku kacau, maaf kalau aku sempat berperilaku menyebalkan terhadapmu.”

“Aku juga menyebalkan.” Yogie kemudian menangkup kedua pipi Elena. “Lupakan semuanya, aku mau kamu melupakan semuanya dan mulai dari awal.”

Elena menganggukkan kepalanya. “Ya, aku akan melupakannya.”

Tiba-tiba Yogie mendekat, memenjarakan tubuh Elena di antara kedua tangannya yang berpegangan pada kayu pembatas dermaga, dan itu membuat Elena semakin salah tingkah karena kedekatan mereka.

“Kamu, kamu mau apa?” Elena bertanya sembari menundukkan kepalanya.

Yogie kemudian mengangkat dagu Elena, menatap wajah cantik wanita tersebut yang terlihat bersinar di bawah terangnya lampu hias dermaga.

“Kamu cantik sekali.” Tanpa sadar Yogie mengucapkan kalimat tersebut.

“Banyak yang bilang begitu.” Jawab Elena dengan mata yang sudah berkabut karena menatap bibir Yogie yang entah kenapa begitu menggoda untuknya.

“Bagiku lebih dari cantik.” Yogie kembali memuji Elena. Dan dengan spontan Elena menggingit bibir bawahnya sendiri. “Boleh aku menciummu?”

“Apa memang selalu seperti ini yang di lakukan orang ketika berkencan?”

“Seperti apa?”

“Meminta ijin mencium pasangan kencannya?”

Yogie menganggukkan kepalanya. “Ya, sepertinya memang begini.”

Elena mendekatkan wajahnya. “Kalau begitu ciumlah.”

Yogie tersenyum dengan tingkah Elena. “Mau di cium di mana?”

“Di mana-mana.”

Tapi kemudian Yogie mengecup lembut bibir Elena. Hanya kecupan sekilas tapi membuat hati Elena seakan berdesir karena sesuatu.

“Kamu membuatku bergairah hanya karena melihatmu.” Bisik Yogie.

“Kalau begitu, apa kita akan melakukan seks malam ini?”

“Tidak.”

“Aku menginginkannya.” Elena tampak memohon.

“Dan aku tidak akan memberikan keinginanmu tersebut, ingat ini adalah kencan yang sesungguhnya.”

“Tapi ini membuatku gila, Gie.”

“Gila kenapa?”

“Jantungku, jantunggu tidak berhenti berdebar cepat karena perlakuan yang kamu berikan, kupikir aku menginginkan sebuah pelepasan malam ini.”

“Tidak, kamu tidak menginginkan itu. Dan tetap nikmati apa yang sedang kamu rasakan saat ini.”

“Kupikir, ini sedikit berbeda, kamu mempengaruhiku, dan aku tidak suka kenyataan itu.”

“Coba saja menerima perasaan itu, ini adalah hal yang baru untukmu, dan aku akan membantumu menerima rasa baru tersebut.”

Elena hanya terdiam. Debaran jantungnya semakin menggila, dan itu rasanya benar-benar sangat aneh.

“Kenapa diam? Kamu kedinginan?”

Elena menggelengkan kepalanya. “Tidak, sepertinya aku mau pulang.”

“Secepat ini?”

Elena menganggukkan kepalanya. Oh, sejak kapan ia menjadi wanita yang menggelikan seperti saat ini?

“Oke, aku akan mengantarmu.” Dan Yogie akhirnya kembali menggenggam telapak tangan Elena ketika ia mereka berjalan ke arah pulang.

***

Sampai di apartemen Elena..

Yogie berdiri tepat di depan pintu apartemen Elena, sedangkan Elena sendiri baru saja membuka pintu apartemennya.

“Kamu nggak masuk?”

Yogie menggelengkan kepalanya. “Aku akan pulang.”

“Yakin kita hanya akan seperti ini saja?” Elena memancing, lalu secepat kilat Yogie mendorong Elena masuk menghimpitnya di antara dinding kemudian menyambar bibir ranum Elena yang sejak tadi seakan memanggil ingin di sentuh.

Yogie melumatnya penuh dengan gairah, sedangkan Elena sendiri seakan tidak mau kalah, ia membalas setiap lumatan yang di berikan Yogie padanya. Gairah di antara keduanya tumbuh begitu saja. Elena merasakan sesuatu yang keras menempel pada perut bawahya. Oh Yogie sedang menginginkannya, ia tahu itu, tapi apakah lelaki itu akan menyentuhnya malam ini? Jika boleh memohon, Elena memang ingin di sentuh malam ini. Tubuhnya menginginkan Yogie begitupun sebaliknya. Tapi sepertinya lelaki yang sedang mencumbunya ini memiliki gagasan lain ketika tiba-tiba menghentikan lumatan di bibirnya.

Napas keduanya memburu, saling bersahutan ketika tautan bibir tersebut terputus. Yogie masih menunduk, menempelkan keningnya pada kening Elena.

“Aku harus pergi.”

“Kenapa?”

“Ini sudah malam.”

“Kamu biasa menginap di sini.”

“Tidak sekarang.”

“Kenapa?”

Yogie tidak menjawab, ia memilih mengecup kening Elena sebelum pergi begitu saja meninggalkan wanita tersebut dengan berbagai macam pertanyaan di hatinya.

***

Sampai di dalam apartemennya, Yogie segera menuju ke arah kamar mandi di dalam kamarnya. Ia membuka seluruh pakaiannya dan secepat mungkin mandi di bawah dinginya pancuran air dari shower.

Jantungnya tidak berhenti berdebar cepat sejak tadi. Kenapa? Apa karena Elena? Yogie menggelengkan kepalanya cepat. Tidak, itu bukan karena Elena, itu hanya karena gairahnya yang tidak tersampaikan pada wanita tersebut.

“Tapi ini membuatku gila, Gie.”

“Gila kenapa?”

“Jantungku, jantungku tidak berhenti berdebar cepat karena perlakuan yang kamu berikan, kupikir aku menginginkan sebuah pelepasan malam ini.”

“Tidak, kamu tidak menginginkan itu. Dan tetap nikmati apa yang sedang kamu rasakan saat ini.”

“Kupikir, ini sedikit berbeda, kamu mempengaruhiku, dan aku tidak suka kenyataan itu.”

“Coba saja menerima perasaan itu, ini adalah hal yang baru untukmu, dan aku akan membantumu menerima rasa baru tersebut.”

Yogie meremas rambutnya yang basah karena pancuran dari air shower ketika bayangan Elena tadi mencuat dalam ingatannya.

Brengsek! Tugasmu hanya membuatnya kembali menjadi wanita baik-baik, sialan! Membantu menghapus ingatan wanita tersebut dari guru privat sialannya. Bukan malah asik memupuk perasaan sialanmu seperti ini! Ingat, Elena bukan wanita yang baik untukmu, dia tidak akan berminat dengan lelaki sepertimu, dan sebaliknya, harusnya kamu juga tidak tertarik secara perasaan dengan wanita itu. Yogie tidak berhenti menghardik dirinya sendiri dalam hati.

***

Di tempat lain…

Elena melemparkan tubuhnya di atas ranjang besarnya, ia menatap ke arah langit-langit kamarnya, dan bayangan Yogie seakan terukir di sana.

Ada apa denganmu, Elena? Kenapa kamu seperti ini? tanyanya dalam hati.

Elena meraba dadanya yang tidak berhenti berdebar-debar sepanjang malam ini, kemudian jemarinya naik ke ujung bibirnya yang di sana masih terasa cumbuan dari Yogie sebelum lelaki tersebut meninggalkannya. Rasanya begitu nyata, begitu lembut, begitu menggoda, membuat Elena seakan tidak ingin berhenti. Membuat Elena tidak berhenti memikirkannya. Apa ini, apa ini karena….. cinta?

‘Ya, karena kamu mencintainya, bodoh!’

Elena menggelengkan kepalanya cepat. Tidak, Elena tidak boleh mencintai lelaki tersebut.

‘Tapi kamu sudah jatuh cinta padanya, sialan!’

Jatuh cinta? Memangnya ia tahu bagaimana jatuh cinta? Tidak! Itu bukan cinta Elena, itu hanya gairah sesaat ketika kamu dekat dengan Yogie, itu hanya gairah yang tak tersampaikan hingga membuat jantungmu berdebar tak karuan. Itu bukan cinta, karena kamu tidak boleh mencintainya. Ingat peraturan pertama kalian, hubungan kalian akan berakhir jika salah satu dari kalian menggunakan perasaan sialan yang di sebut dengan cinta, jadi, lupakan saja perasaan sialanmu itu jika kamu tidak ingin Yogie meninggalkanmu.

 

-TBC-

 

fabb2c3088c32a24a09dbb467ded1bc1 19e688003b7a7d1234dc1d70ddd540adYogie & Elena Cast..

Advertisements

7 thoughts on “Elena – Chapter 13 (Karena kamu mencintainya)

  1. Sebenarnya yogie sama elena sama sama udah jatuh cinta , cuma mungkin logika nafsu mereka membutakan itu . Apalagi peratursn konyol yang mengatakan hubungan ini akan berakhir ketika salah satu dari mereka ada yang jatuh cinta , nahhhhh emg kita tau pada akhirnya kita akan jatuh cinta sama siapa ??? Duhhh bikin gemes aja nihhh yogie sama elena ..

    Like

  2. Feeling In love nya sdh ada lama, cuma ego sama gengsi yg bicara, jd kata hati ketutup deh. Mudah2an lanjut aja sampai happy endingnya. Keep spirit.

    Like

  3. Knpa mereka brdua hrus mengingkari perasaan cinta yg tmbuh di hati mrk brdua…
    Harusnya km lbh cpt mnydrinya gie,,,km kan prnh jatuh cinta ama Elena dlu,dan wajar aja kan rasa cinta itu dtg kmbli seiring dgn intensitas prtmuan kalian slma ini…

    Like

  4. Duuh knp yogie ga PD gtu c sama perasaan nya, jgn nyerah donk yogie, buat elena jatuh hati sama km okk??Elena juga udh mulai cinta tuuuh.. Hhehehe.. Btw cast nya yogie ganteng bgt, duuuh badan nya jg kliatan bgs o>_<o

    Like

  5. huwaaaahhhhhhhhh knp q yng jadi dagdigdug gini yaa , yaa ampun gie kau mmbuat q gila … gie ajak q kencan juga dong …
    kalian tu udah sama” saling cinta tapi belom sadar dan ga m9 mengakuinya …

    gilaaaa yongie guanteng banget , bener” laki banget 😍. 😍😍😍😍. 😍.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s