romantis

Elena – Chapter 12 (Kencan yang sesungguhnya)

elenanewElena

Makin Gaje dan banyak Typo. happy reading aja dah..

Chapter 12

-Kencan yang sesungguhnya-

 

Elena menatap batu nisan di hadapannya. Itu benar-benar makam Gilang, dan Gilang benar-benar sudaah meninggal. Astaga, Elena bahkan tidak percaya jika hal ini terjadi.

“Bagaimana dia bisa pergi?” tanya Elena pada Nanda yang kini masih berdiri di sebelahnya.

“Dia sedikit gila ketika tiba-tiba kamu pergi.”

“Gila? Maksud kamu?”

“Dia suka uring-uringan, ngomel sendiri, dan dia tidak berhenti memanggil nama kamu.” Elena tampak ngeri membayangkan hal itu.

“Orang tuanya khawatir, akhirnya membawanya kepada seorang psikiater, Gilang ternyata mengalami depresi, dan dia harus di rawat.”

“Dia seorang psikopat. Dia memiliki penyakit jiwa.”

“Elena, kamu tidak bisa menghakiminya seperti itu.”

“Tapi itulah yang kurasakan selama aku mengenalnya. Dia membuatku takut, dan hingga kini dia meninggalkan efek buruk pada diriku.”

“Aku tidak tahu apa yang dia lakukan padamu, yang ku tahu, dia benar-benar mencintaimu.”

“Tapi cara dia mencintai itu salah. Dia memaksakan kehendaknya padaku, dia menyakitiku.”

Please, Elena. Kamu harus memaafkannya, biarkan dia tenang di alam sana.”

Elena diam sebentar. Kemudian bertanya lagi. “Apa ada kata terakhir yang dia ucapkan sebelum meninggal?”

Nanda menggelengkn kepalanya. “Dia melompat dari lantai tiga dan dia tewas di tempat. Tapi dua minggu sebelum kejadian itu, aku sempat mengunjunginya, saat itu dia sudah sangat parah, dia bahkan tidak mengenaliku. Beberapa perawat juga berkata jika Gilang sudah mulai menyakiti orang di sekitarnya hingga dia harus di rawat di ruang isolasi. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh, dia menangis, dan dia minta maaf padamu.”

“Minta maaf?”

“Aku tidak tahu apa kesalahannya padamu, tapi dia bilang ‘Aku mencintamu Elena, maafkan aku, aku mencintai,’ kata itu terus di ucapkannya saat itu.”

Elena menggelengkan kepalanya. “Dia tidak mungkin mencintaiku. Dia tidak mungkin mencintaiku.”

Nanda hanya bisa menghela napas panjang. Elena tampak kacau, dan ia tidak ingin memperburuk keadaan wanita tersebut.

Elena kemudian berjalan mendekati batu nisan tersebut lalu mengusapnya lembut. “Aku akan memaafkanmu, tapi kumohon, bebaskan aku. Aku hampir tidak bisa melupakan kekejaman yang kamu lakukan padaku, dan itu benar-benar membuatku tersiksa. Kamu mempengaruhi hidupku hingga saat ini, Gilang. Ku mohon, lepaskan aku.” Dan Elena kembali menangis di sana. Bagaimana mungkin ia kembali menjadi sosok yang rapuh seperti dulu?

***

Akhirnya ia kembali pulang. Sial! Yogie benar-benar sangat kesal ketika mendapati kakaknya, Yongki yang kini sedang menjemputnya untuk pulang. Memangnya ada apa lagi? Kenapa dia harus di seret pulang?

Rasa nyeri di kepalanya belum juga hilang meski ia sudah mandi dan meminum obat sakit kepala. Efek alkohol tadi malam benar-benar sangat kuat.

“Sampai kapan lo akan kayak gini? Mabuk nggak jelas, nggak ada kerjaan, lo sudah hampir Duapuluh tujuh tahun.” Omel sang kakak yang kini masik konsentrasi pada kemudi mobilnya.

“Bukan urusan lo.”

“Bukan urusan, lo bilang? Lo benar-benar sinting! Kalau bukan urusan gue, gue nggak akan nyeret lo pulang.”

“Dan sebenarnya gue sudah malas pulang ke rumah.” Jawab Yogie dengan cuek. Brengsek! Nyeri di kepalanya belum juga hilang, dan kini omelan sang kakak menambah nyeri itu semakin menjadi.

“Oma menggila.”

“Gue nggak peduli dengan wanita tua itu.”

“Jaga mulut lo, Gie, apa lo nggak tau apa yang dia lakukan buat lo?”

“Memangnya apa yang dia lakukan buat gue?”

“Brengsek! Dia mewariskan seluruh aset perusahaan atas nama lo, bajingan!” dan Yogie hanya tercengang dengan apa yang baru saja di ucapkan kakaknya.

***

Yogie tidak tahu apa yang terjadi dengan rumahnya, apa yang terjadi dengan orang-orang di sekitarnya. Dulu, dia bukanlah siapa-siapa, tidak ada yang memperhatikannya, tapi kini ketika dia pulang, semua mata tertuju padanya, seakan semuanya menampakkan rasa perhatian pada diri Yogie.

Apa semua keluarganya penjilat seperti ini? Beberapa om dan tantenyapun yang datang ke rumahnya bahkan tidak berhenti menampilkan sikap manisnya, padahal seingat Yogie, dulu dirinya tidak pernah di perlakukan seistimewa ini. Apa karena warisan dari neneknya? Yang benar saja.

Yogie menghindar dari keramaian karena ia tidak nyaman. Kepalanya masih terasa pusing dan ia tidak ingin memperburuknya dengan celotehan-celotehan om dan tantenya.

Tadi, ketika dia pulang kerumah keluarganya, ternyata seluruh keluarganya berkumpul. Sang Nenek yang membagikan warisannya pada anak-anak dan cucunya pun berada di sana. Semuanya memang mendapat warisan secara adil, tapi bagian Yogie tentu yang paling besar. Yogie mendapat 70% saham perusahaan keluarga mereka yang bergerak di bidang pertambangan batu bara, dan itu secara langsung menjadikan Yogie sebagai pimpinan perusahaan tersebut.

Menjadi CEO? Yang benar saja, itu sama sekali bukan cita-citanya, dan Yogie tidak tertarik menjadi seorang CEO.

“Kenapa kamu di sini?” suara khas orang tua tersebut membuat Yogie membalikkan tubuhnya dan mendapati sang Nenek sudah berdiri di sana.

“Oma, apa yang oma lakukan di sini?”

“Oma mengikutimu. Apa yang kamu pikirkan?”

“Entahlah, oma, aku tidak mengerti kenapa Oma memberiku bagian sebanyak itu.”

“50% saham itu di berikan dari keseluruhan saham yang di miliki Opa kamu. Saat itu, Opa kamu pernah bilang, jika ia ingin seluruh saham yang ia miliki di wariskan padamu, ketika Oma tanya kenapa, Opa hanya menjawab jika kamu pernah bilang kalau kamu ingin seperti Opa ketika kalian pergi memancing bersama, sejak saat itu, Opa tahu jika kamu memiliki hati yang bersih, berbeda dengan kebanyakan orang yang hanya menginginkan kedudukan serta kekuasaan.” Jelas Omanya.

“Tapi aku tidak menginginkan ini, Oma.”

“Yogie. Opa hanya percaya padamu.”

Yogie menggelengkan kepalanya. “Maaf, Oma. Aku tidak bisa.” Kemudian Yogie pergi begitu saja meninggalkan sang Oma.

Yogie harus pergi, ia tidak ingin terlalu lama berada di sekitar keluarganya yang terlihat manis di hadapannya tapi mungkin saja busuk di belakangnya. Ia harus pergi, tapi kemudian langkahnya terhenti oleh panggilan sang kakak.

“Lo mau kemana?”

“Pulang.” Yogie menjawab dengan cuek.

“Pulang? Ini rumah lo.”

“Lebih baik gue jadi gembel di luaran sana.”

“Gie.”

“Ki, mending lo ambil semua bagian gue, gue nggak butuh warisan.” Dan Yogie pergi begitu saja meninggalkan sang kakak yang tidak berhenti mengumpat kasar padanya.

***

Elena keluar dari dalam kamar mandinya dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Setelah menunjungi makam Gilang tadi, Elena lantas berendam di dalam kamar mandinya. Pikirannya berkelana, mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Gilang sudah benar-benar pergi meninggalkannya. Lalu sekarang apa lagi? Seharusnya ia sudah berhenti ketakutan ketika mengenang tentang masa lalu buruknya. Hanya saja, Elena tidak bisa. Ia masih takut jika hal itu terulang lagi.

Elena melirik ke arah jam dindingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. tidak ada tanda-tanda Yogie menghubunginya. Apa lelaki itu masih marah dengannya? Yang benar saja. Harusnya ia yang marah karena lelaki itu sudah terlalu banyak tahu tentang kehidupan pribadinya.

Elena mengembuskan napas dengan kasar. Yogie, lelaki itu jelas sudah mempengaruhi hidupnya. Beberapa hari terakhir lelaki itu menampakkan sikap lain, seperti suka mengatur, suka seenaknya sendiri, suka memaksa dan sikap lainnya yang anehnya Elena tidak dapat menolaknya.

Kenapa Yogie berubah? Atau dirinyakah yang sudah berubah? Dirinyakah yang ternyata sudah terpengaruh dengan kehadiran lelaki tersebut? Oh yang benar saja. Yogie bukan siapa-siapa Elena, ingat, dia hanya pemuas nafsumu saja! ucap Elena pada dirinya sendiri.

Elena akhirnya keluar dari dalam kamarnya untuk menuju ke arah dapurnya. Tapi betapa terkejutnya dirinya ketika mendapati seorang yang sedang tertidur pulas di atas sofa ruang tengahnya.

Elena terpaku menatap lelaki itu. Kaki mungilnya berjalan dengan sendirinya menuju ke arah lelaki tersebut. Itu Yogie, yang sedang tertidur pulas di sana lengkap dengan dengkuran lembutnya.

Elena tersenyum. Ia berjongkok di hadapan Yogie, mengamati jawah dari lelaki tersebut yang entah kenapa membuat Elena terpesona.

Wajah itu terpahat pegitu sempurna hingga menampilkan ketampanan yang sangat khas. Sangat maskulin dengan garis rahang kokohnya, hidung mancungnya, alis tebalnya dan sial! Bibir seksinya. Oh Yogie memiliki semua kesempurnaan seorang lelaki.

Kemana saja kamu selama ini, Elena? Bagaimana mungkin kamu tidak pernah melihat lelaki ini dulu, ataupun kemarin?

Elena menggelengkan kepalanya cepat. Yogie benar-benar berbeda dengan Gilang. Bagaimana mungkin Elena sempat menganggap jika dua lelaki itu sama? Yogie selalu memperlakukannya dengan lembut, melakukan seks yang hampir bisa di bilang jika itu bercinta, lelaki itu tidak berhenti mencumbunya ketika sedang menyatu dengan tubuhnya. Dan itu sangat berbeda dengan apa yang di lakukan Gilang padanya dulu.

Elena mengulurkan jemarinya untuk mengusap rahang Yogie yang sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus. Tampak begitu menggairahkan. Bahkan melihat bibir Yogie yang sedikit terbuka saja membuat Elena seakan basah dan ingin di sentuh.

Perempuan jalang! Ya, ia memang perempuan jalang. Apa yang bisa di banggakan darinya? Bahkan setelah ini Yogie mungkin akan jijik dengannya karena tahu masalalunya yang memalukan.

Lalu apa? Apa ia akan membiarkan Yogie pergi darinya? Tidak! Ia tidak bisa. Yogie tidak boleh meninggalkannya, dan ia tidak ingin di tinggalkan Yogie. Tapi, apa ia memiliki hak melarang lelaki tersebut? Tidak Elena, kamu tidak memiliki hak. Dia hanya pemuasmu, dan kamupun hanya pelarian baginya, ingat! Dia bahkan sering menyebut nama wanita lain ketika bercinta denganmu. Ketika Elena sibuk dengan pikirannya sendiri, Yogie ternyata membuka matanya.

“Sejak kapan kamu di situ?” tanya Yogie sambil sedikit bangkit dari tidurnya.

Elena tampak salah tingkah. “Baru saja. Kamu sudah lama di sini?”

Yogie sedikit mengucek matanya lalu mengangguk pelan. Oh sial! Gerakan itu membuat Elena semakin salah tingkah. Yogie terlihat seperti anak kecil yang ingin sekali di sayangi. Dan Elena ingin menyayangi lelaki tersebut.

“Kenapa tidur di sini?”

“Memangnya nggak boleh?”

“Kamu bisa tidur di dalam.”

Yogie menggelengkan kepalanya. “Aku terlalu capek, jadi ketiduran di sini.”

“Ada masalah?” Elena bertanya sambil menuju ke arah lemari pendingin, membukanya dan mengeluarkan minuman dari sana. Sedangkan Yogie memilih mengikutinya dari belakang.

“Keluargaku gila.”

Elena mengerutkan keningnya. “Gila? Kenapa?”

Yogie mengangkat kedua bahunya. “Nenek mewariskan banyak sekali saham perusahaan padaku, dan aku tidak menginginkan itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin, aku tidak pantas, aku tidak tahu menahu tentang perusahaan mereka, dan seharusnya Yongki yang lebih pantas mendapatkannya.”

“Siapa Yongki?” tanya Elena setelah menegak jus yang baru saja ia tuang di dalam gelasnya.

“Kakakku.” Yogie menjawab dengan cuek kemudian merampas gelas Elena dan menegak habis jus Elena.

“Jadi, bagaimana kelanjutannya?”

“Bagaimana apanya? Yongki marah besar padaku, sedangkan Nenek mungkin kena serangan jantung karena tingkahku.”

Elena tertawa lebar melihat sikap Yogie yang nyaris seperti anak kecil. “Kapan kamu jadi dewasa kalau kamu seperti ini terus?”

“Dewasa? Aku sudah dewasa, kamu perlu bukti?”

“Tidak!” Elena tahu apa yang di maksud Yogie dengan bukti tersebut. Yogie tertawa, begitupun dengan Elena.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Yogie tiba-tiba dengan mimik seriusnya.

“Aku baik.” jawab Elena yang kembali sedikit salah tingkah. Entah kenapa ia tidak nyaman saat Yogie manatapnya seperti saat ini.

Keduanya kemudian saling berdiam diri, tidak tahu harus membahas apa hingga kemudian Elena memberanikan diri untuk bicara lebih dulu.

“Aku sudah menemui Nanda sesuai dengan apa yang kamu sarankan kemarin.”

“Benarkah? Lalu?”

“Nanda bercerita banyak padaku tentang Gilang, dan dia mengantarku ke makam Gilang.”

“Dan bagaimana perasaan kamu setelah itu?”

“Entahlah. Aku percaya jika Gilang sudah tidak ada, tapi di sisi lain aku masih takut.”

“Apa yang membuatmu takut?”

“Dia masih membayangiku, Gie. Ingatan tentangnya masih melekat dalam kepalaku.”

“Kalau begitu kamu harus belajar melupakannya.”

“Aku ingin, tapi bagaimana caranya? Aku bingung.”

“Berhenti melakukan apa yang membuatmu mengingatnya.”

“Apa? Maksud kamu Seks? Entahlah, aku bahkan tidak yakin bisa hidup tanpa melakukan seks.”

“Elena.”

“Yogie, aku sudah hidup bertahun-tahun seperti ini? Jika kamu menyebutku wanita jalang, aku tidak peduli, karena aku memang seperti itu. Aku selalu haus dengan sentuhan laki-laki, bukan hanya denganmu. Dan aku tidak yakin bisa berhenti dengan kebiasaan itu.”

“Bagaimana jika aku merubahmu.”

Elena mengangkat sebelah alisnya. “Merubah? Dengan apa? Kamu bahkan belum bisa melupakan wanita masalalumu yang bernama Alisha itu.”

“Kita bisa saling memanfaatkan keadaan, kamu dan aku bisa belajar melupakan mereka.”

“Dengan cara seks? Ayolah, kita sudah melakukan seks berkali-kali, dan itu membuatku semakin mengingat Gilang, sedangkan yang terjadi denganmu adalah, kamu semakin berfantasi tentang Alisha.”

Yogie menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak ada seks kali ini.”

“Lalu?”

“Berkencanlah denganku.”

“Apa?”

“Kencan yang sesungguhnya.”

Elena hanya ternganga dengan apa yang di katakan Yogie.

“Tidak ada seks, tidak ada tidur bersama, tidak ada tinggal bersama, kita akan berkencan seperti anak SMA pada umumnya. Apa kamu mau?”

“Gie, aku tidak terbiasa dengan hubungan seperti itu, aku-”

“Tidak terbiasa?” Yogie tampak berpikir sebentar kemudian melanjutkan kalimatnya. “Elena, lalu seperti apa hubunganmu dengan Andrew selama ini? Sial! Aku bahkan melupakan jika kamu adalah kekasih Andrew.”

Elena membulatkan matanya seketika. Oh, Andrew, ia bahkan lupa jika dirinya sempat berpura-pura menjadi kekasih sepupunya tersebut.

“Elena, ada yang kamu sembunyikan dariku?” Yogie tampak menyelidiki raut terkejut dari Elena. “Sejujurnya aku curiga dengan hubungan kalian. Hampir setiap waktu kamu bersamaku kecuali jam kerja. dan sepertinya kamu ataupun Andrew tidak masalah dengan hal itu. Apa sebenarnya hubungan kalian.”

Elena ingin menghindar, tapi sepertinya tidak ada gunanya juga menyembunyikan kebenaran tersebut dari Yogie.

“Uum, itu sebenarnya Andrew…”

“Sebenarnya apa?” desak Yogie.

“Dia sepupuku.”

“Apa?”

“Maaf, tapi Andrew memang memintaku untuk menjadi kekasih palsunya saat itu, aku tidak tahu apa tujuannya, dan karena aku butuh suasana baru, maka aku menuruti apa maunya.”

“Sial! Jadi selama ini kamu membohongiku?”

“Aku tidak membohongimu, kita hanya tidak pernah membahasnya.”

“Kita pernah membahasnya, Elena. Dan kamu tetap tidak memberitahuku tentang hubungan kalian.”

“Oke, aku salah. Tapi memangnya itu berpengaruh dengan hubungan kita? Tidak bukan?”

Yogie tersenyum miring. “Kamu salah, Honey. Itu berpengaruh pada hubungan kita, tentu saja!”  Yogie menjawab dengan senyum misteriusnya

Yogie mengecup lembut hidung Elena, kemudian pergi begitu saja, masuk ke dalam kamar Elena. Sedangkan Elena yang masih ternganga akhirnya mau tidak mau mengikuti Yogie di belakang lelaki tersebut.

Yogie membereskan semua barang-barangnya yang ada di dalam kamar Elena sambil berkata “Jadi sudah di putuskan, kita akan kencan sesuai dengan rencanaku.”

“Yogie.”

“Tidak ada alasan, dan aku tidak menerima bantahan Elena, kita akan kencan, kencan yang sesungguhnya.”

“Jadi, kamu pindah?”

“Ya, aku akan pindah malam ini juga.”

Elena menghela napas panjang. “Apa tidak ada cara lain?”

“Tidak!” Yogie kemudian menghadap ke arah Elena, menangkup kedua pipi wanita tersebut dan berkata lembut di sana “Percaya padaku, kita akan melakukan dengan caraku, dan aku yakin ini akan berhasil.” Tanpa menunggu lagi Yogie mengecup lembut bibir Elena. “Aku merindukan ini.” Bisiknya.

Elena hanya tersenyum dengan kelakuan Yogie.

“Oke, sepertinya ini saja yang aku bawa, sisanya menyusul.”

“Kamu benar-benar akan pergi? Tidak makan malam dulu?”

“Tidak, karena mulai malam ini status kita sudah berbeda.”

“Berbeda?”

Yogie tersenyum “Aku bukan lagi kekasih gelapmu, atau teman seksmu, aku adalah teman kencanmu.”

“Apa bedanya?”

“Tentu beda, besok aku akan tunjukkan perbedaannya.”

“Besok?”

“Ya besok, kita akan mulai berkencan, kencan yang sesungguhnya.” Yogie mengusap lembut puncak kepala Elena sebelum pergi meninggalkan Elena begitu saja dengan berbagai macam perasaan di hatinya.

Elena mengusap puncak kepalanya sendiri, tempat dimana Yogie mengusapnya tadi.

Deg…

Deg…

Deg….

Perasaannya semakin aneh. Yogie berbeda, sentuhan lelaki itu berbeda. Dan apa dia bilang? Kencan yang sesungguhnya? Dapatkah ia benar-benar berkencan dengan lelaki tersebut? Tanpa seks? Tanpa sebuah pelepasan?

 

-TBC-

Advertisements

8 thoughts on “Elena – Chapter 12 (Kencan yang sesungguhnya)

  1. Aduhhh Yogie trsenyum misterius apa ya?? Bahagiakah klo trnyata Elena gk pnya kekasih… Yogie km ko tega c msi nyebut Alisha trusss saat sdg brsm Elena… Smg brhasil

    Like

  2. Duhh aku jadinya ikut kesengsem sama kelakuan mas yogie nihh elena tambah sayang kali sama yogie gag sabar buat nunggu next part nya …, hihihi *senyum senyum sendiri 🙂

    Like

  3. gie u bener” manis sii , gila bener” pria sejati …. kelakuan u yng kek gitu yng bener” membuat q jatuh cinta ma u , seandai na q biza ketemu yng kek u d dunia nyata.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s