romantis

Evelyn – Chapter 1 (Aku mau Dia)

drawing-evelyn-copyEvelyn

Chapter 1

-Aku mau Dia-

 

 

Fandy keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Jemarinya yang besar itu meraih sebuah ipod yang berada di atas sebuah meja kecil tepat di sebelah ranjangnya.  Memutar lagi-lagu di dalam ipod tersebut kemudian memasang headset pada telinganya.

Same bed but it feels just a little bit bigger now

Our song on the radio but it don’t sound the same

Lagu Bruno Mars tersebut menjadi pilihan Fandy untuk di putarnya. Ia kemudian mulai meraih Hoody di dalam lemarinya, mengenakannya beserta tudung kepalanya.  Tak lupa ia juga mengenakan sepatu olah raganya.

Hmmm too young, to dumb to realize

That I should have bought you flowers and held your hand

Should have given all my hours when I had the chance

Lagu tersebut masih mengalun dengan indah namun tak seindah suasana hati orang yang kini sedang mendengarnya. Fandy mulai berjalan keluar dari apartemennya, kemudian sedikit berlari kecil menuju ke taman yang tak jauh dari kompleks apartemennya.

My pride, my ego, my needs and my selfish ways

Caused a good strong woman like you to walk out my life

Now I’ll never, never get to clean out the mess I’m in

And it haunts me every time I close my eyes.

Beberapa bulan terakhir memang inilah yang ia lakukan untuk menghabiskan waktunya. Mendengarkan lagu-lagu sambil berolahraga atau bahkan berlatih.

Tidak ada pekerjaan, karena beberapa bulan yang lalu  baru saja di pecat secara tidak hormat oleh orang yang memperkerjakannya karena alasan yang menggelikan.

Ia menyukai istri dari atasannya tersebut.

Oh, sialan!

Awalnya, Fandy di pekerjakan oleh seorang pengusaha muda bernama Osvaldo Handerson, untuk menjaga istrinya yang masih terlihat seperti anak-anak, dan sialnya, Fandy malah jatuh hati pada istri atasannya tersebut. Bagaimana mungkin dirinya benar-benar jatuh cinta pada sosok itu? Sosok yang bernama Sienna Clarissa, seorang gadis –atau bisa di sebut dengan wanita muda, yang berusia Delapan belas tahun dengan sikap manja khas anak-anak ABG pada umumnya.

Oh yang benar saja. Apa yang membuatnya jatuh hati apda sosok itu? Sikap manjanya? Wajah cantiknya? Bahkan Fandy tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.

Fandy membesarkan volume ipod yang berada di dalam genggamannya, langkahnya mulai cepat seiring dengan suara lagu yang terdengar menggema di telinganya.

Fandy ingin melupakan wanita itu, tapi di sisi lain, Fandy merindukannya. Oh, apa yang harus ia lakukan? Bagaimana mungkin ia jatuh cinta dengan istri orang??

***

Dengan wajah cemberut, Eva keluar dari dalam kamarnya. Hari ini ia kesal, masih sama kesalnya dengan kemarin malam ketika ia mendengar pertengkaran hebat kedua orang tuanya.

Eva tidak pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar seperti semalam. Sangat mengerikan. Sang Mama bahkan membanting beberapa perabotan rumah, sedangkan sang Papa tidak berhenti berucap jika mereka akan berpisah. Sebenarnya apa yang terjadi? Eva tidak tahu dan dia tidak ingin tahu.

Selama ini kehidupannya sudah sangat sempurna. Ia memiliki semuanya, tapi setelah tadi malam, ia merasa jika semuanya berubah.

Eva duduk di kursi meja makan. Di sana sudah ada sang Papa yang duduk sendirian, lalu diamana Mamanya?

“Pagi, Pa.”

“Pagi, sayang.” Sang papa kembali menyapa tapi wajahnya masih fokus dengan koran paginya.

“Uum, Pa, Mama kemana?” Eva memberanikan diri bertanya pada papanya, tapi kemudian sang papa melipat koran yang di bacanya kemudian menatap Eva dengan tatapan seriusnya.

“Evelyn.” Panggil sang papa, namanya itu memang sangat jarang di jadikan sebagai panggilannya, ia lebih suka di panggil dengan nama Eva, lebih simpel, dan lebih pribumi, meski sebenarnya panggilan Eva kurang cocok dengan dirinya yang memiliki wajah sedikit kebule-bulean yang ia dapat dari sang papa.

“Ya, Pa?”

“Setelah pulang dari kampus, bereskan semua pakaian kamu.”

“Tapi kenapa?”

“Kita akan pindah.”

“Pa, aku nggak bisa, aku bahkan baru masuk kuliah, dan aku memiliki toko yang harus aku urus, aku nggak mau pindah kemana-mana.”

Eva tahu jika semuanya tidak sedang baik-baik saja. Mungkin kedua orang tuanya kini benar-benar akan berpisah hingga sang papa mengajaknya pindah. Dan sumpah demi apapun juga, Eva tidak ingin pindah ke Paris, tempat asal dari sang Papa, jika mungkin saja papanya itu mengajaknya pindah ke sana.

“Evelyn, kita tidak akan kemana-mana, kamu tetap kuliah di kampus kamu, kamu juga masih bisa menjaga toko aksesoris milik kamu, kita hanya pindah rumah, dan itu masih di Jakarta.”

Eva menghela napas panjang. Ya, bagaimanapun juga ia masih sangat nyaman tinggal di Jakarta. Ia memiliki segalanya di sini, teman, pacar, bahkan beberapa calon pacar di kampus barunya.

“Lalu mama?”

“Jangan bertanya tentang Mama kamu lagi.”

“Pa, aku sudah besar, bagaimanapun juga aku ingin tahu apa yang terjadi dengan mama dan papa.”

“Evelyn, papa belum bisa menceritakan semuanya sama kamu, yang pasti, mama sudah tidak bersama dengan kita lagi.”

“Apa?”

“Kita harus pindah.”

“Pindah kemana, Pa? aku sudah cukup nyaman di sini.”

“Papa jamin, di tempat baru, kamu akan lebih nyaman.” Sang papa kemudian berdiri, lalu mengusap lembut puncak kepala Eva. “Papa kerja dulu.” Dan sosok itu kemudian pergi begitu saja. Eva hanya bisa menghela napas panjang. Apa yang terjadi sebenarnya?

***

Fandy berjalan menuju ke arah sebuah ruangan dengan pintu besar berwarna hitam legamnya. Itu adalah ruangan dari atasannya, bisa di bilang, orang yang menjual jasanya sebagai Bodyguard kepada orang yang membutuhkan jasanya.

Ya, ketika remaja, ia di masukkan ke dalam sebuah agensi yang menciptakan boduguard-bodyguard tangguh, ia di latih hingga memiliki banyak sekali kemampuan bela diri hingga kemudian keahliannya tersebut menjadi pekerjaannya.

Entah sudah berapa orang yang pernah ia jaga, Fandy bahkan tidak bisa menghitungnya. Banyak sekali pengalaman ketika ia menjadi seorang pengawal. Dan pengalaman yang tidak akan pernah ia lupakan adalah ketika ia mengawal seorang istri mungil dari atasannya yang sedang hamil muda dan ia jatuh cinta pada sosok tersebut, Sienna.

Oh sial! Kenapa juga ia mengingat wanita itu lagi?

Fandy menghela napas panjang sebelum ia masuk ke dalam ruangan dengan pintu besar berwarna hitamnya tersebut.

Tadi, setelah olah raga, si Boss –panggilan untuk si pemilik agensi yang kini sedang ia temui, menghubunginya dan mengatakan jika ada yang membutuhkan pengawalan darinya. Dengan semangat Fandy menerima tawaran tersebut bahkan sebelum tahu siapa orang yang membutuhkan pengawalannya.

Fandy berpikir, mungkin dengan ia memiliki aktifitas baru sebagai seorang pengawal, ia akan dengan mudah melupakan sosok Sienna, sosok yang selama ini membayanginya.

“Sudah datang?” sapa lelaki paruh baya tersebut yang kini masih duduk dengan santai di kursi kebesarannya.

“Ya, Boss.”

“Bagaimana liburanmu?”

“Lumayan, Boss.”

Lelaki yang di panggil Fandy sebagai Boss tersebut berjalan mendekati Fandy, lalu memberikan Fandy sebuah ampop besar yang di sana tertulis data diri dari orang yang akan di kawalnya.

“Kali ini kamu tidak boleh main-main. Klien kita adalah orang berkewarganegaraan asing, yang sudah sejak Empat tahun yang lalu menetap di sini.”

Fandy mengerutkan keningnya. “Lalu, kenapa baru kali ini dia membutuhkan jasa kita?”

Si Boss hanya mengangkat kedua bahunya. “Itu bukan urusan kita, yang jelas, kamu harus menjaganya. Dia memiliki beberapa tambang emas di luar negeri, dan kemungkinan besar dia memiliki tujuan lain ketika memilih menetap di negeri ini.”

Fandy membuka data-data orang yang akan di kawalnya tersebut.

“Wanita tua.” Gumamnya.

Si Boss tertawa lebar. “Kamu berharap apa? Apa kamu berharap itu adalah wanita muda dengan usia belianya yang bisa membuatmu jatuh cinta seperti sebelumnya?” sindir si Boss tersebut pada Fandy.

Fandy hanya membatu. Ya, si Bossnya itu tentu mengetahui apapun yang ia lakukan terhadap Sienna dan Aldo, mantan atasannya dulu sebelum dia di berhentikan secara tidak hormat. Fandy bahkan tidak bisa mengingat bagaimana marahnya si Boss saat itu. Ia di pukuli habis-habisan karena berani mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah perasaan sialannya. Terlebih lagi, si Bossnya tersebut sudah mengajarinya, mengubah hatinya menjadi batu hingga sulit sekali di sentuh, tapi nyatanya, Sienna mampu menyentuh hatinya.

Ia jatuh cinta untuk pertama kalinya pada kliennya sendiri, seharusnya ia tidak melakukan itu, dan ia tidak boleh jatuh cinta.

“Dengar Fandy, saya tidak ingin kejadian kamu dengan klien kita yang kemarin terulang lagi. Ingat, tidak ada lagi yang namanya jatuh cinta. Itu akan melemahkanmu!”

“Saya mengerti, Boss.”

“Sekarang, jalankan tugas kamu. Kamu harus mengawal wanita tua itu kemanapun dia pergi. Jadilah perisainya apapun yang terjadi, keselamatan dia yang utama, hidupmpu sudah di beli olehnya.”

Fandy mengangguk. Selalu kalimat itu yang di rapalkan si Boss ketika dirinya akan menemui klien barunya. Ya, hidupnya sudah di beli, dan ia akan mati sekalipun demi melindungi klien barunya.

“Ingat, jangan sampai mengulangi hal yang sama. Buang perasaan sialanmu itu.” Si Boss menepuk-nepuk bahunya.

Fandy hanya mengangkat sebelah alisnya saat menanggapi kalimat terakhir Bossnya tersebut. Tentu saja ia tidak akan mengulangi hal yang sama. Klien barunya adalah seorang wanita dengan usia hampir tujuh puluh tahun, dan jatuh cinta pada kliennya itu sangat tidak mungkin.

***

Eva mengerutkan keningnya ketika papanya mengemudikan mobilnya masuk ke dalam sebuah gerbang besar yang hampir tidak pernah ia lihat. Sebenarnya mereka mau ke mana?  Eva melirik sang papa yang masih berkonsentrasi mengemudikan mobilnya sesekali ia terkagum-kagum ketika menatap bangunan megah yang akan mereka tuju.

“Pa, kita ada di mana?” bisik Eva.

“Maksud kamu?”

“Euum, ini masih di indonesia, kan?” tanyanya dengan polos. Sang papa tertawa lebar.

“Tentu sayang, ini masih di indonesia, dan ini masih di Jakarta.”

“Lalu ini bangunan apa?”

Sang papa tersenyum lembut. “Itu rumah baru kita.” Dan Eva hanya mampu membulatkan matanya seketika. Apa ini mimpi? Jika iya, Eva ingin di tampar saat ini juga supaya ia terbangun dari mimpinya ini.

Tapi nyatanya, ini bukanlah mimpi. Eva sadar jika ini benar-benar nyata ketika sang papa membukakan pintu mobilnya untuk Eva dan membantu Eva turun dari mobil mereka.

“Pa, Papa yakin ini rumah baru kita?” Eva masih tampak tak percaya.

Sang papa menampakkan senyum lembutnya. Ia menarik tangan Eva dan mengajak Eva menuju ke arah pintu utama yang bagi Eva sangat besar tersebut kemudian membukanya. Dan Eva ternganga ketika mendapati beberapa pelayan ala kerajaan inggris yang sudah menyambutnya.

“Evelyn.” Seorang wanita tua tiba-tiba datang menghambur ke arahnya, lalu memeluknya erat-erat.

Eva melirik ke arah sang papa, dan papanya tersebut hanya tersenyum ke arahnya sembari mengatakan ‘Welcome to my world’ tanpa mengeluarkan suara.

***

Eva masih bingung, sangat, sangat dan sangat bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin papanya menjadi seorang milyader seperti saat ini? Apa papanya itu baru saja menang taruhan? Menang kuis? Oh yang benar saja. Tentu bukan karena itu.

Eva tidak mengenal papanya, ya, hanya itu yang ia yakini saat ini. Menurut cerita dari sang mama, papanya adalah seorang warga negara asing biasa yang kemudian menetap di negeri ini kerena menikah dengan sang Mama. Tidak ada seluk beluk keluarga papanya yang pernah ia dengar. Ia hanya tahu jika papanya adalah orang Prancis, yang kini bahkan sudah hampir mirip dengan orang pribumi cara bicara, cara bersikap dan cara berpakaian papanya yang sederhana.

Dan kini? Oh astaga, Eva bahkan tidak pernah membayangkan jika hal ini akan terjadi. Kini ia sudah berdiri di sebuah ruangan yang super luas, bahkan lebih luas tiga kali lipat dari ruang tengah di rumahnya dulu, dan ruangan ini adalah kamarnya? Sekali lagi, Kamarnya??? Eva seakan ingin berteriak histeris mendapati kenyataan yang ia alami saat ini.

Di ujung ruangan terdapat sebuah ranjang besar ala-ala ranjang puteri raja lengkap dengan tiang dan juga penutup ranjang berendanya, ohh, itu adalah ranjangnya??

Eva berteriak sambil menghambur ke arah ranjang tersebut. Ia melemparkan diri di atasnya sambil berguling kesana kemari. Oh, ini benar-benar sangat nyaman, pikirnya. Eva kemudian bangkit, melihat ke segala penjuru.

Ada sebuah meja rias yang cukup besar, lemari-lemari yang menyatu dengan dinding, sebuah meja dan beberapa kursi untuk bersantai, sebuah sofa besar, kemudian ada juga sebuah pintu yang Eva yakini adalah pintu menuju ke kamar mandi, dan Eva mengerutkan keningnya ketika mendapati pintu lainnya. Karena penasaran, Eva berdiri dan menuju ke arah pintu tersebut, lalu membukanya.

Seketika itu juga Eva menutup mulutnya dengan keuda belah tangannya.

Oh my God…

Ia akan menjadi seorang puteri, Eva tahu itu. Jika ini benar-benar nyata, ia akan menjadi seorang Barbie dengan apa yang ia miliki saat ini.

***

Eva terbangun dari mimpi indahnya ketika mendengar suara berisik di sekitarnya. Ia mulai membuka matanya dan terbangun seketika saat sadar jika dirinya berada di kamar yang berbeda dengan kamarnya selama ini.

Oh, tentu saja, bukankah ia sudah pindah ke dalam istana? Ya, Eva menganggap jika rumah barunya ini adalah sebuah istana. Sangat mewah dan super megah. Eva mengerutkan keningnya saat mendapati dua orang wanita dengan seragam pelayannya sedang sibuk di dalam kamarnya.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Eva sedikit bingung.

“Oh, maaf Nona, kami hanya membantu menyiapkan air hangat untuk mandi, dan pakaian ganti untuk Nona Evelyn.”

“Apa?” Eva tampak shock. Tentu saja. Seumur hidupnya ia tidak pernah di perhatikan sampai seperti ini, apa sampai nanti ia akan di layani seperti ini? Oh, menggelikan sekali.

“Air hangatnya sudah siap, silahkan mandi, nyonya besar sudah menunggu anda di ruang makan.”

Eva bangkit menuju ke arah kamar mandi sambil bergumam. “Lain kali, kalian tidak perlu berlebihan melayaniku, aku bisa menyiapkannya sendiri.”

“Tapi Nona.”

Eva tersenyum. “Aku biasa melakukannya, kalian santai saja.” Lalu Eva masuk begitu saja ke dalam kamar mandi, mandi air hangat sesekali bersenandung ria. Oh, benarkah ini kehidupan nyatanya saat ini? Apa ia rela kehilangan sang mama dan di gantikan dengan kehidupan mewahnya saat ini? Yang benar saja.

***

Setengah jam kemudian, Eva akhirnya sudah duduk dengan manis di ruang makan bersama dengan sang papa dan wanita tua yang kini di panggilnya dengan sebuat Nenek.

Tadi malam, ketika ia masih kebingungan dengan semua yang ada di hadapannya, sang papa sedikit demi sedikit menjelaskan pada Eva jika semua ini nyata. Ternyata sang papa adalah putera tunggal dari keluarga Mayers, keluarga kaya raya dari negara Prancis. Dan kini, ibunda dari sang Papa, yang tak lain adalah neneknya, datang untuk mewariskan seluruh kekayaannya pada sang papa dan juga dirinya. Oh, jangan di tanya lagi bagaimana shocknya Eva saat itu.

Kehidupannya dulu memang sudah berada, tapi tidak semewah seperti saat ini. Bagi Eva, semua ini terlalu berlebihan, tapi di sisi lain, Eva juga menikmati perannya.

“Evelyn, apa kamu tidak menyukai makanannya?” pertanyaan penuh perhatian tersebut terlontar dari bibir sang nenek. Eva sempat heran ketika mendengar sang nenek berbicara dengan Bahasa Indonesia meski tak begitu fasih.

“Tidak, Nek, aku hanya-”

“Apa kamu tidak nyaman?”

Eva mengangguk pelan. “Aku tidak terbiasa makan dengan beberapa orang yang memperhatikanku.”

Sang Nenek tersenyum. “Maka biasakanlah mulai saat ini.” Perintah sang nenek. “Evelyn, karena kamu satu-satunya puteri dan penerus dari keluarga Mayers, maka Nenek benar-benar harus menjaga kamu.”

“Menjagaku? Menjagaku dari apa?”

“Dari apapun dan siapapun yang ingin menjatuhkan kamu.”

“Tapi kenapa ada yang ingin menjatuhkanku?” Eva tampak bingung.

Sang nenek hanya tersenyum lembut. “Ada banyak hal yang tidak perlu kamu ketahui Sweetheart. Kemarilah, Nenek akan memperlihatkan sesuatu padamu.”

Akhirnya Eva berdiri dan mengikuti kemana kaki neneknya melangkah. Mereka menuju ke arah ruang tengah, yang di sana ternyata sudah berdiri beberapa lelaki dengan setelan serba hitamnya layaknya agen mata-mata di film-film action yang pernah ia tonton.

“Evelyn, ini pengawal Nenek, Nenek akan menugaskan beberapa untuk menjaga kamu.” Jelas sang nenek.

Eva menggelengkan kepalanya, sedangkan matanya masih menatap satu persatu lelaki dengan tubuh kekar di hadapannya itu dengahn tatapan sedikit ngeri, ia tidak ingin di kawal, ia ingin bebas melakukan apapun, bukan di kekang dengan adanya seorang pengawal yang selalu mengawasinya.

“Nenek, ini tidak perlu.”

“Ini sangat di perlukan, Evelyn.”

Mata Eva kembali menatap satu demi satu lelaki tersebut hingga kemudian matanya terpaku pada sosok itu. Sosok yang lebih ramping dari yang lainnya, tapi tubuhnya sama berototnya dengan yang lainnya. Sosok yang sangat tampan dengan wajah datar tanpa ekspresinya, sosok yang sudah beberapa bulan terakhir tidak di temuinya.

“Kamu?” Eva bahkan tidak menghiraukan sang nenek yang menatap aneh ke arahnya. Yang Eva lakukan hanyalah menghampiri lelaki tersebut.

Lelaki itu masih berdiri dengan tegap dengan wajah datarnya, Eva tidak dapat membaca apa yang di pikirkan lelaki tersebut, karena mata lelaki itu tersembunyi di balik kaca mata hitam yang di kenakannya.

“Fandy, ini beneran kamu?” sekali lagi Eva bertanya tanpa menghilangkan nada girangnya sembari terus berjalan mendekat.

“Ya, Nona.” Jawab lelaki itu penuh dengan hormat.

Oh, my God.

Tuhan benar-benar sayang padanya, Eva tahu itu. Bagaimana mungkin semuanya bisa kebetulan seperti ini? Dan Fandy, lelaki itu… Astaga, setelah lelaki itu berhenti menjadi pengawal temannya, Eva pikir ia tidak akan bertemu lagi dengan lelaki tersebut tapi nyatanya….

“Nenek, Aku mau dia.” Eva berkata dengan penuh semangat dan senyuman bahagianya.

“Apa maksud kamu, Evelyn?”

“Dia, aku mau dia yang menjadi pengawal pribadiku.” jawab Eva penuh keyakinan. Oh, pasti akan sangat menyenangkan ketika memiliki Fandy sebagai pengawal pribadinya.

 

-TBC-

Advertisements

11 thoughts on “Evelyn – Chapter 1 (Aku mau Dia)

  1. Hore cerita baru …
    Seru nihh jodohh mungkin eva sama fandy .., ada misteri apa yahhh , jalan ceritanya gimana yahh akunya udah baper tingkat tinggi nihh …. Di tunggi next partnya yahh kak …

    Like

  2. waw q ga nyangka fandy se keren ini , mungkin slama ini dia ketutup ma kgantengan na aldo …
    dulu q sempet pas ibu bilang mo bikin series tentang fandy ma eva karna q pikir ga bakal menarik , tapi q lupa ql ibu udah bikin cerita ga ada yng ga mungkin dan pasti biza bikin jatuh cinta yng baca.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s