romantis

Elena – Chapter 11 (Tentang Dia)

elenanewElena

“Elena.”

“Apa lagi, Gie?”  Elena berbalik ke arah Yogie yang sudah berdiri di belakangnya.

“Aku-”

“Elena?” Yogie tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena terpotong oleh panggilan seorang lelaki yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Elena menoleh ke arah panggilan tersebut, dan matanya membulat seketika, wajahnya pucat pasi ketika mendapati siapa yang berdiri di sana dengan memanggil namanya.

Tidak! Jangan bilang dia kembali. Dia tidak akan kembali, dia tidak akan kembali. Elena merapalkan mantera tersebut dalam hatinya, seakan ia memungkiri jika hal ini tidak terjadi, padahal dalam hati kecil Elena tahu, jika ini benar-benar terjadi. Dia kembali…..

 

Chapter 11

-Tentang Dia-

 

Elena semakin memucat ketika lelaki itu berjalan ke arahnya dan juga Yogie. Oh, apa yang akan terjadi? Kenapa lelaki itu di sini? Dan astaga, jika lelaki itu di sini, berarti ‘Dia’ ada di sekitar sini.

Wajah Elena jelas menampakan rasa ketakutan yang amat-sangat, dan itu membuat Yogie yang sejak tadi mememperhatikannya semakin heran dengan tingkah Elena.

“Apa yang terjadi? Kamu mengenalnya?” Yogie bertanya dengan sedikit berbisik pada Elena.

Elena menggeleng cepat.

“Jangan bohong!”

Dengan spontan Elena merangkul lengan Yogie ketika lelaki itu semakin mendekat ke arahnya. Yogie sendiri semakin heran dengan tingkah Elena yang sangat berbeda dari biasanya.

“Elena, ini kamu? Apa kamu ingat aku?” tanya lelaki itu ketika sudah berada di hadapan Elena dan Yogie.

Elena enggelengkan kepalanya cepat.

“Aku Nanda, teman Gilang, yang saat itu sering-” Lelaki yang mengaku bernama Nanda itu tidak melanjutkan kalimatnya saat menatap ke arah Yogie.

“Maaf, aku nggak kenal.” jawab Elena cepat sambi sedikit menarik lengan Yogie untuk segera pergi dari sana.

“Elena, kamu benar-benar melupakan Gilang?” pertanyaan lelaki itu membuat Elena membatu seketika.

Melupakan? Yang benar saja, jika Elena dapat melupakan laki-laki gila itu, mungkin hidup Elena kini sudah bahagia. Gilang tidak akan pernah bisa ia lupakan, lelaki itu akan selalu melekat dalam ingatannya.

“Saya tidak pernah mengenal kamu atau Gilang!” ucap Elena dengan suara menajam.

“Benarkah? Jadi inikah Elena yang sangat di cintai teman saya hingga maut menjemputnya?”

“Apa?” Elena membulatkan matanya seketika.

“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” Yogie yang berdiri di sebelah Elena masih bingung dengan apa yang Elena dan lelaki itu bicarakan.

“Dia… Dia…” Elena masih tampak shock.

“Ya, Gilang sudah tidak ada lagi di muka bumi ini.”

Raut terkejut benar-benar tampak di wajah Elena. Gilang sudah meninggal? Apa benar lelaki itu sudah tidak ada di muka bumi ini? Apa benar lelaki itu sudah membebaskannya?

***

Elena masih terpaku menatap secangkir kopi di hadapaannya, pikirannya masih melayang dengan kabar yang baru saja ia dengar dari Nanda.

Nanda sendiri adalah teman Gilang ketika masih kuliah, lelaki itu adalah satu-satunya teman Gilang yang Elena kenal, karena dulu, Nandalah yang sering mengantar jemput Gilang ke rumah Elena untuk memberikan les privat. Nanda jugalah yang mengantarkan Elena dan juga Gilang ke dokter untuk melakukan aborsi, jadi, sedikit banyak Nanda tahu tentang hubungan Elena dengan Gilang.

Kini, lelaki itu tampak lebih dewasa dari beberapa tahun yang lalu. Dan tampak sukses dengan pekerjaannya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata lelaki itu adalah suami dari Jihan, mantan kekasih Yogie, pemilik dari kafe tempatnya duduk saat ini. Oh, bagaimana mungkin dunia begitu sempit? Bagaimana bisa mereka saling berhubungan seperti ini setelah bertahun-tahun tidak bertemu?

“Jadi, kamu belum tahu kalau Gilang sudah meninggal?” tanya Nanda memecah keheningan di antara mereka.

Elena menggelengkan kepalanya.

“Siapa Gilang?” Yogie yang sejak tadi masing bingung akhirnya menanyakan pertanyaan tersebut karena tak kuasa menahan rasa penasarannya.

“Gilang itu teman saya, dan dia-” Nanda tampak ragu ingin menjawab pertanyaan Yogie.

“Kekasih Elena?” tanya Yogie lagi.

“Itu nggak penting, yang terpenting dia sudah tidak ada lagi di sini, jadi tidak perlu membahasnya.” Elena berkata dengan ketus.

“Kamu tidak ingin tahu kenapa dia meninggal? Bagaimana dia bisa meninggal?” tanya Nanda yang kurang suka dengan sikap Elena yang seakan acuh dengan kepergian Gilang.

“Tidak! Aku tidak peduli.”

“Elena! Dia mencintai kamu seperti orang gila, dan inikah balasanmu padanya?!” Nanda benar-benar sangat kesal dengan sikap Elena. Dulu, Elena hanyalah seorang gadis yang penurut, Nanda sangat mengerti kenapa Gilang tergila-gila pada Elena, karena gadis itu sangat cantik dan begitu penurut dengan sosok Gilang, tapi sekarang, Elena tampak berubah drastis.

“Mencintai katamu? Yang dia lakukan hanya melecehkanku! Jika dia mencintaiku, dia tidak akan menyakitiku, dia tidak akan memaksaku menggugurkan bayinya sendiri!” Elena bangkit seketika lalu pergi meninggalkan Nanda yang membatu dan Yogie yang tercengang dengan apa yang baru saja di dengarnya.

***

Yogie masih berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar Elena. Wanita itu masih di dalam kamarnya, dan Yogie belum ingin mengetuk pintu kamar tersebut.

Tadi, setelah Elena pergi, mau tidak mau Yogie menanyakan apa yang tejadi tentang Gilang dan Elena pada Nanda, lelaki yang mengaku sebagai teman Gilang. Tak banyak yang Nanda ceritakan, lelaki itu hanya bercerita jika dulu sosok Gilang adalah guru les privat Elena yang jatuh hati pada wanita tersebut. Hubungan keduaya sangat dekat, bahkan saat itu Elena sempat hamil hasil hubungannya dengan Gilang.

Yogie tampak shock, tentu saja. Apalagi kenyataan jika Elena pernah melakukan aborsi mengingatkannya pada kejadian beberapa saat yang lalu ketika Elena di paksa kehilangan calon bayi mereka.

Yogie akhirnya berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar Elena. Mengajak wanita itu bicara baik-baik.

“Elena, boleh aku masuk?” tidak ada jawaban, tapi kamar Elena ternyata tidak di kunci dari dalam.

Akhirnya Yogie membuka pintu kamar tersebut, dan tampaklah sosok Elena yang duduk menghadap jendela kamarnya sembari memeluk lututnya sendiri.

Wanita itu tampak rapuh, dan Yogie ingin memeluk wanita itu, Yogie ingin wanita itu bersandar padanya dan melenyapkan semua kerapuhannya. Sial! Apa-apaan ini?

Yogie berjalan masuk, dan tanpa banyak bicara lagi, ia duduk di pinggiran ranjang Elena. Yogie tidak bersuara, ia ingin bertanya tapi seakan pertanyaannya tertelan oleh sikap Elena yang dingin dan tampak tak ingin di ganggu oleh siapapun.

“Apa yang dia ceritakan padamu?” pertanyaan Elena membuat Yogie mengangkat wajahnya.

“Nanda? Tidak banyak, dia hanya bercerita tentang apa yang dia tahu.”

“Dan apa yang dia tahu tentangku di masalalu?”

“Bahwa kamu kekasih Gilang, temannya, kalian berdua saling mencintai, tapi dia tidak tahu apa yang membuatmu pergi meninggalkan Gilang, hingga Gilang menggila dan berakhir bunuh diri.”

Elena menolehkan kepalanya seketika pada Yogie. “Dia, dia bunuh diri?”

Yogie menganggukkan kepalanya. “Nanda berkata jika temannya itu sempat masuk ke dalam rumah sakit jiwa, dan lelaki itu terjun dari atas atap rumah sakit yang berlantai tiga hingga tewas di tempat.”

Elena menangis sesenggukan. “Dia tidak akan melepaskanku, dia tidak akan membebaskanku.” Ucapnya masih dengan memeluk lututnya sendiri.

Yogie bangkit seketika, menangkup kedua pipi Elena dan berkata dengan lembut pada wanita tersebut.

“Apa yang terjadi denganmu? Siapa dia? Kenapa kamu seperti ini saat membahasnya?”

Elena menggelengkan kepalanya.

“Elena, berceritalah padaku, kalau kamu hanya diam, tidak ada orang yang dapat memahamimu.”

“Aku tidak bisa menceritakan hal yang memalukan ini pada siapapun, Gie. Tidak pada kamu, atau pada orang lain.”

“Tapi aku ingin tahu, Elena, aku ingin tahu apa yang terjadi denganmu.”

“Itu sangat memalukan, Gie. Aku malu karena pernah mengalaminya.”

“Apa yang dia lakukan padamu?” Yogie menggeram kesal.

Elena diam, tidak ada tanda-tanda jika wanita itu akan bercerita padanya. Dan akhirnya, Yogie mulai menceritakan tentang dirinya sendiri, bermaksud untuk terbuka pada Elena hinga Elena mau terbuka dengannya.

“Aku Yogie Pratama, terlahir dari kalangan keluarga berada, tapi keluargaku seakan tidak menginginkanku ada di sekitar mereka.”

Elena menatap Yogie, ia tidak mengerti apa yang di katakan lelaki itu.

“Mungkin karena mereka malu memiliki anak seperiku, anak yang tidak memiliki keahlian apapun, pemalas, dan nakal. Dan aku sendiri cukup malu dengan keluargaku, mereka mata duitan, yang mereka pikirkan hanyalah warisan, warisan, dan warisan dari kakekku, dan mungkin saat ini warisan itu sudah jatuh di tangan kakakku.”

“Aku nggak ngerti.”

“Aku hanya ingin kamu tahu, Elena, jika bukan hanya kamu yang memiliki sesuatu yang memalukan untuk di bahas. Nyatanya kehidupanku lebih memalukan lagi. Aku membenci keluargaku tapi di sisi lain aku tetap menerima uang yang mereka kirimkan. Sangat memalukan, bukan?”

“Ini berbeda, Gie.”

“Karena berbeda, maka aku ingin tahu.”

Elena diam sebentar, tapi kemudian ia mulai bersuara lagi. “Dia, dia guru les Privatku sejak SMP. Dan dia, dia orang yang selalu melecehkanku.”

Yogie mengerutkan keningnya. “Melecehkan? Melecehkan seperti apa”

“Dia selalu memuaskan hasrat seksualnya sendiri tanpa mempedulikan kesakitan yang aku alami. Dia melakukan itu hampir setiap saat ketika kami bertemu.”

“Dan orang tuamu?”

“Mereka tidak tahu. Mereka tentu lebih fokus dengan pekerjaan mereka. Aku sendirian.”

“Kenapa kamu tidak mengadu?”

“Karena dia mengancamku.” Elena mulai meneteskan air matanya meski ia tidak terisak. “Beberapa kali dia memvideokan aktivitas ranjang kami, dan kamu pikir aku bisa berbuat apa saat itu ketika dia mengancam akan menyebarkan video kami?”

Yogie mengepalkan jemarinya, ia ingin memukul seseorang, si brengsek Gilang seharusnya mendapat hukuman yang setimpal dulu sebelum dia mati.

“Dia sudah tidak ada, Elena, kamu sudah bebas.” desis Yogie.

“Aku merasa dia masih di sekitarku.”

“Kamu tidak perlu takut, ada aku di sini.” Yogie memberdirikan Elena kamudian memeluk tubuh rapuh tersebut. “Kamu harus bisa berdamai dengan masa lalu, Elena, dia sudah tidak ada.”

Dan Elena hanya mampu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Yogie. Berdamai dengan masa lalu? Tentu Elena sangat menginginkan itu, tapi nyatanya melakukan hal tersebut sangat sulit dari pada hanya mengucapkannya saja.

“Kita akan menemui Nanda, besok.”

Elena melepaskan pelukan Yogie seketika. “Untuk apa?”

“Menyelesaikan semuanya.”

“Apa yang perlu di selesaikan? Tidak! Dia sudah tidak ada dan aku tidak peru membahasnya lagi.”

“Kamu hanya terlalu takut dengan masa lalumu, Elena.”

“Aku tidak takut!”

“Kamu tidak bisa berbohong.” Oh, dan sejak kapan Yogie berubah menjadi sosok yang menyebalkan untuk Elena? Sejak kapan lelaki itu mampu mengintimidasinya?

“Kamu sudah terlalu banyak ikut campur tentang urusan pribadiku.”

“Aku tidak peduli.” Jawab Yogie dengan cuek.

“Tapi aku peduli! Ingat, kamu bukan siapa-siapaku, kamu tidak seharusnya masuk terlalu jauh dalam kehidupan peribadiku!”

Yogie meradang dengan ucapan Elena tersebut. “Oh ya, tentu saja. Aku hanya pemuas nafsumu, bagaimana mungkin aku bisa masuk ke dalam kehidupanmu seperti tadi. Sial! Aku bahkan lupa dengan statusku.”

“Aku tidak ingin bertengkar, Gie.”

“Ya, kita tidak akan bertengkar, pertengkaran terjadi pada hubungan normal, sedangkan hubungan kita bukanlah hubungan yang normal.”

“Sebenarnya apa maumu?!” teriak Elena kesal karena Yogie selalu saja membahas status hubungan mereka.

“Apa mauku? Aku tidak tahu. Aku bahkan lupa apa tujuanku berada di dalam apartemenmu.”

“Kamu menginginkan seks?”

“Sial! Apa hanya itu yang kamu pikirkan?” Yogie terlihat sangat marah.

“Keluar dari kamarku!”

Dan tanpa banyak bicara lagi, Yogie akhirnya meninggalkan Elena sendiri di dalam kamarnya. Oh, apa yang baru saja ia katakan tadi? Sialan!

***

Elena akhirnya menuruti apa yang di katakan Yogie. Ia berusaha berdamai dengan masalalunya dengan menemui Nanda hari ini. Bagaimanapun juga, Gilang benar-benar sudah meninggal, dan seharusnya ia sudah tidak merasakan ketakutan lagi. Tapi entahlah, perasaannya sulit di artikan.

Elena masih dapat merasakan pengaruh gilang dalam kehidupannya saat ini. Meski lelaki itu tidak pernah muncul lagi dalam kehidupan nyatanya, tapi bayangannya selalu hidup dalam ingatan Elena.

Elena membuka pintu kafe tersebut, tempat dimana ia dapat menemukan Nanda dan mencoba mengakhiri semuanya.

“Hai.” sapaan lembut itu membuat Elena mengangkat wajahnya dan menyunggingkan senyuman lembutnya. Itu Jihan, wanita cantik itu tampak selalu ramah ketika bertemu dengannya.

“Hai.” Elena menyapa dengan sedikit kaku.

“Sendirian?”

Elena menganggukkan kepalanya. “Euum, aku ingin bertemu dengan Nanda, kira-kira bagaimana aku bisa menemuinya?”

“Oh, duduklah, Mas Nanda biasanya akan ke sini jam Dua siang nanti, kuharap kamu mau menunggu.”

“Ya, aku akan menunggu.”

Jihan tersenyum. “Kopi?” tawarnya.

Elena tersenyum “Cappucinno, please.” Dan Jihan hanya mengaggukan kepalanya kemudian bergegas pergi membuatkan kopi pesanan Elena.

***

Cukup lama Elena terdiam sembari memainkan cangkir di hadapannya. Sesekali matanya melirik ke arah ponselnya. Tidak ada panggilan ataupun pesan yang ia terima dari Yogie sepagi ini, dan itu membuat Elena sedikit gelisah.

Apa Yogie marah padanya? Yang benar saja. Mengingat tentang Yogie, lelaki itu sedikit berubah. Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Kenapa lelaki itu kini mampu mempengaruhinya? Mengintimidasinya? Kenapa Yogie bisa berubah? Atau, apa dirinyalah yang sudah berubah?

“Kamu sedang menunggu telepon darinya?” pertanyaan itu membuat Elena mengangkat wajahnya, dan ia baru sadar jika sejak tadi Jihan sedang memperhatikannya.

Jihan adalah tipe wanita pendiam, meski wanita itu selalu bersikap ramah dan lemah lembut, tapi nyatanya wanita itu tidak banyak bicara seperti wanita kebanyakan.

“Dia? Maksud kamu?”

Jihan tersenyum. “Yogie.”

Elena ikut tersenyum. “Sepertinya kamu salah paham dengan hubungan kami. Kami hanya teman.” Jelas Elena.

“Oh ya? Kupikir hubungan kalian lebih dari teman. Dia tidak pernah menatap wanita seperti saat sedang menatapmu.”

“Benarkah? Sepertinya kamu sangat mengenalnya.”

Jihan menghela napas panjang. “Dulu kami sempat bersama meski tak lama, setidaknya aku sedikit mengenalnya.”

Elena mengangguk. “Dia terlalu sulit di pahami.”

Jihan tersenyum. “Sulit? Apa yang sulit?”

“Sikapnya berubah-ubah. Kadang aku melihatnyaa sebagai sosok lain, sosok yang sedikit menakutkan.”

“Yogie memang sulit di tebak.” Jihan menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang di dudukinya. “Tapi dia lelaki yang baik, meski kadang dia menjadi sosok yang sulit di sentuh.”

Elena menatap Jihan dengan tatapan penuh tanya. “Apa yang membuat kalian putus?”

“Apa dia tidak bercerita?”

Elena menggelengkan kepalanya.

Jihan tersenyum. “Bukan hal penting. Yang terpenting, saat ini aku sudah bahagia dengan lelaki yang kucintai, dan dia juga sudah bahagia bersamamu.”

“Oh, kamu masih  salah paham, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya.”

“Tapi bukan seperti itu yang ku lihat.”

“Jihan.”

“Dia lelaki baik, Elena. Aku pernah menyesal karena dulu meninggalkannya, kuharap kamu tidak akan mengulangi hal yang dulu pernah kulakukan padanya.”

Elena akan mmembalas ucapan Jihan, tapi kemudian suaranya terhenti ketika melihat sosok Nanda yang baru saja masuk dan menuju ke tempat duduknya.

Nanda menghambur pada Jihan, mengecup lembut pipi  wanita tersebut, sebelum menyapanya.

“Hai, kamu kemari?” tanyanya dengan wajah tak percayanya.

“Ya.”

“Ku pikir kamu tidak ingin bertemu denganku lagi.” Nanda duduk di hadapan Elena, sedangkan Jihan memilih berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Maaf, tentang sikapku tempo hari. Aku hanya terlalu shock.”

“Ya, tidak apa-apa. Jadi, apa yang membuatmu kemari?”

Elena tampak ragu. “Aku, aku hanya ingin mengetahui tentang dia sedetail mungkin.”

“Mengetahui tentang dia? Bukannya kamu yang lebih mengenalnya? Kalian sempat bersama.”

“Hubungan kami tidak seperti yang kamu pikirkan, Nanda. Aku, aku hanya pemuas nafsunya saja.”

“Bukan begitu, Elena. Dia benar-benar mencintaimu. Mungkin dia tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan rasa cintanya padamu. Aku masih ingat saat dia tidak berhenti bercerita tentangmu. Aku tahu dia benar-benar mencitaimu.”

“Tapi bukan itu yang kurasakan. Dia selalu menyakitiku, mengancamku, dan menekanku.” Elena merasakan hatinya pedih ketika mengingat bagaimana kasarnya perlakuan gilang paadanya. “Aku tidak bisa melupakan hal itu. Aku tidak bisa.”

Nanda menghela napas panjang. Ia melihat Elena yang tampak rapuh, seperti Elena yang dulu ketika wanita itu bersama dengan Gilang.

“Kenapa kamu pergi meninggalkannya?”

“Aku ingin lepas dari dia.”

“Dan apa sekarang kamu sudah mendapatkan kebebasan itu?”

Elena menggelengkan kepalanya.

“Kamu mau menemuinya?” Elena membulatkan matanya seketika. “Aku bersedia mengantarmu jika kamu mau menemuinya.”

Elena tampak ragu. Ia ingin menyelesaikan semuanya, tapi rasa takut itu masih ada. Dan akhirnya Elena hanya bisa menganggukkan kepalanya.

***

Yogie membuka matanya ketika mendengar ponselnya yang tidak berhenti berbunyi. Sialan! Itu pasti atasannya yang sedang menghubunginya. Dan ketika Yogie meraih ponselnya, ia membuang begitu saja ponsel tersebut ke lantai hingga berserahkan.

Yogie meraih bantal lalu menutup kembali kepalanya dengan bantal dan bersiap memejamkan matanya kembali. Ia tidak peduli apa yang terjadi nanti, entah nanti dirinya di pecat atau apalah, ia tidak peduli.  Yang terpenting saat ini ia dapat menilangkan rasa nyeri di kepalanya, efek dari minuman beralkohol yang tadi malam ia minum.

Setelah keluar dari apartemen Elena, Yogie memang menghabiskan malamnya di sebuah kelab malam. Mabuk-mabukan sampai pagi. Entah apa yang membuatnya sangat kesal dengan wanita tersebut. Elena bilang jika dirinya bukan siapa-siapa. Oh tentu saja. Lalu apa masalahnya? Kenapa ia sangat kesal saat Elena berkata demikian?

Belum juga Yogie memejamkan matanya kembali. Bunyi bell apartemennya di bunyikan oleh seseorang. Apa lagi sekarang? Siapa lagi yang sedang ingin mengganggunya? Bell tersebut berbunyi lagi dan lagi hingga membuat Yogie kesal dan mau tak mau ia bangun dan berjalan menuju pintu apartemennya tersebut.

Yogie membuka pintu apartemennya dan ia tercengang mendapati siapa yang berdiri di sana.

“Lo?”

“Brengsek! Cepat pakai baju lo dan kita pulang sekarang!”

Yogie mendengus sebal. Sial!! Apa lagi sekarang?

 

-TBC-

Advertisements

7 thoughts on “Elena – Chapter 11 (Tentang Dia)

  1. huwaaahhhhh bingung mo komen apa , yaa allah q shock sampe teriak ga sadar …
    jadi gilang udah mati ?
    dan ternyata nanda teman na gilang dan juga suami jihan , dunia bener” sempit .
    itu siapa yng dateng k apartemen yogie ??

    suka banget ma kata” yogie , karna dulu ada yng bilang gitu juga k q ( berdamai lah dulu dengan diri sendiri , baru u bisa berdamai dengan masa lalu u ) dan sekrang q ketemu lagi ma kata” ini 😅. 😢.
    part ini bikin baper .

    Like

  2. Jd Gilang udah meninggal,,, syukurlah klo gtu… Knp c Yogie km gk jujur aja klo km CLBK lg ama Elena.. Kira2 siapa ya yg jmput Yogie dri Apartementnya???

    Like

  3. Aku gak tau mau ngomong apa saking scok nya aku cuma mau bilang gila aku nge bacanya sambil deg deg an ehh kejutan gilang nya udah meninggal yang jadi pertanyaanya siapa yang di apartement yogie huaaaaaaaa ….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s