romantis

Elena – Chapter 10 (Dia kembali)

elenanewElena

Chapter 10

-Dia kembali-

 

Sudah tiga hari semenjak Elena keluar dari dalam rumah sakit, dan Yogie tidak pernah membiarkan Elena keluar dari apartemennya. Bukan tanpa alasan, Yogie hanya ingin Elena cepat pulih. Sikap wanita itu masih labil, Yogie melihat sisi lain dari Elena, sisi rapuh yang tidak pernah di tampakkan Elena selama ini, dan entah kenap sisi tersebut semain membuat Yogie penasaran, membuat Yogie ingin mengetahui semua tentang wanita tersebut, membuat Yogie ingin melindunginya.

“Apa yang kamu lakukan? Cepat pijat kepalaku.” Perintah Elena sedikit arogan seperti biasanya.

Saat ini Yogie memang sedang memandikan Elena, membersihkan rambut wanita tersebut dengan shampoo, sesekali menggosok punggung telanjang wanita tersebut.

Yogie masih berpakaian lengkap, tentu saja, karena Elena juga belum bisa di ajak bercinta, dan Yogie tidak mengharapkan bercinta dengan wanita itu dalam waktu dekat ini. Bukan karena Yogie takut membuat Elena hamil lagi, percayalah, bukan karena alasan sialan itu. Tapi Yogie ingin kehadirannya di dekat Elena saat ini untuk menemani wanita tersebut, menemani dalam hal perasaan, bukan dalam hal fisik seperti biasanya. Yogie ingin menunjukkan kepada Elena jika kedekatan mereka bukan hanya karena seks semata. Yogie ingin Elena mengerti jika ia tidak akan meninggalkan wanita tersebut meski wanita itu dalam keadaan tidak bisa melakukan seks.

“Rambutmu lembut.”

“Tentu saja, aku perempuan, jadi aku selalu merawatnya.”

Yogie tersenyum miring. “Aku selalu ingin menyentuhnya saat kita SMA dulu.”

“Benarkah? Kenapa bisa seperti itu?”

“Aku menyukaimu Elena, apa kamu tidak tahu kalau dulu aku menyukaimu?”

Elena tertawa lebar. “Suka karena aku populer?”

“Salah satunya karena itu.” Yogie berkata jujur.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Bilang? Kamu terkenal dengan penolakan yang kamu berikan pada setiap anak laki-laki yang menyatakan cinta padamu. Kamu pikir aku punya nyali mengatakan perasaanku padamu?” Yogie membilas rambut Elena hingga busa-busa yang ada di rambut Elena jatuh mengalir di punggung halus wanita tersebut. Yogie menelan ludahnya dengan susah payah saat pikiran mesumnya mulai bangkit.

“Dasar pengecut.” ucap Elena.

Yogie tertawa lebar. “Aku memang pengecut. Berdirilah, aku akan membersihkan bagian tubuhmu yang lainnya.”

Dan Elena dengan patuh berdiri tanpa sedikitpun rasa canggung meski kini ia telanjang bulat menghadap ke arah Yogie sedangkan lelaki itu masih berpakaian lengkap.

Jemari Yogie yang sudah di beri sabun terulur mengusap lembut permukaan kulit Elena, mengusap area payudara Elena dengan lembut tanpa gerakan menggoda seperti biasanya.

“Kamu nggak kerja?” tanya Elena memecah keheningan.

“Apa selalu pertanyaan itu yang bisa kamu tanyakan? Walau aku tidak kerja, aku masih bisa hidup tanpa kekurangan.”

“Dengan cara meminta-minta pada orang tuamu? Apa kamu tidak malu?”

“Tidak, apa yang membuatku malu? Orang tuaku juga tidak punya malu.”

“Oh ya? Aku jadi ingin tahu seperti apa orang tuamu.”

Yogie tersenyum mengejek. “Aku akan mengajakmu bertemu mereka jika kita akan menikah nanti.”

Elena membulatkan matanya seketika tapi kemudian ia sadar jika Yogie hanya bercanda padanya, dan keduanya berakhir dengan tertawa lebar.

“Kalau kamu menemukan wanita belahan jiwamu nanti, apa kamu akan melupakan aku?” tanya Elena tiba-tiba, dan itu membuat Yogie menghentikan pergerakannya seketika.

“Pertanyaan yang sama, Elena, kalau kamu menemukan lelaki belahan jiwamu nanti, apa kamu akan melupakan aku”

“Tidak, karena aku tidak akan menemukannya.”

“Ayolah, jangan menyebalkan, ini kan cuma perumpamaan.”

Elena tersenyum. “Aku akan melupakanmu.”

“Oh ya? Memangnya bisa?”

“Tentu saja. Yang ku ingat darimu hanyalah kejantananmu, memangnya apa lagi?”  Elena berkata sambil tertawa lebar.

“Hanya itu?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan ini.” Secepat kilat Yogie meraih bibir Elena kemudian mencumbunya dengan lembut, hingga membuat Elena tergoda dan mengerang seketika.

“Kamu akan mengingatnya?” tanya Yogie ketika ia melepaskan pagutanya pada bibir Elena.

Elena terengah dengan ciuman tersebut, kemudian tanpa di duga ia memeluk tubuh Yogie, membuat baju Yogie basah karena peluknnya.

“Aku akan mengingat setiap detik saat kamu bersamaku, Gie.”

Yogie menegang seketika. Pernyataan Elena benar-benar di luar dugaannya. Wanita itu biasanya selalu bersikap arogan layaknya perempuan sosialita pada umumnya, tapi beberapa hari terakhir, wanita ini menunjukkan sisi rapuhnya.

Jemari Elena mengusap rahang kokoh milik Yogie sembari bergumam. “Aku tidak pernah sedekat ini sebelumnya dengan seorang lelaki setelah aku lepas darinya.”

Yogie menaikkan sebelah alisnya. “Lepas darinya?” Yogie mengulang kalimat Elena dengan sedikit bertanya.

“Kamu membuatku melupakan sentuhannya, tapi di sisi lain, kamu juga mengingatkanku dengannya.”

“Siapa dia?” tanya Yogie dengan suara paraunya.

“Seseorang yang ingin kulupakan.”

“Dan siapa orang itu?”

Elena menggelengkan kepalanya. “Lupakan saja. Aku kedingingan, apa kamu bisa mempercepat acara mandiku ini?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Elena. Aku hanya ingin tahu siapa dia.” Yogie menghela napas panjang. “Apa itu Gilang?”

Elena membulatkan matanya seketika. “Darimana kamu tahu tentang dia?”

“Kamu sering memanggilku dengan nama itu saat kamu orgasme.” Yogie berkata dengan kalimat frontal dan sedkit menyindir.

“Apa?”

Yogie mendorong tubuh Elena hingga punggung Elena menyentuh dinding kamar mandi.

“Siapa dia? Apa hubungannya denganmu? Apa dia kekasihmu yang lain? Kekasih gelapmu?” Yogie sedikit menggeram kesal.

Elena melirik jemari Yogie yang mencengkeram pundaknya. “Kamu seperti dia.”

“Seperti apa?”

“Seperti orang yang selalu menyakitiku.”

Dan seketika itu juga Yogie melepaskan cengkeraman tanganya. “Maafkan aku.”

“Lupakan saja, aku nggak mau mengingatnya lagi.”

Yogie menghela napas panjang. “Baiklah.” Akhirnya ia mengalah dengan Elena yang seakan menutup dirinya rapat-rapat dari Yogie. Lagi pula, memangnya Yogie bisa apa? Toh Elena memang tidak ingin membahas masalah itu dengannya.

Yogie meraih shower, lalu membilas tubuh Elena hingga bersih dari busa tanpa menghiraukan tuuhnya sendiri yang sudah basah kuyub karena tadi di peluk oleh Elena.

“Kamu marah?” tanya Elena tiba-tiba.

“Marah? Marah kenapa?”

“Karena aku tidak mau bercerita padamu.”

Yogie menggelengkan kepalanya, tatapannya masih terarah pada tubuh telanjang Elena yang masih harus di bilas.

“Kamu terlihat rapuh saat membahas masalah tadi, dan aku tidak suka melihatmu seperti itu.”

“Lalu, kamu sukanya seperti apa?”

Yogie tersenyum miring. Ia meraih sebelah tangan Elena kemudian mendaratkan jemari Elena tersebut pada bukti gairahnya yang sejak tadi sudah menegang. Yogie memang sempat memungkiri ketegangan yang sejak tadi ia rasakan. Ia berusaha meyakinan Elena jika dirinya ada untuk wanita itu bukan hanya ketika wanita itu bisa melakukan seks atau tidak. Yogie mencoba meredam seluruh hasrat primitifnya pada diri Elena sementara ini, tapi nyatanya, pelukan Elena tadi kembali membangkitkan gairahnya. Membuat Yogie tegang seketika dan tidak dapat memungkiri jika ia menginginkan Elena.

“Seperti ini.” Yogie menatap Elena dengan pandangan yang sudah mengabur karena gairah.

“Kamu ingin melakukan seks? Aku belum bisa.”

Bajingan! Yogie benar-benar merasa jika dirinya seorang bajingan, tapi bukankah memang seperti itu? Hubungannya dengan Elena memang tak lebih dari partner seks, lalu apa salaah jika ia meminta Elena meski wanita itu belum bisa memberinya kepuasan?

“Aku ingin bercinta.” Suara Yogie terdengar serak.

“Kita tidak memiliki cinta, jadi kita tidak pernah bercinta. Kita hanya melakukan seks karena kebutuhan masing-masing.”

“Ya, terserah apa katamu, tapi aku benar-benar menginginkanya.”

Elena tersenyum lembut. “Aku suka saat kamu memohon seperti ini.”

“Kenapa?”

“Karena ketika kamu memohon seperti ini, kamu membuatku sadar jika kamu bukan dia, kamu berbeda dengannya.”

“Elena…” Yogie kembali menegang. Sebenarnya dia itu siapa? Apa Gilang? Dan Gilang itu siapa? Teriak Yogie dalam hati.

“Aku akan memberikanmu sebuah pelepasan.” Bisik Elena memotong kaliat Yogie sebelum ia menekuk lututnya di hadapan Yogie, membuka celana yang di kenakan Yogie, melepaskan bukti gairah lelaki tersebut dan membawanya masuk ke dalam bibir ranumnya dengan keahlian menggoda yang di milikinya.

***

Hari ini adalah hari dimana Elena kembali ke kantornya. Ia mencoba melupakan semua tentang hari kemarin, ya, bukankah ia memang sangat ahli dalam melupakan sesuatu? Di kantor, beberapa kali ia mendengar bisik-bisik dari beberapa karyawannya. Inbox dari Yogiepun semakin menjelaskan jika mereka berdua kini menjadi gosip hangat di kalangan karyawannya.

Dan, Elena tidak ingin ambil pusing. Ia tidak ingin merusak hari barunya dengan mengurusi beberapa karyawan pemalas yang hanya suka menggosip. Lebih baik ia mengurus beberapa pekerjaannya yang sempat terbengkalai.

Ponselnya yang bergetar membuyarkan semua konsentrasi Elena. Elena menggerutu kesal, apalagi ketika melihat nama orang yang terpampang di layar ponselnya.

“Halo? Kamu mau apa? Astaga, aku sibuk.” Elena berkata dengan ketus karena tahu jika orang yang sedang menghubunginya itu adalah Yogie yang pastinya hanya ingin menggodanya.

“Makan siang, Elena.”

“Aku sibuk Gie, dan apa kamu mau menegaskn sama semua karyawan kalau kita memang ada hubungan di luar kerja?”

“Tidak, aku hanya perhatian sama kamu. Keluar dari ruanganmu dan mari kita makan siang.”

“Aku nggak mau.”

“Kalau begitu, aku akan menjemputmu masuk ke dalam ruang kerjamu.”

“Sial! Berhenti mengancamku!”

“Aku tidak mengancammu. Aku hanya ingin kamu lebih memperhatikan tubuhmu yang semakin kurus itu.”

“Aku tidak kurus!”

“Ya, kamu kurus, karena aku yang merasakannya. Aku yang memelukmu setiap malam, Elena.”

Elena menghela napas kasar. “Oke, aku akan makan siang, di ruanganku sendiri.”

“Oh, bukan seperti itu rencananya.”

“Yogie, sebenarnya apa mau kamu?”

“Aku merindukanmu.”

Dua kata itu membuat Elena tercengang.

“Masalahnya aku merindukanmu, sialan! Jadi, cepat keluar dari ruang kerja sialanmu itu, dan temui aku di kafe, di perempatan pertama setelah keluar dari kantormu.”

Telepon ditutup begitu saja dan Elena masih tercengang. Oh apa ini?

***

Di dalam kafe.

“Makan.” ucap Yogie sambil menyodorkan makanan yang sengaja ia pesan untuk Elena.

Elena mengerutkan keningnya ketika mendapati banyak sekali makanan yang di pesan Yogie di meja mereka.

“Apa-apaan ini? Kamu pikir aku kelaparan hingga kamu memesan semua ini untukku?”

“Ya, kamu kelaparan.”

Elena mendengus sebal. “Sejak kapan kamu menjadi lelaki yang super menyebalkan seperti ini?”

Yogie mencondongkan tubuhnya ke arah Elena kemudian berbisik di sana. “Sejak frustasi karena  ingin memasukimu, tapi aku tidak bisa melakukannya, aku harus menahannya karena keadaanmu yang belum memungkinkan.”

“Oh, bajingan. Kamu membuat selera makanku hilang.”

“Jangan banyak alasan, Elena. Cepat makan.” Dan akhirnya Elena memakan makanan pesanan Yogie trsebut.

“Kafenya nyaman. Kamu sering ke sini?” tanya Elena sembari menatap ke segala penjuru ruangan.

“Baru beberapa kali.”

“Makanannya juga enak, aku suka.”

“Ini kafe Jihan, temanku yang baru beberapa bulan yang lalu tidak sengaja bertemu denganku.”

“Oh, sepertinya kamu punya banyak teman wanita.” Elena mengucapkan kalimat tersebut dengan sedikit sinis.

“Yang pasti, tidak sebanyak lelaki di masa lalumu.” Sindir Yogie, dan Elena benar-benar merasa tersindir.

Sejak hari dimana Elena memuaskn hasrat Yogie di dalam kamar mandi, Yogie memang selalu penasaran dengan apa yang terjadi pada masalalu Elena, dan itu membuat Elena tidak suka. Beberapa kali Yogie memancing Elena untuk menceritakan masalalunya, tapi tentu saja Elena tidak akan pernah menceritakan masalalunya yang memalukan tersebut.

“Kamu mengajakku ke sini untuk membahas masalah itu? Lupakan saja.” Elena berdiri dan bersiap pergi karen Yogie sepertinya ingin memulai untuk mengorek tentang luka masa lalunya.

“Elena. Kembali duduk dan habiskan makan siangmu.”

“Yogie, kamu bukan siapa-siapa, kamu tidak bisa memaksaku sesuka hatimu.”

“Tapi aku bisa.” geram Yogie.

Yogie terlalu kesal dengan Elena yang seakan menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi apa bedanya dengan dirinya sendiri? Bukankah ia juga tidak pernah menceritakan apapun tentang dirinya pada Elena? Lalu apa salah jika Elena tidak mau menceritakan masa lalu wanita tersebut padanya? Tentu tidak, Bodoh! Ingat, kamu hanya sebgai pemuas nafsu wanita itu, tidak lebih, dan jangan berharap lebih. Pikir Yogie.

“Duduk dan makanlah, aku tidak akan mengganggumu.” ucap Yogie dengan nada lebih lembut karena ia menyadari kesalahannya.

Elena kembali duduk. “Aku semakin tidak mengenalmu saat kamu bersikap seperti itu padaku.”

“Oh ya? Aku juga sama sekali tidak mengenalmu. Kita sama-sama tidak saling kenal, Elena. Apa yang kamu tahu sesuatu tentangku? Tidak ada, bukan? Apa kamu ingin tahu? Tidak, bukan? Begitupun sebaliknya.”

“Ya, itu lebih baik.” jawab Elena sesantai mungkin.

“Tidak denganku.”

“Lalu apa maau kamu, Gie? Apa tidak cukup kalau kita hanya seperti ini saja?”

Yogie hanya terdiam. Apa maunya? Entahlah, ia sendiri tidak tahu apa yang di inginkannya. Yang pasti Yogie ingin Elena selalu menemaninya, Elena tidak lagi menganggap dirinya sebagai lelaki lain, dan ia ingin Elena… Elena… Oh Sial!! Ia tidak boleh menginginkan wanita itu menjadi miliknya selamanya, tidak boleh!

“Aku sudah kenyang, terimakasih makan siangnya.” ucap Elena yang sudah berdiri dan bergegas pergi meninggalkan Yogie yang masih bingung dengan perasaannya sendiri.

Yogie kemudian tersadar dari lamunanya. Tidak! Ia tidak boleh memupuk perasaan sialannya itu. Ingat, ia tidak boleh jatuh cinta dengan Elena, karena jika ia jatuh cinta pada wanita itu, tandanya kesepakatan mereka selesai. Elena akan pergi meninggalkannya, dan Yogie tidak ingin hal itu terjadi. Elena tidak boleh pergi, dan satu-satunya cara untuk membuat Elena tidak pergi meninggalkannya adalah menghapus semua perasaan sialannya yang baru tumbuh pada Elena.

Dengan cepat Yogie bangkit lalu mengejar Elena yang sudah sampai di parkiran.

“Elena.”

“Apa lagi, Gie?”  Elena berbalik ke arah Yogie yang sudah berdiri di belakangnya.

“Aku-”

“Elena?” Yogie tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena terpotong oleh panggilan seorang lelaki yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Elena menoleh ke arah panggilan tersebut, dan matanya membulat seketika, wajahnya pucat pasi ketika mendapati siapa yang berdiri di sana dengan memanggil namanya.

Tidak! Jangan bilang dia kembali. Dia tidak akan kembali, dia tidak akan kembali. Elena merapalkan mantera tersebut dalam hatinya, seakan ia memungkiri jika hal ini tidak terjadi, padahal dalam hati kecil Elena tahu, jika ini benar-benar terjadi. Dia kembali…..

 

-TBC-

Advertisements

7 thoughts on “Elena – Chapter 10 (Dia kembali)

  1. Oh may god gilang kah yang mangil elena ??!! Jangan tuhan kasihan elena moga elena gak gila yah ketemu sama gilang dan yogie sabar yah di samping elena .. Jadi deg deg an nunggu next part nya ..

    Like

  2. itu gilang kan , apa yng akan terjadi , gie plis lindungi elena …
    jangan” gilang suami jihan lagi , ohhhh tidak semoga dugaan q salah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s