romantis

Elena – Chapter 9 (Dia sama saja)

elenanewElena

“Aku, aku hamil.”

Gilang membulatkan matanya seketika. Dengan spontan ia melepaskan cengkeramannya pada pipi Elena.

Elena sendiri mulai menangis. Beberapa minggu terahir ia merasakan ada yang aneh pada tubuhnya, kemudian dua hari yang lalu ia memberanikan diri untuk melakukan tes sederhana, dan hasilnya sama seperti yang ia takutkan. Ia hamil, hasil dari pelecehan yang di lakukan gilang padanya.

Elena benar-benar terguncang, ia masih memerlukan Enam bulan lagi untuk lulus dari SMA, tapi ia sudah hamil? Bagaimana jika nanti perutnya sudah membesar saat ia masih sekolah? Lamunan Elena terhenti ketika Gilang kembali mencengkeram kedua pipinya dengan kasar sembari menatapnya tajam.

“Gugurkan!” hanya satu kata sederhana tapi bagaikan belati yang mampu merobek-robek hatinya. Gugurkan? Bagaimana mungkin Gilang dengan mudah mengucapkan kalimat mengerikan itu?

***  

 

Chapter 9

-Dia sama saja-

 

Elena membuka mata ketika kesadaran mulai menghampirinya. Ia mengerutkan kening ketika menyadari jika dirnya terbangun di atas ranjang rumah sakit. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia sama sekali tidak mengingat apapun?

Ketika Elena bingung mengingat-ingat apa yang terjadi dengannya, Yogie keluar dari dalam kamar mandi yang berada di dalam ruang inap Elena. Lelaki itu tampak segar dengan rambutnya yang sedikit basah. Dan Elena merasakan sebuah ketenangan saat menyadari jika Yogie masih berada di sisinya.

“Kamu sudah sadar?” sapa Yogie yang segera mendekat ke arah ranjang dimana Elena berbaring.

Elena menganggukkan kepalanya. “Apa yang terjadi denganku?”

“Kamu pingsan saat menuju ke rumah sakit.”

“Lalu?”

“Istirahat saja, kamu nggak boleh banyak pikiran.”

“Katakan apa yang terjadi, Gie.” Elena bersikeras. Yogie kemudian duduk di pinggiran ranjang, menggenggam telapak tangan Elena dan mulai menjelaskan apa yang terjadi dengan wanita tersebut.

“Kamu mengalami pendarahan.”

“Pendarahan, maksudnya?”

Yogie menghela napas panjang. “Aku tidak mengerti apa yang terjadi, intinya dokter menjelaskan jika kamu, kamu hamil, janinnya tidak berkembang sebagaimana mestinya, dan mereka meminta ijin padaku untuk mengangkat janin tersebut demi keselamatanmu. Dan aku menyetujuinya.”

Elena hanya tercengang mendengar pernyataan Yogie. Ia hamil? Dan ia kembali merasakan pengalaman itu? Pengalaman dipisahkan secara paksa terhadap calon bayinya? Pengalaman kehilangan yang terasa menyayat hatinya?

“Kamu nggak apa-apa? Wajahmu masih pucat.” tanya Yogie sambil berusaha mengusap pipi Elena, tapi secara spontan Elena menjauh.

Elena menggelengkan kepalanya. “Aku nggak apa-apa, aku mau tidur.” Dan dengan cepat Elena memposisikan tubuhnya miring membelakangi Yogie.

Dia sama saja, dia sama seperti Gilang… pikir Elena sambil memejamkan matanya.

***

“Makan ini.” Elena merasa jika lelaki di hadapannya itu marah karena telah melemparkan makanan yang di bawanya ke arah pangkuan Elena. Kenapa lelaki itu marah? Bukannya harusnya dia yang marah karena baru saja di paksa menggugurkan darah dagingnya?

Saat ini Elena berada di dalam sebuah kontrakan sederhana setelah ia pulang dari klinik aborsi bersama dengan Gilang. Ya, Elena memang sering sekali di ajak Gilang menginap di kontrakan sederhana ini ketika kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri seperti saat ini. Maka jangan heran jika kebusukan Gilang sama sekali tidak tercium oleh siapapun, dan semakin kesini, Elena berharap jika kebusukan itu tidak akan pernah terungkap.

Elena menatap dua potong roti bakar yang baru saja di belikan Gilang untuknya dengan tatapan tak berselera.

“Aku nggak mau makan.”

“Makan, atau aku akan-”

“Aku nggak suka makanan ini, Gilang.”

“Kamu pikir aku kaya raya dan mampu membelikanmu makanan dari restoran mewah? Jangan manja!”

“Aku nggak bisa makan saat ingat dia.” lirih Elena.

“Dia?” Gilang mengerutkan keningnya kemudian tersenyum miring saat tahu apa yang di maksud Elena. “jangan menggelikan, dia bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Dia hanya membuatku sulit untuk memilikimu, dan kamu jangan bermimpi untuk memiliki dia kembali. Ingat, kamu hanya pemuasku, tidak lebih dari itu.”

Elena menangis. Ia menganggukkan kepalanya, dan berjanji jika tidak akan pernah melupakan perkataan laki-laki gila itu.

 

“Ayo, makanlah.” Suara itu membuat Elena sadar dari lamunannya. Terlihat Yogie yang sudah duduk di pinggiran ranjang sambil membantunya memakan makanan yang di sediakan oleh rumah sakit.

“Aku nggak mau makan itu.”

“Kenapa? Ini bagus untuk memulihkan keadaanmu.”

“Aku nggak suka, rasanya pasti hambar.”

“Lalu kamu mau apa?”

“Apa saja asal jangan makanan itu.”

Yogie menhela napas panjang. “Dokter bilang kamu harus menghabiskan makanan ini untuk kesembuhanmu, kamu belum boleh makan sembarangan setelah apa yang baru saja terjadi pada tubuhmu.”

“Tapi, tapi aku nggak bisa makan saat ingat dia.” Lirih Elena. Oh, ia merasa De javu dengan keadaan yang menimpanya saat ini.

“Dia? Maksud kamu?” tanya Yogie tak mengerti.

Elena ingin menangis, tapi tentu dia tidak ingin menangis di hadapan Yogie, untuk apa? Toh lelaki itu tidak akan mengerti perasaan kehilangan yang ia alami saat ini. Perasaan terguncang karena kejadian pahit dahulu terjadi lagi padanya saat ini. Seperti tadi malam, Elena kembali berbaring miring memebelakangi Yogie. Dan itu membuat Yogie heran dengan perubahan sikap Elena.

“Kamu harus makan, Elena.”

“Tinggalkan aku.”

“Apa yang terjadi denganmu? Kamu terlihat seakan-akan kamu marah terhadapku.”

“Aku nggak marah!”

“Ya, kamu marah. Apa kamu marah karena kamu kehilangan ‘hal itu’?”

‘Hal itu’? Sial! Yogie bahkan seakan tidak sudi menyebut janin itu dengan sebutan ‘bayi kita’, lalu apa masalahnya? Kenapa ia ingin marah? Bukankah itu hanyalah sebuah kesalahan? Apa Elena berharap jika dirinya memiliki bayi bersama dengan Yogie? Tidak! Bantah Elena dalam hati.

“Dengar Elena, apapun itu, aku akan menyetujuinya. Jika janin itu akan mempersulitmu bahkan membuatmu meregang nyawa, maka aku akan menyetujui apa yang di sarankan dokter untuk mengangkatnya.”

Elena bangkit seketika, ia merasakan kemarahannya sejak semalam sudah meledak. Meski di ucapkan secara masuk akal, tapi tetap saja bagi Elena, kalimat yang di ucapkan Yogie sedikit mirip dengan apa yang di ucapkan Gilang di masalalu, dan itu membuat Elena murka.

“Mempersulit katamu? Kamu hanya perlu bilang kalau kamu tidak ingin bertanggung jawab, kamu hanya takut jika ‘Hal itu’ mempersulitmu untuk memuaskan hasrat sialanmu itu pada tubuhku!” teriak Elena.

“Apa?” Yogie benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan Elena.

“Pergilah.”

“Elena, jika yang kamu inginkan adalah tanggung jawab, maka aku akan bertanggung jawab meski kamu tidak lagi hamil.”

“Maaf, aku nggak berminat.” Elena kembali memiringkan tubuhnya membelakangi Yogie.

Yogie menghela papas panjang. Elena hanya terlalu sensitif saat ini, dan ia tidak boleh terpancing oleh perubahan sikap yang di tunjukkan oleh wanita tersebut.

“Elena, aku minta maaf, tapi dokter berkata jika kehamilanmu bermasalah, dia memintaku untuk mengambil keputusan  supaya aku-”

“Pergilah.”

Suara serak dari Elena membuat Yogie membatu seketika, Yogie menghentikan kalimatnya karena mendengar Elena yang sedikit terisak. Wanita itu menangis? Kenapa? Apa wanita itu benar-benar sedih kehilangan calon bayi mereka?

Yogie menghela napas panjang. Ia tahu jika Elena tertekan, dan ia harus lebih banyak mengalah seperti apa yang di pesankan dokter padanya.

“Baiklah, aku akan pergi, jangan lupa memakan sarpanmu.” Pesan Yogie sebelum meninggalkan ruang inap Elena. Setelah di tinggal sendiri, Elena tak mampu lagi menahan tangisnya. Ia melihat jemarinya yang mulai bergetar ketika ia membelai perut datarnya. Kenapa hal ini terjadi lagi? Kenapa ia harus merasakan kehilangan lagi?

***

Yogie mengusap wajahnya dengan kasar. Saat ini ia sudah duduk di kursi tunggu tepat di depan ruang inap Elena. Ia kesal dengan sikap Elena yang meledak-ledak seperti saat ini, tapi ia lebih kesal pada dirinya sendiri saat menyadari jika ia tidak bisa melakukan apapun selain melihat kejadian demi kejadian itu berlangsung di depan matanya.

Yogie menatap jemarinya sendiri, ia masih merasakan darah Elena kemarin yang menempel di sana ketika ia menggendong tubuh wanita itu masuk ke dalam IGD dengan begitu panik karena wanita itu sudah tidak sadarkan diri.

 

Yogie tidak berhenti berjalan mondar-mandir di depan pintu IGD, ia bahkan tidak mempedulikan lengan serta jarinya yang terkena darah Elena ketika menggendong wanita tersebut tadi.

Tak lama, seorang dokter keluar dan menghampiri Yogie.

“Anda suaminya?” Yogie terkejut dengan dugaan sang dokter.

“Saya, saya-”

“Kehamilan istri anda bermasalah, janinnya tumbuh di tempat yang tidak seharunya, biasanya kami menyebutnya dengan kehamilan Ektopik, kehamilan di luar rahim.”

“Hamil?” Yogie tampak shock dengan apa yang dikatakan sang dokter.

“Ya, biasanya kami akan langsung melakukan tindakan dengan mmberikan obat supaya janinnya tidak lagi berkembang, atau mengangkat janin tersebut jika sudah pendarahan parah seperti sekarang ini.”

“Apa?”

“Kami hanya perlu tanda tangan anda sebagai walinya untuk menyetujui tindakan yang akan kami ambil.”

“Tapi, apa tidak bisa di petahankan?”

“Kehamilan Ektopik sangat jarang bisa bertahan sampai sembilan bulan, dalam kasus ini, istri anda sudah mengalami pendarahan, jadi janinnya harus di angkat dan di bersihkan.” Yogie tidak mampu lagi mendengar penjelasan-penjelasan ilmiah yang di paparkan sang dokter karena tubuhnya sudah terasa lemas.

Elena hamil, mengandung calon bayinya, tapi ia di paksa untuk menyetujui melenyapkan bayi tersebut demi keselamatan Elena. Gila! Ini benar-benar gila. Apa yang harus ia lakukan?

Semuanya berjalan cepat ketika seorang suster mengajaknya masuk ke dalam ruangan lain, kemudian memberinya beberapa lembar surat pernyataan untuk ia tandatangani. Dan untuk pertama kalinya, Yogie merasakan tangannya gemetaran saat menadatangani surat-surat tersebut.

***  

 

Dua hari berlalu.

Waktu Elena untuk keluar dari rumah sakit akhirnya tiba juga. Selama dua hari terakhir hubungan Elena dan Yogie masih sama. Keduanya saling berdiam diri dan seakan tidak ingin tegur sapa satu dengan yang lainnya jika itu tidak penting.

Elena duduk dengan tenang di pinggiran ranjang, sedangkan Yogie sibuk membereskan barang-barang yang di gunakan Elena selama dua hari terakhir saat berada di rumah sakit.

“Umm, bagaimana dengan kantor?” pertanyaan Elena membuat Yogie menghentikan pergerakannya seketika. Ia kemudian menoleh ke arah Elena, untuk pertama kalinya setelah mala itu, Elena kembali menyapanya lebih dulu.

“Kantor menggila.”

“Menggila? Maksudmu?”

“Banyak gosip tentang kita, tapi tidak sedikit yang tahu jika kamu sakit dan aku membawamu ke rumah sakit.”

“Ohh.”

“Bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Yogie sedikit penasaran.

“Mama dan Papa masih di London, mereka memang sempat menelepon, mungkin salah satu dewan direksi menghubungi mereka menanyakan keberadaanku.”

“Dan apa yang kamu katakan pada mereka?”

“Kamu tenang saja, aku tidak akan membawa namamu, aku hanya bilang kalau aku sakit karena kelelahan.”

“Elena, kamu tahu jika bukan itu maksudku.”

“Gie, jangan mulai lagi.”

Yogie berjalan menuu ke arah Elena kemudian mengusap lembut pipi wanita tersebut.

“Aku tidak ingin memulainya, tapi kamu berkata seakan-akan aku menginginkan hal ini terjadi. Percayalah, jika aku memiliki pilihan lain, aku akan memilihnya.”

“Lupakan saja.”

“Kamu tidak akan melupakannya, Elena. Kamu hanya akan selalu berpikir jika aku yang menginginkan semua ini terjadi.”

“Tapi bukannya kejadian ini lebih bagus? Dengan begini kamu tidak akan terikat denganku.”

Yogie mendengus sebal. “Kamu berkata seakan-akan aku tidak ingin terikat, berapa kali kubilang, aku akan bertanggung jawab meski kamu tidak hamil lagi, jika itu yang kamu mau.”

“Dan kamu berkata seakan-akan aku yang menuntut pertanggung jawabanmu.” Elena tidak mau mengalah.

“Oke, salahkan aku, apapun terserah kamu. Dalam hal ini apapun yang ku jelaskan akan selalu salah di matamu. Sekarang ayo kita pulang.”

“Aku mau pulang ke rumah.” Lirih Elena.

“Tidak! Kita tetap akan pulang ke apartemen kamu.”

“Gie.”

“Kumohon jangan membuatku marah Elena, sejak kemarin kamu membuat kepalaku nyaris pecah karena sikapmu. Dan sekarang jangan lagi menyulut kemarahanku.” geram Yogie .

Elena hanya diam, tidak ingin kembali beradu argumen dengan Yogie, ia masih marah, masih kesal, tapi ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya marah dan kesal terhadap lelaki tersebut.

***

Akhirnya sampailah mereka di apartemen Elena. Yogie dengan lembut menuntun Elena masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Elena masih diam membisu sejak keluar dari ruang inapnya tadi.

“Tidurlah, aku akan carikan kamu makanan.”

“Kamu nggak kerja?”

“Enggak.”

“Kalau di pecat gimana?”

“Kamu tidak akan memecatku.” Yogie tersenyum miring di ikuti dengan senyuman lembut dari bibir Elena.

“Kalau aku memecatmu bagaimana?”

“Tidak akan.”

“Kalau begitu aku akan menelepon atasanmu, dan menyuruhnya untuk memecatmu.” Elena meraih ponselnya, berpura-pura menghubungi atasan Yogie, tapi kemudian Yogie menerjang tubuhnya hingga keduanya jatuh di atas ranjang dengan posisi Yogie menindih tubuh Elena.

Yogie berusaha merebut ponsel Elena, sedangkan Elena berusaha menjauhkannya sembari terkikik geli karena jemari Yogie mulai menggodanya.

“Berikan padaku, Honey, atau aku akan menggigitmu.”

“Hahaha, tidak, aku tidak akan memberikannya. Astaga, hentikan! Yogie hentikan!” seru Elena ketika Yogie mulai meremas payudaranya, menggoda supaya Elena menyerah dan memberikan ponselnya.

Tapi Yogie seakan tidak mengindahkan permintaan Elena, ia malah mendaratkan wajahnya pada permukaan dada Elena, menggigitnya di sana tanpa membuka pakaian yang di kenakan Elena.

“Gie, berhenti, uugghh.”

Yogie menghentikan aksinya seketika, ia mengangkat wajahnya hingga matanya bertemu pandang dengan mata Elena. Cukup lama keduanya saling pandang dengan debaran jantung masing-masing, hingga kemudian mata Yogie teralih pada bibir Elena yang sedikit terbuka karena terengah.

Dengan pelan Yogie mendaratkan bibirnya pada bibir Elena, mengecupnya lembut, kemudian melumatnya dengan pelan tapi pasti. Lidahnya menari dengan lidah Elena, seakan menyalurkan kerinduan yang tidak tersampaikan, seakan menepis semua jarak yang membentang di antara mereka selama dua hari terakhir.

“Aku merindukanmu, aku merindukanmu, Elena.” bisik Yogie serak ketika bibirnya bergerak ke arah rahang Elena.

“Aku juga, oh, sentuh aku.” Elena memohon, tapi kemudian ia kecewa saat Yogie menghentikan aksinya.

Yogie terduduk seketika. Meninggalkan Elena yang sudah kacau karena ulahnya. Sedangkan Elena sendiri memilih tetap terbaring ketika hatinya sakit saat mendapatkan penolakan secara tidak langsung dari Yogie.

“Kita tidak bisa melakukannya, kamu masih-”

“Aku tahu.” potong Elena cepat.

Yogie menatap Elena seketika. “Jangan berpikir macam-macam Elena, aku tidak bisa menyentuhmu karena kamu masih dalam masa pemulihan akibat pendarahan. Bukan karena aku tidak mau.”

Elena tersenyum mengejek. “Ku kira kamu menolakku karena kamu takut kembali membuatku hamil.”

“Elena.”

“Oke, aku mengerti, kamu benar, aku tidak bisa di pakai saat ini, jadi pergilah.” ucap Elena sambil bangkit dan bersiap menuju ke arah kamar mandi, tapi kemudian dengan cepat Yogie menarik pergelangan tangannya.

“Apa yang terjadi denganmu? Kamu mau aku ngapain biar kamu berhenti bersikap menyebalkan seperti ini padaku?”

Yogie melihat punggung Elena bergetar, wanita itu sedang menangis, tapi Yogie tahu jika wanita itu tidak ingin dirinya melihat tangis wanita tersebut. Dengan spontan Yogie menarik tubuh Elena dalam pelukannya, memeluk Elena dari belakang dengan sesekali menunduk dan mengecup lembut pundak Elena.

“Maaf.” Entah berapa kali Yogie mengucapkan kata tersebut, tapi bukannya membuat Elena membaik, kata itu malah membuat tangis Elena semakin menjadi.

“Menangislah, anggap aku tidak berada di ruangan ini, jadi kamu bebas menangis sesuka hatimu.”

Pelukan Yogie semakin erat seiring dengan tangis sesenggukan dari Elena. Elena tidak mengerti kenapa dirinya menjadi sangat cengeng seperti saat ini, yang dia tahu adalah, jika lelaki yang sedang memeluknya ini memiliki dua sisi yang berbeda, sisi yang mampu menghapus bayang-bayang masalalunya, dan juga sisi yang secara bersamaan mampu memanggil bayang masalalunya hadir kembali memporak-porandakan benteng kengkuhan yang selama ini ia bangun.

Yogie, siapa kamu? Kenapa kamu mengingatkan aku dengan dia? Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benak Elena.

 

-TBC-

Advertisements

8 thoughts on “Elena – Chapter 9 (Dia sama saja)

  1. Sedih melihat Elena yg kehilangan bayinya utk kedua kalinya…andai Yogie tau bgmn mslalu Elena yg sgt menyedihkan… Trus skrg apa kabarnya Gilang yah??

    Like

  2. Akhirnya update juga…sedih elena harus kehilangan janin yang kedua kalinya.kayaknya keduanya dah saling mencintai tpi gak saling jujur bahwa mereka saling membutuhkn…

    Like

  3. sedih yaa ampyun elena kasian harus mengalami hal yng sama 2x , gie seandai na u tau apa yng terjadi dengan masa lalu elena u pasti tidak akan memaaf kan diri u sendiri …
    tapi gie juga ga punya pilihan lain …
    part ini bener” bikin q baper , aduhhhh bu kau mmbuat perasaan q campur aduk , semoga az gilang ma gie tidak pernah saling kenal …
    dan semoga secepat na eleena hamil lagi …

    Like

  4. Elena kenapa tidak menceritakan saja pada yogie tentang masa lalunya itu, kan yogie nggak sama dengan gilang. Yogie sebenarnya kan cinta sama elena.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s