romantis

Sang Pemilik hati – Chapter 2 (“Jadilah kekasih saya.”)

sph2Sang Pemilik hati

Ketika Yoga mulai dapat mengendalikan dirinya, sosok cantik yang mengintip dari balik tubuh adikny itu membuyarkan semua pengendalian dirinya. Sosok manis yang sudah menarik perhatiannya sejak Empat tahun yang lalu. Sosok yang menjadi salah satu alasan kenapa ia masih mau pulang ke Jakarta.

Sosok itu…. Nana Erieska. Kenapa Nana di sini? Kenapa Nana bisa bersama denga Rino, adiknya? Apa hubungan keduanya?

***

Chapter 2

-“Jadilah kekasih saya.”-

 

Keempatnya masih terdiam, saling menatap dengan tatapan terkejut masing-masing, tentuya kecuali Kesha. Kesha tampak biasa-biasa saja, bahkan tampak senang karena bertemu dengan Rino. Kesha bahkan seakan tidak menyadari ketegangan di antara ketiganya.

“Mas Rino kok di sini?” pertanyaan Kesha membuat suasana sedikit mencair.

“Lagi jalan.” jawab Rino sedikit cuek, sedangkan tatapan matanya masih terpaut pada sosok Yoga.

“Mas nggak sekolah?” tanya Kesha dengan waah polosnya.

“Kamu juga nggak sekolah.” Rino kembali menjawab dengan nada cuek. Sikap Rino memang seperti itu, dan itu membuat Kesha tampak biasa-biasa saja dengan sambutan kakaknya yang tidak ramah itu.

Kesha kemudian melirik ke arah Nana yang masih berdiri di belakang Rino. Kemudian beberap pertanyaan menggelitik pikirannya.

“Mas, Mas sama siapa?” tanyanya sambil menatap Nana dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Rino menoleh sebentar ke arah Nana, kemudian menjawab dengan cuek, “Pacarku.”

“Wah, Mas Rino udah punya pacar.”

Entah apa lagi yang di ucapkan Kesha, Nana tidak tahu karena Nana hanya bisa menunduk ketika ia melihat mata memikat di hadapannya itu mulai menunjukkan sinar redupnya.

Cukup lama Kesha dengan mulut cerewetnya bertanya jawab dengan Rino yang menjawab pertanyaan Nana dengan nada-nada cueknya, hingga kemudian pertanyaan Rino membuat suasana kembali menegang.

“Lo suka sama cewek gue? Kenapa lihatin dia kayak gitu?” Pertanyaan tidak bersahabat yang di ajikan Rino pada Yoga tentunya.

Kesha menatap Yoga dengan tatapan bingungnya, Nana sendiri seketika mengangkat wajahnya, ia menatap Rino dengan tatapan tak percayanya, bagaimana mungkin Rino mengatakan hal itu? Mana mungkin juga lelaki di hadapannya itu menyukainya, sedangkan mereka  mungkin saja baru bertemu hari ini.

“Kenapa kamu bilang seperti itu?” Yoga berbalik bertanya dengan setenang mungkin, padahal kini perasaannya sedang tak karuan.

Nana, adalah gadis yang membuat hidupnya lebih bersemangat sejak Empat tahun yang lalu. Setelah pertemuan pertamanya hari itu, Yoga selalu saja menanyakan tentang Nana pada Bian, kakak Nana. Entah itu tentang kehidupan Nana, atau tentang apapun yang di lakukan Nana di rumah. Yoga seakan sudah terpaut pada gadis mungil itu. Bian, temannya yang tak lain adalah kakak Nana, bahkan sampai menggelengkan kepalanya, bagaimana mungkin Yoga tertarik dengan anak yang usianya baru dua belas tahun?

Hari demi hari Yoga lewati, hingga kemudian dirinya lulus perguruan tinggi dan memilih bekerja di Surabaya, di kantor cabang milik ayah tirinya, ayah Rino. Ketika Weekend tiba, Yoga memilih pulang, bertemu dengan sang ibu dan juga keluarganya, termasuk Rino, tapi yang paling dia nantikan adalah ketika mendengar kabar tentang Nana dari Bian.

Bian bahkan menyebut Yoga gila, jika Yoga menyukai Nana, kenapa tidak langsung menemui Nana saja? Kenapa harus mencuri-curi pandang seperti seorang maling yang takut ketahuan? Yang yang bisa Yoga jawab adalah, ia takut jika Nana lari ketakutan karena dirinya yang begitu tergila-gila pada gadis tersebut.

Kini, kenyataan di depannya sunggu di luar dugaan. Kenapa bisa Rino berpacaran dengan Nana? Kenapa Bian tidak pernah bercerita jika Nana memiliki seorang kekasih? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang menari-nari di kepalanya.

“Lo nggak berhenti lihatin dia.”

“Melihat belum tentu suka.”

“Oh ya? Gue bakal ingat apa yang lo bilang hari ini.” ucap Rino sambil tersenyum miring.

Yoga hanya mampu menatap adiknya itu dengan tenang dan datar, tanpa sedikitpun terlihat emosi. Selama ini Rino selalu memperlakukan Yoga dan ibunya seperti hama yang membuat keharmonisan rumah tangga Mama dan Papanya hencur hingga berujung kematian Mamanya. Dan Yoga hanya mampu diam tanpa melawan adiknya itu

Memangnya apa yang perlu ia lawan? Nyatanya memang seperti itu. Ibunya datang merusak hubungan Mama dan Papa Rino, membuat Mama Rino yang sudah sakit semakin parah, dan wanita itu meninggal, meninggalkan Rino dengan dendam yang sepertinya tak akan pernah padam di dadanya. Yoga menyadari, jika ia di posisi Rino, mungkin ia juga akan melaukan hal yang sama. Karena itulah Yoga selalu menyadari posisinya yang selalu salah di mata adik tirinya itu.

Mengenyahkan pikiran-pikiran yang membelit di kepalanya, Yoga melirik ke arah arloji yang melingkat di tangan kirinya.

“Kesha, sudah sore, kita pulang ya?” tanya Yoga sambil menatap lembut ke arah adiknya.

“Kok pulang sih, Mas?”

“Mas ada kerjaan setelah ini.”

“Ini kan weekend,  harusnya kalau sudah di Jakarta Mas jangan lagi mikirin pekerjaan.” Gerutu Kesha.

Yoga tersenyum lembut. “Mas lagi ada janji, Sha.”

Kesha mendesah panjang kemudian menganggukkan kepalanya. “Ya sudah, aku sama Mas Yoga pulang dulu ya, Mas Rino kapan-kapan ajak pacarnya main ke rumah dong.”

“Pasti.” Hanya itu jawaban Rino.

“Hore, dan kakak, semoga betah sama sikap Mas Rino.” ucap Kesha pada Nana yang seketika di balas Nana dengan senyuman lembutnya.

Yoga dan Kesha akhirnya pergi meninggalkan Rino dan Nana. Seketika itu juga Rino melepaskan genggaman tangannya yang entah sejak apan sudah menggenggam telapak tangan Nana.

“Siapa mereka?” meski Nana dapat sedikit menebak hubungan Rino dengan dua orang tadi, tapi Nana belum puas jika belum mendapat penjelasan sendiri dari Rino.

“Bukan siapa-siapa.” jawab Rino dengan cuek.

“Ihh, ngeselin, di tanya baik-baik juga.” gerutu Nana.

“Adikku, apa kau puas?”

“Kalau yang satunya?”

Rino menatap Nana dengan tatapan tajamnya. “Kenapa kamu tanya tentang dia? Kamu suka?”

“Bertanya belum tentu suka, kan? Ngeselin banget.”

“Lupain aja, dia bukan siapa-siapa.” Kemudian Rino berjalan pergi begitu saja meninggalkan Nana yang mau tak mau mengikutinya walau dengan menggerutu di dalam hati.

***

Entah sudah berapa lama Yoga duduk di pinggiran ranjangnya. Sesekali ia memijit pangkal hidungnya karena merasakan nyeri di kepalanya. Yoga melirik ke sebuah meja kecil yang ada di sebelah ranjangnya, di sana ada foto seorang gadis sedang tertawa lebar, siapa lagi jika bukan Nana Erieska? Di raihnya foto tersebut di tatapnya dengan mata sendunya.

Nana, bagaimana ungkin gadis itu berpacaran dengan adiknya sendiri? Yang benar saja, Yoga tidak akan bisa mendekati Nana lagi jika kekasih Nana adalah Rino, dan Rino, Astaga, vagaimana mungkin adiknya itu tertarik dengan gadis polos seperti Nana Erieska?

Yoga memejamkan matanya frustasi, kemudian ia bangkit ddan bergegas pergi mencari udara segar. Mungkin ia harus bertemu dengan Bian, dan tentunya mmencari tahu kabar tentang Nana. Oh sial! Yoga benar-benar tidak bisa berpaling lagi dari sosok Nana Erieska.

***

Setelah makan malam dengan kedua orang tuanya, Nana lekas beranjak menuju kamarnya. Jika biasanya ia akan bersenda gurau terlebih dahulu dengan kakaknya di teras rumah, maka malam ini tidak. Bian, kakakya itu pergi sejak sore an belum juga kembali, padahal sudah lewat jam makan malam. Semakin sering seperti itu setelah kakaknya itu mengenalkan kekasihnya, Friska, pada keluarga mereka.

Nana menghela napas panjang. Jika nanti kakaknya itu menikah, ia tentu merasa kehilangan. Bian memang  sering usil padanya, tapi kakaknya itu selalu melindunginya, dan Nana sangat menyayangi kakaknya itu, begitupun sebaliknya.

Nana melemparkan diri di atas ranjang mungilnya. Jemarinya meraih sebuah novel yang tadi baru ia baca beberapa lembar dan ia tinggal begitu saja di atas ranjangnya ketika sang ibu memanggilnya untuk makan malam. Dibacanyaa lagi novel tersebut, tapi kemudian ia berakhir merutuki dirinya sendiri karena sama sekali tidak bisa berkonsentrasi terhadap apa yang ia baca.

Konsentrasinya terpecah dengan keadaan yang tadi siang ia alami. Rino, kakak kelasnya yang sangat menyebalkan, tapi dia suka, dan juga, lelaki itu. Oh, kenapa lagi ia memikirkan lelaki itu? Memangnya siapa dia? Kalaupun lelaki itu benar-benar teman kakaknya, memangnya kenapa? Tidak! Nana tidak ingin lagi memikirkan lelaki yang memiliki mata memikat itu.

Ketika Nana sibuk menggelengkan kepalanya karena menepis semua bayang-bayang dari sepasang mata yang memikatnya, ia mendengar ketukan pintu kamarnya. Siapa? Biasanya sang ibu sudah tidak akan mengganggunya ketika Nana sudah masuk ke dalam kamar setelah makan malam. Apa itu kakaknya? Dan jika itu kakaknya, maka Nana tidak ingin membuka pintu tersebut, kakaknya pasti sedang mengganggunya, atau menjailinya seperti biasanya, dan saat ini, Nana sedang tidak ingin di jahili.

Tapi pintu tersebut di ketuk semakin keras dan Nana mendengar sang kakak memanggil-manggil namanya seakan ada hal penting yang ingin disampaikan kakaknya tersebut.

Dengan enggan Nana bangkit dan membuka pintu kamarnya. Ia mendapati sang kaka sedang berdiri dengan cengiran khasnya.

“Ada apa sih, Mas?”

“Ayo, ikut Mas turun.” Bian menyeret Nana keluar dari kamarnya, sedangkan Nana hanya bisa menuruti apa mau Bian walau dengan menggerutu kesal karena ia kini hanya mengenakan baju tidur tipisnya.

“Mas, kita mau kemana?” tanya Nana sedikit kesal karena ternyata Bian mengajak Nana mmenuju ke teras rumah mereka.

Nana tercengang ketika berada di teras rumah mereka. Di sana ada Friska, kekasih Bian, dan juga lelaki itu, lelaki dengan mata memikatnya, wajah tampannya, dan suara beratnya.

Lelaki itu berdiri seketika saat melihat kedatangan Nana, keduanya saling pandang cukup lama dan berhenti ketika Bian mengganggu suasana caanggung di antara ereka.

“Kalian ngapain pandang-pandangan gitu?”

Pertanyaan Bian sontak mengalihakan pandangan Nana dan juga Yoga ke arah lain. Salah tingkah satu sama lain hingga membuat Bian tertawa lebar dan mendapatkan hadiah cubitan dari Friska, kekasihnya.

“Oke, Na, Mas Bian nyuruh kamu turun sebentar untun nemani teman Mas sebentar. Namanya Yoga.”

“Kok aku?”

“Mas mau ngantar kak Friska pulang dulu. Nggak enak kan kalau ad tamu dan di tinggal?”

Nana mengerucutkn bibirnya. Bukannya Nana tidak ingin, tapi Nana benar-benar merasa canggung di sekitar lelaki itu, lelaki yang dulu sering i bayangkan ketika dirinya masih SMP. Dan astaga, lelaki ini ternyata lebih tampan dari bayangannya.

Nana menggelengkan kepalanya cepat saat menyadari jika pikirannya mulai ngelantur kemana-mana.

“Kenapaa geleng-geleng gitu? Ngelamunin Boyband favorit kamu ya?”  tanya Bian dengan mengejek.

“Apaan sih Mas.”

“Hahaha ya sudah, aku tingal dulu. Temanin bentar ya, Na.” Nana hanya menganggukkan kepalanya. Ia mulai berjalan mendekat ke arah lelaki yang bernam Yoga tersebut, kemudian duduk di sebelah lelaki itu ketika bayangan kakaknya dan juga Friska menghilang dari balik gerbang pintu rumahnya.

Tiba-tiba Nana melihat lelaki di sebelahnya itu mengulurkan telapak tangannya. Nana melihat jari  jemari lelaki itu yang terlihat panjang dan lebih besar jadi pada jemarinya. Kemudian pandangan Nana teralih pada wajah lelaki itu. Lelaki itu menampakan senyuman yang paling mempesona, senyuman yang seakan mampu membuat perut Nana terasa mulas karena kepakan dari ribuan kupu-kupu yang bersarang di sana.

“Prayoga.”

Oh, suaranya. Terdengar sangat maskulin. Apa ini yang di sebut dengan suara bariton pada novel-novel romantis yang pernah ia baca? Jika iya, maka lelaki di hadapannya itu adalah jelmaan dari lelaki yang ada di dalam novel yang pernah ia baca.

Masih dengan ternganga karena terpesona dengan ketampanan yang terpahat sempurna pada wajah lelaki di hadapannya itu, Nana membalas uluran tangan lelaki tersebut.

“Nana.” Hanya itu yang dapat Nana ucapkan. Ya Tuhan, bagaimana mungkin ia bisa sekikuk ini dengan lelaki yaang baru aja di temuinya?

“Jadi, Nana, kamu yang tadi siang bolos dengan adik saya, eh?” tanya Yoga dengan senyuman lembutnya.

Nana mendelik seketika. Oh sial, ia bahkan lupa tentang kejadian membolos tadi siang karena terlalu sibuk dengan keterpesoaannya pada sosok adonis di hadapannya itu. Bagaimanapun juga lelaki di hadapannya itu adalah teman kakaknya, bagaimana jika lelaki itu mengadukan aksi membolosnya tadi siang pada sang kakak? Oh, Bian pasti akan sangat marah. Apalagi mengingat jika dirinya membolos dengan seorang pria. Dan apa tadi dia bilang, Adik? Jadi Rino benar-benar adik dari lelaki tersebut? Tapi kenapa sikap Rino begitu kurang ajar dengan lelaki itu tadi siang?

“Uum, itu, saya.”

“Kamu tidak perlu takut, saya tidak akan bilang sama Bian.”

Nana menghela napas lega saat mendengar penjelasan Yoga. Ya, Yoga terlihat seperti sosok yang baik ketika di lihat dari wajahnya, Yoga tentu tidak mungkin mengadukannya pada sang kakak.

“Tapi saya punya syarat untuk kamu, untuk menjadi penutup mulut saya.” Lanjut Yoga yang seketika itu juga membuat Nana menatap Yoga dengan penuh tanya.

Syarat? Syarat apa? Kenapa lelaki yang baru di kenalnya itu mengajukan syarat padanya? Yang benar saja.

“Syarat? Syarat apa, Mas?”

Entah dari mana Nana berani memanggil lelaki itu dengan panggilan ‘Mas’, selama ini Nana hanya memanggil kakaknya dengan penggilan itu, tidak ada lagi lelaki yang di panggilnya dengan panggilan tersebut, tapi dengan Yoga, entah kenapa ia ingin memanggil lelaki itu dengan panggilan yang menurutnya lebih akrab di dengar.

“Nana.”

Lelaki itu kembali memanggil nama Nana dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya. Dan itu membuat Nana menatap penuh tanya pada lelaki tersebut.

“Jadilah kekasih saya.”

Dan tiga kata tersebut sontak membuat Nana membulatkan matanya seketika. Menjadi kekasihnya? Kekasih seorang Prayoga yang memiliki ketampanan di atas rata-rata? Kekasih Prayoga, yang ternyata kakak dari orang yang kini menjadi pacarnya? Oh apa lagi ini? Tidak cukupkah kehidupan di sekolahannya berantakan karena seorang Rino Permana? Dan kini seakan Tuhan menambah lagi sesosok Prayoga untuk kembali membuat hidupnya semakin jungkir balik karenanya. Apa ia memiliki kesalah di masa lampau hingga Tuhan menghukumnya dengan cara menggelikan seperti ini? Oke, ini berlebihan. Tapi demi Tuhan, seorang Rino saja sudah mampu membuat jantungnya jumpalitan tidak keruan, apalagi di tambah dengan seorang Prayoga?

 

-TBC-

Adakah yang menunggu cerita ini?? semoga ada hahhahahha

Advertisements

4 thoughts on “Sang Pemilik hati – Chapter 2 (“Jadilah kekasih saya.”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s