romantis

Elena – Chapter 8 (Sensitif)

elenanewElena

Setelah cukup lama keduanya tenggelam dalam gelombang orgasme, Elena yang sadar lebih dulu akhirnya mendorong dada Yogie supaya lelaki tersebut lekas menarik diri dari tubuhnya.

“Ada apa?” tanya Yogie dengan sedikit malas.

“Kamu nggak pakek pengaman?”

“Aku baru pulang dari kantor, Elena, kamu pikir aku semesum itu hingga aku mengantongi alat kontrasepsi kemanapun aku pergi?”

Elena mengusap wajahnya dengan frustasi. “Shit!” umpatnya.

“Apa lagi sekarang?” tanya Yogie masih dengan nada malas-malasnya karena.

“Aku tidak lagi meminum pil sejak aku ke luar negeri sebulan yang lalu.” Dan seketika itu juga mata Yogie membulat ke arah Elena. Oh sial! Bagaimana kalau, kalau….

 

Chapter 8

-Sensitif-

 

“Kenapa ekspresimu seperti itu?” tanya Elena yang tidak nyaman saat Yogie menatapnya dengan tatapan ngerinya.

“Kenapa?”

“Kamu terihat takut jika akan terjadi sesuatu denganku.”

“Aku tidak takut, aku hanya sedikit shock.”

“Benarkah?” pancing Elena.

“Dengar, kalaupun terjadi sesuatu denganmu, aku akan tanggung awab, pegang saja omonganku.”

“Dan aku tidak mengharapkan tanggung jawabmu.”

“Elena.”

“Aku tidak akan hamil!” pungkas Elena sambil bengkit menuju ke arah kamar mandi. Secepat kilat Yogie ikut bangkit lalu meraih pergelangan tangan Elena.

“Kalau begitu, kita bisa mengulangi hal panas tadi sekali lagi.”

Elena membulatkan matanya seketika. “Tidak!”

Yogie mendekat, seakan mencoba mengenyahkan pikiran erotis yang menari-nari dalam kepalanya saat menyadari jika mereka berdua kini masih berdiri dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun.

Please, aku merindukanmu.” bisik Yogie serak sambil mengecup lembut pipi Elena.

Elena memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya ketika ia merasakan sentuhan lembut yang di berikan Yogie padanya. Jemari Yogie kemudian mengusap bbir Elena dengan gerakan menggoda, sedangkan sebelah tangannya yang lain sudah menangkup payudara Elena yang seakan sudah melambai-lambai ingin di sentuh.

“Gie…”

“Sekali lagi, Honey.”

Elena menganggukkan kepalanya. “Gendong aku ke kamar mandi.” Dan setelah kalimat Elena tersebut, Yogie mengangkat tubuh Elena, menggendong wanita tersebut dengan semangat ke dalam kamar mandi, dan melakukan sesi tambahan dengan senang hati.

***

Beberpa minggu berlalu…

Elena tidak berhenti menggerutu kesal saat mendapati Yogie yang masih tidur setengah telungkup di atas ranjangnya. Entah sudah berapa kali Elena membangunkan lelaki tersebut, tapi Yogie sudah seperti orang yang sedang pingsan karena tidak ingin beranjak dari ranjang empuk milik Elena.

“Bangun Gie! Atau aku akan menyirammu dengan air dingin.”

“Hemm.” Seketika Yogie bangun dan mengucek matanya dengan ekspresi polosnya. “Jam berapa?”

“Jam delapan.” Elena menjawab dengan ketus.

Yogie mengerutkan keningnya  ketika sadar jika Elena sedang bersikap ketus padanya. Ada apa? Tidak biasanya Elena bersikap seperti itu padanya, apa wanita itu kurang puas dengan seks mereka semalam?

Yogie bangkit seketika tanpa mempedulikan ketelanjangannya. Ia berjalan ke arah Elena yang masih sibuk merias wajahnya di depan meja riasnya.

“Ada masalah?”

“Enggak!” sekali lagi Elena bersikap ketus pada Yogie.

Yogie menghela napas  panjang. “Apa aku kurang memuaskanmu semalam?”

“Oh Sial! Kamu pikir aku hanya memikirkan kepuasanku?” tanya Elena dengan kesal.

“Lalu kenapa kamu bersikap menyebalkan seperti saat ini?”

“Karena kamu tidak segera bangun dan mengangkat bokongmu dari ranjangku.”

Yogie mendengus kesal. Dengan sesekali mengumpat kasar ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar Elena. Setelah Yogie menghilang di balik pintu tersebut, Elena menghela napas panjang. Ada apa dengannya? Ya Tuhan, jangan bilang kalau ketakutannya beberapa hari terakhir terjadi. Pikir Elena.

Setelah selesai merias diri, Elena keluar dari dalam kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi, ia lalu menuju ke arah dapur, mengeluarkan roti beserta Nutella untuk sarapannya bersama dengan Yogie.

Setelah pulang dari luar negeri, hubungan Elena dengan Yogie memang semakin membaik. Keduanya bukan hanya menjadi partner seks yang sempurna, tapi juga menjadi teman hidup yang cocok satu sama lain. Elena sudah tidak lagi kesal saat Yogie mulai menggunakan apapun barang di dalam apartemennya sesuai dengan keinginan lelaki tersebut. Kini, ia bahkan sudah biasa berbagi apapun dengan Yogie, dan itu membuat keduanya semakin dekat. Apalagi kenyataan jika Yogie hampir tidak pernah pulang dan selalu menghabiskan waktunya di dalam apartemen Elena ketika pulang dari kerja, mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih yang sudah tinggal seatap.

Tapi, satu hal yang membuat Elena stress beberapa hari terakhir, tentu saja tentang periode bulanan yang belum juga menghampirinya. Oh, sial! Semoga saja apa yang ia khawatirkan tidak terjadi.

Elena menghentikan pergerakannya saat ia tiba-tiba merasakan kram pada perut bawahnya, Elena mengerang sesekali meremas perutnya tersebut, pada saat bersamaan ia melihat Yogie yang baru keluar dari dalam kamarnya. Lelaki itu sudah rapi dengan kemeja tanpa dasinya.

Yogie tampak mengerutkan keningnya ketika melihat ke arah Elena. Elena tampak meringis kesakitan dan Yogie tidak pernah melihat Elena seperti itu.

“Ada apa?” tanya Yogie sedikit khawatir sambil berjalan ke arah Elena.

“Enggak.”

“Kamu sakit? Nggak perlu ke kantor kalau sakit.”

Elena menggelengkan kepalanya. “Duduklah, kita sarapan bareng.”

Yogie hanya mengangkat sebelah alisnya kemudian duduk di hadapan Elena. Ia memperhatikan Elena yang mengambil selembar roti lalu mengoleskannya dengan Nutella, wanita itu tampak santai tapi keningnyaberkerut seakan sedang menahan sesuatu. Kenapa?

“Kamu sakit, Elena?”

“Enggak.”

“Tapi-”

“Please Gie, kamu nggak perlu mikirin aku, aku sudah cukup stress dengan apa yang ku alami, jadi aku tidak ingin berdebat denganmu.”

“Apa yang kamu alami? Aku hanya ingin tahu.”

“Nggak penting!”

“Elena.”

Elena menghela napas dengan kasar. “Aku sudah telat menstruasi sejak tiga minggu yang lalu, apa kamu puas?!”

Yogie membulatkan matanya seketika. “Kamu, kamu-”

“Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak hamil!”

Yogie berdiri seketika. “Kita akan memeriksakannya.”

“Tidak!”

“Elena.”

Elena ikut berdiri dan berteriak kesal pada Yogie. “Aku tidak akan hamil, dan aku tidak ingin di periksa.” Lalu Elena bergegas pergi begitu saja tanpa mengindahkan teriakan-teriakan Yogie yang memanggil namanya.

***

Siangnya.

Elena tidak berhenti meringis kesakitan, kram di perutnya semakin menjadi membuatnya tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Beberapa kali ia menghentikan aktivitasnya di balik meja kerjanya dan memilih bersantai sebentar di sofa panjang di dalam ruangannya, tapi kemudian kram itu kembali muncul ketika ia bangkit dan duduk kembali d balik meja kerjanya.

Oh, apa yang sebenarnya terjadi? Elena kemudian bangkit dan akan bergegas ke rumah sakit terdekat, tapi rencananya itu gagal saat tiba-tiba pintu ruangannya di buka dari luar menampilkan sosok yang tidak ingin ia temui.

Yogie, mau apa lelaki itu ke ruangannya?

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Elena dengan nada tajamnya.

“Makan siang.” jawab Yogie cuek.

Elena mendengus sebal. “Kenapa kamu jadi super menyebalkan seperti ini?”

“Menyebalkan? Apa yang membuatku menjadi sosok yang menyebalkan?”

“Perhatian sialanmu. Aku tidak ingin di perhatikan!”

Kali ini Yogie yang mendengus kesal. Yogie kemudian berjalan cepat mendekat ke arah Elena, mengintimidasi wanita itu. “Apa yang terjadi denganu, Honey?”

“Berhenti memanggilku dengan panggilan itu!”

“Aku hanya ingin memastikan keadaanmu.”

Elena menatap Yogie dengan tatapan tajam membunuhnya. “Jika kamu masih berpikir seperti tadi pagi, maka pergilah ke neraka! Aku tidak hamil, dan jangan menemuiku di dalam kantor seperti ini.”

“Kenapa? Kamu malu punya kekasih sepertiku?”

“Kekasih? Gie, berapa kali aku bilang kalau hubngan kita tak lebih dari-”

“Seks.” Sahut Yogie, dengan spontan Yogie menarik tubuh Elena, menempelkan tubuh itu hingga menempel sempurna pada tubuhnya, “Aku tahu sialan! Aku tahu kalau aku cuma simpananmu, dan kamu cuma wanita jalangku, tapi apa salah jika aku memperhatikan keadaan wanita jalangku?”

“Sangat salah.”

“Katakan sekali lagi.”

“Sangat sal-”

Dan Yogie memotong perkataan Elena dengan menyambar bibir Elena seketika, seakan memberikan wanita itu hukuman karena sikap wanita tersebut.

Elena bukannya meronta tapi malah membalas ciuman panas dari Yogie. Meski selama ini mereka masih rutin melakukan seks, tapi entah kenapa sentuhan Yogie benar-benar mampu membangkitkan gairahnya, Elena seakan tidak mampu menolak sentuhan yang di berikan Yogie padanya. Elena seakan masih haus akan sentuhan-sentuhan yang di berikan lelaki tersebut.

Bibir Yogie semakin menggoda, lidahnya menari dengan panas menjelajahi setiap sisi dari bibir Elena. Jemari Yogie mulai berjalan ke area pinggul Elena, meremasnya, dan sedikit demi sedikit menarik rok tersebut ke atas.

Elena hanya mampu mengerang, sentuhan Yogie benar-benar mebuatnya semakin gila, dan untuk pertama kalinya Elena berpikir jika dirinya ingin melakukan seks kilat di atas meja kerjanya saat ini juga. Astaga, apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia menjadi lebih bergairah seperti saat ini?

Tiba-tiba Elena merasakan kembali nyeri yang amat sangat pada perut bagian bawahnya hingga ia melepas paksa ciuman yang di berikan oleh Yogie. Sebelah tangan Elena meremas pundak Yogie dan sebelahnya lagi meremas perutnya sendiri.

“Kenapa?” tanya Yogie khawatir.

Elena hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata Yogie atau siapapun itu. Ia adalah wanita yang kuat, dan ia dapat mengatasi masalah apapun sendiri, kecuali seks tentunya.

“Katakan padaku apa yang terjadi?”

“Aku, sakit.” Dan Elena tidak dapat lagi berbohong ketika dirinya tidak lagi mampu menahan rasa nyeri yang bersumber dari perutnya.

“Kita ke rumah sakit.”

Elena menggeleng cepat. Tapi tanpa di duga, secepat kilat Yogie mengangkat tubuh Elena, menggendongnya ke luar dan menuju ke arah dimana mobil Elena di parkir tanpa memperhatikan sekitarnya.

“Sial! Apa yang kamu lakukan?” bisik Elena setengah meringis kesakitan.

“Menggendongmu.”

“Aku tahu, tapi apa kamu tidak lihat kalau kita sedang menjadi pusat perhatian para karyawan kantor ini?”

“Aku nggak peduli!”

“Tapi aku peduli, sialan!”

“Berhenti memanggilku sialan atau aku akan menciummu saat ini juga di hadapan banyak karyawanmu.”

“Kamu nggak akan berani.”

Yogie tersenyum miring. “Kamu belum mengenalku Elena, bahkan menelanjangimu di sinipun aku berani.”

“Dasar Bajingan!”

Akhinya keduanya sampai di parkiran. Yogie membantu Elena duduk di kursi penumpang kemudian ia berlari memutari mobil dan duduk di balik kemudi. Ketika Yogie baru saja duduk, Elena merasakan sesuatu yang basah seperti mengalir dari pangkal pahanya di sertai rasa nyari yang semakin menjadi. Lalu kemudian ia melihat cairan itu meluncur melewati betisnya yang putih mulus.

Elena terpaku menatap ke arah kakinya tersebut. “Gie, aku, aku-”

Elena tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat menatap ke arah Yogie yang juga terpaku menatap ke arah kakinya.

“Kita harus segera ke rumah sakit.” Yogie menggeram tajam sembari mengidupkan mesin mobil Elena.

“Aku takut.” Bisik Elena, yang entah kenapa matanya sudah berkaca-kaca.

Yogie meraih sebelah tangan Elena. “Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Elena kembali menggelengkan kepalanya. “Aku takut, aku takut, aku takut.”

 

“Kamu nggak boleh melakukan ini lagi, Gilang!” seru Elena ketika melihat Gilang yang sudah membuka pakaiannya.

Secepat kilat Gilang mencengkeram kedua pipi Elena dan menghadapkan wajah Elena dengan kasar ke arahnya. “Kenapa? Kamu sudah bosan? Atau kamu sudah memiliki lelaki lain?”

Elena menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak, bukan begitu.”

“Lalu?”

“Aku, aku hamil.”

Gilang membulatkan matanya seketika. Dengan spontan ia melepaskan cengkeramannya pada pipi Elena.

Elena sendiri mulai menangis. Beberapa minggu terahir ia merasakan ada yang aneh pada tubuhnya, kemudian dua hari yang lalu ia memberanikan diri untuk melakukan tes sederhana, dan hasilnya sama seperti yang ia takutkan. Ia hamil, hasil dari pelecehan yang di lakukan gilang padanya.

Elena benar-benar terguncang, ia masih memerlukan Enam bulan lagi untuk lulus dari SMA, tapi ia sudah hamil? Bagaimana jika nanti perutnya sudah membesar saat ia masih sekolah? Lamunan Elena terhenti ketika Gilang kembali mencengkeram kedua pipinya dengan kasar sembari menatapnya tajam.

“Gugurkan!” hanya satu kata sederhana tapi bagaikan belati yang mampu merobek-robek hatinya. Gugurkan? Bagaimana mungkin Gilang dengan mudah mengucapkan kalimat mengerikan itu?

 

-TBC-

semakin Gaje yakk.. hahahhahah

Advertisements

8 thoughts on “Elena – Chapter 8 (Sensitif)

  1. Apakah luka lama elena akan terulang lagi sama Gie , apa Gie juga akan menyuruh elena buat gugurin anak mereka akunya babper bangettt … Huhuhu moga aja egak …

    Like

  2. astaga elena pernah keguguran , dan sii brengsek gilang itu penyebab na , yaa ampyun ko q sedih yaa , kasian elena semoga ga terjadi apa” ma dia … dan yongie u harus baik ma elena .
    cover na keren iihhhhh 😄😄. 😄.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s